Menag Buka Seleksi Tilawatil Qur’an XXV Pontianak

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pembukaan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional XXV di Pontianak, Kalimantan Barat dibuka secara resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Sabtu (29/06/2019) di depan ribuan masyarakat kota Pontianak dan sekitarnya yang memadati arena utama STQ di Alun-alun Taman Kapuas.
 
Dalam sambutannya, Menag mengharapkan kegiatan Selekti Tilawatil Quran (STQ) Nasional ke XXV yang dilaksanakan di Pontianak, Kalimantan Barat dapat melekatkan kebersamaan dan kekeluargaan antara sesama umat muslim setelah Pilpres.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi umat agar dapat menjadikan pemersatu bagi kita bersama, agar tidak muda terpecah belah dengan meningkatkan kebersamaan dan rasa kekeluargaan, serta menepiskan perbedaan pasca pemilihan presiden kemarin,” katanya.

Lukman Hakim menegaskan bahwa kegiatan STQ maupun MTQ merupakan potret kegiatan ke-Islaman yang khas karena melibatkan unsur budaya dan kearifan lokal.

“Ada dialektika antara nilai budaya dan nilai ke-Islaman sehingga menunjukkan bahwa Isman adalah agama rahmatan lil alamin. Sejarah perkembangan Islam di Indonesia telah menunjukkan bagaimana nilai ke-Islaman yang seimbang berbentuk toleransi, teposaliro, kebersamaan, tolong menolong, saling menyayangi dan sebaginya, yang semua ini tentu harus kita lestarikan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Menurutnya, pola ini tidak dapat dilepaskan dari pemahaman dan implementasi nilai yang terkandung dalam Alqur’an. Sehingga diharapkan ke depan generasi muda Indonesia tidak hanya menjadikan Alquran sebagai bacaan dan hapalan, namun harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai yang terdapat didalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Lukman menambahkan, dipilihnya Kalbar, khususnya Pontianak menjadi tuan rumah STQ karena daerah ini syarat dengan kearifan lokal dari keberagaman etnis, agama dan budaya, dan sejarah telah membuktikan bahwa masyarakat Kalbar yang aman dan rukun.

“Kita berharap kegiatan ini bisa memberikan pendidikan Alquran kepada generasi penerus kita, agar bisa semakin mendalami nilai-nilai yang terdapat dalam Alquran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Terkait dengan penyelenggaran evem serupa di tingkat Internasional, lanjutnya, dirinya bersyukur karena prestasi Indonesia sangat membanggakan.

“Dari tahun 2012, hingga tahun ini kita sudah meraih tujuh kejuaraan membaca Al Quran internasional bergensi. Di Iran kita berhasil meraih juara pertama, di Bahrain juara pertama, di Turki juara pertama, di Malaysia juara kedua, di Brunai Darusalam juara kedua,” katanya.

Dia berharap, prestasi ini bisa terus dipertahankan oleh para qori dan qoriah Indonesia, agar lantunan ayat-ayat suci Al Quran dari Indonesia bisa terus mendunia.

Tanggapi Putusan MK, Din Syamsuddin: “Rasa Keadilan Saya Terusik”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mengatakan rakyat berhak menilai para hakim Mahkamah Konstitusi pasca hasil sidang putusan sengketa Pilpres 2019.

Dia mengungkapkan, para hakim telah terikat amanat konstitusi dan nilai moral untuk menegakkan kejujuran dan keadilan.

“Maka rakyat berhak utk menilai mereka apakah telah mengemban amanat dengan benar, yakni menegakkan kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Ini adalah sikap moral,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/6/2019).

Ia melanjutkan, rakyat mempunyai hak dan kewajiban untuk melakukan koreksi moral jika rakyat meyakini ada pengabaian nilai moral oleh para hakim MK tersebut.

“Patut diduga membenarkan yang salah dan menyalahkan yg benar, seperti membenarkan kecurangan, maka rakyat mempunyai hak dan kewajiban melakukan koreksi moral,” tegasnya.

“Seperti banyak rakyat, saya pun merasakan demikian. Rasa keadilan saya terusik. Saya tidak mampu dan tidak mau menyembunyikannya,” sambungnya.

Din menilai ada rona ketidakjujuran dan ketidakadilan dalam proses pengadilan di MK. “Banyak fakta dan dalil hukum yang terkesan tidak didalami.”

Din mengatakan, rakyat Indonesia harus menjadikan hal tersebut sebagai catatan bahwa ada cacat moral yang terwarisi dan kehidupan bangsa dan masalah dalam kepemimpinan negara.

