Ketua PBNU Bicara Soal Islamofobia di Acara MUI

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, menyampaikan bahwa islamofobia tidak lahir karena tragedi WTC 11 September 2001. Islamofobia sebetulnya hadir sejak lama karena perang yang mengatasnamakan agama ratusan tahun. Perang itu mewariskan mentalitas takut sekaligus benci di antara muslim maupun non muslim di berbagai belahan dunia.

“Kenapa kita punya seperti ini (islamofobia)? Karena kita mewarisi sejarah dari konflik yang panjang sekali selama berabad-berabad antara dunia Islam melawan dunia non muslim. Misalnya, selama 700 tahun berkuasa, Turki Utsmani tidak berhenti sama sekali berkompetisi militer melawan kerajaan-kerjaan Kristen Eropa di Barat, ” ujarnya saat mengisi Webinar MUI bertema Turn Back Islamophobia, Rabu (30/03).

Selain di dunia barat, dia menyebutkan, kerajaan Islam Mughal di India yang berperang dengan umat Hindu di India juga berdampak. Semua kuil di India bagian utara saat ini, kata dia, tidak ada yang berusia lebih dari 200 tahun. Sebab, semasa zaman kerajaan Mughul, semua kuil dihancurkan.

Dalam Webinar Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI tersebut, Gus Yahya menyampaikan, akibat perang itu membekas sampai menjadi wacana di masing-masing pihak.

Kalau di kalangan Islam ada istilah Islamofobia. Di kalangan non-muslim ada kekhawatiran sama yang dia sebut kafirofobia. Pemahaman seperti ini seperti mengendap dan tumbuh dalam wacana keagamaan masing-masing pihak.

Tidak hanya pada masalah agama, corak berpikir masyarakat zaman ratusan tahun lalu adalah tentang kekuasaan dan wilayah. Adanya Agresi Militer Belanda pasca Indonesia merdeka juga membuktikan bahwa kesadaran wilayah itu belum muncul ke

 

Dibandingkan konflik yang sudah berjalan lama itu, kata Gus Yahya, wacana mencari jalan tengah baru muncul belum genap seratus tahun yang lalu. Kelahiran piagam PBB pada Juni 1945 menandai kesadaran berbagai bangsa untuk mewujudkan perdamaian bersama. Kesepakatan itu muncul pasca kerusakan besar akibat dua perang akibat konflik identas.

Gus Yahya menyampaikan, kelahirkan piagam PBB itu mewujudkan tata dunia baru yang modern dan lebih damai. Piagam PBB memiliki dua komponen penting terkait perbatasan wilayah internasional dan nilai kemanusiaan yang universal (HAM).

“Sebetulnya, wacana toleransi dan moderasi merupakan sesuatu yang baru datang kemudian. Dulu dunia ini merupakan rimba persaingan antara identitas baik dalam wilayah agama, negara, maupun kerajaan yang membawa identitas masing-masing, ” ucapnya.

Gus Yahya memaparkan, umat Islam bisa berperan mengurai sisa-sisa perang itu dengan cara beragama yang moderat.

Tanpa cara beragama Islam yang moderat, kata dia, dunia akan tetap diliputi ketakutan, kekhawatiran, serta menimbulka Islamofobia. Wacana keagamaan di internal Islam sudah selayaknya diperkaya dengan nilai perdamaian dan toleransi sehingga tidak mudah timbul ketakutan.

“Syarat berlangsungnya toleransi yaitu kesetaraan hak dan martabat di antara sesama umat manusia. Perbedaan latar belakang identitas tidak boleh jadi alasan untuk mendiskriminasi kelompok yang berlawanan. Semua setara di depan hukum dan dalam nilai kemanusiaan universal, ” ujarnya.

Dia menambahkan, mentalitas masyarakat saat ini terbentuk karena wacana keagamaan. Butuh konstekstualisasi agama kembali untuk menghapus permusuhan-permusuhan berbasis agama di tengah masyarakat.

“Upaya tersebut bisa dilakukan lebih lanjut yang kemudian disusul dengan sebuah strategi. Sehingga pola pikir umat yang cenderung masih memelihara permusuhan satu sama lain dapat dihapuskan, ” ungkapnya.

