Kekecewaan atas KTT Doha: Baitul Maqdis Institute Desak Tindakan Konkret Hentikan Genosida di Gaza

JAKARTA (jurnalislam.com)– Baitul Maqdis Institute, sebuah lembaga yang berfokus pada perjuangan Palestina, menyatakan kekecewaannya terhadap hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara-negara Arab dan Islam di Doha, Qatar, pada (17/92025).

Menurut Direktur Utama Baitul Maqdis Institute Ustadz Fahmi Salim Lc. M.A, KTT tersebut belum mampu menghasilkan langkah-langkah konkret untuk menghentikan agresi brutal Israel terhadap Palestina dan wilayah Timur Tengah.

Dalam siaran pers yang diterima redaksi jurnalislam, Ustadz Fahmi Salim Lc. M.A juga menilai KTT Doha hanya menghasilkan kecaman dan kutukan yang bersifat normatif, tanpa diikuti oleh sanksi atau tindakan nyata.

“Hal ini memperkuat keyakinan bahwa Israel telah berhasil mengukur kelemahan sikap politik kolektif negara-negara Islam,” ungkapnya.

Pernyataan ini muncul di tengah semakin intensnya serangan militer Israel yang secara terang-terangan menargetkan warga sipil di Gaza. Ironisnya, di saat yang sama, Israel justru kembali menegaskan komitmennya untuk memburu dan menyerang Hamas “di manapun mereka berada,” sebuah pernyataan yang dinilai sebagai bentuk arogansi kekuasaan militer.

Menanggapi situasi ini, Baitul Maqdis Institute merilis beberapa poin pernyataan sikap, di antaranya:

  1. Baitul Maqdis Institute menyatakan rasa kekecewaan atas hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Doha yang hingga saat ini belum menghasilkan langkah konkret untuk menghentikan genosida yang terus berlangsung di Gaza serta agresi militer Israel di kawasan Timur Tengah.
  2. Kecaman dan kutukan yang disuarakan oleh para pemimpin negara peserta KTT umumnya masih bersifat normatif dan tidak disertai dengan sanksi maupun tindakan nyata. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa Israel telah berhasil mengukur kelemahan sikap politik kolektif negara-negara Islam.
  3. Lebih jauh, di tengah berlangsungnya forum KTT Doha, Israel secara terbuka kembali menegaskan komitmennya untuk terus memburu dan menyerang posisi Hamas “di manapun mereka berada” sebuah pernyataan yang menunjukkan arogansi kekuasaan militer tanpa takut akan tekanan internasional, bahkan dari negara-negara kawasan.
  4. Kami mendukung penuh usulan pembentukan aliansi militer negara-negara Islam yang sebelumnya pernah diusulkan oleh Pemerintah Turki dan kini kembali ditegaskan oleh Irak. Aliansi semacam ini diperlukan sebagai bentuk pertahanan kolektif menghadapi agresi Israel yang terus meluas dan mengancam stabilitas kawasan.
  5. Baitul Maqdis Institute juga mendorong negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) untuk segera membentuk pakta pertahanan bersama yang didukung oleh negara-negara Islam lainnya, sebagai langkah preventif maupun responsif terhadap kemungkinan serangan Israel terhadap salah satu atau beberapa negara anggota.
  6. Boikot ekonomi total terhadap Israel. Sebagai bentuk nyata penolakan terhadap arogansi penjajah, kami mengusulkan agar negara-negara Arab dan Islam melakukan penghentian total hubungan dagang dengan Israel. Ini bukan hanya langkah simbolik, melainkan strategi nyata yang dapat menekan kekuatan ekonomi Israel yang menopang agresi militernya.
  7. Baitul Maqdis Institute akan terus menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan menyerukan kepada seluruh elemen umat Islam untuk mendesak para pemimpin negara Islam agar tidak berhenti pada retorika, tetapi segera mengambil tindakan nyata, tegas, dan terukur dalam menghadapi agresi Israel.

