Kekurangan Bahan Bakar, Dokter Gaza Tempatkan Beberapa Bayi Prematur dalam Satu Inkubator

GAZA (jurnalislam.com)– Para dokter di rumah sakit terbesar di Jalur Gaza melaporkan bahwa kekurangan bahan bakar yang parah memaksa mereka menempatkan beberapa bayi prematur dalam satu inkubator, dalam upaya mempertahankan nyawa para bayi di tengah terus berlangsungnya operasi militer Israel.

Staf medis yang kewalahan menyatakan bahwa persediaan bahan bakar yang semakin menipis mengancam akan mematikan layanan kesehatan di wilayah yang telah terpukul keras akibat konflik selama lebih dari 21 bulan.

“Kami terpaksa menempatkan empat, lima, bahkan terkadang tiga bayi prematur dalam satu inkubator,” ungkap Dr. Mohammed Abu Selmia, Direktur Rumah Sakit Al Shifa di Kota Gaza, seperti dikutip dari The New Arab, Kamis (10/7/2025).

“Bayi-bayi ini kini dalam kondisi sangat kritis.” sambungnya.

Menurutnya, ancaman utama terhadap keselamatan pasien bukan berasal dari serangan udara atau rudal, melainkan dari blokade yang menghalangi masuknya bahan bakar. Hal ini ditegaskan juga oleh Dr. Muneer Alboursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza. Kepada Reuters, ia menyatakan bahwa kekurangan ini “merampas hak dasar masyarakat yang rentan untuk mendapatkan perawatan medis dan mengubah rumah sakit menjadi kuburan yang sunyi.”

Gaza, wilayah kecil dengan populasi lebih dari dua juta jiwa, telah berada di bawah blokade Israel sejak lama, bahkan sebelum konflik saat ini meletus. Pihak Palestina dan tenaga medis menuduh militer Israel menyerang fasilitas kesehatan, tuduhan yang selalu dibantah oleh pihak Israel. Sebaliknya, Israel mengeklaim Hamas menggunakan rumah sakit sebagai lokasi operasi militer dan pusat komando bawah tanah meski belum memberikan bukti yang dapat diverifikasi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 600 serangan terhadap fasilitas kesehatan sejak awal konflik, tanpa menyebut pihak yang bertanggung jawab. WHO menggambarkan sistem kesehatan di Gaza sebagai “terpuruk”, dengan kekurangan pasokan medis, bahan bakar, dan penanganan korban massal yang kerap terjadi. Saat ini, hanya sekitar separuh dari 36 rumah sakit umum di Gaza yang masih berfungsi secara sebagian.

Di Al Shifa, Abu Selmia menyatakan bahwa departemen dialisis telah ditutup demi menjaga suplai listrik untuk unit perawatan intensif dan ruang operasi.

“Ada sekitar 100 bayi prematur di rumah sakit ini yang nyawanya kini dalam risiko serius,” ujarnya. Sebelum perang, Gaza utara memiliki 110 inkubator namun kini tersisa sekitar 40 unit.

“Stasiun oksigen akan berhenti beroperasi. Rumah sakit tanpa oksigen bukan lagi rumah sakit. Laboratorium, bank darah, dan lemari es penyimpan darah akan berhenti berfungsi,” tambahnya.

Ia memperingatkan bahwa rumah sakit tersebut bisa berubah menjadi “kuburan bagi mereka yang ada di dalamnya.”

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh petugas di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis. Juru bicara rumah sakit, Mohammed Sakr, mengatakan fasilitas itu membutuhkan sekitar 4.500 liter bahan bakar setiap hari, namun saat ini hanya memiliki 3.000 liter.

“Kami melakukan operasi tanpa listrik dan tanpa pendingin udara. Keringat staf bahkan menetes ke luka pasien,” ungkapnya.

Israel diketahui sempat memberlakukan blokade total atas Gaza selama hampir tiga bulan pada awal tahun ini, sebelum mencabutnya sebagian. Israel menuduh Hamas menyalahgunakan bantuan kemanusiaan, namun tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Hamas.

Juru bicara UNICEF, James Elder, yang baru saja kembali dari Gaza, menyatakan, “Anda bisa memiliki tim medis terbaik di dunia, tetapi tanpa obat-obatan, obat penghilang rasa sakit, dan sekarang juga tanpa penerangan, sangat mustahil bagi rumah sakit untuk menjalankan fungsinya.”

Sementara itu, pihak militer Israel melalui unit koordinasi bantuan (COGAT) belum memberikan tanggapan atas permintaan klarifikasi terkait kondisi fasilitas medis di Gaza. (Bahry)

Sumber: TNA

Pengiriman Buldoser Lapis Baja dari AS Percepat Penghancuran Rumah Warga Palestina oleh Israel di Tepi Barat

TEPI BARAT (jurnalislam.com)– Gelombang penghancuran rumah-rumah warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat oleh militer Israel terus meningkat seiring dengan kedatangan pengiriman peralatan militer besar-besaran dari Amerika Serikat, termasuk buldoser lapis baja yang kini digunakan untuk meratakan permukiman.

Sejak Oktober 2024, Israel telah menerima lebih dari 100.000 ton peralatan militer melalui 870 pengangkutan udara dan 144 pengiriman laut. Salah satu kiriman terbaru mencakup puluhan buldoser lapis baja D9 yang diserahkan pekan ini dan langsung dikerahkan ke lapangan.

Pengiriman tersebut dikoordinasikan oleh unit pengadaan Kementerian Pertahanan Israel di Amerika Serikat, sebagai bagian dari program peningkatan kekuatan militer Israel yang disebut-sebut bernilai miliaran shekel.

“Kita harus terus memperkuat peningkatan militer kita untuk mendukung semua kebutuhan pasukan Israel dalam operasi militer saat ini dan dalam persiapan menghadapi dekade mendatang,” ujar Amir Baram, Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel.

Salah satu titik sasaran penghancuran terbaru terjadi di kamp pengungsi Tulkarem, tempat puluhan bangunan diratakan oleh militer Israel, meskipun terdapat putusan dari Mahkamah Agung Israel yang meminta penghentian pembongkaran.

Pada Jumat sebelumnya, seorang hakim memerintahkan penundaan penghancuran terhadap 104 bangunan, kecuali terdapat kebutuhan keamanan mendesak. Namun pada Ahad (6/7), militer mengumumkan bahwa mereka akan tetap melanjutkan pembongkaran sebagian besar bangunan, dengan hanya empat rumah yang dikecualikan sesuai perintah pengadilan.

Aksi pembongkaran juga dilaporkan terjadi pada Rabu (9/7) di Desa Shuqba, sebelah barat Ramallah. Sementara itu, di lingkungan Al-Hadaf, Jenin, pasukan Israel melakukan penggerebekan pada Kamis pagi (10/7), menahan puluhan warga Palestina. Saksi mata menyebutkan tentara melepaskan tembakan langsung dan mengoperasikan drone selama penggerebekan.

Organisasi advokasi hukum Palestina, Adalah, mengecam tindakan pembongkaran tersebut.

“Tidak ada pertempuran aktif atau kebutuhan keamanan yang mendesak yang dapat membenarkan pembongkaran ini,” kata mereka dalam pernyataan resmi.

“Dampaknya sangat drastis dan menghancurkan kehidupan warga dan pemilik rumah yang seharusnya dilindungi hukum.” ungkapnya.

Putusan penundaan dari pengadilan tersebut menjadi intervensi yudisial pertama sejak dimulainya Operasi Tembok Besi pada Januari lalu. Kampanye militer ini telah menggusur puluhan ribu warga Palestina dari wilayah Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams, dengan buldoser militer mengubah wilayah-wilayah tersebut menjadi zona militer tertutup.

