Koper Berisi Rokok Jemaah Haji Tertahan di Bandara Madinah

MADINAH (jurnalislam.com)- Calon jemaah haji Indonesia yang akan berangkat ke Tanah Suci diingatkan untuk tidak membawa barang bawaan secara berlebihan, khususnya rokok. Pemeriksaan ketat dari otoritas imigrasi Arab Saudi, terutama di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz, Madinah, berpotensi membuat barang disita dan jemaah dikenakan denda.

Pada Senin malam (5/5/2025) waktu setempat, empat koper milik jemaah haji asal Indonesia tertahan di bandara tersebut. Setelah diperiksa, dua di antaranya ternyata berisi rokok dalam jumlah besar.

“Rokok ini disita oleh otoritas Arab Saudi, karena memang jumlahnya dibatasi,” ujar Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, di Madinah, Selasa (6/5/2025).

Ia menegaskan bahwa aturan bandara sangat ketat, dan jemaah diimbau untuk mematuhi ketentuan mengenai barang bawaan, terutama rokok.

“Terutama batasan jumlah rokok. Aturan di Bandara Madinah sangat ketat, kalau pun ingin membawa rokok cukup 200 batang saja atau 2 slop. Karena denda yang menanti bisa berkali kali lipat dari rokok yang dibawa,” kata Basir.

Imbauan ini menjadi penting bagi jemaah haji Indonesia yang belum berangkat, agar tidak mengalami kendala serupa dan tetap fokus dalam menjalankan ibadah.

Hamas Bebaskan Tentara Israel Berkewarganegaraan AS, Trump Sambut Positif Langkah Hamas

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, mengumumkan pembebasan seorang tentara Israel berkewarganegaraan Amerika Serikat, Edan Alexander, pada Senin (12/5/2025). Keputusan ini disebut sebagai bagian dari langkah menuju gencatan senjata dan upaya kemanusiaan di Jalur Gaza.

“Brigade Al-Qassam memutuskan untuk membebaskan tentara Zionis tawanan yang memegang kewarganegaraan Amerika, Edan Alexander, hari ini, Senin, 12 Mei 2025 M,” ujar juru bicara Al-Qassam, Abu Ubaidah, melalui situs resmi Gerakan Hamas.

Pembebasan ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan internasional dan upaya diplomatik dari negara-negara mediator, seperti Qatar dan Mesir, untuk mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan di wilayah konflik.

Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, menyambut baik langkah tersebut melalui unggahan di akun media sosial X (dulu Twitter).

“Saya senang mengumumkan bahwa Edan Alexander, warga negara Amerika yang disandera sejak Oktober 2023, akan pulang ke keluarganya. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan berita monumental ini,” tulis Trump.

Trump juga menyebut bahwa pembebasan ini adalah bentuk itikad baik terhadap Amerika Serikat dan mendukung proses mediasi untuk mengakhiri konflik Gaza.

“Ini adalah langkah yang diambil dengan itikad baik terhadap Amerika Serikat dan upaya para mediator – Qatar dan Mesir – untuk mengakhiri perang yang sangat brutal ini dan mengembalikan semua sandera dan yang masih hidup kepada orang yang mereka cintai,” lanjutnya.

Mantan presiden yang kini kembali menjabat itu berharap bahwa langkah ini menjadi awal dari proses akhir untuk menghentikan konflik berkepanjangan tersebut.

“Semoga ini adalah langkah pertama dari langkah terakhir yang diperlukan untuk mengakhiri konflik brutal ini. Saya sangat menantikan hari perayaan itu!” tutup Trump.

Pembebasan Edan Alexander terjadi di tengah meningkatnya tekanan masyarakat internasional terhadap Israel dan Hamas untuk menghentikan pertumpahan darah yang telah berlangsung sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023.

Kontributor: Bahry

Israel Kembali Bombardir Pelabuhan Hodeidah Yaman Usai Serangan Houthi ke Tel Aviv

HODEIDAH (jurnalislam.com)– Ketegangan antara Israel dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah titik strategis di provinsi Hodeidah, Ahad malam (11/5/2025).

Serangan tersebut menargetkan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Houthi, menyusul peringatan sebelumnya dari militer Israel kepada warga agar mengungsi dari kawasan itu.

Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Dalam Negeri Houthi, selain pelabuhan Hodeidah, Israel juga menyerang beberapa wilayah di ibu kota Yaman, Sanaa, termasuk bandara internasional utama negara itu.

Serangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari rangkaian balasan antara Israel dan Houthi. Awal bulan ini, Houthi mengklaim telah menembakkan rudal ke wilayah dekat Bandara Ben Gurion, Tel Aviv. Kelompok yang berbasis di Yaman tersebut menyatakan serangan dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza.

Sejak perang di Gaza dimulai 19 bulan lalu, Houthi secara terbuka mendukung perjuangan rakyat Palestina dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan target-targetnya di Laut Merah. Pejabat Palestina menyebutkan, jumlah korban jiwa akibat agresi Israel di Gaza telah melampaui 52.000 orang, termasuk 57 warga yang tewas karena kelaparan menyusul pengepungan total yang diberlakukan sejak 2 Maret lalu.

Di sisi lain, kepala negosiator Houthi menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara pihaknya dan Amerika Serikat tidak mencakup penghentian operasi militer terhadap Israel. Houthi sempat menghentikan serangan ke Israel saat gencatan senjata Gaza awal tahun ini, namun kembali menyerang setelah Israel melanjutkan blokade dan operasi militernya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Ribuan Warga Israel Gelar Unjuk Rasa, Desak Netanyahu Akhiri Perang dan Bebaskan Tawanan di Gaza

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Ribuan warga Israel turun ke jalan pada Sabtu malam (10/5) untuk menuntut diakhirinya perang di Jalur Gaza dan pembebasan segera para tawanan Israel yang masih ditahan di wilayah Palestina yang terkepung tersebut.

Aksi demonstrasi utama dipusatkan di “Hostages Square” di pusat kota Tel Aviv, yang digagas oleh Forum Sandera dan Keluarga Hilang—sebuah kelompok kampanye yang mewakili keluarga para tawanan. Unjuk rasa serupa juga berlangsung di luar markas militer Israel, serta di Habima Square dalam bentuk protes antipemerintah yang lebih luas.

Mengutip laporan Times of Israel, Shai Mozes, salah satu peserta aksi yang orang tuanya pernah menjadi tawanan dan kemudian dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran, menyampaikan kritik keras terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

“Musuh Israel yang sebenarnya bukanlah Hamas, tetapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menghancurkan Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis,” tegas Mozes di hadapan massa di Habima Square.

Dari Yordania, jurnalis Al Jazeera, Hamdah Salhut, melaporkan bahwa keluarga para tawanan menuduh Netanyahu memperpanjang konflik demi kepentingan politik pribadinya. Mereka meyakini bahwa Netanyahu tidak sungguh-sungguh mengupayakan kesepakatan gencatan senjata yang dapat membuka jalan bagi pembebasan tawanan.

“Masih ada 59 tawanan yang ditahan di Gaza. Menurut pejabat Israel, 35 di antaranya dipastikan tewas, 21 diyakini masih hidup, dan tiga lainnya belum diketahui nasibnya,” ungkap Salhut.

Lebih lanjut, ia melaporkan bahwa pemerintah Israel tetap bersikeras untuk memperluas operasi militernya di Gaza dan menolak melakukan kesepakatan gencatan senjata, dengan alasan bahwa pembebasan tawanan hanya dapat dicapai lewat kekuatan militer—sebuah pendekatan yang ditentang keras oleh para keluarga sandera dan sebagian besar masyarakat Israel.

Menanggapi pernyataan Netanyahu pada Senin lalu yang mengumumkan perluasan serangan di Gaza, Forum Sandera dan Keluarga Hilang menyatakan kekecewaannya. Dalam sebuah pernyataan resmi, mereka menyebut bahwa rencana tersebut “mengorbankan” para tawanan yang masih ditahan.

