Habib Nabiel Ajak Dai Berdakwah dengan Lemah Lembut dan Teladan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI, Habib Nabiel Al-Musawa menyampaikan bahwa Islam wasathiyah menjadi resep memakmurkan negeri. Sebab, kata dia, Islam wasathiyah menghilangkan sifat egois dalam menjalankan agama.

Menurutnya, posisi Islam wasathiyah yang di tengah, tidak ekstrem kiri atau ekstrem kanan, membuatnya terbebas dari egoisme sempit kelompok. Egoisme sempit inilah yang menurutnya kerap menjadi sumber malapetaka dan pertikaian terutama di banyak negara.

“Dakwah Islam Wasathiyah dapat membangun negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur karena hilangnya sifat egois, ” ujar Pimpinan Majelis Rasulullah ini di hadapan peserta Standardidasi Da’i MUI ke-17 di Wisma Mandiri, Jakarta, Senin (31/10).

Dikatakannya, corak Islam Wasathiyah menjadikan seorang dai menempatkan sebuah perkara secara proporsional. Mereka mampu menempatkan mana yang masalah ushul dan mana masalah furu’.

“Sebagai dai, maka bisa memahami mana yang ushul dan mana yang furu’ sehingga tidak mudah terpecah belah, ” ujarnya.

Dia mengatakan, Islam wasathiyah memiliki sepuluh karakteristik seperti
Tawasuth (mengambil jalan tengah), Tawazun (berkeseimbangan), I’tidal (Lurus dan Tegas), Tasamuh (toleransi), dan Musawah (tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi).

Prinsip Islam wasathiyah yang lain adalah Syura’ (musyarawah), Ishlah (reformasi), Awlawiyah (mendahulukan yang prioritas), Tathawwur (dinamis, kreatif, inovatif), dan Tahaddhur (berkeadaban).

Selain itu, imbuh Habib Nabiel, seorang da’i dan da’iyah selayaknya berdakwah dengan kaidah qoulan layyina, qoulan maisyuro, dan qoulan baligho. Hal ini sejalan dengan teguran Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dalam surat Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Habib Nabiel melanjutkan, dakwah juga perlu menyesuaikan dengan kode etik yang ada. Kode etik itu seperti menyatukan ucapan dengan perbuatan, tidak mencampurkan akidah dengan ibadah agama lain, tidak menghina sesembahan non muslim, tidak menyampaikan hal-hal yang tidak diketahui atau dikuasai, dan tidak meminta atau menetapkan imbalan.

“Seorang da’i dan da’iyah perlu merujuk pada keputusan-keputusan lembaga keagamaan yang mut’tabarah misalnya fatwa-fatwa MUI, ” ungkapnya. (mui)

 

Di Forum R20, Waketum MUI Serukan Perang Dihentikan

 BALI(Jurnalislam.com)— Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, turut hadir sebagai peserta pada acara R20 atau Religion of Twenty 2022 di Bali, Rabu (2/11/2022).

Forum para pemimpin agama-agama dan sekte-sekte dengan peserta utama dari negara-negara anggota G20 dengan memanfaatkan posisi presidensi Indonesia tahun ini.

Meski demikian, R20 juga mengundang para pemimpin agama dari negara lain di luar G20 sehingga total ada 32 negara.

“Ya saya datang atas undangan Panitia G20 Religion Forum ( R20) International Summit of Religious Leaders, yang pada acara ini di bahas tentang coexisting antara satu agama dan agama lainnya, yang pada pemahaman saya bahwa muamalah dalam berbangsa dan bernegara dalam ajaran Agama kita adalah sudah diatur dalam syariahnya, sehingga bagaimana kita bisa hidup berdampingan yang saling menjaga harmonisasi dalam berbangsa dan bermasyarakat,” kata Waktum MUI saat diwawancara media.

 

MUI berharap diskusi pada R20 ini membuahkan hasil pada perdamaian dunia, khususnya negara yang sedang perang.

“Khususnya saya berharap, dalam diskusi-diskusi ini mengharapkan bahwa konflik-konflik yang terjadi di beberapa negara Muslim yang telah lama berlangsung dan tambah perang Rusia Ukraina segera bisa di hentikan dan untuk menghentikannya adalah dengan dialog seperti yang sekarang sedang dilaksanakan di Bali ini,” ujarnya. (mui)

 

Kiai Marsudi Harap Pertemuan R20 Dapat Hentikan Islamofobia

BALI(Jurnalislam.com)— Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, turut hadir sebagai peserta pada acara R20 atau Religion of Twenty 2022 di Bali, Rabu (2/11/2022).

