Gerakan Menutup Aurat 2018 Surakarta Bagikan 1000 Hijab

SOLO (Jurnalislam.com) – Pemandangan bernuansa merah muda terlihat di gelaran Car Free Day (CFD) di Jl Slamet Riyadi, Solo, pada Ahad, (18/2/2018). Di sudut barat Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di Purwosari, tampak ratusan muslimah berjilbab berkumpul dan membawa spanduk dan poster berisi ajakan unjuk berjilbab syar’i.

Mereka adalah para muslimah yang dari Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Soloraya yang menggelar aksi bertajuk Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) 2018.

Kegiatan tersebut diawali dengan orasi dilanjutkan dengan longmach, Ngaji On The Street, Tausyiah, dan Hijab Try yakni aksi pembagian jilbab kepada masyarakat yang berada di gelaran CFD.

“Agar para masyarakat bisa mengena di hati dan memahami bahwa berjilbab itu benar-benar penting dan sarana untuk mendekatkan diri pada Allah,” terang Annisa Oktaviani selaku kordinator aksi.

Mereka juga membagikan sekitar 1000 buah jilbab plus stiker kepada para muslimah di CFDu.

Annisa berharap aksi yang rutin diadakan tiap tahun ini bisa menjadikan muslimah lebih memahami akan wajibnya menutup aurat.

“Nanti akhwat yang sudah dibekali Jilbab, perorang biasanya 5 dan stiker, kita sebar untuk membagikan ke pengunjung, karena mungkin ada yang belum berhijab atau sudah berjilbab namun belum syar’i,” paparnya.

“Dan ini bukti nyata kita Syiar kita untuk menebarkan kebaikan,” tandasnya.

Kegiatan tersebut juga bekerja sama dengan Farois Soloraya, ODOJ, dan Solo Peduli Jilbab.

 

Lihat foto-fotonya disini

TGB Desak Pemerintah Segera Ungkap Kasus Serangan kepada Pemuka Agama

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Gubenur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi mendesak pemerintah untuk segera mengungkap dalang di balik maraknya penyerangan terhadap ulama dan tokoh agama yang belakangan marak terjadi di Indonesia.

“Jadi kasus penganiayaan terhadap tokoh agama, terhadap kyai termasuk penyerangan di gereja yang di Jogja itu harus di tuntaskan pemerintah melalui penegak hukum,” katanya usai memberikan Tausiyah Di Ponpes Assalam Kartasura Sukoharjo, Sabtu (17/2/2018).

Menurut TGB Zainul sapaan karibnya, ulama dan tokoh agama merupakan salah satu bagian yang penting dalam kehidupan bernegara. Mereka adalah panutan, contoh, sekaligus sebagai motor penggerak dalam menjadikan bangsa yang beradab.

Untuk itu, TGB Zainul meminta negara melakukan perannya untuk melindungi semua anak bangsa terlebih para ulama dan tokoh agama.

“Tokoh agama butuh perlindungan spesial, karena mereka yang bergerak di grassroots memberikan pengayoman, memotivasi dan mengarahkan masyarakat untuk membangun bangsa,” tandasnya

JUMPA 2 DSKS : Pemuda Islam Siap Menjaga Agama dan Negara

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menggelar Jambore Ukhuwah Mukhoyyam Pemuda Islam Surakarta (JUMPA) Jilid 2 di Bumi Perkemahan Camp Tawangmangu Resort, Karanganyar, Jum’at – Ahad, (16-18/2/2018).

Kegiatan yang diikuti 650 peserta dari 65 elemen umat Islam Soloraya ini digelar untuk mempererat ukhuwah sekaligus menguatkan peran pemuda dalam menjaga agama, ulama dan bangsa.

“Selain untuk melanjutkan agenda JUMPA pertama, merekatkan kembali ukhuwah para pemuda Islam. Para pemuda disini siap bela Islam dan jaga NKRI, yang memang sudah semestinya,” terang ketua panitia Habibanan kepada Jurnalislam.com di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, ketua DSKS Ustaz Muinudinillah Basri menegaskan, para peserta yang mengikuti JUMPA 2 ini merupakan para pemuda yang mempunyai keimanan yang tinggi dan akhlak yang baik.

“Menujukan kedisiplinan, akhlak yang tinggi dan kesiapan untuk membela negara ini yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang memang berdasarkan tauhid,” katanya saat memberikan sambutan dihadapan peserta.

Lebih lanjut, Ustadz Muin mengatakan, para pemuda yang hadir dalam kegiatan ini adalah para pemuda yang akan menjadi barisan terdepan dalam menjaga negeri ini dari penjajah asing dan aseng yang ingin menguasai negeri ini.

“Jumlah kali ini ingin menegaskan lagi bahwa kaum muslimin selalu berada dalam kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam membela Islam, ulama dan agama Allah Subhanahu Wata’ala,” tandasnya.

 

Antara Orang Gila, Teroris, dan Kepentingan Politik

Oleh: AB latif (Direktur Indopolitik Wacth)

Ada sebuah meme yang sangat inspiratif yang beredar di medsos. Meme itu adalah tulisan yang berbunyi “ Perbedaan antara orang gila dan teroris adalah sasarannya. Kalau yang dirusak adalah gereja, yang dibom adalah fasilitas umum, yang dianiaya adalah orang kafir, maka jelas itu teroris. Tapi kalau yang dirusak itu masjid, yang diserang itu pondok pesantren, dan yang dianiaya adalah kiai atau ustadz, jelas itu adalah orang gila.” Itulah meme yang sekarang lagi viral.

Tentunya meme ini tidaklah salah jika kita melihat fakta penanganan yang dilakukan oleh rezim belakangan ini. Lihatlah bagaimana penanganan kasus penganiayaan seorang kiai di Kabupaten Bandung Jawa Barat yaitu pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, KH. Umar Basri dan pembunuhan Ustadz Prawoto. Pelaku penganiayaan KH Umar Basri adalah Asep 50 tahun warga Kabupaten Garut dan pelaku pembunuhan Ustadz Prawoto adalah Asep Maftuh 45 tahun dan keduanya telah diamankan oleh pihak kepolisian. Tapi apa yang disampaikan pihak berwajib sangat menyakiti hati umat Islam. Betapa tidak dari hasil penyidikan didapatkan kesimpulan bahwa pelaku adalah orang gila. Demikian juga dengan kasus pengrusakan masjid yang kini semakin kerap terjadi. Fakta inilah membuat umat Islam merasa di diskriditkan dan dikriminalisasikan.

Meme ini sebenarnya adalah bentuk protes umat terhadap perlakuan aparat yang dinilai sangat tidak adil. Berbagai peristiwa yang terjadi dan penanganannya justru sangat mendiskriditkan Islam. Banyak fakta yang bisa kita lihat dengan jelas. Ingatlah kasus percobaan pembunuhan Pendeta Joshua di Bandung, Jawa Barat. Pelaku ditangkap dan langsung dinyatakan teroris. Dalam kasus yang baru terjadi juga demikian, semua stasiun TV dan berbagai media menayangkan kasus penyerangan ROMO di Gereja Sleman. Aparat langsung tanggap dan dinyatakan pelaku adalah radikalis/teroris.

Inilah ketidak adilan yang menimpa umat Islam. Banyak kasus yang hampir sama yang penanganannya justru sangat berbeda. Lihatlah begaimana reaksi aparat ketika menangani kasus chating Habib Rizieq yang belakangan diketahui itu adalah rekayasa. Kasus HRS aparat langsung putuskan tangkap pelakunya. Tapi coba lihat kasus yang menimpa calon pasangan Gus Ipul Azwar Anas. Putusan sangatlah berbeda. Apa yang disampaikan aparat justru malah mencari penyebarnya. Mengapa kasus yang sama tapi beda penanganannya ? mengapa tidak ditangkap saja pelakunya?

