Sejumlah Besar Wilayah Provinsi Baghlan Diambil Alih Taliban

BAGHLAN (Jurnalislam.com) – Mujahidin Imarah Islam (Taliban) menyita 7 pos tempur musuh dan basis besar di distrik Khomri Poli provinsi Baghlan pada hari Rabu, menewaskan dan melukai puluhan pasukan boneka (Arbaki), Al Emarah News melaporkan, Kamis (06/10/2016).

Tentara musuh yang tersisa berhasil melarikan diri tanpa cedera, sementara Mujahidin menyita sejumlah besar senjata dan amunisi dari musuh, koresponden mengatakan.

Kemudian, 6 pasukan boneka tewas dan banyak lainnya yang terluka ketika musuh gagal saat mencoba mematahkan pengepungan mujahidin atas basis dan pos militer lain juga di distrik Khomri Poli.

Sebagai balasan, pasukan boneka dilaporkan menyerbu rumah-rumah warga sipil dan menimbulkan kerugian besar.

Pada Rabu malam, 7 pasukan boneka menyerahkan diri dan pos tempur mereka sambil membawa kendaraan dan senjata kepada Talibandi distrik Poli Khomri.

Kamis pagi, mujahidin Taliban kembali mematahkan serangan yang berusaha membongkar pengepungan Mujahidin atas pos tempur dan basis di distrik Poli Khomri, menewaskan dan melukai banyak pasukan boneka.

Dalam laporan dari kabupaten Baghlan-e-Markazi, sejumlah tentara boneka tewas dan terluka setelah mujahidin memukul mundur serangan pasukan boneka Kamis pagi. Dua tank lapis baja dan kendaraan militer hancur dalam pertempuran itu.

Secara terpisah, empat pasukan boneka terluka dengan tank juga hancur di distrik yang disebutkan.

Laporan terbaru menunjukkan Mujahidin Imarah Islam menyita 4 tank lapis baja, 1 kendaraan dan banyak senjata, amunisi dan peralatan militer lainnya serta menghilangkan sedikitnya 21 tank dan kendaraan milik musuh di distrik Baghlan-e-Markazi di utara provinsi Baghlan Kamis.

Sesuai laporan Al-Emarah News, Mujahidin terlibat dalam pertempuran mematikan di sepanjang jalan Shirkat setelah mengejutkan satuan tugas besar yang terdiri dari tank dan kendaraan militer pada Kamis malam, memicu pertempuran sengit yang menyebabkan kematian puluhan tentara Arbaki. 15 truk pasokan, 3 tank, 2 kendaraan militer dan 1 ambulans sepenuhnya hancur, sedangkan mujahidin merebut 4 tank militer dan 1 ambulans.

Pertempuran itu dikatakan masih berlanjut dan Mujahidin memusatkan perhatian pada sejumlah besar tank Arbaki dan kendaraan di darat.

Sementara di Parwan Al-Emarah News pada hari Kamis juga melaporkan 4 penjajah Amerika tewas ketika tank yang mereka tumpangi ditargetkan IED yang ditanam oleh Taliban di pinggir jalan di batas kota Charikar, ibukota provinsi Parwan kemarin malam.

Pada Kamis malam, Taliban merebut pangkalan udara Bagram, pangkalan udara pasukan AS terbesar yang terletak di distrik Bagram provinsi Parwan utara, kata sebuah laporan, tetapi tidak memberikan informasi jumlah kerugian yang tepat yang diderita agresor AS akibat mortar dan hantaman rudal yang mendarat di pangkalan.

Jelang Operasi Militer ke Mosul, Irak dan Turki Panggil Duta Besar Masing-masing

ANKARA (Jurnalislam.com) – Irak dan Turki pada hari Rabu (05/10/2016) memanggil duta besar mereka masing-masing dalam perang kata-kata antara kedua Negara tetangga menjelang operasi yang direncanakan untuk merebut kembali kota Mosul Irak dari Islamic State (IS), World Bulletin melaporkan.

Sengketa berpusat mengenai pasukan Turki yang dikerahkan di dekat Mosul, yang kehadirannya sangat ditentang Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi dan ia takutkan dapat menyebabkan “perang regional.”

