Hamas Rilis Video Penyergapan Tentara Israel di Rafah: Klaim Banyak Korban Tewas

PALESTINA (jurnalislam.com)- Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, merilis sebuah video yang menampilkan aksi penyergapan terhadap pasukan militer Israel di Rafah, Jalur Gaza bagian selatan. Video tersebut diunggah di situs resmi mereka pada Rabu (14/5/20225).

Dalam keterangan resmi, Al-Qassam menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari operasi bertajuk Gerbang Neraka yang berlangsung di poros penyerbuan wilayah Al-Tanour, sebelah timur kota Rafah.

Video tersebut menampilkan dua fase serangan:

Fase pertama, pasukan teknik Israel yang berada di dalam sebuah rumah menjadi target serangan dengan peluru anti-personel dan anti-tank. Al-Qassam mengklaim sejumlah tentara tewas dan terluka dalam serangan ini.

Fase kedua, pasukan infanteri Israel diserang menggunakan alat peledak berkekuatan tinggi, yang juga menewaskan dan melukai mereka.

Di akhir video, disebutkan beberapa nama tentara Israel yang diklaim menjadi korban dalam penyergapan tersebut. Di antaranya:

Sersan Yishai Elyakim Orbach dari Batalyon Teknik ke-605 Unit Barak (188) yang diumumkan tewas.

Sersan Yam Farid dari Brigade Golan, juga disebutkan menjadi korban dalam penyergapan di Rafah.

Kondisi Darurat, 93% Penduduk Gaza Hadapi Kekurangan Pangan Akut

GAZA (jurnalislam.com)- Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan penting untuk membahas kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza. Pertemuan ini digelar sehari setelah laporan pemantau kelaparan global, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), mengungkapkan situasi darurat pangan di wilayah tersebut.

Dalam laporannya yang dirilis pada Senin (12/5/2025), IPC menyatakan bahwa seluruh penduduk Gaza kini mengalami kekurangan pangan akut. Bahkan, satu dari lima orang—sekitar 244.000 jiwa atau 12 persen dari total populasi—saat ini berada dalam kondisi “bencana”, kategori tertinggi dalam skala kelaparan.

“Sebanyak 1,95 juta orang, atau 93 persen dari populasi Gaza, menghadapi kekurangan pangan akut,” tulis IPC.

Situasi ini disebut sebagai krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. IPC memperkirakan bahwa pada akhir September 2025, lebih dari 470.000 orang—sekitar 22 persen populasi Gaza—akan jatuh dalam kategori “bencana”, sementara lebih dari satu juta orang lainnya berada dalam level “darurat”, yaitu Fase 4 dari total 5 level kelaparan.

“Dari 11 Mei hingga akhir September 2025, seluruh wilayah Gaza diklasifikasikan dalam kondisi darurat (IPC Fase 4), dengan seluruh penduduk diproyeksikan menghadapi krisis atau kondisi lebih parah (IPC Fase 3 ke atas),” tegas laporan tersebut.

Blokade berkepanjangan, hancurnya infrastruktur, dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan disebut menjadi faktor utama memburuknya kondisi pangan di Gaza. Sejumlah negara dan lembaga kemanusiaan internasional mendesak segera dilakukan gencatan senjata dan pembukaan jalur bantuan untuk mencegah bencana kelaparan massal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

https://aje.io/2fy5m9?update=37Kondisi Darurat, 93% Penduduk Gaza Hadapi Kekurangan Pangan Akut

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan penting untuk membahas kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza. Pertemuan ini digelar sehari setelah laporan pemantau kelaparan global, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), mengungkapkan situasi darurat pangan di wilayah tersebut.

Dalam laporannya yang dirilis pada Senin (12/5), IPC menyatakan bahwa seluruh penduduk Gaza kini mengalami kekurangan pangan akut. Bahkan, satu dari lima orang—sekitar 244.000 jiwa atau 12 persen dari total populasi—saat ini berada dalam kondisi “bencana”, kategori tertinggi dalam skala kelaparan.

“Sebanyak 1,95 juta orang, atau 93 persen dari populasi Gaza, menghadapi kekurangan pangan akut,” tulis IPC.

Situasi ini disebut sebagai krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. IPC memperkirakan bahwa pada akhir September 2025, lebih dari 470.000 orang—sekitar 22 persen populasi Gaza—akan jatuh dalam kategori “bencana”, sementara lebih dari satu juta orang lainnya berada dalam level “darurat”, yaitu Fase 4 dari total 5 level kelaparan.

“Dari 11 Mei hingga akhir September 2025, seluruh wilayah Gaza diklasifikasikan dalam kondisi darurat (IPC Fase 4), dengan seluruh penduduk diproyeksikan menghadapi krisis atau kondisi lebih parah (IPC Fase 3 ke atas),” tegas laporan tersebut.

Blokade berkepanjangan, hancurnya infrastruktur, dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan disebut menjadi faktor utama memburuknya kondisi pangan di Gaza. Sejumlah negara dan lembaga kemanusiaan internasional mendesak segera dilakukan gencatan senjata dan pembukaan jalur bantuan untuk mencegah bencana kelaparan massal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

100 Slop Rokok Disita dari Koper Jemaah di Bandara Madinah

MADINAH (jurnalislam.com)— Petugas Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, kembali menyita rokok dalam jumlah besar dari koper jemaah haji asal Indonesia. Kali ini, sebanyak 100 slop rokok ditemukan tersebar dalam 9 koper milik jemaah dari kloter JKG 33.

Wakil Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdillah, menyebut temuan ini sebagai yang terbesar sejak awal kedatangan jemaah haji Indonesia di Madinah.

“Kejadian ini bukan yang pertama sejak kedatangan jemaah Indonesia di Bandara Madinah. Namun penemuan kali ini menjadi yang terbesar,“ ujarnya di Bandara Madinah, Rabu (14/5/2025).

Beruntung, melalui negosiasi dengan pihak bandara, koper-koper jemaah tidak ditahan meskipun seluruh rokok langsung disita.

“Alhamdulillah, negosiasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Bandara dengan otoritas bandara berjalan baik, koper jemaah tidak ditahan dan 100 slop rokok disita,” jelas Abdillah.

Ia kembali mengingatkan agar jemaah mematuhi aturan ketat Pemerintah Arab Saudi, yakni batas maksimal membawa rokok adalah 2 slop atau 200 batang per orang.

“Jangan melebihi kapasitas karena akan merepotkan jemaah dan petugas PPIH,” tambahnya.

Soal sanksi, Abdillah mengungkapkan bahwa denda bisa dikenakan bagi pelanggar, meski besaran pastinya masih menunggu konfirmasi.

“Pengalaman tahun sebelumnya, ada jemaah yang membawa lima slop dan dikenai denda 200 riyal atau sekitar Rp883 ribu,” ungkapnya.

Abdillah juga mengimbau agar jemaah yang tidak merokok tidak menerima titipan rokok dari orang lain.

Iran Ancam Israel, Siap Tembakkan 600 Rudal Sekaligus Jika Konflik Meletus

TEHERAN (jurnalislam.com)– Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Mayor Jenderal Hossein Salami, memperingatkan bahwa Iran dapat meluncurkan hingga 600 rudal secara bersamaan ke arah pasukan Israel dan Amerika Serikat jika konflik berskala besar pecah di kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan Salami dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa (13/5/2025).

“Jika kita menembakkan 600 rudal sekaligus, dapatkah musuh menahannya?” ujar Salami dengan nada retoris, memperingatkan potensi kekuatan militer Iran.

“Musuh kita tidak memahami konsekuensi dari ancaman mereka. Bahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu takut mengunjungi Azerbaijan,” tambahnya.

Menurut Salami, ancaman dari pihak musuh, termasuk Israel dan AS, menunjukkan ketidaksadaran mereka terhadap konsekuensi besar yang bisa terjadi. Ia bahkan menyindir Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menurutnya takut untuk mengunjungi Azerbaijan, negara yang berbatasan langsung dengan Iran.