Filisida Maternal Tumbuh di Tengah Kerusakan Sistemik

Oleh: Djumriah Lina Johan
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Telah terjadi aksi bunuh diri yang dilakukan oleh seorang ibu berinisial EN (34) di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat setelah diduga meracuni kedua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan. Polisi juga menemukan surat wasiat berisi ungkapan penderitaan dan kekesalan terhadap suami, diduga terkait tekanan ekonomi dan utang keluarga.

Dari perspektif psikologi forensik, kasus ini termasuk dalam kategori maternal filicide-suicide, yaitu ketika seorang ibu mengakhiri hidup anaknya sebelum kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Fenomena ini bersifat multidimensional, dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial-ekonomi, serta minimnya dukungan kesehatan mental.

Pertama, dari faktor psikologis. Banyak ibu yang sudah memiliki anak mengalami depresi, stres berkepanjangan, atau gangguan mental lain yang tidak terdiagnosis. Hal ini menurunkan kemampuan berpikir rasional dan memunculkan distorsi kognitif-pikiran salah yang terasa benar bagi pelaku (Beck, 1976).

Kedua, faktor sosial dan ekonomi. Masalah ekonomi, terutama utang keluarga, menjadi pemicu signifikan. Beban ini bukan sekadar soal materi, tetapi juga menimbulkan rasa malu, tekanan sosial, hingga perasaan gagal menjalankan peran sebagai istri dan ibu.

Ketiga, minimnya dukungan kesehatan mental. Akses layanan kesehatan mental di Indonesia masih sangat terbatas. Data Profil Kesehatan Indonesia 2023 mencatat hanya ada sekitar 450 psikolog klinis untuk populasi lebih dari 270 juta jiwa. Selain keterbatasan tenaga profesional, stigma sosial juga membuat banyak ibu enggan mencari pertolongan. Menurut WHO (2014), stigma merupakan salah satu hambatan terbesar bagi penderita gangguan mental karena adanya ketakutan dianggap lemah atau “gila”.

Fenomena maternal filicide-suicide harus menjadi alarm bagi negara dan masyarakat untuk dapat memperkuat intervensi preventif, memperluas akses layanan psikologi, serta membangun dukungan sosial yang lebih kokoh bagi keluarga rentan.

Luluh Lantaknya Bangunan Keluarga Karena Sistem Rusak

Filisida maternal yang terjadi di atas nyatanya bukan kali pertama terungkap di Indonesia. Kasus serupa sudah pernah terjadi sejak tahun 2012 dan terus ada hingga kini. Ini berarti kasus tersebut sudah menjadi tren solusi ketika seorang ibu sudah tidak sanggup menghadapi beban kehidupan maka ia akan membunuh anak dan dirinya sendiri. Hal ini jelas telah meluluhlantakkan bangunan keluarga. Inilah gejala sakitnya masyarakat dalam sistem kapitalisme sekuler yang rusak dan merusak.

Sekularisme memisahkan kehidupan dan agama telah berhasil memupus fitrah keibuan. Keimanan yang memudar dalam diri seorang ibu serta ketakwaan yang tidak mengakar pada tingkah laku adalah faktor terbesar penyebab ibu kehilangan kewarasan hingga tega membunuh anak-anaknya.

Sekularisme telah mempersempit agama hanya sekadar ibadah ritual semata sehingga tidak menjadikan agama sebagai solusi permasalahan kehidupan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala. telah membekali manusia untuk hidup di dunia dengan seperangkat aturan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah.

Oleh karena itu, hilangnya fitrah ibu sebagai pelindung bagi anak-anaknya dari segala macam marabahaya merupakan dampak sekularisme. Paham inilah yang menyebabkan seorang ibu mengesampingkan peran agama.

Selain itu, sistem ekonomi kapitalis membuat kesejahteraan tak terjangkau dari kehidupan umat. Sistem ini eksploitatif dan diskriminatif hingga membuat kemiskinan merajalela dan gap sosial makin lebar. Walhasil, para ibu juga dituntut untuk membantu mencari nafkah keluarga, ditambah kebutuhan pokok yang serba mahal, membuat stres para ibu hingga berujung melakukan tindakan kriminal. Ini semua tentu akan membentuk lingkaran setan yang sulit dipecahkan.

