34 Orang Tewas di Aleppo dalam Serangan Bom Rezim Assad

9f146857923b4135a93e2706efd20df5_18ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 34 orang tewas dalam pemboman di kota Aleppo, Suriah, sumber di dalam kota mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu (15/06/2016).

Korban tewas pada Selasa terjadi akibat pemboman udara, penembakan dan penggunaan bom barel dari helikopter pemerintah ke arah kabupaten yang dikuasai oposisi.

Bom barel jatuh di distrik Salhen, Ferdos, dan Jisr al-Haj di Aleppo, menewaskan sembilan orang termasuk dua anak.

Pengepungan dan serangan udara di daerah Shalahudin, Sukary, Malaah, dan Castello menewaskan 25 orang, di antaranya wanita dan anak-anak.

Serangan pesawat tempur terus berlanjut semalaman hingga Rabu pagi.

Mereka yang terluka dalam serangan termasuk wartawan independen dan aktivis Hadi al-Abdullah, yang meliput pertempuran Aleppo dari daerah yang dikuasai oposisi.

Gambar yang diposting di Twitter merekam saat Abdullah terkena puing-puing akibat granat yang mendarat di dekat posisinya.

Pemboman di dalam Aleppo terjadi saat pasukan oposisi dan pasukan pemerintah bertempur dalam bentrokan berdarah di desa-desa sekitar Aleppo.

 

Deddy | Aljazzera | Jurnalislam

 

MUI Serang: Perda Larangan Jualan di Siang Hari Bulan Ramadhan Usulan Para Ulama Kota Serang

MUI Kota Serang Drs H. Mahmudi-1SERANG (Jurnalislam.com) – Ketua MUI Kota Serang Drs H Mahmudi, Ms.I menegaskan Perda No 2 Tahun 2010 Tentang Penyakit Masyarakat (Pekat) yang jadi landasan hukum untuk merazia warung siang hari di bulan Ramadhan merupakan usulan para ulama Kota Serang.

“Perda tersebut merupakan inisiatif dari para tokoh-tokoh alim ulama di Serang Banten. Perda ini juga sudah disahkan oleh Mendagri dan telah berjalan selama 6 tahun,” ujar Mahmudi saat ditemui tim liputan Jurnalislam.com di kediamannya di Cimuncang, Kota Serang pada Selasa, (14/06/2016).

Salah satu poin aturan Perda No 2 Tahun 2010 itu ialah larangan menjual makanan saat di siang hari bulan Ramadhan. Aturan tersebut memiliki sanksi hukuman dengan pidana selama 3 bulan atau denda Rp50 juta.

Menurutnya, setiap tahun Perda ini sudah terlaksana dengan baik dan tidak ada masalah pada penerapannya, dalam hal ini razia-razia warga yang nakal.

“Akan tetapi, mungkin saat ini pemimpin kita condong tidak mendukung Islam, maka baru tahun inilah masalah kecil tersebut diisukan macam-macam untuk mencari celah kesalahan dari umat Islam,” katanya.

MUI Kota Serang mendukung sepenuhnya Pemkot Serang dan Satpol PP yang bekerja menegakkan aturan Perda. Pasalnya, Perda ini telah disosialisasikan oleh jajaran pemerintah jauh sebelum memasuki bulan Ramadhan.

“Setiap sebelum memasuki bulan Ramadhan kami selaku Ketua MUI kota Serang selalu mengadakan dialog terhadap tokoh-tokoh, ulama, lurah dan RT/RW. Kami sepakat bahwa perda ini harus tetap ada dan dijalankan, dilarang untuk membuka warung makan di siang hari hanya bolehnya sehabis Ashar dan seterusnya,” lanjut pengasuh Ponpes Al-Mubarok Cimuncang, Serang ini.

Mahmudi melanjutkan, Perda ini dibuat bukan untuk memiskinkan masyarakat, akan tetapi jikalau masyarakat beriman dan yakin bahwa rezeki itu sudah diatur Allah Swt. Apalagi memang sehabis waktu ashar itulah orang banyak membeli sehingga justru memberikan banyak rezeki kepada para pedagang.

Hal ini juga berjalan di daerah-daerah lain yang mayoritas muslim seperti Makassar, Medan, Padang bahkan seperti di negara-negara lain seperti Arab saudi. “Tidak ada yang menjadi miskin jikalau yakin dengan Islam,” pungkas dia.

 

Reporter: Fajar Shadiq & Fajar Aditya | Editor: Deddy

Kasus Ibu Saenih Dorong Pedagang Lain Buka Siang Hari agar Dapat Sumbangan

3rwe11SERANG (Jurnalislam.com) – Pengasuh Majlis Taklim Nurul Jihad Serang, Ustadz Muhammad Nasehuddin mengungkapkan pada Selasa, (14/06/2016) telah beredar isu bahwa warung penjual makanan di sekitar Kota Serang ikut-ikutan membuka warungnya sejak siang hari meskipun melanggar aturan Perda Kota Serang.

Hal itu dilakukan supaya pemilik warung makanan tersebut dirazia oleh Satpol PP dan mendapat uang bantuan seperti yang dialami Ibu Saenih.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Satpol PP, tadi sempat kita telusuri juga ada (pemilik warung, red) yang kedapatan buka siang hari. Hari ini masih kita tegur sebagai warning saja, tapi kalau besok-besok akan kami tindak tegas,” ujar Nasehudin kepada wartawan JITU (Jurnalis Islam Bersatu) saat ditemui di Masjid Agung Ats-Tsaurah, Kota Serang, siang tadi.

Nasehudin menambahkan, siang tadi sejumlah elemen umat Islam telah menggelar audiensi dengan Pemkot Serang.

Pertemuan itu bertujuan untuk silaturahmi dan mendorong Pemkot Serang agar tetap komitmen mempertahankan Perda No 2 Tahun 2010 Tentang Penyakit Masyarakat.

Terkait insiden penyitaan barang dagangan milik Bu Saenih pada Rabu (08/06/2016) lalu, Satpol PP berinisiatif menyita dagangan untuk mendapatkan barangbukti. Karena kalau hanya diperingatkan saja, begitu petugas Satpol PP-nya pergi para pemilik warung akan berjualan kembali.

“Makanya barang dagangannya disita. Sementara diamankan di Satpol PP, nanti jam 3 sore sang pemilik ditunggu kedatangannya. Tapi Ibu Saenih tidak datang. Satpol PP menunggu kedatangannya, silahkan kalau mau didagangkan kembali,” ujar Nasehudin memaparkan hasil penjelasan Satpol PP Pemkot Serang saat audiensi siang ini.

Pemkot Serang mengaku memang tindakan penyitaan tidak disertakan di Perda. Itu merupakan bentuk inisiatif yang mempunyai wewenang, dalam hal ini adalah Satpol PP.

Saat ini, Bu Saenih berani membuka warung makannya lagi pada siang hari karena dirasa telah banyak yang mendukung. Apalagi sebelumnya sudah muncul seruan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Padahal, menurut Nasehudin, dalam konteks puasa atau shaum bukan hanya menahan diri saja tapi juga menahan orang lain agar tidak mengganggu hak orang lain yang berpuasa.

Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Jihad ini juga menegaskan Pemkot Serang dan Perda bernuansa relijius memiliki akar historis yang sangat kuat. Sejak otonomi daerah diberlakukan, Kota Serang dipimpin oleh Bunyamin yang terkenal religius dari kalangan santri.

“Saat itu ia mengumpulkan alim ulama untuk memberi masukan terkait motto dan visi misi Kota Serang. Sehingga Kota Serang dikenal sebagai Kota Madani,” ujar dia.

Reporter: Fajar Shadiq & Fajar Aditya | Editor: Deddy

 

Menlu Turki Buka Puasa Bersama dengan Muslim Rohingya lalu Tawarkan Dukungan

thumbs_b_c_70919a417722d5b88e6926db71450039-600x338MYANMAR (Jurnalislam.com) – Menteri urusan luar negeri Turki telah disambut di negara bagian Rakhine, Myanmar, di mana ia berbicara tentang dukungan Turki untuk penduduk Muslim sebelum menjamu makan malam untuk berbuka puasa hari itu, lansir World Bulletin, Selasa (14/06/2016).

