Operasi Militer Terbaru: Taliban Rebut Kabupaten Ghormach

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Mujahidin Imarah Islam (Taliban) merebut Kabupaten Ghormach di provinsi Faryab barat-laut Afghanistan, Selasa, setelah pertempuran sengit dengan pasukan Nasional Afghanistan (ANA), Aljazeera melaporkan, Selasa (11/10/2016).

Anggota dewan provinsi mengkonfirmasi ke Al Jazeera bahwa Taliban merebut kendali dari kabupaten Ghormach setelah pasukan Afghanistan mundur, menambahkan bahwa beberapa tentara telah tewas dan senjata disita.

“Juru bicara Pemerintah provinsi mengatakan bahwa pagi ini sejumlah besar Taliban menyerang pusat kota dan merebut kota … Dia mengatakan Taliban mengambil posisi di daerah pemukiman dan bahwa pasukan Afghanistan harus mundur dari pusat kota untuk menghindari jatuhnya korban sipil,” kata reporter Al Jazeera Qais Azimy, melaporkan dari Kabul.

“Ghormach adalah kabupaten yang sangat strategis karena berbatasan dengan Turkmenistan dan sangat penting untuk mengontrol perbatasan dengan negara Asia Tengah. Kami perkirakan pertempuran akan terus berlangsung selama beberapa hari mendatang.”

Taliban telah melancarkan perlawanan terhadap pemerintah Kabul yang didukung Barat (AS – NATO) sejak digulingkan dari kekuasaan oleh invasi pimpinan AS pada tahun 2001. Taliban telah mengintensifkan serangan dan menekan pasukan nasional Afghanistan dukungan AS di berbagai bidang di seluruh negeri dalam beberapa bulan terakhir.

Di distrik Tirankot provinsi Uruzgan, sedikitnya 100 polisi Afghanistan menyerah dan bergabung kepada Taliban pada hari Selasa.

“Mereka dikepung oleh Taliban selama sedikitnya satu bulan dan tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari pemerintah pusat, anggota parlemen provinsi mengatakan, dan itu sebabnya mereka menyerah kepada Taliban membawa serta peralatan tempur mereka,” kata Azimy.

“Kami juga mendapatkan laporan dari Afghanistan barat di provinsi Farah bahwa ratusan Taliban telah berkumpul untuk menyerang pusat provinsi di kota Farah dan bahwa pasukan ANA mengalami kesulitan memerangi mereka.”

Sedikitnya 96 tentara ANA tewas dalam sepekan terakhir dalam pertempuran dengan Taliban, menurut kementerian pertahanan Afghanistan.

Sementara itu, ratusan pasukan komando Afghanistan yang didukung oleh kekuatan udara NATO pada hari Selasa dikerahkan untuk mendorong mujahidin Taliban dari kota selatan Lashkar Gah setelah 14 orang Serdadu Kabul tewas dalam serangan terkoordinasi Taliban.

Serangan Senin merupakan upaya terbaru Taliban untuk merebut ibukota provinsi Helmand, menggarisbawahi terbukanya keamanan saat Talibanmemperluas kendalinya di seluruh provinsi tersebut.

“Lebih dari 300 pasukan komando … telah dikerahkan ke kota untuk mencegah kemajuan Taliban,” kata Abdul Jabar Qahraman, utusan khusus pemerintah untuk keamanan di Helmand.

Juru bicara provinsi Omar Zwak mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pasukan komando tersebut dikirim dari Kabul dan provinsi tetangga untuk meluncurkan “operasi sapu bersih” di Lashkar Gah setelah serangan Taliban, yang menewaskan 10 pasukan lokal dan empat orang serdadu lainnya.

“Pasukan keamanan segera akan menetralisir seluruh kota dari Taliban,” kata Zwak.

