NAZARET (Jurnalislam.com) – Sebuah analisis Israel menyebutkan, perkiraan intelijen dan keamanan Israel menyatakan, selama bertahun-tahun perlawanan Palestina dibidik di Tepi Barat melalui koordinasi keamanan dengan Otoritas Palestina atau secara langsung namun hal itu sama sekali tidak mampu menghalangi aksi dan operasi serangan berani mati (operasi syahid), Infopalestina melaporkan Senin (22/06/2015).
Di koran Haaretz Israel dimuat kolom dengan judul “Melemahkan Hamas menimbulkan ancaman intelijen dan operasi syahid (berani mati) berganti menjadi operasi serangan individual tidak sistematis” penulisnya menilai gagasan perlawanan berpindah dari sentralistik menjadi non sentralistik dan tidak terpengaruh oleh operasi melemahkan gerakan politik semacam gerakan Hamas.
Haaretz mengisyaratkan dalam analisisnya, militer Israel dan Shabak mengatagorikan operasi semacam ini sebagai operasi paling berbahaya karena pelakunya menghilangkan jejaknya.
Seperti yang terjadi pada operasi Wadi Haramiyah di tahun 2002, senjata Tsair Hammad (pelaku) adalah sniper sementara operasi di pemukiman Dolev pada Jumat lalu adalah pistol jarak dekat. Karena tidak bisa ditebak, Israel menggolongkan dalam operasi paling berbahaya.
Tekanan Konfrontasi
Koran Haaretz mengakui lembaga keamanan Israel lemah menghadapi aksi semacam ini dan pihaknya hanya mengandalkan aparat keamanan Otoritas Palestina untuk memperoleh informasi.
Meski kerjasama keamanan Israel dan Otoritas Palestina dianggap berbuah kepada berkurangannya intensitas Hamas, namun justru berimbas negative karena operasi beralih kepada individual dan non sentralistik.
Sementara itu, TV 7 Israel menyatakan, setelah 48 jam sejak operasi Jumat lalu, sejumlah sumber dekat lembaga keamanan Israel mengakui serangan itu dilancarkan bukan dari rencana satu orang. Artinya secara berkelompok melakukan aksi itu, ada yang asisten dan ada eksekutor serta pelindung.
Deddy | Infopalestina | Jurniscom