Di tengah operasi yang berlangsung, pasukan Israel juga menewaskan seorang pria Palestina berusia 55 tahun dalam penggerebekan di Kota Rummanah, sebelah barat Jenin, pada Kamis dini hari. Korban, bernama Ahmad al-Amour, ditembak dengan peluru tajam dan kemudian ditabrak oleh kendaraan militer. Jenazahnya disita, dan dua anak laki-lakinya turut ditangkap. (Bahry)

Sumber: TNA

Netanyahu: 20 Sandera Masih Hidup, Kesepakatan Pembebasan Sedang Dibahas

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan optimisme bahwa kesepakatan untuk pembebasan lebih banyak sandera Israel yang ditahan oleh kelompok Palestina Hamas dapat tercapai dalam beberapa hari mendatang.

Dalam wawancara dengan Greta Van Susteren di program The Record yang ditayangkan oleh Newsmax pada Kamis (10/7/2025), Netanyahu menyebutkan bahwa saat ini terdapat 50 sandera yang masih ditawan oleh Hamas. Namun, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 20 orang yang diyakini masih hidup.

“Saya ingin membebaskan semuanya. Sekarang kami memiliki kesepakatan yang, katanya, akan membebaskan separuh dari yang masih hidup dan separuh dari yang telah meninggal,” ujar Netanyahu.

“Jadi, kita akan membebaskan sekitar 10 sandera yang masih hidup dan sekitar 12 jenazah sandera yang telah meninggal. Saya berharap kita bisa menyelesaikannya dalam beberapa hari,” lanjutnya.

Serangan oleh Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023 menyebabkan sekitar 1.200 orang tewas dan 251 orang lainnya disandera, menurut data pemerintah Israel. Sebagai respons, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza yang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, telah menewaskan lebih dari 57.000 warga sipil dan menyebabkan kehancuran infrastruktur secara masif.

Sejak konflik dimulai, kedua pihak telah sepakat melakukan dua kali gencatan senjata: pada November 2023 dan Januari 2025.

Netanyahu menyebut bahwa Israel dan Hamas kemungkinan akan kembali melakukan gencatan senjata selama 60 hari ke depan. Masa tersebut disebutnya bisa dimanfaatkan oleh kedua belah pihak untuk mengupayakan penyelesaian konflik yang lebih luas.

Sementara itu, Hamas dalam pernyataannya pada Rabu sebelumnya menegaskan bahwa beberapa poin penting masih dibahas dalam perundingan gencatan senjata, termasuk aliran bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta jaminan terhadap gencatan senjata permanen.

Wawancara Netanyahu dilakukan saat ia mengakhiri kunjungan ketiganya ke Washington sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025.

Dalam wawancara tersebut, Netanyahu juga menyampaikan pujiannya kepada Trump. Ia mengatakan bahwa Israel “tidak pernah memiliki teman dan dukungan sebesar ini dari Gedung Putih.”

Bulan lalu, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan gabungan terhadap Iran. Menurut Trump, serangan tersebut berhasil menghancurkan tiga situs nuklir milik Iran. Ketika ditanya mengenai tingkat kerusakan, Netanyahu mengatakan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, Iran bisa saja memproduksi bom nuklir jika tidak dicegah. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Houthi Tenggelamkan Kapal Kedua dalam Sepekan, AS Kecam Penculikan Awak Kapal

LAUT MERAH (jurnalislam.com)– Tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga awak kapal dan seorang petugas keamanan dari Laut Merah dalam kondisi selamat pada Kamis (10/7/2025), sehari setelah kapal kargo berbendera Liberia, Eternity C, ditenggelamkan oleh kelompok Houthi. Sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa beberapa awak lainnya masih hilang dan diduga ditahan oleh kelompok bersenjata asal Yaman tersebut.

