Tahun Politik dan Strategi Pencitraan

Tahun Politik dan Strategi Pencitraan

Oleh: Muhammad Fajar Aditya, Jurnalis Jurnalislam.com

JURNALISLAM.COM – Tidak terasa, tahun depan pemilihan umum pemimpin Indonesia beserta para perwakilan rakyat akan segera digelar serentak pada 17 April 2019. Padahal, mungkin sebagian besar masyarakat masih merasakan “blusukan” Joko Widodo (Jokowi), Presiden Republik Indonesia (RI) pada tahun 2014 lalu.

Pada saat itu, berbagai saluran komunikasi politik menyiarkan kegiatan Capres kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 tersebut. Yang terkenal adalah sosok yang kerap blusukan ke tempat-tempat yang sukar untuk dijangkau, lagi berbasis ekonomi lemah. Mantan Walikota Solo ini sering terlihat di media dengan pakaian yang sederhana. Pokoknya terlihat merakyat.

Singkat cerita, berkat kemampuan menampilkan citra positif dihadapan publik, Jokowi mendapat dukungan yang massif dari warga Indonesia yang notabene senang dengan sesosok yang merakyat. Artinya, suatu saat mungkin sosok itu dapat membangkitkan kembali kesejahteraan rakyat dan berpihak kepada masyarakat “Cilik”.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menjadi Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014.

Hari demi hari berlalu, masyarakat sudah mulai mengenal apa strategi yang dilakukan pasangan calon (Paslon) ini pada waktu kampanye. Benar itu adalah strategi pencitraan.

Mari kita kembali kepada tahun 2018. Saat ini dengan keterbukaan informasi yang sangat luas, strategi pencitraan tersebut mulai dipergunakan kembali. Paslon 1 dengan gaya yang sederhana dan mengedepankan intelektualitas agama yang tinggi, sedang Paslon 2 dengan gaya milenial, muda, fresh, dan intelektualitas ekonomi yang tinggi dapat menjanjikan bangkitnya ekonomi yang berpihak kepada rakyat kecil.

Calon Wakil Presiden Nomer Urut 2, Sandiaga Uno

Sepertinya permasalahan pencitraan ini sangat menarik untuk dibahas secara seksama. Anwar Arifin dalam bukunya, Komunikasi Politik menjelaskan panjang dan lebar mengenai hal ini.

Citra Politik

Salah satu tujuan komunikasi politik adalah membentuk citra politik yang baik pada khalayak. Citra politik itu terbentuk berdasarkan informasi yang diterima, baik langsung maupun melalui media politik, termasuk media sosial dan media massa yang bekerja menyampaikan pesan politik yang umum dan aktual.

Justru itu citra politik merupakan salah satu efek dari komunikasi politik dalam paradigma atau perspektif mekanistis, yang pada umumnya dipahami sebagai kesan yang melekat dibenak individu atau kelompok. Meskipun demikian, citra itu dapat berbeda dengan realitas yang sesungguhnya atau tidak merefleksikan kenyataan objektif.

Citra politik juga berkaitan dengan pembentukan Opini Publik karena pada dasarnya opini publik terbangun melalui citra politik. Sedangkan citra politik terwujud sebagai konsekuensi kognisi dari komunikasi politik.

Hakikat dan Strategi Pencitraan

Citra berasal dari bahasa sansekerta yang berarti gambar. Kemudian dikembangkan menjadi gambaran sebagai padanan kata image dalam bahasa Inggris. Citra merupakan sesuatu yang abstrak dan kompleks serta melibatkan aspek emosi (afeksi) dan aspek penalaran (kognisi). Justru itu, citra mengandung unsur emosi dan rasional sekaligus, sehingga secara serentak memiliki sifat subjektif dan objektif. Citra pada khalayak terbentuk sebagai dampak afeksi dan kognisi dari komunikasi.

Pada hakikatnya citra dapat didefinisikan sebagai konstruksi atas representasi dan persepsi khalayak terhadap individu, kelompok atau lembaga yang terkait dengan kiprahnya dalam masyarakat. Citra biasa juga diartikan sebagai cara anggota organisasi dengan melihat kesan atau persepsi yang ada dibenak orang.