Itulah sebab fenomena filisida yang tengah mengemuka tidak cukup terselesaikan dengan memperkuat intervensi preventif, memperluas akses layanan psikologi, serta membangun dukungan sosial yang lebih kokoh bagi keluarga rentan. Problem ini seharusnya mendorong negara menghilangkan semua faktor secara sistemis yang memantik masalah kejiwaan kaum ibu.

Islam Menjaga Fitrah Ibu

Sistem Islam dipastikan akan mengeliminasi semua stressor, bahkan menjadi support system bagi kesehatan mental masyarakat khususnya para ibu. Hal ini niscaya, karena akidah yang menjadi asas kehidupan mereka merupakan akidah yang lurus, sesuai akal dan fitrah manusia hingga menenteramkan jiwa. Akidah ini menjadi bekal ketahanan mental yang membuat umat Islam siap menghadapi ujian-ujian kehidupan.

Selain itu, Islam memberikan perhatian besar bagi keberlangsungan generasi, termasuk membangun support system bagi para ibu untuk mengoptimalkan perannya, baik di ranah domestik atau publik (misalnya tempat kerja). Support system tersebut adalah negara sebagai penjaga dan pelindung rakyat. Negara harus memiliki daya dan upaya untuk melakukan aktivasi sistem agar benar-benar terbentuk ketakwaan komunal.

Negara tidak akan membebani para ibu dengan permasalahan ekonomi. Negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar dengan memudahkan para ayah dalam mencari nafkah, seperti membuka lapangan pekerjaan atau memberikan bantuan modal usaha. Negara akan memprioritaskan perekrutan pekerja laki-laki dibandingkan perempuan.

Konsep ini tidak hanya bualan semata namun telah terbukti selama belasan abad berdasarkan sejarah peradaban Islam yang tertulis dengan tinta emas. Sebagaimana sejarawan Barat bernama Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization menulis, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah, dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”

Sistem Islam yang disebut Khilafah dan peradaban agung yang dilahirkannya ini tentu hanya akan tegak ditopang oleh individu-individu yang beriman dan bertakwa, masyarakat yang sehat fisik, psikis, dan kental dengan budaya amar makruf nahi mungkar, serta oleh negara yang konsisten melindungi dan menegakkan aturan Islam secara kaffah.

Oleh karena itu, mewujudkan kembali sistem ini membutuhkan perjuangan keras dan tersistem dari orang-orang yang sudah paham urgensi dan kewajiban untuk hidup dalam naungan sistem Islam. Itulah orang-orang yang sudah berazam mendarmabaktikan jiwa raganya untuk mewujudkan janji Allah berupa kembalinya Khilafah Rasyidah yang kedua, yang akan akan mengembalikan umat pada kemuliaannya. Wallahu a’lam.

RMI-NU DKI: Nampan Program Makan Bergizi Gratis Terbukti Mengandung Babi

JAKARTA (jurnalislam.com)– Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) DKI Jakarta mengungkap temuan mengejutkan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasil uji laboratorium yang dilakukan di dua lokasi di China menunjukkan bahwa nampan (food tray) impor untuk MBG terbukti menggunakan minyak atau lemak babi dalam proses pencetakannya.

Wakil Sekretaris RMI-NU DKI Jakarta, Wafa Riansah, menegaskan pihaknya sudah menyerahkan laporan resmi kepada Kementerian Perdagangan. Ia mendesak pemerintah segera menghentikan impor produk yang terbukti tidak halal tersebut.

“Kami meminta Kementerian Perdagangan untuk menyetop impor apabila terbukti menggunakan minyak babi,” kata Wafa di Jakarta, Kamis (18/9/2025).

Wafa menegaskan, RMI-NU mendukung penuh program Presiden Prabowo Subianto dalam penyediaan MBG untuk rakyat. Namun, penggunaan food tray impor yang terkontaminasi unsur babi tetap ditolak keras.