Sekitar 30.000 orang telah mengungsi dari Helmand dalam beberapa pekan terakhir dan sebagian besar telah mengungsi diri ke Lashkar Gah. Tapi kota itu praktis telah dikepung, dan jalan-jalan di kabupaten tetangga dikuasai oleh para mujahidin Taliban.

Intervensi di Helmand telah memicu persepsi bahwa kekuatan asing semakin sering ditarik kembali ke dalam konflik saat pasukan Afghanistan berjuang untuk bertempur melawan Taliban.

Serangan Senin pagi itu juga menggarisbawahi dorongan Taliban yang berkelanjutan ke dalam pusat-pusat kota, yang terjadi seminggu setelah mereka sempat menyerbu ke Kunduz di utara dan menguasainya.

Pada hari Sabtu Jenderal John Nicholson, komandan militer NATO di Afghanistan, terbang dengan menteri pertahanan Afghanistan ke Lashkar Gah untuk meyakinkan para tetua provinsi bahwa kota Lashkar Gah tidak akan jatuh.

Taliban secara efektif mengontrol atau memperebutkan 10 dari 14 kabupaten di Helmand, provinsi paling mematikan bagi pasukan Inggris dan AS selama dekade terakhir dan dirusak oleh panen opium besar yang membantu mendanai pemberontakan.

Pada bulan Agustus, Washington mengerahkan sekitar 100 pasukan khusus AS ke Lashkar Gah, yang merupakan penyebaran pasukan besar pertama AS ke kota sejak pasukan asing menarik diri pada tahun 2014.

Dalam beberapa bulan terakhir, para mujahidin Taliban telah menyerbu ibukota provinsi lainnya, mulai dari Kunduz dan Baghlan di utara hingga ke Farah di barat.

4 Juta Pengikut Syiah Iran Rencanakan Kudeta di Nigeria

NIGERIA (Jurnalislam.com) – Gerakan Syiah yang dibiayai dan dilatih Iran, Gerakan Syiah Nigeria (the Islamic Movement of Nigeria-IMN), berjanji akan menciptakan “tragedi monumental” jika pemimpin kelompok fanatik mereka yang dipenjara, Zakzaky, terus berada dalam tahanan.

Pekan ini, gerakan sekte Syiah radikal, yang diperkirakan beranggota lebih dari empat juta, bermaksud untuk turun di Abuja untuk menghasut pemberontakan Khomeinist. Mereka mengklaim bahwa aksi itu akan berlangsung damai, tetapi kelompok yang didukung Iran tersebut siap melepaskan konfrontasi kekerasan dengan warga Muslim (Sunni) untuk menegaskan kontrol mereka atas jalan-jalan. Banyak yang takut kekacauan berdarah akan terjadi saat radikal Syiah berjanji untuk “menyerbu” ibukota.

Zakzaky ditahan sejak Desember 2015 menyusul bentrokan antara tentara dan preman bersenjata Syiah IMN, yang memblokir dan menyerang konvoi pemimpin militer. Kaum Muslim yang tinggal di daerah kubu IMN menuduh IMN menjalankan pemerintahan paralel penuh pemerasan dan teror.

Sebuah penyelidikan komisi yudisial yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian Kaduna untuk menyelidiki bentrokan menyalahkan Zakzaky atas insiden yang menyebabkan hilangnya 348 nyawa pengikut sekte Syiah. Penyelidikan melaporkan bahwa “IMN terkenal karena sering melontarkan pidato kebencian dan berbahaya yang memprovokasi umat Islam … Anggota IMN berutang kesetiaan mutlak kepada pendeta Sekte Syiah El-Zakzaky.

Karena itu ia memikul tanggung jawab untuk semua tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh IMN sehingga harus bertanggung jawab, diselidiki dan dituntut sepenuhnya.”

Tapi insiden tersebut termasuk kecil dibandingkan dengan kemampuan kelompok ekstremis Syiah yang kuat dan beranggota empat juta orang, yang berencana meniru revolusi Syiah di Iran. Iran mengkooptasi Zakzaky – segera setelah Revolusi 1979 dan ia telah menjadi bagian penting dari strategi rezim untuk mengidentifikasi rekrutan dan menciptakan serta memperluas sel militan Syiah.

