Komisi Dakwah MUI Gelar Standardisasi Dai Angkatan ke-5

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus melanjutkan standardisasi untuk memenuhi target 300 dai yang terstandardisasi tahun ini.

Hari ini, Senin (11/10) Komisi Dakwah kembali menyelenggarakan standardisasi dai MUI angkatan ke-5 secara offline di Aula Buya Hamka Gedung MUI Pusat, Jakarta.

Ketua Komisi Dakwah MUI, KH. Zubaidi menyampaikan, belakangan ini terdapat kegamangan dari penyelenggara dakwah baik yang formal maupun informal dalam mencari dai. Kegamangan yang dimaksud Kiai Zubairi terletak pada kekhawatiran dai yang dipilih tidak memiliki kompetensi yang diharapkan.

Kiai Zubaidi mengatakan, untuk menjawab kegamangan umat, MUI menyelenggarakan kegiatan satandardisasi dai.

Tujuannya, menyatukan persepsi para dai. Selain itu, para dai hasil kegiatan itu akan tertempa kompetensinya sebagai pendakwah.

 

“Standardisasi ini, memberikan keterjaminan kepada alumninya sudah memiliki standar kompetensi sebagai dai,” ungkapnya

Adapun standar yang dimaksud adalah kompetensi konten keislaman dan isu-isu Islam kontemporer, juga moderasi dan paham kebangsaannya.

Menurut Kiai Zubaidi, kompetensi kebangsaan menjadi point yang sangat penting dalam standardisasi ini, karena MUI telah memutuskan bentuk negara NKRI dengan pancasila sebagai dasar negara sudah final.

“MUI mengharapkan para dai bisa menyampaikan konten-konten yg benar sesuai dengan syariat Islam, dan tidak melanggar koridor kebangsaan kita,” jelasnya.

Kiai Zubaidi menambahkan, disamping standar kemampuan dai, kegiatan angkatan 5 ini dilakukan sebagai sarana silaturahim sesama dai antar wilayah.

Bahkan kata Kiai Zubaidi, dengan kegiatan ini, tidak akan ada persepsi masyarakat yang menganggap komunikasi antar dai yang berasal dari latar belakang ormas yang berbeda tidak terjalin baik. Bahkan, persepsi masyarakat soal para dai terbelah akan memudar.

 

“Diharapkan dengan standardisasi ini komunikasi dan silaturahim antar dai dari berbagai ormas Islam berjalan dengan baik. Sehingga dakwah dapat berjalan efektif dan tujuan dakwah dapat terealisasi,” pungkasnya. (mui)

 

Ulama Didorong Memiliki Ilmu, Keikhlasan, dan Semangat Tinggi

BANDAR LAMPUNG(Jurnalislam.com)— Ketua MUI Bidang Kesehatan, KH Sodikun, menyampaikan bahwa ketua umum MUI Lampung yang ideal adalah yang memiliki waktu, ilmu, keikhlasan, dan semangat tinggi. Hal itu dia sampaikan saat memberikan sambutan mewakili MUI Pusat dalam acara Musda ke-X MUI Lampung di Hotel Nusantara Syariah, Lampung, Senin (11/10).

“Musda ini memberikan amanah kepada kita. Jangan memberikan kepada orang yang bukan ahlinya. Dia punya ilmu tapi tidak ada waktunya. Dia terkenal dari langit sampai bumi, gelarnya sepanjang Lampung sampai Surabaya, namun tidak punya waktu. Ini yang harus kita cari, susah, namun pasti ada di institusi kita ini,” ujar Ketua MUI Pusat yang mengkoordinatori wilayah Lampung tersebut.

 

Dia menyampaikan, pemilihan ketua umum MUI Lampung, seperti halnya MUI Pusat, akan ditentukan melalui rapat tim Formatur yang terdiri dari 13 orang. Tiga belas orang itu terdiri dari Dewan Pertimbangan, ketua umum MUI Lampung demisioner, sekretaris jenderal MUI Lampung demisioner, perwakilan ormas Islam pendiri, perwakilan perguruan tinggi Islam, perwakilan pondok pesantren, serta perwakilan MUI kabupaten/kota.

Dia menambahkan, syarat menjadi ketua umum MUI Lampung tidak harus yang ada di dalam Formatur. Apa yang terjadi di MUI Pusat dengan terpilihnya KH Miftachul Akhyar membuktikan bahwa yang terpenting adalah yang punya komitmen waktu terhadap MUI. Tentu saja tidak mengesampingkan kriteria keilmuan dan keikhlasan karena untuk menjadi ketua umum MUI, hal seperti itu sudah pasti menjadi syarat utama.

