Pasukan Peshmerga Umumkan Pengambilalihan Penuh Kota Bashiqa dari IS

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan Peshmerga Kurdi pada hari Selasa “sepenuhnya membebaskan” kota Bashiqa di timur laut Mosul, pejabat Pemerintah Daerah Kurdi (Kurdish Regional Government-KRG) mengatakan, Anadolu Agency melaporkan, Selasa (08/11/2016).

Jabar Yawar, kepala Kementerian Peshmerga KRG, mengatakan distrik Bashiqa telah sepenuhnya dibersihkan dari unsur Islamic State (IS) setelah pasukan Peshmerga merebut pusat kota Senin.

Pasukan Peshmerga, kata dia, saat ini sedang membersihkan daerah dari ranjau darat dan booby-traps (perangkap/jebakan) yang ditanam oleh anggota kelompok IS.

Menurut koresponden Anadolu Agency di Bashiqa, pertempuran terus terjadi secara sporadis antara pasukan Peshmerga dan IS yang bersembunyi di rumah-rumah dan terowongan.

Kota Bashiqa yang mayoritas dihuni etnis Ezidi terletak sekitar 12 kilometer (kira-kira 8 mil) di timur laut Mosul, benteng terakhir IS di Irak utara.

Turki telah lama memiliki misi pelatihan militer di dekat Camp Bashiqa, di mana tentara Turki telah melatih baik pasukan Peshmerga maupun relawan suku lokal dalam hal teknik tempur.

Dalam beberapa bulan terakhir, kehadiran misi di Irak utara telah meningkatkan ketegangan antara Baghdad dan Ankara di tengah seruan oleh beberapa anggota parlemen Irak agar pasukan Turki menarik diri dari daerah tersebut.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS – melancarkan operasi luas yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul.

Pada pertengahan 2014, IS merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sebelum menduduki sejumlah luas wilayah di utara dan barat negara itu.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, beberapa bulan terakhir telah merebut kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul dan di provinsi Anbar, Irak barat.

Terkait Mosul, Komandan Militer Iran Bertemu Langsung Pemimpin PKK di Irak

ERBIL (Jurnalislam.com) – Komandan Pasukan elit Syiah Iran, Quds Force dari Garda Revolusi Iran, Qasem Soleimani, baru-baru ini bertemu Cemil Bayik, pemimpin kelompok ektremis PKK, di kota utara Irak Al-Sulaymaniyah, website Kurdi melaporkan, lansir Anadolu Agency, Selasa (08/11/2016).

Menurut situs basnews, Soleimani meminta Bayik mengirim gerilyawan PKK di Sinjar untuk ambil bagian dalam operasi berkelanjutan yang bertujuan merebut kota Mosul di utara Irak dari kelompok Islamic State (IS).

Terkait dengan Partai Demokrat Kurdi (PPK), website basnews berbasis di wilayah semi-otonom Kurdi di Irak utara.

Sementara di Al-Sulaymaniyah (yang juga terletak di wilayah Kurdi), Soleimani dilaporkan berjanji kepada Bayik bahwa Iran akan meningkatkan dukungan keuangan dan militer kepada PKK jika pasukan kelompok itu ambil bagian dalam operasi Mosul.

Dia juga dilaporkan meminta Bayik untuk meningkatkan kehadiran PKK di wilayah Irak yang jatuh dalam lingkup pengaruh Iran.

Menurut website, pertemuan langsung tersebut terjadi setelah anggota pemerintah pusat Irak “menyediakan fasilitas bagi PKK di Baghdad untuk membangun markas militer dan politik.”

Namun, Shahfan Abdullah, seorang anggota parlemen untuk PPK yang juga anggota komite keamanan dan pertahanan parlemen Irak, menunjukkan bahwa, menurut kesepakatan dengan koalisi operasi Mosul, militan PKK akan ditargetkan (diserang) jika mendekati Mosul dari wilayah Sinjar Mountain.

Ini, kata dia, tidak hanya berlaku untuk PKK, tetapi juga untuk milisi Syiah Hashd al-Shaabi dan kelompok yang berafiliasi.

Didirikan pada pertengahan 2014 dengan tujuan memerangi IS, Hashd al-Shaabi adalah kelompok payung milisi Syiah pro-pemerintah.

