Israel Bayar Google Rp731 Miliar untuk Sebarkan Propaganda di Tengah Krisis Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Israel dilaporkan membayar raksasa teknologi Google sebesar $45 juta (sekitar Rp731 miliar) untuk menyebarkan propagandanya di tengah meningkatnya kecaman internasional atas pengepungan dan penghancuran Gaza. Fakta ini diungkap dalam investigasi Drop Site News awal pekan ini.

Media tersebut menyebutkan bahwa diskusi di Knesset Israel mengenai kampanye PR ini dimulai hanya beberapa jam setelah pemerintah Israel mengumumkan penghentian total pasokan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan vital lainnya ke Jalur Gaza pada 2 Maret 2025.

Alih-alih memikirkan nasib warga sipil Palestina yang terdampak, anggota Knesset justru khawatir dengan citra Israel di mata dunia. Sejak kebijakan pengepungan itu diberlakukan, setidaknya 367 warga Gaza, termasuk 131 anak-anak, meninggal akibat kelaparan.

Pada akhir Juni, pemerintah Israel menandatangani kontrak senilai $45 juta dengan Google untuk kampanye iklan berdurasi enam bulan. Saat itu, pasukan Israel juga melancarkan serangan mematikan, menewaskan banyak warga Palestina yang tengah mengantre bantuan kemanusiaan dari Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), serta melakukan serangan udara harian di kawasan sipil.

Kampanye propaganda ini diusulkan oleh Avichay Adraee, juru bicara militer Israel berbahasa Arab, yang menyatakan: “Kita bisa meluncurkan kampanye digital untuk menjelaskan bahwa tidak ada kelaparan dan menyajikan datanya.”

Salah satu iklan yang paling menonjol ditayangkan di YouTube, menampilkan warga Palestina yang sedang memasak dan menyantap makanan, dengan slogan: “Ada makanan di Gaza. Klaim lain adalah kebohongan.”

Ironisnya, iklan tersebut muncul di tengah laporan global tentang kematian massal akibat kelaparan dan malnutrisi di Gaza. Tak lama kemudian, PBB secara resmi menyatakan adanya bencana kelaparan di Kota Gaza dan sekitarnya.

Selain Google, Israel juga disebut membayar $3 juta (sekitar Rp48 miliar) untuk kampanye serupa di platform media sosial X, sekaligus membawa influencer asal AS ke Gaza demi menyebarkan narasi yang menguntungkan Israel. Hal ini terjadi di saat jurnalis internasional dilarang masuk, sementara jurnalis Palestina kerap menjadi target pembunuhan.

Meski berusaha meyakinkan dunia bahwa tidak ada kelaparan di Gaza, beberapa pejabat Israel justru secara terbuka menganjurkan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.

Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich, pernah menyatakan: “Menurut saya, kalian bisa mengepung mereka. Tanpa air, tanpa listrik, mereka bisa mati kelaparan atau menyerah.”

Sementara Amichaya Eliyahu, Menteri Warisan Israel, juga mengatakan bahwa warga Palestina “perlu kelaparan” kecuali mereka bersedia meninggalkan Gaza.

Kebijakan ini juga terkait dengan sikap salah satu pendiri Google, Sergey Brin, yang sebelumnya menyebut PBB “jelas antisemit” setelah Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, mengkritik Google karena mengambil keuntungan dari genosida Israel dengan menyediakan layanan cloud bagi pemerintah Israel. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Hancurkan Dua Menara Hunian di Gaza, Ribuan Warga Mengungsi

GAZA (jurnalislam.com)– Israel pada Sabtu (6/8/2025) menghancurkan Menara Al-Soussi setinggi 15 lantai di lingkungan Al-Sinaa, bagian barat Kota Gaza. Gedung yang menjadi tempat berlindung bagi puluhan keluarga pengungsi itu berisi lebih dari 100 apartemen dan dibangun pada masa Otoritas Palestina menguasai Gaza (1993–2007).

Penghancuran ini terjadi sehari setelah Israel meruntuhkan Menara Mushtaha di kawasan Al-Rimal. Kedua bangunan tinggi itu menjadi target serangan dengan dalih digunakan pejuang Hamas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, merayakan serangan tersebut melalui unggahan di X dengan pernyataan singkat: “Kami akan melanjutkan.”