Forum para pemimpin agama-agama dan sekte-sekte dengan peserta utama dari negara-negara anggota G20 dengan memanfaatkan posisi presidensi Indonesia tahun ini.

Kiai Marsudi optimis agenda ini dapat membawa kehidupan damai antarnegara, antarumat beragama serta dapat menghentikan Islamofobia.

Dia menjelaskan, konflik sudah ada dari zaman Qabil dan Habil anak Nabi Adam sampai sekarang, yang terpenting bagaimana agama mendorong untuk melaksanakan ishlah jika ada konflik, itu kewajiban kita, begitu pula ketika masih ada kelompok yang belum bisa menerima kelompok lainnya.

Termasuk Islamofobia, kata dia, itulah tugas tokoh-tokoh agama di sini yang kumpul di sini untuk saling membawa umatnya menghormati satu sama lain, diawali dengan pertemuan dan duduk bersama pemimpinnya, dan menyatukan kesamaan pandangan dalam kehidupan muamalah, dan memahami batas-batasnya. “Itulah fondasi yang kokoh untuk hidup bersama,” paparnya.

Forum para pemimpin agama-agama dan sekte-sekte ini juga menghadirkan pemimpin agama dari India yang menoreh catatan keras, menurut Kiai Marsudi dengan duduk bersama untuk perbaikan hubungan.

Diundangnya kelompok-kelompok yang konflik tidak lain adalah untuk faashlihu bainahuma, mendamaikan diantara kelompok yang sedang konflik, dengan duduk bersama satu ruangan, pertama untuk saling kenal, saling memahami, kemudian akan saling memberi, memberi maaf, memberi ruang jika masih berbeda, dan memberi rasa aman jikapun masih berbeda dalam pandangannya.

 

Dia berkeyakinan, semua yang diundang di sini pasti mempunyai kekuatan untuk terus berkontribusi khususnya di negaranya dan umumnya untuk dunia.

“Saya memang rata-rata kenal dengan beliau-beliau karena pekan lalu juga saya ketemu beliau-beliau di Mesir ketika Konferensi Mufti sedunia dan ketemu di Roma suatu conference yang diadakan Sant’Egidio, utusannya ada Ibu Valeria, Mufti Mesir, dan lainnya juga datang di acara ini,” ujar dia.

Dia menyatakan, seluruh tokoh yang hadir harapannya mayoritas adalah peace, leaving in peace, no war, no nonflict. 
“Saya sendiri juga mengharapkan don’t stop building peace untill we have a rest in peace, (pergi dengan damai, tanpa perang, tanpa konflik. Jangan berhenti membangun perdamaian sampai kita beristirahat dengan tenang),” kata dia. (mui)

Tokoh Agama Dunia Hadiri R20 di Bali, Jokowi Harap Agama Berkontribusi Selesaikan Masalah

BALI(Jurnalislam.com)— Forum para pemimpin agama dunia atau Forum Religion Twenty (R20) dalam rangkaian kegiatan G20, hari ini berlangsung di Nusa Dua, Bali.

Ajang pertemuan para pemimpin agama dunia kali pertama yang diinisiasi Nadhalatul Ulama (NU) dan Liga Muslim Dunia ini digelar 2-3 November 2022.

Tampak hadir dalam pembukaan R20, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf,  Sekretaris Jenderal Rabitah al-‘Alam al-Islami atau Liga Muslim Dunia, Syekh Mohammed Al-Issa dan para pemimpin agama dari berbagai negara lainnya.

Hadir juga sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju, di antaranya Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menkopolhukam Mahfud MD, Menteri BUMN Erick Thohir, Menko PMK Muhadjir Effendy, dan mantan Wapres Jusuf Kalla.

Pembukaan R20 yang mengusung tema Revealing, Nurturing, Religion AS A Source of Global Solutions ditandai dengan penabuhan rebana oleh Rais ‘Aam PBNU, Ketum PBNU, Sekretaris Liga Muslim Dunia, Menag Yaqut Cholil Qoumas, para Menteri dan tokoh lainnya.

