Banjir Bandang Magelang, 10 Tewas, 2 Hilang, Puluhan Rumah Rusak

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban banjir bandang di Desa Sambungrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang masih dilakukan. Lebih dari 1.500 personil tim SAR gabungan dan masyarakat melakukan penanganan darurat.

Banjir bandang yang terjadi pada Sabtu (29/4/2017) itu melanda 5 dusun 2 desa, yaitu Dusun Nipis, Dusun Sambungrejo, Dusun Karanglo di Desa Sambungrejo, dan Dusun Deles, Dusun Kalisapi di Desa Citrosono.

“Hingga Ahad (30/4/2017) sore terdapat 10 korban meninggal dunia yang berasal dari Dusun Nipis dan Dusun Sambungrejo,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis kepada Jurnalislam.com, Senin (1/5/2017).

Ke-1- korban meninggal adalah Slamet (50), Siti Mardlyiah (45), Nayla Sulistyorini (6), Supar (65), Sumisah (60), Kamira (29), Isma Soraya (1,5), Catur Deni Firmanto (35), Faza Zaidan (4), dan Pariyah (40).

Sedengkan dua korban hilang adalah Sinem (70) dan Jamilatun Mar’ah (8), keduanya warga Dusun Deles Desa Citrasono. Adapun 4 korban luka berat antara lain Sumarlan (43), Aryati Rahayu (33), Alfiananda (6) dan Irfan Andriyani. Ketiganya sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan tim medis.

“Selain itu, sebanyak 46 KK atau 170 jiwa mengungsi ke masjid dan di rumah warga. Sebanyak 71 rumah mengalami kerusakan akibat, dengan rincian: 25 unit rumah rusak berat, 12 unit rusak ringan, dan 34 unit rumah terdampak,” papar Sutopo.

Hingga saat ini BPBD Magelang masihg terus melakukan pendataan. Untuk mempercepat penanganan darurat pascabanjir bandang, maka Bupati Magelang telah menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari yaitu 29/4/2017 hingga 4/5/2017.

“Komando tetap berada di Pemda Kabupaten Magelang didampingi BNPB dan BPBD Provinsi Jawa Tengah dibantu berbagai pihak,” ucapnya.

Dengan adanya status tanggap darurat maka ada kemudahan akses dalam pengerahan sumberdaya, personil, anggaran dan lainnya guna mempercepat penanganan darurat.

Gubernur Provinsi Jawa Tengah telah mengunjungi lokasi bencana, memberikan bantuan dan arahan kepada tim SAR untuk mempercepat pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban.

“BPBD tetangga di sekitar Jawa Tengah diperintahkan membantu BPBD Magelang dengan mengerahkan personil dan bantuan logistic,” ujar Sutopo.

Operasi tanggap darurat melibatkan personil dari BNPB, BPBD Provinsi Jawa Tengah, BPBD Magelang, BPBD Klaten, BPBD Boyolali, BPBD Temanggung, BPBD Wonosobo, BPBD Kudus, TNI, Polri, Basarnas, Dinkes, Dishub Magelang, DPU (Binamarga Jawa Tengah dan Kab. Magelang), SAR Kab. Magelang, PMI, komunitas relawan seperti MDMC, Tagana, NU, dan lainnya dibantu masyarakat.

Operasi pencarian korban hilang dibagi menjadi 3 sektor yaitu Sektor A operasi di Dsn. Sambungrejo, Ds. Sambungrejo; Sektor B operasi di Dsn. Nipis; dan Sektor C operasi di Dsn. Deles Desa Citrosono.

Alat berat pun dikerahkan. Listrik di Dusun Sambungrejo telah hidup kembali. Pada pukul 14.30 Wib operasi SAR dihentikan karena hujan. Pencarian, penyelamatan dan evakuasi akan dilanjutkan kembali besok pagi.

“Posko Bersama telah didirikan dan malam ini akan dilakukan rapat koordinasi. Semangat gotong royong dan kesetiakawanan masyarakat Jawa Tengah sangat besar sehingga penanganan darurat berjalan cukup lancar. Semua saling membantu karena panggilan kemanusiaan,” pungkasnya.