Eternity C menjadi kapal kargo Yunani kedua yang tenggelam dalam pekan ini akibat serangan milisi Houthi. Insiden ini mengakhiri masa relatif tenang selama beberapa bulan terakhir di perairan sekitar Yaman jalur penting pengiriman minyak dan komoditas global melalui Laut Merah.

Menurut sumber keamanan, enam dari 22 awak kapal dan tiga personel pengawal kapal diduga masih disandera oleh Houthi.

“Kami sangat prihatin terhadap kesejahteraan awak kapal yang ditahan serta mereka yang masih belum ditemukan,” ujar Ellie Shafik, Kepala Intelijen di Vanguard Tech, sebuah perusahaan manajemen risiko maritim yang berbasis di Inggris.

“Keselamatan dan pembebasan mereka harus menjadi prioritas utama semua pihak terkait.” tegasnya.

Serangan terhadap Eternity C pertama kali terjadi pada Senin lalu melalui drone laut dan granat berpeluncur roket yang diluncurkan dari kapal cepat. Empat awak kapal diyakini tewas dalam serangan tersebut. Jika dikonfirmasi, itu akan menjadi korban jiwa pertama sejak serangan militer Houthi meningkat kembali pada Juni 2024.

Setelah serangan kedua pada Selasa pagi, para awak kapal melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Tim penyelamat telah melakukan pencarian intensif sejak Rabu pagi. Hingga kini, 10 orang berhasil dievakuasi, terdiri dari delapan warga Filipina, satu warga India, dan satu petugas keamanan asal Yunani. Empat dari mereka diselamatkan pada Kamis pagi setelah hampir 48 jam berada di laut.

“Keberhasilan evakuasi ini memberikan kami harapan untuk terus mencari korban yang masih hilang, sebagaimana permintaan dari operator kapal,” kata Nikos Georgopoulos, pejabat dari perusahaan keamanan maritim Diaplous yang berbasis di Yunani.

𝗧𝘂𝗱𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗰𝘂𝗹𝗶𝗸𝗮𝗻

Pemerintah Amerika Serikat melalui misi diplomatiknya di Yaman menuduh Houthi menculik sejumlah awak kapal dan mendesak pembebasan mereka tanpa syarat.

Sementara itu, juru bicara militer Houthi dalam pernyataan televisi menyatakan bahwa pihaknya telah “mengevakuasi awak kapal, memberikan perawatan medis, dan membawa mereka ke lokasi yang aman.”

𝗞𝗲𝘁𝗲𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝘂𝘁 𝗠𝗲𝗿𝗮𝗵

Kapal Eternity C tenggelam pada Rabu, hanya beberapa hari setelah Houthi juga menenggelamkan kapal Magic Seas. Kedua kapal dioperasikan oleh perusahaan pelayaran asal Yunani dan mengibarkan bendera Liberia.

Kelompok Houthi melanjutkan kampanye serangan terhadap kapal sejak November 2023 sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dalam konflik di Gaza. Lebih dari 100 kapal telah diserang dalam kampanye tersebut.

Data dari Lloyd’s List Intelligence mencatat bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab jalur sempit di ujung selatan Laut Merah menuju Teluk Aden turun dari 43 kapal pada 1 Juli menjadi 32 kapal pada 9 Juli.

Situasi keamanan yang memburuk juga mendorong sejumlah kapal untuk menyiarkan pesan peringatan melalui sistem pelacakan maritim. Beberapa menyatakan bahwa awak kapal dan manajemennya berasal dari Tiongkok atau memiliki pengawal bersenjata. Satu kapal bahkan menyatakan secara eksplisit bahwa mereka “tidak memiliki keterkaitan dengan Israel.” (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Al-Qassam Lakukan Penyergapan Berani di Khan Yunis, Bunuh Tentara Israel dan Sita Senjatanya

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, pada Rabu (9/7/2025) mengumumkan bahwa para pejuangnya melancarkan penyergapan terhadap pasukan dan kendaraan militer Israel di kawasan timur Khan Younis, Jalur Gaza selatan.