Koresponden The New Arab melaporkan, Israel telah memperingatkan warga Gaza bahwa Menara Al-Roya juga akan menjadi target berikutnya. Tentara Israel mengancam akan menghancurkan lebih banyak menara hunian di Kota Gaza, yang menampung puluhan ribu warga sipil.

Rekaman AFP menunjukkan Menara Mushtaha runtuh dengan ledakan besar, disertai asap pekat yang membubung ke langit. Sejumlah warga berusaha menyelamatkan barang-barang sebelum gedung itu dihancurkan.

“Kurang dari setengah jam setelah perintah evakuasi, menara itu dibom,” kata Areej Ahmed (50), seorang pengungsi Palestina, kepada AFP.

Serangan udara Israel secara keseluruhan menewaskan sedikitnya 68 orang di seluruh Jalur Gaza pada Jumat, dan 21 orang lainnya pada Sabtu. Tidak diketahui apakah korban tewas berasal dari penghancuran dua menara tersebut.

Israel mengklaim telah menetapkan kawasan Mawasi sebagai “zona aman” dan memerintahkan warga Kota Gaza mengungsi ke wilayah itu. Namun, banyak penduduk menolak, mengingat serangan mematikan sebelumnya juga terjadi di sana.

“Ke mana pun kami pergi, kematian mengejar kami, entah karena pengeboman atau kelaparan,” kata Samia Mushtaha (20), warga Gaza yang kini mengungsi di tenda di kawasan Rimal.

PBB memperkirakan hampir satu juta orang masih berada di Kota Gaza dan sekitarnya, wilayah yang bulan lalu dinyatakan mengalami bencana kelaparan. Badan dunia itu memperingatkan akan adanya “bencana” lebih besar jika serangan berlanjut.

Sejak dimulainya agresi Israel, lebih dari 64.368 orang di Gaza tewas—kebanyakan perempuan dan anak-anak menurut otoritas kesehatan setempat. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena ribuan korban masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan. (Bahry)

Sumber: TNA

Tahun Ajaran Baru Dimulai, Anak-anak Gaza Masih Terhalang Perang

GAZA (jurnalislam.com)— Tahun ajaran baru kembali dimulai di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki Israel. Namun, di Jalur Gaza, untuk tahun ketiga berturut-turut, sekolah tidak dibuka akibat perang yang belum menunjukkan tanda berakhir.

Suasana yang biasanya diwarnai bel sekolah, barisan siswa dengan seragam baru, serta sapaan guru, kini berganti dengan tenda-tenda pengungsian, reruntuhan, dan tempat penampungan yang penuh sesak. Ribuan anak terpaksa absen dari pendidikan, memicu kekhawatiran akan hilangnya satu generasi.

Aisha Ahmed (10), salah satu siswi di Gaza, mengaku tak lagi ingat huruf-huruf dengan benar. “Saya mencoba menulis nama saya, tetapi terkadang lupa. Ibu saya bilang suatu hari nanti saya akan kembali ke sekolah, tetapi kapan?” katanya kepada The New Arab.

Nasib serupa dialami Hassan Abu Hasira (13), yang seharusnya memasuki kelas delapan. Kini, ia menghabiskan waktunya membantu ayah membuat furnitur darurat di kamp pengungsian. “Ketika perang dimulai, impian saya berakhir. Teman-teman saya ada yang terbunuh, ada yang hilang. Saya bahkan tidak ingat pelajaran terakhir saya,” ujarnya.

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀

Kementerian Pendidikan Palestina melaporkan lebih dari 17.000 pelajar dan 1.200 mahasiswa tewas sejak perang kembali pecah pada Oktober 2023. Hampir 90 persen sekolah di Gaza hancur atau rusak berat, sementara bangunan yang masih berdiri dipenuhi pengungsi.

“Pendidikan adalah tulang punggung pemulihan masyarakat. Di Gaza, tulang punggung itu sudah hancur,” kata Rami Khalaf, peneliti pendidikan berbasis di Ramallah.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan risiko hilangnya satu generasi anak-anak Palestina. Banyak murid sekolah dasar tidak sempat belajar membaca atau menulis karena perang dan pengungsian.

𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗧𝘂𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗚𝘂𝗿𝘂 𝗧𝗲𝗿𝗽𝘂𝗿𝘂𝗸

Selain anak-anak, para orang tua juga khawatir generasi berikutnya terjerumus dalam buta huruf. “Putri saya seharusnya belajar alfabet tahun ini, tetapi saya sendiri tidak bisa mengajarinya karena tidak tamat sekolah,” kata Sami Abu Mustafa, warga al-Zawaida.

Para guru berupaya memberikan pelajaran darurat di tenda-tenda pengungsian. “Kami menulis angka di kardus bekas, tapi pikiran anak-anak penuh dengan perang. Tenda bukanlah sekolah, dan kardus bukan pengganti papan tulis,” kata Nadia Assaf, guru matematika di Khan Younis.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗽𝗶 𝗕𝗮𝗿𝗮𝘁

Sementara itu di Tepi Barat, meski sekolah kembali dibuka, situasi pendidikan juga menghadapi tantangan berat. Pemotongan pendapatan izin oleh Israel membuat guru tidak digaji selama berbulan-bulan dan layanan pendidikan berjalan sangat minim.

“Gaza dibombardir hingga buta huruf, sementara Tepi Barat tercekik secara finansial. Efek gabungan ini menciptakan masa depan suram bagi anak-anak Palestina,” ujar analis politik Gaza, Hussam al-Dajani.

𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗣𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻

Meski demikian, harapan masih bertahan. Sejumlah anak di pengungsian tetap membawa tas sekolah kosong sebagai simbol kehidupan normal. Guru-guru menuliskan alfabet di pasir, dan orang tua terus meyakinkan anak mereka bahwa ruang kelas suatu hari akan kembali dibuka.

“Pendidikan adalah bentuk perlawanan kami terhadap kehidupan yang tidak adil,” kata Samiha Ayoub, guru asal Gaza. “Setiap huruf yang kami tulis adalah pesan kepada dunia: kami masih ada, kami masih ingin belajar, dan perang tidak akan menghapus kami.” (Bahry)

Sumber: TNA

Trump Sebut AS Negosiasi “Mendalam” dengan Hamas, Hamas: Netanyahu Penghambat Kesepakatan

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Jumat (5/8/2025) bahwa Washington sedang melakukan negosiasi “sangat mendalam” dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, terkait pembebasan sandera Israel yang masih ditahan di Gaza.

“Kami sedang dalam negosiasi yang sangat mendalam dengan Hamas,” kata Trump kepada wartawan. Ia menegaskan bahwa situasi akan “sulit” dan “buruk” jika Hamas tidak segera membebaskan para sandera.

“Kami sudah bilang, bebaskan mereka semua, sekarang juga. Dan hal-hal yang jauh lebih baik akan terjadi bagi mereka. Tetapi jika Anda tidak membebaskan mereka semua, situasinya akan sulit, situasinya akan buruk,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Hamas “meminta beberapa hal yang baik-baik saja,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Menurut otoritas Israel, para pejuang Palestina membawa lebih dari 250 orang ke Gaza setelah serangan 7 Oktober 2023. Saat ini sekitar 50 sandera Israel diyakini masih berada di Gaza, dengan 20 orang diperkirakan hidup.

Trump, yang tengah berkampanye untuk kembali ke Gedung Putih, berulang kali berjanji akan mengakhiri perang di Gaza dengan cepat, meski hingga kini resolusi belum tercapai.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa perang hanya akan berakhir jika seluruh sandera dibebaskan, Hamas dilucuti senjatanya, Israel menetapkan kendali keamanan atas Gaza, dan terbentuk pemerintahan sipil alternatif. Sementara Hamas menuntut diakhirinya perang dan penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah tersebut.

Secara terpisah, anggota biro politik Hamas, Izzat al-Rishq, menanggapi pernyataan Trump dengan menyebut bahwa pihaknya telah menunjukkan kesiapan untuk mencapai kesepakatan.