Setelah melakukan perjalanan dari ibukota Nay Pyi Taw ke ibukota Sittwe, Rakhine, Mevlut Cavusoglu mendengarkan masalah yang dihadapi oleh orang-orang yang tinggal di sana, dan berbicara tentang rekonsiliasi akhir Senin.

Sejak 2012, Rakhine – yang menjadi rumah bagi lebih dari satu juta Muslim Rohingya (dijelaskan oleh PBB sebagai kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia) – telah tersiksa oleh kekerasan komunal, sehingga Muslim Rohingya mengungsi bergantung pada bantuan orang lain di kamp pengungsi.

“Kami tidak akan meninggalkan Anda sendiri,” Cavusoglu berjanji, menambahkan bahwa Turki – dalam bentuk Kerjasama Turki dan Badan Koordinasi (the Turkish Cooperation and Coordination Agency-TIKA) – akan melaksanakan proyek-proyek baru di Sittwe termasuk “sekolah, klinik, dan infrastruktur.”

“Kami akan terus mendukung secara moral dan finansial,” katanya. “Turki mendukung orang-orang di sini sepanjang waktu, apakah itu hak kemanusiaan atau perlindungan. Mereka tahu ini, merasakan hal ini dan hidup dengan sikap ini.”

Cavusoglu kemudian menjadi tuan rumah acara buka puasa bersama 4.000 Muslim Rohingya di wilayah Muslim Sittwe, Aung Mingalar, yang juga dihadiri oleh Duta Besar Turki untuk Myanmar, Murat Yavus Ates, dan koordinator TIKA Rakhine Abdulahad Kokdag.

Penduduk setempat mengatakan bahwa jalan mereka tergantung pada bantuan yang diberikan oleh Turki, mengungkapkan rasa terima kasih mereka terhadap negara dan orang-orang Turki.

Saat tiba di Rakhine sebelumnya dengan Menteri Myanmar urusan perbatasan, Letnan Jenderal Ye Aung, Cavusoglu disambut di bandara wilayah ini oleh Menteri Kepala Negara Rakhine Nyi Pu.

cavusoglu

Menteri Luar Negeri Turki menyatakan harapan bahwa di bawah pemerintahan Nyi Pu, negara – yang merupakan salah satu negara termiskin – akan menjadi wilayah yang makmur, aman dan stabil, sambil juga berterima kasih kepada para menteri yang mendukung penyelesaian proyek disponsori TIKA.

“Turki akan terus mendukung proses rekonsiliasi,” Cavusoglu – yang kemudian mengunjungi sebuah panti asuhan dan sekolah yang direnovasi oleh TIKA – menggarisbawahi.

Setelah kunjungannya, Cavusoglu menyatakan harapan bahwa pemerintah Liga Nasional untuk Demokrasi (the National League for Democracy-NLD) akan menunjukkan kepekaan mereka terhadap isu Rakhine.

Sejak kemenangan partainya dalam pemilu 8 November 2015, konselor negara dan pemimpin NLD, Aung San Suu Kyi, telah berada di bawah tekanan internasional yang luar biasa untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh Muslim Rohingya tetapi harus melakukan tindakan penyeimbangan hati karena takut mengganggu para nasionalis, yang kebanyakan menuduh Muslim berusaha merubah tradisi Buddhis.

Namun Suu Kyi telah menegakkan gagasan bahwa akar dari banyak masalah di wilayah yang miskin adalah ekonomi, dan mendorong investasi di daerah tersebut, yang pada gilirannya NLD berharap akan timbul rekonsiliasi antara komunitas Buddha dan Muslim.

“Ada beberapa langkah yang diambil untuk perdamaian, harmoni dan stabilitas di sini,” kata Cavusoglu, menambahkan bahwa Turki siap untuk memberikan bagi setiap orang di kawasan itu dukungan yang diperlukan.

“Turki telah mengatakan kepada orang-orang di sini bahwa Turki siap mendukung mereka melalui bantuan kemanusiaan dan hak advokasi. Kami juga telah menawarkan kerjasama dengan pemerintah daerah dan negara. Isu-isu seperti kewarganegaraan telah ditindaklanjuti,” katanya.

