Waspada Defisit Perdangan

Oleh: Mohammad Faisal, PhD – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE)

Setelah menikmati surplus sejak tahun 2015, neraca perdagangan Indonesia dalam tiga bulan terakhir kembali jatuh defisit. Dengan defisit pada bulan Februari 2018 sebesar USD 0,12 Miliar, maka total defisit dalam tiga bulan sejak Desember 2017 menjadi USD 1,1 Miliar. Defisit perdagangan selama tiga bulan berturut-turut ini adalah yang pertama kali terjadi sejak tahun 2014. CORE Indonesia memandang kondisi ini patut mendapatkan perhatian
serius pemerintah setidaknya karena tiga alasan berikut.

Pertama, net ekspor yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi selama 2017 dengan pertumbuhan 21%, berpotensi memberikan sumbangan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini. Artinya, upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun ini menjadi semakin sukar.

Kedua, defisit perdagangan akan semakin mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang menjadi salah satu faktor pendorong pelemahan nilai tukar Rupiah, selain faktor eksternal (misal, penaikan suku bunga acuan the Fed di AS). Ketiga, belum ada peningkatan kinerja industri manufaktur secara berarti, terutama industri yang berorientasi ekspor. Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas. Padahal, seperti halnya negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam, ekspor manufaktur yang kuat akan dapat meredam terjadinya defisit perdagangan, khususnya pada saat ekspor komoditas andalan (seperti sawit) cenderung melemah, dan harga minyak dunia terkerek naik. Sebagai perbandingan, kontribusi ekspor manufaktur hanya 47% dari total ekspor Indonesia, sementara kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspor Vietnam dan Thailand saat ini sudah mencapai 78%.

Faktor pendorong defisit
Defisit perdagangan dalam tiga bulan terakhir setidaknya didorong oleh dua faktor, yakni pelebaran defisit migas dan penyempitan surplus nonmigas. Pelebaran defisit migas terjadi akibat peningkatan impor migas yang didorong oleh kenaikan harga minyak dunia. Pelebaran defisit migas sebenarnya sudah terjadi sejak bulan Februari 2016, sejalan dengan harga minyak yang mulai bergerak naik dari USD 30/barel pada Januari 2016 menjadi USD 64/barel
pada Februari 2018, bahkan sempat menyentuh di atas USD 70/barel pada Januari lalu.

Akibatnya, defisit migas yang pada Februari 2016 hanya USD 10 juta meningkat menjadi USD 870 juta pada Februari 2018, atau meningkat 8600%.

Di sisi non-migas, ekspor manufaktur yang sejak Januari 2016 mengalami tren kenaikan, dalam tiga bulan terakhir mengalami kontraksi sebesar 11%, dari USD 11,5 miliar (November 2017) menjadi USD 10,3 miliar (Februari 2018). Ekspor tambang yang mengalami peningkatan sejak paruh kedua 2016, dalam dua bulan terakhir ikut terkoreksi 15,3% dari USD 2,7 miliar (Desember 2017) menjadi USD 2,3 miliar (Februari 2018). Bahkan, ekspor pertanian
mengalami penurunan yang lebih tajam sebesar 25,6% dalam tiga bulan terakhir.

Manakala ekspor manufaktur tumbuh lemah sebesar 12% dalam setahun terakhir (Maret 2017 – Februari 2018), impor tumbuh lebih cepat sebesar 18,7% pada periode yang sama. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir pertumbuhan impor mencapai 23,7%. Memang, peningkatan impor ini sebagian besar (75%) didorong oleh belanja bahan baku dan bahan penolong, yang merupakan indikasi terjadinya peningkatan aktivitas industri manufaktur di dalam negeri. Sayangnya, hal ini juga menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor.

Meskipun dalam beberapa bulan ke depan ada potensi untuk kembali surplus, struktur neraca perdagangan masih sangat rentan mengalami defisit karena masih lemahnya peran ekspor manufaktur. Apalagi, defisit migas masih cenderung melebar karena dorongan kenaikan harga minyak dan peningkatan volume impor migas antisipasi lebaran. Sementara ekspor komoditas sawit yang menjadi andalan utama Indonesia menghadapi berbagai
ancaman proteksi di berbagai negara, khususnya Eropa, Amerika, bahkan negara importir terbesar India.

