Gay Jadi Penyumbang Tertinggi Kasus HIV di Jawa Barat

BANDUNG (jurnalislam.com)– Kasus penularan HIV di Jawa Barat menunjukkan tren mengkhawatirkan. Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jabar mengungkapkan bahwa kelompok lelaki seks lelaki (LSL) atau gay menjadi penyumbang tertinggi kasus baru sepanjang tahun 2024.

Dari total 1,19 juta orang yang menjalani tes HIV, tercatat 52.105 orang berasal dari kelompok LSL. Hasilnya, 3.247 orang di antaranya dinyatakan positif HIV. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibanding kelompok lainnya.

“Kalau melihat grafik, penularan HIV paling banyak memang melalui hubungan seksual, khususnya pada kelompok laki-laki seks dengan laki-laki,” ujar Pengelola Program KPA Jabar, Landry Kusmono, dikutip Selasa (26/6/2025).

Lebih mengkhawatirkan, lanjut Landry, banyak dari LSL tersebut juga memiliki pasangan lawan jenis. Kondisi ini menyebabkan risiko penularan HIV tidak hanya terbatas di komunitas mereka, namun berpotensi meluas ke masyarakat umum.

“Banyak LSL di Jawa Barat itu juga punya pasangan. Jadi penularan bisa terjadi lintas kelompok,” tambahnya.

𝗟𝗼𝗻𝗷𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗮𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝟯 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿

Data KPA Jabar juga mencatat lonjakan drastis kasus HIV dalam tiga tahun terakhir. Jika sebelumnya penambahan kasus tahunan relatif stabil di kisaran 5.000 kasus, sejak 2022 grafik meningkat tajam.

Tahun 2022 tercatat 8.620 kasus baru, 9.710 kasus pada 2023, dan melonjak menjadi 10.405 kasus di akhir 2024. Artinya, kenaikan temuan kasus baru mencapai 100 persen dibanding periode sebelumnya.

Landry menilai salah satu pemicu lonjakan tersebut adalah mobilitas tinggi kelompok berisiko pasca pandemi COVID-19. Banyak pekerja seks dan pekerja migran yang kembali ke daerah asal setelah kehilangan pekerjaan, sehingga memicu penularan di lingkungannya.

“Banyak perempuan pekerja seks dari luar daerah kembali ke kampung halaman, lalu menularkan di lingkungan terdekat, termasuk keluarga dan masyarakat. Begitu juga laki-laki asal Jawa Barat yang sebelumnya bekerja di luar daerah,” jelasnya.

Menurut Landry, jalur penularan HIV di Jawa Barat mayoritas masih melalui hubungan seksual dibandingkan penggunaan jarum suntik.

Sumber: detik

Trump Desak Israel Hentikan Pemboman Gaza, Netanyahu ‘Terkejut’

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (3/10/2025) menyerukan kepada Israel untuk segera menghentikan pemboman di Jalur Gaza, menyusul pernyataan terbaru dari Hamas yang menandakan kesiapan untuk menuju kesepakatan damai.

Melalui akun resminya di Truth Social, Trump menulis, “Berdasarkan pernyataan yang baru saja dikeluarkan oleh Hamas, saya yakin mereka siap untuk PERDAMAIAN abadi. Israel harus segera menghentikan pemboman Gaza, agar kita dapat mengeluarkan para sandera dengan aman dan cepat!”

Ia menambahkan, “Saat ini, terlalu berbahaya untuk melakukan itu. Kami sudah berdiskusi tentang detail yang akan diselesaikan. Ini bukan hanya tentang Gaza, ini tentang perdamaian yang telah lama diidamkan di Timur Tengah.”

Langkah tersebut menjadi pertama kalinya sejak kembali menjabat pada Januari, Trump secara eksplisit meminta sekutu utamanya, Israel, untuk menghentikan operasi militernya di Gaza.

Trump bahkan membagikan pernyataan resmi Hamas di media sosialnya — sebuah langkah yang jarang terjadi bagi seorang presiden AS — dan Gedung Putih turut mengunggah pernyataan yang sama. Dalam video singkat dari Ruang Oval, Trump menyebut hari itu sebagai momen bersejarah.