Penyebutan kata orang gila dan teroris tentunya bukan hal yang biasa. Ada indikasi motif politik di balik penyebutan pelaku kriminal dengan istilah orang gila dan teroris. Ada perbedaan makna antara penyebutan orang gila dan teroris. Jika suatu perkara atau kasus / kriminal sementara yang melakukannya adalah orang gila, maka perkara atau kasus itu akan berhenti dan dimaafkan berdasarkant undang-undang. Bahkan dalam hukum fiqih Islam tindakan orang gila tidak dicatat dosa. Dengan demikian diharapkan pelaku tersebut dapat lolos dari jerat hukum walaupun telah melakukan kriminalitas. Hal ini sangat berbeda dengan istilah teroris atau radikalis yang disematkan pada umat islam. Istilah teroris/radikalis ini terkesan sangat berbahaya bagi Negara dan masyarakat. Dengan istilah ini harapannya dapat menyeret pelaku menjadi musuh Negara dan masyarakat sehingga harus diburu dan dihabisi.

Selain itu, istilah orang gila dan teroris dapat dimanfaatkan dalam mendulang suara di Pilkada serentak tahun ini. Dimana istilah teroris ini sangat bahaya dan identik dengan kaum muslimin. Artinya Islam terkesan agama yang radikal dan tidak bertoleransi. Istilah ini akan menbuat umat Islam semakin phobi terhadap Islam itu sendiri yang pada akhirnya menjauhi partai islam yang menyuarakan Islam. Semakin banyak penyebutan teroris dan radikalis diharapkan umat semakin tidak percaya pada para calon yang diusung partai islam yang pada gilirannya mereka dapat terkalahkan. Jika umat islam sudah menjauhi partai Islam, maka partai nasionalis akan mempunyai peluang besar untuk menang.

Selain itu penyebutan orang gila dan teroris ini sebenarnya adalah upaya adu domba yang dilakukan oleh orang-orang yang membenci Islam atau orang-orang yang mempunyai tujuan besar untuk menyingkirkan pengaruh Islam dalam kehidupan di Indonesia. Ada indikasi PKI bermain didalam istilah ini. Karena isu ini sangatlah efektif untuk memecah belah umat Islam. Dengan umat yang sudah terpecah otomatis suara mereka diparlemen juga akan melemah dan harapan kemenangan calon yang diusung partai Islam juga akan semakin kecil.

Sesungguhnya istilah orang gila dan teroris adalah sarana politik untuk mencapai tujuan politik. Dengan istilah ini diharapkan suara umat Islam terpecah dan semakin lemah. Dari itu umat Islam seharusnya semakin sadar dan faham akan adanya upaya untuk memecahbelah umat Islam dan membentuk opini negatif tentang Islam. Inilah perang yang sebenarnya antara yang hak dan batil.

Disini urgensinya sistem Islam. Selama sistem demokrasi ini tetap dipertahankan jangan harap hukum Islam bisa diterapkan. Jika Islam tidak bisa diterapkan jangan harap ada keadilan.

Dauroh Formasalam Jakarta Targetkan Lahirnya Pejuang Islam Masa Depan

BEKASI (Jurnalislam.com) – Forum Mahasiswa Islam (Formasalam) Jakarta menggelar Dauroh Mahasiswa di Kantor Sekretariat Ponpes Al Furqon di Pengasingan Rawa Lumbu, Bekasi pada Ahad (11/2/2018).

Dauroh Mahasiswa dengan tema “Pemuda & Kebangkitan Islam” itu dilatarbelakangi kesadaran bahwa pemuda adalah kader pewaris perjuangan dalam medan dakwah dan jihad yang akan meneruskan estafet perjuangan umat Islam di masa mendatang.

Dauroh Mahasiswa dengan belasan peserta mahasiswa pada hari itu menghadirkan dua pemateri. Pada sesi pertama diisi oleh Ustadz Abu Al Izz, Lc dan sesi kedua diisi Ustadz Feishal, S.Pd.

Ustadz Abu Al Izz memulai penyampaiannya dengan mengulas secara singkat Siroh Nabawiyah. Tentang bagaimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan keteladanan untuk menjadi mandiri sejak masih kecil.

Ustadz Abu Al Izz juga mengingatkan tentang bagaimana seharusnya memanfaatkan masa muda. Memanfaatkan waktu dengan semangat mencari ilmu dan berbagai pengalaman sehingga melahirkan ide yang bermanfaat untuk bekal menjadi pemimpin di masa depan.