Abdullah melanjutkan untuk menegaskan bahwa para ahli militer Iran baru-baru ini mengunjungi garis depan Mosul dan mengadakan sejumlah pertemuan dengan para pemimpin Hashd al-Shaabi.

Muslim AS Hadapi Pilihan Sulit dalam Pemilu

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Saat warga Amerika pergi ke tempat pemungutan suara hari Selasa untuk memilih presiden baru, umat Islam menemukan diri mereka berada di antara batu dan dinding keras.

Itu bukan istilah untuk mengatakan bahwa mereka ragu-ragu, tetapi mereka juga memiliki sentimen yang sama dengan beberapa warga Amerika lain: Mereka percaya bahwa mereka tidak memiliki pilihan yang baik dalam memilih calon untuk mereka dukung.

Pemilih muslim sebagian besar mendukung kandidat Demokrat sejak Presiden Republik George W. Bush menyatakan “perang melawan teror” pada Oktober 2001 dan berakibat negara-negara Islam menanggung beban keputusan itu.

Presiden Barack Obama memenangkan dukungan besar dari 3 juta Muslim Amerika, dengan hampir 89 persen suara untuk Obama pada tahun 2008 dan 85 persen pada 2012, menurut jajak pendapat oleh kelompok advokasi utama Dewan Hubungan Muslim Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations-CAIR).

Tahun ini, data CAIR menunjukkan dukungan lebih condong bagi calon Demokrat Hillary Clinton, yang juga calon perempuan pertama kalinya dari partai besar. Tapi itu bukan keseluruhan cerita.

“Saya tidak berpikir Hillary Clinton adalah calon yang menarik. Pada kenyataannya, fakta bahwa dia hanya ‘menarik’ dibandingkan dengan Donald Trump yang meresahkan,” Sara Zayed, seorang analis teknologi di Wall Street berusia 22 tahun mengatakan kepada Anadolu Agency, Senin (07/11/2016), “Kebijakan luar negerinya juga militan dan sering menyakitkan perempuan dan anak-anak, yang kontras dengan pesannya yang ‘feminis’.”

Perkataan Zayed serupa dengan spektrum luas kelompok pemilih Muslim yang sangat beragam.

Dalam keragaman, mereka memiliki ikatan umum, salah satunya adalah mereka percaya bahwa mereka terjebak antara pilihan yang jelek dan pilihan buruk. Juga, dalam hal mendukung calon presiden, mereka berpikir tentang ummat – komunitas Muslim global – sebanyak mereka memikirkan diri mereka di AS.

Tapi tahun ini, pemilih Muslim berjumlah lebih banyak dari sebelumnya.

Lebih dari 1 juta Muslim telah terdaftar untuk memilih, menurut CAIR. Jumlah itu naik dari 500.000 pada tahun 2012 – menempatkan pemilih Muslim berada dalam posisi memiliki pengaruh nyata yang lebih besar yang dapat menentukan hasil pemilu.

Clinton mengambil sikap. Dalam pertama kalinya dalam kampanye presiden di AS, dia menunjuk direktur penjangkauan Muslim yang bepergian ke seluruh negeri untuk berbicara dengan para pemilih tentang apa yang dipertaruhkan pada hari Selasa.

Selain itu, Clinton memiliki pembantu profil tinggi dan Muslim Huma Abedin, di sisinya. Dia juga mendapat dukungan dari tokoh advokasi terkemuka Rep. Keith Ellison, Muslim pertama yang terpilih duduk di Kongres.

Kebijakan imigrasi Mantan Sekretaris Negara tersebut termasuk menawarkan tempat penampungan untuk pengungsi dalam jumlah yang jauh lebih tinggi, terutama pengungsi dari Suriah. Dia mengusulkan kenaikan 650 persen di atas jumlah 10.000 yang diperbolehkan dari negara yang sedang dilanda perang tersebut.

Sebaliknya, kandidat Partai Republik Donald Trump tidak membuat umat Islam mau mendukungnya.

Pertama, ia menuntut imigrasi garis keras sebagai landasan kampanyenya. Beberapa bulan setelah tahun lalu ia meluncurkan “gerakan” untuk “Membuat Amerika menjadi besar lagi”, Trump mengusulkan “pelarangan total dan lengkap bagi Muslim untuk memasuki Amerika Serikat” dalam reaksinya terhadap pertumbuhan terorisme di AS.

