Turki Tidak akan Ikut dalam Operasi Merebut Raqqa Jika PYD dan YPG Berpartisipasi

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki tidak akan berpartisipasi dalam operasi yang kemungkinan akan dilaksanakan untuk merebut kota Raqqa di Suriah utara dari Islamic State (IS) selama operasi tersebut mendapat dukungan dari milisi PYD, sayap Suriah dari kelompok ekstremis PKK, dan YPG, Juru Bicara Presiden Ibrahim Kalin mengatakan Kamis (22/09/2016), lansir World Bulletin.

“Bergabung dalam operasi bersama PYD/YPG benar-benar tidak mungkin. Pada prinsipnya, kami mendukung pembersihan Raqqa dan kota-kota Suriah lainnya dari kelompok IS. Namun, prinsip-prinsip dan ketentuan kami tentang masalah ini jelas,” katanya dalam sebuah wawancara dengan jaringan berita milik negara TRT Haber.

Juru bicara itu menjawab pertanyaan tentang kemungkinan operasi gabungan AS-Turki untuk membebaskan Raqqa, yang dibahas oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Barrack Obama selama KTT G20 di Cina awal September.

Kalin mengatakan negosiasi masih berlangsung, dan belum ada ketetapan.

Pendekatan Turki untuk setiap operasi di Raqqa akan mirip dengan pendekatan dalam operasi Manbij atau Jarabulus, tambahnya.

Kalin juga mengomentari proses menawarkan kewarganegaraan untuk warga Suriah “yang memenuhi kriteria tertentu” dan mengatakan Turki akan terus menerima pengungsi Suriah, meskipun “bukan merupakan negara terkaya di dunia.”

“Namun, Turki adalah negara yang menjadi tuan rumah bagi pengungsi dalam jumlah terbesar,” katanya, menambahkan Turki juga menduduki puncak daftar teratas dalam hal bantuan kemanusiaan yang ditawarkan relatif terhadap pendapatan per kapita.

Turki menjadi tuan rumah pengungsi Suriah jumlah terbesar di dunia – yaitu sejumlah 2,7 juta – dan sejauh ini telah menghabiskan sekitar $ 10 miliar untuk pengungsi di Turki.

Faksi Perlawanan Suriah: Kami akan Fasilitasi dan Lindungi Kiriman Bantuan ke Warga Sipil

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi perlawanan Suriah menegaskan lagi pada Rabu, dalam pernyataan bersama, bahwa mereka akan memfasilitasi dan melindungi konvoi kemanusiaan yang dikirim untuk warga sipil di Suriah, ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (22/09/2016).

Faksi menolak sepenuhnya setiap upaya yang menargetkan konvoi kemanusiaan, menyerukan PBB dan masyarakat internasional untuk mengambil tanggung jawab dan menghukum mereka yang terlibat dalam pemboman, yang menargetkan konvoi Bulan Sabit Merah di pedesaan barat Aleppo.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa rezim Syiah Assad telah berulang kali mengganggu masuknya bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang terkepung, dan tidak menanggapi resolusi Dewan Keamanan, dalam sabotase terbaru terhadap konvoi bantuan kemanusiaan yang dikirim ke distrik Muadamiyat al-Sham yang dikepung.

31 Korban, termasuk 12 petugas Bulan Sabit Merah Suriah tewas dalam pemboman udara rezim yang menargetkan 20 truk yang membawa bahan bantuan kemanusiaan yang dikirim PBB, dan di bawah pengawasan Bulan Sabit Merah Suriah.

Lebih dari 20.000 Pengungsi Suriah di Turki Kembali ke Kota Jarablus

TURKI (Jurnalislam.com) – Lebih dari 20.000 warga Suriah telah kembali ke Jarabulus dekat perbatasan Turki, beberapa pekan setelah Tentara Pembebasan Suriah yang didukung Angkatan Darat Turki membebaskan kota Suriah utara di provinsi Aleppo, kata seorang pejabat daerah kepada Anadolu Agency, Kamis (22/09//2016).

Selama sebulan Operasi Perisai Efrat, sekitar 1.200 kilometer persegi (745 mil) wilayah Suriah utara telah dibersihkan dari unsur-unsur kelompok Islamic State (IS) di wilayah tersebut. Sekitar 900 posisi IS diserang 4.000 kali setelah pengambilalihan Jarabulus, sumber tersebut menambahkan.

Sebagai hasil dari operasi, populasi Jarabulus sekarang membengkak menjadi 25.000 dari 3.500, menurut seorang anggota dewan lokal di kota Suriah. Ratusan keluarga akan pulang dari Azaz di pedesaan utara Aleppo dan Manbij, kata seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonimitas karena masalah keamanan.

Pasukan oposisi Suriah baru-baru ini mengambil alih distrik Tal-ar kota Cobanbey di provinsi barat laut Aleppo, yang telah diduduki oleh pasukan IS.