Kemajuan yang diperoleh Iran di Nigeria adalah hasil penggunaan soft power Republik Syiah Iran di Afrika selama lebih dari tiga dekade.

 

Israel Culik 54 Warga Palestina setelah Penembakan

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan Penjajah Israel (Israeli Occupation Forces-IOF) pada Senin pagi (10/10/2016) menyerang beberapa bagian Tepi Barat dan Yerusalem, menculik puluhan dan melukai beberapa warga Palestina lainnya dalam bentrokan, World Bulletin melaporkan, Senin.

Di desa Azzoun di utara Qalqilia, IOF menculik warga Palestina dan menutup bengkel bubut, menyita peralatan, mengklaim bahwa bengkel itu menghasilkan senjata.

Seorang pria Palestina ditembak mati setelah ia dituduh menembaki pemukim zionis Yahudi, melukai lima orang, dua di antaranya kemudian tewas menyerah kepada luka-luka mereka.

Penembakan itu terjadi di Bukit Amunisi (Ammunition Hill) di Yerusalem pada hari Ahad pagi.

Sumber-sumber zionis mengatakan bahwa seorang warga Palestina, berusia 39 tahun dari kota Silwan di Yerusalem, mengemudikan mobilnya di Yerusalem sambil melepaskan tembakan, melukai satu orang, dan terus mengemudi menuju kawasan Sheikh Jarrah sementara polisi mengejarnya dan menembaknya mati.

Selain itu, IOF masuk ke desa Surif di utara Hebron, menggerebek rumah-rumah dan menculik para pemuda.

Sumber-sumber lokal juga mengatakan tentara zionis menyerbu beberapa tempat di kamp pengungsi Tulkarem, dan lingkungan Thiab di kota, dan bentrok dengan puluhan anak muda yang melemparkan batu dan botol kosong ke arah kendaraan militer.

IMEMC mengatakan bahwa tentara menembakkan puluhan bom gas, peluru baja berlapis karet dan beberapa butir amunisi hidup, menyebabkan banyak orang Palestina menderita luka serius dan efek berat dari inhalasi gas air mata.

Petugas medis memberikan perawatan yang dibutuhkan untuk warga Palestina yang terluka, dan memindahkan seorang anak ke rumah sakit setelah ia tidak dapat bernapas.

 

Lagi, Militer Turki Hancurkan 98 Target IS di Suriah Utara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Militer Turki menghantam sedikitnya 91 target kelompok Islamic State (IS) di Suriah utara pada Senin sebagai bagian dari Operasi Perisai Efrat (Euphrates Shield) yang sedang berlangsung, menurut militer, lansir World Bulletin, Selasa (11/10/2016).

Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Selasa, Angkatan Bersenjata Turki mengatakan 91 target IS telah terkena Firtina howitzer (badai) serta tembakan tank, roket dan mortir. Tidak ada informasi lebih lanjut.

Pernyataan itu mengatakan jet Turki juga telah menghancurkan tujuh target IS dalam sebuah operasi udara di kawasan itu.

Operasi Perisai Efrat Turki, yang diluncurkan pada 24 Agustus, bertujuan untuk memperkuat keamanan wilayah perbatasan dan menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh organisasi-organisasi ekstremis, terutama IS dan PYD (PKK).

Sebanyak 132 daerah pemukiman di zona sebesar hampir 1.100 kilometer persegi (425 mil persegi) di Suriah utara telah dikuasai sejak awal operasi, kata pernyataan itu.

Operasi ini sejalan dengan hak negara untuk membela diri yang tertuang dalam perjanjian internasional dan mandat yang diberikan kepada angkatan bersenjata Turki oleh parlemen pada tahun 2014, yang telah diperpanjang satu tahun lagi di September 2015.