Ketua RMI-NU DKI Jakarta, Rakhmad Zailani Kiki, menambahkan bahwa pelumas berbahan babi dalam proses pencetakan nampan tidak bisa ditoleransi, meskipun wadah tersebut dicuci dan disterilkan.

“Kalau diproses dengan barang haram seperti babi, itu sudah dikategorikan tidak halal, walaupun hasil akhirnya bersih. Standar halal kita menilai sejak proses produksinya, bukan hanya produk akhir,” tegasnya.

Ia mengingatkan, sesuai aturan di Indonesia, standar halal tidak hanya berlaku untuk produk pangan tetapi juga untuk barang gunaan. Karena itu, food tray MBG termasuk kategori wajib halal.

RMI-NU mendesak Kementerian Perdagangan segera menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib pada produk impor, agar keamanan pangan dan kehalalan tetap terjamin serta produk bermasalah dapat ditarik dari peredaran.

Giliran Pengurus Muhammadiyah Dipanggil KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

JAKARTA (jurnalislam.com)– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menyorot peran Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Kementerian Agama, Hilman Latief, dalam kasus dugaan korupsi kuota dan penyelenggaraan haji tahun 2023–2024. Hilman yang juga menjabat Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2022–2027) itu diperiksa penyidik selama hampir 11 jam di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (18/9/2025).

Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan penyidik menduga adanya aliran dana kepada Hilman.

“Kami, penyidik, memiliki dugaan bahwa ada aliran uang ke Dirjen tersebut,” ujar Asep kepada wartawan.

Hilman tiba di gedung KPK pukul 10.22 WIB dan baru keluar sekitar pukul 21.53 WIB. Menurut Asep, pemeriksaan berlangsung lama karena posisi Hilman sangat strategis dalam pengambilan keputusan terkait penyelenggaraan haji.

“Pemeriksaan kami fokus pada alur kebijakan, termasuk soal penerbitan SK Menteri Agama yang menjadi dasar terjadinya masalah ini,” jelasnya.

Saat keluar gedung KPK, Hilman dicecar wartawan mengenai materi pemeriksaan. Ia hanya menjawab singkat bahwa penyidik mendalami aspek regulasi.

“Kita pendalaman regulasi, tahapan-tahapan, dan lain-lain. Itu saja ya,” kata Hilman.

Namun ketika ditanya tentang isu pengembalian dana sebagaimana dilakukan Ustaz Khalid Basalamah, Hilman menampik tegas.

“Enggak ada,” ujarnya, sembari menggelengkan kepala.

Sebelumnya, Khalid Basalamah mengaku telah mengembalikan sejumlah uang ke KPK dalam perkara yang sama, yang kemudian memunculkan spekulasi adanya aliran dana kuota haji kepada sejumlah tokoh agama maupun pejabat.

Hilman juga memilih bungkam saat disinggung kemungkinan pencekalan terhadap dirinya. Ia hanya menggeleng tanpa memberikan komentar lebih lanjut.

Kasus dugaan korupsi kuota haji ini mendapat sorotan luas setelah sejumlah nama pejabat Kemenag dan tokoh agama disebut-sebut dalam pusaran aliran dana. KPK menegaskan penyidikan akan terus berlanjut untuk membongkar konstruksi perkara secara menyeluruh.

Para Kiai Minta KPK Ungkap Skandal Kuota Haji demi Jaga Marwah NU

KEDIRI (jurnalislam.com)- Kasus dugaan korupsi kuota haji yang menyeret mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menuai kegelisahan para kiai di Jawa Timur. Mereka berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menuntaskan perkara ini demi menjaga marwah Nahdlatul Ulama (NU) dari sorotan negatif publik.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Abdul Mu’id Shohib, mengaku prihatin karena NU menjadi bahan olok-olok di media sosial. Terlebih nama Yaqut kerap dikaitkan dengan NU sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor.

