103 Pasukan Rezim Assad dan Milisi Syiah Tewas di Hari Pertama Pertempuran Aleppo

LQy-dL7_aadbreeuALEPPO (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Syiah Assad dan milisi sekutunya menderita kerugian pasukan dan materiil yang besar selama serangan yang dilakukan oleh koalisi mujahidin Jaysh al-Fath yang berpartisipasi dalam operasi “Fath Halab” pada hari Ahad (31/07/2016).

Kerugian besar rezim al-Assad selama fase pertama pertempuran Aleppo melebihi 103 elemen pasukan, termasuk 57 orang dari milisi Syiah pertahanan nasional dan 12 komponen Partai Nasionalis Sosial Suriah, sedikitnya 33 tentara al-Assad tewas, sumber pribadi untuk jaringan El Dorar Al Shamia mengkonfirmasi, Senin (01/07/2016).

Sementara sumber juga menunjukkan bahwa 29 unsur milisi al-Assad telah kehilangan kontak dan mereka kemungkinan tewas atau ditahan oleh oposisi. Sumber juga mengkonfirmasi kematian dua serdadu dan hilangnya dua orang lainnya.

Pasukan Nushairiyah al-Assad kehilangan banyak perangkat militer berat mereka, di mana pasukan oposisi menghancurkan enam tank, sebuah senapan mesin, tiga kendaraan militer dan basis anti-tank.

Laporan juga mengatakan bahwa Koalisi mujahidin Jaysh al-Fath berhasil menyelesaikan tahap pertama pertempuran yang diumumkan untuk membongkar pengepungan rezim dan sekutunya di kota Aleppo dan memulai tahap kedua pada Senin pagi.

 

Deddy | Al Shamia | Jurnalislam

Koalisi Mujahidin Suriah Lancarkan Serangan Besar di Aleppo

LQy-dL7_aadbreeuSURIAH (Jurnalislam.com) – Koalisi mujahidin Suriah melancarkan pertempuran untuk mematahkan pengepungan yang ditargetkan di kota Aleppo, Ahad (31/07/2016) sore, dan berhasil merebut kendali sejumlah bukit dan kota-kota strategis.

Koresponden El Dorar Al Shamia melaporkan, Ahad, bahwa koalisi mujahidin Jaysh al-Fath menguasai bukit dan Sekolah al-Hekam, bukit SyriaTel, bukit Mu’ta, batalion roket, bukit al-Jamyat, kota Amiriyah di daerah 1070 di pinggiran barat kota Aleppo.

Pasukan Syiah Iran dan rezim Assad serta milisi pendukung mereka beberapa hari memperketat serangan sebelum mengepung lingkungan timur Aleppo saat mereka menguasai Castello Road.

Pejuang mujahidin Suriah pada hari Ahad meluncurkan serangan besar di bagian barat daya yang dikuasai rezim Aleppo untuk merebut kembali wilayah setelah kerugian besar pekan lalu ketika tentara dan sekutu-sekutunya memperketat pengepungan di wilayah kekuasaan oposisi di kota utara.

Sebuah pusat komando militer mujahidin Suriah yang mencakup faksi jihad Jabhah Fath al Syam yang baru terbentuk (sebelumnya bernama Jabhah Nusrah, al-Qaeda), dan Ahrar al Sham mengatakan mereka telah mengambil alih posisi militer di wilayah barat daya kota yang sebelumnya dikuasai rezim Nushairiyah dalam beberapa jam sejak meluncurkan pertempuran untuk memecahkan pengepungan rezim dan kolisinya atas daerah tersebut.

Pasukan rezim Suriah mengkonfirmasi pada media rezim, SANA, bahwa mujahidin Suriah telah melancarkan serangan besar.

Seperempat juta warga sipil masih tinggal di lingkungan timur Aleppo yang dikuasai jihadis, yang dikepung sejak pasukan rezim yang dibantu milisi Syiah Internasional dukungan Iran serta Rusia memotong jalan terakhir menuju Distrik yang dikuasai mujahidin Suriah pada awal Juli.

Sebelumnya tentara Syiah Assad, yang didukung oleh pasukan milisi sekutu Syiah dan serangan udara dari pesawat jet Suriah dan Rusia, minggu lalu telah mengambil alih sejumlah wilayah di ujung utara kota, di sekitar Castello Road yang mengarah keluar dari Aleppo dan utara menuju Turki.

The U.K. Observatory for Human Rights mengatakan serangan itu merupakan operasi militer terbesar yang dilancarkan koalisi mujahidin Suriah terhadap pasukan rezim Syiah Assad yang dibantu oleh milisi asing Syiah terutama Iran di Aleppo sejak eskalasi pertempuran dalam beberapa bulan terakhir.

Cos0mLWUEAE139r

Deddy | El Dorar Al Shamia | Reuters | Jurnalislam

Deplu AS: Tidak Ada Permintaan Ekstradisi Fetullah Gulen

178171WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Departemen Luar Negeri AS mengatakan Jumat (29/07/2016) tidak ada update ulasan proses permintaan ekstradisi Turki untuk dalang kudeta Turki, pemimpin Feto Fetullah Gulen, menambahkan bahwa itu bisa menjadi proses yang cukup panjang.

“Kami menerima beberapa materi, Departemen Kehakiman masih menganalisis bahan itu,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri John Kirby saat press briefing dalam menanggapi pertanyaan Anadolu Agency. “Kita akan menghormati proses itu.”

Sementara proses ekstradisi masih terus berjalan, kekhawatiran Menteri Keadilan Turki Bekir Bozdag dan Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu menyatakan bahwa sumber-sumber intelijen yang kredibel memperingatkan pihak berwenang kemungkinan Gulen lari dari AS

Ketika Anadolu Agency bertanya kepada Kirby apakah AS bersama dengan Turki dalam kepedulian yang sama, Kirby mengatakan dia tidak memiliki informasi tentang hal itu.

“Dan benar-benar tidak masalah bagi Departemen Luar Negeri untuk membicarakannya,” tambahnya.

Ketika ditanya lagi oleh Anadolu Agency apakah AS mengambil langkah-langkah keamanan untuk mencegah kemungkinan Gulen melarikan diri, dia tidak membuat komentar lebih lanjut dan mengatakan pertanyaan itu lebih baik diarahkan ke Departemen Kehakiman.

Menurut Departemen Luar Negeri, tim gabungan dari Departemen Luar Negeri dan Departemen Kehakiman sedang mengkaji permintaan ekstradisi Gulen yang dikirim Turki pekan lalu – berdasarkan perjanjian ekstradisi yang ditandatangani antara kedua negara pada tahun 1979.

Artikel kesepuluh dalam perjanjian mengatakan bahwa dalam kasus mendesak, jika Turki atau AS mencurigai siapa pun, negara tuan rumah perlu menangkap tersangka selama 60 hari sampai dokumen ekstradisi diajukan kepada otoritas eksekutif pihak yang diminta (mengekstradisi).

Sementara itu, Departemen Kehakiman mengkonfirmasi Anadolu Agency bahwa dokumen tentang Gulen telah diterima dan bahwa mereka sedang menganalisis dokumen tersebut.

Juru bicara Departemen Kehakiman Peter Carr tidak menanggapi pertanyaan Anadolu Agency tentang kemungkinan pemimpin Feto Gulen melarikan diri dari AS.

Diskusi terjadi hampir 14 hari setelah upaya kudeta yang gagal di Turki pada 15 Juli.

Pemerintah Turki telah berulang kali mengatakan upaya kudeta mematikan, yang menewaskan lebih dari 230 orang dan melukai hampir 2.200 orang lainnya, diselenggarakan oleh pengikut Gulen dan Organisasi Teroris Fetullah (Feto).

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

Taliban Terus Peroleh Banyak Wilayah di Afghanistan

88d0c881e4f54a98bb19599e67b72a24_18KABUL (Jurnalislam.com) – Pemerintah Afghanistan kembali kehilangan kontrol wilayahnya ke tangan Taliban (Imarah Islam Afghanistan) sejak awal tahun ini, menurut laporan pengawas tinggi pemerintah AS mengenai Afghanistan, Aljazeera melaporkan Jumat (29/07/2016).

Diterbitkan pada hari Jumat oleh Inspektur Jenderal Khusus untuk rekonstruksi Afghanistan (the Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction-SIGAR), laporan itu mengatakan bahwa daerah yang semula berada di bawah kendali atau pengaruh pemerintah Afghanistan menurun menjadi 65,6 persen pada akhir Mei dari 70,5 persen tahun lalu, berdasarkan data yang diberikan oleh pasukan AS di Afghanistan.