“Ini hari yang sangat istimewa, mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Saya menantikan para sandera pulang ke orang tua mereka,” kata Trump dari balik Meja Resolute.

Trump menegaskan bahwa isu penyanderaan menjadi prioritasnya sejak awal masa jabatannya. Ia menyalahkan pendahulunya, Joe Biden, atas berlanjutnya perang dan menekankan tekadnya untuk mencapai kesepakatan damai yang komprehensif. “Semua orang akan diperlakukan secara adil,” ujarnya.

Sementara itu, media Axios melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “terkejut” dengan pernyataan Trump. Sumber-sumber Israel menilai tanggapan Hamas belum memenuhi poin-poin utama dalam rencana perdamaian 20 butir yang diumumkan Trump pada Senin lalu di Gedung Putih.

Trump sebelumnya memberikan batas waktu hingga Ahad malam bagi Hamas untuk menanggapi rencana tersebut atau menghadapi “neraka.”

Menanggapi seruan Trump, Hamas menyebut desakan agar Israel menghentikan pengeboman Gaza sebagai “hal yang menggembirakan.” Namun, pejabat senior Hamas, Mahmoud Mardawi, mengatakan kepada AFP bahwa rencana Trump “tidak jelas, ambigu, dan kurang detail.” (Bahry)

Sumber: F24

Hamas Tanggapi Proposal Trump untuk Hentikan Perang di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) pada Jumat (3/10/2025) merilis pernyataan resmi terkait proposal Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penghentian perang di Jalur Gaza.

Dalam keterangan yang disampaikan, Hamas menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan konsultasi internal dengan lembaga kepemimpinan, faksi-faksi Palestina, serta para mediator dan sekutu sebelum mengambil keputusan.

“Gerakan Hamas menghargai upaya Arab, Islam, dan internasional, serta upaya Presiden AS Donald Trump, yang menyerukan diakhirinya perang di Jalur Gaza, pertukaran tahanan, masuknya bantuan segera, penolakan pendudukan Jalur Gaza, dan pengusiran rakyat Palestina kami dari sana,” bunyi pernyataan tersebut.

Hamas menyatakan kesediaannya untuk membebaskan seluruh tahanan Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sesuai formula pertukaran yang diajukan Trump, dengan syarat semua ketentuan dalam pertukaran tersebut dipenuhi.

“Gerakan menegaskan kesiapannya untuk segera berunding melalui para mediator guna membahas detail perjanjian ini,” lanjut Hamas.

Selain itu, Hamas juga menegaskan kesiapan untuk menyerahkan administrasi Jalur Gaza kepada badan independen Palestina berbasis teknokrat, dengan catatan langkah tersebut lahir dari konsensus nasional Palestina serta mendapat dukungan Arab dan Islam.

Terkait isu-isu lain dalam proposal Trump mengenai masa depan Gaza, Hamas menyebut hal itu akan dibahas dalam kerangka kerja nasional Palestina yang lebih komprehensif. “Hamas akan menjadi bagian darinya dan akan berkontribusi dengan penuh tanggung jawab,” tegas pernyataan itu.

Serangan Hamas di Dekat Sekolah Suster Rosario, IDF Akui Banyak Tentara Terluka

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam pada Jumat (3/10/2025) merilis video terbaru yang menampilkan serangan mujahidin terhadap pasukan Israel (IDF) di dekat Sekolah Suster Rosario, lingkungan Tel al-Hawa, Kota Gaza.

Dalam pernyataannya, Hamas menjelaskan serangan itu berlangsung pada Senin (29/9). “Berkat karunia dan kuasa Allah, sekelompok mujahidin yang syahid menyerbu pasukan musuh yang berkumpul di dekat Sekolah Suster Rosario,” tulis Hamas.

Kelompok itu menambahkan bahwa para pejuangnya menembaki tentara Israel dari jarak dekat sebelum menempatkan alat peledak anti-benteng dan anti-personel di dua kendaraan lapis baja pengangkut personel. “Ledakan tersebut mengakibatkan korban jiwa di antara pasukan musuh,” lanjut pernyataan itu.