Kemudian pada bulan Maret, Trump mengatakan kepada CNN bahwa “Islam membenci kita”, dan tidak berusaha untuk membedakan antara agama Islam dan kelompok-kelompok ekstremis radikal pinggiran yang dia akui ingin ditargetkan.

Pada Konvensi Nasional Demokrat Juli, Trump menghadapi kritik dari keluarga Gold Star Muslim yang kehilangan anak mereka yang berusia 27 tahun, Capt. Humayun Khan pada tahun 2004 saat ia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan sesama prajurit di Irak.

Ayahnya, dalam pernyataan pedih bertanya kepada Trump, “Apakah Anda pernah membaca Konstitusi Amerika Serikat?” yang mendapatkan tepuk tangan meriah dari konvensi dan menjadi salah satu sorotan dalam kampanye Demokrat tersebut.

Trump mengabaikan kesempatan untuk menjembatani komunikasi dengan pemilih Muslim tersebut dan malah membalas pahit dengan meremehkan Khan dan menggambarkan istrinya sebagai orang yang tertindas.

Dan Trump tidak pernah meminta berkomunikasi dengan pemilih Muslim dalam beberapa kampanyenya di seluruh negeri. Dialog Trump yang mungkin paling dekat dengan umat Islam adalah ketika ia mengatakan bahwa Muslim “harus bekerja sama dengan penegak hukum” karena “mereka tahu” siapa saja yang memiliki niat buruk.

Beberapa hal itu sebagian menjelaskan mengapa hanya 4 persen dari Muslim yang mengatakan mereka akan mendukung Trump, menurut jajak pendapat CAIR terbaru. Sebaliknya, Clinton mendapat dukungan sebesar 72 persen.

Tapi Sajid Tarar, pendiri Muslim Amerika untuk Trump (American Muslims for Trump), percaya bahwa “mayoritas diam – silent majority” akan membantu menempatkan Trump ke Oval Office. Dan umat Islam harus memainkan peran mereka.

“Pemilu ini lebih besar dari Donald Trump,” kata Tarar kepada Anadolu Agency. “Bendera Amerika telah kehilangan rasa hormat di dunia,” katanya, menempatkan kesalahan tepat di pundak pemerintahan Obama-Clinton.

Trump “datang dengan ide-ide baru” dan “mendiagnosis isu ekstremisme IS,” menurut Tarar.

“Saya setuju dengan tawaran Trump untuk melarang umat Islam datang ke AS.”

Ini adalah posisi yang ironis bagi Tarar, yang berasal dari Pakistan, bila kita menganggap keluarganya sendiri akan dilarang memasuki AS jika kebijakan Trump diberlakukan tiga dekade lalu.

Tarar mengakui Pakistan, negara asalnya, “terkenal dengan terorisme” dan ia tidak ingin orang-orang datang dari sana jika mereka ingin menyakiti AS, “Saya mencintai negeri ini lebih dari hidup saya,” katanya.

Tarar, yang menempuh pendidikan di sekolah hukum di AS dan memiliki real estate, memiliki kata-kata kasar bagi umat Islam yang datang ke AS, mengatakan bahwa mayoritas “tidak memiliki konsep demokrasi.”

Dia tidak terganggu dengan beberapa tuduhan penyerangan seksual terhadap Trump atau komentar cabul yang dikeluarkan calon presiden itu tentang memangsa dan meraba-raba perempuan. Orang-orang Amerika telah mengampuni Bill Clinton, dan mereka akan memaafkan Donald Trump, menurut Tarar.

Sentimen mereka tampaknya berada dalam minoritas.

Amerika terkenal memiliki kenangan pendek tapi pemilih perempuan Muslim yang berbicara dengan Anadolu Agency tidak menginginkan presiden Trump.

“Saya tidak bisa membungkus kepala saya dengan gagasan bahwa ada sekelompok umat Islam yang mendukung kampanye Trump,” kata Hatice Cagla Gunaydin, 21-tahun mahasiswa jurusan hubungan internasional Turki-Amerika di Universitas George Washington.

“Saya tidak melihat bagaimana kampanye dan sentimen Trump selaras dengan prinsip Islam tentang perdamaian, masyarakat, dan keadilan,”

katanya.