Dalam pernyataan yang diunggah di kanal Telegram resmi, Al-Qassam menyatakan para pejuangnya menargetkan konsentrasi pasukan Israel di daerah Abasan al-Kabira dengan meluncurkan rudal anti-tank Al-Yassin 105 ke arah tank Merkava dan kendaraan pengangkut personel lapis baja. Serangan juga menyasar dua ekskavator militer Israel.

Setelah serangan rudal, terjadi bentrokan antara pejuang Al-Qassam dan pasukan Israel. Menurut kelompok tersebut, para pejuang sempat berusaha menangkap seorang tentara Israel dalam pertempuran jarak dekat, namun gagal akibat kondisi medan. Tentara tersebut akhirnya dilaporkan tewas dan senjatanya disita.

Al-Qassam juga mengklaim bahwa pasukannya mengamati helikopter Israel melakukan pendaratan di lokasi untuk mengevakuasi korban.

Seorang komandan Al-Qassam kepada Al Jazeera mengatakan bahwa meskipun upaya penculikan tidak berhasil, mereka akan terus melakukan operasi serupa. “Para pejuang kami siaga di zona pertempuran dan titik-titik penyergapan untuk menimbulkan kerugian besar pada musuh,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa operasi yang dilakukan baru-baru ini telah mencoreng citra militer Israel dan menyeret mereka “ke dalam lumpur Gaza.”

Pernyataan ini muncul sehari setelah juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Ubaidah, memperingatkan bahwa perlawanan akan terus menimbulkan kerugian harian bagi pasukan Israel, dari utara hingga selatan Jalur Gaza. Ia juga menyinggung potensi operasi penculikan yang berhasil dalam waktu dekat.

Abu Ubaidah turut menyindir Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang saat ini menjadi subjek penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan menyebut bahwa mempertahankan pasukan di Jalur Gaza merupakan “kesalahan besar.”

𝗜𝗗𝗙 𝗞𝗼𝗻𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗲𝗻𝗰𝘂𝗹𝗶𝗸𝗮𝗻

Di sisi lain, militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa seorang tentara mereka tewas dalam insiden penyergapan oleh Hamas di Khan Younis. Tentara yang tewas diidentifikasi sebagai Sersan Mayor (Purn.) Abraham Azulay, 25 tahun, operator alat berat dari unit teknik tempur Komando Selatan, yang berasal dari permukiman Yitzhar di Tepi Barat.

Menurut keterangan resmi IDF, sejumlah pria bersenjata Hamas muncul dari sebuah terowongan dan menyerang pasukan Israel di Khan Younis. Dalam serangan tersebut, Azulay yang sedang mengoperasikan ekskavator diserang dan berusaha melawan sebelum akhirnya ditembak mati.

Militer menyebut, kelompok bersenjata Hamas berusaha membawa lari jenazah Azulay, namun upaya tersebut digagalkan oleh pasukan Israel yang berada di lokasi.

Sementara itu, surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa sedikitnya 39 tentara dan perwira Israel telah tewas sejak Israel melanjutkan operasi militer di Jalur Gaza pada 18 Maret 2025, usai penarikan dari kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang dicapai pada Januari lalu. (Bahry)

Sumber: PC, TOI

Sound Horeg Dinilai Lebih Banyak Mudarat, MUI Jatim Masih Kaji Fatwa

SURABAYA (jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur menggelar rapat khusus pada Rabu, (9/7/2025), di Kantor MUI Jatim, Surabaya, guna membahas fenomena sound horeg yang tengah menuai sorotan publik akibat keresahan yang ditimbulkan di berbagai wilayah.