Hamas juga menyebutkan bahwa setelah ledakan, helikopter Israel mendarat di lokasi untuk mengevakuasi tentaranya yang tewas maupun terluka.

Sementara itu, militer Israel membenarkan adanya serangan besar terhadap pasukannya pada Senin sore. Dalam pernyataannya, IDF menyebut lima tentaranya, termasuk dua perwira, mengalami luka serius, sementara enam lainnya luka ringan setelah sebuah sel Hamas yang terdiri dari lima pejuang menyusup ke sebuah kamp militer di Kota Gaza dan meledakkan dua alat peledak terhadap tank dari Batalyon ke-82 Brigade Lapis Baja ke-7.

Wakil Menteri Agama Hadiri Rakorpim MPUII, Ajak Umat Dukung Program Nasional Presiden

JAKARTA (jurnalislam.com)– Wakil Menteri Agama RI, Romo H. R. Muhammad Syafi’i, SH, M.Hum, menghadiri Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUII) yang digelar di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta, Rabu (1/10/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Romo Syafi’i mengajak MPUII beserta elemen umat Islam untuk mendukung program-program nasional yang dicanangkan Presiden, seperti CKG, MBG, dan Sekolah Rakyat.

“Dalam kesempatan ini, saya mengajak Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUII) untuk mendukung program-program nasional Presiden, seperti CKG, MBG, dan Sekolah Rakyat. Program-program tersebut merupakan langkah nyata pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program-program tersebut membutuhkan dukungan dari seluruh elemen bangsa, termasuk umat Islam.

“Saya menyampaikan bahwa Presiden membutuhkan dukungan dari seluruh elemen agar program MBG, CKG, dan sekolah gratis dapat berjalan dengan sukses. Mari kita doakan agar beliau senantiasa diberikan kesehatan, serta tunjukkan dukungan nyata demi kelancaran program-program tersebut,” tambahnya.

Romo Syafi’i juga menekankan pentingnya persatuan umat dalam menopang kebijakan pemerintah.

“Saya juga menegaskan pentingnya kebersamaan dan kekompakan umat dalam mendukung program Presiden. Ini semua untuk kepentingan bangsa. Kita harus jaga persatuan, dan dukungan umat sangat menentukan keberhasilan,” tegasnya.

Dalam acara tersebut tampak hadir KH. Mochammad Achwan, Ketua Utama MPUII, serta Prof. Ir. Daniel Moch Rosyied, PhD, Sekretaris Jenderal MPUII.

Kontributor: Bahry

Menbud Fadli Zon Bertemu MPUII, Bahas Peran Umat Islam dalam Pembangunan Bangsa

JAKARTA (jurnalislam.com)– Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menghadiri forum dialog bersama Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUII) yang berlangsung di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta, pada Rabu (1/10/2025).

Pertemuan tersebut menjadi ajang diskusi terbuka antara pemerintah dan tokoh-tokoh Islam mengenai arah pembangunan nasional, kontribusi umat dalam kehidupan berbangsa, hingga dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dialog dipandu oleh Prof. Ir. Daniel Moch Rosyied, PhD, Sekretaris Jenderal MPUII, yang menekankan pentingnya umat Islam menyesuaikan langkah dengan arah kebijakan negara.

“Posisi umat harus tepat dalam membantu serta bekerja sama menyukseskan pemerintahan Prabowo Subianto,” katanya.

Dalam pemaparannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada MPUII yang dinilai mampu memberikan masukan strategis. Ia menjelaskan, perhatian Presiden terhadap mayoritas umat Islam di Indonesia salah satunya diwujudkan melalui pembentukan Kementerian Haji dan Umrah.

“Kementerian ini tidak hanya mengurus ibadah, tetapi juga punya nilai ekonomi yang besar. Bahkan Presiden menggagas Indonesian Village di Madinah, yang di dalamnya ada hotel, rumah makan, dan fasilitas lain untuk masyarakat Indonesia,” ungkap Fadli.

Selain itu, Fadli menyoroti kepemimpinan Presiden Prabowo di bidang politik luar negeri, khususnya sikap tegas terhadap isu Gaza.