Jund al Aqsha Serahkan 57 dari 230 Tahanan Ahrar al Syam kepada JFS

SURIAH (Jurnalislam.com)Jund al Aqsha menyerahkan 57 tahanan Ahrar al Syam kepada Jabhat Fath al Syam (JFS) setelah ketegangan baru meletus di Suriah utara antara sejumlah faksi jihad dengan Jund al Aqsha, yang berlangsung selama tiga hari sebelum JFS turut campur menyelesaikan masalah dan membuat kesepakatan dengan faksi-faksi jihad untuk membubarkan faksi Jund al-Aqsha, ElDorar AlShamia melaporkan, Selasa (11/10/2016).

Sumber jaringan berita ElDorar menjelaskan bahwa JFS telah menerima 57 tawanan yang dibebaskan oleh Jund al-Aqsha. Dari 230, tersisa 173 tahanan yang akan diserahkan kepada Ahrar al Syam besok pagi, sedangkan batas waktu pembebasan tahanan, sesuai dengan perjanjian sebelumnya telah berakhir.

JFS telah menandatangani perjanjian dengan faksi-faksi Jaysh al-Mujahidin, Nur al-Din Al-Zanki, al-Jaba al-Shamia, Ahrar al-Syam, Soqour al-Syam, Jaysh al-Islam, Fastaqem gathering, Faylaq al-Syam.

Perjanjian tersebut juga menyepakati untuk menghentikan ketegangan dan menegaskan bahwa semua tahanan segera dibebaskan dalam waktu 24 jam kecuali mereka yang memiliki hubungan dengan kelompok Islamic State (IS).

Selain itu juga disepakati pembentukan komite peradilan yang mencakup perwakilan dari faksi-faksi jihad serta perwakilan dari Jabhat Fath al Syam dan orang-orang yang netral untuk menyelidiki insiden pembunuhan tahanan oleh Jund al Aqsha yang diduga disusupi oleh kelompok IS dan Komite ini akan bertemu dalam waktu maksimal 48 jam.

 

Perwira Garda Revolusi Iran ini Dibunuh karena Tolak Ikut Berperang ke Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Koran Timur Tengah mengungkapkan rincian pembunuhan yang menewaskan seorang perwira dari Garda Revolusi Iran (Iran’s Revolutionary Guard-IRGC) karena ia menolak untuk pergi ke Suriah, bersama rombongan pasukan yang meninggalkan Iran hari Kamis sebelumnya untuk bergabung bertempur bersama rezim Nushairiyah Assad, lansir ElDorar AlShamia Senin (10/10/2016)

Surat kabar itu mengutip sumber yang dekat dengan keluarga “Mohammad Reza Hamidawi,” dari pusat Korps Pengawal Revolusi Iran “al-Khalifa”, bahwa Pengawal Intelijen membawanya ke tempat yang tidak diketahui. Setelah keluarganya mencari dia dan saudaranya di pusat Garda Revolusi, pasukan intelijen membawanya ke sebuah penjara di mana ia menemukan saudaranya tewas dengan leher terdapat bekas jeratan tali, serta tubuh yang memar, dan mereka mengatakan kepadanya bahwa saudaranya telah melakukan bunuh diri.

Menurut sumber, “Hamidawi” bersama sejumlah petugas menjalani pelatihan intensif di pusat Omidiyeh untuk mengirim mereka ke Suriah, tapi ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia menolak ide tersebut dan menolak pergi, saat sumber menunjukkan bahwa keluarga “Hamidawi” ditekan oleh Garda Revolusi agar tidak mengumumkan atau melaporkan tentang insiden itu secara resmi atau untuk tidak berbicara kepada media.

Enam bulan terakhir terjadi peningkatan kekalahan Garda Revolusi Iran di Suriah, di mana media Iran hampir setiap hari mengumumkan lebih banyak kematian perwira tinggi dan penasihat militer.