 

Cerita Suasana Awal Ramadhan dari Madinah

MADINAH(Jurnalislam.com) –Pemerintah Arab Saudi menetapkan awal Ramadhan 1443 H jatuh pada 2 April 2022. Keputusan ini diambil melalui Hasil Rukyah yang menggunakan metode dan praktek penetapannya sama dengan di Indonesia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh, menceritakan pengalamannya saat berada di Madinah, Arab Saudi, untuk beribadah, termasuk melaksanakan ibadah di bulan Suci Ramadhan.

Kiai Asrorun Niam melihat pelaksanaan ibadah sholat berjamaah sudah kembali normal dengan kondisi shaf dirapatkan, daya tampung maksimal, meskipun masih adanya himbuan untuk memakai masker bagi seluruh jamaah. Selain itu, ia juga melihat bahwa seluruh umat Islam di Arab Saudi mengikuti awal Ramadhan berdasarkan keputusan pemerintah.

Kiai Asrorun Niam juga menyusuri tempat-tempat yang mustajab seperti Raudhah. Saat berada di sana, ia melihat suasana yang begitu ramai bahkan ‘membludak’ sehingga diberlakukan model pendaftaran melalui aplikasi, serta dilakukannya antrian untuk menjaga ketertiban.

Saat hendak buka puasa di Masjid Nabawi, ia melihat para takmir dan para muhsinin menyediakan menu buka puasa untuk para jamaah melaksanakan buka puasa bersama.

Kiai Asrorun Niam yang ikut dalam buka bersama ini merasa takjub dengan suasana jamaah yang begitu tertib mengikuti himbauan pemerintah Arab Saudi untuk tidak ngobrol saat buka bersama di Masjid Nabawi.

 

Setelah selesai buka bersama dengan para jamaah di Masjid Nabawi. Kiai Asrorun Niam yang kembali datang ke masjid untuk melaksanakan sholat Isya dan tarawih berjamah merasa kaget dengan kondisi Masjid Nabawi yang penuh secara maksimal, padahal masjid ini memiliki daya tampung mencapai satu juta jamaah.

Kiai Asrorun Niam yang datang sebelum Isya ini menjadi salah satu jamah yang terhalang untuk masuk ke dalam Masjid Nabawi.

Tapi ia melihat para petugas begitu sigap mengarahkan jamaah ke lantai atap atau rooftop dan di halaman masjid. Akhirnya, setelah diarahkan oleh petugas, kiai Asrorun Niam dapat melaksanakan Sholat Isya dan Sholat Tarawih berjamaah di halaman Masjid Nabawi.

 

Sholat tarawih di sana dilaksanakan dengan 11 rakaat dan saat sholat witir membaca doa Qunut.

Saat Adzan, sholat berjamah, termasuk shalat tarawih di Masjid Nabawi, menggunakan pengeras suara masjid luar dengan jangkauan yang sangat luas. Sehingga, semakin terasa syiar agama.

Kiai Asrorun Niam menjelaskan, kondisi tersebut justru membuat masyarakat sekitar menyesuaikan, bukan malah meminta untuk dikecilkan.

Bahkan, para pedagang dan para pelaku usaha di sekitar masjid Nabawi sampai rela menutup sementara tokonya dan menghentikan aktifitas usahanya.

Ia juga melihat tidak ada restoran yang ‘ngotot’ minta buka dengan alasan ada orang yang tidak berpuasa. Mereka merasa tidak terganggu dengan aktifitas di bulan Ramadhan. Bahkan, malah menikmati suasana Ramadhan yang syahdu. (mui)

 

Masukkan Ormas Islam Dilibatkan dalam Sidang Isbat

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Pemerintah menetapkan awal Ramadan 1443 H bertepatan 3 April 2022. Ketetapan ini diputuskan dalam Sidang Isbat yang dipimpin Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Keputusan diambil setelah mendengarkan laporan dari Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais-Binsyar) Adib terkait hasil hisab dan rukyatul hilal.

Secara hisab, posisi hilal di seluruh Indonesia berada pada ketinggian 1 derajat 6,78 menit sampai 2 derajat 10 menit. Secara rukyat, tidak ada tim rukyatul hilal yang berhasil melihat hilal awal Ramadan.

Selain laporan Adib, sebelum menetapkan hasil isbat, Menag juga minta masukan dari perwakilan ormas. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Abdullah Jaidi yang juga hadir mengikuti sidang isbat.