Menurut Haaretz, gelombang unjuk rasa juga direncanakan akan meluas ke kota-kota lain seperti Yerusalem, Haifa, dan Beersheba, serta puluhan titik protes di berbagai persimpangan jalan di seluruh Israel. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

India-Pakistan Sepakat Damai, AS Klaim Berperan dalam Mediasi

ISLAMABAD (jurnalislam.com)– India dan Pakistan sepakat melakukan gencatan senjata penuh dan segera pada Sabtu (10/5/2025), menyusul eskalasi konflik selama beberapa hari terakhir yang melibatkan serangan udara, rudal, drone, dan artileri. Kesepakatan ini diumumkan secara mengejutkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui media sosial miliknya, Truth Social.

Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tercapai setelah perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat berlangsung semalaman. Ia pun memberi selamat kepada kedua negara karena dinilai telah menunjukkan “akal sehat dan kecerdasan besar” dalam menghentikan konflik bersenjata.

“Setelah perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat selama semalam, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa India dan Pakistan telah menyetujui Gencatan Senjata Penuh dan Segera. Selamat kepada kedua Negara karena telah menggunakan Akal Sehat dan Kecerdasan yang Hebat,” tulis Trump.

Pemerintah India dan Pakistan mengonfirmasi kabar tersebut beberapa menit setelah unggahan Trump. Menteri Luar Negeri India, Vikram Misri, menyatakan bahwa kedua belah pihak akan menghentikan seluruh aksi militer baik di darat, udara, maupun laut mulai pukul 17.00 waktu setempat (11.30 GMT).

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyampaikan bahwa Islamabad menyambut kesepakatan tersebut sebagai langkah menuju perdamaian regional.

“Pakistan dan India telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata dengan segera. Pakistan selalu berusaha mencapai perdamaian dan keamanan di kawasan ini tanpa mengorbankan kedaulatan dan integritas teritorialnya,” tulisnya melalui platform X (dulu Twitter).

Meski disebutkan bahwa mediasi dilakukan oleh pihak Amerika Serikat, sumber pemerintah India kepada kantor berita AFP menyebutkan bahwa kesepakatan dicapai melalui komunikasi langsung antara New Delhi dan Islamabad.

Gencatan senjata ini diumumkan setelah insiden besar terjadi, di mana Pakistan menyerang sebuah pangkalan udara India sebagai balasan atas serangan sebelumnya yang dilakukan oleh India. Komandan Angkatan Udara India, Vyomika Singh, menyebutkan bahwa serangan rudal berkecepatan tinggi mengakibatkan kerusakan terbatas pada fasilitas militer.

Pakistan sendiri menuduh India meluncurkan serangan rudal ke tiga pangkalannya, termasuk satu di kota Rawalpindi yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari ibu kota Islamabad. Di sisi lain, otoritas di Kashmir yang dikelola Pakistan melaporkan 11 warga sipil tewas akibat penembakan yang dilakukan India.

Konflik terbaru antara dua negara bersenjata nuklir ini disebut sebagai yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir, dengan lebih dari 60 warga sipil dilaporkan tewas dalam bentrokan yang berlangsung selama sepekan terakhir. (Bahry)

Sumber: TNA

Hamas Siap Bebaskan Tentara Israel Berkewarganegaraan Ganda AS Sebagai Bagian dari Upaya Capai Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyatakan kesiapannya untuk membebaskan seorang tentara Israel berkewarganegaraan ganda Amerika Serikat, Edan Alexander, sebagai bagian dari langkah-langkah menuju gencatan senjata yang tengah diupayakan oleh mediator regional.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Ahad (11/5/2025), Hamas mengungkapkan bahwa selama beberapa hari terakhir mereka telah menjalin komunikasi dengan pemerintah Amerika Serikat dan menunjukkan sikap positif terhadap upaya gencatan senjata.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari dorongan untuk membuka kembali penyeberangan perbatasan, memperlancar pengiriman bantuan kemanusiaan, dan memberikan pertolongan bagi warga sipil Palestina di Jalur Gaza.

“Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) telah menghubungi pemerintah AS selama beberapa hari terakhir, dan telah menunjukkan tingkat positif yang tinggi, dan akan membebaskan tentara Israel dengan kewarganegaraan ganda Amerika, Edan Alexander, sebagai bagian dari langkah-langkah yang diambil menuju gencatan senjata,” ungkap Dr. Khalil Al-Hayya, pimpinan Hamas di Gaza sekaligus ketua tim negosiasi.

Hamas juga menegaskan kembali komitmennya untuk memulai negosiasi intensif demi mencapai kesepakatan akhir yang dapat mengakhiri perang secara menyeluruh. Salah satu poin utama yang mereka usulkan adalah pembentukan komite profesional independen untuk mengelola Jalur Gaza setelah perang, guna menjamin ketenangan dan stabilitas jangka panjang.

“Gerakan ini juga menyerukan pelaksanaan pertukaran tahanan yang disepakati bersama, rekonstruksi Gaza, serta pencabutan total blokade yang telah berlangsung selama bertahun-tahun,” tambah Al-Hayya.

Dalam pernyataannya, Hamas turut menyampaikan apresiasi atas peran aktif para mediator, khususnya dari Negara Qatar, Mesir, dan Turki yang terus berupaya menjembatani proses negosiasi antara pihak-pihak yang bertikai.

Kontributor: Bahry

Ulama, Umaro, dan Tokoh Masyarakat Soloraya Teguhkan Komitmen Ukhuwah dan Persatuan

KARANGANYAR (jurnalislam.com)- Forum Silaturahmi Ulama dan Tokoh Umat Islam Surakarta menggelar kegiatan Silaturahmi Akbar Ulama, Umaro, Tokoh, dan Aktifis Dakwah Soloraya, Sabtu (10/5/2025)
pagi hari. Acara yang digelar di Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Colomadu,
Karanganyar ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara
para ulama, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintahan dalam semangat ukhuwah
Islamiyah dan cinta tanah air.

Dengan mengangkat tema “Menjalin Ukhuwah untuk Indonesia Berkah”, acara ini
dihadiri oleh lebih dari 400 tokoh dari berbagai elemen masyarakat Islam se-Soloraya, termasuk ulama, pengasuh pondok pesantren, pimpinan ormas Islam, pejabat pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan pengusaha Muslim.

Sejumlah tamu yang hadir dalam kegiatan ini, antara lain Walikota Surakarta Respati
Ardianto, Danrem 074/Warastratama Surakarta Letkol Inf. Muhammad Arry Yudistira beserta Dandim Se-Soloraya, Kapolresta Surakarta Kombes Pol. Catur Cahyono Wibowo, Kapolres se-Soloraya, MUI, Kemenag, Pimpinan BKsPPI, ulama-ulama NU, ulama-ulama Muhammadiyah, Pimpinan MTA, dan pimpinan pondok pesantren serta ormas Islam lainnya se-Soloraya.

Kehadiran para pemimpin dari unsur pemerintahan, keamanan, dan keagamaan ini memperlihatkan semangat kebersamaan dan sinergi untuk menjaga kerukunan serta
memperkuat peran umat Islam dalam pembangunan bangsa.

Ketua Forum Ulama dan Tokoh Umat Islam Surakarta KH. Muhammad Halim
Naharusurrur disela-sela acara menyampaikan bahwa kegiatan didasari atas keinginan saling bersilaturahmi dan untuk menyatukan langkah antar elemen Islam dalam bingkai ukhuwah.

Ia menegaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi justru menjadi kekuatan dalam memperkaya kontribusi umat terhadap bangsa, sebab Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

“Silaturahmi akan menghilangkan sak wasangka, kemudian saling tolong menolong, saling tabayun (konfirmasi), sehingga menjadikan umat ini damai,” kata Kyai Halim.

Hal senada juga disampaikan Walikota Surakarta Respati Ardianto bahwa umat
Islam mempunyai kewajiban berdakwah, dakwah bisa melalui profesi masing-masing, sehingga umat dunia ini merasakan bahwa umat Islam itu umat yang terbaik, umat yang bisa dipercaya dan berlaku adil.

Selain itu Respati Ardianto juga menyampaikan bahwa ditengah-tengah dunia yang tidak baik-baik saja ini, mengajak umat muslim untuk tidak mudah dipecah belah, umat yang tidak bisa diadu domba hanya dari hal-hal yang sepele dalam hal perbedaan. Maka husnudhon, Tabayun dan Silaturahmi itu yang ditekankan di kota Solo.