Rapat ini dihadiri oleh sejumlah pihak terkait, mulai dari dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT), perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, unsur kepolisian, tokoh masyarakat yang terdampak langsung, hingga Paguyuban Sound Horeg Jatim. Turut hadir pula Ketua, Sekretaris, dan pengurus Komisi Fatwa MUI Jatim sebagai pihak yang bertanggung jawab merumuskan keputusan keagamaan atas persoalan ini.

Dr. M. Hasan Ubaidillah, M.Si., Sekretaris MUI Jatim, dalam pengantarnya menyatakan bahwa pihaknya hingga kini belum mengeluarkan fatwa resmi terkait sound horeg.

“Kami masih dalam proses mengumpulkan data lapangan dan mendengarkan berbagai perspektif. Termasuk dari paguyuban sound horeg sendiri, masyarakat terdampak, dan pihak-pihak yang memiliki otoritas kesehatan dan hukum,” ungkap Dr. Hasan.

Ia menegaskan bahwa MUI Jatim tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan hukum terhadap fenomena sosial ini.

“Kami memahami ini bukan persoalan satu dua orang. Fenomena sound horeg telah menjadi gejala sosial yang berdampak luas, sehingga pendekatannya harus komprehensif dan objektif,” jelasnya.

Terkait arah sementara kajian yang sedang dilakukan, Dr. Hasan menyebut bahwa kesimpulan awal dari Komisi Fatwa menunjukkan bahwa praktik sound horeg cenderung lebih banyak menimbulkan mudarat dibandingkan manfaat.

“Kalau tujuannya hanya hura-hura, menimbulkan kebisingan, dan mengganggu kenyamanan warga, jelas ini tidak bisa dibenarkan. Maka dari itu, pendapat awal dari Komisi Fatwa menyatakan bahwa praktik tersebut lebih banyak mudaratnya,” tegasnya.

MUI Jatim menyatakan komitmennya untuk menuntaskan kajian secara objektif dan menyeluruh sebelum memutuskan fatwa resmi yang akan disampaikan kepada publik.

Sumber: muijatim

Serangan Terhadap Kapal Kargo di Laut Merah Tewaskan Dua Pelaut

YAMAN (jurnalislam.com)– Serangan yang tengah berlangsung terhadap kapal kargo di Laut Merah menewaskan sedikitnya dua orang, menurut pernyataan pejabat dan pemantau maritim pada Selasa (8/7/2025). Kelompok Houthi Yaman diduga kembali melancarkan operasi militernya terhadap pelayaran di jalur perdagangan vital tersebut.

Kapal pengangkut curah berbendera Liberia, Eternity, menjadi sasaran serangan beruntun sejak Senin (7/7) di perairan lepas pantai Yaman. Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), yang dijalankan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris, melaporkan bahwa kapal tersebut mengalami kerusakan parah dan kehilangan seluruh tenaga penggeraknya.

“Kapal tersebut kini dikelilingi oleh sejumlah perahu kecil dan terus-menerus diserang,” tulis UKMTO dalam pernyataan resminya.

Seorang perwakilan Liberia di Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan bahwa dua pelaut tewas dalam insiden ini. Sementara itu, otoritas Filipina mengonfirmasi bahwa dari 22 awak kapal, 21 di antaranya merupakan warga negara Filipina.

Namun, dalam pernyataan terpisah, angkatan laut Uni Eropa yang bertugas di Timur Tengah melaporkan jumlah korban tewas mencapai tiga orang, dengan dua lainnya luka-luka.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yaman melalui pernyataan di platform X (dulu Twitter), menyebut Houthi bertanggung jawab atas serangan terhadap Eternity, dan menyebutnya sebagai “serangan paling brutal sejauh ini.” AS menuduh kelompok tersebut secara langsung mengancam kebebasan navigasi di Laut Merah, yang sebelumnya menjadi poin penting dalam kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Houthi pada Mei lalu.