Ankara memanggil duta besar Irak sementara Baghdad mengatakan telah memutuskan untuk memanggil utusan Turki setelah kedua Negara saling bertukar kalimat kritikan, kata kedua kementerian luar negeri.

Parlemen Turki pada akhir pekan memperpanjang mandat pemerintah selama satu tahun yang memungkinkan pasukannya untuk diturunkan di wilayah Irak dan Suriah.

Parlemen Irak mengutuk keputusan tersebut, menyerukan penarikan mundur pasukan Turki yang sudah ada.

“Kami tidak ingin memasukkan konflik regional,” kata Abadi dalam konferensi pers di Baghdad, mengatakan ia takut “petualangan Turki akan berubah menjadi perang regional.”

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah memperingatkan konsekuensi sektarian yang mungkin timbul dari operasi Mosul, mendorong kementerian luar negeri Irak untuk memanggil duta besar Turki atas “laporan Turki yang provokatif”.

Mosul, kota kedua Irak, dikuasai oleh kelompok IS pada tahun 2014.

Tapi Baghdad, dengan bantuan dari koalisi pimpinan AS, sekarang merencanakan operasi besar untuk merebut kembali kota, yang memiliki populasi dua juta sebelum invasi IS.

Ankara jelas tidak mau ketinggalan.

Ankara memiliki sejumlah tentara di kamp Bashiqa di Irak utara melatih pejuang Irak yang berharap ambil bagian dalam pertempuran untuk merebut kembali Mosul.

Wakil Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus mengatakan pasukan mereka tidak berencana untuk menjadi “pasukan pendudukan.”

“Di mana pemerintah Irak saat Daesh (IS) merebut Mosul dalam sehari … Kami mengalami kesulitan untuk memahami keputusan (dari parlemen Irak) ini,” katanya.

Abadi telah berulang kali menyatakan penentangannya terhadap kehadiran tentara Turki di wilayah Irak dan menuntut bahwa mereka harus ditarik.

Tapi pasukan Turki telah berada di daerah otonom Kurdistan Irak, yang pemerintahnya memiliki hubungan dekat dengan Ankara.

Anthony Skinner, kepala risiko politik di lembaga konsultan Verisk Maplecroft, mengatakan bahwa konflik militer dengan Turki adalah “hal terakhir yang mampu (Irak) hadapi.”

“Namun tidak menutup kemungkinan bahwa langkah-langkah diplomatik akan diambil oleh Baghdad terhadap Ankara,” katanya kepada AFP.

Erdogan mengusulkan pada akhir pekan bahwa pembebasan Mosul harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ikatan etnis dan agama dengan Mosul, yang keberatan dengan penggunaan milisi Syiah atau pasukan Kurdi anti Ankara.

Turki adalah negara Muslim Sunni dengan hubungan yang semakin dekat dengan pemimpin Muslim Sunni Arab Saudi.

Seperti yang ia lakukan berkaitan dengan Suriah, Erdogan mengisyaratkan dia sangat terganggu oleh penggunaan pasukan yang terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang telah melakukan pemberontakan 32 tahun di Turki dan memiliki markas paramiliter di Irak utara.

“Permainan yang dimainkan oleh milisi Syiah dan anggota organisasi teroris terkait dengan PKK – bertentangan dengan struktur sektarian dan etnis di kawasan itu, kepekaan budaya – pasti terganggu,” katanya.

Skinner mengatakan pemerintah AS “sangat tidak mampu menyeimbangkan” antara menjaga Ankara sebagai sekutu di Irak dan Suriah dan memberikan “dukungan” untuk milisi Kurdi yang dianggap sebagai kelompok teroris oleh Turki.

Menteri Pertahanan Turki Fikri Isik juga telah memperingatkan bahwa serangan terhadap Mosul bisa menyebabkan eksodus hingga satu juta warga Irak dan harus berada di dalam Irak.

“Sekutu kami perlu hati-hati mempertimbangkan bagaimana jika ada sampai satu juta pengungsi akibat operasi Mosul. Gelombang migrasi ini harus diselesaikan di dalam wilayah Irak,” katanya, Selasa, seperti dikutip kantor berita Dogan.