Salah satu misi dari gelaran forum R20 ini yaitu mengajak para pemimpin agama untuk mengidentifikasi dan merangkul nilai-nilai mulia yang bersumber dari agama dan peradaban besar dunia.

Presiden Joko Widodo dalam sambutan yang ditayangkan lewat video saat pembukaan R20 mengajak para delegasi-delegasi negara yang hadir untuk bertukar gagasan demi meningkatkan kontribusi agama dalam penyelesaian masalah dunia.

“Kehadiran bapak dan ibu di forum ini sangat membanggakan kami. Indonesia ingin belajar dari bapak ibu sekalian yang hadir dari berbagai negara. Kami rakyat Indonesia juga siap berbagi pengalaman,” kata Presiden Jokowi, Selasa (2/11/2022).

Menurut Presiden Jokowi, para tokoh dunia dari berbagai agama harus bekerja sama untuk meningkatkan kontribusi agama dalam menyelesaikan masalah-masalah dunia untuk mengurangi rivalitas dan menghentikan perang demi dunia yang damai, dunia yang bersatu, dan dunia yang bekerja sama untuk mewariskan kebaikan bagi generasi mendatang.

Presiden Jokowi juga menyampaikan kemajemukan yang dimiliki Indonesia mulai dari suku, bahasa, hingga agama yang dipersatukan oleh ideologi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

R20 yang berlangsung di Grand Hyatt Nusa Dua Bali ini dihadiri 150 tokoh lintas agama dunia dan 250 partisipan domestik.

 

Bulan Solidaritas Palestina, MUI Ajak Umat Berdonasi

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Bulan ini yang diperingati sebagai bulan solidaritas Palestina, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan umat Islam khususnya Indonesia untuk berdonasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSIH) di Hebron.

Pembangunan RSIH di Hebron Palestina yang digagas oleh MUI ini masih jauh dari target dana yang direncanakan untuk membangun rumah sakit tersebut.

“Donasi yang telah dikumpulkan Panitia MUI sejak November 2021 sebesar Rp 25 Miliar. Jumlah tersebut memang masih jauh dari target yang direncanakan sebesar Rp 87 Miliar,” kata Ketua Bidang Penggalangan Dana Pembangunan RSIH, Amirah Nahrawi, dalam prosesi penyerahan secara simbolik donasi dari Yayasan Rumah Zakat Indonesia untuk pembangunan RSIH Palestina, Rabu (2/11/2022).

Oleh karena itu, ujar Amirah, mengawali bulan solidaritas Palestina ini, MUI mengetuk hati seluruh masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia untuk berdonasi agar terwujudnya RSIH di Hebron, Palestina.

“Masyarakat dapat menyalurkan bantuannya melalui panitia MUI atau lembaga-lembaga donasi lainnya mitra MUI seperti DMI, Rumah Zakat, LAZISNU, Lazismu, Baznas, kitabisa.com dan Dompet Duafa,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan menyampaikan, pihak panitia pembangunan RSIH secara intens telah melakukan kordinasi dengan pihak Walikota Hebron, Mr Tayseer.

“Sejak 2021 (Mr Tayseer) telah menyiapkan lahan bagi lokasi RSIH. Komunikasi terakhir dengan pihak Walikota Hebron diadakan minggu yang lalu,” ungkapnya.

Sekjen MUI mengungkapkan, komunikasi tersebut membahas mengenai tahap-tahap pembangunan RSIH, mulai dari penetapan konsultan perencanaan, lelang pengerjaan konstruksi dan jadwal peletakkan batu pertama.

“Peletakkan batu pertama diharapkan dapat dilaksanakan sebelum berakhirnya 2022,” sambungnya.

Buya Amirsyah menekankan, seluruh prosedur penyaluran donasi tersebut harus jelas dan bersih. Mengingat hal tersebut sangat penting karena mempertaruhkan reputasi masyarakat dan bangsa Indonesia.

“Sesuai dengan prosedur administrasi penyaluran bantuan kemanusiaan. Supaya semua pihak, baik MUI maupun para mitra lembaga donasi tetap akuntabel,” paparnya.