Salami juga menegaskan bahwa posisi strategis Iran saat ini semakin kuat, dengan rasa percaya diri yang meningkat dalam menghadapi tantangan regional maupun global. Ia menyatakan bahwa konflik saat ini tidak hanya berlangsung di medan perang konvensional, namun juga merambah ke ranah media, budaya, dan ideologi.

“Gaza menunjukkan kepada dunia bahwa tekad dan keberanian bisa menandingi keunggulan militer,” katanya.

Dalam pidatonya, Salami juga menyinggung situasi di Laut Merah dan keterlibatan AS di Yaman. Ia mencatat bahwa kapal induk AS telah menghindari konfrontasi langsung, dan keputusan Washington untuk melakukan gencatan senjata sepihak menunjukkan adanya pengekangan strategis dari pihak AS.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti tekanan internal dalam militer Amerika Serikat. Salami mengklaim bahwa kinerja angkatan udara AS menurun, dengan meningkatnya jumlah kecelakaan pesawat dalam beberapa bulan terakhir.

Pernyataan keras Salami datang di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, seiring agresi Israel yang terus berlangsung di Gaza dan keterlibatan berbagai aktor regional dalam konflik yang meluas. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Serangan Roket Kembali Diluncurkan dari Gaza, Militer Israel Aktifkan Sirene Peringatan

GAZA (jurnalislam.com)– Faksi-faksi bersenjata Palestina meluncurkan serangkaian roket ke arah wilayah Israel pada Selasa (13/5/2025), menargetkan sejumlah kota dan permukiman di dekat perbatasan. Serangan ini disebut sebagai respons atas agresi militer Israel yang masih berlangsung di Jalur Gaza.

Sayap militer Jihad Islam Palestina, Saraya al-Quds, mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran roket tersebut. Mereka menyebut roket-roket ditembakkan ke arah kota Ashdod, Ashkelon, Sderot, serta beberapa komunitas lainnya di sekitar Gaza.

Mengutip laporan Channel 12 Israel, tiga roket diluncurkan dari Gaza—satu diarahkan ke Ashkelon dan dua lainnya ke Sderot. Militer Israel mengonfirmasi bahwa sirene peringatan serangan udara diaktifkan di kawasan perbatasan.

Dari tiga roket tersebut, dua berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, sementara satu lainnya jatuh di area terbuka. Tidak ada laporan korban jiwa maupun luka akibat serangan ini.

Sementara itu, serangan udara intensif Israel di Gaza masih terus berlangsung. Dalam 36 jam terakhir, lebih dari 100 orang dilaporkan tewas. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat pada Selasa (13/5) saja, sedikitnya 46 warga Palestina tewas dan 73 lainnya luka-luka akibat gempuran Israel.

Sejak dimulainya agresi pada 7 Oktober 2023, jumlah korban di Gaza telah mencapai 52.908 orang tewas dan 119.721 orang luka-luka.

Di sisi lain, situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Blokade ketat Israel yang kini memasuki bulan kedelapan telah menyebabkan krisis akses terhadap makanan, air bersih, dan bantuan medis. Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan kondisi di wilayah padat penduduk itu bisa berubah menjadi bencana kelaparan massal.

Berdasarkan laporan dari Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), sekitar 470.000 warga Gaza kini berada dalam kondisi krisis pangan Fase 5—tingkat paling parah dalam skala kelaparan global. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Deretan Serangan Israel terhadap Rumah Sakit Selama Perang di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)— Serangan udara Israel kembali menghantam salah satu rumah sakit terakhir yang masih berfungsi di Gaza utara, memaksa pasien kritis mengungsi ke jalanan. Serangan terbaru ini terjadi di Rumah Sakit Arab al-Ahli pada Ahad (11/3), saat militer Israel memperluas serangannya di selatan Gaza setelah mengakhiri gencatan senjata pada Maret lalu.

Menurut Pertahanan Sipil Gaza, militer Israel menyerang salah satu bangunan rumah sakit tersebut pada dini hari. Tentara Israel dan badan intelijen Shin Bet mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan “kompleks komando dan kendali” milik Hamas di rumah sakit, namun tidak memberikan bukti atas klaim itu.