“Presiden AS Donald Trump berkata: Saya meminta Hamas untuk segera memulangkan semua 20 sandera, bukan 2, 5, atau 7, dan keadaan akan berubah dengan cepat,” ujar al-Rishq.

“Kami memberi tahu Presiden AS Trump bahwa Hamas telah menyetujui proposal mediator pada 18 Agustus, yang pada dasarnya didasarkan pada proposal Witkoff, dan Netanyahu belum menanggapi. Kami juga telah menyatakan kesiapan kami untuk kesepakatan komprehensif di mana semua tahanan dibebaskan dengan imbalan sejumlah tahanan kami yang disepakati di penjara pendudukan, dengan cara yang mencapai gencatan senjata dan penarikan pasukan pendudukan,” lanjutnya.

Al-Rishq menegaskan bahwa Netanyahu adalah “penghambat sejati” kesepakatan pertukaran dan gencatan senjata. “Dia menginginkan perang tanpa akhir,” tegasnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Brigade Al-Qassam Rilis Video Tawanan Israel di Gaza, Kritik Keras Netanyahu

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, merilis sebuah video pada Jumat (5/8) yang menampilkan salah seorang tawanan Israel, Guy Dalal, di tengah reruntuhan bangunan hancur di Kota Gaza.

Dalam rekaman itu, Dalal menyebut video tersebut direkam pada 28 Agustus di Gaza. Ia tampil dengan wajah tertekan dan menyampaikan pesan bahwa serangan Israel di kota itu akan mengancam nyawanya serta para tawanan lain.

“Ini berarti para tawanan akan mati. Saya dan lebih dari delapan warga Israel lainnya akan mati di sini,” ujarnya.

Video diawali dengan tulisan: “Kami pikir kami adalah tawanan Hamas, tetapi sebenarnya kami adalah tawanan pemerintah kami sendiri—Netanyahu, Ben-Gvir, dan Smotrich.”

Dalal menuduh pimpinan Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, tidak peduli pada nyawa tentara maupun tawanan. Ia juga menggambarkan kondisi buruk selama 22 bulan penahanan, termasuk kelaparan yang dialami bersama warga Gaza di bawah blokade.

“Anda akhirnya membiarkan kami makan roti, keju, dan mi instan hanya untuk bertahan hidup, sementara putra Anda Yair menikmati daging panggang di Miami,” kata Dalal, menyinggung Netanyahu.

Rekaman itu juga menampilkan Dalal bertemu dengan seorang tawanan Israel lain yang identitasnya tidak diungkapkan, di dekat markas Palang Merah di Gaza. Keduanya menyebut situasi yang dialami sebagai “tak terpahami.”

Dalal kemudian menyerukan agar warga Israel memprotes pemerintah, menciptakan tekanan, dan menuntut diakhirinya perang serta pembebasan para tawanan. Video ditutup dengan pesan Brigade Al-Qassam: “Waktu hampir habis.”

Sementara itu, Channel 14 Israel melaporkan bahwa militer berencana melancarkan operasi baru di Kota Gaza pekan depan. Serangan tersebut diawali dengan serangan udara, disusul operasi darat, serta evakuasi penduduk ke Gaza selatan.

Otoritas Israel memperkirakan terdapat 48 tawanan Israel di Gaza, dengan sekitar 20 orang diyakini masih hidup. Di sisi lain, lebih dari 11.100 warga Palestina masih mendekam di penjara Israel. Banyak di antaranya dilaporkan mengalami penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis, bahkan sebagian meninggal dalam tahanan. (Bahry)

Sumber: PC

Korban Gempa Afghanistan Meningkat, 2.205 Jiwa Meninggal, 3.640 Terluka

KABUL (jurnalislam.com)– Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang timur Afghanistan meningkat menjadi 2.205 jiwa, sementara 3.640 orang lainnya dilaporkan terluka. Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan.

Wakil Juru Bicara Emirat Islam, Hamdullah Fitrat, melalui pernyataan di platform X pada Kamis (4/8/2024), mengatakan bahwa korban terbanyak ditemukan di Provinsi Kunar, terutama di wilayah Mazar Dara (Distrik Nurgal), Diva-Gul Dara (Distrik Chawkay), Chapadara, serta Distrik Manogai.

