ALEPPO (Jurnalislam.com) – Mujahidin Suriah menguasai desa Khan Touman, sebuah desa strategis di luar Aleppo yang bisa membuka jalur suplai utama ke daerah-daerah yang telah dikuasai di kota Aleppo, Aljazeera melaporkan, Jumat (06/05/2016).
Para jihadis yang dipimpin Jabhah Nusrah mengambil alih Khan Touman di selatan Aleppo pada hari Jumat, sesaat sebelum gencatan senjata 48 jam di kota itu berakhir.
Pengambilalihan desa tersebut membuka sebuah rute pasokan alternatif ke daerah yang dikuasai pejuang di kota, menghubungkannya ke daerah-daerah Idlib yang juga dikendalikan mujahidin.
Pasukan pemerintah Suriah telah berusaha untuk mengepung pejuang di kota dengan memotong rute pasokan mereka di utara.
Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa faksi-faksi perlawan yang terlibat dalam serangan tersebut termasuk Ahrar al-Sham, Ajnad al-Sham, dan faksi-faksi jihad lain di bawah komando Army of Conquest.
Kelompok aktivis yang berbasis di Inggris, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, mengatakan lebih dari puluhan pasukan rezim tewas dalam pertempuran di Khan Touman dan desa-desa sekitarnya, juga seorang pembom istisyhad Jabhah Nusrah.
Kemenangan mujahidin di Aleppo terjadi saat pasukan pemerintah rezim Suriah melancarkan serangan ke sebuah penjara yang ditempatkan di bawah pengepungan di kota Hama.
Pasukan Nushairiyah Suriah mengepung kompleks penjara setelah penangkapan beberapa penjaga oleh para tahanan.
Seorang koresponden Al Jazeera mengatakan ratusan pasukan menggunakan peluru tajam dan gas air mata dalam serangan, yang menewaskan dua narapidana akibat luka parah dan puluhan lainnya luka-luka.
Penjara tersebut berisi sekitar 650 tahanan, kebanyakan adalah lawan politik rezim Assad, dengan lebih dari 85 sebagai tahanan hukuman mati.
Seorang tahanan di dalam gedung yang berbicara kepada Al Jazeera menyerukan lembaga bantuan internasional untuk segera memberikan bantuan.
"Kami menyerukan kepada Palang Merah untuk membantu. Tim Bulan Sabit Merah yang dikirim ke penjara adalah perwira intelijen rezim Syiah, mereka bukan Sabit Merah, mereka perwira intelijen rezim," kata narapidana, memperingatkan bahwa pembantaian akan segera terjadi.
Video yang diposting di media sosial menunjukkan tahanan menderita kesulitan bernapas setelah menghirup gas air mata.
Reporter Al Jazeera Zeina Khodr, melaporkan dari kota Gaziantep, Turki, bahwa pasukan rezimtidak berhasil mendapatkan kembali kontrol bangunan dan kebuntuan masih berlangsung.
"Serangan ini dimulai beberapa hari yang lalu … mereka (tahanan) mendengar beberapa dari mereka akan dipindahkan ke penjara lain di utara Damaskus, yang dikenal karena sering terjadi pembunuhan di luar hukum," kata Khodr.
"Kami juga mendapatkan laporan bahwa pasukan rezim pemerintah menangkap anggota keluarga dari para tahanan yang berada di luar gedung dan khawatir tentang orang-orang yang mereka cintai.
"Mereka ingin menggunakannya untuk menekan para tahanan supaya menyerah."
Pemerintah Suriah menahan puluhan ribu tahanan politik menurut Human Rights Watch. Ribuan orang telah tewas dalam pembunuhan "skala industri", menurut laporan tim jaksa internasional.
Deddy | Aljazeera | Jurnalislam