“Selebihnya kita menyerahkan sepenuh urusan kepada Allah SWT, Ahkam al Hakimin, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Adil,” tuturnya.

Din menegaskan jalan terbaik di samping menghormati keputusan MK sebagai produk hukum, demi literasi bangsa kaum intelektual ialah dengan melakukan eksaminasi terhadap keputusan tersebut.

Rakyat, kata Din, dapat terus melakukan koreksi moral agar bangsa tidak terjatuh ke titik nadir dari moral banckrupty atau kebangkutan moral.

“Dan semua itu tetap dilakukan secara makruf dengan senantiasa memelihara persaudaraan kebangsaan karena perjuangan menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran tidak boleh ada titik berhenti,” tandas Din.

Setelah Putusan MK, Prabowo Mau Jadi Pahlawan atau Pecundang?

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Sudah ada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan kubu Prabowo-Sandi ditolak. Artinya, Jokowi jadi presiden.

Gak perlu kaget! Tulisan ini juga dibuat sebelum MK membacakan amar putusannya. Semua sudah jelas di depan mata. Arteria yang dalam talk show-nya di TV One menyatakan 100 persen yakin Jokowi menang, Yusril Ihza Mahendra, ketua kuasa hukum 02 yang ngajak rakyat menyaksikan pembacaan putusan MK melalui tweet-nya dan Denny JA yang ajak “taruhan sosial” di group WA, semuanya bisa jadi informasi, tepatnya bocoran yang terpercaya mengingat ketiganya adalah orang-orang penting di istana.

Kabar pertemuan Prabowo dengan sejumlah elit istana di bulan Ramadhan seolah memberi sinyal pengakuan atas kemenangan Jokowi-Ma’ruf. Maksudnya? Prabowo-Sandi dan BPN diduga sudah tahu hasil MK. Serapat-rapatnya MK menyimpan, akan bocor juga.

Kok Prabowo ketemu elit istana, berarti ada deal dong? Pasti! Dealnya apa? Nanti lu juga bakal tahu. Kabar yang beredar, itu terpaksa dilakukan untuk kepentingan para pendukung. Sejumlah tersangka yang ditahan seperti Egy Sudjana dkk dikeluarkan. Ini contoh konkretnya. Sampai disini, komitmen Prabowo terhadap para pendukung perlu diapresiasi. Alias tidak diragukan. Bukan untuk kepenting partai koalisi, terutama Gerindra? Nah, soal ini, kita tunggu langkah Prabowo pasca putusan MK. Sabar!

Lepas ada tidaknya intervensi terhadap MK sebagaimana dugaan intervensi atas institusi-institusi pemilu dan aparatur negara yang salama ini jadi perbincangan hangat publik, yang pasti Jokowi ditetapkan oleh MK menjadi presiden yang terpilih. Sah secara konstitusional.

Lalu, bagaiman nasib koalisi Prabowo-Sandi? Tetap, atau bubar? Publik tahu, Demokrat sudah balik kanan. Jauh hari sebelum Prabowo-Sandi memutuskan ke MK. PAN sudah bolak-balik ke istana. Untuk apa? Mosok sekedar ngopi? Ya enggaklah! Pasti ada pembicaraan khusus.

Yang jelas, kedua partai ini confirm mau bergabung dengan koalisi Jokowi-Ma’ruf. Soal diterima tidaknya, itu soal lain. Tapi, koalisi Prabowo-Sandi tinggal dua partai yaitu Gerindra dan PKS. Partai Berkarya? Gak masuk hitungan. Karena tak punya kursi di DPR.

Apakah Gerindra dan PKS akan bertahan sebagai oposisi? Bergantung! Pertama, kalau Gerindra komitmen terkait Wagub DKI, maka koalisi ini akan solid. Meski hanya dua partai. Tak masalah, karena selama ini hanya dua partai inilah yang konsisten dan mampu bertahan sebagai oposisi. Pilihan sebagai oposisi itu tepat jika orientasinya adalah investasi suara untuk lima tahun kedepan. Mau jadi partai besar, pilihan yang tepat untuk tetap jadi oposisi.

Ini juga penting bagi tegaknya demokrasi. Karena syarat negara itu dianggap demokratis jika cek and balance itu terjadi. Parlemen tidak diisi oleh orang-orang yang pro pemerintah saja. Tetap ada oposisi yang mengontrol.

