GAZA (jurnalislam.com)- Anggota Biro Politik Hamas, Khalil al-Hayya, memperingatkan bahwa pelanggaran berkelanjutan yang dilakukan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata akan membawa konsekuensi serius.
Dalam pernyataan pada Sabtu (31/01/2026), Hamas menyebutkan bahwa al-Hayya telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan para mediator serta sejumlah pihak internasional, menyusul terbunuhnya 37 warga Palestina dalam 24 jam terakhir akibat serangan Israel di Jalur Gaza.
Al-Hayya mengecam tindakan Israel yang dinilainya hampir setiap hari melakukan โkejahatan dan pembantaianโ terhadap warga Gaza, dengan menggunakan dalih palsu dan kebohongan.
Ia menegaskan bahwa komitmen perlawanan Palestina terhadap gencatan senjata hanya dapat terjaga jika pihak pendudukan dipaksa memenuhi kewajibannya dan menghentikan berbagai pelanggaran.
โPelanggaran nyata terhadap perjanjian ini akan berdampak serius. Israel harus dipaksa mematuhi komitmennya,โ tegasnya.
๐ช๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ ๐ฃ๐ฎ๐น๐ฒ๐๐๐ถ๐ป๐ฎ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ถ ๐ฅ๐ฎ๐ณ๐ฎ๐ต
Hamas juga menyalahkan Israel karena gagal menyelesaikan persoalan warga Palestina yang terjebak di wilayah terowongan di sekitar Rafah, Gaza selatan.
Sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 10 Oktober, banyak warga Palestina terperangkap di kawasan tersebut. Israel disebut menolak mengizinkan mereka keluar, meskipun telah dilakukan berbagai upaya mediasi.
Kondisi ini menambah penderitaan warga sipil yang hidup dalam keterbatasan akses makanan, obat-obatan, dan layanan kemanusiaan.
๐๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐ฐ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐น๐๐บ ๐ฆ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐น
Sementara itu, meskipun Donald Trump mengumumkan pada pertengahan Januari bahwa fase kedua rencana gencatan senjata telah dimulai, berbagai persoalan utama masih belum terselesaikan.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap upaya stabilisasi situasi di Gaza. Namun, pelanggaran yang terus terjadi dinilai menghambat proses menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Termasuk dalam masalah yang belum terselesaikan adalah nasib warga Palestina yang terjebak di wilayah konflik serta akses bantuan kemanusiaan.
๐ฆ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ถ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐ฃ๐ฎ๐๐ฐ๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ป๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐บ๐ถ๐๐ฒ ๐ก๐ฎ๐๐ถ๐ผ๐ป๐ฎ๐น
Secara terpisah, kelompok-kelompok perlawanan Palestina menilai peningkatan serangan Israel sebagai upaya sistematis untuk melemahkan konsolidasi gencatan senjata.
Dalam pernyataan Komite Pengawasan Pasukan Nasional dan Islam, disebutkan bahwa pasukan Israel terus melanggar kesepakatan, dengan intensitas serangan meningkat setelah pembentukan Komite Nasional Administrasi Gaza.
Serangan dilaporkan memuncak pada Jumat dini hari, dengan sasaran bangunan warga, tempat perlindungan, dan kantor polisi. Banyak korban dilaporkan berasal dari kalangan perempuan dan anak-anak.
Sejak Komite Nasional diumumkan pada 17 Januari, serangan Israel disebut telah menewaskan 71 orang dan melukai 140 lainnya, sebagian besar dalam kondisi serius.
Selain itu, Gaza menjadi sasaran sedikitnya 96 serangan udara dan artileri, termasuk 61 serangan langsung terhadap warga sipil, serta penghancuran atau pemboman terhadap 17 rumah.
๐ฆ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐๐ป๐ถ๐ฎ ๐๐ป๐๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐๐ถ๐ผ๐ป๐ฎ๐น
Komite tersebut mendesak Amerika Serikat, para mediator, dan komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel agar menghentikan agresi dan mematuhi perjanjian gencatan senjata.
Mereka memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut akan menggagalkan seluruh upaya menuju fase kedua gencatan senjata serta memperpanjang penderitaan rakyat Gaza.
Di tengah situasi yang rapuh, peringatan Hamas ini mencerminkan kekhawatiran mendalam bahwa gencatan senjata hanya menjadi jeda sementara, sementara ancaman perang dan krisis kemanusiaan terus membayangi kehidupan warga Palestina. (Bahry)
Sumber: TRT