“Sebelum menetapkan awal Ramadan, Menag selaku pimpinan sidang telah meminta pertimbangan dari berbagai ormas Islam,” ujar KH Abdullah Jaidi saat telekonferens Hasil Sidang Isbat Awal Ramadan 1443 H di Jakarta, Jumat (1/4/2022).

Ada tiga perwakilan ormas yang memberikan pertimbangan, yaitu: KH. Abd. Salam Nawawi, MA (Lembaga Falakiyah NU), Dr. KH. Sriyatin Siddiq, MA (Majelis Tarjih Muhammadiyah), dan KH. Syarif Ahmad Hakim (Persis).

Dua nama pertama mengikuti sidang isbat secara daring. Sedang nama terakhir hadir di Auditorium HM Rasjidi gedung Kemenag yang menjadi lokasi sidang isbat. Ketiganya adalah anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag yang ditugaskan oleh ormas masing-masing.

Selain perwakilan ormas, sidang isbat yang digelar hybrid ini juga diikuti duta besar sejumlah negara sahabat, LAPAN, BRIN, BMKG, dan tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kementerian Agama.

Membanggakan, Siswa MAN IC Serpong Diterima di 5 Kampus Terbaik Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Siswa madrasah terus mengukir prestasi. Salah satunya adalah Muhammad Fawwaz Farhan Farabi. Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong ini diterima pada lima perguruan tinggi terbaik dunia (world class university).

Kelima perguruan tinggi itu tersebar di tiga benua, yaitu: Asia, Australia, dan Eropa. Di Asia, pria yang akrab disapa Fawwaz diterima kuliah di Universitas Indonesia yang diraih melalui jalur SNMPTN. Di Australia, lulusan MI dan MTs Pembangunan UIN Jakarta ini masuk di Monash University, Adelaide University, dan Royal Melbourne Institute of Technology. Sementara di Eropa, pria yang memiliki minat di bidang hukum, ekonomi dan hubungan internasional ini dinyatakan diterima di Wageningen University & Research, Belanda.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, merasa bangga atas lulusan MAN Insan Cendekia yang diterima di berbagai perguruan tinggi kelas dunia tersebut. “Ini merupakan miniatur kualitas atas jebolan dari madrasah binaan Kementerian Agama RI,” terang Dhani di Jakarta, Jumat (1/4/2022).

“MAN Insan Cendekia merupakan salah satu prototipe madrasah unggulan yang diakui oleh berbagai kalangan. Tentu, saya merasa bersyukur dan bangga atas ini semua. Saya sampaikan selamat kepada ananda Fawwaz, MAN Insan Cendekia, dan semua stakeholder madrasah,” sambung pria yang akrab disapa Kang Dani dan sekaligus guru besar UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Terpisah, Fawwaz mengaku bersyukur bahwa aplikasi dan proposal yang dikirim untuk mendaftar di sejumlah perguruan tinggi berbuah manis. Dia mengaku hanya  berusaha untuk melakukan persiapan semaksimal mungkin dalam mengikuti setiap tahapan seleksi di bawah bimbingan para guru.

“Saya memang tipikal orang yang bersemangat dalam mencapai tujuan, apalagi jika itu berdampak signifikan terhadap masyarakat luas,” ujarnya.

“Terima kasih saya sampaikan kepada kedua orang tua dan para guru yang terus memberikan bimbingan. Alhamdulillah, saya  mendapat peluang memperoleh beasiswa kuliah di Australia dan Eropa. Ini pilihan yang cukup strategis. Termasuk kesempatan untuk kuliah di Universitas Indonesia,” tandasnya.

Pria yang pernah terlibat dalam pemilihan Duta Moderasi Beragama ini mengakui bahwa lingkungan madrasah telah menumbuhkan semangat untuk terus meraih ilmu  pengetahuan dan meningkatkan prestasi yang lebih baik. “Saya merasakan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan terbaik untuk mempersiapkan masa depan yang lebih berkualitas,” ungkap Fawwaz.

 

Ramadhan, Saatnya Bersihkan Jiwa dan Hilangkan Kesombongan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Pemerintah telah menetapkan 1 Ramadan 1443 H jatuh pada Minggu, 3 April 2022. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengajak umat muslim mejadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas dan membersikan residu manusiawi.

“Ramadan adalah momen kita menata dan memperbaiki kualitas diri. Kita dibina dan dididik untuk menjadi muslim yang tunduk dan patuh terhadap perintah Allah. Kita juga dibiasakan untuk membangun solidaritas dengan sesama,” kata Menag Yaqut, di Jakarta, Sabtu (2/4/2022).

Menurutnya solidaritas dengan sesama ini dapat terwujud bila seseorang mampu menghilangkan kesombongan dari dirinya. Ini merupakan bagian residu manusiawi yang perlu dibersihkan.

“Adalah kesombongan ketika menganggap diri kita lah yang paling benar, sementara orang lain selalu salah. Adalah kesombongan ketika menganggap diri kita yang paling jujur, sementara orang lain pasti berlaku curang,” tutur Menag.

Gus Yaqut, begitu ia biasa disapa, berharap masyarakat dapat mengambil hikmah di bulan suci Ramadan untuk membersihkan residu manusiawi tersebut.

“Satu bulan ke depan di bulan Ramadan ini, di bulan yang penuh maghfirah, di bulan yang penuh ampunan, di bulan yang penuh hikmah dan pelajaran kita akan ditempa untuk membersihkan residu-residu manusiawi seperti itu,” ujar Gus Yaqut

“Kita akan lihat nanti, apakah ibadah-ibadah kita selama di bulan ramadan ini tuntas. Apakah ibadah kita selama di bulan ramadan ini mampu memetik segala pelajaran yang diberikan langsung oleh Allah SWT kepada kita,” sambungnya.

Lebih lanjut, Menag mengungkapkan ini adalah tahun ketiga umat muslim Indonesia menyambut Ramadan di tengah pandemi Covid-19.

Meskipun kondisi pandemi sudah melandai, Menag berpesan agar masyarakat tetap memperhatikan protokol kesehatan (prokes) selama Ramadan.

“Pada tahun ini, momen Ramadan masih dalam suasana pandemi Covid-19. Meski telah melandai, namun mari kita tetap menjaga diri dengan terus meningkatkan kesadaran tentang kebersihan dan kesehatan,” pesan Menag.

Menag berharap dengan terbangunnya solidaritas kemanusiaan dan taatnya prokes selama Ramadan, menjadikan bulan suci ini memberikan dampak besar bagi bangsa.

“Ramadan karim, momentum bangkit dari pandemi untuk kemajuan NKRI. Atas nama Kementerian Agama, saya mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1443 H/2022 M,” ucap Menag.

“Semoga kita semua menjadi bagian dari madrasah Ramadan yang kelak lulus dengan berbagai pencapaian terbaik,” tutup Menag.

Sambut bulan Suci Ramadhan, Forum Umat Islam Bima Adakan kegiatan Tahridh Ramadhan

BIMA (Jurnalislam.com)–Forum Umat islam (FUI) Bima melakukan kegiatan tahridh Ramadhan dalam Rangka menyambut bulan Suci Ramadhan Pada hari Jumat (1/4/2022).

Ustadz edwin selaku pembina Forum Umat Islam Bima menyampaikan bahwa dengan adanya kegiatan tahridh ramadhan tersebut dalam rangka menyambut Ramadhan dan sebagai syiar syiar islam.

“Alhamdulillah kegiatan ini kita jalankan sebagai bukti cintanya kita kepada allah dan Cinta nya kita kepada syariat allah dan sebagai bukti Cinta nya kita kepada bulan Ramadhan.”

Acara disebut dilakukan dengan konvoi menggunakan kendaraan, dan ikuti oleh peserta dari berbagai macam ormas yang berada di kota bima.

Kurniawan salah satu peserta tahridh Ramadhan mengatakan bahwa acara ini sangat membuat masyarakat menjadi lebih semangat lagi dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan

“Alhamdulillah dengan adanya acara yang di adakan oleh Forum umat islam ini membuat masyarakat lebih bersemangat lagi dalam menyambut maupun melakukan ibadah di bulan Ramadhan nanti.” ucapnya

reporter: Pramudia Bagus

Sambut Ramadan 1443 H, Siswa SMP Muhammadiyah PK Solo Bagikan Paket Sahur

 JAKARTA(Jurnalislam.com)–Siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta sedang membagikan ratusan paket sahur kepada pengguna jalan dan warga sekitar di kompleks Plaza Manahan, Solo, Jumat (1/4/2022). Paket sahur sebagai ajakan untuk menyambut bulan Ramadan 1443 H dan program PK Berbagi di Jumat berkah.