“Umat Islam harus menjadi pemenang. Belajarlah menjadi pemimpin sejak masih menjadi pemuda. Jangan lemah dan hanya menjadi target konsumen dari orang-orang kafir. Jangan hanya menjadi pekerja di perusahaan-perusahan milik orang kafir. Apalagi kalau kemudian sampai cinta dunia dan takut mati.” terang Ustadz Abu Al Izz

Menjawab pertanyaan dari salah satu peserta Dauroh Mahasiswa tentang bagaimana menyikapi perkembangan teknologi dan media sosial di zaman sekarang, Ustadz Abu Al Izz menjelaskan :

“Menyikapi perkembangan teknologi dan sosial media di zaman sekarang, pemuda bisa memanfaatkan untuk berdakwah sehingga bisa memenangkan opini dan informasi untuk kepentingan dan kemenangan Islam. Dan ini sudah ada hasilnya. Jadi jangan menafikan dan akhirnya gaptek. Selain itu, media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk belajar bisnis sehingga meraih kemandirian. Sudah banyak mahasiswa yang berhasil membuktikan kesuksesan dari bisnis dari media sosial. Bahkan sampai menghasilkan ratusan juta. Mengalahkan penghasilan orang tuanya. Ini luar biasa dan bisa dicontoh.” terang Ustadz Abu Al Izz secara detail.

Pada akhir pemaparannya, Ustadz Abu Al Izz mengingatkan agar para mahasiswa Islam secara umum dan para peserta Dauroh Mahasiswa agar lebih semangat lagi dalam belajar.

“Jangan sampai kita kalah semangat dalam hal belajar dengan orang-orang kafir yang mempelajari ilmu-ilmu tentang Islam.” jelasnya

Dijeda break 10 Menit, Dauroh Mahasiswa dilanjutkan dengan sesi pemateri kedua, Ustadz Feishal, S.Pd yang membawakan materi tentang kehadiran Formasalam (Forum Gerakan Mahasiswa Islam) di kalangan kampus dan mahasiswa.

Formasalam yang lahir pada 28 Oktober 2017 dan memang mengambil spirit peringatan Hari Sumpah Pemuda, diharapkan menjadi fajar baru gerakan mahasiswa Islam yang ada di kampus-kampus.

Ustadz Feishal memulai pemaparannya dengan mengingatkan para peserta agar menjadi Mahasiswa Ideologis.

“Jangan menjadi ‘Mahasiswa Romantis’ yang mengabaikan apa yang terjadi di kampus. Hanya rajin kuliah, memikirkan bagaimana mendapatkan nilai IPK besar, lulus tepat waktu, lalu bekerja, berkeluarga, kemudian baru memikirkan tentang bagaimana masuk surga. Tetapi jadilah “Mahasiswa Ideologis’ yang mulai memikirkan, memperjuangkan, dan pembelaan terhadap kepentingan bangsa dan ummat Islam.” jelasnya

Pemuda-pemuda Islam dan khususnya mahasiswa-mahasiswa Islam harus memiliki keilmuan tentang Islam yang mendalam sehingga bisa mengambil peran secara aktif dan tidak kalah dalam perang pemikiran dan budaya dengan orang-orang kafir.

Kehadiran Formasalam kedepannya diharapkan bisa menjadi bagian dari kontribusi terhadap kebangkitan mahasiswa Islam di kampus-kampus yang ada di Indonesia.

Siaran Pers

Peduli Warga Terdampak Limbah PT RUM, PDM Sukoharjo Gelar Pengobatan Gratis

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga terdampak limbah bau dari PT Rayon Utama Makmur (RUM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo mengadakan bakti sosial di MIM Kedungwinong, Nguter, Rabu (14/2/2018). Dalam kegiatannya, PDM Sukoharjo bekerjasama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sukoharjo.

Baksi sosial ini berupa pengobatan gratis dan pembagian masker serta tabung oksigen kepada masyarakat dan beberapa sekolahan yang terkena dampak limbah bau.

“Kami juga membagikan 117 botol Oxycan dan 100 box masker kepada 18 sekolah dan masyarakat serta pemaparan gejala penyakit ISPA pada masyarakat,” kata Ketua PDM Sukoharjo Eko Pujiatmoko sebagaimana dilansir Sukoharjonews.com pada, Rabu (14/2/2018).