Ahrar al Syam Rilis Pengakuan Mengejutkan Pasukan Penyusup IS (video)

SURIAH (Jurnalislam.com) – Media Office milik faksi jihad Ahrar al Syam menyiarkan rekaman yang menunjukkan “Hussein al-Ismaeil”, dari kota Kafr Nbl di Pedesaan Idlib, mengakui bahwa ia adalah elemen pasukan Islamic State (IS) yang direkrut untuk menyusup dan menargetkan faksi jihad Suriah di provinsi Idlib, dan menyerang penjara “al-Ukab” milik Jabhat Fath al Syam (JFS), ElDorar AlShamia melaporkan Senin (10/10/2016).

Ismaeil menjelaskan dalam pengakuannya bahwa ia direkrut oleh seseorang yang bekerja dengannya di sebuah restoran, kemudian bersama dengan lebih dari 20 orang dari pedesaan Idlib menuju kota “al-Tabqa” di provinsi Raqqa, dan bergabung dengan korps “al-Qa’qa’a” yang dipimpin langsung oleh “Abu Muhammad al-Adnani” yang terbunuh beberapa pekan lalu.

Menurut Ismaeil ia kembali ke provinsi Idlib lalu bertemu dengan Abu Walid Dabeq, seorang pemimpin Jund al-Aqsha, yang menerima Ismaeil dan sejumlah rekrutan lainnya di kantor pusat Pasukan Eksekutif untuk Jund al-Aqsha di kota al-Taman’a untuk bergabung, Ismaeil mulai menyusup untuk melakukan serangkaian operasi bom mobil di markas Faylaq al-Syam, dan menargetkan beberapa kendaraan milik faksi militer yang terlepas dari afiliasi, mendistribusikan makanan beracun (pai daging), yang telah dicampur dengan zat mematikan arsenik bagi faksi yang berkoalisi dengan JFS.

Ismaeil mengaku mencoba menanam bom dengan cara yang biasa digunakan oleh JFS, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah di setiap markas mereka, sebelum ia ditangkap, ia menjelaskan bahwa ia juga menanam bom bersama kelompoknya di salah satu markas Jund al-Aqsha di jalan Murek di Pedesaan Hama ketika mereka merasa terancam.

hrk_2
Lihat video disini: Ahrar al Syam Rilis Pengakuan Mengejutkan Pasukan Penyusup IS

Pertempuran Sengit Berkecamuk di Gedung Pemerintah India di Kashmir

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Polisi India mengatakan pasukannya memerangi kelompok orang bersenjata di dalam gedung pemerintah di wilayah Kashmir yang dikuasai India.

Polisi mengatakan kepada kantor berita Associated Press pada hari Senin (10/10/2016) bahwa tentara dan paramiliter tentara mengepung kompleks setelah tembakan terdengar dekat kota Pampore, sekitar 10 km di luar Srinagar, ibukota Kashmir India.

Seorang tentara dilaporkan terluka dalam pertempuran awal.

Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sedikitnya dua gerilyawan diduga bersembunyi di dalam Lembaga Pengembangan Kewirausahaan, dan bahwa penembakan intermiten bisa didengar di dalam gedung.

Serangan itu terjadi saat Kashmir melancarkan protes terbesar melawan penjajahan India dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh pembunuhan pada bulan Juli terhadap seorang komandan mujahidin populer oleh tentara India.

Protes, dan tindakan keras militer melumpuhkan kehidupan di Kashmir yang dikuasai India, dengan toko-toko, sekolah dan sebagian besar bank yang tersisa tutup dan ponsel serta internet hanya bekerja sebentar-sebentar.

Kashmir terbagi antara India dan Pakistan sejak akhir pemerintahan Inggris pada tahun 1947. Kedua Negara mengklaim wilayah itu secara penuh.

Sentimen anti-India merebak luas di Kashmir, di mana kelompok pejuang telah bertempur merebut kemerdekaan melawan pasukan India atau merger dengan Pakistan sejak tahun 1989. Lebih dari 70.000 orang telah tewas sejak itu.