 

Pandemi Ajarkan Pentingnya Solidaritas Kemanusiaan dan Sains

BALI(Jurnalislam.com)— Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan dalam tiga tahun yang serba ganas, globalisasi mengalirkan pandemi sebagai pengalaman bersama, duka cita dari kematian yang sunyi, dan ruang-ruang isolasi.

Tapi di saat yang sama, ia juga  membangkitkan militansi akal budi: sains dan kerja keras semua bangsa untuk lolos menuju normal baru yang lebih berpengharapan.

Hal ini disampaikan Menag Yaqut saat didapuk menjadi pembicara dalam gelaran forum para pemimpin agama dunia atau Forum Religion Twenty (R20) yang digelar dalam rangkaian kegiatan G20 di Nusa Dua, Bali.

“Pandemi mengajarkan kita bahwa di dalam segala perbedaan, di atas demarkasi kelas sosial dan kekayaan, serta hirarki kesetaraan, baik yang terjadi antar negara dan antar manusia, sebuah common ground bagi kelanjutan kemanusiaan ternyata masih dimungkinkan,” ujar Menag Yaqut, Rabu (2/11/2022) .

“Di sini kita menemukan bahwa ternyata ada yang lebih solid dan krusial dari sekadar ekonomi, politik, atau batas dan teritori,” sambung Gus Men, panggilan akrab Menag Yaqut.

“Pandemi memaksa orang untuk mengambil tindakan etis di mana keselamatan diri hanya bisa dipertahankan melalui keselamatan bersama orang lain.  Dengan itu,  wabah yang mengerikan mengahadirkan kegentaran tapi sekaligus menumbuhkan atmosfir etik mondial,”  tutur Menag.

Menurut Menag, globalisasi-pandemic mengajarkan betapa berharga dan pentingnya sains dan ilmu kedokteran, bersama-sama dengan kekuatan solidaritas dan kesukarelaan antar manusia.

“Sains menunturn kita keluar dari bencana, namun etika, solidaritas dan kemanusiaan yang memelihara dan memperkuat pikiran dan kesehatan jiwa manusia selama dalam bencana,” ujarnya.

Dengan kata lain, jelas Menag, bagi orang beriman, pandemi ini menghadirkan kengerian yang mencengangkan (tremendum et fascinosum). Ia menakutkan, namun di saat yang sama juga menunjukkan sisi-sisi kemuliaan manusia yang menandakan adanya ‘cakrawala kebaikan” yang transenden.

“Di titik inilah kita meyakini, bahwa sosialitas manusia akan lebih merekah dan tumbuh apabila ia diatur oleh keserasian antara akal budi dan nilai-nilai yang baik: solidaritas, kebersamaan, dan kemanusiaan yang universal,”  tegas Menag

Dalam paradoks globalisasi inilah masyarakat Indonesia didorong juga untuk berefleksi melihat ke dalam, seluruh kisah globalisasi ini juga adalah bagian dari pengalaman.

Indonesia jelas bukanlah bangsa yang memiliki kekuatan hebat untuk berpacu dalam kompetisi teknologi dan sains, secara ekonomi Indonesia juga tidak memiliki kemakmuran materiil sebagaimana sebagian besar negara-negara sahabat anggota G20 lainnya.

Namun demikian, dalam menghadapi bahaya dan masalah, Indonesia terbukti sama tangguhnya dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

“Pada hari ini, kehadiran kita bersama di forum ini, telah menandaskan takdir bersama kita, bahwa kita semua lolos bersama-sama dari lubang jarum globalisasi-pandemi,”  tandas Menag.

 

MUI Ingatkan Masyarakat Tak Buat Konten Berpotensi Singgung Agama

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Rofiqul Umam Ahmad, mengingatkan para dai untuk berhati-hati membagikan konten sensitif terkait penodaan agama di media sosial.

Menurut Kiai Rofiq, begitu akrab disapa, tidak ada alasan pembenaran dai untuk mengumbar konten-konten bernada penodaan agama di media sosial. Dai daiyah hendaknya memahami ketentuan hukum mengenai berbicara di depan umum (publik) dan memasang pernyataan (posting) di media sosial.

Dia menyebutkan beberapa kasus penodaan agama yang menjerat sejumlah orang, sebagiannya bahkan tokoh publik.
Di antaranya, Ferdinand Hutahaen dipidana 5 bulan karena pernyataan “Allahmu Lemah” oleh PN Jakpus pada 19 April 2022, M Kece dipidana 10 tahun penjara oleh PN Ciamis karena penodaan agama pada 6 April 2022. Nama yang kedua ini terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana menyiarkan berita atau pemberitaan bohong.