Kedua, bergantung daya tahan Gerindra menghadapi bujuk-rayu dan mungkin juga tekanan dari penguasa. Bahkan juga bujuk rayu dari kawan koalisinya sendiri. Partai apa itu? Ah, kayak gak tahu aja. Tanya sama Pak Amien Rais. Ini godaan yang cukup berat. Selain desakan sejumlah elit dari internal partai Gerindra sendiri.

Ketiga, bergantung juga seberapa besar tekanan yang datang dari para pendukung terhadap Prabowo-Sandi. Mereka akan sangat kecewa jika Prabowo-Sandi memutuskan untuk berkoalisi dengan Jokowi-Ma’ruf.

Meski pilihan untuk gabung dengan penguasa oleh partai dianggap logis, terutama untuk mengakomodasi kepentingan para kader dan alasan kebutuhan logistik, tapi bagi para pendukung Prabowo-Sandi tetap dianggap sebagai penghianat.

Selama ini, kenapa para pendukung memberikan pilihannya kepada Prabowo-Sandi, karena mereka tidak menginginkan Jokowi jadi presiden lagi. Makanya ada tagar #2019GantiPresiden. Lalu para pendukung ini all out dengan tenaga, dana, dan semua potensi kekuatannya dikerahkan sebagai ikhtiar mendorong Prabowo jadi presiden. Menggantikan Jokowi. Bahkan ada sembilan orang berkorban nyawa. Lalu, ketika kalah, Prabowo gabung dengan Jokowi. Kalau bukan penghianatan, itu apa namanya? Protes sejumlah pendukung.

Ketika Prabowo-Sandi melarang para pendukung untuk turun ke MK saja, mereka kecewa. Malah curiga. Apalagi ikut bergabung dengan kekuasaan. Makin kecewa lagi.

Jika Prabowo-Sandi ikut berkoalisi dengan penguasa, itu sama saja mengakui kemenangan Jokowi-Ma’ruf. Lalu kenapa sebelumnya teriak ada Kecurangan TSM? Berarti gak konsisten. Bukankah majunya Prabowo-Sandi didorong oleh kekhawatiran bahwa negara ini berjalan ke arah yang salah dan bahkan berpotensi bubar di tahun 2030? Kalau sekarang gabung, berarti narasi-narasi kampanye itu kebohongan belaka dong? Hanya sandiwara dong? Itulah kekecewaan para pendukung.

Dalam situasi dilematis ini, Prabowo sedang diuji. Kalau dia memutuskan untuk bersama-sama para pendukung, mengambil posisi sebagai oposisi, maka dia akan tetap dihormati bahkan diapresiasi sebagai pahlawan. Narasi patriotisme yang selama ini digaungkankan oleh Prabowo akan di-amin-kan oleh para pendukungnya. Tapi, jika Prabowo justru memutuskan sebaliknya, menerima pinangan istana dan bergabung dalam koalisi kekuasaan, maka rakyat yang mendukungnya akan menganggap Prabowo sebagai pecundang. Kini rakyat yang mendukung Prabowo sedang menunggu, apakah Prabowo akan memilih jadi pahlawan, atau pecundang.

KH Muhammad Ali Al-Hamidy, Tokoh Persis Dari Betawi

Oleh: Arta Abu Azzam

Diantara tokoh mubaligh dan penulis produktif dari Persatuan Islam (Persis) yang sangat terkenal di Batavia adalah KH. Muhammad Ali Al-Hamidy. Di buku-buku karyanya dan tulisan-tulisannya yang tersebar di media massa, namanya seringkali ditulis: Md. Ali Al-Hamidy. Di kalangan ulama Betawi, ia sering disebut dengan Ali Alhamidy Matraman, karena ia tinggal di daerah Matraman Dalam II, No.56, Batavia.

Seperti ditulis dalam Ensiklopedi Jakarta, KH. Md. Ali Al-Hamidy lahir di Kampung Kwitang, Batavia, pada 20 September 1909. Ia menghabiskan masa kecil di Kwitang, sebelum akhirnya tinggal di Matraman dan banyak melakukan dakwah di Tanjung Priok dan wilayah Pekojan, Jakarta Barat. Ketika masa kecil itulah, ia banyak menimba ilmu di madrasah Unwanul Falah yang dikelola Habib Ali Al-Habsyi atau yang akrab dipanggil Habib Kwitang.

