Berita Terkini

AS Kirim Senjata dan Amunisi Canggih ke Milisi SDF di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Milisi ektremis Pasukan Demokratik Suriah (The Syrian Democratic Forces-SDF) peroleh senjata dan amunisi canggih dari koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat, menurut saluran berita Al-Jazeera.

Al-Jazeera melaporkan Selasa (01/11/2016) bahwa senjata dan amunisi tersebut digunakan untuk melawan kelompok Islamic State (IS) dan membawanya keluar dari kota Raqqa, mencatat bahwa peralatan tersebut datang melalui bandara militer dan pangkalan di Rmelan, Maliki dan Ain al yang berada di bawah kendali milisi Partai Uni Demokratik (the Democratic Union Party).

Al-Jazeera menambahkan bahwa pengiriman senjata dalam jumlah besar tersebut sebagai persiapan untuk Pertempuran Raqqa, yang akan dimulai 3 November mendatang.

Beberapa hari yang lalu, komandan pasukan AS, Stephen Townsend mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang mencoba berperan nyata di Suriah, mencatat bahwa Partai Uni Demokratik, atau PYD yang disebut unit perlindungan bagi orang-orang Kurdi akan menjadi bagian dari kekuatan yang akan mengisolasi kota Raqqa yang merupakan kubu utama kelompok IS.

Turki telah mendesak Amerika Serikat agar Pertempuran Raqqa tidak melibatkan Partai Uni Demokratik.

Amerika Serikat menganggap milisi PYD sebagai sekutu paling penting di wilayah tersebut untuk melawan IS sedangkan Turki menganggap PYD sebagai organisasi teroris seperti PKK.

Pasukan Irak Bergerak Memasuki Mosul, Pertempuran Besar akan Dimulai

IRAK (Jurnaislam.com) – Militer Irak mengatakan pasukannya telah maju ke tepi timur kota Mosul untuk pertama kalinya sejak Islamic State (IS) menyerbu kota lebih dari dua tahun yang lalu.

Komando Operasi Gabungan (Joint Operations Command) negara itu mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (01/11/2016) bahwa pasukannya telah memasuki Judaydat al-Mufti, daerah di pinggiran Mosul yang terletak sekitar 3 km dari bandara kota, lansir Aljazeera.

Sementara itu, Iraqi State TV melaporkan bahwa brigade lapis baja ke-9 telah memasuki distrik Dweikhlah, untuk membuka sebuah front terpisah dalam pertempuran melawan kelompok IS.

Utara kota Mosul adalah hadiah terbesar yang direbut IS ketika menyapu banyak wilayah utara dan barat Irak pada musim panas 2014 dan menyatakan sebuah “khalifah” secara sepihak di wilayah-wilayah tersebut dan wilayah-wilayah yang mereka rebut di Suriah.

Saat pasukan Irak merebut kembali sejumlah besar wilayah dalam satu tahun terakhir, merebut kembali Mosul dianggap penting dalam pertempuran untuk mengalahkan kelompok IS.

Pertempuran juga terjadi pada hari Selasa di distrik timur Gogjali saat serangan udara oleh pasukan koalisi pimpinan AS menimbulkan gumpalan asap tebal hitam naik tinggi ke langit.

Reporter Al Jazeera Stefanie Dekker, melaporkan dari timur Mosul, mengatakan pertempuran berlangsung intens saat IS melontarkan perlawanan keras terhadap pasukan yang mendekat.

“Kami diberitahu oleh pasukan Peshmerga bahwa langit hitam tersebut terjdi akibat IS membakar sumur minyak dan ban di Mosul dan sekitarnya,” katanya.

“Sekarang kita tahu ini adalah salah satu taktik mereka, mencoba mengaburkan posisi dari serangan udara koalisi dan juga untuk mengaburkan wilayah. Asap ini sangat tebal, sehingga mengakibatkan pertempuran yang intens.”

Perkiraan jumlah pasukan IS di Mosul bervariasi mulai dari beberapa ribu hingga “tidak lebih dari 10.000,” menurut pemerintah Irak dan koalisi anti-IS.

Sementara itu, serangan Mosul melibatkan puluhan ribu tentara, polisi federal, pejuang Kurdi, pasukan Sunni dan milisi-milisi Syiah yang ditentang Turki.

Banyak dari milisi Syiah tersebut (yang dianggap didukung oleh Iran) awalnya dibentuk setelah invasi pimpinan Amerika Serikat tahun 2003, untuk memerangi pasukan AS serta pejuang Sunni.

Mereka dikerahkan lagi, dan disahkan oleh pemerintah Irak, ketika IS menyapu Irak pada 2014, tetapi mereka juga telah berulang kali melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap wilayah yang dihuni minoritas Sunni di negara itu.

PBB memperkirakan bahwa sampai satu juta orang berisiko tumbang akibat pertempuran, yang dikatakan badan-badan bantuan PBB sejauh ini memaksa sekitar 17.500 orang mengungsi, angka ini yang mengecualikan mereka yang dibawa ke Mosul oleh pasukan yang mundur.

Ustadz Achwan: Penghinaan terhadap Al Qur’an oleh Pejabat Negara Bukti Pemerintah Benci terhadap Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Amir Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) menilai pelecehan terhadap Al Qur’an yang dilakukan pejabat pemerintah dalam hal ini Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah sebagai simbol bahwa pemerintah pada masa ini sudah sedemikian bencinya terhadap umat Islam.

“Saya menganggap perkara ini sangat serius, kalau penistaan agama pada jaman Soeharto dilakukan oleh individu, tetapi hari ini pelecehan Al Qur’an dilakukan oleh pejabat pemerintah, ini sebagai simbol bahwa pemerintah sudah sedemikian rupa menghina umat Islam, apalagi sampai nanti Jokowi membela sudah tidak diragukan lagi,” ungkapnya dalam acara Konsolidasi Tokoh Nasional Umat Islam, selasa (01/11/2016) di Hotel Sofyan Jakarta Pusat.

Ustadz Muhammad Achwan menghimbau kepada umat Islam agar perjuangan menuntut Ahok segera diadili jangan sampai berhenti setelah aksi tanggal 4 November saja, perjuangan ini harus berkelanjutan.

“Saya sudah menginstruksikan anak buah kami diberbagai wilayah untuk mendukung MUI Pusat, mendatangi Polres, kalau di Malang Walikota. Oleh karena itu perjuangan ini jangan sampai berhenti, kalau di Jakarta berhenti sampai tanggal 4 daerah-daerah lain tidak boleh berhenti” punkasnya.

Dengan mengusung tema “menghadapi Ancaman Pemurtadan Oleh Asing Dan Aseng” Konsolidasi Tokoh Ulama Nasional yang diselenggarakan Komisi Nasional Anti Pemurtadan ini dihadiri para Ulama dari berbagai daerah diantaranya, ustadz Farid Ahmad Okhbah, ustadz Muhammad Al Khathat, ustadz Haris Amir Falah, ustadz Alfian Tanjung, KH Ahmad Rofi’I, ustdz Hamzah Baya, ustadz Zain Annajah, ustadz Muzayin, ustadz Zaitun Rasmin dan lain-lain.

LUIS Desak Proses Hukum bagi Perobek Al Quran di Solo

SURAKARTA (Jurnalislam.com)Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) desak proses hukum atas perobekan Al Qur’an yang dilakukan warga Solo keturunan Cina bernama Andrew Handoko Putra.

LUIS melalui humas, Endro Sudarsono, yang mendapat informasi bahwa pelaku sudah berada di Polda Jawa Tengah (Jateng), meminta Kapolda memperhatikan kasus tersebut. LUIS berharap Kapolda memperhatikan adanya kasus serupa yang sedang menimpa umat Islam di Indonesia yang dilakukan Ahok, Gubernur Jakarta atas penistaan Al Qur’an.

Kejadian tersebut berawal dari percekcokan dengan Fitri Damayanti alias fafa pada hari Minggu, 31 Oktober 2016 pukul 04.00, di Kost Green Patk Kamar Lavender, Jl Pleret Raya, Sumber, Banjarsari, Solo.

luis-desak-proses-hukum-bagi-perobek-al-quran-di-solo

Atas kejadian itu, kata Endro, Selasa (1/11/2016), “Kapolda harus memperhatikan kasus ini, segera diproses hukum secara profesional Andrew ini. Karena dia telah merusak Al Qur’an”.

Jika kasus ini tidak segera diproses hukum, LUIS khawatir akan ada gelombang protes dan unjuk rasa besar sebagaimana di Jakarta.

“Yo kudu digedhekke, (Ya harus dibesarkan) kalau tidak segera ditangani” imbuhnya.

Sebelumnya, Fafa mengadukan kejadian itu kepada Hani Baraja, orang yang memberikan Al Qur’an tersebut kepada Fafa, karena Al Quran pemberiannya dirobek pelaku maka beberapa warga melaporkan Andrew ke SPKT Polresta Surakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan diproses secara hukum pada Senin (31/10/2016) sore pukul 17.50.