Sementara itu, Ustadz Yahya Waloni dipidana 5 bulan kurungan karena ujaran kebencian (11 Januari 2022) terbukti secara sah melakukan tindak pidana dengan sengaja memberikan informasi yang dapat menimbulkan rasa kebencian atau kelompok masyarakat tertentu.

“Hal ini menjadi pelajaran bagi kita agar dapat berhati-hati dalam men share informasi, guna tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau sensitif,” kata dia saat menyampaikan materi dalam Standardisasi Dai ke-17 MUI di Wisma Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2022).

 

Kiai Rofiqul juga menyampaikan bahwa dalam UU No 1/PNS/1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama pasal 1 yang berbunyi;

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsirannya tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan keagamaan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran dari agama itu.”

Kiai Rofiqul menambahkan tentang larangan unggahan bernada SARA, sebagaimana termaktub dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No 11/2008) Bab VII.

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA)”.

Kiai Rofiq menyampaikan, pihak yang meng-share ke pihak lain konten negatif berisi SARA yang isinya meresahkan masyarakat dapat mengakibatkan dirinya terlibat dalam urusan hukum dengan dilaporkan ke kepolisian. “Prinsipnya saring sebelum sharing,” ujarnya.
Kiai Rofiq mengutip dalam dakwahnya KH Miftachul Akhyar menyebutkan ada 7 poin penting dalam berdakwah yaitu mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina, mencari solusi bukan mencari simpati dan membela bukan mencela. (mui)

 

Meningitis Tak Lagi Syarat Umrah, Pemerintah Diminta Sesuaikan Kebijakan

DEPOK(Jurnalislam.com)– Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Tawfiq Al Rabiah saat bertemu Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas pada Senin (24/10/2022) lalu, menegaskan bahwa vaksinasi meningitis bukan lagi syarat wajib bagi jamaah umrah, termasuk jamaah umrah Indonesia.

Saat dimintai tanggapannya oleh awak media terkait aturan wajib vaksin untuk jamaah umrah masih dilaksanakan, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin meminta Kementerian Kesehatan agar dapat menyesuaikan aturan tersebut.

“Sebaiknya (vaksin) meningitis tidak menjadi kewajiban. Saya minta nanti dari pihak Kementerian Kesehatan mengklarifikasi soal itu,” pinta Wapres saat melakukan konferensi pers usai menghadiri acara Peringatan Hari Santri Nasional 2022 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Masjid At Thohir, Jl. Mochamad Thohir, Tapos, Depok, Jawa Barat, Senin (31/10/2022).

Lebih jauh, Wapres menuturkan bahwa kewajiban vaksin meningitis dulunya memang diwajibkan oleh Pemerintah Arab Saudi, baik untuk jamaah umrah maupun haji. Sehingga menurutnya saat Saudi tidak lagi mewajibkan, maka aturan di Indonesia juga semestinya menyesuaikan.

“Kalau Saudi sudah tidak mewajibkan, saya kira memang tidak ada kewajiban (vaksin) meningitis,” tegasnya lagi.

Sebab, kata Wapres, Menteri Saudi juga mengatakan hal yang sama saat bertemu dirinya beberapa waktu lalu bahwa vaksin meningitis memang sudah tidak wajib.

“Nah, nanti saya kira pemerintah harus menyesuaikan saja. Tidak harus wajib. Karena itu supaya dicek. Kemarin (saat) ketemu saya, Menteri Hajinya bilang begitu, tidak akan ada syarat ini, tidak perlu ini dan itu,” urainya.

Bahkan, ungkap Wapres, untuk pengurusan visa pun dipermudah, termasuk jamaah umrah tidak hanya berkunjung ke Makkah dan Madinah, tetapi juga diizinkan berkunjung ke tempat-tempat lain di seluruh Saudi.

“Jamaah umrah bisa pergi ke mana saja, tidak hanya ke Makkah-Madinah, tapi ke Thaif (misalnya), (atau) bisa ke daerah-daerah lain, kemana saja bisa. Itu artinya sudah ada kelonggaran,” pungkasnya.