“Ratusan jenazah sejauh ini telah ditemukan dari reruntuhan rumah yang hancur selama operasi pencarian dan penyelamatan. Dengan demikian, jumlah korban tewas mencapai 2.205 jiwa, dan korban luka mencapai 3.640 jiwa,” ujarnya.

Ia menambahkan, tenda-tenda darurat telah didirikan di berbagai lokasi, sementara bantuan awal terus disalurkan secara terorganisasi kepada para penyintas.

Gempa bumi tersebut terjadi pada Ahad tengah malam, melanda beberapa provinsi termasuk Kunar, Laghman, Nangarhar, Nuristan, dan Panjshir. Namun, Kunar menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa dan kerusakan paling parah. (Bahry)

Sumber: pajhwok

Hamas Desak PBB Hentikan Genosida Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Hamas mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional segera turun tangan menghentikan genosida Israel di Gaza, di tengah meningkatnya serangan brutal militer Israel di Kota Gaza dan wilayah sekitarnya.

Sedikitnya 73 warga Palestina, termasuk pencari bantuan, tewas dalam pemboman gencar Israel pada Rabu (3/8). Dari jumlah itu, 43 orang meninggal di Kota Gaza. Banyak korban merupakan keluarga yang terbunuh bersama di tenda maupun tempat perlindungan akibat serangan di kawasan padat penduduk.

“Saudara laki-laki saya terbunuh di kamarnya. Mereka membunuhnya bersama istri dan anak-anaknya; mereka menghabisi mereka semua. Tidak seorang pun yang tersisa,” kata Sabreen al-Mabhuh, seorang pengungsi Palestina, kepada Al Jazeera.

Reuters melaporkan, granat Israel juga membakar tenda pengungsi di sekolah-sekolah Sheikh Radwan. “Sheikh Radwan sedang dijungkirbalikkan,” ujar warga setempat, Zakeya Sami.

Kantor media Gaza menyatakan Israel telah meledakkan sedikitnya 100 robot bermuatan bahan peledak di Kota Gaza dalam tiga pekan terakhir, yang menghancurkan seluruh blok perumahan. Sejak 13 Agustus, sekitar 1.100 warga Palestina tewas di kota itu saja.

Hani Mahmoud, koresponden Al Jazeera, menggambarkan situasi Gaza sebagai “apokaliptik.”

“Rasanya tak berujung dan menguras habis … seluruh lingkungan dihancurkan blok demi blok. Orang-orang kehilangan semua yang telah mereka bangun selama puluhan tahun. Bagi banyak orang, ini seperti mimpi buruk nyata,” ujarnya.

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗦𝗶𝗮𝗽 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗞𝗼𝗺𝗽𝗿𝗲𝗵𝗲𝗻𝘀𝗶𝗳

Dalam pernyataan pada Rabu, Hamas menegaskan kembali kesiapannya menerima gencatan senjata komprehensif di Gaza, termasuk pembebasan seluruh tawanan Israel dengan imbalan tahanan Palestina.

Seruan itu muncul setelah Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan enam kematian baru akibat kelaparan dan malnutrisi dalam 24 jam terakhir, termasuk seorang anak. Total, 367 warga Palestina telah meninggal karena kelaparan selama blokade Israel, di antaranya 131 anak-anak.

Hamas juga mengecam serangan Israel terhadap rumah keluarga al-Jarisi di Gaza utara yang menewaskan sedikitnya 10 orang, menyebutnya sebagai “kejahatan perang” dan bagian dari kampanye sistematis untuk menghancurkan kehidupan warga Palestina.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗿𝘂𝗸

Operasi Israel untuk merebut Kota Gaza berpotensi menggusur satu juta warga Palestina. Dari total 2,3 juta penduduk Gaza, mayoritas telah mengungsi berkali-kali. PBB mencatat lebih dari 82.000 kasus baru pengungsian paksa terjadi antara 14–31 Agustus, termasuk 30.000 orang dari wilayah utara ke selatan.