Sepatah kata juga disampaikan oleh perwakilan dari berbagai lembaga, baik itu dari Kementerian Agama, MUI, TNI, Polri, pondok pesantren dan juga pengusaha
muslim.

Acara Silaturahmi Akbar ini bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi ruang nyata
untuk mempertemukan berbagai pandangan dan menyatukan energi umat menuju
kebaikan bersama. Dengan hadirnya ratusan tokoh lintas organisasi ini mencerminkan wajah Islam yang damai, bersatu, dan berdaya untuk Indonesia yang
berkah.

Usai penyampaian sambutan, acara ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan
ramah tamah.

Rudal India Hantam Pangkalan Udara Pakistan, Beberapa Nyasar ke Afghanistan, Cari Gara-Gara?

PAKISTAN (jurnalislam.com)- Konflik bersenjata antara India dan Pakistan kembali memanas. Militer Pakistan pada Sabtu (10/5/2025) mengklaim bahwa India telah menembakkan rudal ke tiga pangkalan udara di wilayahnya. Namun sebagian besar rudal tersebut berhasil dicegat, kata Juru Bicara Militer Letjen Ahmad Sharif.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Sharif menyebut bahwa seluruh aset Angkatan Udara Pakistan dalam kondisi aman, meski beberapa rudal India dikabarkan menghantam wilayah Punjab timur India.

“Ini adalah provokasi tingkat tinggi,” ujar Sharif dalam pidatonya.

Menurutnya, rudal-rudal India menargetkan tiga pangkalan udara, yakni Pangkalan Udara Nur Khan di Rawalpindi, Pangkalan Udara Murid di Chakwal, dan Pangkalan Udara Rafiqui di Distrik Jhang, Punjab timur. Ia juga menyebut bahwa beberapa rudal bahkan masuk ke wilayah udara Afghanistan.

“Saya ingin menyampaikan berita mengejutkan bahwa India menembakkan enam rudal balistik dari kota Adampur. Salah satu rudal menghantam kembali wilayah Adampur, sementara lima lainnya menghantam Amritsar, wilayah Punjab India,” ungkapnya.

Di sisi lain, militer India belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan ini. Namun pada Jumat malam, militer India mengeluarkan pernyataan bahwa pesawat nirawak terdeteksi di 26 lokasi yang tersebar di wilayah perbatasan dengan Pakistan, termasuk kota Srinagar di Kashmir. Semua pesawat nirawak itu diklaim telah dilacak dan diserang.

“Situasi terus dipantau secara ketat, dan tindakan cepat diambil di setiap lokasi yang terancam,” bunyi pernyataan tersebut.

Televisi pemerintah Pakistan juga melaporkan bahwa serangan balasan terhadap India sedang berlangsung, meski belum dijelaskan secara rinci wilayah mana yang menjadi sasaran.

“Beberapa lokasi di India telah menjadi target serangan balasan,” demikian laporan televisi tersebut.

Ketegangan antara dua negara bersenjata nuklir ini meningkat sejak serangan mematikan di kawasan wisata Kashmir yang dikuasai India pada 22 April lalu, yang menewaskan 26 warga sipil, sebagian besar di antaranya wisatawan Hindu India. India menuding Pakistan berada di balik serangan tersebut, namun tuduhan ini dibantah keras oleh Islamabad.

Sejak Rabu, India telah melancarkan serangan udara terhadap beberapa lokasi di Pakistan yang diklaim sebagai basis militan. Pemerintah Pakistan menyatakan bahwa serangan tersebut justru menewaskan 31 warga sipil. Mereka juga mengklaim telah menembak jatuh lima jet tempur India.

Pada Kamis, India mengatakan berhasil menggagalkan serangan pesawat nirawak dan rudal dari Pakistan yang menargetkan fasilitas militer di lebih dari selusin kota, termasuk Jammu. Namun, Pakistan membantah tuduhan tersebut.