Kondisi ini sekali lagi menjadi warning bagi pemerintah untuk segera menempatkan upaya peningkatan daya saing industri manufaktur secara komprehensif sebagai agenda utama ke depan. Bukan sekedar untuk memperkuat neraca perdagangan, tetapi juga untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi.*

Muslimat Dewan Dakwah Gelar Pelatihan Bisnis Keripik Singkong

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menggelar Pelatihan Home Industri dan motivasi bagi ibu-ibu muslimah di Aula Masjid Al-Furqan, Jakarta (Kamis, 15/3/2018).

Melihat pertumbuhan ekonomi saat ini yang ternyata didominasi oleh para konglomerat non-muslim, muslimat harus bisa mengambil peran membangkitkan ekonomi umat walaupun hanya dengan keripik singkong. Hal ini, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw yang berhasil membangun ekonomi Islam dengan menguasai pasar-pasar saat berada di Madinah.

Muslimat harus mengambil perannya dalam kebangkitan ekonomi Islam”, demikian pesan Ir. Muhammad Iqbal dalam sambutannya.

Pelatihan yang bertajuk “Berani Gagal, Berani Sukses” ini mendatangkan pemateri Ibu Muslimah, seorang pengusaha keripik singkong yang cukup sukses meraup omset ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Motivator yang dahulunya seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia ini membeberkan rahasia kesuksesannya berbisnis kripik singkong berlabel “Cantir”. Ia memulai usahanya hanya bermodalkan Rp50 ribu. Inspirasinya datang lantaran ia merasa orang kampung, yang juga terbiasa dengan cita rasa jajanan kampung berupa olahan singkong. Usahanya bermula dengan berjualan di kereta commuter linenya yang tadinya masih diperbolehkan, lalu dititipkan di warung-warung tradisional.

“Untuk mengembangkan usaha, akhirnya saya beranikan meminjam modal dari KUR, waktu itu dapat Rp5 juta,” katanya sambil menambahkan, selain keripik Cantir, wanita ini juga membuat jenis jajanan lainnya berbahan dasar singkong.

Di tangannya yang terampil, sisa-sisa potongan singkong tak bernilai diolah menjadi cemilan nikmat dan gurih. Wanita berkerudung ini mampu merubah jajanan ‘kampung’ menjadi cemilan trendi di Jakarta. “Saya beri nama Cantir untuk melestarikan budaya aslinya, juga agar nama yang tadinya terlalu kampungan jadi terkenal,” ujar Ibu Muslimah.

Turut hadir dalam pelatihan yang berlangsung satu hari ini, Ustadzah Andi Nuruljannah, Lc selaku Ketua Muslimat Dewan Da’wah Pusat. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu program Biro Ekonomi dan UKM Muslimat Dewan Da’wah Pusat. “Pelatihan ini akan berlanjut di beberapa perwakilan Muslimat Dewan Da’wah Daerah di seluruh Indonesia salah satunya kota Medan yang menyatakan telah siap”, jelasnya.

Dewan Da’wah Pusat pun telah siap memfasilitasi seandainya perwakilan daerah menghendaki pelatihan serupa.

Peserta yang berjumlah ratusan tampak cukup antusias mengikuti jalannya acara. Tidak hanya teori yang didapat, peserta juga berkesempatan praktik membuat dan mencicipi keripik singkong olahan Ibu Muslimah yang saat ini pangsa pasarnya sudah go Internasional.

Siaran Pers

Kemenag: Cadar Tidak Boleh Dilarang

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil Kamaruddin Amin mengatakan, pada dasarnya cadar tidak boleh dilarang. Menurutnya, memakai cadar adalah hak seorang muslimah yang harus dihargai.

“Jadi pada dasarnya cadar itu tidak boleh dilarang, setiap orang punya hak untuk itu,” katanya kepada wartawan katanya usai menghadiri pembukaan Rakornas Pendidikan Islam di di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (14/3/2018).

Kamarudin juga menegaskan, cadar tidak bisa diidentikan dengan ideologi tertentu. Hal itu, kata dia, harus melalui investigasi mendalam dan komunikasi intensif.

“Tapi ketika itu dilarang di sebuah perguruan tinggi kita harus diskusikan dulu, mereka harus menjelaskan apa alasannya separah apa, seberbahaya apa, alasan esensialnya apa,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya hanya bisa memberikan masukan kepada perguruan-perguruan tinggi keagamaan dalam mengeluarkan keputusan agar diyang sebijak dan searif mungkin.

“Jadi pesan kami kepada seluruh perguruan tinggi keagamaan di Indonesia untuk pertama sebijak mungkin, melakukan komunikasi, dialog dan pembinaan agar suasana keberagamaan yang salah satu ekspresinya itu dengan menggunakan cadar itu bisa dihormati dan dihargai,” paparnya.

Belum lama ini, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mengeluarkan sebuah surat teguran tertulis bagi seorang Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan atas nama Hayati Syafri.

Surat dikeluarkan pada 6 Desember 2017 yang ditandatangani Dekan Fakultas oleh Nunu Burhanuddin yang berisi tentang peringatan terhadap Hayati untuk berpakaian di dalam kampus sesuai dengan kode etik dosen IAIN Bukittinggi.

Hayati diketahui belum lama ini bekerja dan mengajar mata kuliah bahasa Inggris di kampus itu menggunakan cadar.

Reporter: Gio

Soal Larangan Cadar, Kemenag Minta Kampus Lebih Arif dan Bijak

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil Kamaruddin Amin menanggapi kasus pelarangan cadar di kampus Islam. Ia meminta pihak kampus untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan larangan tersebut.

“Pesan kami kepada seluruh perguruan tinggi keagamaan di Indonesia untuk sebijak mungkin, melakukan komunikasi, dialog dan pembinaan agar suasana keberagamaan yang salah satu ekspresinya itu dengan menggunakan cadar itu bisa dihormati dan dihargai,” katanya usai menghadiri pembukaan Rakornas Pendidikan Islam di di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (14/3/2018).

Ia menjelaskan, pihak kampus harus mempertimbangkan secara matang keputusan tersebut dengan melakukan pendekatan persuasif untuk mengetahui motifasi mahasiswinya memakai cadar.

“Karena tentu cadar itu adalah sebuah simbol ekspresi cita rasa keberagamaan sesungguhnya, yang merupakan kombinasi antar budaya, pemahaman keagamaan, tempat, dan waktu. Sehingga kalau hanya alasan cadara semata itu itu tidak boleh dilarang,” paparnya.

Kamarudin meminta harus ada alasan yang jelas terkait larangan tersebut. Ia mencontohkan, jika cadar mengganggu proses belajar mengajar maka harus ditinjau kembali seberapa mengganggunya.

“Jadi harus betul-betul di-treat secara spesifik dan harus sebijak searif mungkin dan seikhlas mungkin karena mereka itu adalah stakeholder kita, mereka itu adalah mahasiswa dan dosen kita, mereka itu adalah bagian dari kita. Sehingga bersama-sama kita harus melakukan komunikasi dan diskusi,” katanya.

Kendati demikian, Kamarudin menjelaskan bahwa Rektor mempunyai kewenangan untuk mengatur persoalan akademik dan non-akademik sebagaimana diatur di dalam Undang-undang No. 4 Tahun 2014.

“Kita tentu hanya bisa memberi arahan mengimbau mereka agar betul-betul memperhatikan banyak faktor terkait dengan cadar ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, kasus cadar ini mencuat setelah UIN Sunan Kalijaga mengeluarkan surat keputusan melarang mahasiswinya menggunakan cadar di lingkungan kampus. Namun surat keputusan tersebut kemudian dicabut setelah diprotes dari berbagai pihak.

Belum lama ini, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mengeluarkan sebuah surat teguran tertulis bagi seorang Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan atas nama Hayati Syafri.

Surat dikeluarkan pada 6 Desember 2017 yang ditandatangani Dekan Fakultas oleh Nunu Burhanuddin yang berisi tentang peringatan terhadap Hayati untuk berpakaian di dalam kampus sesuai dengan kode etik dosen IAIN Bukittinggi.