UNICEF memperingatkan 132.000 anak balita berisiko meninggal akibat malnutrisi akut pada pertengahan 2026, sementara lebih dari 320.000 anak menghadapi kelaparan parah. “Dengan kelaparan yang menyebar, anak-anak sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar termasuk produk nutrisi khusus,” tulis UNICEF di platform X.

Laporan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) pada Agustus mengonfirmasi bahwa kelaparan telah melanda Gaza utara dan dengan cepat menyebar ke selatan. Para pekerja bantuan menyebut blokade total Israel telah menjadikan kebutuhan dasar seperti makanan dan air sebagai perjuangan sehari-hari.

Abdullah Al-Arian, profesor madya di Universitas Georgetown Qatar, menilai serangan bumi hangus Israel menunjukkan adanya genosida dengan “impunitas total.” Menurutnya, banyak warga Palestina menolak perintah evakuasi karena lelah berpindah berkali-kali dan tidak adanya zona aman, sebab seluruh area telah menjadi sasaran serangan Israel. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Pemimpin Faksi Palestina di Luar Negeri Perketat Keamanan Usai Ancaman Israel

PALESTINA (jurnalislam.com)- Para pemimpin faksi Palestina yang tinggal di luar negeri menerapkan langkah-langkah keamanan ketat menyusul ancaman Israel untuk menargetkan tokoh-tokoh senior Hamas.

Menurut laporan Al-Araby Al-Jadeed edisi bahasa Arab dari The New Arab, sejumlah pejabat Hamas dan Jihad Islam di Kairo termasuk di antara mereka yang mengambil tindakan pencegahan. Ancaman itu muncul setelah Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, bersumpah akan “menjangkau” para pemimpin Hamas di luar negeri.

Pernyataan Zamir disampaikan tak lama setelah Tel Aviv mengumumkan bahwa Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Al-Qassam—sayap militer Hamas—telah meninggal dalam serangan di Gaza.

“Di Jalur Gaza, kami menyerang Abu Ubaidah, salah satu pemimpin tinggi Hamas, setelah sebagian besar kepemimpinan Hamas telah disingkirkan. Tangan kami masih terulur. Sebagian besar dari kepemimpinan Hamas yang tersisa di luar negeri—kami akan menjangkau mereka juga,” kata Zamir dalam pernyataan resmi militer Israel, Ahad (31/8).

Seorang sumber Mesir menyebutkan kepada Al-Araby Al-Jadeed bahwa Kairo memperingatkan Israel agar tidak membahayakan Sekretaris Jenderal Jihad Islam, Ziyad al-Nakhalah. Selama beberapa bulan terakhir, al-Nakhalah diketahui hampir menetap permanen di ibu kota Mesir di tengah meningkatnya ancaman Israel.

Sebagai bagian dari upaya mediasi gencatan senjata di Gaza, Mesir bahkan menerima permintaan regional untuk memberikan izin tinggal semi-permanen bagi al-Nakhalah.

Ancaman Israel juga menimbulkan kekhawatiran bagi pejabat Hamas yang kerap melakukan perjalanan ke Mesir untuk berkoordinasi dengan Badan Intelijen Umum Mesir. Al-Araby Al-Jadeed melaporkan bahwa sejumlah pejabat Hamas telah dipindahkan dari Lebanon menyusul pelanggaran berulang Israel terhadap perjanjian gencatan senjata November 2024.

Hamas disebut telah menerima peringatan dari berbagai negara tempat para pemimpinnya bermukim. Peringatan itu mendorong penerapan keamanan ketat, termasuk penjagaan tambahan selama pergerakan mereka.

Seorang pejabat Hamas mengungkapkan bahwa Turki baru-baru ini memperketat pengamanan di sekitar sejumlah pemimpin Hamas, serta mantan tahanan Palestina yang tinggal di negara itu setelah dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan terakhir.

Di Doha, sumber Hamas menegaskan bahwa sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, para pemimpin kelompok tersebut telah berada di bawah pengawasan keamanan ketat. Situasi itu kini semakin diperketat, dengan kepemimpinan Hamas dan faksi lain yang tersebar di berbagai lokasi luar negeri demi alasan keamanan dan operasional. (Bahry)

Sumber: TNA

Polres Blitar Kota Temukan Ladang Ganja dari Pengembangan Kasus Kerusuhan DPRD

BLITAR (jurnalislam.com)– Polres Blitar Kota berhasil mengungkap adanya ladang ganja di wilayah Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Temuan ini merupakan hasil pengembangan penyidikan dari kasus kerusuhan dan pembakaran Gedung DPRD Kabupaten Blitar beberapa waktu lalu.

