ERBIL (Jurnalislam.com) – PYD menerapkan kebijakan kelompok ekstremis PKK di Suriah, Masoud Barzani, presiden semi-otonom Pemerintah Daerah Kurdi Irak utara, mengatakan pada hari Rabu (14/09/2016), lansir Anadolu agency.
Dalam sebuah wawancara dengan harian Prancis Le Monde, Barzani mengkritik kegiatan terbaru PYD/PKK di Suriah utara.
Ketika diminta untuk mengevaluasi “Operasi Perisai Efrat ” (Euphrates Shield) Turki – yang membebaskan kota Jarablus, Suriah, bulan lalu dari kelompok Islamic State (IS) – Barzani mengatakan: “PYD mengusai daerah mayoritas Kurdi (di Suriah utara), dimana mereka membawa keluar kebijakan PKK.”
Ia menambahkan, “Turki berperang dengan PKK.”
PKK yang – terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki dan internasional – melanjutkan operasi bersenjata puluhan tahun pada bulan Juli tahun lalu. Sejak itu, lebih dari 600 personel Turki dan banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dan sekitar 7.000 milisi PKK juga tewas.
Barzani melanjutkan untuk menyuarakan kepedulian terhadap masa depan penduduk Kurdi Suriah.
“Karena kebijakan non-inklusif mereka, PYD tidak menikmati dukungan dari kelompok lain di Suriah dan terus mendukung rezim Assad Suriah tanpa berpikir untuk masa depan Kurdi di wilayah tersebut,” katanya.
“PYD telah gagal untuk bekerja sama dengan oposisi Suriah (anti-Assad),” Barzani menegaskan.
Turki memberi label organisasi teroris bagi PYD, sementara AS menggambarkannya sebagai “mitra terpercaya”.
Ketika ditanya apakah Turki akan bergabung dengan operasi yang disiapkan untuk membebaskan kota Mosul di utara Irak dari IS, Barzani menyuarakan keraguan.
“Saya tidak berpikir Turki akan bergabung dengan operasi untuk membebaskan Mosul,” katanya kepada Le Monde. “Tapi Turki dapat membantu pasukan yang ambil bagian dalam operasi.”
“Selain itu, pemerintah Irak menentang ini (yaitu, peran Turki secara langsung dalam operasi), sementara Turki sendiri tidak ingin memasuki Mosul,” tambahnya.
Pada pertengahan 2014, Daesh menyerbu kota, bersama dengan sejumlah wilayah luas di utara dan barat Irak.
Dalam beberapa bulan terakhir, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS dan sekutu lokal di darat – merebut kembali banyak wilayah yang hilang.
Para pejabat di Baghdad telah bersumpah untuk memberantas keberadaan Daesh di Irak pada akhir 2016.