Sementara itu, India menyebut bahwa serangan mereka telah menghantam sistem pertahanan udara dan radar milik Pakistan di dekat Lahore. Namun klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen. (Bahry)

Sumber: TNA

Gelombang Penolakan Tentara Cadangan, Ketegangan Sosial Kian Membesar di Israel

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perang berkepanjangan di Gaza tidak hanya memicu kritik politik, tetapi juga memunculkan krisis partisipasi dalam militer. Media Israel melaporkan bahwa banyak tentara cadangan menolak untuk hadir menjalankan tugas, dengan angka partisipasi yang diperkirakan hanya sekitar 60 persen — bertolak belakang dari klaim resmi pemerintah sebesar 80 persen.

Banyak dari mereka disebut sebagai “penolak abu-abu”: bukan karena alasan moral terhadap operasi militer, melainkan karena kelelahan akibat penugasan berulang kali yang tak kunjung berakhir. Organisasi New Profile, yang mendampingi para penolak dinas militer, menyatakan, “Telah terjadi peningkatan stabil dalam penolakan di antara prajurit cadangan.” Mereka menambahkan bahwa lonjakan penolakan kerap terjadi setiap kali pemerintah mengambil keputusan kontroversial, seperti pelanggaran gencatan senjata atau wacana pendudukan permanen Gaza.

Di sisi lain, ketidakpuasan juga diarahkan kepada komunitas Haredi (ultra-Ortodoks) yang selama delapan dekade dikecualikan dari dinas militer. Mahkamah Agung Israel pada April lalu bahkan meminta Netanyahu menjelaskan alasan pembiaran terhadap keputusan yang seharusnya membatalkan pengecualian ini.

Profesor Yossi Mekelberg turut menyoroti ketimpangan sosial ini,
“Sekarang kita punya situasi di mana beberapa orang telah bertugas hingga 400 hari, sementara yang lain menolak untuk bertugas sama sekali dan mengeksploitasi kekuatan politik mereka dalam koalisi.” terangnya kepada Al Jazeera (10/5)

Lebih jauh, ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perpecahan dalam masyarakat,

“Terdapat begitu banyak racun dalam wacana publik. Kita melihat racun terhadap siapa pun yang mengkritik perang atau perdana menteri, perpecahan antara yang sekuler dan yang religius, dan bahkan dalam gerakan keagamaan.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Krisis Sandera dan “Perang Abadi”, Netanyahu Hadapi Desakan Internal untuk Akhiri Perang Gaza

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk terus melanjutkan perang di Gaza, alih-alih memprioritaskan pembebasan tawanan, memicu perpecahan dalam masyarakat dan militer Israel. Sejak keputusan sepihak untuk mengakhiri gencatan senjata pada Maret lalu, gelombang kritik datang dari berbagai pihak, termasuk keluarga sandera, mantan pejabat militer, dan elite pasukan keamanan.

Anggota angkatan udara, yang selama ini dikenal sebagai unit elit, dalam surat terbuka menyatakan perang ini “melayani kepentingan politik dan pribadi Netanyahu, bukan kepentingan keamanan.” Pernyataan serupa muncul dari anggota angkatan laut dan agen Mossad, menandakan semakin meluasnya ketidakpuasan di kalangan elite militer.

Kolonel Seth Krummrich, mantan komandan Pasukan Khusus AS dari firma keamanan internasional Global Guardian memperingatkan,

“Saya tidak tahu apakah mereka mampu menduduki wilayah itu. Gaza akan menyerap banyak orang… itu bahkan sebelum Anda berpikir untuk menjaga Israel utara, menghadapi Iran atau menjaga jalan-jalan Israel.” katanya sebagaimana dilansir Al Jazeera (10/5/2025).

Ia menambahkan, “Ketika tentara tidak kembali ke rumah, atau tidak pergi, itu akan menghancurkan tatanan masyarakat Israel. Itu terjadi di setiap meja makan.”

Netanyahu dituding memperpanjang konflik demi mempertahankan kekuasaan dan menghindari konsekuensi hukum atas kasus korupsi yang menjeratnya. Koalisi pemerintahan sayap kanan yang ia pimpin juga menjadi tekanan tersendiri: setiap akhir perang tanpa “kemenangan total” dapat memicu jatuhnya pemerintahan.

Profesor Yossi Mekelberg dari Chatham House mengatakan, “Perpecahan dalam masyarakat Israel bukan hal baru, tapi perang dan konflik memperdalam perpecahan tersebut.”

Sumber: Al Jazeera