Reporter: Gio

Menag Buka Rakornas Pendidikan Islam 2018

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Dirjen Pendidikan Islam 2018 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (14/3/2018). Dalam sambutannya, Lukman menyatakan pendidikan adalah suatu hal penting dalam setiap kehidupan manusia.

“Pendidikan itu adalah program penting yang harus dilakukan,” katanya dalam membuka Rakornas Pendidikan Islam Dirjen Islam Kemenag di Hotel Mercure, Ancol, Rabu (14/3/2018).

Menurutnya pendidikan adalah proses yang tak pernah terhenti sejak lahir sampai meninggal. Pasalnya tidak ada sesuatu yang melebihi dari pentingnya pendidikan sehingga sebagai proses yang tak berkesudahan.

Ia menambahkan, program utama pendidikan Islam adalah membangun kesadaran hakikat beragama berindonesia.

“Tidak boleh ada paham atau pengamalan keagamaan yang bertentangan dengan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya paparnya.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Phil Kamaruddin Amin mengatakan, acara ini digelar untuk mensinergikan anatara kepemimpinan pusat dan daerah agar komunikasi antara pusat dan daerah itu semakin mantap.

Rakornas diagendakan berlangsung hingga hari Jumat (16/3/2018).

Reporter: Gio

KID ABA Luncurkan ‘Hidayah Autism Centre’

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Klinik Intervensi Dini Applied Behaviour Analysis (KID ABA) Centre Kota Bekasi bekerjasama dengan Pendidikan Integral Lukman al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Karangbugis, Kota Balikpapan meluncurkan Hidayah Autism Centre (HAC) di Aula Pesantren Hidayatullah Karangbugis, pada Sabtu (10/3/2018) pekan kemarin.

KID ABA Bekasi merupakan sebuah klinik terapi khusus untuk penyandang autisme. Metode terapi yang digunakan adalah Smart ABA dan BIT, yang telah terbukti efektif dan efisien bisa menyembuhkan secara total anak-anak autis.

Peluncuran HAC ini secara resmi dilakukan Sayid Muhdar (Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan), didampingi oleh dr. Rudy Sutadi (Owner KID ABA Bekasi serta Konsultan Smart ABA dan BIT) bersama Ustadz Muzakkir (Direktur Sekolah Integral Terpadu Pondok Pesantren Hidayatullah Karangbugis, Kota Balikpapan).

Dalam sambutannya mewakili walikota Balikpapan yang berhalangan hadir, Sayid Muhdar mengatakan, pihaknya menyambut baik kehadiran HAC. Ia berharap dengan adanya HAC ini bisa mendukung perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus, terutama pendertia autis, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak pada umumnya.

“Anak merupakan anugerah dari Allah. Kita tidak bisa memilih bagaimana rupa dan kondisi anak yang diamanahkan oleh Allah SWT. Tak semua anak terlahir dengan kondisi sempurna. Dan terkadang ada orangtua yang dikarunia anak-anak berkebutuhan khusus. Salah satunya adalah autis,” jelasnya.

Karena itu, Sayid mengajak para orangtua yang dikarunia anak-anak autis agar tidak merasa minder. Katanya, orangtua harus sanggup serta tetap semangat mempersiapkan anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus supaya mampu berkarya seperti anak pada umumnya.

“Tanpa stigma negatif dari masyarakat dan memperoleh penanganan yang tepat, sehingga mereka mampu berprestasi,” tegasnya mengimbau.

Ustadz Muzakkir mengungkapkan, sekolah integral terpadu (PG, TK, SD dan MTs) Lukman al-Hakim Pesantren Hidayatullah Karangbugis mendedikasikan pendidikan untuk segala macam latar belakang termasuk beragam murid berkebutuhan khusus seperti autis, down syndrom, celebral palsy, speed delay dan lain sebagainya.

“Karena menerima murid dari semua latar belakang itu, kami berupaya proporsional dengan pengelolaan yang insya Allah profesional. Makanya, kita hadirkan Hidayah Autism Centre ini dengan langsung menghadirkan dokter Rudy sebagai Pakar Autisme di Indonesia,” ujarnya.