Dia mengatakan jika gelombang itu tidak dibatasi di Irak, akan menjadi “beban besar” bagi Turki yang juga akan mempengaruhi Eropa.

Ankara mengatakan bahwa mereka sudah menjadi tuan rumah bagi lebih dari tiga juta pengungsi, yang kebanyakan berasal dari Suriah yang melarikan diri dari peperangan selama konflik yang sudah berjalan lima tahun, dan sekitar 300.000 di antaranya adalah warga sipil dari Irak.

Analisis Satelit PBB: Konvoi Bantuan Kemanusiaan di Aleppo Dihantam Serangan Udara

JENEWA (Jurnalislam.com) – Analisis citra satelit serangan mematikan terhadap sebuah konvoi bantuan di Suriah bulan lalu menunjukkan bahwa itu adalah serangan udara, seorang ahli PBB mengatakan pada hari Rabu (05/10/2016), lansir Alajazeera.

Sedikitnya 20 orang tewas dalam serangan terhadap konvoi PBB dan Bulan Sabit Merah Suriah di Urm al-Kubra dekat kota utara Aleppo, yang menghancurkan 18 dari 31 truk, gudang dan klinik.

Amerika Serikat menyalahkan dua jet tempur Rusia yang dikatakan berada di atas daerah tersebut pada saat kejadian. Moskow membantah tuduhan itu dan mengatakan konvoi diserang tembakan.

“Melalui analisis kami menentukan bahwa itu adalah serangan udara, dan saya pikir beberapa sumber lain mengatakan hal yang sama,” Lars Bromley, penasehat penelitian di UNOSAT, mengatakan pada konferensi pers.

“Serangan udara biasanya terlihat dari ukuran dan jenis kawah yang dihasilkan,” katanya. Sebuah kawah raksasa di tanah “hampir pasti disebabkan [oleh] serangan udara yang menjatuhkan bom” berbeda dengan artileri atau mortir, katanya.

PBB sejauh ini hanya menyebut tertundanya konvoi mereka di Suriah disebabkan oleh “serangan,” sementara Federasi Internasional Palang Merah (the International Federation of Red Cross) dan Bulan Sabit Merah (the Red Crescent Societies) menyebut “serangan udara” dalam sebuah pernyataan.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada hari Jumat mengumumkan bahwa ia akan membentuk suatu dewan penyelidikan internal PBB untuk menyelidiki serangan itu dan mendesak semua pihak untuk bekerja sama penuh.

UNOSAT, yang meninjau gambar satelit, belum diminta untuk berbagi analisis dengan penyelidikan PBB, tapi siap untuk melakukannya, kata manajer UNOSAT Einar Bjorgo. “Gambar kami dari waktu ke waktu digunakan untuk membantu anggota Dewan Keamanan,” katanya dalam briefing.

Klaim PBB tentang serangan konvoi bantuan di Aleppo muncul saat pertempuran di provinsi kunci berlangsung intensif.

Sementara dalam perkembangan terbaru Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Observatory for Human Rights) mengatakan, tiga anak termasuk di antara sedikitnya 19 warga sipil yang tewas dalam serangan udara di sebuah desa di provinsi Aleppo utara, Rabu.

Serangan menghantam desa Thalthana, di provinsi Aleppo utara, kata lembaga monitor yang berbasis di Inggris tersebut.

Pesawat-pesawat Tempur Zionis kembali Serang Basis Hamas di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pesawat-pesawat tempur Israel serang beberapa posisi di Jalur Gaza yang diblokade, Rabu (05/10/2016), menurut saksi mata, Anadolu Agency melaporkan.

Jet militer zionis menargetkan pos komando Al-Qudisiya, yang dikuasai Brigade izzuddin al-Qassam, di kota Khan Younis di selatan Jalur Gaza, saksi mata mengatakan kepada Anadolu Agency.

Izzuddin al-Qassam adalah sayap militer gerakan perlawanan Palestina Hamas, yang telah memerintah Jalur Gaza sejak tahun 2007.

Saksi mata, yang berbicara secara anonim karena takut akan keselamatan mereka, juga mengatakan bahwa pesawat tempur Israel telah menyerang tanah kosong di sebelah timur pertanian di Kota Gaza.