Komandan pasukan AS di Afghanistan, Jenderal TNI John Nicholson, mengatakan sebagian besar daerah yang dikuasai Taliban adalah pedesaan.

“Mereka percaya mereka akan mampu merebut dan menguasai medan, dan mereka berusaha untuk melakukannya,” kata Nicholson briefing Pentagon melalui video link pada hari Kamis.

Para pejabat Afghanistan mengatakan angka sebenarnya tidak dapat diukur karena perang melawan Taliban masih berlangsung.

“Ini bukan hanya Taliban tetapi banyak kelompok-kelompok perlawanan di Afghanistan yang berjuang untuk mendapatkan wilayah, dan kami bertempur untuk mendorong mereka mundur, jadi kami tidak bisa benar-benar mengukur seberapa banyak daerah yang berada dalam kendali Taliban atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya,” General Dawlat Waziri , juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Jumat dari Kabul.

“Namun, kita bisa memastikan bahwa Taliban tampaknya hadir pada sebagian besar di daerah pedesaan, bukan di kota-kota strategis.”

AS telah melatih dan mempersenjatai pasukan Afghanistan sebelum menarik mundur pasukan Amerika dari negara itu, namun Afghanistan tetap kekurangan personil dan persenjataan berat.

Laporan itu mengutip pasukan AS di Afghanistan mengatakan hilangnya kontrol tersebut karena, “Pasukan Afghanistan ditugaskan ke daerah dengan prioritas yang lebih rendah untuk melakukan operasi ofensif, mendapatkan dan mempertahankan inisiatif, memanfaatkan peluang, dan mengkonsolidasikan keuntungan taktis.”

Mengakui bahwa kondisi di Afghanistan tetap genting dan mujahidin Taliban telah memperoleh tanah di beberapa tempat, Presiden AS Barack Obama berencana untuk menyisakan 8.400 tentara Amerika di Afghanistan pada akhir masa jabatannya – meningkat dari rencana sebelumnya, mencerminkan kesulitan yang tergambar akibat kehadiran AS di negara itu.

Obama juga menyetujui memaksa otoritas baru AS untuk mendukung pasukan Afghanistan, sambil memungkinkan penggunaan serangan udara AS yang lebih besar.

Sebelumnya, Nicholson, yang memerintahkan misi Resolute Support yang dipimpin NATO dan misi khusus AS secara terpisah, diizinkan untuk mengambil tindakan terhadap Taliban hanya jika “mereka menimbulkan ancaman langsung kepada pasukan koalisi AS atau jika pasukan Afghanistan menghadapi bencana kegagalan.”

Aturan ini belum diangkat oleh otoritas baru.

Afghanistan tetap menjadi salah satu negara yang neniliki paling banyak ranjau darat di dunia, setelah konflik berlangsung hampir 40 tahun.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

USA Today: Pemerintah Turki Sama dengan Era Nazi Jerman

thumbs_b_c_3512bead9b79fd568aa0a4d4c9df3405

ANKARA (Jurnalislam.com) – Komentar USA Today mengenai upaya kudeta Turki baru-baru ini sangat dikritik oleh seorang sejarawan Amerika.

Pada tanggal 20 Juli, harian besar USA Today merilis komentar Prof. Glenn Reynolds, berjudul “Sultan Baru Turki,” membandingkan tindakan pasca-kudeta yang diambil oleh pemerintah Turki baru-baru ini sama dengan Nazi Jerman era tahun 1930.

Artikel, yang salah menyatakan tahun berdirinya Republik Turki, mengklaim pemecatan massal PNS yang diduga memiliki hubungan dengan Organisasi teroris Fetullah (Feto) tersebut menyerupai era Nazi di Jerman.

“Pertanyaan langsung yang harus ditanyakan adalah apa yang mungkin memenuhi syarat bagi seorang profesor hukum untuk menulis mengenai peristiwa Turki,” Adam McConnel, profesor sejarah di Sabanci University, Istanbul, mengatakan pada Anadolu Agency, Sabtu (23/07/2016).

“Dia bahkan tidak bisa mengeja nama pemimpin yang dia kutuk dengan benar, dan menyatakan tahun berdirinya Republik Turki yang salah,” tambahnya.