Operasi Perisai Efrat dimulai bulan lalu dan Tentara Pembebasan Suriah, yang didukung oleh militer Turki, merebut kembali Jarabulus dari IS.

Turki mengatakan operasi mereka bertujuan untuk meningkatkan keamanan perbatasan, mendukung pasukan koalisi dan menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh milisi, terutama IS dan PYD dukungan AS. Operasi ini sejalan dengan hak negara untuk membela diri sesuai perjanjian internasional dan mandat yang diberikan kepada angkatan bersenjata Turki oleh parlemen pada tahun 2014, yang telah diperpanjang satu tahun lagi di September 2015.

Helikopter Rezim Suriah Serang Warga Sipil dengan Bom Barel, 11 Tewas

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sebelas orang tewas dan puluhan lainnya terluka pada hari Kamis ketika helikopter rezim Suriah menjatuhkan bom barel di wilayah yang dikuasai para pejuang di barat laut kota Aleppo, Suriah, kata sumber-sumber medis setempat, lansir Anadolu Agency, Kamis (22/09/2016).

Menurut sumber dari rumah sakit lapangan lokal yang berbicara secara anonim karena takut akan keselamatan mereka, sedikitnya sembilan warga sipil tewas di distrik Al-Sokkari Aleppo sementara dua lainnya tewas di distrik Al-Ansari.

Sementara itu, Najib al-Ansari, seorang pejabat pertahanan sipil yang berbasis di Aleppo, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pesawat tempur Rusia dan rezim Assad telah melakukan 150 serangan udara terpisah di Aleppo pada hari Rabu.

“Pesawat Rusia menyerang kawasan Bustan al-Qasr [Aleppo] dengan bom fosfor, mengakibatkan beberapa bangunan tempat tinggal terbakar,” kata al-Ansari.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Nushairiyah Assad menumpas para pengunjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan “Arab Spring” – dengan keganasan militer yang tak terduga.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, melaporkan jumlah korban tewas akibat konflik enam tahun di Suriah lebih dari 470.000.

5 Pasukan AS Tewas Saat Terobos Pertahanan Taliban di Distrik Alingar

LAGHMAN (Jurnalislam.com)Al-Emarah News, Kamis (22/09/2016), mengatakan 5 pasukan penjajah AS dan sejumlah pasukan boneka mereka tewas dalam upaya menerobos posisi mujahidin pada pertempuran mematikan di distrik Alingar provinsi Laghman timur tadi malam saat Taliban mempertahankan wilayahnya dengan kokoh.

Sedikitnya 5 penjajah Amerika dan sejumlah pasukan boneka lokal tewas dalam baku tembak sementara beberapa pasukan musuh lainnya juga terluka.

Seorang mujahidin juga memeluk kesyahidan dan tiga lainnya cedera.

Dalam laporan lain, seorang antek Arbaki (pasukan bayaran) ditembak dan tewas dalam serangan penembak jitu di distrik Alingar pada hari Rabu. Kalashnikov dan amunisi berhasil disita dari target.

Kemudian di Daikundi, para pejabat mengatakan serangan Mujahidin di markas polisi Gizab dan pos-pos sekitarnya masih berlangsung sejak pagi hari. Sejauh ini 9 pos pemeriksaan telah dikuasai, membunuh dan melukai beberapa orang bersenjata di dalam pos dan memaksa sisanya melarikan diri dengan meninggalkan 5 mayat di tengah pertempuran.

Menurut rincian sebanyak 21 personil musuh telah menyerahkan diri membawa senjata mereka kepada Imarah Islam Mujahidin.

 

Faksi Mujahidin Suriah Rebut Kembali Desa Alexandria-Hama dari Pasukan Assad

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi mujahidin Suriah yang beroperasi di pedesaan utara Hama kembali menuai kemenangan dengan merebut beberapa desa dari cengkeraman pasukan rezim Assad setelah pertempuran sengit yang berlangsung selama beberapa jam, ElDorar AlShamia melaporkan Rabu (21/09/2016).

sumber media melaporkan, faksi mujahidin menguasai penuh desa Alexandria, selain wilayah pabrik setelah dikontrol oleh pasukan rezim Assad selama beberapa jam dengan dukungan dari serangan udara Rusia.

Sumber-sumber juga mengatakan bahwa sebuah tank dan dua kendaraan lapis baja lainnya hancur selama pertempuran yang berlangsung di garis depan Ma’ardes dan desa Alexandria serta merebut sejumlah besar senjata dan amunisi.

Pasukan Nushairiyah Assad dan didukung milisi Syiah Internasional berikut dukungan serangan udara Rusia telah berusaha untuk mendapatkan kembali daerah yang telah didominasi sebelumnya oleh faksi-faksi perlawanan di pedesaan utara Hama.

