Kini Rusia dan Turki Sepakati Koordinasi Serangan Udara di Suriah

MOSKOW (Jurnalislam.com) – “Rusia dan Turki telah menandatangani perjanjian mekanisme untuk mengkoordinasikan pasukan udara di Suriah saat melakukan serangan terhadap sasaran yang dianggap teroris”, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Kamis (12/01/2017).

Sebagaimana yang dilansir Middle East Eye, Kamis, delegasi dari kedua negara, yang bulan lalu menengahi gencatan senjata di Suriah yang dilanda perang, bertemu di Moskow pada hari Kamis untuk konsultasi tentang bekerja sama dalam memerangi kelompok ektremis, serta menandatangani memorandum, kata kementerian itu.

“Dokumen ini mendefinisikan mekanisme koordinasi dan kerjasama antara angkatan udara Rusia dan angkatan udara Turki saat melakukan serangan pada sasaran teroris serta tindakan kedua belah pihak untuk mencegah insiden saat pesawat dan kendaraan udara tak berawak berada di wilayah udara Suriah,” katanya.

Moskow dan Ankara setuju untuk mengawal gencatan senjata bulan lalu antara rezim Suriah dan kelompok pejuang Suriah yang mulai berlaku pada 30 Desember dan telah mengamati beberapa bagian negara, meskipun pertempuran terus terjadi di daerah dekat Damaskus.

Pertempuran itu terutama telah merusak infrastruktur air sehingga eskalasi militer kemungkinan akan berlanjut, utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura, Kamis sebelumnya mengatakan, menambahkan bahwa pertemuan di Moskow dan Ankara akan mengatasi masalah tersebut.

Sementara itu, juru bicara Presiden Turki Tayyip Erdogan mengecam militer AS pada hari Kamis setelah kembali men-tweeted pernyataan aliansi yang didominasi Kurdi dan didukung Washington di Suriah yang mengatakan tidak ada hubungan dengan gerilyawan Kurdi yang melawan negara Turki.

Pasukan Demokratik Suriah adalah mitra utama AS di Suriah, termasuk milisi kuat YPG Kurdi.

Turki memandang YPG sebagai perpanjangan dari kelompok teroris PKK, yang telah melakukan pemberontakan tiga dekade di Turki dan dianggap sebagai organisasi teroris oleh Ankara dan Uni Eropa.

Faksi Revolusioner Suriah Tegaskan Satu Suara Terkait Konferensi Astana

SURIAH (Jurnalislam.com)Faksi Revolusi Suriah dan tokoh politik pada hari Kamis (12/01/2017) melanjutkan konsultasi di ibukota Turki Ankara, dalam rangka membuat keputusan akhir tentang kesepakatan gencatan senjata di Suriah, dan sesi rencana negosiasi “Astana” yang akan diselenggarakan tanggal 23 bulan ini.

Beberapa tokoh menghadiri konsultasi mengeluarkan komentar untuk ElDorar AlShamia menekankan bahwa beberapa jam mendatang diharapkan akan terjadi persatuan faksi militer dan tokoh oposisi politik, menyangkut negosiasi di Astana dan perjanjian gencatan senjata saat ini, sekaligus pada saat yang sama membantah keras argumen yang diajukan oleh beberapa media tentang terjadinya perbedaan dan perpecahan antara faksi-faksi, mengatakan bahwa situasi itu normal, dan dalam proses konsultasi, tapi telah sepakat untuk mencapai satu pendapat, apakah penolakan atau penerimaan.

Sumber itu menambahkan: “Kami telah menerima dukungan dari sekutu faksi revolusi Suriah, berbicara di sini tentang Qatar dan Turki, dan mereka telah meyakinkan kami bahwa mereka akan mendukung apa pun pilihan kami, dan bahwa mereka akan mendukung cara yang akan dipilih faksi untuk menyelesaikan masalah Suriah.”