Kapolres Blitar Kota, AKBP Titus Yudho Uly, mengatakan pengungkapan tersebut berawal dari tes urine terhadap beberapa orang yang ditangkap dalam kerusuhan. Hasilnya, sejumlah pelaku dinyatakan positif mengonsumsi narkoba.

“Beberapa pelaku ada yang positif narkoba, ada yang positif sabu-sabu, dan ada yang positif ganja. Dari yang ganja ini kita kembangkan lagi, sehingga kemarin sore berhasil menemukan ladang ganja,” ujar Titus kepada wartawan, Selasa (2/9/2025).

Menurutnya, ladang ganja tersebut ditanam dalam jumlah banyak di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Polisi menduga lahan tersebut telah digunakan untuk membudidayakan ganja selama sekitar dua tahun terakhir.

“Ini luar biasa karena belum pernah ada ladang ganja yang diungkap di Blitar. Saat ini masih terus kami kembangkan, apakah ada lokasi lain atau cukup di situ,” jelasnya.

Selain itu, dari pengembangan kasus narkoba jenis sabu, polisi juga berhasil menangkap seorang bandar. Penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk mengungkap jaringan peredaran narkoba di wilayah Blitar.

Dokumen Bocor Ungkap Kegagalan Besar Operasi Militer Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Sebuah dokumen rahasia militer Israel yang bocor mengungkapkan bahwa operasi militer bertajuk “Kereta Perang Gideon” dinilai gagal dalam mencapai sebagian besar tujuannya, termasuk mengalahkan Hamas dan membebaskan tawanan di Gaza. Laporan ini pertama kali diberitakan oleh The New Arab, Senin (1/9/2025).

Laporan yang sebagian dipublikasikan oleh Channel 12 Israel itu menyebut operasi tersebut justru memperlihatkan sejumlah kelemahan serius. Para pejabat militer bahkan menilai Israel “telah membuat setiap kesalahan yang mungkin terjadi” selama agresi itu.

Meski mendapat pujian dari sejumlah menteri sayap kanan dan ekstremis Israel, para perwira senior yang meninjau laporan tersebut meragukan militer telah belajar dari kegagalan yang ada. Mereka menuding militer bertindak “bertentangan dengan doktrin militernya sendiri,” termasuk salah urus sumber daya dan menyebabkan kelelahan pasukan.

Selain itu, laporan menyalahkan militer atas “tergerusnya dukungan internasional” akibat blokade bantuan kemanusiaan. Hamas disebut mampu melancarkan kampanye global untuk menuduh Israel membuat warga Gaza kelaparan.

Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya tujuh orang kembali meninggal karena kelaparan, sehingga total korban akibat malnutrisi dan kelaparan mencapai 339 jiwa, termasuk 124 anak.

Tragedi ini memicu gelombang kecaman internasional serta mendorong sejumlah negara, seperti Inggris, Prancis, dan Selandia Baru, untuk menyatakan niat mereka mengakui negara Palestina pada Sidang Umum PBB mendatang. Langkah tersebut memantik reaksi keras dari Israel.

Dokumen bocor itu juga mencatat kegagalan lain, seperti manuver militer berulang di wilayah yang sama dengan kecepatan lambat, kelelahan peralatan, hingga ketidaksiapan menghadapi perang gerilya.

Kendati demikian, militer Israel membantah temuan tersebut dan bersikeras bahwa operasi telah mencapai tujuan. Mereka menyebut dokumen yang beredar “tidak memiliki izin distribusi resmi” dan tengah diselidiki.

Sejak agresi militer Israel dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 63.000 warga Palestina dilaporkan tewas. PBB dan berbagai organisasi hak asasi manusia menilai Israel melakukan tindakan genosida, mengacu pada fakta lapangan dan pernyataan sejumlah pejabat Israel. (Bahry)

Sumber: TNA