McConnel mengatakan Reynolds tidak memiliki pengalaman atau pengetahuan yang relevan untuk memenuhi syarat dalam menulis tentang isu-isu Turki.

“Sebaliknya, ia dipanggil untuk pekerjaan kapak,” katanya. “The USA Today bukan media dari kelas politik AS, sehingga mereka tidak tertarik mempresentasikan diri mereka di hadapan pembacanya dengan sopan santun. Sebaliknya, focus mereka adalah rasa takut dan merasa terancam oleh Islam.”

1403537216000-AP-Travel-Trip-Hitlers-MunichMcConnel menambahkan bahwa, “Komentar itu merupakan sebuah artikel bodoh dan amoral yang mengejutkan yang membandingkan kepemimpinan Turki saat ini dengan Nazi Jerman.”

Sejarawan Amerika itu mengatakan seluruh artikel sama sekali tidak menyebutkan nama Fetullah Gulen – tokoh Turki yang berdiam di AS yang mengatakan pemerintah Turki adalah dalang upaya kudeta yang gagal – “bahkan tidak menyebutkannya satu kali pun.”

“Seluruh artikel memperlakukan peristiwa pekan lalu seolah-olah mereka terjadi dalam ruang hampa sejarah dan politik, dan hanya membuat beberapa pernyataan lemah tentang pendirian Republik Turki,” tambahnya.

“Struktur artikel itu sendiri bertentangan secara internal karena memuji militer Turki di separuh pertama teks untuk melindungi sekularisme (sikap fundamental anti-demokrasi), dan kemudian mengoceh tentang bagaimana Presiden Erdogan diduga memberantas negara sekuler Turki.”

McConnel mengatakan, “Artikel tersebut adalah hasil dari ketidaktahuannya dan percakapan politik yang sangat dangkal yang berlangsung di dalam masyarakat AS.”

“Penekanannya adalah pada rasa takut dan sikap, bukan pada fakta-fakta. Mengacu Nazi adalah alat dasar yang digunakan dalam referensi untuk harfiah setiap topik yang muncul untuk diskusi. Hal ini mencerminkan ketidakmampuan untuk menganalisis atau berpikir,” katanya.

McConnel juga menambahkan bahwa, “Setiap kali Republik Turki muncul di berita, media AS seperti USA Today tidak merasa perlu untuk menghadirkan seseorang yang memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk mengomentari topic tersebut.”

“Sebaliknya, mereka menyerukan kepada para kader penulis untuk menemukan seseorang yang dapat menulis seperti yang mereka inginkan, dan kemudian memberikannya pada para pembaca,” katanya.

Upaya kudeta yang mematikan dimulai pada 15 Juli tengah malam ketika oknum-oknum militer Turki mencoba menggulingkan pemerintah yang terpilih secara sah di negara itu.

Pemecatan, penahanan dan penangkapan telah dilakukan terhadap mereka yang terkait dengan Feto.

Dewan Keamanan Nasional Turki, setelah pertemuan pada hari Rabu, sekali lagi menegaskan kembali komitmennya terhadap demokrasi, hak-hak dasar dan kebebasan, dan supremasi hokum.”

Pemerintah Turki telah berulang kali mengatakan upaya kudeta yang mematikan pada 15 Juli, yang menewaskan sedikitnya 246 orang dan melukai lebih dari 2.100 orang lainnya, dilakukan oleh para pengikut Gulen.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

3 Hari Pertempuran Taliban Kuasai 70 Persen Distrik Qala-e-Zal, Kunduz

5520KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Ratusan mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban) sebagian besar telah mengambil alih sebuah distrik di provinsi Kunduz, Afghanistan utara, saat pertempuran sengit dengan Pasukan Nasional Afghanistan (ANA) terus berlanjut, lansir Aljazeera Kamis (21/07/2016).

Setelah tiga hari pertempuran, mujahidin Taliban mengambil alih 65 hingga 70 persen dari distrik Qala-e-Zal, para pejabat Afghanistan mengatakan pada hari Rabu, sebagai bagian dari gelombang serangan intensif di seluruh negeri.

“Sebagian dari kabupaten telah jatuh ke tangan Taliban, namun pasukan kami mencoba memerangi mereka kembali,” Mahmoud Denmark, juru bicara gubernur provinsi, mengatakan pada Al Jazeera.

Dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera, Taliban mengakui bahwa seluruh kabupaten telah jatuh ke tangan mereka.

Nabi Ghichi, komandan polisi setempat, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan Taliban dimulai pada Senin dini hari, memperingatkan bahwa ia memiliki sedikit dukungan logistik untuk mendorong mundur pasukan Taliban.

Sejumlah keluarga meninggalkan kabupaten setelah pertempuran meletus.

“Sebagian besar rumah kosong karena banyak yang melarikan diri dari konflik yang sedang berlangsung di kabupaten ini,” Ajmal, seorang wartawan lokal yang berbasis di Kunduz, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Sepertinya pertempuran akan berlanjut selama beberapa hari ke depan.”

Kunduz adalah salah satu provinsi yang paling tidak stabil di utara negara itu. Ibukota provinsi Kunduz jatuh secara singkat ke tangan Taliban tahun lalu, sebelum direbut kembali oleh pasukan pemerintah, dan di sebagian besar kabupaten terdapat sejumlah besar pasukan Taliban.

Kota Kunduz hampir dikuasai Taliban kembali pada bulan April, namun serangan mereka ditahan oleh pasukan Afghanistan yang bekerja dengan pasukan AS.

Presiden AS Barack Obama mengumumkan awal bulan ini bahwa ia berencana menempatkan 8.400 tentara Amerika di Afghanistan pada akhir masa jabatannya – meningkat dari rencana sebelumnya, mencerminkan kesulitannya mengurangi kehadiran AS di negara itu.

Menanggapi pengumuman Obama, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada Al Jazeera: “Apakah AS memutuskan untuk menempatkan tentaranya di Afghanistan atau tidak, apakah jumlahnya bertambah atau berkurang, kami akan terus memerangi mereka.”

Taliban Afghanistan, pada Selasa (19/07/2016) menolak tuduhan bahwa perlawanannya telah melemah setelah transisi kepemimpinan, Taliban mengatakan bahwa jeda operasi baru-baru ini adalah karena bulan suci Ramadhan.

 

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam

Taliban Kutuk Serangan Bom di Madinah, Arab Saudi


taliban (7)AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)
– Taliban mengutuk serangan bom 4 Juli di Madinah, Arab Saudi. Empat penjaga Saudi dan lima lainnya terluka dalam serangan yang digambarkan Taliban sebagai “tindakan permusuhan dan kebencian terhadap tempat suci umat Islam.”

“Sangat menyedihkan bahwa serangan terjadi terhadap penjaga Masjid Nabawi di kota suci Madinah, dan menjatuhkan beberapa korban,” Taliban mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari selasa (05/07/2016) di website resminya, Voice of Jihad.

Imarah Islam Afghanistan (Taliban) sangat terkejut dengan tindakan mengerikan ini dan mengutuk kejadian ini dengan kecaman terkuat dan menganggapnya sebagai suatu tindakan permusuhan dan kebencian terhadap tempat suci Islam. Tindakan seperti di al Haram al Nabawi (masjid Madinah) ini tidak pernah bisa ditoleransi.”

9b224f13-ff5c-404b-adea-9d43656545a4_5x2_1100x440“Al Haramain al Sharifain (Dua Tempat Suci Suci-di Mekah dan Madinah) memiliki nilai tinggi bagi setiap muslim dan tidak pernah ada tindakan permusuhan ke Mekah dan Madinah yang dapat diterima atau ditoleransi,” lanjut pernyataan itu. “Kejahatan ini telah menunjukkan kepada kita betapa kejam dan penuh kebenciannya plot musuh kami terhadap tempat suci agama kami.”

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan bom tersebut. Taliban mengecam Islamic State di karena menyemai perpecahan dalam jajaran jihadis di Afghanistan dan di tempat-tempat lain.

 

Deddy | Voice of Jihad | Jurnalislam

Taliban Rilis Kamp Pelatihan Umar Bin Khattab di Kunduz

march-768x432

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Dalam rilisan video sayap media Imarah Islam Afghanistan (Taliban), Al Emarah, memberitakan keberadaan kamp pelatihan “Omar bin Khattab” di suatu tempat di utara Provinsi Kunduz. Kamp yang telah beroperasi selama beberapa waktu lalu terlihat dari cuplikan beberapa musim yang berbeda ditampilkan di seluruh video, lansir The Long War Journal, Senin (04/07/2016).