Eskalasi rezim Suriah dan sekutunya yang belum pernah terjadi sebelumnya, banyak terlihat di beberapa daerah Suriah pada hari Kamis, di mana provinsi Idlib mengalami penembakan berat yang menewaskan 13 warga sipil di berbagai bagian provinsi, saat milisi Syiah Hizbullah Lebanon meningkatkan serangan di daerah Wadi Barada, dengan dukungan helikopter dan pesawat tempur rezim Nushairiyah Assad, saat penembakan melanda wilayah Hama dan Rif Dimashq.

Pemimpin Palestina Syeikh Raed Salah akan Dibebaskan dari Penjara Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Otoritas penjara Israel telah memutuskan untuk melepaskan pemimpin Palestina Syeikh Raed Salah pekan depan, menurut pengacara Syeikh Salah.

Syeikh Salah Raed, Pemimpin cabang utara Gerakan Islam, yang mewakili warga Palestina di Israel, dipenjara Mei tahun lalu dengan alasan “ceramah perlawanan”.

Dia diharapkan akan dibebaskan pada tanggal 17 Januari, pengacara Omar Khamayseh mengatakan kepada Anadolu Agency, Kamis (12/01/2017)

Menurut tuduhan polisi zionis yang dikeluarkan hari Kamis, penyelidikan terhadap “kegiatan ilegal” yang diduga dilakukan oleh Syiekh Salah dan Gerakan Islam telah berakhir dan temuan mereka diteruskan ke jaksa Israel.

Zionis melarang cabang utara Gerakan Islam pada tahun 2015, karena melakukan “ceramah perlawanan” terhadap penjajahan Israel di tengah ketegangan atas Masjid Al-Aqsa Yerusalem.

Gerakan Islam berada di bawah pengawasan karena oposisi vokal Palestina menentang pengunjung Yahudi garis keras masuk ke Al-Aqsha. Gerakan Islam mengatakan Yahudi garis keras berusaha untuk merebut kontrol atas situs, yang suci bagi umat Islam.

Ketegangan memuncak pada akhir 2015 ketika kaum muda Muslim Palestina dilarang memasuki Masjid milik kaum Muslim – dan terjadi peningkatan eksponensial dalam jumlah pengunjung Zionis Yahudi ke situs – menyebabkan bentrokan di dalam kompleks Masjid.

Syeikh Salah lahir pada tahun 1958 di kota Umm al-Fahm di Palestina utara sekarang diduduki Israel. Dia kemudian belajar Hukum Islam di Universitas Hebron di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Ia menjabat sebagai walikota Umm al-Fahm selama tiga periode berturut-turut dari tahun 1987 sampai 2001. Dia menjadi pemimpin cabang utara Gerakan Islam sejak 1996.

Taliban Bantah Tuduhan Pemboman Diplomat UEA

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Lima diplomat dari Uni Emirat Arab termasuk di antara 11 orang yang tewas dalam pemboman di sebuah rumah tamu di Kandahar City, Afghanistan, kemarin. Duta UEA untuk Afghanistan, serta gubernur Kandahar, juga terluka dalam serangan itu. Tidak ada kelompok termasuk Taliban yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, The Long War Journal melaporkan, Rabu (11/01/2017).

Dalam sebuah pernyataan singkat yang dirilis pada Voice of Jihad, situs media resmi Imarah Islam Afghanistan (Taliban), menyangkal bahwa mereka bertanggung jawab atas ledakan tersebut:

Kami menolak keterlibatan dalam serangan guest house provinsi Kandahar yang menewaskan atau melukai puluhan pejabat musuh, perdana menteri dan tamu asing,” kata Taliban. “Ini adalah sengketa internal musuh. Mujahidin Imarah Islam tadi malam tidak beroperasi di provinsi Kandahar.”