Negara Bagian Lagos Tolak Putusan Pengadilan Nigeria Legalkan Jilbab di Sekolah

NIGERIA (Jurnalislam.com) – Negara Bagian Lagos di Nigeria menantang putusan pengadilan banding yang melegalkan pemakaian jilbab Muslim di sekolah-sekolah, meskipun jutaan anak-anak berbondong-bondong kembali ke kelas mereka setelah liburan musim panas.

Tajudeen Balogun, salah satu pengacara untuk siswa Muslim, mengatakan kepada Anadolu Agency, dalam sebuah wawancara telepon pada hari Selasa (20/09/2016) bahwa Lagos mengajukan banding pada 16 September tetapi menambahkan bahwa langkah tersebut tidak berarti siswa Muslim tidak bisa memakai penutup kepala mereka.

“Sebelum permohonan tersebut didengar dan dikabulkan, posisi hukum saat ini adalah jilbab halal di sekolah-sekolah di seluruh Lagos,” menurut pengacara itu.

Jaksa agung Lagos Mosediq Adeniji Kazim tidak menanggapi permintaan Anadolu Agency untuk memberikan komentar. Pemerintah juga menolak untuk berbicara secara terbuka mengenai banding tersebut.

Pengadilan Tinggi Nigeria pada 21 Juli membalikkan keputusan sebelumnya oleh pengadilan yang lebih rendah yang mengizinkan keputusan pemerintah negara bagian untuk melarang pemakaian jilbab Muslim di lingkungan sekolah.

Menurut pengadilan banding, larangan tersebut melanggar hak umat Islam untuk kebebasan beragama dan beribadah.

Pemerintah mengklaim jika beberapa murid diizinkan untuk memakai jilbab akan mengubah keseragaman di sekolah-sekolah. Argumen tersebut ditolak pengadilan.

Saat mahasiswa kembali dari liburan panjang pekan ini, Komunitas Mahasiswa Muslim Nigeria (the Muslim Students’ Society of Nigeria-MSSN) meminta otoritas pendidikan dan guru untuk menghormati putusan pengadilan tentang penutup kepala.

“jika terjadi sebuah situasi di mana seorang pelaku atau guru terlihat menghukum, mengancam, menyerang atau melecehkan mahasiswa karena mengenakan jilbab, setelah pengadilan mengijinkannya, tidak hanya akan menghina pengadilan tetapi juga pengkhianatan terhadap literasi (keaksaraan), mengejek pendidikan dan penyalahgunaan penalaran,” kata Presiden MSSN Saheed Ashafa dalam sebuah pernyataan.

Asosiasi Guru Muslim Nigeria (The Muslim Teachers’ Association of Nigeria) mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Selasa bahwa beberapa pengaduan sudah dilaporkan tentang beberapa guru yang mengarahkan siswanya untuk melepas jilbab mereka.

“Beberapa kepala sekolah dan guru terlihat lucu. Mereka mencoba untuk menghentikan siswa mengenakan jilbab dengan alasan bahwa mereka belum menerima edaran. Apakah sekolah lebih superior dibanding keputusan pengadilan yang sah?” Kata asosiasi kepada Anadolu Agency dalam email.

 

Bendera AS dan PYD Berkibar di Raqqa

RAQQA (Jurnalislam.com) – Bendera AS yang ditampilkan oleh PKK/PYD pada bangunan adat di Suriah utara selama hampir satu minggu memicu reaksi warga Suriah yang sebelumnya tinggal di daerah itu, Anadolu Agency Rabu (21/09/2016).

Ali Sultan adalah warga Suriah yang mengatakan ia harus melarikan diri dari distrik Tal Abyad di Governorat Raqqa di utara Suriah, dimana bendera AS dikibarkan, 18 bulan yang lalu karena PYD.

Dia sekarang tinggal di distrik perbatasan Akcakale, di di provinsi Sanliurfa tenggara, yang terletak sekitar 148 kilometer (hampir 92 mil) di utara Raqqa.

“PYD mencoba untuk memecah Suriah. Kami sebagai warga Suriah tidak ingin bendera AS bersama dengan PYD di wilayah kita [Suriah],” kata Sultan.

Warga Suriah lainnya, Havle Mushadene juga mengatakan bahwa mereka tidak ingin organisasi teror apapun di negara mereka dan mengecam bendera AS yang dikibarkan.

“Kami tidak ingin AS atau benderanya.”

Pada tanggal 15 September, PKK/PYD mengibarkan bendera AS pada fasilitas di distrik Tal Abyad di Raqqa. Pada tanggal 17 September, PKK/PYD menurunkan tiga bendera mereka kecuali yang dikibarkan di atas rumah adat.

Bendera di rumah adat tersebut dapat dilihat dari kabupaten perbatasan Akcakale di Provinsi Sanliurfa tenggara.