“Hari ini kita memberi sinyal untuk masalah ini dan telah melakukan pertemuan.”

Cavusoglu menyatakan bahwa ia akan mengunjungi Rakhine lagi.

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Pertempuran Meletus di Perbatasan Afghanistan-Pakistan, 2 Tewas dan 22 Terluka

D8DBF569-8452-45A1-B4E2-5B22601BADFD_w640_r1_sAFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Satu tentara Afghanistan dan pasukan utama Pakistan telah tewas setelah pasukan perbatasan terlibat baku tembak pada titik persimpangan utama antara kedua negara.

Pakistan menutup perbatasan dengan Afghanistan untuk hari kedua berturut-turut pada hari Selasa karena bentrokan terus berlangsung.

Dua puluh dua lainnya luka-luka dalam pertempuran itu, sepuluh dari mereka adalah warga sipil, termasuk anak-anak, Kepala Administrator Khyber Agency, Khalid Mehmood, mengatakan kepada Al Jazeera, Selasa (14/06/2016).

Bentrokan hari Ahad malam di persimpangan Torkham dimulai tak lama setelah pukul 09:00 (16:00 GMT).

Reporter Al Jazeera Kamal Hyder, melaporkan dari Islamabad, mengatakan ketegangan terjadi selama beberapa saat akibat upaya Pakistan untuk mendirikan sebuah gerbang di perbatasan.

Afghanistan telah lama menentang ide ini karena tidak mengakui gerbang tersebut sebagai garis pemisah yang sah.

“Senjata tidak digunakan tapi situasi sangat tegang,” kata Hyder. “Semuanya ditangguhkan. Jam malam diberlakukan dan banyak keluarga terpaksa keluar dari daerah itu untuk mencari perlindungan di tempat lain.”

Jam malam telah dinyatakan di kota Landi Kotal, Pakistan, yang terletak di tepi Khyber Pass, pintu masuk utama ke Afghanistan.

Kedua negara saling menyalahkan telah memulai pertempuran, yang dilaporkan berhenti pada pukul 05:00 (00:00 GMT) pada hari Senin.

“Pemerintah Pakistan menyatakan keprihatinan mendalam tentang tentara keamanan Pakistan di dekat perbatasan, atas adanya laporan serangan tak beralasan yang tidak membantu dalam hubungan Pakistan-Afghanistan,” kata kantor Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif dalam sebuah pernyataan.

Perdana menteri mendesak Afghanistan untuk menyelidiki insiden tersebut.

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Pesawat Tempur Emirat Arab Jatuh di Yaman, 2 Tewas

yemenYAMAN (Jurnalislam.com) – Sebuah pesawat militer Uni Emirat Arab (UEA) jatuh di Yaman, menewaskan dua orang di dalamnya, World Bulletin melaporkan Selasa (14/06/2016).

Komando Angkatan Bersenjata UEA mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pilot dan co-pilot tewas ketika helikopter militer mereka jatuh pada hari Senin.

Namun Pernyataan itu tidak memberikan rincian tentang penyebab kecelakaan.

Kecelakaan itu terjadi sehari setelah pesawat militer yang ambil bagian dalam operasi udara yang dipimpin Saudi terhadap pemberontak Syiah Houthi Yaman jatuh, menewaskan dua orang di dalamnya.

Pada bulan Maret tahun lalu, Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan operasi militer besar-besaran di Yaman terhadap kelompok Houthi, yang menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah Yaman lainnya, memaksa Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi dan pemerintahnya yang didukung Saudi melarikan diri sementara ke Riyadh.

Pada bulan April, pemerintah Yaman dan Houthi melakukan pembicaraan damai yang disponsori PBB di Kuwait yang bertujuan menyelesaikan konflik, di mana lebih dari 6.400 orang telah tewas dan 2,5 juta lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Helikopter Tempur Apache AS Pertama Kalinya Digunakan untuk Serang IS di Irak

apachehelicopterIRAK (Jurnalislam.com) – Helikopter Apache AS menyerang target Islamic State (IS) untuk pertama kalinya di Irak, Pentagon mengatakan Senin, lansir World Bulletin Selasa (14/06/2016).