Serangan udara terjadi tak lama setelah pasukan Israel dilaporkan menembaki sejumlah pos komando Al-Qassam di kota Beit Lahia di Jalur Gaza utara.

Serangan zionis yahudi itu dituduhkan sebagai pembalasan atas sebuah roket yang diduga ditembakkan ke Israel selatan dari dalam Jalur Gaza.

Rabu pagi, militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sebuah roket yang ditembakkan dari Gaza yang terkepung meledak di kota Sderot di selatan Israel.

Pada bulan Juli dan Agustus 2014, Israel melancarkan serangan militer berpekan-pekan ke arah Jalur Gaza dengan alasan membalas serangan roket dari wilayah Palestina.

Lebih dari 2.160 warga Palestina, kebanyakan warga sipil, tewas oleh serangan brutal jet tempur zionis – dan 11.000 lainnya terluka – selama serangan tersebut.

Menurut loporan Israel, 73 warga Israel – kebanyakan tentara – tewas dalam konflik 51 hari tersebut.

Mujahidin Taliban di Kunduz: ‘In Syaa Allah Besok Kita Rebut Gedung Putih’

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Saat pertempuran dalam kota Kunduz di Afghanistan utara berlanjut memasuki hari ketiga, seorang mujahidin Taliban yang ditempatkan di sana mengancam akan “mengambil alih Gedung Putih.”

Pertempuran yang sedang berlangsung secara langsung bertentangan dengan klaim militer AS yang mengatakan bahwa Kunduz telah “dibersihkan” dari Taliban tiga hari lalu, The Long War Journal melaporkan, Rabu (05/10/2016).

Seorang mujahidin Taliban yang tidak disebutkan namanya yang berada di Kunduz mengancam Amerika Serikat ketika sedang direkam di sebuah pos pemeriksaan di dalam kota. Video, yang diterbitkan oleh wartawan Afghanistan Ahmed Yar itu diterbitkan di Twitter.

“Saya katakan kepada Obama, hari ini kita mengambil alih Kunduz, besok … In syaa Allah kami akan merebut Gedung Putih,” kata mujahidin Taliban.

cua-qjsxyaa5ybw-jpg-smallMujahidin tersebut mengeluarkan ancaman kepada Amerika Serikat saat berjaga di pos pemeriksaan dan yang lainnya memeriksa mobil-mobil yang melewati jalan yang sibuk.

Setelah pada 3 Oktober awalnya menyangkal bahwa ada pertempuran di kota, Resolute Support, yang memimpin NATO di Afghanistan, mengakui bahwa pasukan Afghanistan “mengontrol Kunduz”. Namun, laporan dari Afghanistan menunjukkan bahwa pertempuran dalam kota masih terus berlangsung, dan Taliban masih tetap berada di Kunduz.

Kemarin, laporan dari Kunduz mengatakan bahwa pertempuran di Kunduz hanya terjadi di luar kompleks gubernur di pusat kota. Tidak jelas apakah situasi telah berubah menjadi lebih baik. Menurut TOLONews, “Warga dan personel keamanan juga mengatakan Taliban menguasai sebagian besar kota dan hanya bangunan kantor gubernur, markas NDS dan beberapa gedung pemerintah lainnya yang masih dalam kendali pasukan Afghanistan.”

Militer AS telah meluncurkan dua serangan udara di Kunduz, dan komandan pasukan Afghanistan mengatakan bahwa Taliban telah meluncurkan serangan dari selatan dan timur kota saat pasukan Afghanistan mulai meluncurkan “operasi pembersihan,” lapor The Associated Press.

Taliban menguasai Kunduz selama dua minggu musim gugur yang lalu, dan juga mengancam kota awal tahun ini dan kini menguasainya kembali setelah satu tahun pengepungan.

Ibukota provinsi Helmand dan Uruzgan juga di bawah ancaman langsung, dan laporan dari Baghlan menunjukkan bahwa Taliban bertempur di pinggiran Pul-i-Khumri memperoleh banyak kemajuan.