Sementara, dr. Rudy Sutadi menjelaskan, autisme adalah suatu gangguan nerobiologis berat dengan gejala gangguan pada interaksi sosial, komunikasi verbal dan non-verbal serta minat dan perilaku yang terbatas, juga berulang-ulang.

“Gejala terlihat jelas sebelum usia 3 tahun. Dan akan terus berlanjut selama hidupnya kalau tidak diintervensi sejak dini,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa dokter Rudy ini pun berbagi tips bagaimana mendiagnosis apakah anak kita menderita autis atau tidak. Yakni dengan melalui 3 pertanyaan. Pertama, apakah pada usia 18 bulan anak kita memandang dan menunjuk saat ia ingin menunjukkan sesuatu? Kedua, apakah anak melihat ketika kita menunjukkan sesuatu? Dan ketiga, apakah anak bisa menggunakan imajinasi pada permainan pura-pura?

“Kalau ketiga pertanyaan ini gagal atau tidak bisa dilakukan anak kita, kemungkinan besar anak kita menderita autis. Kalau dua pertanyaan gagal, kemungkinan autis. Kalau satu gagal, masih mungkin autis. Dan kalau ketiganya lulus, kemungkinan bukan autis,” jelasnya.*

Siaran Pers

GNPF Ulama Desak Aparat Lindungi Ulama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama mendesak kepada penegak hukum untuk segera bertindak melindungi ulama dan membongkar jaringan penyerangan ulama.

“Penegak hukum harus memberikan penjagaan kepada ulama untuk menghindari serangan berikutnya,” kata Ketua GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak saat konferensi pers di Tebet, Jaksel, Senin (12/3/2018).

Yusuf pun meminta seluruh laskar Islam bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan mendampingi para ulama agar terhindar dari serangan orang gila yang menargetkan ulama.

“Laskar Islam harus membantu penegak hukum membongkar jaringan sindikat penyerangan terhadap ulama,” pungkasnya.

Pada kesempatan sama, organisasi yang sebelumnya bernama GNPF MUI diubah menjadi GNPF Ulama sekalian memperkenalkan kepengurusan baru. Dengan Ketua GNPF Yusuf Muhammad Martak menggantikan Ustaz Bachtiar Nasir.

Kontributor: Salman

Munarman Desak Presiden Segera Bebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur An-Nashr Institute Munarman mengatakan, satu-satunya cara untuk membebaskan Ustadz Abu adalah dengan amnesti atau abolisi.

“Harusnya Ustadz Abu itu langsung saja dibebaskan tanpa syarat. Bagi yang memiliki kewenangan memberi amnesti dan abolisi langsung saja diberikan,” katanya kepada Jurnalislam.com di Jakarta, Senin (12/3/2018)

Menurutnya, proses pembebasan Ustadz Abu tidak bisa dilakukan dengan grasi. Sebab, kata dia, proses pengajuannya harus melalui permohonan.

Munarman mengaku pihaknya dari dulu telah mendorong presiden untuk menggunakan kewenangannya mengeluarkan keputusan tentang amnesti dan abolisi kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

“Jalan keluar hukumnya begitu, kan katanya harus konstitusional. Jadi amnesti dan abolisi itu cara yang paling tepat,” pungkasnya.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir harus divonis 15 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas kasus pelatihan militer di Jalin Janto Aceh. Namun kondisi kesehatan yang terus menurun membuat Ustadz sepuh yang kini berusia 79 tahun itu harus mendapat perawatan intensif.

Sebelumnya, sesepuh Ponpes Al Mukmin Ngruki itu ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap.

Kontributor: Salman

Bulan Depan, GNPF Ulama Akan Gelar Kongres Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama pada bulan April 2018 berencana menggelar Kongres Umat Islam. Banyak isu penting yang dibahas dalam kongres tersebut. Diantaranya isu-isu utama yang berkembang dalam tahun politik terkait dengan kepentingan umat Islam.