 

Mujahidin Suriah Kuasai Pintu Masuk Barat Aleppo dan Rebut Markas Assad di Hamdaniya

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Faksi Jihad dan pejuang oposisi Suriah telah membuat kemajuan dalam operasi yang sedang berlangsung untuk mematahkan pengepungan rezim Nushairiyah Assad yang diberlakukan pada kota utara Aleppo, Anadolu Agency melaporkan Senin (31/10/2016).

Para mujahidin dan pejuang oposisi telah menguasai pinggiran wilayah Assad di pintu masuk barat Aleppo dan menduduki bangunan di distrik al-Hamdaniya, menjadi berada dalam 3 kilometer dari pusat kota Aleppo, menurut sumber-sumber lokal.

Koalisi mujahidin Suriah kini berada beberapa ratus meter dari akademi militer, kubu pasukan Assad dan milisi Syiah sekutu rezim di Aleppo Barat.

“Operasi kami bertujuan untuk memecahkan pengepungan pada Aleppo dan pasukan kita berusaha masuk lingkungan yang diperintah rezim di kota,” kata komandan oposisi Ammar Saqar kepada Anadolu Agency.

Dia mengatakan pasukan oposisi telah menduduki benteng pasukan rezim di Aleppo Barat pada hari pertama operasi, yang dimulai pada hari Jumat.

“Cuaca buruk menghambat pemboman udara pasukan kita oleh rezim Suriah,” katanya.

Saqar mengatakan pasukan oposisi telah mengambil “tindakan pencegahan” untuk mengurangi dampak dari serangan udara rezim.

Dia mengatakan bahwa mujahidin Suriah telah “berjuang melawan kekuatan super seperti Rusia dan Iran serta milisi sektarian yang datang dari seluruh dunia”.

Baraa al-Shami, juru bicara Front al-Sham, mengatakan bahwa tahap pertama operasi militer telah mencapai tujuannya.

“Kami telah memecah garis pertahanan pertama rezim Suriah dan sekutu milisi,” katanya.

“Tahap kedua operasi akan segera dimulai,” katanya, menolak memberikan rincian.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Bashar Assad menumpas protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari “Gerakan Arab Spring” – dengan keganasan militer tak terduga.

Sejak itu, lebih dari 450.000 orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi di seluruh negara yang dilanda perang, menurut PBB.

Rudal Balistik Houthi Targetkan Mekkah, OKI Adakan Rapat Segera

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau The Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan bertemu pada 5 November untuk membahas potensi risiko yang disebabkan oleh dugaan serangan rudal pekan lalu oleh kelompok milisi Syiah Houthi Yaman pada kota Saudi Mekkah, Sekretaris Jenderal OKI Iyad Ameen Madani, Senin (31/10/2016), lansir World Bulletin.

Dalam sebuah pernyataan, Madani mengatakan pertemuan itu akan diadakan di Jeddah pada tingkat menteri luar negeri.

Pengumuman ini muncul setelah Arab Saudi mengatakan bahwa mereka telah mencegat “rudal balistik” Jumat lalu sekitar 65 kilometer (40 mil) dari Mekah, yang diduga para pejabat Saudi diluncurkan dari Yaman oleh milisi Houthi.

organisasi-kerjasama-islam-rudal-haouthi

Saudi Press Agency mengutip seorang pejabat tinggi dari koalisi anti-Houthi yang dipimpin Saudi mengatakan bahwa rudal itu ditembakkan dari provinsi Saada di timur laut Yaman, kubu tradisional Houthi.

Yaman telah dilanda kekacauan sejak akhir 2014, ketika Syiah Houthi yang didukung Iran dan sekutu mereka menyerbu ibukota Sanaa dan bagian lain Yaman, memaksa anggota pemerintah Yaman yang didukung Saudi untuk sementara mengungsi ke Riyadh.

Konflik meningkat pada bulan Maret tahun lalu ketika Arab Saudi dan sekutu Muslim Sunni meluncurkan operasi militer besar-besaran yang bertujuan untuk membalikkan keuntungan Houthi di Yaman dan memulihkan pemerintah negara yang diperangi itu.

Pasukan India Kembali Bunuh 4 Warga Sipil dan Lukai 6 Lainnya di Lembah Kashmir

KARACHI (Jurnalislam.com) – Pakistan pada hari Senin melaporkan saingan lamanya, India, membunuh empat warga sipil dan melukai enam orang lainnya dalam insiden penembakan di wilayah sipil Lembah Kashmir yang disengketakan, Anadolu Agency melaporkan, Senin (31/10/2016).