 

Syiah Pakistan Bentrok dengan Polisi setelah Pemimpin Mereka Ditangkap

KARACHI (Jurnalislam.com) – Polisi di Karachi menembakkan gas air mata dan meluncurkan pentungan saat ratusan pengunjuk rasa memblokir jalan raya dan rel kereta api utama kota setelah penangkapan pemimpin Syiah di tengah gelombang pembunuhan sektarian, kata media lokal, lansir Anadolu Agency, Senin (07/11/2016).

Demonstran sekte Syiah melemparkan batu ke polisi dan penyiar Geo TV melaporkan dua perwira terluka dalam bentrokan di distrik timur pusat komersial Pakistan yang juga kota terbesar.

Rekaman yang disiarkan di televisi menunjukkan antrian panjang kendaraan di kedua sisi jalan raya saat demonstran menyerukan pembebasan pemimpin yang ditangkap Ahad malam.

Ada beberapa gambar pertempuran antara demonstran dan polisi yang didukung oleh kendaraan lapis baja. Lebih dari selusin orang ditangkap.

Polisi telah menangkap sekitar 100 tersangka anggota sekte Syiah dan muslim Sunni dalam tiga hari terakhir, termasuk seorang mantan senator Partai Rakyat Pakistan, Syed Faisal Raza Abidi, atas pembunuhan sektarian yang telah merenggut 11 korban dalam seminggu terakhir.

Pakistan yang mayoritas Muslim Sunni, memiliki sejarah panjang konflik agama. Syiah berjumlah sekitar 10 sampai 15 persen dari 202 juta penduduk Pakistan.

Lagi, Hanya 2 Hari Puluhan Pasukan Milisi Syiah Hizbullah Tewas di Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah Hizbullah kehilangan puluhan pasukan selama dua hari di Suriah dalam pertempuran yang sedang berlangsung dengan faksi mujahidin Suriah di selatan Aleppo, dimana terjadi pertempuran sporadis dan operasi terhadap milisi Syiah Hizbullah dan gerakan Syiah Irak Nujaba, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (07/11/2016).

Sumber-sumber militer menegaskan bahwa sedikitnya 35 milisi Syiah Hizbullah tewas setelah mereka ditargetkan dengan peluru kendali di dekat bukit “Uhod” di pedesaan selatan Aleppo, sementara sedikitnya 10 pasukan gerakan Irak Nujaba juga tewas di tempat yang sama.

Jaysh al-Mujahidin telah menyiarkan sebuah rekaman yang menunjukkan rudal anti-armor mereka menargetkan kelompok militer yang dikatakan milik Hizbullah Lebanon dan gerakan Irak Nujaba selatan Aleppo, dan menampilkan tembakan langsung ke arah kelompok-kelompok tersebut.

3 Pekan Operasi Mosul, Pasukan Irak Ambil Alih Banyak Wilayah, Ini Laporannya

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Tentara Irak dan sekutunya pada hari Senin terus mencatat kemenangan di dan sekitar wilayah Mosul yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) di tengah operasi pembersihan pasukan IS dari kota kedua terbesar Irak yang sedang berlangsung – yang sekarang memasuki pekan keempat, Anadolu Agency melaporkan, Senin (07/11/2016).

Dalam sebuah pernyataan, General Abdulamir Rashid Yarullah, kepala militer Komando Operasi Niniwe, mengumumkan bahwa pasukan Irak telah merebut tiga desa di barat daya Mosul serta desa dan kabupaten lain di utara Mosul.

Jenderal itu menambahkan bahwa dua komandan IS tewas di selatan dan timur Mosul, sementara pasukan Irak di tenggara Mosul telah merebut tank dan sejumlah besar senjata dari para militan.

Menurut Kolonel Ahmed al-Jubouri, seorang perwira di Komando Operasi Niniwe, pasukan Irak sekarang berdiri sekitar 14 kilometer dari bandara internasional Mosul.

“Setelah menguasai desa Al-Zefteyya, pasukan Irak sekarang berada sekitar 14 kilometer dari bandara dari arah daerah Hammam al-Alil di selatan Mosul,” kata al-Jubouri kepada Anadolu Agency.

Pada hari Sabtu, tentara mengumumkan merebut kembali Hammam al-Alil, salah satu benteng terakhir IS di selatan Mosul, segera setelah menyerbunya.

