Jumlah Aksi Kekerasan Anti Muslim di Perancis Meningkat

PARIS (Jurnalislam.com) – Tindakan anti-Muslim pada kuartal pertama 2015 lebih banyak dibandingkan seluruh tindakan di tahun 2014, kata Kepala Observatorium Nasional Perancis melawan Islamophobia.

Abdallah Zekri, kepala Observatorium mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan anti-Muslim mencapai rekor tinggi pada trimester pertama 2015, yaitu meningkat 500 persen, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2011.

"Sejak berdirinya Observatory pada tahun 2011 tindakan Islamofobia belum pernah mengenal aksi-aksi seperti tindakan atau ancaman, terutama pada jaringan sosial," kata Zekri, Kamis (16/04/2015).

Zekri menyatakan ada 222 tindakan anti-Muslim selama kuartal 1 tahun 2015, (56 serangan dan 166 ancaman) dibandingkan total 37 tindakan pada tahun 2014. Terdapat "kenaikan 500 persen," kata Zekri.

Zekri menambahkan bahwa jumlah tindakan anti-Muslim di Januari 2015 mencapai 178.

Dia menjelaskan bahwa serangan ini "meledak" terutama karena serangan mematikan di kantor majalah satir Perancis, Charlie Hebdo pada 7 Januari, diikuti dengan penyanderaan di sebuah supermarket halal dua hari kemudian, yang menyebabkan total 17 orang tewas.

"Namun, kejahatan-kejahatan mengerikan dan menakutkan seperti itu tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun untuk menjadi alasan meningkatnya kebencian atau dendam terhadap Muslim secara drastis di Perancis," tegas Zekri.

"Mereka (Muslim Perancis) tidak bertanggung jawab atau turut bersalah melakukan aksi-aksi kekerasan yang menghancurkan negara," tambahnya.

Zekri mengatakan serangan menargetkan pria dan wanita, umumnya di tempat-tempat umum dan transportasi, dan dalam beberapa kasus menargetkan ibu hamil.

Dia juga mengatakan bahwa dalam kasus-kasus tertentu, serangan terutama menargetkan tempat-tempat ibadah. Granat dan senjata api juga telah digunakan.

"Ini hanya rasisme dan penolakan terhadap pria dan wanita yang hanya ingin dihormati," kata Zekri.

 "Apakah motto Republik, yaitu 'Liberty, Equality, Fraternity' masuk akal? Sayangnya, pertanyaan tersebut (harus ditanyakan)," tambah Zekri.

Zekri melanjutkan dengan menuduh para pemimpin politik yang hanya tetap diam dalam menghadapi peningkatan tindakan anti-Muslim.

"Semua ini terjadi tanpa reaksi dari politisi, yang bukannya mencela, malah mencoba untuk menemukan alasan," katanya.

Zekri mengatakan bahwa keheningan politik hanya akan membesarkan radikalisasi dan mendorong pemuda untuk bergabung dengan kelompok ekstrimis.

"Fundamentalisme akan menghasilkan fundamentalisme dan tidak mengherankan jika orang-orang muda, yang merasa tersisihkan, terpinggirkan dan dituduh atas segala kejahatan, yang radikal dan membiarkan diri mereka dibunuh secara gratis/cuma-cuma, mengingat bahwa mereka tidak memiliki masa depan di negeri ini," Zekri menyimpulkan.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses