MUI Minta Khutbah Jumat Diisi dengan Materi Menarik

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Wadah Silaturohim Indonesia (WASATHI) Gelar Pembukaan Pendidikan Khatib Wasathi di Gedung Majelis Ulama Indonesia Pusat, (08/01).

Dalam sambutannya Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah Kyai Cholil mengungkapkan rasa senangnya, karena ada lembaga masyarakat yang bermitra dengan MUI khususnya pada kesempatan kali ini dibidang penguatan dakwah rutin yaitu khatib jum’at.

Kiai Cholil Nafis menjelaskan, khatib memiliki peran penting dalam setiap pelaksanaan Shalat Jumat. Sebab, dalam seluruh jamaah dilarang untuk berbicara saat khutbah sedang berlangsung, tanpa memandang struktur sosial dan ilmu .

Namun demikian, Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengamati, saat ini muncul kesan posisi khatib yang mulia direndahkan dan dirasa membosankan. Alasannya, isi khutbah yang tidak berbobot dan terkesan asal-asalan.

“Khutbah adalah pekerjaan yang paling sulit karena durasinya pendek, tapi harus mengemukakan banyak hal,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Wasathi Channel, Sabtu (08/01).

Kiai Cholil mengatakan, yang paling baik dari khutbah adalah sedikit tapi mempunyai cakupan yang banyak, baik aspek ayat dan tafsirnya, sejarah dan lain-lain. Sebaliknya, apabila khatib menyampaikan khutbah tidak menarik, tidak jelas, dan memprovokasi orang lain maka khutbah tidak lagi diposisikan sebagai keadaan yang sangat sakral.

 

Ulama yang juga Dosen Universitas Indonesia ini menegaskan, sebagai umat Islam yang memiliki paradigma moderat harus fokus mengajak jamaah hanya yang terkait praktek ibadah jumat. Doktor Universitas Malaya ini menekankan, khutbah tidak boleh dijadikan sarana untuk memaki, menistakan, bahkan menyudutkan siapapun.

“Jangan sampai khutbah menjadi orientasi duniawi, baik oleh khatibnya maupun kepentingan masa, dimanapun khutbah kita harus punya komitmen,” tegas Kiai Cholil Nafis. .

Dalam penutupnya, Kiai Cholil berharap, seluruh peserta yang menjadi peserta diberkahi. Ia memberi saran pada Wasathi untuk membuat modul-modul agar menjadi penggerak dan ditiru oleh khatib-khatib lain. (mui)

 

 

Hingga Tahun 2021, Dompet Dhuafa Waspada Telah Salurkan 4,5 M Dari Ziswaf

 MEDAN-SUMUT (Jurnalislam.com)–– Tahun 2021 berakhir, Dompet Dhuafa Waspada menutup laporan dengan catatan penyaluran dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) sebanyak 4,5 M. Dari total dana tersalur tersebut, adapun total penerima manfaat secara keseluruhan yakni mencapai 44.116 jiwa.

 

Tercatat sebanyak 603 jiwa penerima manfaat pada program pendidikan, 3.170 jiwa pada program dakwah, 297 jiwa pada program ekonomi, 8.538 jiwa pada program sosial, 6.676 jiwa pada program ramadhan, dan 24.832 jiwa pada program Tebar Hewan Kurban (THK).

 

Pada tahun lalu 2021 ini juga satu program berbasis ekonomi pemberdayaan yakni program Sentra Ternak telah berhasil dijalankan. Sebagai salah satu program baru yang menyalurkan dana zakat secara produktif, sentra ternak ini memberikan solusi membuka lapangan pekerjaan dengan mempekerjakan penerima manfaat selama dua tahun untuk bisa belajar langsung tentang peternakan dan diberi pelatihan.

 

Kemudian selepas dua tahun berlalu mereka akan mendapatkan modal berupa 30 ekor kambing untuk menjalankan usaha ternaknya sendiri. Lokasi sentra ternak Dompet Dhuafa Waspada berada di Desa Bulu Cina, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

 

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Waspada, Sulaiman dalam pemaparannya pada Minggu, (10/01/2022), menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh donatur. “Capaian di tahun 2021 ini merupakan kebaikan bersama kita, terima kasih banyak kami ucapkan kepada seluruh donatur yang telah membersamai”.

 

Tidak hanya itu, Sulaiman juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya kepada Dompet Dhuafa Waspada. “Terimakasih juga kami ucapkan kepada seluruh donatur yang sudah mempercayakan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakafnya melalui Dompet Dhuafa Waspada. Dan kami akan terus menjaga kepercayaan yang diberikan. Hanya doa yang bisa kami kirimkan semoga seluruh donatur yang baik hati diberikan kesehatan, rezeki yang berlimpah dan berkah”.

 

Menyongsong tahun 2022, Sulaiman juga terus mengajak para donatur untuk terus ikut dan hadir dalam berbagai kolaborasi kebaikan yang akan dilakukan oleh Dompet Dhuafa Waspada. “Usai 2021 berlalu, sekarang tugas baru kita kembali mengumpulkan semangat, mengajak para donatur untuk sama-sama berada di jalan kebaikan ini”.

 

Wahdah Islamiyah Sulsel Gelar Webinar Tips Mengelola Keuangan Keluarga

MAKASSAR(Jurnalislam.com) — Melalui kegiatan Talk Show Ketahanan Keluarga bertajuk “Kiat-Kiat Harmonisasi Rumah Tangga” Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (DPW WI) Provinsi Sulawesi Selatan Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Hamid Habbe, SE. M.Si., mengajak kepada seluruh keluarga untuk bijak dalam mengelola keuangan keluarga.

 

Dalam webinar yang dibuka oleh moderator Muhammad Ridwan ini, Prof Hamid menyampaikan bagaimana pentingnya cara mengelola keuangan dengan baik dan memberikan pandangan kepada setiap keluarga untuk dapat merdeka secara finansial di mana hal ini sangat diperlukan mengingat tantangan finansial akan selalu datang silih berganti khususnya dalam masa pandemi.

 

Prof Hamid mengatakan banyak hal yang menjadikan krisis keuangan keluarga bisa terjadi. Salah satunya adalah Fly Paper effect atau gaya dan prilaku yang tidak bisa menyesuaikan dengan pemasukan. Menurutnya banyak orang yang tidak sadar jika pemasukannya tidak bisa mencukupi gaya hidupnya namun ia memaksakan untuk tetap hidup seperti itu.

 

“Ini sesungguhnya yang patut kita waspadai. Sebab tak sedikit di antara kita yang demikian. Apalagi mental accountingnya juga bermasalah. Di dalam rumah ia hemat sementara saat makan di luar mereka tak peduli seberapa mahalnya makanan yang ia konsumsi,” ujarnya, Ahad (9/1/2022).

 

Ia melanjutkan, tahap pertama yang harus dimiliki seseorang itu adalah financial security di mana setiap orang harus mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, lalu setelah itu diikuti oleh kemerdekaan finansial di mana tolok ukurnya adalah ketika seseorang tidak memiliki masalah dalam cash flow bulanan.

 

Ia juga menjelaskan kemandirian finansial dan kebebasan finansial merupakan dua hal yang berbeda. Dalam kemandirian finansial yang dijadikan parameter ialah apabila seseorang sudah tidak bergantung pada pinjaman dan dapat menjalani hidup secara cukup. Prof. Hamid menyinggung tentang fenomena keluarga yang hampir seluruh pemasukannya dihabiskan untuk sesuatu yang bersifat konsumsi.

 

“Tanda bahwa kita merdeka secara finansial bisa dilihat dari yang pertama kita tidak punya masalah cash flow bulanan, bagaimana kita pandai mengatur budgeting keluarga. Tidak semua habis dimakan, ada saving dan investasi,” tukasnya.

 

Untuk memiliki kemerdekaan secara finansial, ia menambahkan seseorang meski mempunyai good habbit secara finansial. Dalam artian, tidak terpengaruh dengan gaya hidup. Mampu membedakan antara kebutuhan dan gaya hidup. Maka disinilah peran suami yang menjadi pencari nafkah.

 

“Namun patut diperhatikan, sebagai muslim, nomor satu adalah zakat, infak dan sedekah. Karena ini adalah pipa pemasukan. Keluarkan dulu, baru yang dikonsumsi, secukupnya saja. Insyaallah saving dan investasi akan menyusul,” urainya.

 

Sebagai informasi, webinar yang diikuti oleh 2.500 peserta dari seluruh Indonesia berlangsung interaktif dengan adanya sesi konsultasi terkait pengelolaan keuangan. Selain itu Webinar ini merupakan rangkaian pra kegiatan Musyawarah Wilayah yang bakal dihelat pada tanggal 16 Januari 2022.

Kemenag Imbau LAZ Perpanjang Izin Operasional

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama mengimbau agar sejumlah Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang telah habis masa izin operasionalnya untuk segera mengurus perpanjangan. Hal ini disampaikan oleh Kasubdit Kelembagaan dan Informasi Zakat Wakaf Kemenag, Andi Yasri di Jakarta, Ahad (9/1/2022).

Andi mengungkapkan, ada lima LAZ tingkat nasional yang belum mengajukan perpanjangan izin operasional, satu LAZ tingkat nasional yang masih dalam proses pengajuan, dan satu LAZ tingkat Provinsi yang harus ditunda karena rekomendasinya sudah tidak berlaku.

“Hal ini disebabkan karena belum terpenuhinya persyaratan rekomendasi dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), yakni berupa rekomendasi MUI untuk Dewan Pengawas Syariah (DPS),” terang Andi.

Dikatakan Andi, LAZ tingkat nasional harus terlebih dahulu meminta rekomendasi dari Baznas yang akan melakukan verifikasi terhadap kelayakan lembaga-lembaga amil zakat tersebut. Apabila dinilai layak, maka Baznas akan memberikan rekomendasinya.

“Jika Baznas sudah mengeluarkan rekomendasi, serta berkas pengajuan sudah terpenuhi dan dinyatakan lengkap, kami tidak pernah menolak perpanjangan izin operasional dari LAZ tersebut,” ungkap Andi.

Andi menambahkan, dalam ketentuan UU Nomor 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat dan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 333/2015 dijelaskan proses pemberian izin dilakukan dalam jangka waktu paling lama 15 hari kerja sejak tanggal permohonan tertulis diterima.

Sumber: republika.co.id

Minta KSAD Dudung Tak Standar Ganda, Legislator: Dekati Semua Ulama

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Anggota Komisi I DPR RI Syaifullah Tamliha menyarankan, agar Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman tidak melakukan standar ganda terhadap para ulama. Menurut dia, Jenderal Dudung harus menjalin hubungan baik dengan semua ulama, termasuk pendekatan terhadap ulama yang dituduh radikal.

“Yang penting Jenderal Dudung tidak melakukan standar ganda terhadap para ulama. Semua harus didekati sebagai hubungan baik antara ulama dan umara. Hal itu termasuk ulama radikal sehingga ada saling pengertian dalam merawat kebhinekaan dan keutuhan NKRI,” kata Tamliha, Ahad (9/1).

Dia menilai, menjalin silaturahim dengan semua ulama sangat penting dalam membangun kebersamaan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut dia, bisa saja ulama yang radikal dilakukan upaya pendekatan khusus sebagai bagian dari program deradikalisasi.

“Tidak ada salahnya jika kita mengajak elemen bangsa ini (kalangan radikal) ke arah yang benar,” ujarnya.

Tamliha mengatakan, setiap tahun TNI selalu mendapatkan tingkat kepercayaan terbaik dari masyarakat sehingga Kasad harus mempertahankan peringkat tersebut di TNI AD. Menurut politisi PPP itu, kunjungan ke organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam selalu dilakukan semua petinggi TNI dari dahulu hingga saat ini.

Karena itu, dia berpesan, agar Jenderal Dudung tidak melakukan standar ganda terhadap para ulama sehingga semua harus didekati.

Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman saat berkunjung ke wilayah kerja Kodam I/Bukit Barisan menyempatkan diri menemui salah satu ulama besar Sumatera Utara Buya Amiruddin di Medan, Senin (3/1). Jenderal Dudung juga mengunjungi Pimpinan Muhammadiyah dan PBNU serta akan merekrut calon prajurit dari kalangan santri.

Sumber: republika.co.id

Ini Edaran Terkait Umrah di Masa Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Persiapan penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi Covid-19 terus dilakukan. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief mengatakan penyelenggaraan ibadah umrah akan kembali dibuka.

Namun, Hilman menegaskan bahwa penyelenggaraan umrah di masa pandemi harus mematuhi protokol kesehatan demi memberikan perlindungan kepada jemaah.

“Pemberangkatan jemaah umrah rencananya akan kembali dibuka pada 8 Januari 2022. Karena masih dalam masa pandemi Covid-19, penyelenggaraan umrah dilaksanakan dengan pengendalian dan pengawasan terhadap kepatuhan protokol kesehatan secara ketat, baik di tanah air maupun di Arab Saudi dengan mengedepankan perlindungan dan keselamatan jemaah,” terang Hilman di Jakarta, Kamis (6/1/2022).

Menurut Hilman, pihaknya telah menggelar rapat lintas Kementerian/Lembaga berkaitan dengan Penyelenggaraan Ibadah Umrah tahun 1443 H pada 3 Januari 2022. Hilman juga sudah mendapat arahan dari Menag Yaqut Cholil Qoumas terkait keharusan penerapan protokol kesehatan ketat.

“PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) yang akan memberangkatkan jemaah umrah juga wajib melaporkan keberangkatan melalui SISKOPATUH,” tegas Hilman.

Ketentuan lainnya, kata Hilman, keberangkatan dipiroritaskan bagi PPIU yang menggunakan penerbangan langsung (direct flight) melalui Bandara Soekarno Hatta. Kepulangan jemaah umrah juga harus mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 Nasional.

“Keberangkatan empat penerbangan awal mengacu Kebijakan Umrah Satu Pintu (one gate policy) dengan menggunakan asrama haji Jakarta sebagai lokasi screening kesehatan dan titik awal keberangkatan yang dikoordinasikan oleh asosiasi PPIU,” jelas Hilman

“Kanwil Kemenag Provinsi dan Kemenag Kab/Kota wajib melakukan pengawasan keberangkatan jemaah umrah di wilayah kerjanya,” sambungnya.

Hilman menambahkan, pihaknya telah bersurat kepada PPIU dan Kanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia terkait dengan ketentuan penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi ini.

419 Jamaah Umrah Perdana saat Pandemi Berangkat, Diminta Jaga Prokes

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Sebanyak 419 jemaah Indonesia hari ini berangkat ke Saudi untuk menunaikan ibadah umrah. Keberangkatan mereka dilepas Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief, mewakili Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas.

Kepada jemaah dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), Hilman menyampaikan pesan Menag agar mematuhi aturan di tanah air dan di Arab Saudi.

“Jaga kepercayaan Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi. Tunjukkan bahwa jemaah umrah Indonesia patuh pada aturan, khususnya patuh pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Ingatlah, pandemi Covid-19 belum berakhir,” ucap Hilman membacakan sambutan Menag sekaligus melepas jemaah di asrama haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (8/1/2022).

Sesuai arahan Menag, lanjut Hilman, pihaknya tengah memfinalisasi regulasi tentang penyelenggaraan umrah di masa pandemi, termasuk yang terkait integrasi sistem dengan pemerintah Arab Saudi. Ini dilakukan untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan perlindungan jemaah.

“Proses verifikasi sertifikasi vaksin, tes kesehatan, karantina dan screening kesehatan dilaksanakan secara mudah, cepat, valid, akurat, serta menjamin kepatuhan persyaratan yang telah ditentukan oleh kedua negara, Indonesia dan Arab Saudi,” kata Hilman.

Hilman juga menyampaikan terima kasih Menag kepada Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia atas dukungannya terhadap penyelenggaraan ibadah umrah kali ini.

“Kami menitipkan jemaah umrah Indonesia untuk mendapatkan pelayanan terbaik sebagai tamu Allah, saudara sesama muslim dan pengunjung dua tanah suci,” ungkap Hilman.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah, kepada kementerian/lembaga yang turut berpikir dan bekerja untuk suksesnya pemberangkatan jemaah umrah. Persiapan penyelenggaraan melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Perhubungan, Satgas Covid-19, Otoritas Bandara, serta BNPB.

“Semoga Allah meridai kita untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah umrah, serta bangsa dan negara,” tandasnya.

Hadir, Wakil Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Sulaiman, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Subhan Cholid, Direktur Pengelolaan Dana Haji dan Sistem Informasi dan Haji Terpadu Jaja Jaelani, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Nur Arifin.

MUI: Khatib Perlu Menyampaikan Narasi Wasathiyah dalam Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Hingga saat ini, perjuangan dan semangat wasathiyah keislaman diharapkan mampu memenuhi ruang-ruang dakwah keagamaan secara istikamah dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan oleh Wasekjen MUI Arif Fahrudin, dalam acara Pembukaan Pendidikan Khatib Wasathi oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sabtu (08/01).

Dalam sambutan yang disampaikan secara virtual, pria yang sekaligus Pembina Forum Khatib Wasathi menyampaikan, keberadaan para dai dan khutaba dipastikan mampu menghidupkan oase moderasi keislaman dalam dinamika umat melalui media dakwah yang berkembang saat ini.

“Narasi-narasi wasathiyah, terutama di ruang dakwah harus dipenuhi. Para khutaba dipastikan mampu terus bersinergi mengisi ruang-ruang yang telah penuh tersebut,” terangnya.

Hal itu, kata dia, sesuai dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman. Dia melihat, kesempatan dakwah yang dimiliki para khutaba di setiap hari Jumat sangat besar dalam menyampaikan nilai-nilai Islam moderat.

Oleh demikian itu, Arif berharap ruang dakwah khutbah Jumat harus bisa dimaksimalkan dengan sebaik mungkin. Pendidikan Komisi Dakwah kali ini diharapkan mampu mengkolaborasikan kesiapan khatib yang kompeten, substansi materi khutbah dan para jamaah sebagai objek khutbah.

 

“Begitu luar biasanya Allah mensyariatkan hari Jumat kepada kita, di mana di dalamnya terdapat khutbah Jumat. Maka oleh karena itu khutbah Jumat bisa kita maksimalkan sebaik mungkin, baik Khatib, isi dan umat yang mendengarkan,” kata dia.

Lebih lanjut, menanggapi kegiatan ini, Arif menyampaikan apresiasi besar kepada Komisi Dakwah MUI yang telah merealisasikan suatu kegiatan pencerahan dan bimbingan keumatan dengan semangat wasathiyah Islam.

“Kami sangat bangga. Ini langkah positif, para kharib dibimbing oleh komisi dakwah, dan komisi dakwah terus bisa melakukan kolaborasi dengan para khutaba. Sehingga ini menjadi ujung tombak bimbingan bagi umat,” ucapnya dengan apresiatif.(mui)

 

Sowan Ketum PBNU, Menag: Rawat Kerukunan, Bangun Kemitraan Ormas Keagamaan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas hari ini bersilaturahmi ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Jakarta. Kehadiran Menag diterima Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Pertemuan Menag Yaqut berlangsung hangat di ruang kerja Ketum PBNU. Hadir mendampingi, para Staf Khusus Menteri Agama, yakni: Wibowo Prasetyo, Mohammad Nuruzzaman, dan Abdul Qodir.

“Alhamdulillah, saya barusan sowan ke Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Kami berdiskusi dalam ikhtiar untuk bersinergi dalam merawat kerukunan dan meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan di Indonesia,” terang Gus Yaqut, sapaan akrab Menag, di Jakarta, Jumat (7/1/2022).

“Saya berkomitmen untuk terus membangun kemitraan konstruktif dengan ormas keagamaan,” sambungnya.

Menurut Menag, pemerintah akan mencanangkan tahun 2022 sebagai tahun toleransi. Kerukunan dan toleransi masyarakat Indonesia dikagumi berbagai negara. Menag mencontohkan Majelis Hukama Al-Muslimin, organisasi independen yang beranggotakan cendekiawan Muslim dari berbagai dunia dan berpusat di Abu Dhabi-Uni Emirat Arab, telah berkunjung untuk menyampaikan keinginannya belajar tentang toleransi masyarakat Indonesia.

“Sudah saatnya toleransi Indonesia menjadi barometer masyarakat dunia. Narasi tentang toleransi di Indonesia perlu digaungkan agar dipahami masyarakat dunia,” sebut Menag Yaqut.

“Dan upaya ini tidak akan terlepas dari kerja sama dan kontribusi berbagai ormas keagamaan yang selama ini membina langsung masyarakat di kalangan grassroot,” tandasnya.

Selain dengan PBNU, lanjut Menag, kemitraan akan dibangun dengan ormas-ormas keagamaan lainnya. Misalnya, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Majelis Ulama Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, dan ormas keagamaan lainnya.

Muslimah FMDKI Hadirkan Ustaz Akmal Sjafril Bahas Bahaya Ghazul Fikri

MAKASSAR(Jurnalislam.com) – Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) Pusat gelar kegiatan Webinar Muslimah, yang juga menjadi rangkaian semarak Muktamar IV FMDK Indonesia, Sabtu (8/01/2022).

Adapun tema kegiatan tersebut ialah “Menelaah Tren 4F (Fun, Food, Fashion, Film)”, berlangsung pukul 08.00-12.30 WITA melalui Zoom Meeting yang dihadiri 501 Muslimah dari berbagai daerah di Indonesia secara virtual dan juga beberapa titik nobar (nonton bareng) di Sulawesi Selatan.