 

Para Satri Antusiasi Ikuti Kompetisi Robotik Madrasah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama segera menggelar Grand Final Kompetisi Robotik Madrasah atau Madrasah Robotic Competition (MRC). Sebanyak 180 tim dari 594 pendaftar telah ditetapkan lolos seleksi berdasarkan hasil penilaian dewan juri.

Para pendaftar diseleksi berdasarkan persyaratan administrasi, kualitas makalah, dan kemampuan robot dalam menjalankan misi (melalui vidio yang dikirim). Seleksi dilakukan, selain karena kuota peserta yang terbatas, panitia dan juri juga menginginkan peserta dengan kualitas robot yang terbaik.

“Selamat kepada seluruh peserta yang lolos. Bagi yang belum lolos, jangan berkecil hati. Sebab, masih banyak kesempatan lain untuk berprestasi. Tidak di MRC 2022, mungkin bisa di ajang perlombaan yang lainnya,” jelas Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah M Isom Yusqi di Jakarta, Selasa (1/11/2022).

Grand Final MRC akan berlangsung di GOR Universitas Negeri Yogyakarta, 22-23 November 2022.

“Panitia akan memberikan fasilitas bagi para peserta yang lolos, berupa penginapan, konsumsi selama kompetisi, perlengkapan seperti kaos, tas, id card, marchandise, buku panduan kompetisi, pin, Covid-kit dan tentu hadiah bagi para pemenang,” tambah M. Isom yang juga Ketua Penyelenggara.

Dalam MRC 2022, selain berkompetisi, para peserta dan pengunjung juga akan mendapatkan workshop atau talkshow singkat dan pameran dari sejumlah perusahaan dan distributor yang bergerak di bidang robotika, seperti Festo, Inspira Academy, Asperio, dan lain-lain.

“Di acara workshop ini, peserta dan pengunjung juga akan mendapatkan tambahan pengetahuan robotika serta doorprize-doorprize dari perusahaan dan distributor tersebut,” pungkas, M. Isom.

 

Waspada Munculnya Virus Covid Varian XBB

BANTEN(Jurnalislam.com)– Munculnya subvarian Omicron XBB menimbulkan terjadinya kasus baru Covid-19 di sejumlah negara, salah satunya di Indonesia. Oleh karena itu, agar tidak terjadi lonjakan kasus secara besar-besaran, diperlukan kewaspadaan seluruh elemen masyarakat, khususnya dalam penerapan protokol kesehatan.

“Kita sudah menjaga kondisi seperti sekarang, kepada masyarakat tetap harus menggunakan masker dan berhati-hati,” imbau Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin dalam konferensi persnya usai menghadiri acara Peringatan Hari Santri Nasional 2022 di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), Serang, Banten, Jumat (28/10/2022).

Lebih lanjut Wapres menyampaikan, dengan kehati-hatian yang tinggi, masyarakat tetap diminta untuk melakukan aktivitas sehari-harinya. Sebab, rutinitas tersebut dinilai akan membantu dalam menstabilkan roda sosial ekonomi masyarakat yang telah sama-sama dibangun sejak awal terjadinya pandemi Covid-19.

“Tetapi Jangan sampai mengganggu mobilisasi masyarakat, jangan sampai ekonomi terganggu,” tutur Wapres.

Pada kesempatan yang sama, Wapres juga menegaskan bahwa pemerintah terus mengkaji perkembangan yang terjadi terkait Covid-19. Hal tersebut yang kemudian menjadi dasar dalam menentukan status kedaruratan di Indonesia dalam pandemi ini.

“Pemerintah terus mengamati perkembangan. Karena itu, sampai hari ini belum mengubah status pandemi menjadi endemi karena kita masih terus mengamati sambil juga menunggu petunjuk-petunjuk lebih lanjut dari WHO,” tegas Wapres.

Lebih lajut, Wapres menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan telah secara proaktif dan responsif melakukan analisis-analisis terhadap sub varian Omicron XBB dan potensi munculnya sub varian baru ke depan.

“Di Kementerian Kesehatan sedang melakukan pengkajian dan seberapa besar berbahaya daripada varian baru itu,” ujar Wapres.

“Pemerintah terus melakukan kajian dan upaya deteksi terhadap varian baru virus Corona,” pungkasnya.