Setelah memberikan pidato penghargaan untuk Syeikh Mullah Akhtar Mansour, Amir Taliban yang gugur, syahid, dalam serangan pesawat tak berawak (drone) AS di Baluchistan, Pakistan, Mei lalu, Taliban menunjukkan puluhan mujahidin dan pelatihan anggota baru di sebuah kompleks besar di Kunduz. Para mujahidin ditampilkan menjalani pelatihan fisik, serta berlatih menggunakan senjata asli dan tiruan dengan baik. Selain itu, rekrutan ditampilkan berlatih menembak dengan senapan Kalashnikov, roket granat, peluncur granat, dan berbagai senjata lainnya.

Di akhir video, Mullah Abdul Salam, gubernur Taliban untuk Kunduz, bersumpah setia kepada amir baru Taliban, Syeikh Mullah Haibatullah Akhundzada. Intelijen Afghanistan mengklaim membunuh Salam pada bulan Oktober, namun Salam dengan cepat mematahkan rumor tersebut.

Mujahidin di kamp Omar bin Khattab kemudian ditampilkan secara terbuka berbaris dan berparade dengan kendaraan Tentara Nasional Afghanistan (ANA) yang telah mereka rebut melalui pertempuran di jalan-jalan kota Kunduz dan pedesaan sekitarnya.

Kamp ini dinamai Omar bin Khattab, khalifah Muslim kedua yang merupakan pendamping Nabi Muhammad Saw. Di bawah pemerintahan Umar Ra pada abad ketujuh, khalifah menguasai Persia dan sejumlah besar daerah Kekaisaran Bizantium.

Pemerintah Afghanistan mengklaim telah membersihkan Kunduz dari kehadiran Taliban setelah Taliban menyerbu ibukota provinsi Kota Kunduz dan beberapa kabupaten lainnya. Namun, kenyataannya Taliban masih tetap berada di provinsi itu dan terus menjalankan sedikitnya satu kamp di sana.

Taliban telah mempublikasikan beberapa kamp pelatihan di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir. Pada bulan Desember 2014, Taliban mempublikasi sebuah kamp pelatihan di distrik Jawzjan Provinsi Faryab. Pada bulan Januari 2015, Taliban menyoroti sebuah kamp pelatihan di Kunar. Juni lalu, Taliban memberitakan kamp pelatihan pasukan khusus di suatu tempat di Afghanistan. Dua bulan kemudian, sebuah kamp pelatihan di distrik Zurmat Provinsi Paktia itu disebut-sebut secara online. September lalu, Jaringan Haqqani, sebuah sub-kelompok Taliban yang kuat, merilis video kamp Salahadin Ayyubi di suatu tempat di Afghanistan timur.

Faksi-faksi jihad lainnya juga mengoperasikan kamp-kamp di Afghanistan. Misalnya, pemerintah AS menyatakan pada 2014 bahwa Harakat-ul-Mujahideen, sebuah kelompok jihad Pakistan yang erat bersekutu dengan al Qaeda, “Mengoperasikan kamp pelatihan teroris di Afghanistan timur.” The Turkistan Islamic Party, sebuah kelompok jihad Uighur di jaringan internasional al Qaeda, memperlihatkan sebuah kamp pelatihan yang dilaporkan terletak di Afghanistan tahun lalu. Jaringan al Qaeda lainnya yaitu Jamaat Imam Bukhari, kelompok jihad Uzbek yang beroperasi di Suriah dan Afghanistan, juga mempublikasikan sebuah kamp pelatihan di Afghanistan tahun lalu. kelompok jihad Uzbek lain, Uni Jihad Islam, juga telah melakukan hal yang sama.

Selain itu, al Qaeda dan Lashkar-e-Taiba diketahui menjalankan beberapa kamp pelatihan di provinsi Kunar dan Nuristan di Afghanistan timur. Komandan militer Taliban dan al Qaeda yang dikenal sebagai Qari Zia Rahman dikenal memiliki kamp-kamp pelatihan yang digunakan khusus untuk mendidik dan melatih perempuan, termasuk anak-anak, dalam melakukan serangan kedua sisi perbatasan Afghanistan-Pakistan. Dan kekuatan Bantuan Pasukan Internasional (the International Security Assistance force-ISAF) telah berusaha menargetkan beberapa basis dan kamp-kamp di Kunar selama bertahun-tahun.

