Cetak Sejarah, 600 Dai Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi MUI di Pondok Gede

Cetak Sejarah, 600 Dai Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi MUI di Pondok Gede

JAKARTA (jurnalislam.com)— Organisasi Massa (Ormas) Islam Wahdah Islamiyah kembali mencatatkan tonggak sejarah baru dalam penguatan kualitas dan kompetensi juru dakwah di Indonesia. Bertempat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Wahdah Islamiyah resmi tercatat sebagai ormas Islam pertama di tanah air yang menggelar kegiatan standardisasi dan sertifikasi dai secara massal dan berjemaah bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kegiatan strategis yang dihelat pada Senin (24/8/2026) ini diikuti secara antusias oleh 600 peserta yang terdiri atas dai dan daiyah dari berbagai penjuru daerah. Pelatihan sertifikasi ini merupakan bagian dari rangkaian semarak Muktamar V Wahdah Islamiyah yang diselenggarakan di lokasi yang sama.

Wakil Ketua Umum MUI, K.H. M. Cholil Nafis, memberikan apresiasi tinggi dan pujian terbuka atas inisiatif luar biasa yang digagas oleh Wahdah Islamiyah. Menurutnya, langkah kolosal menghadirkan 600 peserta dalam satu gelombang standardisasi ini merupakan sebuah rekor dan momentum monumental bagi pergerakan dakwah nasional.

“Ini rekor dan langkah monumental bagi pergerakan dakwah kita,” ujar Kiai Cholil di hadapan ratusan peserta.

Kiai Cholil menegaskan, standardisasi dai memegang peranan krusial untuk menjaga marwah profesi keagamaan agar senantiasa berada pada koridor keilmuan yang lurus, beretika, serta terhindar dari orientasi pragmatis semata. Ia mengingatkan agar profesi mulia ini tidak direduksi sekadar menjadi komoditas bisnis tanpa dibarengi kedalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin).

“Dai ini harus punya fungsi memandu opini masyarakat dengan ajaran Islam yang wasathiyah (moderat),” tegasnya.

Selain itu, Kiai Cholil juga berpesan agar para alumni sertifikasi ini senantiasa menjadi motor penggerak persatuan umat serta tidak mudah terjebak dalam perdebatan khilafiyah (perbedaan cabang fikih) yang berpotensi memecah belah keutuhan bangsa. Ia bahkan melontarkan pesan khas yang mengingatkan makna filosofis di balik nama organisasi tersebut.

“Nama Wahdah itu bukan nama kaleng-kaleng, harus jaga persatuan. Jangan sampai perkara yang sunnah mengalahkan yang wajib. Menjaga ukhuwah itu wajib. Kalau kita mudah dipecah belah, kita tidak bisa menjadi kekuatan yang utuh,” pesannya.

Dalam pandangan MUI, kontribusi Wahdah Islamiyah selama ini dinilai sangat spesifik dan melengkapi pilar-pilar kebangsaan yang telah dibangun oleh ormas-ormas Islam besar lainnya. Jika Muhammadiyah kuat dengan amal usahanya dan Nahdlatul Ulama (NU) mengakar kuat lewat tradisi kepesantrenannya, Wahdah Islamiyah diakui memiliki keunggulan dalam mobilitas dakwah hingga ke wilayah-wilayah pelosok yang membutuhkan pembinaan keagamaan intensif.

“Di mana ada tempat yang masyarakatnya belum mengenal Islam dengan baik, di situ ada kader Wahdah yang hadir mengenalkan umat kepada agamanya. Ormas tidak boleh menjadi sekat, melainkan wadah untuk saling membanggakan dan menguatkan,” pungkas Kiai Cholil.

Melalui kelulusan 600 dai dan daiyah tersertifikasi ini, Wahdah Islamiyah diharapkan semakin memperkokoh barisan penjaga moral umat, menyebarkan pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta aktif membentengi masyarakat dari berbagai tantangan pemikiran di era digital saat ini.

Sumber: MUI Digital

Bagikan