Dia mengatakan, MUI sebagai organisasi yang besar, bukan karena pengurusnya banyak, namun karena mengayomi tiga unsur sekaligus yang penting yaitu ulama, umara, dan cendekiawan Muslim. Banyak organisasi yang hanya berisikan ulama saja, umara saja, maupun cendekiawan saja, namun yang merangkum itu menjadi satu tidak banyak. Di antara yang tidak banyak itu adalah MUI.

 

“Menyatukan ulama-ulama itu biasa. Menyatukan umara itu juga biasa. Para cendekiawan bersatu dalam satu organisasi itu biasa juga. Tapi sebuah paradigma yang menyatukan tiga kekuatan ini dahsyat,” ujarnya.

Meski begitu, Kiai Sodikun menekankan, yang paling penting di dalam Musda X MUI Lampung ini adalah menentukan langkah kerja konkret ke depannya. Itu yang nantinya menjadi nafas MUI Lampung untuk terus bergerak dan maju.

“Produk yang dihasilkan di dalam Musda nanti harus terkait bagaimana membangun strategi konkret. Masalah tentang siapa nanti yang terpilih di dalam Musda, siapa bendahara nya itu menjadi masalah belakangan,” ujarnya

 

Madrasah Harus Jadi Teladan Penerapan Prokes Saat PTM

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kasus positif Covid-19 di Indonesia terus menurun. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas juga sudah mulai dilakukan.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi berpesan agar siswa madrasah disiplin dalam penerapan protokol kesehatan. Pesan ini disampaikan Wamenag saat meninjau PTM Terbatas di MAN 2 Mataram, Senin (11/10/2021).

Wamenag mengatakan bahwa penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi harus dilakukan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung sesuai harapan. “Prokes dan vaksinasi wajib, jangan lalai, jangan lengah, meskipun trend pandemi mulai turun tapi pandemi ini belum berakhir,” ujar Wamenag Zainut.3.

Menurutnya, pelaksanaan PTM Terbatas ini bukan hal yang mudah. Banyak tantangan di dalamnya sehingga semua pihak, termasuk para siswa, harus patuh dan tertib. Semuanya harus terus berupaya menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan, tidak hanya di sekolah, tapi di jalan, dan di rumah.

 

“Anak-anak, PTM terbatas ini sudah disiapkan pemerintah sedemikian rupa, baik dari fasilitasnya dan juga prokesnya. Jadi jangan abai agar pandemi cepat berlalu dan kegiatan kita bisa normal kembali,” pesan Zainut

“Jangan lupa vaksin, karena ini penting agar kita bisa melindungi teman-teman, guru dan juga keluarga kita,” lanjutnya.

Kepala MAN 2 Mataram Lalu Syauki mengatakan, madrasah yang dia pimpin sudah berusaha menyiapkan  PTM terbatas dengan detail, baik dari segi fasilitasnya maupun pembagian kelas belajar dan programnya.

“Siswa kami bagi kelasnya, waktunya dan juga sosialisasi prokesnya. Siswa yang tidak ke sekolah, tetap dapat belajar dengan e-learning sehingga kami harapkan setiap siswa menadapatkan pembelajaran yang sama,” terang Lalu.

MAN 2 Mataram menggelar PTM Terbatas mulai  18 Agustus 2021 seiring dengan menurunnya angka penderita Covid 19 dan berakhirnya PPKM level 3 di NTB. PTM Terbatas dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Wamenag Ajak Semua Pihak Tangkal Hoaks Soal Vaksin

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid mengatakan bahwa setiap ASN harus mengedukasi masyarakat dan membantu menangkal hoaks tentang vaksin. Hal ini disampaikan Wamenag saat Silaturahmi dan Pembinaan ASN di lingkungan Kanwil Kemenag Nusa Tenggara Barat yang berlangsung di Aula MAN 2 Mataram, Senin (11/10/2021).

Menurutnya, hoaks tentang vaksinasi masih banyak beredar di masyarakat, entah itu tentang kehalalannya, efek kematian pasca vaksin, dan lainnya. Masih banyak masyarakat yang tidak percaya vaksin dapat membantu meredakan gejala covid, dan ini tugas ASN untuk mengedukasi masyarakat.

“Vaksinasi yang diinginkan pemerintah bukan soal angka, bukan hanya soal berapa banyak masyarakat yang melakukan vaksinasi, tapi juga bagaimana vaksin dapat meminimalisir gejala covid di tubuh kita. Ini lebih tentang keselamatan kita semua,” kata Zainut.