Siaran Pers

IKADI Prihatin atas Insiden Pembubaran Kajian Ustadz Felix Siauw

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), Achmad Satori Ismail mengaku perihatin atas insiden pembubaran kajian Ustadz Felix Siauw di Malang, Ahad (30/4/2017) kemarin.

“Ini kan kajiannya juga berbicara tentang menikah muda, ajakan agar umat Islam itu jauh dari hal-hal kemaksiatan, dari pada berzina lebih baik menikah muda, itu lebih indah. Tapi jika dibubarkan polisi begitu saja kan memprihatin kan,” kata Achmad sebagaimana dilansir Republika, Senin (1/5/2017).

Menurut Achmad, jika pembubaran yang dilakukan oleh Polisi terhadap pengajian Ustaz Felix hanya dikarenakan perizinan itu sangat disayangkan sekali. Selama ini, tegas Achmad, pengajian-pengajian itu memang tidak pernah ada izin, karena termasuk dalam kebebasan berkumpul dan mengeluarkan pendapat yang dilindungi UUD.

Dia juga mengungkapkan, hingga kini tidak ada pengajian yang kemudian menyuruh jamaah untuk melakukan pengrusakan. “Kecuali jika memang kumpulnya itu untuk melakukan perusakan di dalam kehidupan bernegara, yang memicu kegaduhan di masyarakat,” kata Achmad.

Dia menyarankan, jika menemukan pengajian seperti demikian, cara peringatannya jangan langsung dibubarkan, namun lakukan dengan dialog terlebih dahulu. Hal tersebut diupayakan untuk menjaga kegaduhan yang berlebih.

Sebelumnya, pada Ahad (30/4/2017) pembubaran kajian Islam Felix Siauw yang digelar di salah satu Hotel di kota Malang oleh aparat polisi setempat. Alasan acara tersebut dibubarkan diduga lantaran polisi mendapat tekanan dari sala satu organisasi masyarakat.

Curhatan Ustadz Felix Siauw Pasca Kejadian di Malang: Dakwah Takkan Terhenti

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pasca kejadian pembubaran kajian remaja di Malang kemarin, Ustadz Felix Siauw menegaskan bahwa dakwah tidak akan pernah bisa dihentikan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam akun facebook pribadinya, Senin (1/5/2017). Dalam curhatannya itu, ia juga mengkritisi tindakan aparat penegak hukum yang bertindak atas dorongan salah satu kelompok ormas. Berikut ini curhatan lengkap Ustadz Felix Siauw yang dikutip dari facebooknya.

Tiap-tiap manusia punya “sense of justice”, dan itu tidak bisa dikelabui meskipun seberapa besar pencitraan yang digunakan. Sebab itu sudah tertanam dalam jiwa. Apalagi di masa-masa fitnah, saat tiap-tiap upaya mmahamkan ummat akan agamanya dianggap sebagai makar, upaya untuk menggoyang negara, mengganggu kekuasaan.

Quis qustodiet ipsos custodes? Siapa yang mengawasi sang pengawas? Begitu peribahasa Latin untuk menggambarkan, bagaimana bila keadilan sudah hilang. Bagaimana bila kekuasaan yang harusnya menerapkan keadilan lalu justru tidak adil, bagaimana bila pihak yang berwenang menegakkan keadilan justru yang timpang? Maka ummat pastilah menyadari ketidakadilan itu, dan menuntut keadilan itu dikembalikan kepada mereka, dan ini adalah suatu hal yang sangat wajar sekali.

Kajian-kajian Islam takkan pernah berbahaya, sebab Islam tak akan pernah jadi bahaya bagi siapapun, malah Islam adalah agama yang menyelamatkan kita semua. Dari Islam saya belajar mencintai kedua orangtua, belajar menghargai sesama, mencintai manusia, belajar sabar dan ikhlas pada tiap kejadian yang tak kita kehendaki. Tapi Islam juga mengajarkan untuk menjaga harga diri agama, ketika kita menyaksikan Al-Qur’an yang kita cintai dilecehkan, maka kita juga tak rela dan berbicara.

Namun rezim saat ini menganggap tiap teriakan ditujukan pada mereka, alih-alih melihat secara jernih duduk masalahnya, tiap teriakan itu dibungkam atas nama hukum. Lucunya, muncul pula ormas-ormas yang mendukung rezim dan juga penista agama, mengklaim kebenaran ada di tangannya, lalu memaksa yang lain agar mengikutinya. Begitulah yang saya rasakan di Malang kemarin, pembicaraan tentang “Cinta Mulia” dianggap meresahkan, oleh desakan ormas tertentu polisi lalu membubarkan acara.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal, kebenaran takkan pernah padam, keadilan selalu menunjukkan dirinya dengan cara sendiri, dan Allah tidak tidur, Allah selalu punya rencana lebih baik. Seandainya ini adalah bagian untuk menghadang dakwah, harusnya mereka belajar bahwa dakwah takkan pernah terhenti, sebab ia perintah Allah yang selalu ada. Kita hanyalah pengemban-pengembannya yang hadir pada masa ujian, yang Allah mampu gantkan dengan mudah dengan generasi yang lebih hebat daripada kita.

Alhamdulillah, terimakasih tak terkira pada semua sahabat yang memberikan doa dan dukungan, insyaAllah semua ini karena kecintaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya. Sayapun berdoa semoga Allah meneguhkan hati kita dalam kebaikan, dan juga mendoakan agar semua yang menentang dakwah ini mampu berada di barisan kebaikan nantinya.

Hadang Kristenisasi, Wabup Karanganyar Resmikan Griya Da’wah

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Wakil Bupati Karanganyar, Rohadi Widodo meresmikan Gedung Griya Da’wah di Desa Gondosuli, Karanganyar, Ahad (30/4/2017). Gedung tersebut didirikan untuk mencegah gencarnya kristenisasi di daerah itu.

“Griya Dakwah ini kami bangun untuk mencegah kristenisasi, walaupun cuma kecil tapi kami berharap bisa membentengi umat,” kata Ketua Pembangunan, Joko Parjoko.

Griya Dakwah ini mempunyai beberapa Program Andalan diantaranya Paud Salimah, Kids School, Rumah Tahfidz dan Program Kajian Masyarakat.

Dalam sambutannya, Wabup Rohadi menitipkan, warga Gondosuli untuk menjaga generasi muda untuk menjadi generasi yang shalih.

“Karena mereka lah calon penerus kita, Kita ini lebih senang melihat Anak-anak kita Ngaji dan Sholat ketika kita pulang kerja,” tambah pejawat yang juga dikenal seorang da’i itu.

Selain Tabligh Akbar, panitia juga menggelar Baksos yang bekerja sama dengan ECR (Emergency and Crisis Response), dan Thibun Nabawi. Sebanyak 70 pasien dilayani Team ECR dan Posticom Stikes Kusuma Husada Surakarta.

 

Wisata Sunnah di Desa Kemasan Sukoharjo

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Desa Kemasan, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo meluncurkan program pemberdayaan desa berbasis syariah berjudul ‘Kemasan Mengaji’. Program tersebut merupakan salah satu output dari program Sinergi 3 Pilar, yaitu Masjid, Pondok Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat menuju Kemasan Mandiri.

Lurah Desa Kemasan, Abdullah Giman, mengatakan, dengan program tersebut ia bertekad menjadikan masjid sebagai sentra semua kegiatan umat.

“Harapan kami tercipta masyarakat islami yang membangun desa untuk negeri dan membangun konomi yang baik sehingga diridhai Allah, dan menjadikan gemah ripah loh jinawi,” katanya, Sabtu (29/4/2017).

Selain itu, Mahmudi selaku kordinator wisata mengatakan, Desa Kemasan diharapkan menjadi Desa wisata edukasi dan pembelajaran yang berbasis Islami.

“Salah satu tujuannya adalah untuk menghidupkan sunnah dan mewadahi masyarakat. Di sini kita ajarkan olahraga sunnah seperti berkuda dan memanah, dan mereka yang hadir bisa memetik hikmah dibalik itu,” terangnya.

Mahmudi berharap, dengan adanya desa wisata tersebut perekonomian masyarakat meningkat. Desa Kemasan menawarkan beberapa paket wisata dengan harga terjangakau bagi wisatawan yang ingin datang ke desa wisata Kemasan.