Pada tanggal 18 Oktober, tentara, yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS, melancarkan operasi luas yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, yang dikuasai IS – bersama dengan tambahan wilayah di utara dan barat Irak – pada pertengahan 2014.

Beberapa bulan terakhir tentara Irak telah merebut kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul – ibukota daerah provinsi Nineveh utara Irak – dan di provinsi barat Anbar.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM), lebih dari 22.000 orang telah mengungsi sejak operasi Mosul dimulai tiga pekan lalu.

Pasukan Kurdi Irak Rebut Kota Bashiqa dari IS

NiNIWE (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak Peshmerga telah “benar-benar merebut” pusat kota strategis Bashiqa dan sekarang mencoba untuk mengusir kelompok Islamic State (IS) dari seluruh kota, petugas Peshmerga mengumumkan pada Senin sore (07/11/2016).

“Pasukan kami sekarang mengontrol penuh pusat Bashiqa,” kata petugas Peshmerga Sherzad Zakholi kepada Anadolu Agency, Senin.

“Bendera Irak dan bendera daerah [yaitu wilayah semi-otonom Kurdi di Irak utara] telah dikibarkan di atas semua bangunan pemerintah di daerah,” katanya.

Zakholi menambahkan bahwa pasukan Peshmerga sekarang dalam proses membersihkan ranjau dan booby-traps (jebakan/perangkap) yang tersisa yang ditanam oleh militan IS.

Sebelumnya pada hari Senin, pasukan Peshmerga Kurdi menyerbu kota Bashiqa di utara Irak sebagai bagian dari serangan militer yang sedang berlangsung untuk merebut kembali kota terdekat Mosul dari kelompok IS.

Menurut seorang wartawan Anadolu Agency yang berada dekat lokasi pertempuran, pasukan Peshmerga memasuki pusat kota Senin pagi – dari tiga arah – dan saat ini menyerang posisi IS di daerah tersebut.

Ahli militer dari koalisi pimpinan AS memberikan dukungan kepada pasukan Peshmerga yang saat ini berperang di dalam kota, kata wartawan itu.

Menurut Sankar Mustafa, petugas Peshmerga lain, pasukan Peshmerga juga sekarang menguasai penuh jalan utama yang menghubungkan Bashiqa ke Mosul.

Kota Bashiqa yang mayoritas dihuni Ezidi terletak sekitar 12 kilometer (kira-kira 8 mil) di timur laut Mosul, ibukota daerah provinsi Nineveh utara Irak.

Turki memiliki misi pelatihan militer lama di dekat Camp Bashiqa, di mana tentara Turki telah melatih pasukan Peshmerga dan relawan suku lokal dalam hal teknik tempur.

Dalam beberapa bulan terakhir, kehadiran misi di Irak utara telah meningkatkan ketegangan antara Baghdad dan Ankara di tengah seruan oleh beberapa anggota parlemen Irak agar pasukan Turki menarik diri dari daerah tersebut.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS – melancarkan operasi besar yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, benteng terakhir IS di Irak utara.

Pada pertengahan 2014, IS menguasai Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sebelum menduduki sejumlah luas wilayah di utara dan barat negara itu.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, menduduki kembali banyak wilayah, terutama di pinggiran Mosul dan di provinsi Anbar barat dalam beberapa bulan terakhir

Pejabat Militer Irak: Serangan Udara Bunuh Komandan Senior IS di Mosul

MOSUL (Jurnalislam.com) – Seorang komandan senior yang diduga dari kelompok Islamic State (IS) terbunuh oleh serangan udara di kota Mosul, Irak utara, seorang pejabat militer Irak mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Ahad (06/11/2016).

Menurut Kolonel Ahmad al-Jubouri dari Komando Operasi Mosul, Abu Hamza al-Muhajir, yang dikenal sebagai pemimpin ketiga Daesh yang paling penting tewas di kota selatan Mosul, Hammam al-Alil.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS – melancarkan operasi luas untuk merebut kembali Mosul, benteng terakhir Daesh di Irak utara.

Pada pertengahan 2014, IS merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sebelum menduduki sejumlah wilayah luas di utara dan barat Irak.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, telah merebut kembali banyak wilayah beberapa bulan terakhir ini.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM), lebih dari 22.000 orang telah mengungsi sejak awal operasi Mosul.