“Bukan hanya guru yang wajib divaksin, semua ASN  yang tugasnya melayani masyarakat, ayo vaksin agar semua aman, semua nyaman,” ujarnya lagi.

Ditambahkan Wamenag, selain vaksinasi, penerapan protokol kesehatan 5M dan 1 D juga harus tetap dilakukan dengan ketat. “5M plus 1D jadikan sebagai ikhtiar kita, berdoa pandemi segera berakhir dan aktivitas kita dapat berjalan seperti sediakala dan perekonomian kembali membaik,” pungkas Wamenag.

Buku Panduan Pembelajaran Pendidikan Agama dan Madrasah Disusun

SURABAYA(Jurnalislam.com)-— Kementerian Agama tengah menyusun buku modul panduan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. Penyusunan ini berlangsung di Surabaya, Jawa Timur.

Hadir secara virtual, Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Moh. Ishom berpesan tentang tiga hal yang harus diperhatikan dalam penulisan konten buku-buku keagamaan. Pertama, sumber rujukan harus dari kitab-kitab yang mu’tabar atau kridibel. Kedua secara konten tidak bertentangan dengan mayoritas ulama ataupun sawadil a’dham (golongan ulama mayoritas).

“Ketiga, tidak dipertentangkan dengan idiologi bangsa Pancasila,” tegasnya, Minggu (10/10/2021).

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila tidak ada satupun yang bertentangan dengan syariat Islam. Pancasila justru menerjemahkan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. “Jadi jangan dipertentangkan,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Ishom meminta agar proses penuliasan buku-buku keagaman ini didampingi oleh akademisi, atau ahli di bidangnya.

Ishom berharap, buku-buku teks Pelajaran Agama Islam yang dikembangkan Kemenag RI bisa menjadi rujukan, di tengah maraknya dan mudahnya mengakses konten-konten keagamaan di internet.

“Pemahaman peserta didik yang didapatkan dari sumber-sumber di internet harus dikonfirmasi kebenarannya dengan buku teks ini. Demikian juga guru-gurunya. Guru PAI harus bisa mengkonfirmasi pengetahuan dan pemahaman peserta didik. Jangan sampai peserta didik tersesat pemahaman agamanya gara-gara mengakses internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ini kewajiban guru,” pungkasnya.

Kepala Sub-Direktorat Kurikulum dan Evaluasi, Ahmad Hidayatulloh menyatakan, bahwa kegiatan ini merupakan tahap kedua dari rangkaian penyusunan modul panduan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada madrasah. Draft buku direview oleh para ahli untuk diberi masukan-masukan dan penyempurnaan.

Kemenag Akan Bina Masyarakat Yang Terlibat NII di Garut

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Sejumlah masyarakat di Garut diduga telah direkrut masuk dalam organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Rekrutmen itu antara lain dilakukan melalui bentuk pengajian. Doktrin NII antara lain menganggap NKRI tidak sesuai dengan ajaran Islam (thogut).

Staf Khusus Menteri Agama Mohammad Nuruzzaman mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim Badan Litbang dan Diklat untuk berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Jawa Barat melakukan kajian terkait aktivitas rekrutmen NII dalam pengajian masyarakat di Garut.

“Kami memang mendapat informasi terkait rekrutmen itu, dan polanya melalui pengajian. Ini sedang kita kaji dan dalami,” tegas Nuruzzaman di Jakarta, Senin (11/10/2021).

“Hasil kajian ini nantinya akan disampaikan juga kepada Polri, Kemendagri, dan Kemenkopolhukkam untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangannya,” sambungnya.

Menurut Nuruzzaman, Kementerian Agama juga akan melakukan pendampingan kepada sejumlah masyarakat yang telah menjadi korban baiat. Mereka perlu diberikan edukasi dan pencerahan terkait relasi agama dan negara, serta pentingnya penguatan moderasi beragama.

“Kita akan melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang menjadi korban baiat. Mereka tentu perlu mendapat pencerahan tentang relasi agama dan negara, serta penguatan moderasi beragama,” terangnya.

Kementerian Agama, lanjut dia, terus melakukan upaya dan langkah dalam penguatan moderasi beragama yang saat ini menjadi salah satu program prioritas. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandasarkan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

“Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengalaman kita dalam beragama,” tegas Nuruzzaman.

“Setidaknya ada empat indikator moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi. Ini yang akan kita kuatkan,” tandasnya.

Kajian Islami Virtual dan Sholat Tahajud, Program Penguatan Karakter SMP Muhammadiyah PK Solo

SURAKARTA(Jurnalislam.com)–inggu dini hari (10/10) pukul 03.00 WIB, sebanyak kuang lebih 91 siswa kelas 9 mengikuti kegiatan kajian Islami virtual dan sholat tahajud. Program ini merupakan pembiasaan sholat malam untuk penguatan karakter siswa.

 

Aryanto selaku Humas SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengatakan kegiatan ini merupakan program Ismuba (Al Islam dan Kemuhammadiyahan) yang dilaksanakan secara berkala minimal sebulan sekali. Tujuan diadakan agar siswa terbiasa menunaikan sholat tahajud.

 

“Alhamdulillah para siswa antusias mengikuti kegiatan melalui platform zoom meeting. Wali kelas bertugas membangunkan dan memantau kelengkapan siswa yang mengikuti kegiatan kajian dan sholat tahajud. Siswa bangun, membuka link zoom meeting untuk presensi, ambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat tahajud. Kemudian siswa mengikuti kultum hingga waktu Shubuh. Siswa yang berhalangan dipersilakan berzikir,” jelasnya.

 

Aryanto menambahkan sebelumnya program ini sudah dilakukan kepada guru dan karyawan secara rutin dan berkala. Kegiatan kajian Islami virtual dan sholat tahajud sebagai salah satu cara membangun kekompakan tim dengan pola komunikasi baru.

 

Ustaz Widi Kusumajati, guru Ismuba, dalam kultum singkatnya menceritakan pengalaman sholat tahajud semasa di sekolah. Memang awal berat dilaksanakan, tetapi kita harus memaksakan diri untuk bangun sholat tahajud. Apalagi kita mengetahui banyak keutaman sholat tahajud.

 

“Mari kita sandarkan hati kepada zat yang tidak terbatas, Allah SWT. Kita bangun malam melaksanakan sholat tahajud. Kita berdoa kepada Allah SWT, insyallah Allah akan mengabulkan doa dan mengangkat derajat kita,” paparnya.

 

Sementara itu, menurut Dara Latifah Azzahra, siswa kelas 9, kegiatan ini sangat menyenangkan dan memberikan motivasi kepada dirinya untuk bangun malam sholat tahajud.

 

“Saya merasa senang karena biasanya sholat tahajud hanya sendirian saja, namun pada kesempatan kali ini sholat tahajudnya ditemani oleh teman-teman dan Ustaz-Ustazah. Bukan hanya itu, kita bisa menambah ilmu dari kajian yang disampaikan oleh Ustaz Widi tentang manfaat sholat tahajud,” cerita Dara.

 

Hal serupa disampaikan oleh Wildan Haris Rasikh, siswa kelas 9, bahwa kegiatan ini selain bisa menambah pahala, bisa pula membentuk kebiasaan yang baik untuk bangun malam dan shalat tahajud.

 

Harapan Ustaz Widi Kusumajati, sholat tahajud bukan sekadar menunaikan program sekolah, melainkan muncul kesadaran diri masing-masing dengan niat karena Allah SWT untuk menunaikan sholat tahajud.

Kiai Cholil Nafis Sarankan Tunda Umrah Saat Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Cholil Nafis menyambut baik rencana pembukaan umroh untuk jamaah Indonesia oleh Pemerintah Arab Saudi. Meski demikian, ia menyarankan masyarakat tidak memaksakan berumroh di masa pandemi Covid-19.

“Saya menyambut baik, tetapi ada sejumlah hal yang perlu menjadi pertimbangan bagi sebagian Muslim,” kata Kiai Cholil yang menjabat sebagai ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Sabtu (9/10).

Menurut Kiai Cholil, calon jamaah umroh perlu mempertimbangkan risiko kesehatan maupun besaran biaya tambahan yang harus dikeluarkan terkait aturan karantina. Ia menjelaskan, pelaksanaan umroh di masa pandemi tidak lepas dari kerawanan-kerawan dalam perjalanan.

Menyesuaikan aturan protokol kesehatan selama perjalanan, menurut Kiai Cholil, juga dapat menyebabkan orang kelelahan. Hal itu dapat membuat ketahanan tubuh berkurang.

“Menurut saya, meskipun dibuka, sebaiknya ditunda dulu untuk melaksanakan umroh, karena pertama tidak efektif melaksanakan umrah sebab di sini di karantina, di sana karantina,” katanya.

Menurut Kiai Cholil, di situasi saat ini, terlalu mahal jika mengejar pahala sunnah sampai harus mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Padahal, ada ibadah sunnah setelah subuh yang pahalanya sama dengan ibadah umrah dan haji, bahkan ada jaminan diterima.