Setelah itu, KH.Md Ali Al-Hamidy justru banyak belajar pada Syaikh Ahmad As-Soorkati, seorang guru asal negeri Sudan yang didatangkan oleh organisasi Djami’atoel Kheir untuk mengajar di sekolah milik mereka yang terletak di Kampung Arab Pekojan, Batavia. Sekolah Djami’atoel Kheir sendiri sudah ada sejak tahun 1901 dan kemudian mendapatkan pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda (rechtpersoon) pada tahun 1905. Dari Pekojan, Djami’atoel Kheir kemudian membuka cabang di Tanah Abang.

KH. Md Ali Al-Hamidy sering bertemu dan berguru pada Syaikh Soorkati yang saat itu menjadi pengajar di Madrasah Djami’atoel Kheir. Dari pertemuan itulah kemudian ada perubahan dalam pemikiran KH. Ali Al-Hamidy. Ada yang menyebut, atas jasa Syaikh Soorkati itulah pemikiran Al-Hamidy “dimudakan”. Sejak itu pula, KH. Ali Al-Hamidy di kenal di Batavia sebagai “Mubaligh Kaum Muda”.

KH. Md. Ali Al-Hamidy yang saat itu sudah dikenal sebagai “Mubaligh Kaum Muda” kemudian banyak berdakwah di Tanjung Priok. Bersama pamannya, Tuan Abdurrahman, ia berdakwah dengan membuka majelis dan mendirikan madrasah. Di rumah pamannya yang terletak di Tanjung Priok, Gang 15, pada tahun 1931 dibuatkan majelis taklim dan madrasah. Nama madrasahnya, At-Tarbiyatul Islamiyah (Pendidikan Islam).

Pada tahun 1930-an, di daerah Tanjung Priok sudah marak dakwah yang bercorak pembaruan, sebagaimana sebutan para peneliti. Sementara masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan “dakwah kaum muda” atau “dakwah kaum Wahabi.” Persoalan yang sering menjadi polemik pun berkisah pada masalah-masalah khilafiyah. Bedanya, saat itu, persoalan-persoalan tersebut diselesaikan dengan jalan dialog, bertukar pikiran.

Pada sekitar awal tahun 1930-an inilah, A. Hassan sebagai guru Persatuan Islam (Persis) yang sudah cukup dikenal, datang dari Bandung untuk memenuhi undangan dakwah masyarakat Tanjung Priok, Gang 15. Dari sinilah kedekatan KH.Md. Ali Al-Hamidy mulai terbangun.

Setiap ke Batavia, tak jarang A. Hassan menginap di tempat KH. Ali Al-Hamidy di Jalan Matraman Dalam II. Karena kedekatan A. Hassan dan KH. Ali Al-Hamidy inilah kemudian terbentuklah Persatuan Islam cabang Tanjung Priok, dengan ketuanya KH. Muhammad Thahary, Sekertaris Mohd. Saied, dan bendahara Ny. Unah St.Denai. KH. Ali Alhamidy diposisikan sebagai penasehat atau guru utama Persis Tanjung Priok.

Pada saat terjadi perdebatan antara A. Hassan dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah di Gang Paseban, Batavia, pada tahun 1934, KH. Ali Al-Hamidy bersama para muridnya datang menghadiri debat tersebut dari Tanjung Priok dengan menggunakan delman. Peristiwa itu sendiri dikenal sebagai perdebatan terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Karena keahliannya dalam menulis kaligrafi Arab, KH. Ali Al-Hamidy lalu diminta oleh A. Hassan untuk datang ke Bandung dan menjadi penulis khat tetap Majalah Al-Lisaan, yang terletak di Jalan Lengkong 90. Sejak itulah, pada tahun 1937, dari mulai awal lahirnya majalah itu, KH. Ali Al-Hamidy yang saat itu baru menikah, tinggal di Bandung. Karena keahliannya dalam masalah-masalah agama, ia kemudian diminta untuk memegang rubrik An-Nisaa di majalah itu dan mengajar di Pesantren Persis Bandung.

Saat A. Hassan menulis Tafsir Al-Furqan, At-Tauhid, dan Panduan Membaca Huruf Hijaiyyah, KH. Ali Alhamidy-lah yang menjadi penulis khath karya-karya A. Hassan tersebut. Maka sejak saat itulah, karya kaligrafi Al-Hamidy banyak tersebar dimana-mana. Ia juga menjadi penulis khat Tafisr Al-Qur’anul Kariem karya Kasim Bakri yang terkenal pada tahun 1960. Tulisan khath dalam buku “Sedjarah Masjid” karya Aboebakar Atjeh juga buah tangan dari Ali Al-Hamidy. Bahkan, salah seorang murid yang belajar khat padanya, R. Ganda, alumnus Pesantren Persis,pernah menjadi penulis khat dalam terjemah Al-Qur’an Kitab Mulia yang ditulis oleh HB. Jassin. Ali Alhamidy juga dikenal sebagai ulama pelestari tulisan Melayu dalam aksara Arab.

Ketika A. Hassan pindah ke Bangil, Jawa Timur, dan mendirikan Pesantren Persis di kota itu, Ali Al-Hamidy pun sempat ikut menemani guru sekaligus sahabatnya itu. Sampai ketika Jepang datang ke Indonesia dan Pesantren Persis Bangil tidak mau ikut aturan wajib saikerei (membungkuk) ke Jepang, akhirnya pesantren itu tutup sementara.

KH. Ali Al-Hamidy lalu kembali beraktivitas di Jakarta. Namanya terus dikenal, bahkan dirinyalah yang pertama kali mengadakan shalat Hari Raya Idul Fithri di tanah lapang, yang pada saat itu di Batavia masih tabu dilakukan. Shalat diadakan di Lapangan Banteng, dan dipimpin langsung oleh Al-Hamidy. Begitu pula, ketika terjadi agresi militer Belanda kedua pada 1948, Ali Al-Hamidy tampil dengan gagah berani, mengadakan shalat Jumat di Jl. Raya Pegangsaan, dekat gedung proklamasi yang saat itu diblokade oleh tentara Belanda. Di bawah kawalan Panser dan tentara penjajah, dengan lantang Ali Al-Hamidy menjadi khatib Jumat.

Diantara karya-karya KH. Md. Ali Alhamidy adalah; Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Islam dan Perkawinan, Perbaikan Akhlak, Ruhul Mimbar, Adabul Insan fil Islam, dan lain-lain. Beberapa karyanya ada yang ditulis dari dalam penjara, ketika ia ditangkap pada masa rezim Nasakom. Ia ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan yang tidak jelas, semata-mata hasutan dari Partai Komunis Indonesia. Meski dikenal sebagai aktivis Persis, karya Al-Hamidy yang berjudul Ruhul Mimbar sering dipakai oleh para kyai NU untuk khutbah Jumat.

Selain aktif di Persatuan Islam (Persis), ketika umat Islam mendirikan Partai Masyumi, KH. Md. Ali Alhamidy ikut menjadi aktivis partai tersebut dan banyak menulis artikel di Suara Masjumi. Tokoh Persis dari Betawi ini wafat pada 22 Agustus 1985 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Pusat.

Mengkritisi Sistem Zonasi

Oleh: M Rizal Fadillah
Ketua Maung Institute

Sistem Zonasi PPDB 2019 yang diberlakukan nasional semangatnya bagus ingin menghilangkan kualifikasi sekolah favorit. Pemerataan berdasarkan tempat tinggal siswa. Hanya penerapan tanpa penyiapan dan kematangan bisa menimbulkan masalah. Semestinya percobaan dulu beberapa zona tingkat efektivitasnya. Sikap mental yang tak terbina justru menimbulkan budaya akal-akalan, budaya curang. Pemalsuan alamat dengan menumpang sana sini bisa dilakukan. Seorang pejabat penganjur sistem zonasi berupaya agar anaknya tetap berada di area zona sekolah favorit dengan memindahkan alamat ke rumah dinasnya.

Di bidang perhajian juga sama sedang mengalami masalah di bidang zonasi. Hal ini meresahkan banyak KBIH sehingga pemberangkatan jamaah haji pada tahun ini tidak bisa memilih KBIH sesuai dengan keinginan berdasarkan keyakinannya. Zonasi membelenggu pilihan. Jama’ah yang biasa berangkat bersama kini terpencar sesuai zonasi tempat tinggal jamaah. SK Dirjen PHU No 131 tahun 2019 dinilai tidak adil dan menghambat perkembangan KBIH. Padahal keberadaan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dilindungi dan dijamin oleh Undang-Undang. Dibutuhkan pula oleh jama’ah haji.

Masalah zonasi yang mendasarkan pada kewilayahan sebagai kebijakan di bidang pendidikan dan keagamaan ini dinilai grasa-grusu dan tidak matang dan “kurang mendidik”. Asas keadilan dipertanyakan. Keadilan yang mendasarkan pada “zona” semata adalah keadilan komutatif. Pukul rata. Bukan keadilan kualitatif yang mendasarkan pilihan kualitas dan keyakinan. Kompetisi bisa menjadi tidak sehat. Belum lagi dampak dalam membangun budaya akal akalan di atas termasuk pemalsuan Kartu Keluarga atau KTP.

Ada seloroh di antara kawan, bagaimana jika zonasi juga berlaku bagi pilihan politik. Warga atau penduduk di Provinsi tertentu yang dominan memilih Jokowi sebagai Presiden, maka Provinsi tersebut Presidennya adalah Jokowi. Begitu juga wilayah atau Provinsi dominan pilihan pada Prabowo, maka Prabowo lah Presiden. Mereka yang punya pilihan berbeda bisa pindah alamat berdasarkan zonasi yang diinginkan. Polarisasi yang tajam yang tidak diselesaikan dengan bijak dapat memunculkan opsi opsi.

MK kini sedang mengolah “bola panas” politik yang semua berharap ada putusan yang berkeadilan dan berkeadaban. Bukan putusan “sang dewi” yang mata dan hatinya tertutup lalu nabrak sana nabrak sini.

Jika MK memutus dengan asal asalan, apalagi berdasar tekanan atau pesanan, maka zonasi bisa menjadi opsi. Negara Kesatuan bisa bergeser menjadi negara Federasi. Tentu dengan usulan untuk mengubah dahulu Konstitusi. Masalah yang semestinya tak perlu dan harus diantisipasi. Memang MK dituntut ekstra hati-hati. Bahaya di depan sedang menanti. Desintegrasi zonasi.

Sosok Ahmad Surkati di Mata Ridwan Saidi

JAKARTA (Jurnalislam.com) –  Sosok pendiri Al Irsyad Al Islamiyyah, Ahmad Surkati memiliki banyak kenangan di semua orang. Termasuk Sejarawan Betawi, Ridwan Saidi.

Babe, sapaan akrabnya menjelaskan, semasa hidupnya Ahmad Surkati adalah orang yang tidak mudah dibeli oleh penjajah Belanda ataupun Jepang.

“Saat matanya sakit sampai diminta ke Belanda untuk berobat gratis, dia tolak. Sampai wafat dalam keadaan matanya tidak melihat,” katanya kepada Jurnalislam di sela-sela acara napaktilas ‘Melacak Jejak Surkati di Betawi’, Sabtu (22/6/2019).

Selain itu, Ahmad Surkati juga mengajarkan pembaharuan dalam berpikir. Memberantas mental budak.

“Masyarakat diajarkan berpikir kritis untuk membasmi mental budak Belanda dan Jepang,” ujarnya.

Ahmad Surkati banyak membina generasi muda yang tergabung dalam Jong Islamic Bond (JIB) yang melahirkan tokoh Masyumi era kemerdekaan.

Ridwan Saidi menceritakan, kehidupan AhmadSurkati sangat mandiri. “Saat tinggal di Pekojan, dia selalu ngontrak, pindah-pindah rumah dari gang kecil ke gang kecil lainnya.”

Tour de Batavia Kembali Digelar, ‘Melacak Jejak Surkati di Betawi’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komunitas Tour de Batavia kembali menggelar perjalanan sejarah bertema ‘Melacak Jejak Surkati di Betawi’, Sabtu (22/6/2019).

Ketua Panitia, Abdullah Ellie mengatakan tujuan dilaksanakan acara ini agar masyarakat dan generasi muda mengenal sosok Ahmad Surkati dan sejarah pergerakannya.

“Generasi muda harus mengenal sosok Ahmad Surkati dan perjuangannya memberikan pembaharuan terhadap pendidikan di Indonesia,” katanya kepada Jurnalislam.com, Sabtu (22/06/2019).

Dia menjelaskan, dengan mendirikan Pendidikan Al-Irsyad, Ahmad Surkati menjawab permasalahan kejumudan Islam pada saat itu, dan kemunduran peradaban Islam.

“Saat itu pandangan masyarakat, secara implisit harus diubah, tidak cuma pemikirannya, tetapi yang lebih penting adalah mengubah wawasan berpikirnya ke arah pemurnian agama (tajdid). Dengan demikian pendidikan Al-Irsyad ditujukan menciptakan perubahan pemikiran,” pungkasnya.

Dalam perjalanan sejarah ini, peserta akan diajak ke Kampung Pekojan; tempat awal beliau tiba di batavia, lalu ke Petojo yang merupakan satu-satunya gedung sekolah milik Al-Irsyad di tanah Betawi.

Taliban: Perjalanan Mursi Tunjukkan Perjuangan Tulus Butuh Pengorbanan

KABUL (Jurnalislam.com) – Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengungkapkan bahwa keteguhan dan pengorbanan mantan Presiden Mesir Dr. Muhammad Mursi akan menjadi contoh para pemegang kebenaran. Hal itu diungkapkan dalam pernyataan belasungkawa atas wafatnya Mursi.

Taliban menegaskan, dalam pernyataannya pada Selasa (18/6/2019), bahwa perjalanan Dr. Mursi dan yang dialaminya menunjukkan, jalan perjuangan yang tulus dan dalam mencapai tujuan itu penuh dengan kesulitan, keletihan dan membutuhkan pengorbanan serta tekad baja. Dan, perjalanan salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin itu akan dicatat dalam sejarah perjalanan Islam sepanjang masa.

Gerakan yang hingga saat ini teguh memilih jalan jihad itu menyatakan kesedihan mendalam atas kabar wafatnya Dr. Mursi. Ucapan belasungkawa, kata Taliban, kami sampaikan kepada keluarga, sahabat, pengikut Mursi dan seluruh umat Islam.

“Kami meminta kepada Allah supaya memberi rahmat yang luas bagi Dr. Mursi dan menerima segala usaha dan upaya yang dicurahkannya dalam jalan meninggikan kalimat Allah. Semoga seluruh amalnya dicatat dalam timbangan kebaikan,” kata Taliban.

Dr. Mursi pingsan setelah berbicara 20 menit di persidangan. Pada sidang terakhirnya, pengadilan kriminal Mesir menuduh Mursi menjadi mata-mata Qatar.

Rezim Mesir memakamkan jasad Mursi di lokasi yang dirahasiakan pada Selasa pagi. Menurut sejumlah media, hanya keluarga dan pengacara yang boleh mengikuti pemakaman. Tidak ada upacara pemakaman.

Sumber: El-Emara

Pernyataan Resmi Ikhwanul Muslimin Atas Wafatnya Mohammed Mursyi

PERNYATAAN RESMI AL-IKHWAN AL MUSLIMUN

ATAS SYAHIDNYA PRESIDEN MUHAMMAD MURSYI

بسم الله الرحمن الرحيم

Presiden Asy-Syahid Telah Pergi, dan Kita Akan Tetap Tegak Menunaikan Janji

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169)
فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(170)

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (169) Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (170) (QS. Ali Imran : 169 – 170)

Hari ini, Presiden sipil pertama yang terpilih secara demokratis dalam sejarah Mesir, Muhammad Mursi, wafat. Beliau wafat dalam kondisi tetap tegak membela hak rakyat dalam kebebasan, kedaulatan, dan kehidupan yang bermartabat. Beliau wafat di salah satu rangkaian persidangan tidak terhormat dan ilegal, yang ditimpakan atasnya. Dan itu menjadi saksi atas detik-detik terakhir kehidupannya yang terus bertahan, bersabar serta jiwa kepahlawanannya dalam menghadapi pengkhianatan dan kebohongan. Beliau adalah simbol besar dari misi pembebasan dari tirani dan keterjajahan.

Presiden Asy-Syahid Mursi akan tetap menjadi ikon Revolusi Januari yang agung dan akan dikenang oleh sejarah sebagai salah satu pemimpin terbesar Mesir, yang mempersembahkan ragam contoh terbaik tentang pengorbanan, perjuangan untuk kebebasan, dan merebut kemerdekaan Mesir. Ia tetap menjadi salah satu pemimpin terbesar bangsa Mesir yang mengorbankan hidup demi bangsanya. Hingga detik terakhir dalam hidupnya, ia tetap teguh pada sikap dan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Ia pantang menyerah dengan tidak memberikan legitimasi kepada pengkhianat yang membunuh, yang merampas tanah air, menjual tanahnya, dan menyia-nyiakan kekayaan serta sumber daya tanah airnya. Ucapan abadinya adalah : “Legitimasi adalah harga bagi hidupku … kehidupan bagiku.” Kata-kata itu akan terukir dalam sejarah. Menggema berulang-ulang di telinga zaman, dan diingat diwarisi oleh lintas generasi. Mengiringi segala keyakinan bahwa Presiden Asy-Syahid Mursi berada pada sikap yang benar, yang tak rela menjual harga diri kebebasan bangsanya, tanah airnya, atau agamanya.

Al-Ikhwan Al-Muslimun menganggap Presiden Muhammad Mursi sebagai seorang syahid. Pemerintah hasil kudeta militer yang berkhianat, bertanggung jawab penuh atas terbunuhnya Presiden Mursi, yang dilakukan dengan sengaja. Kondisi kesehatannya sangat buruk di penjara yang terisolir. Dalam waktu yang lama, ia dilarang mendapatkan hak-hak berobat dan mendapatkan pengobatan, bahkan tidak boleh bertemu dengan tim dokter. Ia juga dilarang melihat keluarganya, atau bahkan sekedar bertemu dengan pengacaranya.

Presiden Asy-Syahid berulangkali dalam persidangan yang tidak terhormat mengatakan bahwa kehidupannya terancam bahaya dan menegaskan apa dialaminya dari orang-orang jahat dan pengkhianat. Berkali-kali permintaannya dilontarkan, tapi itu tidak diperdulikan. Demikian juga permintaan keluarganya dan permintaan tim pengacaranya yang juga berkali-kali disampaikan terkait kondisi Presiden Muhammad Mursi yang kritis dan memerlukan penanganan medis di bawah kontrol di rumah sakit swasta, dengan pembiayaan pribadi, tetap tidak dianggap. Ini semua menegaskan apa yang dialami oleh Presiden Asy-Syahid adalah kejahatan pembunuhan, karena ia sama sekali tidak mendapat penanganan medis, meski berulangkali ada permintaan.

Al-Ikhwan Al-Muslimun menuntut agar dunia internasional dengan semua lembaga Hak Asasi Manusia, termasuk lembaga yang ada di bawah PBB, bergerak untuk menghentikan kejahatan pembunuhan perlahan yang terjadi karena pengabaian penanganan medis, yang melanggar hak ribuan tahanan yang diculik, yang ada di penjara-penjara pemerintah hasil kudeta.

Al-Ikhwan Al-Muslimun menyerukan semua ummat Islam untuk melakukan shalat ghaib di hari Jum’at pekan ini, atas kepergian tokoh ummat Presiden Asy-Syahid Muhammad Mursi. Kemudian melakukan aksi unjuk rasa di berbagai kota dunia, di depan kedutaan besar Mesir, untuk menentang pemerintahan hasil kudeta militer yang fasis.

Presiden Muhammad Mursi telah gugur sebagai syahid, akan tetapi perjuangannya untuk Mesir dan rakyatnya tidak berhenti dan tidak akan berhenti In sya Allah. Semua rakyat Mesir bahkan seluruh ummat akan tetap setia dengan janjinya, sampai Mesir benar-benar terbebas dan rakyat Mesir bisa menerima hak-haknya dalam kebebasan, kemerdekaan, martabat kemanusiaannya.

Allahu Akbar wa liLLaahil hamd

Al Ikhwan Al Muslimun

Senin, 13 Syawwal 1440 Hijriah – 17 Juni 2019 M

Arab Saudi Siap Bantu Program Pendidikan dan Dakwah Muhammadiyah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menjamu Dubes Arab Saudi bersama Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, Ketua Lembaga Dakwah Khusus Muhammad Ziyad, dan Ketua Majelis Hubungan Luar Negeri Muhyidin Djunaedi.

Dari hasil pertemuan tersebut, Haedar menyampaikan bahwa Kerajaan Arab Saudi (KSA) menghargai dan mengapresiasi Muhammadiyah yang kian memiliki kekuatan dakwah yang semakin besar.

“Dalam hal beasiswa misalnya, KSA memiliki 430-an peluang beasiswa dan studi di sana. Muhammadiyah diminta mengisi kesempatan tersebut, apalagi Muhammadiyah memiliki berbagai institusi pendidikan. Selanjutnya, ada program dakwah Muhammadiyah yaitu da’i di daerah terjauh dan terpencil. KSA setuju untuk menyokong pembiayaan program tersebut,” kata Haedar saat konferensi pers di Gedung Muhammadiyah Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Selain itu, Haedar menyatakan KSA ingin meningkatkan usaha-usaha yang mendukung kehidupan beragama menjadi lebih.

Berkunjung ke Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Esam Ased Al Thagafi berkomitmen untuk meningkatkan jalinan yang selama ini telah berjalan baik dengan Indonesia dan Muhammadiyah.

“Kami mengapresiasi Muhammadiyah yang punya aset banyak sekali seperti sebuah negara. Kami bersamamu satu hati,” ucap Esam.