Pada 2 September, beberapa milisi ektremis PYD/PKK mengibarkan bendera Amerika di desa Rafe, di utara kota Manbij yang telah dibebaskan, 25 kilometer (15 mil) dari tepi barat sungai Efrat.

Menurut sumber pejuang oposisi anti Assad, bendera tersebut digunakan untuk mencegah serangan.

Dengan menampilkan bendera AS, mereka mengirimkan sinyal yang salah bahwa pasukan AS juga hadir, menurut sumber yang berbicara dengan syarat anonim karena khawatir atas keselamatan mereka.

16 Pasukan Boneka Tewas dalam Pertempuran di Kunduz, Pasukan AS Culik 23 Warga Sipil

KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Di akhir hari Rabu, Mujahidin Imarah Islam (Taliban) memukul mundur pasukan boneka AS, ANA (Afghanistan National Army), dalam pertempuran sengit penyergapan Taliban di sekitar ibukota Kunduz, menewaskan satu pasukan boneka dan meninggalkan banyak lainnya terluka, sementara empat pasukan boneka tewas dan satu lainnya terluka dalam serangan bom di distrik Qala-i-Zal, Al Emarah News melaporkan, Rabu (21/09/2016).

Juga di hari Rabu, Taliban memaksa pasukan boneka termasuk sejumlah besar tank dan kendaraan untuk berhenti setelah melepaskan tembakan di distrik Dasht-i-Archi, menewaskan sedikitnya 6 pasukan boneka dan lebih dari 13 lainnya terluka daan menghancurkan 2 tank lapis baja.

Kemudian masih di hari Rabu, Taliban menewaskan lagi 8 pasukan boneka dari konvoi militer yang dipaksa berhenti di distrik Dasht-e-Archi, di mana dua mujahidin juga terluka.

Sebagai balasan, pasukan penjajah AS membom daerah tersebut, menargetkan rumah sakit dan sejumlah rumah milik warga sipil, kemungkinan menyebabkan korban berat bagi warga sipil.

Selain itu, pasukan penjajah gabungan AS dan pasukan boneka mereka dalam serangkaian agresi terbaru mereka menculik 23 warga sipil di distrik Archi Dashti provinsi Kunduz pada Selasa malam hingga Rabu pagi.

Polisi Turki Tembak Penyerang Pisau di Depan Kedutaan Israel

ANKARA (Jurnalislam.com) – Polisi menembak dan menahan seorang pria Turki yang membawa pisau yang mencoba memaksa masuk ke kedutaan besar Israel di ibukota Ankara, Turki, Aljazeera melaporkan Rabu (21/09/2016).

Pria, yang dipersenjatai dengan pisau 30 cm, berlari menuju kedutaan sambil meneriakkan slogan-slogan dan ditembak di kaki, kantor gubernur di Ankara mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

Para pejabat mengatakan penyelidikan awal menunjukkan bahwa pria yang diidentifikasi sebagai Osman Nuri Caliskan, 41 tahun, dari pusat kota Anatolia di Konya, “tampaknya terganggu mentanyal” dan tidak ada catatan memiliki hubungan dengan kelompok yang terorganisir.

Kedutaan Israel di Ankara mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tersangka “mencoba untuk menusuk seorang polisi Turki” di depan kedutaan.

Televisi NTV Turki mengatakan karyawan kedutaan Israel berlindung di tempat penampungan saat kejadian.

Caliskan dibawa ke Rumah Sakit Pelatihan dan Penelitian Numune (Numune Training and Research Hospital), di Ankara, menurut Anadolu Agency yang dikelola negara Turki.

Jalan di sekitar kedutaan ditutup setelah insiden dan polisi spesialis dikirim ke tempat kejadian.

Harian Hurriyet melaporkan bahwa penyerang mengatakan kepada polisi yang menginterogasi dia di rumah sakit bahwa ia “melakukannya untuk menghentikan pertumpahan darah di Timur Tengah.”

Misi asing di Turki berada dalam keadaan siaga tinggi menyusul serentetan serangan di seluruh negara tahun ini yang disalahkan pada kelompok Islamic State (IS) dan separatis Kurdi.

Kedutaan Besar Inggris di Ankara ditutup dari hari Jumat atas kekhawatiran keamanan.

Tiga bulan lalu, Turki dan Israel menandatangani kesepakatan untuk memulihkan hubungan mereka yang memburuk setelah serangan tahun 2010 oleh pasukan komando zionis terhadap kapal bantuan Turki untuk Gaza yang menewaskan 10 orang Turki.

Berdasarkan kesepakatan itu, kedua negara memulai proses pertukaran duta besar untuk sepenuhnya memulihkan hubungan diplomatik mereka, meskipun pemulihan hubungan diplomatik ini bersyarat dan belum berlangsung secara resmi.