Helikopter tersebut menghancurkan bom mobil IS hari Ahad di dekat Qayyarah, yaitu sekitar 50 mil (80 kilometer) selatan Mosul, benteng utama IS di Irak.

“Pemerintah Irak menyetujui penggunaan Apache untuk mendukung operasi ISF- Iraqi Security Forces (Pasukan Khusus Irak),” kata juru bicara Departemen Pertahanan Christopher Sherwood.

“Serangan tersebut diperiksa dan disetujui melalui proses sama yang digunakan koalisi (pimpinan AS) untuk semua serangan.”

Kepala Pentagon Ashton Carter sejak awal Desember menegaskan kepada pemerintah Irak bahwa militer AS bersedia menggunakan Apache yang berbasis di Irak untuk mendukung pasukan lokal. Serangan Apache dilaksanakan saat pasukan Irak maju ke arah Qayyarah dengan tujuan akhir merebut kembali Mosul.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

19.000 Warga Sipil Telah Keluar dari Fallujah

BAGHDAD, IRAQ - APRIL 18: Supporters of Iraqi Shia leader Muqtada al-Sadr stage a protest calling for a technocratic government at the entrances to the Green Zone, a central area that houses a number of critical government buildings, in Baghdad, Iraq on April 18, 2016. ( Visam Ziyad Muhammet - Anadolu Agency )

FALLUJAH (Jurnalislam.com) – Warga sipil yang melarikan diri dari kota Fallujah yang dikuasai Islamic State (IS) sekarang berjumlah 19.000, Menteri Irak untuk Migrasi dan Perpindahan Jassim Mohamed mengatakan pada hari Senin, lansir World Bulletin Selasa (14/06/2016).

“Sejak awal operasi (oleh tentara untuk merebut Fallujah dari kelompok IS), warga sipil yang terperangkap di dalam kota mengambil risiko berat untuk keluar,” kata Mohamed.

“Data kami menunjukkan bahwa warga sipil yang telah meninggalkan kota sejauh berjumlah hampir 19.000,” tambahnya. “Sebagian besar telah menemukan tempat yang aman di kota Amiriyah di pinggiran Fallujah.”

Mohamed melanjutkan untuk dicatat bahwa banyak masyarakat sipil yang mencoba melarikan diri dari kota itu pernah mengalami kekerasan oleh milisi Syiah yang ambil bagian dalam operasi militer untuk merebut kota dari IS.

“Pejabat Kementerian adalah bagian dari sebuah komite yang dibuat oleh Perdana Menteri Haidar al-Abadi untuk menyelidiki kejahatan miisi Syiah yang dilakukan terhadap warga sipil di Fallujah,” katanya.

“Kami sekarang menunggu laporan resmi komite,” tambah Mohamed.

“IS tidak membiarkan 50.000 orang yang masih tetap terjebak di kota untuk melarikan diri. Mereka ingin menggunakannya sebagai perisai manusia,” katanya.

Mohamed menunjukkan bahwa pemerintah Irak telah mendirikan dua kamp – masing-masing memiliki 2.500 tenda – untuk keluarga yang tinggal dekat dengan daerah pertempuran.

“Kamp-kamp tersebut sangat tidak layak, tidak ada fasilitas infrastruktur yang tersedia,” katanya. “Bentrokan intens berlangsung sangat dekat; sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk penghuni kamp.”

Terletak di sepanjang Sungai Efrat sekitar 50 kilometer (sekitar 30 mil) di barat ibukota Baghdad, Fallujah – yang jatuh ke tangan IS pada awal 2014 – diyakini menjadi rumah bagi sekitar 90.000 warga. Fallujah adalah kota terbesar di provinsi Anbar, Irak barat.

Menurut PBB, lebih dari 3,4 juta orang di negara itu kini mengungsi – lebih dari setengah adalah anak-anak – sementara lebih dari 10 juta lainnya sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

 

Deddy | World Bulletin |Jurnalislam

Jet Tempur Rusia dan Assad Bunuh 224 Warga Sipil di Pekan Pertama Ramadhan

036f23f3bfd744628598959092d67606_18SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 224 orang tewas dalam pekan pertama Ramadhan di Suriah, dengan sebagian besar tewas akibat pemboman oleh pesawat-pesawat tempur rezim Syiah Nushairiyah Assad dan Rusia, menurut monitor, lansir Aljazeera Senin (13/06/2016).

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, lembaga monitor yang berbasis di Inggris, mengatakan pada hari Senin bahwa antara 6 dan 12 Juni – minggu pertama bulan suci Islam puasa – sedikitnya 148 warga sipil, termasuk 50 anak-anak dan 15 wanita, tewas saat helikopter menjatuhkan bom peledak barel.

“Kami … sekali lagi menyatakan kecaman kami terhadap masyarakat internasional yang secara menakutkan tetap diam menyaksikan kejahatan yang terus tentang yang dilakukan rezim Assad dan Rusia terhadap rakyat Suriah,” kata monitor.

Korban tewas tersebut termasuk korban dari serangan udara di sebuah pasar di kota Idlib, di mana sedikitnya 40 warga sipil tewas pada hari Ahad. Aktivis mengatakan sebagian besar dari korban adalah perempuan dan anak-anak.

Beberapa kelompok pemantau, serta otoritas Turki, mengatakan Rusia melakukan serangan udara di Idlib, tetapi pihak berwenang Rusia berkelit atas keterlibatan mereka.

Daerah ini dikendalikan oleh koalisi mujahidin Suriah yang disebut Jaysh al Fateh atau Army of Conquest, yang mencakup Jabhah Nusrah dan faksi-faksi jihad Suriah. Koalisi mujahidin ini tidak termasuk dalam gencatan senjata parsial, yang dinegosiasikan Washington dan Moskow pada bulan Februari.

Laporan Observatory juga muncul saat ratusan warga sipil melarikan diri dari kubu Manbij IS di Suriah utara dan karena kekhawatiran akan ribuan orang yang tetap terjebak di kota, yang dikepung oleh pasukan Kurdi dan Arab yang didukung AS.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Bashar al-Assad menumpas pengunjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga dan tidak proporsional.

Sejak itu, lebih dari 360.000 orang telah tewas selama konflik lima tahun dan lebih dari 10 juta lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka, menurut Anadolu Agency.

Namun menurut Pusat Penelitian Kebijakan Suriah menyebutkan korban tewas akibat perang enam tahun di suriah tersebut adalah lebih dari 470.000 orang.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Uzbekistan Larang Buka Puasa Bersama Selama Ramadhan di Restoran

UZBEKISTAN (Jurnalislam.com) – Sebuah layanan yang dijalankan negara, the Spiritual Administration of Muslims, telah melarang berbuka puasa Ramadhan bersama di Masjid-masjid dan restoran (rumah makan), World Bulletin melaporkan Senin (13/06/2016).

“Larangan berbuka puasa di kafe, restoran dan Masjid bukanlah kebijakan pemerintah. Kami memberlakukan larangan ini mempertimbangkan sejarah Islam. Pada zaman Nabi Muhammad Saw, buka puasa bersama diselenggarakan semata-mata untuk mereka yang hanya sedikit memiliki makanan atau malah tidak memiliki makanan. Tapi sekarang berbuka puasa yang sebelumnya menjadi manifestasi kebutuhan untuk merawat orang miskin, telah menjadi tampilan berlebihan dan perayaan mewah lain,” Abdulaziz Mansur, wakil kepala Administrasi Spiritual Muslim Uzbekistan, mengatakan kepada Ozodlik dalam sebuah wawancara .

Dengan demikian, Administrasi Spiritual Muslim Uzbekistan mengundang orang untuk mengajak sekelompok kecil orang ke rumah orang miskin bukannya pertemuan mewah dalam kelompok besar di tempat umum.

“Di Mekah orang berbuka puasa bersama karena mereka (jamaah) dari berbagai bangsa tidak memiliki rumah sendiri. Warga negara kita memiliki rumah mereka sendiri. Mereka harus berbuka puasa di tempat mereka, dalam lingkaran keluarga mereka,” kata Mansur.