GAZA (jurnalislam.com)- Israel terus melakukan penghancuran rumah-rumah di berbagai wilayah Jalur Gaza, termasuk di kota Rafah di bagian selatan, di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali penyeberangan perbatasan vital dengan Mesir, dikutip dari The New Arab, Kamis (29/01/2026).
Penghancuran tersebut berlangsung saat sumber-sumber Palestina melaporkan bahwa kendaraan militer Israel menembaki wilayah timur Khan Yunis. Aksi ini terjadi di tengah operasi militer Israel yang masih berlanjut di seluruh Gaza, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober lalu.
Penyeberangan Rafah hingga kini masih ditutup, meskipun pembukaannya kembali merupakan salah satu elemen utama dalam fase kedua perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump. Media Israel melaporkan kemungkinan pembukaan pada hari Ahad, namun belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Israel.
Sementara itu, Mesir menyatakan kesiapan penuh untuk menerima warga Gaza yang terluka serta memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan.
Dalam pernyataan di televisi pemerintah Mesir, Gubernur Sinai Utara, Khaled Mujawir, mengatakan bahwa pihak Mesir di sisi penyeberangan Rafah โ100 persen siapโ untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Namun, Otoritas Penyiaran Israel melaporkan bahwa perselisihan antara Kairo dan Tel Aviv masih berlanjut. Israel disebut menginginkan lebih banyak warga Gaza keluar dibandingkan yang masuk, sementara Mesir bersikeras agar jumlahnya seimbang. Mesir juga memperingatkan bahwa kebijakan Israel bertujuan mengurangi populasi Palestina di Jalur Gaza.
๐ก๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฒ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฎ
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak menyinggung isu Rafah dalam pidatonya saat pemakaman Ran Gvili, tawanan Israel terakhir yang jenazahnya ditemukan di Gaza pekan ini.
Para pengamat menilai penundaan pengambilan jenazah Gvili digunakan untuk menghindari masuk secara resmi ke fase kedua gencatan senjata, yang mencakup penarikan penuh pasukan Israel dan dimulainya rekonstruksi Gaza.
Sebaliknya, Netanyahu menegaskan bahwa setelah selesainya โmisi suciโ fase pertama, Israel kini akan fokus pada tujuan berikutnya, yaitu melucuti senjata Hamas dan mendemiliterisasi Gaza.
Di sisi lain, Hamas menyatakan kesiapan untuk menyerahkan kendali penuh Jalur Gaza kepada pemerintahan teknokrat Palestina.
Juru bicara Hamas, Hazem Qasim, mengatakan bahwa seluruh protokol telah disiapkan dan komite nasional sedang mengawasi proses tersebut.
โProtokol telah disusun, berkas-berkas telah diselesaikan, dan komite sedang mengawasi proses penyerahan. Kami akan melakukan transfer kekuasaan penuh di Jalur Gaza kepada komite nasional ini,โ ujarnya.
Amerika Serikat juga menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa proses demiliterisasi Gaza akan mencakup pelucutan senjata melalui program pembelian kembali yang didanai secara internasional.
Dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Pengamat Tetap Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober tahun lalu, sekitar 500 warga Palestina telah tewas. Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 71.667 warga Palestina telah gugur sejak 7 Oktober 2023, sebagaimana dilaporkan The New Arab, Kamis (29/01/2026). (Bahry)