Masjid dan Pusat Budaya Turki di Stockholm Diserang

SWEDIA (Jurnalislam.com) – Penyerang tak dikenal melempari batu ke sebuah Masjid dan pusat budaya yang terkait dengan Turki di Stockholm pada hari Ahad (06/11/2016), seorang pejabat di pusat budaya tersebut mengatakan, lansir World Bulletin, Ahad.

Masjid Rinkeby dan afiliasinya, Turkish Culture Center diserang pada dini hari Ahad, kata pejabat yang ingin tetap anonim karena masalah keamanan tersebut.

Tidak ada korban yang dilaporkan karena tidak ada yang sedang berada di dalam gedung ketika serangan itu terjadi. Namun, jendela bangunan rusak.

Pemerintah Swedia telah meluncurkan sebuah investigasi untuk menangkap para tersangka.

Pasukan Irak Memasuki Bandara Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan khusus Irak mendesak mundur militan Islamic State (IS) dari pusat kota di selatan benteng utama IS di Mosul pada hari Sabtu dan mencapai beberapa km (mil) dari bandara di pinggir kota, kata seorang komandan senior.

Letnan Jenderal Raed Shakir Jawdat mengatakan pasukan keamanan menguasai pusat Hammam al-Alil, sekitar 15 km (10 mil) di selatan Mosul, meskipun dia tidak mengatakan apakah IS telah didorong keluar sepenuhnya, lansir Al Arabiya News Channel, Ahad (06/2016).

Kemajuan diperoleh di garis depan selatan beberapa hari setelah pasukan khusus Irak bergerak ke sisi timur Mosul, mengambil kendali atas enam wilayah menurut pejabat Irak dan memulihkan pijakan di kota untuk pertama kalinya sejak tentara Irak mundur dengan memalukan dua tahun lalu.

Unit lain maju lebih jauh lagi ke utara hingga tepi barat sungai Tigris pada hari Sabtu, Jawdat menambahkan. “Pasukan elit kami telah mencapai daerah yang terletak hanya 4 km (2 1/2 mil) dari bandara Mosul,” katanya kepada saluran televisi Al-Hurra.

Tidak ada laporan dari kemajuan lebih lanjut di bagian timur kota pada hari Sabtu, dan petugas mengatakan militer sedang membersihkan daerah itu dalam beberapa hari terakhir.

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, berbicara dalam kunjungan ke garis depan timur, mengatakan ia membawa “pesan kepada warga Mosul yang disandera Daesh IS – kami akan membebaskan Anda segera.”

Abadi mengatakan kemajuan dalam operasi yang berjalan hampir tiga minggu, dan juga maju ke Mosul, sudah lebih cepat dari yang diharapkan. Tetapi dalam menghadapi perlawanan sengit, termasuk pemboman mobil IS, penembak jitu dan bom pinggir jalan, ia menyatakan bahwa kemajuan mungkin tersendat.

Jenderal Jawdat mengatakan pasukannya telah menghancurkan 17 mobil bermuatan bom yang telah menargetkan mereka di garis depan utara.

Sejauh ini tentara mengontrol hanya sebagian kecil dari Mosul yang merupakan rumah bagi 2 juta orang sebelum IS mengambil alih pada tahun 2014. Lebih dari 1 juta tetap menetap di kota – dan merupakan jumlah penduduk terbesar di bawah kontrol IS baik di Irak ataupun di Suriah.

Seorang koresponden Reuters di desa Ali Rash, sekitar 7 km (4 mil) di tenggara kota, melihat asap mengepul dari distrik timur pada Sabtu, sementara serangan udara, artileri dan tembakan terdengar.

PBB telah memperingatkan kemungkinan eksodus ratusan ribu pengungsi. Sejauh ini hanya 31.000 yang telah mengungsi, dimana lebih dari 3.000 lainnya telah kembali ke rumah mereka, kata William Lacy Swing, kepala Organisasi Internasional untuk Migrasi.

“Jumlahnya tidak sebesar yang diharapkan. Kami telah mendengar jumlah hingga 500.000 atau 700.000,” katanya kepada Reuters.

“Kami sedang berusaha untuk mempersiapkan, tetapi sangat sulit untuk melakukan perencanaan kontingensi dengan tingkat akurasi karena kita tidak tahu apa yang akan mereka temukan ketika mereka masuk ke dalam.”