Kandahar adalah wilayah Taliban, dan sangat tidak mungkin bahwa setiap rencana untuk mengeksekusi serangan canggih terhadap target bernilai tinggi seperti itu bisa dilakukan tanpa persetujuan dan dukungan (intelijen, logistik, sumber pembuatan bom, dll) dari Imarah.

Inilah Laporan Jaysh al Islam Mengenai Kerugian Pasukan Assad Selama 210 Pertempuran

SURIAH (Jurnalislam.com)Jaysh al-Islam pada hari Rabu (11/01/2017), menerbitkan statistik tentang kerugian pasukan rezim Assad akibat serangan dari front Timur Ghouta di Rif Dimashq selama enam bulan.

ElDorar AlShamia melaporkan, Rabu, Kepala Jaysh al-Islam Staf mengatakan selama 210 hari terakhir pasukan Assad melakukan 325 upaya perusakan, dan 67 serangan, kehilangan 63 tank, dan 5 kendaraan Chilka, 12 kendaraan angkut pasukan “BMP”, 24 buldoser, sebuah helikopter, 1.328 tentara tewas, dan 6 ditangkap.

Pasukan Nushairiyah Assad dan milisi pendukung (Syiah Hizbullah Lebanon dan milisi Syiah Iran) sebelumnya berusaha menyerbu desa-desa Timur Ghouta, dengan dukungan pesawat tempur melalui serangan udara untuk memaksa warga mengikuti rekonsiliasi atau keluar ke utara Suriah.

Taliban Cegat Konvoi Besar Pasukan ANA, Puluhan Kendaraan Tempur Hancur

NIMROZ (Jurnalislam.com) – Laporan Al Emarah News mengatakan, konvoi pasukan ANA yang tiba 8 hari yang lalu di wilayah Khairabad dan Zarha Pula kabupaten Khashrod telah dipukul mundur Taliban dan terpaksa melarikan diri hari Rabu (11/01/2017) setelah mengalami kekalahan berat.

Menurut rincian, sebanyak 24 APC, 2 tank lapis baja, 2 buldoser, 1 truk Kamaz dan sebuah pickup ranger telah hancur dengan 6 tentara komando termasuk seorang komandan bayaran dan 48 pasukan ANA dan ANP tewas sementara 55 termasuk kepala polisi luka parah.

Pasukan ANA telah menewaskan 3 warga sipil dan melukai 10 orang lain juga menghancurkan sebuah kendaraan dan sebuah traktor serta menghancurkan beberapa bangunan milik warga desa.

Koresponden Al Emarah juga mengatakan, 8 kombatan Mujahidin yang terluka dengan 5 orang lainnya telah memeluk kesyahidan selama tembak-menembak selama 8 hari (Semoga Allah menerima mereka).

Amnesty Desak Pengadilan Khusus untuk Kejahatan Perang terhadap Muslim Afrika Tengah

AFRIKA TENGAH (Jurnalislam.com)Amnesty International pada hari Rabu (11/01/2017) mengecam impunitas yang berlaku di Republik Afrika Tengah (Central African Republic-CAR), mendesak Pengadilan Pidana Khusus untuk mengadili para pelaku kejahatan perang selama konflik Agama yang dimulai pada tahun 2013, World Bulletin melaporkan, Rabu.

“Individu yang diduga melakukan kejahatan perang termasuk pembunuhan dan pemerkosaan selama konflik di Republik Afrika Tengah (CAR) menghindari penyelidikan dan penangkapan, dan dalam beberapa kasus hidup berdampingan dengan korban mereka,” kata Amnesty dalam sebuah pernyataan.

Ilaria Allegrozzi, Peneliti Amnesty Internasional Afrika Tengah mengatakan pelaku masih bebas sementara korban yang kebanyakan dari warga Muslim disana terus menunggu keadilan.

“Ribuan korban pelanggaran hak asasi manusia di seluruh CAR masih menunggu keadilan ditegakkan, sementara individu yang melakukan kejahatan mengerikan seperti pembunuhan dan pemerkosaan berkeliaran bebas,” katanya.