Ketegangan antara kedua Negara tetangga bersenjata nuklir tersebut melonjak setelah serangan bersenjata bulan lalu di sebuah pangkalan militer India menewaskan 19 tentara India dimana kedua kelompok terlibat saling tembak berat dan mortir melintasi perbatasan de facto di Kashmir hampir setiap hari.

Advokasi Internasional untuk Muslim Rohingya Laporkan Pembantaian Baru sedang Terjadi di Myanmar

ANKARA (Jurnalislam.com) – Kelompok advokasi Rohingya di seluruh dunia menyuarakan keprihatinan bahwa tentara melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap kelompok minoritas Muslim menyusul tewasnya sembilan polisi di Myanmar, Anadolu Agency melaporkan Senin (10/10/2016).

Sembilan polisi tewas bersama delapan orang bersenjata di tiga serangan terpisah di pos-pos polisi di perbatasan Myanmar-Bangladesh di barat negara bagian Rakhine Ahad pagi.

Pada hari Senin, sebuah pernyataan dari kelompok berjudul “Berhenti Membunuh Rohingya di Arakan yang Tidak Bersalah (Stop Killing Innocent Rohingya in Arakan)” mengatakan bahwa setelah serangan, lebih dari 10 Rohingya tidak bersalah dibantai oleh pasukan militer dan polisi Myanmar (Arakan adalah nama kolonial Inggris untuk Rakhine).

“Penangkapan massal juga sedang berlangsung,” kelompok itu menyatakan, menambahkan bahwa banyak wanita Muslim Rohingya juga telah ditangkap di desa Wabek di Kota Maungdaw di Rakhine.

“Dalam beberapa jam terakhir tujuh Rohingya ditembak mati oleh pasukan militer di desa Myo Thugyi di Maungdaw.

Meskipun polisi menangkap dua gerilyawan selama serangan, pihak berwenang belum mengkonfirmasi kelompok yang bertanggung jawab.

“Kami tidak yakin bahwa para penyerang berasal dari RSO, tetapi mereka meneriakkan kata ‘Rohingya’ selama serangan,” kata Kepala Polisi Zaw Win dalam konferensi pers Ahad, mengacu pada Organisasi Solidaritas Rohingya (Rohingya Solidarity Organization-RSO).

RSO adalah kelompok gerilyawan yang mengambil nama dari kelompok minoritas Muslim Rohingya, Rohingya digambarkan oleh PBB sebagai salah satu kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia.

Meskipun sebagian besar ahli percaya keberadaannya adalah sebuah mitos, pemerintah telah mengklasifikasikan RSO sebagai kelompok gerilyawan dan pejabat menyalahkan RSO melakukan serangan baru di daerah perbatasan.

Pernyataan itu mengaku tidak ada organisasi bersenjata Rohingya yang mereka ketahui, tetapi organisasi bersenjata non-Rohingya lainnya ada di Rakhine.

“Tampaknya beberapa pejabat keamanan atau pemerintah daerah secara pribadi mengarahkan media bahwa orang Rohingya yang melakukan serangan itu. Tidak ada bukti untuk ini,” tambahnya.

“Mereka mungkin melakukannya karena serangan itu terjadi di daerah Rohingya, atau menggunakan serangan itu sebagai dalih untuk melakukan tindakan keras terhadap Rohingya.”

Kelompok ini meminta Aung San Suu Kyi yang mengatur Liga Nasional untuk Demokrasi untuk mengambil langkah-langkah segera untuk memastikan aturan hukum diikuti oleh militer, polisi dan pasukan keamanan lainnya dan meminta masyarakat internasional untuk campur tangan dengan pemerintah untuk memastikan itu memberlakukan aturan hukum.

“Aksi juga harus diambil terhadap nasionalis yang mencoba untuk mengeksploitasi kematian polisi ini untuk menyiapkan kebencian dan kekerasan anti Rohingya dan anti-Muslim,” katanya.

