GAZA (Jurnalislam.com) – Seorang pemimpin senior Hamas dengan tegas memperingatkan Presiden baru AS, Donald Trump, terhadap rencana untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem (Al Quds), mengatakan pemindahan tersebut akan menimbulkan konflik, membahayakan stabilitas regional, lansir Anadolu Agency, Senin (23/01/2017)
Dalam sebuah pernyataan yang dimuat di situs Hamas pada hari Ahad, Moussa Abu Marzouq mengatakan: “Pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem akan meningkatkan bahaya.”
Abu Marzouq mengecam pernyataan Trump dan para pembantunya, mengatakan mereka (Kedutaan AS) “tidak melayani stabilitas di kawasan itu maupun melayani AS sendiri.”
Presiden Amerika yang baru telah berjanji selama kampanye pemilu untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem meskipun administrasi masa lalu, baik Republik maupun Demokrat sama-sama enggan untuk melakukannya.
Walaupun Israel mengklaim Yerusalem sebagai “ibu kota abadi” setelah menduduki Jerusalem Timur selama perang Arab-Israel tahun 1967, masyarakat internasional tidak mengakui klaim tersebut dan kedutaan asing saat ini berada di Tel Aviv.
Awal bulan ini, Senat Partai Republik memperkenalkan undang-undang untuk memindahkan kedutaan dan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Keinginan Trump terhadap Palestina “akan mendorong Israel untuk bersandar terhadap ekstremisme,” Abu Marzouq memperingatkan. Kelompok Abu Maezouq, Hamas menguasai Jalur Gaza.
Trump menuduh pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama sebelumnya tidak cukup ramah terhadap Israel.
Obama mengkritisi permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. Namun, sejak kepergiannya dari Gedung Putih, banyak spekulasi muncul tentang bagaimana presiden Trump akan berdampak pada hubungan antara AS dan Israel.
Awal bulan ini, Trump ditunjuk menantu Yahudinya, Jared Kushner, sebagai penasihat senior setelah sebelumnya menyarankan bahwa Kushner bisa berfungsi sebagai utusan Timur Tengah karena memiliki link dengan Israel.