Pengawas hak juga menyoroti kelemahan sistem peradilan negara itu.

“Sistem peradilan di CAR, yang memang lemah sebelum konflik, semakin dirusak oleh pertempuran saat catatan hancur dan personel hukum terpaksa mengungsi.”

Allegrozzi mengatakan, “Hanya solusi jangka panjang bagi impunitas yang mengakar ini yang dapat merombak sistem peradilan negara, termasuk membangun kembali pengadilan, penjara dan kepolisian.”

Dia juga menyerukan pembentukan sebuah Pengadilan Pidana Khusus (Special Criminal Court-SCC).

“Sementara itu, pendanaan yang berkelanjutan bagi Mahkamah Pidana Khusus, termasuk program-program perlindungan saksi yang kuat, merupakan langkah penting menuju keadilan.

“SCC penting untuk memastikan bahwa korban konflik kejahatan yang paling serius akan memiliki kesempatan untuk melihat keadilan ditegakkan di CAR, dan harus mendapat dukungan penuh,” katanya.

Impunitas memberikan kontribusi pada peningkatan kekerasan terhadap warga Muslim sejak September 2016, menurut pengawas hak asasi manusia, “Termasuk serangan di Kaga-Bandoro pada bulan Oktober [2016], di mana pasukan ex-Séléka menewaskan sedikitnya 37 warga Muslim, melukai lebih dari 60 dan memaksa lebih dari 20.000 orang meninggalkan rumah mereka.”

Lebih dari 5.000 orang telah tewas dalam intensifikasi kekerasan sejak 2013, yang juga menyebabkan 385.000 orang menjadi pengungsi, laporan Rabu mengatakan, menambahkan hingga 466.000 orang, sebagian besar dari kaum Muslim, tetap mengungsi.

Mujahidin Suriah Kembali Gagalkan Serangan Pasukan Rezim Assad di Wadi Barada

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi militer di wilayah Wadi Barada Provinsi Rif Dimash pada hari Selasa menggagalkan serangan mematikan yang dilakukan oleh pasukan Assad dan milisi pendukung di wilayah “Basimah dan Kafar Zeit”.

Mengutip Kantor Media Daerah, rabu (11/01/2017), ElDorar AlShamia, melaporkan bahwa lembah terkena operasi pengeboman yang terberat sejak awal operasi sekitar 20 hari yang lalu menargetkan desa Basimah dengan lebih dari 50 roket “Phil” diikuti oleh puluhan peluru artileri serta bom barel yang diisi dengan bahan pembakar napalm.

Kantor Media Daerah itu mengatakan bahwa pasukan Assad kemarin sore mencoba membuat kemajuan di lokasi faksi tapi kemudian operasi digagalkan. Dua tank dan sebuah kendaraan “Chilka” rusak selain terbunuhnya beberapa tentara, sehingga rezim menargetkan desa dengan serangan udara.

Faksi di lembah telah merebut kembali beberapa titik di wilayah “Joroud” di pinggiran desa “Kafer Zeit” kemarin lusa setelah serangan balik terhadap pasukan Nushairiyah Assad yang menghancurkan tank dan menewaskan beberapa tentara.

Rezim Assad dan milisi pendukung menjebak lebih dari 100 ribu orang di desa Wadi Barada. Mereka seharusnya dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata tapi setelah 11 hari setelah deklarasi kesepakatan, Rusia berkomentar kemarin bahwa daerah tersebut tidak tercakup dalam kesepakatan.

Puluhan Pemberontak Syiah Houthi Tewas dalam Pertempuran Dua Hari di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pertempuran di Yaman telah menewaskan 55 pemberontak dan tentara dalam dua hari setelah pemerintah melancarkan serangan besar di daerah pesisir dekat jalur pelayaran utama, kata para pejabat Rabu (11/01/2017), lansir Middle East Eye.