Sedang pencitraan merupakan proses pembentukan citra melalui informasi yang diterima oleh khalayak secara langsung atau melalui media sosial atau media massa. Hal itu berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap pesan yang menyentuhnya dan merangsangnya.

Citra dan Sosialisasi Politik

Citra politik tidak dapat dipisahkan dengan sosialisasi politik, karena cita politik terbentuk melalui proses pembelajaran dan pendidikan politik, baik secara langsung maupun melalui pengalaman empirik. Citra politik mencakup beberapa hal yaitu: (1) seluruh pengetahuan politik seseorang (kognisi), baik benar maupun keliru; (2) semua referensi (afeksi) yang melekat kepada tahap tertentu dan peristiwa politik yang menarik; (3) semua pengharapan (konasi) yang dimiliki orang tentang apa yang terjadi jika ia berperilaku dengan cara berganti-ganti terhadap objek dalam situasi itu.

Justru itu, citra politik selalu berubah sesuai dengan berubahnya pengetahuan politik dan pengalaman politik seseorang

Sosialisasi politik menurut Hyman (1959) adalah proses belajar yang terus-menerus, baik secara emosional ataupun indoktrinasi politik yang manifes dan di media oleh segala partisipasi seseorang dan pengalaman seseorang yang menjalaninya.

Melalui pengalaman sosialisasi politik itu seseorang mengembangkan kepercayaan, nilai, dan pengharapan yang relevan dengan politik. Pada dasarnya, segala bentuk aplikasi komunikasi politik secara otomatis sudah berfungsi sosialisasi politik yang dilakukan oleh komunikator politik, termasuk oleh partai politik.

Rekayasa dan Realitas Media

Salah satu konsekuensi kognitif dari komunikasi politik yang sangat penting adalah terbentuknya citra politik yang baik bagi khalayak terhadap politikus atau pemimpin politik dan partai politiknya.

Citra politik itu dapat berkembang melalui proses pembelajaran politik atau sosialisasi politik yang terus menerus, melalui komunikasi politik, baik yang berlangsung secara antarpesona, maupun yang berlangsung melalui media massa (pers, radio, film, dan televisi) dan media sosial (internet).

Dalam uraian yang lalu telah dijelaskan bahwa pesan politik yang disampaikan oleh media massa bukanlah realitas yang sesungguhnya, melainkan adalah realitas media, yaitu realitas buatan atau realitas tangan kedua (second hand reality), yaitu realitas yang dibuat oleh wartawan dan redaktur yang mengolah peristiwa politik menjadi berita politik, melalui penyaringan dan seleksi.

Dengan demikian, realitas media sebagai realitas buatan (tidak sesuai dengan realitas sebenarnya), dengan sendirinya membentuk persepsi dan citra politik khalayak yang juga tidak sesuai dengan realitas yang sesungguhnya.

Itulah sebabnya citra politik diartikan sebagai gambaran seseorang tentang realitas politik yang tidak harus sesuai dengan realitas politik yang sebenarnya, meskipun realitas itu memiliki makna. Dengan kata lain, realitas media itu sebagai realitas buatan, dengan sendirinya membentuk citra politik yang tidak tepat dan bahkan mungkin citra yang timpang kepada khalayak tentang realitas politik yang ada dalam masyarakat.

Pencitraan memang diperlukan untuk mengambil atensi dari publik. Namun, perang gagasan visi dan misi yang semestinya disuguhkan harus menjadi prioritas yang dilihat oleh pemilih.

Itu sebenarnya adalah pilihan yang sangat bijak melihat pada nantinya, selama 5 tahun kedepan, pemilih termasuk orang dengan gangguan jiwa akan dipimpin oleh salah satu dari 2 Paslon tersebut.

Semua kembali lagi kepada niat dan kejujuran dari para pemilih. Mau memilih menggunakan hati dan nalar yang sehat, atau berdasarkan figur dan kecintaan semu belaka?

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses