Ulama Didorong Terlibat dalam Pengembangan Ekonomi Digital

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Tingkat kemiskinan ekstrim yang terjadi di Indonesia merupakan dampak multiplier effect dari pandemi Covid 19. Terlebih biasnya informasi yang terjadi di tengah masyarakat semakin menyulitkan penanganan atas dampak yang dirasakan masyarakat.

Melonjaknya kasus Covid 19 yang terjadi di Indonesia imbas dari adanya kerumunan-kerumunan besar. Hal ini bisa dilihat pada awal tahun ketika Natal dan Tahun Baru 2021 dan perayaan Idul Fitri 2021.

Ketua MUI Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi menyampaikan, perlu ijtihad jama’i untuk menyelesaikan dampak pandemi yang secara luas berkaitan dengan keselamatkan jiwa.

“Indonesia termasuk tiga terbesar negara yang memiliki kesenjangan ekonomi setelah Uni Soviet dan Thailand. Adapun dampak yang akan dirasakan oleh bangsa ini akan jauh lebih besar dari pada kedua negara tersebut,” ucap Kyai Masduki pada webinar “Literasi Pandemi dan Pemulihan Ekonomi”, Selasa (5/10).

Webinar yang bertemakan literasi pandemi dan masalah pemulihan ekonomi nasional itu merupakan kerjasama antara Kementerian Kominfo dan Majelis Ulama Indonesia.

Ketua MUI Bidang Infokom ini melanjutkan, Indonesia merasakan dampak lebih besar dengan adanya kesenjangan ekonomi. Sebab, kondisi masyarakat Indonesia yang heterogen, baik itu secara suku, agama maupun budaya.

Menurut Kiai Baidowi, solusi yang bisa diambil untuk mengatasi dampak pandemi yaitu dengan ekonomi syariah. Ia mencontohkan, Aceh menjadi salah satu daerah yang sudah membuktikan berjalanannya roda perekonomian syariah

 

Lebih lanjut Kiai Baidowi menjelaskan bahwa kebangkitan ekonomi di Aceh merupakan uswah bagi umat Islam secara nasional.

Ditambahkan Kiai Baidowi, saat Aceh belum maksimal dalam menerapkan ekonomi syariah, hal ini menjadi evaluasi bersama bagi umat muslim khususnya.

“Aceh memainkan peran penting ekonomi syariah di Indonesia termasuk di dalamnya peran pemulihan ekonomi sebagai dampak dari pandemi,” ujarnya.

Karenanya Kiai Masduki menegaskan, diperlukan upaya bersama membangkitkan perekonomian berbasis digital.

Ditekankan Stafsus Wapres ini, penggunaan media digital yang tinggi saat pandemi, memaksa semua kalangan berpartisipasi di dalamnya. Hal ini dikarenakan berbagai kegiatan yang diselenggaralan pada ruang publik beralih dari rumah dengan media digital melalui akses internet.

Lebih jauh, Kiai Baidowi mengatakan, melalui ekonomi digital, masyarakat tidak perlu menyediakan lahan strategis untuk usahanya. Argumentasinya, pemasaran via digital bisa dilakukan dimanapun dan menjangkau akses yang lebih luas.

“Pemerintah dan MUI perlu melakukan program selanjutnya mengenai ekonomi digital yaitu dengan mengadakan pelatihan. Karena ekonomi berbasis digital tanpa pelatihan mengurangi pemanfaatannya untuk mengatasi perekonomian nasional,” jelas Kyai Masduki

Di akhir webina, Ketua MUI Bidang infokom mengingatkan bahwa MUI harus menjadi subjek dalam perubahan serta melatih umat agar bangkit secara ekonomi digital. (mui)

 

IPB Akan Gelar Perkuliahan Tatap Muka

JAKARTA(Jurnalislam.com) –– IPB University akan menggelar perkuliahan tatap muka (PTM) terbatas secara bertahap mulai 18 Oktober 2021. Namun, PTM ini diperuntukkan hanya bagi mahasiswa jenjang Sarjana dan Vokasi yang sudah masuk semester lima.

Kebijakan ini mengacu pada Surat Rektor IPB University No.18617/IT3/TU/P/T/2021 tentang Pertemuan Tatap Muka Secara Bertahap. Wakil Rektor IPB University Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Drajat Martianto, menjelaskan, PTM akan dimulai pada 18 Oktober atau tepat setelah ujian tengah semester (UTS) rampung.

PTM akan dilaksanakan hingga Desember 2021. Setelah libur tahun baru, lanjut Drajat, pihaknya melaksanakan pelatihan tematik atau praktikum terpadu hingga semester genap dimulai.

Hal ini dilakukan untuk mengganti belajar praktik yang selama ini tak didapatkan mahasiswa dalam pembelajaran daring. “Kegiatan-kegiatan PTM dan pelatihan tersebut, pengaturan jadwalnya akan diatur oleh masing-masing program studi. Jadi dilaksanakan secara khusus sesuai keputusan program studi,” kata Drajat Martianto dalam siaran persnya, Rabu (6/10).

Drajat menambahkan, khusus mahasiswa program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) akan melaksanakan PTM luring mulai 11 Oktober 2021. Sementara itu, mahasiswa program Pascasarjana masih melaksanakan perkuliahan dan praktikum secara daring.

“Namun kegiatan lainnya seperti seminar, ujian tertutup atau ujian tesis serta sidang promosi secara bertahap mulai dapat dilaksanakan secara luring,” ucapnya.

Sumber: republika.co.id

Ketua PBNU Baru Diharap Memiliki Visi Global

 JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Syamsul Ma’arif berharap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) yang terpilih punya visi mendunia.

Kiai Syamsul mengatakan dalam agenda Muktamar, yang biasa disorot adalah pemilihan jajaran syuriyah dan tanfidziyah. Syuriyah dalam hal ini Rais Aam dan tanfidziyah adalah ketua umum PBNU.

“Saya berharap ketua umum (PBNU) ke depan punya visi yang mendunia, membawa NU ke level internasional,” kata Kiai Syamsul, Rabu (6/10).

Ia juga berharap, ketua umum PBNU yang terpilih bisa menata organisasi sampai ke bawah. Artinya, konsolidasi ke bawah itu diurus secara baik supaya bisa menggerakan kepengurusan organisasi di level provinsi sampai ke cabang.

Dengan konsolidasi ke bawah bisa diurus secara baik, menurutnya, NU bisa betul-betul bisa berkhidmat secara maksimal, terutama di wilayah yang NU-nya masih kurang, misalnya di luar Pulau Jawa. Kalau di Pulau Jawa NU sudah kelihatan besar sekali.

“Tapi peran NU di luar Jawa itu perlu mendapat perhatian,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

 

Kapabilitas Digital Dinilai Penting di Era Revolusi 4.0

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kemenangan di era digital tidak ditentukan seberapa besar modal yang dimiliki, tetapi seberapa cepat seseorang berinovasi, berubah, bertransformasi, dan beradaptasi. Hal ini bagaimanapun informasi teknologi (IT) adalah harapan karena IT adalah masa depan.

“Kita tidak bisa menghindar dari era globalisasi,arus bebas modal,dan arus bebas SDM yang kompeten. Dalam hal ini anak-anak muda harus mempersiapkan diri dan selalu dinamis,yaitu memiliki kekuatan dan keinginan personal serta bisa mengubah weakness menjadi opportunity,” kata Direktur LKBN Antara 2016-2017, Aat Surya Safaat, dalam Webinar Literasi Pandemi dan Pemulihan Ekonomi, hasil kerjasama Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia, Selasa (5/10).

Dia mengingatkan dalam memahami dunia maya sebelum akhirnya kita terjun akan bisnis, harus memahami etika-etika dalam dunia maya. Etika di sini misalnya, pertama adalah jangan menyudutkan orang lain.

Kedua jangan menyinggung perasaan orang lain, ketiga jangan mengompori. Keempat jangan mau mengadu domba, kelima jangan mengkambinghitamkan dan yang paling utama adalah jangan menulis ketika sedang marah. “Menulislah dengan baik dan hal-hal bermanfaat,” tutur dia.

Sikap lain yang penting untuk dijaga dalam bisnis di era digital, kata dia, antara lain sifat yang dicontohkan Rasulullah yaitu qawiyun amin (kuat dan dapat dipercaya), hafiidzun ‘alim (amanah dan berpengetahuan luas), mempunyai sifat bathatan fil ‘Ilmi wal jism (kekuatan ilmu dan fisik), serta sifat ra’uufun rahiim (santun dan pengasih). “Dengan modal sifat ini maksimalkan potensi dan teknologi informasi. Untuk meraih masa depan yang gemilang,” kata dia.

 

Lebih lanjut Aat yang juga anggota Komisi Infokom MUI ini mengajak anak-anak muda khusunya untuk bangkit secara ekonomi pascapandemi yaitu dengan bertransformasi secara digital.

Dia menyebutkan, faktanya secara umum sebelum adanya pandemi usaha kecil dan menengah umumnya lemah di permodalan,lemah di manajemen, lemah di teknologi dan infomasi, dan lemah dalam akses pasar.

Menurutnya, arah baru bisnis UMKM di era revolusi 4.0 ini yang secara konvensional beralih ke era digital. Contoh dari dampak kasus ini adalah perusahaan taksi di Jakarta berguguran menurut Organda dari 32 perusahaan sisa empat perusahaan lagi.

Begitupun mengenal teknologi finansial, pembayarannya sekarang bisa melalui grab pay dan gopay dan sebagainya. Semua transaksi dilakukan secara digital. Termasuk dalam hal ini perbankan juga melakukan semua aktivitas pelayanan melalui digital.

 

“Jadi intinya sekarang itu no cash dan mau tidak mau kita harus masuk akan itu. Bahkan termasuk pemahaman anak-anak muda akan teknologi informasi,” kata dia. (mui)

 

Kualitas Lulusan Madrasah Aliyah Meningkat

JAKARTA(Jurnalislam.com)-— Kualitas lulusan Madrasah Aliyah (MA) terus meningkat. Hal ini ditandai dengan banyaknya prestasi yang diraih siswa MA, baik akademik maupun non akademik.

Bahkan menjadi yang terbaik secara nasional versi hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang digelar Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Kemendikbud.

Banyak lulusan madrasah yang diterima di perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Alumni MAN IC Serpong misalnya, banyak diterima di ITB, UI, UGM, Unair, bahkan perguruan tinggi di Jepang dan Amerika. Namun, tidak banyak yang melanjutkan ke Universitas Islam Negeri (UIN).

“Lulusan MAN IC tersebar di berbagai perguruan tinggi, tapi jarang yang ke UIN? Ada masalah apa? Apakah passing grade UIN terlalu tinggi atau UIN tidak menarik bagi alumni MAN IC?” sentil Menag saat memberikan sambutan pada Milad ke-25 MAN IC Serpong di Serpong, Selasa (5/10/2021).

Hadir, Dirjen Pendidikan Islam M Ali Ramdhani, Direktur GTK Madrasah Muhammad Zain, Kakanwil Kemenag Banten Nanang Fathurahman, serta Plt Karo Humas, Data, dan Informasi Thobib Al Asyhar.

Menag meminta, UIN di berbagai provinsi dapat merespon peningkatan kualitas lulusan MA. Sehingga mereka juga bisa mendapatkan pilihan perguruan tinggi yang lebih banyak saat akan kuliah.

“MAN IC sudah luar biasa. Jangan sampai pendidikan di level yang lebih tinggi yang menjadi binaan Kemenag tidak menyambut ‘row material’ yang sudah diproduksi ini,” terang Menag.

“UIN harus ditingkatkan prestasinya. Apa yang menjadi mandatory bidang pendidikan di Kemenag harus tuntas,” pesan Menag.

Menag juga berharap, peningkatan kualitas ditingkatkan pada pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Sehingga, sebagai jenjang pendidikan di atasnya, MA bisa mendapat input siswa yang juga berkualitas.

 

Komisi Fatwa MUI Komitmen Hasilkan Fatwa Secara Moderat

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Dr Asrorun Niam kehidupan berbangsa dan beragama.

Menurut Kiai Niam, moderasi sebagai penopang menguatkan semangat menjaga persatuan dan tetap menghargai perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Perbedaan ini bagaimanapun adalah bagian dari ketetapan Allah SWT (sunnatullah).

“Perbedaan itu adalah sunnatullah. Dalam menyikapi perbedaan, kita upayakan sedapat mungkin mencari titik temu, bukan mencari perbedaan. Kalau bisa sama, mengapa harus berbeda?” kata Kiai Niam dalam paparannya saat menjadi narasumber kuliah umum yang diselenggarakan Pascasarjana IAIN Kudus Senin pagi (4/10).

Dalam konteks inilah, kata dia, kehadiran fatwa MUI penting dalam upaya menyemai moderasi beragama di Indoensia. Di menyebutkan total keseluruhan fatwa MUI berjumlah 303 fatwa per Juli 2021. Rincian fatwa itu yaitu fatwa akidah dan aliran keagamaan sebanyak 17 fatwa, ibadah 59 fatwa, sosial budaya 69 fatwa, POM Iptek 86 fatwa, dan hasil Ijtima Ulama sebanyak 72 fatwa.

“MUI terus berkomitmen untuk menghadirkan fatwa-fatwa yang moderat sebagai jawaban atas problematika masyarakat,” kata dia.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring tersebut berlangsung dengan menarik karena dihadiri oleh seluruh mahasiswa Pascasarjana IAIN Kudus dan tamu undangan dari lintas sektor.

Acara tersebut dibuka oleh Rektor IAIN Kudus Dr H Mundakir dan Direktur Pascasarjana IAIN Kudus Dr H Abdurrohman Kasdi, Lc.

 

Waspada Hoaks di Tengah Pandemi, Ini Pesan Qur’an

JAKARTA(Jurnalislam.com) –- Salah satu tantangan berat mengakhiri pandemi Covid-19 adalah memerangi persebaran informasi yang keliru dan membahayakan. Dalam hal ini, hoaks dan infodemi adalah dua penyakit berbahaya yang membanjiri ruang media digital.

Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Teuku Kemal Fasya menyampaikan bahwa hoaks dan infodemi adalah dua dharurah yang harus kita lawan. Menurutnya, setiap informasi yang kita terima tidak boleh ditelan begitu saja.

“Problem kita (hoaks) terdapat pada alqur’an yang berbunyi: إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا , bila ada informasi yang masih diragukan maka perlu bagi kita atau kamu sekalian bertabayyun, cross-check, check and recheck. Tidak semua (informasi) ditelan bulat-bulat,” ucapnya pada webinar Literasi Pandemi dan Pemulihan Ekonomi kerjasama antara Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa (5/10).

Dua masalah tersebut terjadi selama masa pandemi Covid-19. Informasi mengenai virus dan kesehatan secara masif membanjiri ruang digital. Ia menyebut, hal ini menyebabkan terjadinya infodemi di tengah masyarakat global, yakni kondisi di mana informasi tidak sehat tersebar luas secara bebas.

“Infodemi (adalah) bersebarnya informasi-informasi yang tidak menyehatkan. Informasi yang menjadi penyakit yang menyebar secara global,” ujarnya.

Kemal Fasya menyebut, masifnya infodemi di tengah masyarakat berhubungan dengan terjadinya lonjakan pengguna internet di Indonesia selama pandemi. Tahun ini terdapat sebanyak 202 juta pengguna dibanding tahun 2019 yang mencapai 196 juta pengguna. Dari data itu, lanjutnya, sebanyak 75% penduduk Indonesia selama pandemi menghabiskan sebanyak delapan jam per hari untuk berinternet, yang sayangnya menjadi masalah karena tidak diimbangi dengan kematangan literasi digital.

“Problem penggunaan internet (yakni) situasi yang tidak seimbang atau ekuivalen. Preferensi perilaku pengguna internet sebagian besar tidak menumbuhkan kematangan dalam literasi digital,” jelasnya.

Tingginya tingkat penggunaan internet penduduk Indonesia, menurut kolumnis yang sering mengisi rubrik di berbagai media nasional itu, sedikit demi sedikit dapat terpapar hoaks. Sebabnya, karena preferensi perilaku pengguna internet tidak mengkonsumsi informasi dari sumber-sumber yang cukup valid. Akibatnya, masyarakat menjadi minim akan literasi digital.

“Di dunia sekarang ada banyak teks masuk grup whatsapp. Yang sebagian besar adalah junk news atau sampah-sampah berita atau fake news. Bahkan kelompok terdidikpun sudah tidak bisa mengenali mana yang disebut sebagai fakta, mana yang opini,” tuturnya dalam penyampaian materi berjudul ‘Hoax dan Infodemi di Era Supra Literasi: Cara untuk Melawannya’ itu.

Karenanya, begitu Kemal Fasya menyimpulkan dengan menyitir ucapan Antonio Guterres, perang terhadap wabah Covid-19 sekarang ini bersamaan dengan perang terhadap wabah informasi terkait kesehatan.

“Keduanya (wabah Covid-19 dan wabah informasi) sama-sama berbahaya,” ungkapnya.(mui)

 

 

Kiai Miftach Kunjungi MUI Papua, Apresiasi Kerukunan Beragama

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kunjungan yang dilakukan oleh Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar pada Kamis (30/9) ke Gedung MUI Papua Barat merupakan bentuk apresiasi serta dukungan atas kemajuan pergerakan Islam Wasathiyah di tanah Papua.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI, KH Abdul Manan Ghani menyampaikan, kunjungan tersebut atas permintaan langsung dari Ketum MUI Papua Barat.

“Kiai Miftach berangkat ke Papua Barat untuk menghadiri pelantikan PWNU di sana sekaligus hadir pada acara peletakan batu pertama gedung PWNU dan musyawarah kerja yang akan dilaksanakan,” jelas Wasekjen MUI.

“Kebetulan karena beliau sedang berada di Papua, maka Ketua MUI Papua Barat sowan menuju hotel dimana Kiai Miftach berada meminta beliau untuk hadir bersilaturahim dengan para pengurus MUI di sana,” tambahnya.

Kiai Miftach turut bersyukur karena bisa berkunjung ke kantor MUI Papua Barat yang telah memiliki fasilitas gedung lengkap serta akses transportasi yang baik karena lokasinya strategis berdekatan dengan bandara.

“Dakwah MUI di Papua harus dengan cara-cara yang baik. Harus selalu mengutamakan Islam yang merangkul bukan memukul, serta menyampaikan dakwah dengan mauidzoh hasanah dan bil hikmah,” demikian nasihat tokoh yang juga Rois Aam Nahdlatul Ulama itu.

 

Adapun program kerja dalam waktu dekat yang akan diselenggarakan oleh MUI Papua Barat berdasarkan yang disampaikan oleh Wasekjen MUI yaitu dialog kerukunan umat beragama.

“Proker yang sedang kami rancang bersama MUI Papua Barat yaitu adanya dialog antarumat beragama. Dialog tersebut diperlukan untuk merangkul masyarakat Papua khususnya agar bersama-sama menebarkan Islam yang ramah bukan marah-marah di tanah Papua,” terang Kiai Abdul Manan di akhir wawancara. (mui)

 

Umat Islam Didorong Responsif Terhadap Revolusi 4.0

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Umat Islam diharapkan dapat segera melakukan adaptasi dengan era digitalisasi atau kerap disebut dengan Revolusi 4.0. Dimana Semua aktivitas berpindah pada satu saluran yang disebut dengan proses digital.

Wakil Ketua Komisi Infokom MUI Hari Usmayadi mengatakan, banyak bidang pekerjaan akan hilang, tapi banyak jenis pekerjaan atau peluang baru akan muncul dalam era ini.

“Pekerjaan dari tahun 2015-2025 mayoritas perlahan-lahan akan digantikan oleh mesin. Tidak menutup kemungkinan, murid-murid yang ada saat ini kemunginan 65% murid-murid saat ini akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada hari ini nantinya,” tegas Hari Usmayadi dalam Webinar kerjasama MUI dengan Menkominfo.

Tentunya Revolusi 4.0 ini harus ditunjang juga dengan kompetensi yang baik, terutama kemampuan Literasi digital suatu disiplin ilmu yang akan sangat berguna menghadapi era ini.

Data Menko Perekonomian menyebutkan selama pandemi terjadi peningkatan pengguna layanan baru dan internet. Bahkan 400 persen di antaranya terjadi peningkatan transaksi pada e-commerce.

‘’Melihat hal ini sudah menjadi hal yang wajib, sikap dan mental kita tertantang untuk menghadapi dan memanfaatkan era ini sebaik mungkin. Peluang banyak tinggal di maksimalkan,” lanjutnya.

 

Menurut data Bappenas 2010, Driver utama ekonomi digital Indonesia sendiri di antaranya ada fintech, e-commerce, on demand service seperti (gojek,grab,ruang guru dll) dan Internet of Things (IOT). “Dengan banyaknya landscape e-commerce saat ini, bisa menjadi peluang bisinis yang digjaya dan membantu membuka lapangan pekerjaan baru,” tutupnya.