Jumlah korban tewas tercatat sebanyak 20 saat bentrokan perbatasan masih terus berlangsung, dipicu oleh serangan berani di sebuah pangkalan militer di Kashmir yang dipegang India akhir bulan lalu yang menewaskan 18 tentara India.

New Delhi, yang menuduh Islamabad melakukan serangan, sejak itu India membual tentang “serangan bedah” di kamp-kamp yang diduga milik militan di Pakistan sebagai pembalasan.

Namun, Pakistan membantah keterlibatan.

Terkunci dalam serangkaian sengketa darat dan laut, dua tetangga ini terlibat tiga kali perang besar – dua dari mereka memperebutkan wilayah Kashmir – sejak penciptaan Pakistan pada tahun 1947 setelah berakhirnya kekuasaan kolonial Inggris di India.

Jaysh al Islam Hadang Pasukan Assad di Pinggir Damaskus, Tewaskan Puluhan Serdadu

DAMASKUS (Jurnalislam.com)Jaysh al Islam pada Senin pagi menggagalkan upaya pasukan al-Assad yang mencoba maju ke posisi oposisi yang terletak di speedway internasional Damaskus-Homs, menewaskan dan melukai barisan Assad, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (31/10/2016).

Kantor Media Jaysh al Islam melaporkan bahwa pejuangnya membunuh sedikitnya sepuluh pasukan rezim Assad, dan melukai beberapa orang lainnya.

Pertempuran sengit masih berlangsung di pinggiran daerah “Tal Kerdi” di Timur Ghouta saat faksi mujahidin berusaha untuk mendapatkan kembali kontrol wilayah itu setelah pasukan Nushairiyah Assad sempat merampasnya pada hari Ahad.

Serangan militer yang dilakukan oleh pasukan Assad dan milisi Syiah pendukungnya terjadi selama beberapa bulan terakhir di Timur Ghouta, yang menyebabkan hilangnya beberapa daerah.

 

Sebentar lagi AS akan Pimpin Serangan ke Raqqah Bersama PYD, Turki Menentang

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Koalisi anti-IS yang dipimpin AS berencana meluncurkan operasi dalam beberapa pekan untuk mengisolasi kota Raqqa Suriah saat serangan di Mosul, Irak, terus berlangsung, Pentagon mengatakan Senin, lansir Anadolu Agency Senin (31/10/2016).

“Kita semua merasa penting untuk menjaga tekanan pada IS saat ini ketika mereka merasa panas di Mosul,” juru bicara Peter Cook mengatakan. “Upaya untuk membebaskan Raqqah akan dimulai, seperti dikatakan sekretaris [Menteri Pertahanan Ash Carter], dalam hitungan pekan.”

Menanggapi pertanyaan tentang perselisihan antara Turki dan AS mengenai operasi Raqqah, Cook mengatakan Ankara dan Washington akan berusaha memecahkan cara untuk bergerak maju dengan mencabut IS dari ibukota Khilafah yang mereka nyatakan sendiri di Suriah.

Pekan lalu Carter mengatakan bahwa ada kebutuhan segera untuk mengisolasi Raqqah dan AS akan menggunakan kekuatan lokal di darat, termasuk militan PKK/PYD.

Tapi Ankara menentang keterlibatan afiliasi kelompok teror PKK seperti PYD dan sayap militernya, YPG, dalam operasi itu.

Wakil Perdana Menteri Turki dan juru bicara pemerintah Numan Kurtulmus kepada wartawan di Ankara mengatakan bahwa pemerintahnya menyarankan menggunakan orang Arab Sunni lokal dalam operasi dan untuk memegang wilayah.

Dia juga menyarankan bahwa operasi Raqqah harus diluncurkan setelah Mosul dibersihkan dari IS.

Meskipun Washington dan Ankara mengungkapkan perbedaan posisi, Cook mengatakan Turki dan AS berada pada tujuan yang sama, mencatat “percakapan sedang berlangsung” antara kedua negara.

Memberi info terbaru kepada wartawan tentang operasi melawan IS di Irak, Cook mengatakan bahwa di beberapa tempat pasukan Irak berada dalam jarak kurang dari 1 kilometer dari Mosul.

Setelah Desa Terakhir Dikuasai, Pasukan Gabungan Irak Siap Memasuki Kota Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan gabungan Irak bersiap memasuki Mosul dalam serangan untuk melawan kelompok Islamic State (IS) setelah menyapu desa terakhir di ujung timur kota tersebut pada hari Senin, Aljazeera melaporkan Senin (31/10/2016).