“Saya terus terang prihatin NU jadi bahan bullying di medsos. Jika ada oknum yang berbuat salah, segera saja (KPK) lakukan tindakan. Saya rasa KPK punya dasar yang kuat untuk bertindak,” ujar Gus Mu’id, Selasa (16/9/2025).

Kasus korupsi kuota haji ini naik ke tahap penyidikan usai KPK memeriksa Yaqut pada 7 Agustus 2025. Lembaga antirasuah menengarai tambahan 20 ribu kuota haji diperjualbelikan oleh sejumlah biro travel untuk memperkaya pejabat Kementerian Agama.

Menurut Gus Mu’id, langkah hukum yang diambil terhadap kader NU tidak akan menimbulkan gejolak di akar rumput. Warga NU dinilai sudah cukup rasional dalam menyikapi dinamika di tingkat elit.

“Kalau akar rumput tidak ada masalah, kalau internal PBNU mungkin iya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, banyak kiai menyampaikan keluh kesah kepada Ketua Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar terkait kondisi NU saat ini. Mereka berharap NU kembali ke khittah perjuangan umat, bukan menjadi alat kepentingan kelompok tertentu.

Keprihatinan serupa datang dari KH Agus Muhammad Ali Syaifullah (Gus Ipul), pengasuh Ponpes Darur Roja’, Blitar. Ia menilai isu korupsi haji sudah menjadi bahan obrolan di warung-warung dan memunculkan citra buruk bagi NU.

“NU kok ngene (NU kok begini),” tutur Gus Ipul.

Menurutnya, masyarakat kecil kecewa karena proses berhaji yang panjang dan sulit, sementara di sisi lain muncul dugaan permainan kuota oleh elit.

“Yang dikeluhkan orang kecil haji terus bagaimana. Haji kok begitu sulit. Orang-orang besar kok malah bermain,” katanya.

Gus Ipul menegaskan, pandangan negatif terhadap NU akibat kasus ini tidak bisa dibiarkan. Ia menekankan perlunya langkah struktural dan kultural agar kepercayaan masyarakat terhadap NU tidak terus tergerus.

Sumber: Tempo

Santri Salman Al Farisi Belajar Perjuangan dan Ukhuwah Lewat Siyahah

KARANGPANDAN (jurnalislam.com)– Pondok Pesantren Salman Al Farisi Karangpandan menggelar kegiatan Siyahah (jalan-jalan Islami) dan susur hutan yang diikuti seluruh santri pada Kamis (18/9/2025).

Rombongan berangkat pukul 07.00 WIB dari pondok menggunakan truk menuju Bumi Perkemahan Sekipan sebagai titik awal perjalanan. Dengan penuh semangat, para santri menempuh rute sepanjang 29 kilometer, melewati hutan Nglurah, Sedang, kawasan Jatiyoso Beruk, hingga singgah di PP Fityanul Qur’an Beruk. Perjalanan kemudian berlanjut melalui jalur Matesih dan berakhir di Rest Area Makutoromo Karangpandan sekitar pukul 20.00 WIB.

Dalam penutupan acara, Ustadz Nur Fajriansyah, atau yang akrab disapa Ustadz Fajri, menyampaikan pesan mendalam kepada para santri.

“Jangan menganggap sepele acara ini, karena ini adalah amalan yang sangat mulia. Kita bisa mencontoh perjuangan para sahabat Nabi dalam menempuh perjalanan penuh kesabaran dan kebersamaan,” ujarnya.

Salah satu santri kelas 4, Hikmatyar Risfan, juga mengungkapkan kesannya.

“Saya sangat senang dengan acara ini, karena selain bisa refreshing di sela-sela belajar, kami juga belajar bekerjasama, menjalin ukhuwah, dan saling membantu ketika dalam keadaan sulit,” tuturnya penuh antusias.

Kegiatan Siyahah tahun ini menjadi momen berharga bagi santri Salman Al Farisi, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran hidup tentang perjuangan, persaudaraan, dan rasa syukur.

Drone Houthi Hantam Hotel di Eilat, Israel Gagal Mencegat

EIKAT (jurnalislam.com)– Sebuah pesawat tanpa awak (drone) yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman menghantam pintu masuk sebuah hotel di kota pelabuhan Eilat, Kamis malam (18/9/2025). Serangan itu menimbulkan kerusakan namun tidak ada laporan korban luka.

Kepolisian Israel mengonfirmasi bahwa ledakan terjadi tepat di pintu masuk hotel. “Petugas telah mengamankan lokasi jatuhnya pesawat, dan para ahli penjinak bom kepolisian sedang bekerja untuk mengidentifikasi objek dan mengevakuasi sisa-sisanya,” demikian pernyataan resmi kepolisian.

Militer Israel (IDF) dalam pernyataan terpisah mengatakan tim penyelamat telah dikerahkan. “Tim pencarian dan penyelamatan sedang beroperasi di area di mana laporan mengenai jatuhnya pesawat tersebut diterima,” kata IDF, seraya menambahkan bahwa penyelidikan tengah dilakukan terkait kegagalan sistem pertahanan udara mencegat drone tersebut.

Sekitar satu jam kemudian, IDF mengumumkan berhasil mencegat drone kedua yang juga ditembakkan dari Yaman. “Tidak ada sirene yang dibunyikan, sesuai protokol,” ungkap militer.

Pada malam harinya, Houthi kembali menembakkan rudal balistik ke arah pusat Israel, memicu sirene di Tel Aviv, Herzliya, Petah Tikva, Rishon Lezion, Yerusalem, dan sejumlah kota lainnya. IDF menyebut rudal tersebut berhasil ditembak jatuh tanpa menimbulkan korban jiwa.

Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. “Kami telah meluncurkan rudal balistik ke target militer Israel yang sensitif di Tel Aviv, serta mengirimkan beberapa pesawat nirawak ke Eilat dan Beersheba,” demikian pernyataan resmi Houthi yang dirilis pada Kamis malam.

Sejak 18 Maret lalu, saat Israel kembali meningkatkan agresi militernya di Jalur Gaza, Houthi telah meluncurkan sedikitnya 87 rudal balistik dan 40 pesawat nirawak ke wilayah Israel. Eilat menjadi salah satu sasaran utama, termasuk serangan sebelumnya yang mengenai Bandara Ramon dan menyebabkan satu orang luka ringan.

Sebagai balasan, Angkatan Udara Israel terus menggempur infrastruktur Houthi di Yaman. Bulan lalu, serangan Israel di Sanaa bahkan menewaskan perdana menteri pemerintahan Houthi serta beberapa menterinya. Tel Aviv menyebut serangan itu “baru permulaan.” (Bahry)

Sumber: TOI

Dua Tentara Israel Tewas dalam Serangan di Perlintasan Allenby

TEPI BARAT (jurnalislam.com)– Dua tentara Israel tewas dalam serangan penembakan dan penusukan di dekat Perlintasan Allenby, jalur penghubung antara Tepi Barat dan Yordania, pada Kamis sore (18/9/2025).

Menurut laporan awal, pelaku yang merupakan warga negara Yordania datang dengan mengemudikan truk bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Setibanya di lokasi sekitar pukul 15.00 waktu setempat, ia melepaskan tembakan ke arah tentara Israel. Ketika pistolnya macet, ia keluar dari kendaraan dan menikam dua tentara hingga tewas, sebelum akhirnya ditembak mati oleh pasukan penjaga perlintasan.

Kementerian Luar Negeri Israel dalam pernyataannya menuding Yordania ikut bertanggung jawab secara moral atas insiden tersebut.

“Israel memfasilitasi bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan para teroris memanfaatkannya untuk membunuh warga Israel,” demikian bunyi pernyataan yang dirilis Kemenlu Israel.

“Ini adalah hasil lain dari hasutan keji di Yordania. Ini adalah gema dari kampanye kebohongan Hamas,” tambahnya dengan nada agresif.