Andaikan masih membahayakan dan ketentuan karantina juga merepotkan, Kiai Cholil merekomendasikan untuk menunda berangkat beribadah ke Tanah Suci. Ia mengingatkan, banyak ibadah sunnah lainnya yang bisa dikejar umat.

“Uang yang dipakai kenapa nggak diberikan sebagai bantuan kepada orang yang nggak mampu, yang sekarang terkena pandemi ini, mereka kan lebih membutuhkan. Jadi, jangan sampai kita menjadi egois dalam beribadah,” katanya.

Sumber: ihram.co.id

Kiai Cholil Nafis Sarankan Tunda Umrah Saat Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Cholil Nafis menyambut baik rencana pembukaan umroh untuk jamaah Indonesia oleh Pemerintah Arab Saudi. Meski demikian, ia menyarankan masyarakat tidak memaksakan berumroh di masa pandemi Covid-19.

“Saya menyambut baik, tetapi ada sejumlah hal yang perlu menjadi pertimbangan bagi sebagian Muslim,” kata Kiai Cholil yang menjabat sebagai ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Sabtu (9/10).

Menurut Kiai Cholil, calon jamaah umroh perlu mempertimbangkan risiko kesehatan maupun besaran biaya tambahan yang harus dikeluarkan terkait aturan karantina. Ia menjelaskan, pelaksanaan umroh di masa pandemi tidak lepas dari kerawanan-kerawan dalam perjalanan.

Menyesuaikan aturan protokol kesehatan selama perjalanan, menurut Kiai Cholil, juga dapat menyebabkan orang kelelahan. Hal itu dapat membuat ketahanan tubuh berkurang.

“Menurut saya, meskipun dibuka, sebaiknya ditunda dulu untuk melaksanakan umroh, karena pertama tidak efektif melaksanakan umrah sebab di sini di karantina, di sana karantina,” katanya.

Menurut Kiai Cholil, di situasi saat ini, terlalu mahal jika mengejar pahala sunnah sampai harus mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Padahal, ada ibadah sunnah setelah subuh yang pahalanya sama dengan ibadah umrah dan haji, bahkan ada jaminan diterima.

Andaikan masih membahayakan dan ketentuan karantina juga merepotkan, Kiai Cholil merekomendasikan untuk menunda berangkat beribadah ke Tanah Suci. Ia mengingatkan, banyak ibadah sunnah lainnya yang bisa dikejar umat.

“Uang yang dipakai kenapa nggak diberikan sebagai bantuan kepada orang yang nggak mampu, yang sekarang terkena pandemi ini, mereka kan lebih membutuhkan. Jadi, jangan sampai kita menjadi egois dalam beribadah,” katanya.

Sumber: ihram.co.id

Akhirnya Umrah Kembali Diizinkan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wasekjen Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Adji Mubarok mengaku bersyukur atas informasi yang disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengenai persiapan teknis yang tengah dilakukan Kerajaan Arab Saudi bagi jamaah umroh Indonesia. Menurutnya, kabar dari Menlu itu sudah ditunggu umat Islam di Indonesia.

“Alhamdulillah, momen yang kami tunggu-tunggu akhirnya sampai di garis finis,” kata Adji,Sabtu (9/10).

Adji mengatakan, umat Islam di Indonesia sudah lama merindukan ibadah di Makkah dan Madinah untuk umroh maupun haji. Ia menyebut, kabar yang disampaikan pemerintah seakan melepas kerinduan kepada Tanah Suci.

Adji memastikan asosiasinya siap membantu pemerintah dalam hal teknis demi menyegerakan terselenggaranya kembali ibadah umroh. Apalagi, selama ini sudah banyak jamaah umroh yang batal diberangkatkan karena pandemi Covid-19 dan mereka ingin segera beribadah ke Tanah Suci.

“Kami selaku asosiasi siap mengawal ini semua agar semua sesuai dengan peraturan yang berlaku dan protokol kesehatan tentunya,” katanya.

Adji berharap, kabar gembira ini bisa kembali membangkitkan bisnis travel haji umroh yang sudah tiarap hampir dua tahun lamanya. Ia menyebut, persiapan sudah mulai dilakukan oleh para pelaku bisnis travel umroh, mulai dari berbenah kantor hingga membuka kembali pendaftaran jamaah umroh. Bahkan, para provider visa pun sudah bersiap mengurus izin atau kontrak mereka dengan muasasah.

“Insya Allah semua persiapan sudah dipersiapkan oleh tiap travel umroh-haji. Semoga dalam beberapa hari kedepan Insya Allah sistem pengajuan visa bisa kembali on dan umroh bisa segera dimulai. Aamiin,” katanya.

Sumber: ihram.co.id