Ketua FMDKI Fauziah Ramdani, berharap peserta yang mengikuti webinar tersebut dapat menjadikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan dan bisa menginspirasi seluruh muslimah untuk lebih baik lagi.

“Semoga melalui webinar ini bagaimana para muslimah bisa menjadikan Islam sebagai panduan, aturan, dan rambu-rambu dalam kehidupan serta bisa menginspirasi kita semuanya untuk bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Serta dapat berkontribusi dalam menghadapi problematika ummat serta dapat menjawab peliknya dekadensi moral yang tengah melanda para muslimah saat ini,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Narasumber pertama dalam webinar tersebut, Ustaz Akmal Sjafril, Kepala Sekolah Pemikiran Islam Pusat memaparkan tentang ‘Ghowzul Fikr dan Bahayanya dalam Diri Seorang Muslim’.

“Ghowzul fikr merupakan jualan ilusi para musuh Islam maka jangan mudah tertipu, kita perlu memahami bahwa perang ini (yaitu ghozwul fikr) merupakan perang ilmu, yang hanya bisa dimenangkan dengan ilmu. Artinya yang lebih berilmu lah yang akan menjadi pemenang dan tidaklah seseorang mempunyai ilmu tanpa belajar,” tuturnya.

Ustaz Akmal menjelaskan bahwa Islam sebagai salah satu agama dengan jumlah pemeluk terbanyak di dunia (1,8 Miliar Pengikut) dan merupakan satu satunya agama yang pernah menguasai 1/3 dunia hanya dalam waktu 30 tahun dengan kekuatan al-Qur’an dan Sunnah.

“Menyadari akan kekuatan besar yang dimiliki oleh ummat muslim, membuat para musuh Islam tak pernah kehabisan akal untuk membuat ummat Islam terpuruk dalam kesesatan. Mereka sangat jeli dalam melihat kelemahan ummat Islam yang mana apabila ummat Islam telah meninggalkan kekuatan utama ummat Islam yaitu al-Qur’an dan Sunnah maka Islam hanyalah sebuah sejarah yang sudah berlalu,” tegasnya.

“Untuk merealisasikan misinya para musuh Islam tak pernah lelah dalam melancarkan serangannya yang kini menyasar pemikiran dan pola hidup ummat Islam. Semua yang kita tonton hari ini mengandung pemikiran dari para pembuatnya, oleh karenanya sebagai penonton yang bijak perlu kiranya kita saring terlebih dahulu sebelum kita tiru dan ikuti,” tambahnya.

Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization tersebut juga menghimbau para muslimah untuk mengubah pola pikirnya karena manusia adalah makhluk yang dikendalikan oleh akalnya. Demikian juga segala potensi diri, hanya bisa dimanfaatkan sesuai kondisi akalnya.

Sedangkan pemateri kedua Ustazah Armida Abdurrahman dalam materinya mengajak para muslimah untuk membentengi diri dengan ilmu syar’i sehingga terhidar dari segala tren keburukan di zaman modern saat ini.

“Bukan karena sesuatu lagi viral, di-cover dengan begitu cantik jadi terlihat fine-fine aja untuk diikuti dan disukai, lantas kita bermudah-mudahan mengiyakannya bahkan ikut larut dalam euforianya, mengenyampingkan soal Allah ridho atau tidak dengannya,” ungkapnya.

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Makassar tersebut menjelaskan bahwa musuh-musuh Islam sangat cerdas dalam mengkemas berbagai keburukan sehingga nampak cantik untuk diikuti generasi muda, padahal itu adalah keburukan dan kerusakan.

“Strategi musuh-musuh Allah yang kini membungkus hal-hal yang salah dengan bingkai kebaikan sehingga terlihat seolah-olah merupakan sebuah kebaikan mulai dari pakaian yang digeser fungsinya bukan lagi menjadi alat untuk menutup aurat, namun kini menjadi ajang untuk bertabarruj,” tegasnya.

Ustazah Armida menambahkan jika tontonan-tontonan yang mengatas namakan Islam saat ini, justru pada dasarnya jauh dari pemahaman Islam yang sebenarnya, di mana pemikirannya sesat dan menyesatkan.

Reporter: Muspidayani
Editor: Sinta Kasim