pushups-768x432march-768x432

leapfrog-768x432 livefire1-768x432 livefire2-768x432 livefire3-768x432 pushups-768x432 snow-768x432

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

Jabhah Nusrah Serbu Markas Oposisi Dukungan AS

FILE - This file image posted on the Twitter page of Syria's al-Qaida-linked Nusra Front on Tuesday, June 14, 2016, which is consistent with AP reporting, shows Nusra Front fighters moving forward to fight against Syrian troops and pro-government gunmen at the hilltop of Khalsa village, southern Aleppo, Syria. The Syrian government has suffered serious setbacks in its campaign to retake the Islamic State's de facto capital of Raqqa, even with Russia's support. Arabic, bottom right, reads, "Jihadis on their way to Khalsa village." (Al-Nusra Front Twitter page via AP, File)

BEIRUT (Jurnalislam.com) – Cabang resmi Al-Qaeda di Suriah Jabhah Nusrah menyerbu markas Kelompok oposisi yang didukung militer AS pada hari Ahad di barat laut Suriah dan menangkap komandan serta puluhan pasukan mereka, Al Arabiya News Channel melaporkan, Ahad (03/07/2016).

Dalam sebuah pernyataan online, Jaish al-Tahrir (Tentara Pembebasan) mengatakan bahwa komandannya, Mohammad al-Ghabi, dicokok dari rumah ayahnya di kota Kafranbel oleh mujahidin Jabhah Nusrah pada Sabtu malam.

Mujahidin Jabhah Nusrah juga dikatakan menangkap lebih dari 40 pasukan Jaish al-Tahrir dan menyita senjata dari pangkalan dan pos-pos pemeriksaan lain yang didirikan di barat laut Suriah.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengkonfirmasi insiden itu dan mengatakan AS mendukung Jaish al-Tahrir dengan senjata dan bahkan melatih mereka di masa lalu.

Jabhah Nusrah telah menyerang beberapa kelompok yang didukung pemerintah AS di provinsi barat laut. Afiliasi al Qaeda ini terakhir kali mengusai gudang senjata milik Divisi 13 di kota Maarat al-Numan pada bulan Maret.

Dan pada musim panas 2015, mereka menangkap beberapa anggota pasukan oposisi Divisi 30 yang dilatih AS.

Provinsi Idlib dikendalikan oleh Army of Conquest, koalisi faksi jihad dan pejuang oposisi Suriah yang dipimpin oleh Jabhah Nusrah dan Ahrar al-Sham.

 

Deddy | Alarabiya | Jurnalislam

Ini Pesan Amir Taliban kepada Pasukan AS Jelang Idul Fitri

Mawlawi-Haibatullah-AkhundzadaKABUL (Jurnalislam.com) – Amir Imarah Islam Afghanistan (Taliban) Syeikh Maulawi Haibatullah Akhundzada pada hari Sabtu (02/07/2016) memperingatkan AS untuk mengakhiri pendudukan mereka atas Afghanistan dalam pesan pertamanya sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Taliban pada bulan Mei, lansir Al Arabiya News Channel, Sabtu (02/07/2016).

“Akui realitas daripada sia-sia menggunakan kekuatan dan mempertontonkan otot lebih baik akhiri pendudukan,” kata Syeikh Akhundzada dalam pidato pada malam menjelang Idul Fitri, hari raya kaum Muslim yang menandai berakhirnya bulan puasa Ramadhan.

“Pesan kami kepada penjajah Amerika dan sekutu-sekutunya adalah ini: orang-orang Muslim Afghanistan tidak takut akan kekuatan Anda atau siasat Anda. Kami menganggap mati syahid dalam konfrontasi dengan Anda sebagai tujuan hidup kami yang mulia,” kata Syeikh Akhundzada.

Syeikh Akhundzada melanjutkan, “Anda tidak akan bisa menggagalkan tekad dan perjuangan jihad kami, dengan memperpanjang waktu kehadiran tentara atau meningkatkan keterlibatan kekuasaan militer di Afghanistan”.

“Anda bukan menghadapi kelompok atau faksi tapi bangsa jihad. Anda tidak akan menjadi pemenang,” tegas Akhundzada.

headlineImage.adapt.1460.high.US_war_on_terror_a.1428940320745

 

Deddy | Alarabiya | Jurnalislam