 

Aryanto selaku Humas SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk berbagi semangat dalam menyambut kedatangan bulan Ramadan 1443 H. Selain itu, sebagai sarana untuk memperkuat karakter siswa berupa kepedulian terhadap sesama.

 

Alhamdulillah sebentar lagi kita memasuki bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Kami ingin mengajak masyarakat untuk menyambut kehadiran bulan penuh berkah dengan semangat dan penuh rasa syukur,” jelasnya saat mendampingi para siswa berbagi paket sahur.

 

Aryanto pun menambahkan paket-paket sahur ini merupakan hasil infaq dari para siswa yang terkumpul di sekolah sebelumnya. Paket sahur tersebut berisi mie telur, tepung bumbu, kecap, dan dua telur asin. Rencananya kegiatan akan dilanjutkan ketika bulan Ramadan dalam program PK Berbagi kepada warga masyarakat sekitar yang membutuhkan.

“Kami melibatkan para siswa dalam berbagi paket sahur ini. Hal ini sehingga memberikan pengalaman kepada siswa dalam bersedekah dan bersyukur,” imbuhnya.

 

Aiko Miyuki Pranadya, siswa kelas 8 mengaku senang dan gembira mengikuti kegiatan berbagi pada Jumat berkah hari ini. “Hari ini kami bersama teman-teman sedang berbagi paket sahur kepada masyarakat sekitar. Kita membagikan paket yang berisi mie telur, tepung bumbu, kecap, dan dua telur asin kepada warga sekitar agar bisa dimasak buat sahur dan siap melaksanakan puasa,” terangnya.

 

Sebagai upaya mengisi bulan Ramadan, SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta memiliki kegiatan-kegiatan yang kreatif dan menyenangkan. Sebelum Ramadan, terdapat kegiatan tarhib Ramadan berupa podcast bertema fikih dan amalan bulan Ramadan serta podcast bertema kesehatan. Saat Ramadan, terdapat kegiatan siswa berupa tadarus Alquran, tausiah sebelum berbuka, tasmi’ Al Quran 1 juz, pesantren virtual dan lomba virtual, khataman Alquran, kajian remaja Islam, tahajud virtual, dan program PK berbagi.

 

Aryanto mengharapkan dari kegiatan berbagi paket sahur ini para siswa menjadi lebih semangat dalam menyambut kedatangan bulan Ramadan, semangat dalam berpuasa dan beramaliah, serta tumbuh rasa kepedulian berbagi terhadap sesama.

 

Pemerintah Terbitkan Aturan Ramadhan 1443 H Selama Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Umat Muslim segera menyambut datangnya bulan Ramadan 1443 H. Untuk mewujudkan rasa aman, nyaman, dan khusyuk bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah di masa pandemi, Kemenag menerbitkan edaran pedoman penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1443 H.

Edaran No. SE 08 Tahun 2022 ini ditandatangani Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 29 Maret 2022.

“Umat Islam dianjurkan mengisi dan meningkatkan amalan pada bulan Ramadan, seperti salat tarawih, iktikaf, tadarus Al Qur’an, pengajian, zakat, infak, sedekah, dan wakaf, tapi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” pesan Menag di Banjarmasin, Kamis (31/3/2022).

Secara khusus, Menag mengingatkan jajarannya untuk menjadi teladan penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idulfitri. Karenanya, Menag melarang pejabat dan ASN Kementerian Agama untuk mengadakan dan menghadiri buka puasa bersama atau giat sejenisnya.

“Pejabat dan Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama dilarang mengadakan atau menghadiri kegiatan buka puasa bersama, sahur bersama, dan/atau open house Idul Fitri,” tegas Menag.

Berikut ketentuan dalam Edaran Penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1443 H:

1. Umat Islam melaksanakan ibadah Ramadan dan Idul Fitri sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

2. Umat Islam dianjurkan untuk mengisi dan meningkatkan amalan pada bulan Ramadan, seperti salat tarawih, iktikaf, tadarus Al Qur’an, pengajian, zakat, infak, sedekah, dan wakaf dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

3. Dalam penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idul Fitri, pengurus dan pengelola masjid/musala memperhatikan Surat Edaran Menteri Agama mengenai pelaksanaan kegiatan peribadatan/keagamaan di tempat ibadah pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat sesuai dengan status level wilayah masing-masing dan menerapkan protokol kesehatan.

4. Pengurus dan pengelola masjid/musala sebagaimana dimaksud pada angka 3 wajib menunjuk petugas yang memastikan sosialisasi dan penerapan protokol kesehatan kepada seluruh jemaah.

5. Pejabat dan Aparatur Sipil Negara dilarang mengadakan atau menghadiri kegiatan buka puasa bersama, sahur bersama, dan/atau open house Idul Fitri.

6. Masyarakat yang mengadakan kegiatan buka puasa bersama, sahur bersama, dan/atau open house Idul Fitri harus memperhatikan protokol kesehatan.

7. Vaksinasi COVID-19 dapat dilakukan di bulan Ramadan dengan mengikuti panduan kesehatan.

8. Kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat maal, zakat fitrah, infak, dan sedekah oleh Badan Amil Zakat Nasional, Lembaga Amil Zakat, dan masyarakat dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

9. Para mubaligh/penceramah agama diharapkan berperan memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, persatuan, kerukunan, kemaslahatan umat, dan kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui materi dan bahasa dakwah yang bijak dan santun sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan AsSunnah, serta tidak mempertentangkan masalah khilafiyah.

10. Masyarakat diimbau untuk mengumandangkan takbir pada malam Idul Fitri Tahun 1443 H/2022 M di masjid/musala atau rumah masing-masing.

11. Penggunaan pengeras suara mengacu pada Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE.05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

12. Salat Idul Fitri 1 Syawal 1443 H/2022 M dapat dilaksanakan di masjid atau di lapangan terbuka dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Ramadhan Bulan Pengendalian Diri dan Solidaritas Sosial

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Umat Islam di seluruh dunia saat ini tengah menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang di dalamnya diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa sebagai sarana peningkatan ketakwaan untuk meraih ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala (SWT). Dengan berpuasa, manusia tidak hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tapi juga dilatih untuk dapat mengendalikan diri, jujur, dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi.

“Orang yang melaksanakan puasa dengan pemenuhan ketiga nilai atau prinsip tersebut, yakni pengendalian diri, kejujuran, dan solidaritas sosial, ia akan menjadi bersih tanpa dosa,” ucap Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin saat menghadiri secara virtual Syiar Islam dan Tarhib Ramadan 1443 H, dari Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta Pusat, Kamis malam (31/03/2022).

Dalam acara yang diselenggarakan Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menghormati dan mensyiarkan Ramadan sebagai bulan penuh kasih sayang dan ampunan tersebut, Wapres menguraikan ketiganya. Pertama, hakikat puasa tidak hanya ditujukan sebagai pengendalian diri secara lahiriah, tetapi juga meliputi pengekangan ego dari semua nafsu, sikap dan tindakan tercela, atau kemaksiatan.

“Naluri manusia memang memiliki keinginan-keinginan (nafsu), baik nafsu biologis, materi, maupun kekuasaan,” ungkapnya.

Kedua, sambung Wapres, puasa membentuk nilai kejujuran karena tidak ada yang mengetahui kebenaran seseorang berpuasa atau tidak, kecuali dirinya sendiri dan Allah SWT.

“Dalam ibadah puasa ini, terkandung pula nilai kejujuran yang tinggi karena bisa saja seseorang berpura-pura puasa di hadapan umum, tetapi sebenarnya ia tidak berpuasa,” sambung Wapres.

Nilai ketiga, Wapres menambahkan, solidaritas sosial dibangun dengan memperbanyak sedekah selama Ramadan dan menunaikan zakat fitrah pada Idulfitri. Dalam hal ini, umat Islam perlu didorong agar tidak berperilaku konsumtif selama Ramadan, tetapi berempati dengan sedekah.

“Bulan Ramadan ini kita jangan menjadi konsumtif,” Wapres menganjurkan.

“Bukan karena kita memang pedit [pelit] atau dia kurang mau mengeluarkan hartanya, tapi justru kita mengurangi konsumsi, tapi memperbanyak sedekahnya,” imbuhnya.

Solidaritas sosial yang tinggi tersebut, menurut Wapres, kian penting di tengah situasi pandemi COVID-19 mengingat banyak masyarakat yang terdampak pandemi. Untuk itu, Wapres mengajak umat Islam di Indonesia menyegerakan zakat harta pada Ramadan ini meskipun zakat harta umumnya ditunaikan setahun sekali ketika mencapai nisab.

“Saya anjurkan, walaupun misalnya zakat harta itu dilakukan sesuai dengan haul, maka justru digunakanlah bulan puasa ini, ditakjilkan, tetapi dibiasakan untuk mengeluarkan zakat hartanya di bulan Ramadan,” ajak Wapres.

“Karena banyak orang yang membutuhkan, termasuk juga dalam menghadapi lebaran nanti, apalagi dalam suasana pandemi ini banyak masyarakat yang berkekurangan,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Wapres menegaskan pengendalian diri, kejujuran, dan solidaritas yang tinggi perlu dipupuk dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, sejumlah persoalan sosial, seperti korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, dan minuman keras, muncul sebagai ekspresi keinginan yang tidak disertai kepemilikan ketiga nilai ini.

“Oleh karenanya, ketiga nilai ini harus diwujudkan tidak hanya selama bulan Ramadan, tetapi juga di hari-hari di luar Ramadan,” tegas Wapres.

Mengakhiri sambutannya, Wapres mengajak umat bersama-sama menyambut Ramadan ini sebagai momen untuk menguatkan ketakwaan.

“Sebagai penutup, saya mengharapkan bulan Ramadan kali ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kita, tumbuhnya solidaritas bangsa, serta kita bisa keluar dari pandemi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan dalam sambutannya mengingatkan umat Islam di Indonesia agar tetap waspada dalam menyambut dan memasuki Ramadan 1443 H karena situasi masih dalam pandemi COVID-19. Ia pun menjelaskan, MUI telah menandatangani Fatwa Nomor 38 Tahun 2022 sebagai panduan penyelenggaraan ibadah puasa pada Ramadan dan penyambutan Idulfitri 1443 H. Iman, imun, dan aman melalui protokol kesehatan harus senantiasa dijaga.

“Tiga kewajiban ini saya tambah tiga lagi, yaitu kewajiban terus melakukan ikhtiar melalui protokol kesehatan dan kewajiban untuk terus berdoa, dan ketiga adalah kewajiban untuk bertawakal,” ujar Amirsyah.

Hadir pula dalam acara tersebut, antara lain, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah Muhammad Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Ahmad Zubaidi, Said Agil Husin Al Munawar, Habib Nabiel Al Musawwa, Dewan Pimpinan dan seluruh jajaran MUI, serta para ulama dan zuama.

Sementara Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Suprayoga Hadi, serta Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi dan Masykuri Abdillah.

 

Tarhib Ramadhan, Momen Sambut Ramadhan dengan Suka Cita

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengadakan Syiar Islam dan Tarhib Ramadhan 1443H pada Kamis, 31 Maret 2022, malam.

Acara berlangsung sejak pukul 19.30 secara hybrid dan disiarkan secara langsung di TV MUI, dan TVRI.

Ketua Komisi Dakwah MUI KH Ahmad Zubaidi, MA menjelaskan bahwa Tarhib Ramadhan ini dilaksanakan dalam rangka mengajak umat Islam untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan penuh kebahagiaan dan sukacita.

Ramadhan selalu dikenal dengan bulan penuh maghfiroh dan dilipatgandakanya pahala umat Muslim. Dengan begitu, Zubaidi berharap acara ini dapat memberi manfaat dalam mengantarkan umat Muslim mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Lembaga Penyiaran yang juga turut serta menyiarkan acara Tarhib Ramadhan tahun ini secara langsung.

“Terimakasih kepada seluruh lembaga dan institusi yang membantu terselenggaranya acara ini, kepada TV MUI, Republika, TVRI, Rasil TV dan juga lembaga penyiaran lain yang telah membantu menyiarkan acara ini secara live,” ucapnya.

“Semoga acara ini bisa berlangsung dengan baik dan bermanfaat,” lanjutnya.

Turut hadir secara daring, Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin, Sekjen MUI Dr Amirsyah Tambunan, dan juga Ketua MUI Bidang Dakwah KH Cholil Nafish. Hadir secara langsung, KH. Said Agil Husin Al Munawar, dan Habib Nabiel Al Musawa.