“Ada beberapa paket wisata yang kita hadirkan, seperti paket kuliner dan permainan anak, di sini juga diajarkan cara merawat kuda, sapi dan ikan. Untuk memanah hanya memberikan infak, semoga semua ini terjangkau bagi kaum muslimin serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Ada beberapa produk makanan lokal yang ditawarakan di stand-stand yang disediakan, seperti, Abon lele, Cireng, Mie Tampar, Singkong Keju, Ayam dan Bebek Printil, Bakso dan Tahu Bakso dan lainnya. Untuk berkuda, Anda cukup membayar Rp.150 ribu/1 jam.

Reporter: Arie Ristyan

Upaya Kriminalisasi dan Pembunuhan Terhadap Rasulullah SAW

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ 30

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal: 30)

Jurnalislam.com – Sepenggal kisah menegangkan di antara perjalanan dakwah dan jihad Rasulullah SAW dalam rangka tathbiqusy syari’ah (menegakkan hukum Allah) yang terjadi menjelang perjalanan hijrah beliau dari Mekah ke Yatsrib (Madinah). Saat-saat di mana Allah menguji keteguhan iman dengan ancaman pembunuhan dan nyawa yang harus dipersembahkan. Ujian untuk Rasulullah SAW dan para sahabatnya, terutama Ali bin Abi Thalib RA di atas jalan perjuangan.

Sepak terjang dakwah Rasulullah SAW benar-benar telah menjadikan gerah para penguasa yang berkolaborasi dengan para konglomerat Mekah. Bagaimana tidak, rakyat Mekah yang semula biasa dibodohi dengan ajaran-ajaran takhayul, syirik, dan kemunkaran, sekarang sudah tidak bisa lagi diperlakukan demikian. Penjajahan ideologi dan ekonomi yang melahirkan tindak kezaliman dan ketidakadilan terhadap orang-orang lemah di Mekah tidak lagi bisa mereka lakukan. Sekarang rakyat sudah tercerahkan dan terdidik. Mereka sudah tahu mana yang hak dan mana yang batil, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana ideologi yang benar-benar hendak menjadikan kehidupan mereka lebih baik dan mana yang sekedar menipu untuk menindas mereka demi kepentingan dunia para penguasa dan konglomerat, mana ideologi yang benar-benar mengangkat nilai-nilai keadilan dan memberantas kezaliman dan mana ideologi yang malah akan menyuburkan kezaliman. Berjalan sekitar 13 tahun, dakwah Rasulullah SAW di Mekah telah membuahkan hasil.

Di lain pihak, orang-orang musyrik Mekah yang panik akan perubahan situasi tersebut berkumpul di Darun Nadwah -tempat mereka biasa berkumpul untuk membahas perkembangan situasi politik terkini di Mekah-. Dan tentunya, di tempat itulah terjadi kesepakatan-kesepakatan politik masing-masing pihak antara penguasa dan konglomerat sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing.

Demikianlah, mereka berkumpul di Darun Nadwah memikirkan tentang apa yang harus dilakukan terhadap Muhammad SAW yang mereka anggap telah “mengacak-acak” kenyamanan hidup dan empuknya kursi kekuasaan yang selama ini mereka nikmati. Apakah mereka biarkan beliau tetap ada di Mekah dengan dipenjara? Apakah dibunuh sehingga mereka bisa istirahat dari sepak terjangnya? Atau apakah diusir saja dari Mekah sehingga tidak berbuat “makar” di sana? Masing-masing orang ketika itu memiliki pendapat masing-masing, akan tetapi akhirnya mereka sepakat pada satu pendapat yang diusulkan oleh Iblis yang menyamar menjadi sosok orang tua dari Nejed yang disepakati oleh Abu Jahal -sang pemimpin Quraisy setelah meninggalnya Abu Thalib-, paman Rasulullah SAW. Usulan tersebut adalah masing-masing kabilah Quraisy mengirimkan seorang pemudanya lengkap dengan pedang terhunus lalu secara bersama-sama membunuh Nabi SAW dengan sekali tusukan agar tanggung jawab pembunuhan tersebut tersebar pada seluruh kabilah Quraisy. Dengan demikian, Bani Hasyim, kabilah yang selama ini melindungi perjuangan Nabi SAW dalam menegakkan hukum Allah tidak akan mampu menuntut balas melawan seluruh kabilah dan akan menerima tebusan saja sebagai denda atas dosa pembunuhan tersebut.