Di sisi lain, pemerintah Yordania menegaskan sedang melakukan penyelidikan. “Yordania sedang memantau laporan insiden keamanan di Perlintasan Allenby,” kata juru bicara pemerintah, Mohammad al-Momani.

Kementerian Luar Negeri Yordania dalam pernyataan resminya menyebut, “Dinas keamanan negara telah meluncurkan penyelidikan atas insiden penembakan di sisi Israel dari perlintasan perbatasan.”

Pihaknya juga menegaskan menolak serangan itu, menyebutnya sebagai “pelanggaran hukum internasional, kepentingan Yordania, dan kemampuannya untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.”

Pelaku diidentifikasi sebagai Abd al-Mutalib al-Qaisi (57), sopir truk yang baru tiga bulan terakhir ditugaskan membawa bantuan ke Gaza. Hingga berita ini ditulis, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Akibat insiden itu, militer Israel merekomendasikan penutupan sementara Perlintasan Allenby.

“Bantuan yang datang melalui perlintasan perbatasan harus dihentikan hingga investigasi selesai dan prosedur pemeriksaan diperbarui,” kata pernyataan militer Israel. (Bahry)

Sumber: TOI

Empat Tentara Israel Tewas dalam Serangan Bom Pinggir Jalan di Rafah

GAZA (jurnalislam.com)– Empat tentara pendudukan Israel (IDF) tewas dan tiga lainnya terluka akibat serangan bom pinggir jalan di Rafah, Gaza selatan, Kamis pagi (18/9/2025). Militer Israel baru mengumumkan kejadian itu beberapa jam kemudian.

Korban tewas diidentifikasi sebagai Mayor Omri Chai Ben Moshe (26), Letnan Eran Shelem (23), Letnan Eitan Avner Ben Itzhak (22), dan Letnan Ron Arieli (20). Insiden ini menambah jumlah korban militer Israel sejak invasi darat ke Jalur Gaza dan operasi di perbatasan menjadi 469 orang, termasuk beberapa anggota kepolisian dan kontraktor sipil.

Keempat tentara tersebut bertugas di Batalyon Dekel, sekolah perwira Bahad 1. Menurut keterangan IDF, Ben Moshe adalah komandan kompi, sementara tiga lainnya masih kadet dan diumumkan secara anumerta naik pangkat menjadi letnan.

Sebelum masuk kursus perwira, Ben Moshe pernah memimpin kompi di Brigade Paratroopers. Shelem sebelumnya tercatat di unit Sayeret Matkal, Ben Itzhak di Brigade Komando, dan Arieli di Brigade Golani.

𝗞𝗿𝗼𝗻𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗜𝗻𝘀𝗶𝗱𝗲𝗻

Menurut penyelidikan awal, ledakan terjadi saat operasi di lingkungan Jenina, Rafah, sekitar pukul 09.30. Saat itu, sebuah buldoser lapis baja D9 sedang membuka jalur, diikuti dua kendaraan Humvee di belakangnya.

Salah satu Humvee bergerak ke sisi jalan dan langsung terkena bom rakitan. Ledakan menghancurkan kendaraan, menewaskan empat tentara, dan melukai tiga lainnya – satu dalam kondisi serius, dua luka sedang.

Militer Israel masih meneliti jenis bahan peledak, metode aktivasi, serta kapan bom ditanam. Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kerusakan parah pada kendaraan militer tersebut.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗥𝗮𝗳𝗮𝗵

Meski Israel sebelumnya mengklaim telah “menguasai” Rafah, perlawanan masih berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Jenina. Beberapa jam sebelum serangan, pasukan Bahad 1 dilaporkan sempat terlibat kontak dengan pejuang Palestina.

Juru bicara militer Israel, Brigjen Effie Defrin, mengakui pihaknya masih menghadapi jaringan bawah tanah dan infrastruktur pertahanan Palestina di kawasan tersebut.

Empat korban yang diumumkan pada Kamis ini merupakan kematian pertama tentara Israel dalam 10 hari terakhir, sejak serangan sebelumnya yang menewaskan empat tentara di pinggiran Kota Gaza.