Pasukan pemerintah memulai serangan Sabtu sebagai upaya untuk merebut kembali distrik Dhubab dekat Selat Bab al-Mandab yang menghubungkan Laut Merah dan Samudera Hindia.

Pasukan bentrok dengan pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran pada hari Rabu di sebuah pangkalan militer utama di wilayah ini, menewaskan lima tentara dan 12 pemberontak, kata sumber-sumber loyalis militer.

Pemerintah Yaman dan sekutunya mengatakan kehadiran pemberontak di dekat Selat Mala ka tersebut menimbulkan ancaman bagi pelayaran internasional.

Pada hari Selasa pesawat koalisi yang dipimpin Saudi mendukung pemerintah Yaman menyerang dua kapal pemberontak Houthi di pelabuhan Laut Merah Salif, membunuh 31 milisi, kata seorang pejabat militer pemerintah.

Korban tewas telah dikonfirmasi oleh sumber di sebuah rumah sakit militer di Hodeida yang mengatakan lebih banyak lagi pemberontak yang terluka.

Di provinsi selatan Shabwa, tujuh tentara pemerintah tewas dan 12 terluka akibat tembakan roket Katyusha pada hari Rabu di wilayah pemberontak, kata sumber-sumber militer.

Lebih dari 7.300 orang telah tewas dan 39.000 lainnya terluka di Yaman sejak koalisi pimpinan Saudi ikut menghadapi pemberontak Syiah Houthi sejak Maret 2015, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (the World Health Organization-WHO).

Rezim Assad dan Milisi Iran Langgar 399 Gencatan Senjata dalam 11 Hari

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Suriah dan milisi Iran telah melakukan 399 pelanggaran dari perjanjian gencatan senjata setelah 11 hari pelaksanaannya, Al Arabiya News Channel melaporkan, Rabu (11/01/2017).

Perjanjian gencatan senjata di Suriah, yang disponsori oleh Rusia dan Turki, telah memasuki akhir pekan kedua, dengan pelanggaran berkelanjutan yang dilakukan oleh rezim Suriah dan milisi aliansi mereka, menurut pernyataan Koalisi Nasional Suriah (the Syrian National Coalition).

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh koalisi, pelanggaran terjadi di pedesaan selatan Aleppo, Wadi Barada, pedesaan Damaskus, dan pinggiran Hama dan Daraa, dengan 271 tewas, termasuk 25 perempuan dan 34 anak-anak.

Koalisi Nasional menyerukan kepada Dewan Keamanan dan pihak lain untuk segera menghentikan serangan dan menghukum para pelaku.

Oposisi Suriah diharapkan berpartisipasi dalam pertemuan Rabu di Ankara mengenai gencatan senjata dan partisipasi dalam pembicaraan Astana mendatang.

Rusia, yang berkomitmen untuk memastikan gencatan senjata atas nama rezim, mengancam mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan apa yang mereka sebut ‘teroris di Damaskus’, menunjukkan bahwa kontrol rezim di kawasan ini telah mencapai tahap akhir.

Pejabat Rusia juga menunjukkan bahwa periode baru-baru ini telah mengusir pejuang oposisi dari provinsi Latakia, selain membuka jalan utama yang menghubungkan ibukota ke utara negara itu, mengatakan bahwa Angkatan Udara secara dramatis telah mengubah perang.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan rekannya dari Turki Mevlut Cavusoglu pada hari Selasa menyetujui kebutuhan untuk mengamati gencatan senjata di Suriah sambil terus melawan “kelompok oposisi yang bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata”, kata kementerian luar negeri Rusia.

Panggilan datang pada saat para ahli Rusia sedang bersiap bertemu dengan Turki di Ankara untuk membahas gencatan senjata, menjelang pertemuan yang akan datang di Astana, ibukota Kazakhstan, pada akhir bulan ini.