Rencana jahat tersebut mereka jalankan. Pada malam yang telah disepakati, mereka mengepung rumah Nabi SAW dan bersiap-siap menusukkan pedang mereka masing-masing jika beliau bangun tidur. Namun Allah SWT Maha Hidup lagi Maha Mengawasi. Allah tidak rela utusan-Nya dicederai dan agama-Nya dibungkam. Bagaimana pun canggih dan hebatnya rencana jahat mereka, Allah mampu menggagalkan semuanya. Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW tentang apa yang akan terjadi sehingga beliau mengatur rencana agar bisa lolos dari kepungan mereka. Beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib RA agar menggantikan beliau tidur di tempat tidur beliau sehingga mereka menganggap Nabi SAW masih tidur di kamarnya. Dan pada waktunya, beliau SAW keluar dari rumah tanpa mampu dilihat oleh seorang pun di antara mereka karena Allah telah menjadikan mata mereka buta dari melihat beliau. Beliau keluar rumah lalu menaburkan pasir ke kepala mereka.

Ketika para pemuda tersebut telah lama menunggu karena menganggap Nabi SAW masih tidur, datanglah seseorang sambil berkata, “Celaka kalian, Muhammad sudah keluar dan menaburkan pasir ke kepala kalian”. Rupanya dia adalah Iblis yang sedang menyamar menjadi manusia memperingatkan mereka. Benar saja, mereka mendapati pasir di kepala mereka masing-masing yang menandakan bahwa ucapan orang itu benar. Mereka melihat ke kamar Rasulullah SAW dan mendapati ternyata yang tidur di ranjang beliau adalah Ali bin Abi Thalib RA. Mengetahui ternyata yang tidur tersebut adalah Ali, mereka tidak jadi menusukkan pedang mereka karena Ali bukan target mereka. Rencana jahat mereka telah Allah jadikan gagal total.

Demikianlah, Allah SWT menolong Rasul-Nya dari kejahatan musuh-musuhnya. Beliau berangkat hijrah ke Madinah dengan selamat ditemani oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA walaupun sempat diburu oleh tokoh-tokoh Quraisy Mekah dengan sayembara 100 ekor unta bagi siapa saja yang bisa menangkap beliau dalam keadaan hidup atau mati. Allah SWT berfirman,

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ 54

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54)

Di Madinah Allah SWT mengokohkan kekuasaan untuk beliau dengan kaum Muhajirin dan Anshar. Sejak saat itu dakwah dan jihad Rasulullah SAW dalam rangka membumikan ajaran Allah di muka bumi terus menerus mendapatkan kemenangan sampai puncaknya ketika Mekah berhasil ditaklukkan di bawah kekuasaan Islam pada tahun 8 Hijriyah. Ketika itu, 2000 orang penduduk Mekah masuk Islam dengan berbondong-bondong setelah sebelumnya menolak, bahkan sampai memerangi beliau sehingga beliau pergi meninggalkan Mekah dalam keadaan takut ditangkap oleh mereka. Allah SWT menurunkan surat An-Nashr menggambarkan suasa ketika hari penaklukan tersebut.

إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ ١ وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا ٢ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا ٣

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS An-Nashr: 1-3)

 

Pelajaran Yang Bisa Diambil:

  1. Musuh-musuh Islam akan senantiasa memikirkan cara apa saja untuk membungkam dakwah Islam.
  2. Mereka tidak segan-segan menghabisi siapa saja yang mendakwahkan Islam karena mereka tidak ingin kezaliman mereka ada yang menghentikannya.
  3. Penolong orang-orang mukmin hanyalah Allah, oleh karena itu tidak boleh bergantung pada siapa pun selain Allah.
  4. Hanya ideologi Islam yang benar-benar mampu mendatangkan keadilan, kebaikan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat tanpa penindasan, penipuan dan penjajahan.
  5. Orang-orang mukmin wajib berjuang menegakkan hukum Allah dan bersabar atas ujian-ujian yang menimpa karenanya.
  6. Istiqomah dan kesabaran adalah kunci datangnya pertolongan Allah.
  7. Kemenangan akan berakhir di tangan orang-orang mukmin dengan pertolongan Allah dan kekalahan serta kerugian hanya akan diderita oleh orang-orang kafir.
  8. Puncak perjuangan Islam adalah tegaknya hukum Allah di muka bumi ini.