Agresi darat Israel di Jalur Gaza sendiri kembali ditingkatkan pekan ini, dengan sasaran utama Kota Gaza di bagian utara. Kepala Staf IDF, Letjen Eyal Zamir, menyatakan bahwa pihaknya akan terus memperluas operasi militer hingga mencapai apa yang ia sebut sebagai “kemenangan” atas Hamas.

Namun, klaim Israel tersebut dipandang banyak pihak tidak sejalan dengan realitas di lapangan, di mana perlawanan bersenjata Palestina masih mampu melancarkan serangan mematikan terhadap pasukan pendudukan. (Bahry)

Sumber: TOI

AS Veto Resolusi DK PBB Soal Gencatan Senjata di Gaza, Israel Perluas Serangan

NEW YORK (jurnalislam.com)– Amerika Serikat memveto resolusi penting Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menuntut gencatan senjata segera di Gaza, sementara Israel terus memperluas serangan bumi hangusnya di Kota Gaza.

Resolusi tersebut, yang disetujui oleh 14 dari 15 anggota dewan pada Kamis (18/9/2025), menyerukan “gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen di Gaza yang dihormati oleh semua pihak”, pembebasan seluruh tawanan yang ditahan Hamas dan kelompok lain, serta pencabutan pembatasan bantuan kemanusiaan.

Draf ini disusun oleh 10 anggota terpilih DK PBB dan dinilai lebih tegas dibanding resolusi sebelumnya. Para diplomat menyoroti kondisi kemanusiaan “bencana” di Gaza setelah hampir dua tahun agresi Israel yang telah menewaskan sedikitnya 65.141 orang, menurut pejabat kesehatan Palestina.

Seperti diperkirakan, AS memveto resolusi tersebut. Morgan Ortagus, wakil utusan khusus AS untuk Timur Tengah, mengatakan resolusi gagal mengutuk Hamas dan mengabaikan “hak Israel untuk membela diri”.

“Resolusi ini secara keliru melegitimasi narasi palsu yang menguntungkan Hamas,” ujar Ortagus.

Ia juga menuding laporan resmi PBB soal kelaparan di Gaza menggunakan “metodologi cacat”, meski di sisi lain memuji operasi pusat distribusi GHF yang justru menjadi sasaran serangan Israel.

𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗹𝗲𝘀𝘁𝗶𝗻𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗡𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮-𝗡𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗔𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮

Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, mengecam keras veto AS.

“Veto ini sangat disesalkan. Dewan Keamanan kembali gagal memainkan peran semestinya dalam menghadapi kekejaman dan melindungi warga sipil dari genosida,” tegas Mansour.

Ia menambahkan, penggunaan hak veto tidak seharusnya diizinkan dalam kasus kejahatan kemanusiaan berat.

Duta Besar Aljazair, Amar Bendjama, juga menyampaikan pernyataan emosional.

“Saudara-saudara Palestina, maafkan kami. Dunia berbicara tentang hak, namun mengingkarinya bagi Palestina. Upaya tulus kami hancur melawan tembok penolakan ini,” katanya.

Bendjama menegaskan perang Israel telah menewaskan lebih dari 18.000 anak-anak, 12.000 perempuan, 1.400 tenaga medis, dan lebih dari 250 jurnalis. Menurutnya, Israel “kebal” bukan karena hukum internasional, melainkan karena bias sistem global.

𝗦𝗶𝗸𝗮𝗽 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗲𝘀𝗽𝗼𝗻𝘀 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menolak resolusi tersebut.

“Israel tidak membutuhkan pembenaran atas perangnya di Gaza,” ujarnya, seraya berterima kasih kepada AS atas penggunaan hak veto.

Sementara itu, James Bays, editor diplomatik Al Jazeera, menilai pemungutan suara ini menjadi momen “suram” di peringatan 80 tahun PBB. Ia menyoroti bagaimana sikap AS merusak semangat diplomasi multilateral dan membuat PBB berada pada titik terendah sepanjang sejarahnya. (Bahry)

Sumber: Al-Jazeera