Layanan pengobatan gratis yang digelar PDM Sukoharjo tersebut, mendapat antusiasme yang tinggi dari warga. Poniyem, salah satu warga dari Dukuh Kedungwinong yang ikut melakukan pemeriksaan kesehatan itu menjelaskan, bahwa setiap bau limbah itu muncul, dirinya merasakan mual dan pusing.

“Baunya memang tidak setiap saat, tapi ada jam-jam tertentu. Saat bau itulah kepala pusing dan mual. Karena ada pengobatan gratis, saya ikut datang untuk periksa,” katanya.

Senada dengan Poniyem, Tukiman (66) asal Dukuh Krebet menceritakan perihal limbah bau itu, menurutnya, saat dinihari, bau mirip septic tank tersebut sangat menyengat dan membuatnya ingin muntah.

”Saya kalau pas mau makan ada bau itu sama sekali tidak nyaman,” paparnya.

Selain menggelar pengobatan gratis, PDM Sukoharjo juga melakukan layanan psikososial dari TK Imam Syuhodo untuk tiga sekolah. Masing-masing BA Aisyiah Kedungwinong, RA Nur Salam Juron, RA At Taqwa Pengkol.

Ratusan Pelajar Yogyakarta Gelar Aksi ‘Hari Peduli Moral’

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Ratusan pelajar se-Kota Yogyakarta pada Rabu (14/2/2018) turun ke jalan menggelar aksi ‘Hari Peduli Moral’ di Titik 0 Km Yogyakarta. Aksi digelar atas dasar keprihatinan para pelajar atas merosotnya moral generasi muda bangsa.

Acara yang diinisiasi oleh Santri Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta ini diikuti oleh sejumlah forum pelajar se-Kota Yogyakarta yang kemudian melahirkan aliansi pelajar Jogja bernama Pelajar Istimewa.

Aliansi ini terdiri dari IPM (ikatan Pelajar Muhammadiyah), Wirobrajandan Ngampilan, PII (Pelajar Islam Indonesai), IPNU (IkatanPelajar Nahdhatul Ulama), Ikatan Pelajar Putri Indonesia, YMP (Yogyakarta Movement Project), FKPO (Forum Komunikasi Pengurus Osis), FORPIS (Forum Remaja Palang Merah Indonesia), dan STUCASH (Student Care and Share).

Acara diawali dengan menyanyikan lagu ‘Tanah Airku’ dan dilanjutkan dengan orasi dari setiap perwakilan forum pelajar.

“Kita selaku pelajar harus bangkit, dulu kita dijajah dengan senjata, tapi sekarang kita dijajah moralnya,” kata Leo Pradana Insaghi, perwakilan dari SMA Taman Madya IP.

Tak hanya berorasi, para pelajar se-Kota Yogayakarta juga membagikan stiker-stiker akan krisisnya moral bangsa ini, juga buletin-buletin yang berisi yang berisi fakta-fakta penurunan moral pada hari itu.

Aksi ini juga mendapat dukungan dari pelajar luar kota Yogyakarta yang tak bisa hadir. Mereka menyuarakan dukungannya melalui sosial dengan meramaikan tagar #HARIPEDULIMORAL.Tercatat lebih dari 300 pelajar menyemarakkan tagar tersebut.

“Dengan adanya aksi ini semoga pelajar yang berada di seluruh Indonesia sadarakan menurunnya moralitas bangsa ini, tak hanya itu kami berharap para pengunjung yang menyaksikan hal ini dapat membantu mencegah penurunan moral dengan merangkul orang-orang terdekatnya,” kata Koordinator aksi Racha Julian.

Dia berharap aksi ini dapat menyadarkan generasi muda akan pentignya menjaga nilai luhur bangsa Indonesia yang berakhlak.

Sementara itu Sekretaris IPM Yogyakarta, Ramadhani Ghafar Utama mendorong generasi muda bangsa untuk meningkatkan prestasi guna memperbaiki imej pelajar Indonesia.

“Menjadi lebih baik dan memberi perubahan ke depan. Terus bangkit memberi perlawana karena tunduk adalah pengkhianatan,” katanya.

Aksi yang tersebar di dua titik yaitu 0 KM dan Tugu Jogja ini dimulai dari pukul 15.00, dengan berkumpul di Masjid Gedhe Kauman untuk Aksi di 0 KM dan Pasar Kranggan untuk aksi di Tugu Jogja.

Sebagai penutup, para peserta mengadakan doa bersama di pelataran Masjid Gedhe Kauman. Mereka mendoakan agar para pemuda segera sadar akan moralitas bangsa Indonesia yang menurun, dan juga agar Indonesia dapat menjadi negara maju.

Siaran Pers

Pelajar Istimewa
Pelajar Istimewa

MIUMI Tolak Campur Tangan Asing dalam Pembahasan Rancangan KUHP

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menolak campur tangan asing dalam pembahasan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum pidana (KUHP). Pernyataan itu disampaikan Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir dalam konferensi pers usai diskusi bertema ‘Bedah RUU KUHP dan Masalah Keumatan’ di AQL Islamic Center, Jl. Tebet Utara, pada Selasa (13/2/2018)

“Mendesak Presiden dan DPR untuk menolak intervensi asing berkaitan dengan rancangan KUHP demi harga diri bangsa Indonesia dan kedaulatan hukum nasional,” kata UBN.

MIUMI juga mendukung perluasan makna beberapa pasal dalam rancangan KUHP terkait perzinahan, perkosaan, dan perbuatan cabul atau sesama jenis.

“Mendorong koordinasi dan konsolidasi antar wakil rakyat di DPR demi menjaga ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila,” terangnya.

MIUMI mengimbau umat Islam dan seluruh umat beragama untuk siap siaga menyambut seruan ulama dan pemuka agama masing-masing untuk membela hak-hak, nilai-nilai, dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Selain itu, MIUMI mengajak seluruh komponen bangsa untuk ikut mengawal proses perjuangan legislasi nasional demi terwujudnya KUHP yang sesuai dengan Pancasila dan UUDRI 1945.

Diskusi dan pernyataan sikap ini dihadiri oleh sejumlah tokoh diantara nya adalah, Arsul Sani, S.H., M.Si., MCIArb sebagai Aggota Panja RKUHP ; Prof.Dr.Muzakkir sebagai Pakar Hukum Pidana; Atip Latipulhayat, Pakar Hukum; Dosen Universitas Padjajaran; Neng Djubaedah, Dosen Hukum Universitas Indonesia.

Lalu hadir juga Manager Nasution dari Muhammadiyah, Ustad Fadlan Garamatan, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Islah Bondowoso, K.H. Muhammad Maksum, Abu Jibril Wakil Amir Majelis Mujahidin, ustadz Adnin Armas, Ustadz Zaitun Rasmin, Rita Subagiyo, dan Prof Euis Sunarti.

LUIS: Kapolri Tebang Pilih

SOLO (Jurnalislam.com) – Pernyataan Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian soal kasus penyerangan di gereja Santa Lidwina Sleman dan penyerangan sejumlah ulama di Jabar dinilai tendensius dan tebang pilih.

Tito menyebut kasus penyerangan terhadap sejumlah ulama di Jawa Barat adalah kriminal biasa, akan tetapi terhadap pelaku penyerangan gereja Santa Lidwina di Sleman Tito mengatakan bahwa pelaku terpengaruh paham radikal.

“Statement itu tendensius, istilah Jawa Mbang cinde mbang ciblandan, atau berat sebelah, jadi kalau itu persoalan kriminal ya kriminal, kalau teror ya teror, kalau menyangkut penganiayaan ulama hingga pembunuhan itu kriminal biasa kemudian ditempat lain terorisme maka ini sudah penilaian yang tidak obyektif,” kata Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Endro Sudarsono di Solo, Selasa (13/2/2018).

Harusnya, kata Endro, Kapolri memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Pernyataan Kapolri tersebut dapat membuat gejolak perpecahan di kalangan umat beragama di Indonesia.

“Jadi aparat kepolisian itu harus memberikan statement yang sejuk kepada masyarakat, segera mungkin penegakan hukum, sehingga masyarakat ini tidak terlalu banyak mendengar hal hal yang yang tidak perlu di masyarakat,” tandasnya.