Rumah sakit di Gaza telah menjadi sasaran berulang sejak perang meletus pada Oktober 2023, termasuk serangan menggunakan bom seberat 2.000 pon buatan Amerika Serikat. Setidaknya 36 rumah sakit telah dibom atau dibakar oleh pasukan Israel. Serangan terhadap fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan pasien merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut Konvensi Jenewa 1949.

Berikut ini adalah catatan sejumlah serangan besar terhadap layanan kesehatan di Gaza sejak perang dimulai:

17 Oktober 2023
Ratusan warga yang berlindung di pelataran Rumah Sakit al-Ahli tewas akibat serangan udara Israel. Sebelumnya, direktur rumah sakit dilaporkan menerima peringatan dari pihak Israel. Israel kemudian mengklaim bahwa ledakan disebabkan oleh roket milik kelompok Jihad Islam Palestina yang gagal diluncurkan. Klaim tersebut dibantah oleh kelompok bersenjata itu.

3 November 2023
Konvoi ambulans dihantam serangan udara Israel di luar Rumah Sakit al-Shifa, menewaskan banyak warga Palestina.

21 November 2023
Serangan udara Israel menghantam Rumah Sakit al-Awda dan menewaskan tiga dokter, termasuk dua staf Médecins Sans Frontières (MSF), yakni Dr Mahmoud Abu Nujaila dan Dr Ahmad al-Sahar.

20 November 2023
Pasukan Israel mengepung Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya selama beberapa hari. Setelah pengepungan, pasukan meninggalkan rumah sakit dalam kondisi hancur, dengan jenazah hangus dan membusuk di dalamnya.

22 Januari 2024
Beberapa warga sipil tewas akibat serangan yang terjadi sekitar 150 meter dari gerbang Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Para pengungsi yang berlindung di kawasan itu mengalami penderitaan akibat pertempuran dan evakuasi paksa.

20 Maret 2024
Israel mengklaim telah menewaskan 90 orang dalam serangan ke Rumah Sakit al-Shifa. Warga yang selamat melaporkan adanya penahanan dan penyiksaan selama pengepungan. Hamas mengecam peristiwa ini sebagai “pembantaian berdarah” terhadap warga sipil, pasien, dan pengungsi.

31 Maret 2024
Serangan udara Israel menghantam halaman Rumah Sakit Al-Aqsa, menewaskan dan melukai banyak orang, termasuk pengungsi internal yang berlindung di sekitar ruang gawat darurat.

1 April 2024
Pengepungan 14 hari terhadap Rumah Sakit al-Shifa oleh pasukan Israel menyebabkan ratusan orang tewas, termasuk tenaga medis. Banyak staf rumah sakit dan warga sipil ditangkap secara massal.

14 Oktober 2024
Serangan udara Israel terhadap Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir el-Balah menewaskan lima orang dan melukai 65 lainnya. Tenda-tenda pengungsi turut terbakar saat serangan terjadi pada malam hari.

28 Desember 2024
Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, Dr Hussam Abu Safia, ditangkap setelah menolak meninggalkan fasilitas medis tersebut. Sehari sebelumnya, militer Israel membunuh sekitar 20 warga Palestina dan menangkap sekitar 240 orang dalam salah satu operasi terbesar yang dilakukan di rumah sakit itu.

Sumber: Al Jazeera

Sambil Temui Tentara yang Terluka, Netanyahu Nyatakan: Israel Akan Masuki Gaza Dengan Seluruh Kekuatan

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan segera melancarkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza untuk menuntaskan tujuan utama militernya, yakni menaklukkan pejuang Hamas. Hal ini disampaikan Netanyahu saat mengunjungi prajurit Israel yang terluka, sebagaimana dilaporkan media Israel Haaretz dan dikutip Al Jazeera, Selasa (13/5/2025).

“Kami dalam beberapa hari mendatang akan memasuki [Gaza] dengan seluruh kekuatan kami untuk menyelesaikan proses… untuk menaklukkan Hamas,” ujar Netanyahu.