Pasukan mengatakan mereka menangkis bom mobil tanpa kehilangan seorang prajurit pun.

Kendaraan lapis baja mengeluarkan tembakan dari mortir dan senjata ringan saat mereka bergerak di desa Bazwaya dalam serangan yang dimulai pada waktu fajar, sementara artileri dan serangan udara menghantam posisi IS. Menjelang malam, pertempuran berhenti dan unit mengambil posisi kurang dari satu mil dari perbatasan timur Mosul dan sekitar 5 mil (8 kilometer) dari pusat, dua minggu menjelang serangan untuk merebut kembali kota kedua terbesar Irak tersbut.

“Kami akan segera memasuki kota Mosul dan membebaskannya dari IS,” kata Brigadir Jenderal Haider Fadhil dari pasukan khusus Irak.

Dia menambahkan bahwa lebih dari 20 pasukan IS terbunuh sementara pasukannya hanya satu orang yang menderita luka ringan akibat terjatuh.

Tiga pembom mobil mencoba menghentikan sebelum tentara Irak mengambil alih Bazwaya, tapi pasukan Irak menghancurkan mereka, katanya. Militer mengatakan unit lain, Divisi 9, telah bergerak menuju Mosul dan berada sekitar 5 kilometer (3 mil) dari pinggiran timur, lingkungan Gogjali.

Pada satu titik, sebuah Humvee yang dikemas dengan bahan peledak melaju kencang dan mencoba menghentikan pasukan, tapi tentara Irak melepaskan tembakan, meledakkan Humvee itu. Gumpalan asap naik dari posisi IS yang terkena artileri dan serangan udara yang militer katakan berasal dari koalisi pimpinan AS.

TV Negara menggambarkan operasi itu sebagai “pertempuran penting” untuk mengambil kota, yang dirampas oleh IS dari kekuatan Irak pada tahun 2014.

mosul-diserang-pasukan-iarak

Beberapa warga menggantungkan bendera putih pada bangunan dan jendela sebagai tanda mereka tidak akan menolak pasukan pemerintah, kata Mayor Salam al-Obeidi, anggota operasi pasukan khusus di Bazwaya. Dia mengatakan pasukan meminta warga untuk tinggal di rumah mereka saat pasukan Irak bergerak melalui jalan-jalan – sebagai tindakan pencegahan terhadap kemungkinan pelaku bom bunuh diri.

Atap beberapa bangunan runtuh akibat serangan udara. Tentara memperkirakan ratusan keluarga berada di desa, tapi beberapa memberanikan diri keluar.

Sejak 17 Oktober, pasukan Irak dan sekutu Kurdi mereka, pasukan Sunni dan milisi Syiah telah berkumpul di Mosul dari segala arah. Memasuki Gogjali bisa menjadi awal dari kerja keras baru bagi pasukan, karena mereka akan dipaksa untuk terlibat dalam pertempuran sulit dari rumah-ke-rumah di daerah perkotaan. Operasi ini diharapkan berlangsung beberapa minggu, jika tidak beberapa bulan.

Pasukan Irak telah membuat kemajuan yang tidak merata. Kemajuan berjalan lambat di selatan kota, dengan pasukan pemerintah masih berada dalam jarak 20 mil (35 kilometer).

Militer AS memperkirakan IS memiliki 3.000-5.000 pasukan di Mosul dan 1.500-2.500 lain di sabuk pertahanan luarnya. Jumlah ini mencakup sekitar 1.000 pasukan asing.

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi muncul di televisi pemerintah pada hari Senin mengenakan seragam tempur dan mendesak IS di Mosul untuk menyerah.

“Kami akan mengepung IS dari semua sudut dan, In sya Allah, kita akan memotong kepala ular,” katanya saat mengunjungi pasukan di kota Syura, selatan Mosul. “Mereka tidak akan memiliki jalan keluar, dan tidak ada cara untuk melarikan diri … Entah mereka mati, atau menyerah,” kata Abadi.

Pada hari Ahad, ribuan pasukan berbondong-bondong bergabung dengan milisi Syiah yang didukung Iran untuk memotong Mosul dari barat. Dalam serangkaian serangan balasan selama seminggu terakhir, bom meledak di lima lingkungan yang sebagian besar Syiah Baghdad.

“Ini akan menjadi pertarungan yang sulit,” kata reporter Al Jazeera Stefanie Dekker, melaporkan dari timur Mosul. “Berbicara kepada komandan di lapangan, mereka akan memberitahu Anda bahwa pertempuran itu bisa berlangsung berpekan-pekan, dan mungkin bahkan berbulan-bulan.”