Pernyataan itu ditandatangani oleh organisasi Rohingya dari Inggris, Denmark, Jepang, Australia, Jerman, Swiss, Norwegia, Finlandia, Italia, Swedia, Belanda, Malaysia, dan Komite Pengungsi Muslim Rohingya.

Perancis Serukan Penyelidikan atas Kejahatan Perang di Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Prancis mengumumkan akan meminta pengadilan pidana internasional untuk menyelidiki kemungkinan kejahatan perang di Aleppo Suriah, lansir Aljazeera, Senin (10/10/2016).

Timur kota Aleppo yang dikuasai pejuang Suirah, yang telah dikepung sejak awal September, menjadi fokus serangan pemboman udara intensif oleh jet tempur Rusia dan Suriah.

Sebaliknya, pejuang anti rezim Assad mencoba mematahkan pengepungan dan berupaya menghubungkan wilayah lain yang dikuasai oposisi di sebelah barat Aleppo, yang merupakan kota kedua Suriah.

“Kami tidak setuju dengan yang dilakukan Rusia, membombardir Aleppo. Prancis berkomitmen untuk menyelamatkan penduduk Aleppo,” Jean-Marc Ayrault, menteri luar negeri Perancis, mengatakan kepada radio Inter Perancis pada hari Senin.

Dia mengatakan Presiden Francois Hollande akan memperhitungkan situasi di Aleppo untuk memutuskan apakah akan menemui rekan Rusia-nya Vladimir Putin ketika Putin berkunjung ke Paris pada tanggal 19 Oktober.

“Jika presiden memutuskan [untuk bertemu dengan Putin], maka pertemuan itu tidak akan berisi pembicaraan basa-basi,” kata Ayrault.

Pasukan rezim Suriah yang didukung Rusia telah membombardir dalam serangan baru selama dua pekan di Aleppo, merebut wilayah utara dan mendorong kembali garis depan di pusat kota.

Namun, kabupaten selatan Sheik Said pada hari Senin jatuh ke tangan koalisi mujahidin Suriah setelah mereka mengalahkan kelompok bersenjata asing pro-rezim Assad yang berusaha untuk mempertahankannya.

Sebuah sumber oposisi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa lebih dari 20 pasukan pro-rezim Nushairiyah dari milisi Syiah Irak tewas dalam bentrokan.

Sejak awal serangan militer Suriah pada 22 September, beberapa hari setelah gencatan senjata yang ditengahi AS-Rusia runtuh, sedikitnya 290 orang – warga sipil – telah tewas di daerah yang dikuasai pejuang Suriah di Aleppo ini, 57 dari mereka anak-anak, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (to the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR).

Pada hari Sabtu Rusia memveto resolusi Perancis yang menuntut segera diakhirinya serangan udara dan penerbangan militer atas Aleppo, dan untuk mengupayakan gencatan senjata, serta akses bantuan kemanusiaan di seluruh Suriah.

Resolusi saingan yang didukung Rusia juga gagal.

Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menawarkan secercah harapan, mengumumkan selama pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istanbul pada hari Senin bahwa kedua negara telah sepakat untuk bekerja sama memberikan bantuan kepada Aleppo.

Sesuai kesepakatan tersebut, Rusia pada hari Senin mengumumkan pembentukan sebuah pangkalan militer permanen di Suriah.

Langkah, yang diumumkan oleh Nikolai Pankov, Wakil Menteri Pertahanan negara itu, menunjukkan bahwa Rusia membangun kekuatan di Suriah meskipun menarik sebagian pasukannya pada bulan Maret.

“Dengan melakukan itu Rusia tidak hanya meningkatkan potensi militernya di Suriah tetapi di seluruh Timur Tengah,” Senator Igor Morozov, anggota majelis tinggi parlemen Komite Urusan International (International Affairs Committee), mengatakan kepada kantor berita RIA.