Ia menyebutkan, meskipun kemungkinan ada upaya dari Hamas untuk menghentikan serangan melalui pembebasan sandera, operasi militer tidak akan dihentikan secara permanen.

“Bisa jadi Hamas akan berkata, ‘Berhenti, kami ingin membebaskan 10 sandera lainnya.’ Dalam kasus itu kami akan berhenti, dan [setelahnya] kami akan masuk kembali. Tetapi tidak akan ada situasi di mana kami menghentikan perang,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Netanyahu juga mengulangi pernyataan kontroversialnya mengenai rencana pemindahan penduduk Gaza. Ia menyebut pemerintahnya telah membentuk badan khusus yang bertugas mengatur hal tersebut.

“Namun ada satu masalah, kami membutuhkan negara-negara untuk menerima mereka. Inilah yang sedang kami kerjakan saat ini,” katanya.

“Jika Anda memberi mereka jalan keluar, saya katakan kepada Anda bahwa lebih dari 50 persen akan pergi, menurut pendapat saya bahkan lebih banyak lagi,” tambahnya.

Pernyataan Netanyahu ini kembali memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi pelanggaran hukum kemanusiaan, termasuk dugaan upaya pemindahan paksa warga sipil Palestina dari tanah mereka. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Jurnalis Palestina Tewas dalam Serangan Israel di Rumah Sakit Gaza, Total 215 Jurnalis Telah Gugur

GAZA (jurnalislam.com)– Seorang jurnalis Palestina, Hassan Eslaih, dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel yang menyasar Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Gaza Selatan, Selasa (13/5/2025). Serangan tersebut juga menewaskan satu orang lainnya.

Militer Israel mengakui telah melakukan “serangan terarah” terhadap rumah sakit tersebut, yang disebut sebagai lokasi “kompleks komando dan kendali Hamas”. Namun, pihak militer tidak memberikan bukti pendukung atas klaim tersebut.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, Eslaih saat itu sedang menjalani perawatan di unit luka bakar rumah sakit akibat cedera parah yang dideritanya dalam serangan sebelumnya pada 7 April, yang menghantam tenda media di dekat rumah sakit yang sama.

Rekaman video dari kantor berita AFP memperlihatkan asap mengepul dari area rumah sakit usai serangan. Tim penyelamat tampak mencari korban di antara puing-puing dengan bantuan cahaya obor.

“Ini adalah rumah sakit sipil yang menerima orang-orang terluka sepanjang waktu,” ujar seorang pekerja rumah sakit bernama Abu Ghali kepada AFP.

“Pemboman Israel tidak membedakan antara warga sipil dan target militer.” imbuhnya.

Hassan Eslaih dikenal sebagai direktur Kantor Berita Alam24 serta jurnalis lepas yang bekerja sama dengan berbagai media internasional. Ia juga diketahui sebagai salah satu fotografer yang mendokumentasikan serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.

Militer Israel menuduh Eslaih sebagai anggota Hamas yang terlibat dalam serangan tersebut. Namun tuduhan ini telah dibantah keras oleh pihak keluarga dan rekan-rekannya.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat bahwa sedikitnya 178 jurnalis dan pekerja media telah tewas di wilayah Palestina, Israel, dan Lebanon sejak meletusnya perang. Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebutkan angka korban tewas di kalangan jurnalis telah mencapai 215 orang.

Kementerian Kesehatan Gaza mengecam serangan berulang terhadap rumah sakit serta tindakan yang mereka sebut sebagai “pembunuhan terhadap pasien yang terluka di ruang perawatan”.

“Penargetan terhadap rumah sakit dan pasien adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan menunjukkan adanya niat Israel untuk menghancurkan sistem kesehatan di Gaza,” tulis pernyataan resmi kementerian tersebut.

Sejak Oktober 2023, setidaknya 36 rumah sakit dilaporkan menjadi sasaran serangan militer Israel di berbagai wilayah Gaza. Serangan terhadap fasilitas medis, tenaga kesehatan, dan pasien dilarang keras dalam Konvensi Jenewa 1949. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Layanan Fast Track Permudah Keberangkatan Jemaah Haji dari Indonesia

SIDOARJO (jurnalislam.com)– Suasana Bandara Internasional Juanda pada Minggu (11/5/2025) terasa berbeda. Para jemaah haji kloter 33 Embarkasi Surabaya tampak lebih tenang dan terorganisir, berkat layanan fast track yang kembali diterapkan untuk memperlancar proses keberangkatan menuju Tanah Suci.

Fast track merupakan inovasi pelayanan keimigrasian yang memungkinkan pemeriksaan dokumen dan perekaman bio visa dilakukan langsung di tanah air oleh petugas imigrasi Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, jemaah tidak lagi harus melewati antrean panjang saat tiba di bandara tujuan di Arab Saudi.

“Dengan fast track, jemaah tidak perlu lagi antre panjang saat tiba di Arab Saudi. Pemeriksaan sudah dilakukan oleh petugas imigrasi Arab Saudi di Bandara Juanda, sehingga saat mendarat, mereka bisa langsung menuju bus,” jelas Ichwan Novendik, Kepala Seksi Pemantau Jemaah Haji Embarkasi Asrama Haji Surabaya.

Tahun ini menjadi kali kedua Bandara Juanda menjadi lokasi pelaksanaan layanan fast track, setelah perdana digunakan pada musim haji 2024.

Jemaah kloter 33 dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz di Madinah. Proses keberangkatan berjalan tertib, dimulai dari pemeriksaan dokumen hingga jemaah diarahkan ke ruang tunggu menjelang penerbangan.

Layanan fast track diharapkan terus memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para tamu Allah, menjadi bagian dari upaya memuliakan mereka dalam perjalanan spiritual menuju Baitullah.

Hamas Bebaskan Tentara AS-Israel, Kirim Pesan ke Tel Aviv: Tawanan Bisa Pulang Lewat Negosiasi, Bukan Serangan Militer

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) melalui sayap militernya, Brigade Al-Qassam, mengumumkan pembebasan Edan Alexander, tentara Israel yang juga berkewarganegaraan Amerika Serikat, pada Senin (12/5/2025). Pembebasan ini dilakukan sebagai bagian dari langkah-langkah menuju tercapainya gencatan senjata serta pembukaan jalur bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis di situs Hamas, kelompok tersebut menegaskan bahwa keputusan ini diambil setelah komunikasi intensif dengan pemerintah Amerika Serikat melalui para mediator, termasuk Qatar dan Mesir.

“Brigade Al-Qassam telah membebaskan tentara Zionis, yang memegang kewarganegaraan Amerika, tawanan Edan Alexander, sebagai bagian dari upaya untuk membuka penyeberangan dan membawa bantuan serta pertolongan bagi rakyat kami di Gaza,” tulis Hamas.

Hamas menekankan bahwa pembebasan ini merupakan bukti bahwa penyelesaian konflik dan pembebasan tawanan dapat dicapai melalui jalan diplomasi, bukan dengan kekerasan militer.

“Kami menegaskan bahwa negosiasi yang serius dan bertanggung jawab dapat mencapai hasil dalam pembebasan tawanan… sementara agresi yang berkelanjutan memperpanjang penderitaan mereka dan dapat membunuh mereka,” lanjut pernyataan tersebut.

Gerakan Hamas juga menyampaikan kesiapan untuk memulai negosiasi guna mencapai kesepakatan komprehensif, termasuk gencatan senjata permanen, penarikan pasukan pendudukan, pencabutan pengepungan, pertukaran tahanan, dan rekonstruksi Gaza.

“Kami mendesak pemerintahan Presiden Trump untuk melanjutkan upayanya mengakhiri perang brutal yang dilancarkan oleh penjahat perang Netanyahu terhadap anak-anak, wanita, dan warga sipil yang tak berdaya di Gaza,” tutup Hamas dalam pernyataannya.

Langkah Hamas ini secara tidak langsung menjadi sindiran terhadap kebijakan militer Israel yang bersikeras melakukan operasi bersenjata untuk membebaskan sandera, sebuah pendekatan yang dikritik keras oleh sebagian besar keluarga korban dan publik Israel sendiri.

Kontributor: Bahry