Bersiap-siaplah menyambut kemenangan Islam di negeri ini dengan berjamaah, istiqomah, dan kesabaran, isya Allah.

Wallahu a’lam bishshowab.

Penulis: Ustadz Abu Hamzah

Mustafa Mansor: Bantuan untuk Rohingya Harus Konsisten

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Chairman Pertumbuhan Solidariti Madani Malaysia (MaSSSA), Mustafa Mansor, mengatakan, bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Rohingya harus dilakukan dengan konsisten.

“Rohingya ini permasalahannya dia harus ada tindakan ataupun aksi yang lebih jelas, terutama sekali aksi yang datang itu bukan hanya datang dari orang Rohingya, tetapi dari umat muslim seluruhnya,” katanya dalam acara ‘Dunia Islam Kian Menderita” di Bandung, Sabtu (29/4/2017).

“Jadi harus ada aktivitas yang benar-benar nyata dan berkelanjutan karena kita harus melakukan hal demikian secara konsisten, bukan hanya saat ada insiden saja baru kita sadar,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hal itu, MaSSSA dan Road For Peace menggagas International Flotilla to Arakan (IF2A). Mustafa menjelaskan, IF2A adalah kampanye media antar bangsa untuk membangun kepedulian terhadap bangsa Rohingya.

“Tetapi IF2A ini lebih kepada kampanye media, tetapi kalau jalan darat kita wujudkan dengan namanya Road For Peace (R4PEACE),” tegasnya.

Reporter: Agus Cahyanto

LDK IKMA UNLA Gelar Donor Darah dan Buka Bersama Shaum Sunnah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – LDK Ikatan Keluarga Mahasiswa Al-ikhlas (IKMA) Universitas Langlangbuana Bandung menggelar kegiatan donor darah dan Buka Bersama Shaum Sunnah, Kamis (27/4/2017).

Kegiatan kali ini mengusung tema “Ikhlas Berbagi dan Tingkatkan Keimanan dalam Diri”. Donor darah sebagai rasa peduli berbagi terhadap orang lain dan buka shaum sunnah bersama sebagai latihan sebelum memasuki bulan suci ramadhan serta menghidupkan sunnah nabi Muhammad SAW.

“Buka shaum wajib ramadhan bersama itu sudah biasa, tetapi buka shaum sunnah bersama itu luar biasa,” kata pembimbing LDK IKMA, DR. H.Eki Baihaki, M.Si kepada Jurnal Islam.

Sebanyak 57 kantong darah berhasil dikumpulkan dari 70 pedonor. Darah akan diserahkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung.

Reporter: Agus Dwi Cahyanto

 

Keluarga Bantah Kabar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam Kondisi Kritis

SOLO (Jurnalislam.com) – Beredar kabar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam keadaan kritis. Kabar itu tersebar dalam foto mirip Ustadz Abu tengah terbaring tak berdaya yang diunggah di media social. Namun putra bungsu Ustadz Abu, Abdul Rochim Ba’asyir membantah kabar tersebut.

“Kami atas nama keluarga menyatakan bahwa hal tersebut tidak benar. Walaupun beliau masih harus menjalani perlakuan dzalim dari pemerintah yang mengharuskan beliau diisolasi dari masyarakat yang mengunjunginya, namun kondisinya saat ini baik-baik saja dan dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” katanya kepada Jurniscom, Kamis (27/4/2017).

Pria yang karib disapa Ustadz Iim ini menjelaskan, bahwa ruang gerak Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di LP Gunung Sindur sangat dibatasi. Selain pengawasan CCTV 24 jam penuh, Ustadz Abu juga tidak diperbolehkan mengikuti shalat berjamaah di masjid kecuali untuk shalat Jum’at.

“Kondisi penahanan seperti sebelumnya, belum ada perubahan, masih di isolasi, kemudian juga belum boleh dijenguk siapapun selain keluarga. Dan di dalam, untuk sholat 5 waktu tidak boleh di masjid, kecuali jum’atan, dan masih ada pengawasan cctv,” ungkapnya.

Ustadz Iim menambahkan, pemindahan Ustadz Abu ke LP Gunung Sindur dengan alasan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih, ternyata adalah bohong belaka. Faktanya, kata dia, selain fasilitas kesehatan yang tidak memadai, ulama 80 tahun itu harus menempuh jarak yang cukup jauh melewati jalan rusak menuju klinik di luar LP.

“Sebagaimana yang dikatakan Luhut Panjaitan dulu ketika memindahkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke situ dengan alasan lebih mudah pengobatan, tapi sebenarnya di situ malah lebih sulit. Jadi omong kosong kalau mereka ngomong seperti itu, bohong semua,” ujarnya.

“Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala segera membebaskan beliau, hingga dapat bersama kita kembali dalam keadaan sehat wal afiat,aamiin. Hasbunallahu Wani’mal Wakiil, Ni’mal Maula Wani’mannashir, Wala Haula Wala Quwwata Illa Billah,” pungkasnya.

Sebelumnya, beredar foto seorang laki-laki tua yang mirip dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir terbaring tak berdaya di dalam sebuah ruangan mirip sel tahanan. Dalam gambar tersebut dikatakan agar pembaca mendoakan Ustadz Abu yang saat ini dalam keadaan kritis di Lapas Gunung Sindur.

Ustadz Abu divonis 15 tahun penjara setelah dituding terlibat kasus pelatihan militer di Aceh. Meskipun hingga saat ini pengadilan belum mampu membuktikan tuduhan tersebut. Ia sempat ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan sebelum akhirnya dipindah ke Lapas Gunung Sindur pada 16 April tahun lalu.

Reporter: Arie Ristyan

BAZNAS Didorong Himpun Zakat dari BUMN dan Perusahaan Besar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Sekretaris Negara, Pratikno mendorong Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk menghimpun zakat dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta besar di Indonesia. Hal itu dilakukan agar penghimpunan zakat semakin optimal.

Pratikno meminta agar Menteri Agama bersama BAZNAS dapat menangkap peluang di luar Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk digalang penghimpunannya.

“Ini bisa dimulai dari perusahaan swasta dan BUMN yang masuk jajaran 20 besar. Karena satu perusahaan saja bisa membawahi ratusan perusahaan dengan jumlah jutaan karyawan di dalamnya,” kata Pratikno dalam pertemuan dengan para pimpinan BAZNAS di Kantor Sekretariat Negara di Jakarta, Kamis (27/4/2017).

Ia menyebutkan beberapa BUMN besar yang menyimpan potensi besar zakat karyawan, antara lain Pertamina yang memiliki 120 anak perusahaan dan tiga bank besar yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia yaitu BRI, Mandiri dan BNI.

Sedangkan perusahaan swasta besar yang memiliki potensi zakat besar antara lain perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan seperti kelapa sawit. Terlebih, kata dia, saat ini perusahaan besar di Indonesia dikelola oleh generasi kedua atau ketiga memiliki pendekatan bisnis yang berbeda. Mereka lebih peduli dengan masyarakat dan gemar berbagi.

“Sosio-enterprenershipnya berbeda, makanya banyak anak konglomerat jadi aktivis lingkungan dan aktivis sosial. Mereka mengembangkan bisnis sekaligus menolong orang yang kurang mampu,” ujarnya.

Wakil Ketua BAZNAS, Zainulbahar Noor mengatakan potensi zakat yang besar tersebut juga dapat didorong menggunakan Instruksi Presiden (Inpres) yang mewajibkan para muslim yang telah mencapai nishab (batas penghasilan kena zakat) untuk berzakat melalui BAZNAS. Inpres tersebut merupakan amandemen dari Inpres No.3 tahun 2014 tentang pengelolaan zakat.

Saat ini aturan zakat di Indonesia masih bersifat sukarela, belum bersifat wajib. Inpres yang Baru tersebut saat ini sedang dipersiapkan oleh Kementerian Agama dan Badan Amil Zakat Nasional.

Sebelumnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Inpres ini didorong sebagai aktualisasi potensi zakat dalam mengatasi ketimpangan ekonomi.
Menteri Agama mengatakan, Presiden juga memiliki perhatian yang tinggi untuk meningkatkan pengelolaan zakat baik dari sisi penghimpunan maupun penyalurannya.

Siaran Pers BAZNAS