 

Operasi Kunduz: Mujahidin Taliban Kendalikan Titik-titik Strategis

KUNDUZ (Jurnalislam.com)Al-Emarah News, Selasa (04/10/2016) mengatakan kota Kunduz sekali lagi telah jatuh ke tangan Taliban di tengah pertempuran sengit yang berlangsung sejak kemarin,

Usaha pasukan pemerintah Kabul untuk maju menuju daerah penting dan merebut kembali titik-titik strategis yang dikuasai Taliban digagalkan dan pasukan Afghanistan terpaksa mundur meskipun mereka mendapat dukungan pasukan darat dan serangan udara penjajah AS.

Laporan menunjukkan Taliban menguasai tiga zona keamanan kota Kunduz, yaitu Bandar-e-Imam Sahib, Bandar-e-Khanabad dan wilayah di sekitar Bala Hisar Fort serta daerah di sekitar badan intelijen, Shirkat dan kantor gubernur.

Daerah yang dikuasai musuh yang tersisa berada di bawah pengepungan ketat Taliban yang memblokir pintu keluar dan rute melarikan diri musuh.

Laporan lebih lanjut mengatakan bahwa mujahidin mengambil alih basis utama yang dikenal sebagai Bacha Qalandar di daerah Gortifa di batas kota Kunduz serta sebuah pos tempur, membuat musuh terlibat dalam pertempuran mematikan 100 meter dari rumah gubernur, menimbulkan kematian sejumlah besar personil musuh dengan puluhan pasukan musuh lainnya juga terluka, koresponden Al Emarah menjelaskan.

Pasukan Afghanistan dan polisi yang gelisah mencari dukungan udara Amerika ‘untuk membom kota Kunduz, laporan itu lebih lanjut menambahkan.

Pasukan Afghnaistan di Kunduz, yang bisa berkomunikasi dengan Kabul, memastikan dukungan baru dari darat dan udara oleh penjajah AS tiap jam.

Mujahidin Imarah Islam dilaporkan terus membuat kemajuan atas pasukan Kabul di Kunduz dari berbagai arah dan kembali mengendalikan kota.

Kedutaan Rusia di Damaskus Dihantam Mortir

SURIAH (Jurnalislam.com) – Bom mortir menghantam kedutaan Rusia di ibukota Suriah Damaskus pada hari Selasa (04/10/2016), Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan, lansir World Bulletin, Selasa.

Sebuah mortir menghantam daerah perumahan di kompleks tersebut sementara dua lainnya mendarat di dekat gedung kedutaan. Belum ada laporan yang terluka dalam serangan, yang diluncurkan dari daerah yang dikontrol oleh faksi-faksi jihad termasuk Jabhat Fath al Syam, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, cabang al Qaeda di Suriah.

Kedutaan telah diserang sebelumnya. Kremlin adalah pendukung utama rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad dalam perang lima tahun di Suriah.

Pemimpin Senior Pemberontak Houthi Tewas di dekat Najran

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sumber-sumber keamanan telah mengkonfirmasi bahwa seorang pemimpin senior pemberontak Houthi tewas di garis depan dekat Najran di Yaman.

Abdullah Qayed al-Fadeea tewas Selasa (04/10/2016) pagi setelah pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi menargetkan dia dan konvoinya, lansir Al Arabiya News Channel, Selasa.

al-Fadeea dianggap salah satu jajaran tinggi milisi Houthi dan pemimpin pertempuran untuk sejumlah kelompok militer, serta wakil pengawas umum pada garis depan pertempuran di Najran.

Enam warga sipil tewas dan delapan lainnya terluka pada hari Senin ketika dua roket yang ditembakkan oleh pasukan Syiah Houthi menghantam pasar yang populer di Taez, kata sumber-sumber militer dan medis.

Tiga anak-anak termasuk di antara mereka yang tewas dalam ledakan di luar sebuah kantor pos di distrik Bir Bacha di kota barat daya, kata mereka.

Taez, kota ketiga negara itu, hampir sepenuhnya dikelilingi oleh pemberontak Syiah yang didukung Republik Syiah Iran dan sekutu mereka, pendukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Komisaris Tingggi HAM PBB Peringatkan Rusia atas Kejahatan Perang di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad memperingatkan Rusia pada hari Selasa (04/10/2016) atas penggunaan senjata pembakar di lingkungan sipil yang terkepung di Aleppo timur, dan mengatakan kejahatan yang dilakukan oleh satu pihak tidak berarti pihak yang lain dibolehkan melakukan tindakan ilegal lainnya, lansir Aljazeera Selasa.

Ratusan warga sipil telah tewas atau terluka dalam serangan udara sejak runtuhnya gencatan senjata dan pengumuman serangan rezim Suriah yang didukung Rusia bulan lalu untuk merebut kembali Aleppo.

Serangan berulang-ulang pada infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, telah menarik kecaman internasional – dan merupakan kejahatan perang.

Zeid mengatakan bahwa situasi di Aleppo menuntut inisiatif baru yang berani “termasuk usulan untuk membatasi penggunaan hak veto oleh anggota tetap Dewan Keamanan,” yang akan memungkinkan badan PBB untuk merujuk situasi di Suriah ke Mahkamah Pidana Internasional (the International Criminal Court-ICC).

“Rujukan seperti itu akan sangat berarti mengingat impunitas yang merajalela dan sangat mengejutkan yang terlihat dalam konflik dan besarnya kejahatan yang telah dilakukan, beberapa di antaranya kemungkinan memang merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya di sebuah pernyataan.

Rezim Assad dan sekutunya telah melakukan sebuah “pola serangan” terhadap sasaran yang memiliki perlindungan khusus di bawah hukum kemanusiaan internasional, termasuk unit medis, pekerja bantuan dan stasiun pemompa air, katanya.

Menurut Fadela Chaib, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (the World Health Organization-WHO), sedikitnya 342 orang, termasuk 106 anak-anak, telah tewas di Aleppo timur antara 23 September hingga 2 Oktober. Sebanyak 1.129 orang, termasuk 261 anak-anak, terluka.

Angka-angka tersebut didasarkan pada laporan dari pusat kesehatan yang masih berfungsi dan jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, kata Chaib.

“Sampai kemarin, kami hanya memiliki enam rumah sakit yang berfungsi, namun hanya satu rumah sakit yang menawarkan layanan trauma,” kata Chaib lagi.

Sementara itu, televisi rezim Suriah melaporkan pada Selasa bahwa penembakan oleh pejuang-pejuang oposisi menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 20 lainnya di wilayah yang dikuasai pemerintah rezim Assad di Aleppo.

pbb-hamSejak pertempuran pertama pecah di sana pada tahun 2012, Aleppo telah dibagi antara pejuang oposisi di timur dan tentara rezim Assad di barat.

Rusia adalah pemain kunci dalam perang Suriah berdasarkan dukungan militer mereka untuk Bashar al-Assad dan perannya sebagai salah satu dari lima kekuatan hak veto di Dewan Keamanan.

Penggunaan senjata sembarangan seperti senjata pembakar di daerah padat penduduk mendapat perhatian yang sangat besar, Zeid mengatakan, menggambarkan situasi tersebut mirip dengan pertempuran Warsawa, Stalingrad dan Dresden selama Perang Dunia Kedua.

“Saya mengingatkan kepada semua pihak tentang Negara Protokol III dari Konvensi Senjata Konvensional Tertentu (the Convention on Certain Conventional Weapons), termasuk Federasi Rusia, bahwa mereka dilarang menggunakan senjata pembakar dalam serangan udara di daerah padat penduduk, dan bahwa penggunaan senjata tersebut oleh pasukan darat sangat dibatasi,” kata Zeid.

Menengok Sejarah Islam Gujarat

INDIA (Jurnalislam.com) – Tepat 600 tahun yang lalu, empat orang bernama Ahmad berdiri di sisi sungai Sabarmati dengan tali di tangan untuk meletakkan dasar kota Ahmedabad. Kehadiran empat Ahmad bukannya kebetulan; mereka dipilih atas visi Sultan Gujarat Ahmad Shah I yang baru dinobatkan. Menurut visinya, kota pertama yang direncanakan di abad pertengahan India itu harus didirikan oleh empat orang bernama Ahmad yang tidak pernah meninggalkan salat wajib mereka. Setelah pencarian di Gujarat, empat Ahmad tersebut – Sultan Ahmad Shah I, Shaikh Ahmad Khattu dari Sarkhez, Qazi Ahmad Jod dari Patan, dan sarjana Malik Ahmad datang bersama-sama pada 7 Zil Qa’da 813 (2-3 Maret 1411) untuk membangun sebuah kota yang telah bertahan melalui pasang surut sejarah 600 tahun lamanya.

Tapi sejarah Islam Gujarat tidak dimulai dengan pembentukan Ahmedabad. Bahkan, umat Islam sudah ada di Gujarat selama 600 tahun sebelum tentara Allauddin Khilji muncul di wilayah ini di tahun 1297. Sama seperti umat Islam yang tiba di Malabar di Kerala, segera setelah Islam mulai menyebar di Semenanjung Arab, Muslim mulai membuat kehadiran mereka terasa di wilayah pesisir Gujarat. Muslim pertama yang datang ke Gujarat tampaknya di tahun 15 Hijriah atau 635 Masehi ketika gubernur Bahrain mengirimkan ekspedisi ke Thana dan Bhaurch. Kontak dengan Muslim terus berlanjut selama beberapa abad dalam bentuk serangan, perdagangan, dan migrasi.

 

menengok-sejarah-islam-gujarat-2

Setelah Sindh, kekuasaan Islam pertama yang didirikan di sub-benua India adalah di Gujarat. Kerajaan independen terbentuk di Sanjan, sebuah kota kecil di pantai. Tiga penguasanya, Fadl Ibn Mahan, Muhammad bin Fadl, dan Mahan bin Fadl bin Mahan memerintah berturut-turut dari 813 CE hingga 841 CE. Sanjan, yang disebut Sandan oleh orang Arab dalam catatan perjalanan penulis Arab dianggap sebagai pelabuhan penting dan kota industri.

Masjid Jami’ yang didirikan oleh dinasti Mahan terus berfungsi bahkan setelah dinasti berakhir. Penguasa Hindu lokal memperbolehkan penduduk Muslim hidup, berdagang, dan beribadah. Tapi Sanjan bukan satu-satunya kediaman Muslim. Historigrapher Abul Hasan Ali Masudi mencapai Cambay di 915 CE dan ia melihat sejumlah besar Muslim Arab menetap di Cambay, Chembur, Thana, Sopara, Sanjan, dan Bharuch. Dia menulis bahwa Muslim memiliki kehidupan yang terhormat di bawah raja-raja Hindu dan mereka telah membangun sejumlah Masjid untuk mendirikan shalat berjamaah.

Sejumlah Masjid ini bertahan, membuat Gujarat menjadi situs dari beberapa Masjid tertua India. Sanjan masih memiliki Masjid Jama yang berfungsi namun usianya tidak dapat dipastikan. Masjid tertua di Gujarat adalah Jama Masjid di Bharuch yang selesai pada tahun 1065. Struktur Islam yang kemungkinan tertua juga terletak di Bharuch, yaitu Madrasa Maulana Ishaq yang dibangun di 1038 CE. Kedua bangunan dibangun sebelum Muslim memerintah Bharuch.

Selain menarik pedagang dan migrasi, kekayaan Gujarat juga menjadi target yang menarik bagi Mahmood Ghaznavi yang menyerang kuil di Somnath di tahun 1024. Sekitar 150 tahun kemudian Shahabuddin Ghori juga menyerang Gujarat tetapi gagal dua kali dan baru pada tahun 1197 ketika jenderalnya Qutubuddin Aibak memiliki beberapa keberhasilan di Gujarat.

Kisah Gujarat modern tidak dimulai sampai terjadi pembentukan kedaulatan Kesultanan Gujarat oleh Muzaffar Shah I dengan menyatakan kemerdekaannya di 1407. Empat tahun kemudian cucunya Ahmad Shah I, pendiri Ahmedabad, menjadi Sultan dan mulai memberikan bentuk untuk daerah yang kita kenal sebagai Gujarat saat ini.

province_of_guzerat_gujarat_india_1896