“Kongres digelar membahas isu penting dalam menyambut tahun politik. Termasuk soal pilkada dan pilpres 2019,” kata Ketua GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak dalam konferensi pers yang digelar di Tebet, Jaksel, Senin (12/3/2018).

Selain isu tahun politik, GNPF Ulama juga akan membahas soal persatuan umat, hoaks yang menyerang umat Islam serta kasus kriminalisasi, dan anarkisme terhadap ulama.

“Soal kasus anarkisme cenderung terorganisasi dan sistematis seperti yang dikatakan pak Din Syamsudin,” ujarnya.

Yusuf menegaskan, GNPF Ulama di bawah kepemimpinannya akan terus menyuarakan aspirasi untuk membantu pemerintah menegakkan keadilan dan menjunjung tinggi hukum.

“Ini agar pemerintah dapat berjalan efektif sehingga tidak terpecah konsentrasinya dalam pembenahan bidang ekonomi,” pungkasnya.

Kontributor: Salman

UBN: Jadikan Indonesia Penuh Berkah dengan Perbanyak Istigfar

PANGKALPINANG (Jurnalislam.com) – Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) menyampaikan wasiat untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghafur.

Caranya, dengan menjadikan ampunan Allah sebagai orientasi.

UBN menjadi pembicara utama dalam Majelis Tadabbur Asmaul Husna di Masjid Al Huda, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, yang diadakan Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Dalam ceramahnya, Pimpinan Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Center itu berwasiat untuk menjadikan Pangkalpinang, dan Indonesia umumnya menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

“Saya punya program yang bisa menjadikan Pangkalpinang menjadi negeri yang baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur. Tirukan saya membaca surat Saba’ ayat 15. Ada poin besar dalam surat ini untuk menggapai program itu,” ungkap UBN di hadapan seratusan Jama’ah, Sabtu (10/3/2018).

Ratusan jamaah kemudian mengikuti bacaan Surat Saba’ ayat 15 yang dipimpin UBN. Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu menjelaskan makna surat tersebut.

“Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah dari rezeki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya!’ Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”

Surat tersebut, kata UBN, menggambarkan kondisi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur di Negeri Saba’. Salah satu digambarkan penuh dengan keberkahan.

“Disebutkan bahwa ketika safar di sana dari Saba’ ke Syam 40 hari 40 malam tidak takut kelaparan karena di kiri kanan itu banyak kebun-kebun yang banyak buahnya. Intinya dari baldatun thayyibatun itu tinggal makan, tidak perlu cape kerja. Semuanya dari rezeki Allah,” terang UBN.

Karena banyaknya rezeki, maka ciri selanjutnya, para penduduk negeri baldatun thoyyibah itu mudah bersyukur.

UBN melanjutkan bahwa cara agar sebuah negeri menjadi baldatun thoyyibah adalah dengan memposisikan Allah sebagai Robbul Ghofur yang orientasi para penduduknya adalah mencari ampunan Allah.

“Jika Pangkalpinang ingin kembali berjaya, pilih pimpinan yg mengajak kepada ampunan Allah. Jangan mau dibohongi janji-janji kampanye, tapi pilih yang benar-benar mengajak kepada ampunan Allah,” ungkap UBN.

Masyarakat yang selalu mencari baldatun thoyyibatun maka tidak mudah dibohongi, tidak mudah disogok dengan uang.

UBN menegaskan jika ingin menjadikan Indonesia seperti zaman negeri Saba’ yang penuh keberkahan maka rakyatnya harus banyak beristigfar.

“Allah itu maha pengampun dan tidak pernah berhenti mengampuni dosa-dosa. Bukan hanya mengampunkan dosa, tapi Allah juga menutup aib kita dan menyembuhkan penyakit kita,” paparnya.

Jika Allah menerima istighfar rakyat Indonesia, lanjut UBN, maka akan dikirimkan hujan yang berkualitas dan terus turun. Artinya itu pertanda rahmat, sehingga akan makmur negaranya.

“Allah buatkan lagi kebun-kebun baru, agar tetap subur. Allah buatkan sungai-sungai baru. Itu adalah baldatun Thoyyibatun Wa Robbun ghofur,” tukasnya.

Reporter: Muhammad Jundii | Islamic News Agency (INA)