“Pak Prabowo memegang kendali langsung kebijakan luar negeri. Beliau turut menyerukan penghentian kekerasan di Gaza, dan kini kita melihat semakin banyak negara Barat mulai mengakui Palestina,” ujarnya.

Sesi diskusi kemudian dilanjutkan dengan berbagai tanggapan dari anggota MPUII. Agus Maksum menekankan perlunya implementasi Pasal 33 UUD 1945 dengan memperkuat Koperasi Merah Putih yang kini telah mencapai 80 ribu unit. Menurutnya, koperasi harus terkoneksi digital dan terintegrasi dengan layanan transportasi daring agar pemerataan ekonomi dapat terwujud.

Sementara itu, ustadz Salim Abdullah mengangkat isu penulisan sejarah bangsa. Ia menilai narasi sejarah harus diperkuat agar identitas nasional semakin kokoh. Menjawab hal tersebut, Fadli menyebut pemerintah tengah menyiapkan pengerjaan sejarah nasional, termasuk mengangkat temuan penting seperti situs Bongal di Tapanuli Utara yang menunjukkan jejak peradaban Islam abad ke-7, serta lukisan gua purba di Maros, Muna, dan Sangkulirang.

“Indonesia adalah peradaban tua yang tidak menghancurkan tradisi, tetapi merangkulnya,” jelasnya.

Turut hadir dalam forum ini, Ketua Utama MPUII KH. Mochammad Achwan, Staf Ahli Menteri Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkitri, serta jajaran anggota MPUII.

Menutup dialog, Fadli Zon kembali menegaskan pentingnya stabilitas nasional sebagai syarat utama pertumbuhan ekonomi. “Kita harus bersyukur Indonesia relatif aman dan damai. Stabilitas adalah modal paling mahal, sekaligus prasyarat mutlak untuk pembangunan,” katanya.

Menurut Fadli, pemerintah akan terus mendorong kemandirian pangan, energi, dan pertahanan, sembari membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan umat Islam serta seluruh elemen bangsa.

Sumber: okezone

Mengarahakan Energi Gen Z Mengisi Peradaban, bukan Kriminalisasi Tanpa Bukti

Oleh : Herliana Tri M

Dikutip dari kompas.com (26/9/2025), mengungkapkan tentang buntut panjang demo ricuh pada akhir Agustus lalu dengan ditangkapnya ratusan peserta demo yang dianggap melakukan kerusuhan.
Komisioner KPAI Aris Adi Leksono menyebutkan bahwa penetapan 295 tersangka berusia anak dalam kerusuhan tersebut tidak memenuhi standar perlakuan terhadap anak yang tercantum dalam UU Peradilan Anak.

Ditemukan masih banyak yang tidak memenuhi standar perlakuan terhadap anak, perlakukan tidak manusiawi, ancaman bahkan secara riil menyampaikan akan dikeluarkan dari sekolahnya,” ucap Aris saat ditemui di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Jumat (26/9/2025). Harusnya penetapan ini dilakukan secara transparan, sehingga masyarakat bisa menilai apakah hukum yang diberlakukan memenuhi aspek keadilan atau justru bertentangan.

Apa yang disampaikan KPAI cukup beralasan, setelah KPAI menerima aduan bahwa anak-anak yang ditetapkan itu hanya sekedar ikut-ikutan dan terpengaruh media sosial.

Berdasarkan informasi yang terhimpun, polisi menetapkan jumlah yang fantastis, 959 orang sebagai tersangka dalam kerusuhan 25-31 Agustus 2025. Data tersebut diungkap Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Syahar Diantono, dalam konferensi persnya. Dari total tersangka itu, 295 anak ditetapkan sebagai tersangka juga berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA (Sistem Peradilan Pidana Anak).

Merespon Keterlibatan Gen Z Dalam Demonstrasi

Keterlibatan gen Z, sebutan bagi anak yang lahir pada 1997-2012 (usia pada kisaran 8-23 tahun). dalam berbagai demonstrasi dapat dilihat sebagai hal yang positif atau negatif tergantung cara pandangnya terhadap pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Kacamata pandang terhadap peran pemuda ini, memiliki pengaruh besar dalam menempatkan pelajar dalam berbagai keterlibatannya di tengah masyarakat termasuk dalam aksi berbagai kritik sosial yang diwujudkan dalam aksi bersama masyarakat atau demonstrasi.

Fakta keterlibatan gen Z apabila dianggap sebagai aktivitas kepedulian terhadap kondisi negeri, ini membuktikan bahwa mereka mulai sadar politik dan menuntut adanya perubahan karena ketidakadilan yang mampu mereka indera.

Kepedulian mereka menunjukkan bahwa ada kondisi tak ideal sedang terjadi. Sehingga mereka terketuk hatinya untuk turut bergerak. Langkah selanjutnya adalah mengarahkan kepedulian atau pergerakan mereka agar terarah, kesadaran untuk perubahan hakiki menuju islam kaffah.

Bukan justru sebaliknya, mereka dikriminalisasi dengan label anarkisme. Padahal terlalu dini label ini disematkan dan membutuhkan penelusuran yang transparan sebelum salah langkah dan memojokkan mereka atas kepedulian yang mereka perlihatkan. Lebih parah lagi apabila ada kesengajaan untuk membatasi, menghentikan atau membungkam daya kritis mereka.

Mengarahkan Peran Pemuda dalam Kepedulian

Pemuda atau pelajar pada generasi Z adalah generasi penerus bangsa, estafet perjuangan dan pengisi pembangunan yang produktif. Pengarahan yang tepat harus ditempatkan agar energi besar mereka tersalurkan dalam kepedulian yang positif, bukan melenceng pada akrivitas negatif seperti tawuran, pergaulan bebas yang berbahaya atau aktivitas lain yang tak sesuai dengan perannya sebagai generasi penerus.

Generasi kritis adalah wujud respon positif dan wujud keterlibatan mereka dalam mengingatkan pejabat negara yang salah arah atau koreksi atas kezaliman yang sedang berlangsung dan dipertontonkan kepada masyarakat atau publik.

Disinilah pentingnya pendampingan yang harusnya terus dilakukan agar kritik yang tumbuh, kepedulian yang muncul tak sekedar ikut- ikutan, melainkan aktivitas yang dilandaskan pada kesadaran penuh bahwa kesalahan tak bisa dibiarkan, pemuda memiliki peran penting untuk turut bergerak mengoreksi ketidakadilan yang terjadi.

Oleh karena itu, pendampingan perlu dihadirkan untuk membersamai tumbuh dan berkembangnya perubahan mereka menuju kebaikan. Butuh hadirnya kasih sayang keluarga, masyarakat baik yang turut tumbuh bersama pemuda serta kebijakan negara yang memberikan ruang bagi tersampaikannya aspirasi masyarakat yang termasuk di dalamnya adalah pelajar yang sedang tumbuh dan peduli.

Negara juga harus menerima dan menyerap aspirasi saat suara-suara rakyat adalah kebenaran bukan sebatas gerakan tanpa arah atau perbuatan lain yang berlawanan dengan kebaikan dan kebenaran menurut kaidah agama, apalagi sebagian besar mereka adalah seorang muslim yang terikat dengan syariat Allah yang mulia.

Ketika Kata-Kata Menjadi Doa, Harapan dan Bukti Perjuangan Untuk Palestina

Oleh: Budi Eko Prasetiya, SS

Kata-kata bisa menjadi inspirasi yang membangkitkan semangat, mengubah cara pandang, dan membangkitkan gairah untuk berbuat kreatif atau solutif.

Islam memandang kata-kata bukan sebagai sesuatu biasa saja. Kata-kata bisa menjadikan seseorang yang lemah menjadi kuat ataupun sebaliknya. Kata-kata bisa merubah seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknya. Dari kata-kata pula seseorang bisa masuk surga atau neraka.

Rasulullah shallallahu ala’ihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan kata-katanya itu.

Dan seorang hamba yang berbicara kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka Jahanam dengan kata-katanya itu.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Malik)

Berdasarkan hadis tersebut, dapat dipahami betapa besar pengaruh kata-kata terhadap nasib diri sendiri. Ucapan yang baik dan diridhai Allah akan memberikan kebaikan dan keberkahan dalam hidup.

Maka, mari jadikan kata-kata kita menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Salah satunya dengan menjadikannya seruan untuk mendukung perjuangan dan kemerdekaan saudara-saudara Muslim kita yang masih dizalimi oleh Zionis Israel di Palestina.

Seruan membela Palestina sangat efektif dalam membentuk opini publik, memberikan bantuan kemanusiaan, dan memperkuat solidaritas internasional melalui berbagai jalur, seperti media sosial, donasi, dan advokasi hukum. Meskipun bukan solusi langsung terhadap konflik, aksi solidaritas ini penting untuk mendorong perubahan politik dan kemanusiaan di Palestina.

Kata-kata sebagai harapan

Sebagai salah satu Negara dengan populasi muslim besar dunia, tercatat bagaimana Presiden RI menyeru untuk mendukung perjuangan Palestina. Seruan perlawanan pada penindasan dan dorongan Palestina merdeka disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB, New York, Selasa (23/9/2025).

Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan para pemimpin bangsa, banyak warga di Gaza menangis meminta pertolongan. Perempuan, anak, dan warga lansia menjadi kelompok paling rentan dalam setiap konflik. Oleh karena itu, semua negara perlu bersatu melawan penindasan dan ketidakadilan.

To those who have yet to act, we say history does not stand still. We must recognize Palestine now. We must stop the humanitarian catastrophe in Gaza. Ending the war must be our utmost priority.

We must overcome hatred and fear. We must overcome suspicion. We must achieve the peace that is necessary for the human family. We are ready to take our part in this journey towards peace. We are willing to provide peacekeeping forces.

Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB boleh diacungi jempol, meski disayangkan terkait gagasan two state solution.

Kata-kata yang menjadi resiko perjuangan

Hal sama pernah dilakukan oleh Presiden Pertama RI the founding father, Ir Soekarno berpidato pada Tahun 1960, di gedung megah Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Judul Pidatonya membuat PBB kaget, “To Build the World Anew”, yang berarti, “Mari kita bongkar rumah tua dunia ini, lalu kita bangun ulang dari fondasinya.”

Kala itu, Amerika dan Uni Soviet yang sedang rebutan jadi kontraktor dunia, langsung “melongo”. Indonesia bukan cuma minta renovasi, dia minta dibongkar total. Ia mengutip Dasa Sila Bandung, mengibarkan panji Asia-Afrika, dan menempeleng kolonialisme yang katanya sudah mati tapi masih suka gentayangan.

“Colonialism is not dead!” kata Bung Karno.

Bahkan, Presiden Sukarno pernah menolak kehadiran kontingen Israel, ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Pada momen itu, Presiden Sukarno tegas menyampaikan,

“Selama kemerdekaan Bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel”

Sesuai Amanat Konstitusi

Sikap berani dan perkataan tegas para Presiden RI ini dalam rangka memenuhi amanat konstitusi sebagaimana yang termaktub dalam Alinea 1 pembukaan UUD 1945.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kata-Kata Menggugah dari Para Pendahulu

Ketika sahabat Amru bin Ash di bawah komando Abu Ubaidah Al-Jarrah mulai memblokade Al-Quds pada 17 Hijriah. Al-Quds terkenal dengan benteng yang sangat kokoh, sehingga membuat pasukan muslim kesulitan menembus kota tersebut dan bertahan di luar benteng.

Penguasa Kota Suci Al Quds kala itu, Sophronius dari Pendeta Yunani berharap pasukan muslim menyerah dan mengurungkan niat menaklukkan Al-Quds.

Sophronius lalu memutuskan mengirim surat ke Amru bin Ash yang masih bertahan di luar benteng. Dalam surat tersebut, ia meminta Amru bi Ash untuk menyerah dan kembali ke Madinah. Namun permintaan itu ditolak, dan Amru bin Ash tetap memilih bertahan untuk merebut kota suci tersebut.

Amru bin Ash mengirim surat balasan dengan kata-kata yang menohok Sophronius

“Jangan salah, karena akulah penakluk negeri ini.”.

Ketika Sophinius membacanya, dia tertawa terbahak-bahak karena menganggap Amru tidak bijak.

“Tidak mungkin Amru yang akan menaklukkan, karena yang bisa menaklukkan Baitul Maqdis adalah ‘Ain, mim, Raa’ atau Umar.” Kata Sophonius sambil tertawa.

Perkataan tersebut terdengar oleh kurir, dan langsung melaporkan kepada Amru bin Ash.

“Yang mereka bicarakan bukan Amru penakluk Baitul Maqdis, tapi Umar.”

Amru bin Ash segera meminta Amirul Mu’minin segera ke Al Quds. Umar bin Khattab berangkat dari Madinah tanpa dikawal iring-iringan militer. Umar lebih dulu menetap di Jabiah sebelum berangkat ke Al-Quds.

Yang menarik dari momentum di Jabiah ini adalah Umar hanya mengendarai keledai. Pemandangan ini sulit diterima oleh pasukan muslim yang terbiasa berhadapan dengan pasukan Romawi. Sementara kepentingan Umar adalah berhadapan dengan pembesar Romawi di Al-Quds terkait perjanjian yang akan disepakati terkait penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Abu Ubaidah menasihati Umar. “Wahai Amirul Mukminin, engkau akan berhadapan dengan para pembesar Romawi.”

“Ya Abu Ubaidah, Allah memuliakan kalian dengan Islam. Maka apakah engkau hendak mencari Izzah dari selain islam? Allah akan menghinakan kalian.” Jawab Umar.

Dia berpendapat bahwa dirinya tidak akan terhina jika memakai keledai, karena dia menggunakan izzah Islam.

Setelah itu, Umar pun berangkat ke Al-Quds hanya ditemani satu orang pelayannya. Lantaran kendaraan hanya satu, maka keduanya bergantian. Jika giliran Umar menunggangi keledai, maka pelayan yang menuntun. Begitu pula sebaliknya. Saat hendak memasuki kota Al-Quds giliran Umar yang menuntun kuda sementara sang pelayan berada di punggungnya.

Maka saat Sophronius menyaksikan langsung kedatangan Umar, tanpa ragu ia serahkan kunci kota Al-Quds. Tanpa ragu ia tanda tangani kesepakatan dengan jaminan keamanan dan kebebasan beribadah serta tak ada orang Yahudi yang hidup di Yerussalem. Demikianlah isi kesepakatan tersebut.

Kata-kata yang terwarisi sebagai visi dan misi

Dikutip dari Kitab “Shalah Ad-Din Al-Ayubbi ; Bathal Hiththin wa Muharrir Al-Quds Min Ash-Shalibiyyin” (532-589 H) yang ditulis oleh Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, menyebutkan bahwa Ayahnya (Shalahudin Al Ayyubi), Najmuddin Ayyub masih melajang hingga di usia paruh baya-nya. Pamannya, Asaduddin turut risau terkait status keponakannya tersebut.

Asaduddin pun bertanya, “Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin pun menjawab, “Aku belum menemukan yang cocok!”, jawabnya singkat.

Asaduddin pun mencoba membantu, “Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?” ujarnya.

“Dia adalah Puteri Malik Syah, anak seorang Sultan Muhammad bin Malik Syah yang merupakan Raja Bani Saljuk, atau juga pada putri Nidzamul Malik, seorang menteri agung Abbasiyah” tekan Asaduddin meyakinkan saudaranya tersebut.

Najmuddin menjawab, “Mereka juga tidak cocok denganku”.

Asaduddin pun bertanya, “lantas siapa yang cocok bagimu?”

Seketika Najmuddin pun menjawab dengan lantang.

“Aku menginginkan istri yang shalihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Kata-Kata itu penting untuk perjuangan Palestina

Masalah yang menimpa warga Palestina bukan hanya masalah bagi umat Islam saja. Sebab, yang sebenarnya terjadi di Palestina adalah masalah kemanusiaan. Banyak kelompok dan individu dari berbagai latar belakang, telah menyuarakan dukungan mereka untuk rakyat Palestina. Beragam Aksi Pembelaan Kepada Palestina terjadi di berbagai kota di negara yang mayoritas masyarakatnya ternyata non-Muslim.

Membela Palestina sesungguhnya adalah panggilan kemanusiaan yang bisa dilakukan dengan berbagai cara apapun. Dengan seruan yang menggugah kepedulian masyarakat dunia hingga seruan pengiriman bantuan militer dan aksi kemanusiaan. Aksi ini bisa disuarakan oleh siapa pun, bahkan tanpa memandang agama. Selama identitas kemanusiaan masih melekat padanya, maka seharusnya apatisme dan masa bodoh tidak lagi muncul dalam sikap dan suara. Semoga kemerdekaan dan kebebasan lekas hadir di bumi Palestina seiring dengan pembelaan kita -sesama manusia- dalam empati dan doa kepada mereka.

Penyakit Menular Seksual Meningkat Tajam, Banyak Ditemukan pada Remaja

JAKARTA (jurnalislam.com)– Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia mengalami lonjakan tajam dalam tiga tahun terakhir. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak kasus kini ditemukan pada kelompok usia remaja.

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan pada 2023 terdapat 23.347 kasus sifilis, mayoritas berupa sifilis dini (19.904 kasus). Dari jumlah tersebut, 77 kasus merupakan sifilis kongenital, yakni penularan dari ibu kepada bayi. Kasus gonore juga tercatat tinggi, mencapai 10.506 laporan, dengan jumlah terbanyak berasal dari DKI Jakarta.

“IMS bukan hanya masalah pribadi, tetapi masalah kesehatan masyarakat. IMS membuka jalan bagi penularan HIV, dan paling banyak terjadi pada usia produktif 25–49 tahun. Kini kasusnya juga mulai naik pada remaja 15–19 tahun,” ujar dr. Ina Agustina, perwakilan Kementerian Kesehatan. (20/6/2025)

Sementara itu, ahli penyakit kulit dan kelamin FKUI-RSCM, dr. Hanny Nilasari, menekankan bahwa IMS sering kali tidak bergejala, terutama pada perempuan, sehingga banyak kasus terlambat ditangani. Jika dibiarkan, IMS dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang panggul, infertilitas, hingga kematian bayi saat lahir.

“Tren IMS terus meningkat, dan usia penderita makin muda. Banyak kasus IMS maupun kehamilan tidak diinginkan terjadi pada remaja, dan ini mendorong tingginya angka aborsi,” jelasnya.

Kemenkes menegaskan pentingnya langkah pencegahan melalui pendekatan ABCDE:
– Abstinence (tidak berzina sebelum menikah),
– Be faithful (setia pada pasangan halal),
– Condom (bagi kelompok berisiko),
– Drugs (hindari narkoba),
– Education (edukasi kesehatan).

Sumber: Kemenkes.co.id

Kemenkes: Kasus HIV Masih Tinggi, Populasi LGBT Jadi Faktor Utama

JAKARTA (jurnalislam.com)– Kementerian Kesehatan RI menegaskan kembali target eliminasi HIV pada tahun 2030. Namun, beban kasus di Indonesia masih tinggi dan terus menjadi ancaman serius.

Data terbaru 2025 mencatat ada sekitar 564 ribu orang dengan HIV (ODHIV). Dari jumlah itu, hanya 63 persen yang mengetahui statusnya, 67 persen sudah menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan 55 persen berhasil menekan virus hingga tidak terdeteksi.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Ina Agustina, menyebut 76 persen kasus HIV terkonsentrasi di 11 provinsi, yakni: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau.

“Penyebaran HIV secara nasional banyak terjadi di populasi kunci seperti laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks, dan pengguna napza suntik. Di Papua bahkan sudah menyebar ke masyarakat umum, dengan prevalensi 2,3 persen,” ujar Ina diberitakan kemenkes.co.id (20/6/2025).

Kemenkes menargetkan strategi global 95-95-95 pada 2030: 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen dari mereka mendapat pengobatan, dan 95 persen dari yang diobati berhasil menekan virus.

Sumber: kemkes.go.id