 

PPKM Diperpanjang, Masyarakat Tetap Diminta Waspada

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Wakil Presiden (Wapres) K. H. Ma’ruf Amin memimpin Rapat Terbatas tentang Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), secara virtual di kediaman resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Senin (4/10/2021).

Dalam rapat ini, beberapa poin-poin pembahasan yang dievaluasi diantaranya penerapan PPKM periode 20 September – 4 Oktober 2021, percepatan vaksinasi Covid-19 di seluruh wilayah Indonesia, pelaksanaan Pertemuan Tatap Muka (PTM) di sekolah, positivity rate serta tingkat kematian dan kesembuhan harian.

Hasil rapat menyimpulkan bahwa terdapat kemajuan-kemajuan dari penanganan pandemi di Indonesia, diantaranya terdapat 20 kabupaten/kota yang bertahan di PPKM level 2 yang didominasi oleh Semarang Raya dan Solo Raya serta akan dilakukannya uji coba penerapan PPKM level 1 new normal di Kota Blitar, sebab kota tersebut telah memenuhi syarat indikator WHO dan target cakupan vaksinasi Covid-19 masyarakat umum dosis satu sebesar 75 persen dan dosis 1 masyarakat lanjut usia sebesar 60 persen.

Untuk wilayah aglomerasi Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), PPKM masih akan diterapkan pada level 3 karena belum mencapai target cakupan vaksinasi, begitu juga dengan Magelang, Bandung Raya, dan Surabaya. Sedangkan 3 wilayah non aglomerasi yaitu Kota Cirebon, Kota Banjar, dan Madiun turun ke level 2.

Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Panjaitan dalam keterangan persnya usai rapat terbatas, bahwa penerapan PPKM berbasis level di seluruh wilayah Indonesia masih akan tetap dilanjutkan dengan beberapa penyesuaian, antara lain seperti pembukaan pusat kebugaran dengan kapasitas maksimal 25 persen dan dibukanya Bandara Internasional Ngurah Rai Bali untuk penerbangan internasional per 14 Oktober 2021.  Namun demikian, masyarakat diminta untuk terus waspada dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Hari ini berbagai capaian dari pengendalian pandemi tersebut tentu harus kita syukuri. Namun Wakil Presiden dalam Ratas tadi mengingatkan agar kita tetap waspada dan hati-hati. Risiko peningkatan kasus masih tinggi dan dapat terjadi sewaktu-waktu kembali,” tutur Luhut.

Lebih lanjut Luhut menyampaikan, bahwa seluruh keputusan yang diambil pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 ini telah dianalisis melalui dasar ilmiah (scientific). Tim epidemolog dan kedokteran bekerja erat dengan pemerintah untuk dapat memberikan keputusan terbaik bagi masyarakat. Untuk itu, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak lengah dan tidak masuk dalam euforia berlebih yang dapat menyebabkan terjadinya lonjakan kasus atau munculnya mutasi baru dari Covid-19.

“Saya minta juga kepada kita semua jangan euforia berlebihan. Kelengahan sekecil apapun yang kita lakukan ujungnya dapat meningkatkan terjadinya kasus dalam berapa minggu ke depan dan pasti akan mengulangi pengetatan-pengetatan kembaIi yang diberlakukan, dan ini sangat merugikan kita semua,” imbau Luhut.

Menutup keterangan persnya, Luhut pun menyampaikan apresiasi atas kerja sama dan komitmen yang diberikan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam membantu pemerintah mengendalikan pandemi Covid-19. Ia berharap ke depannya, masyarakat dapat terus menerapkan protokol kesehatan secara ketat sehingga laju penyebaran virus ini dapat terus dikendalikan dan Indonesia dapat bersiap memasuki masa endemi.

“Apa yang kita capai hari ini tentunya adalah kerja sama semua. Kita sampai kepada rakyat yang paling kecil, mahasiswa, pekerja-pekerja semua dan ini hasil kita, jangan kita rusak,” pinta luhut.

“Pemerintah hari ini sama sekali tidak berjumawa dan terus memohon kepada masyarakat agar sekali lagi tidak euforia yang berlebihan yang pada akhirnya mengabaikan segala macam bentuk protokol kesehatan yang ada,” pungkasnya.