Meskipun Houthi, yang didukung oleh Iran, belum secara resmi mengklaim tanggung jawab atas serangan ini, kejadian tersebut terjadi hanya sehari setelah kelompok itu menyerang kapal kargo lain, Magic Seas, pada Minggu (6/7). Serangan itu menjadi aksi militer pertama Houthi terhadap kapal kargo pada tahun ini.

Kedua serangan yang terjadi secara beruntun ini menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya gelombang serangan rutin terhadap jalur pelayaran penting yang sebelumnya menangani sekitar 12 persen perdagangan global.

Serangan juga bertepatan dengan upaya Amerika Serikat untuk membuka kembali perundingan nuklir dengan Iran, yang merupakan sekutu utama Houthi, di tengah ketegangan yang meningkat pasca konflik 12 hari antara Israel dan Hamas.

Analis keamanan dari Basha Report Risk Advisory, Mohammed Albasha, menilai bahwa Houthi kemungkinan mencoba memberi tekanan kepada Amerika Serikat dan Israel.

“Serangan terhadap Magic Seas bisa menjadi pesan halus kepada Washington dan Tel Aviv bahwa sekutu Iran masih aktif dan mampu bertindak,” ujarnya.

Dalam pernyataan resmi pada Senin, Houthi mengaku menggunakan kapal tak berawak, rudal, dan pesawat nirawak dalam serangan terhadap Magic Seas. Kapal berbendera Yunani tersebut sempat terbakar sebelum akhirnya tenggelam, meski seluruh 22 awak berhasil dievakuasi dengan selamat.

Houthi, yang telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman selama lebih dari satu dekade, mulai menargetkan kapal-kapal komersial di Laut Merah dan Teluk Aden sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Aksi ini disebut sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap Palestina.

Akibat eskalasi serangan, sejumlah perusahaan pelayaran besar memilih menghindari jalur Laut Merah dan memutar pelayaran mereka melalui rute selatan Afrika, meski lebih jauh dan mahal.

Kelompok Houthi sempat menghentikan serangan ke kapal pada Januari lalu seiring tercapainya gencatan senjata di Gaza. Namun, setelah rentetan serangan udara oleh Amerika Serikat terhadap posisi Houthi, kelompok ini kembali melancarkan operasi militernya.

Sebelumnya, Houthi telah menyatakan kepada AFP bahwa mereka akan terus menargetkan kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel, meskipun ada kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat.

Israel sendiri telah beberapa kali melakukan serangan balasan ke wilayah Yaman, termasuk serangan udara besar-besaran pada Minggu lalu.

Nadwa Dawsari, peneliti di Middle East Institute, menyebut bahwa meski Houthi mengklaim berjuang untuk Palestina, operasi militer mereka di Laut Merah memiliki tujuan strategis yang lebih luas.

“Serangan-serangan ini memperkuat posisi regional mereka, memperkuat narasi perjuangan mereka, serta mendukung ambisi Houthi untuk tampil sebagai pemimpin baru dari ‘Poros Perlawanan’. Ini juga memperkuat agenda geopolitik Iran di kawasan,” tulisnya dalam pernyataan di platform X. (Bahry)

Sumber: TNA

Netanyahu Tegaskan Palestina Tak Boleh Miliki Kekuatan untuk Ancaman terhadap Israel

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa (8/7/2025) menyatakan bahwa negara Palestina di masa depan akan menjadi “platform untuk menghancurkan Israel,” dan menegaskan kembali bahwa kendali atas keamanan secara menyeluruh akan tetap berada di tangan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu saat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih. Ia menolak gagasan negara Palestina yang sepenuhnya berdaulat dan mengklaim bahwa Palestina seharusnya hanya memiliki kekuasaan untuk memerintah diri sendiri, namun tidak untuk mengancam keamanan Israel.

“Saya pikir Palestina harus memiliki semua kekuatan untuk memerintah diri mereka sendiri, tetapi tidak ada kekuatan untuk mengancam kita,” ujarnya.

Netanyahu merujuk pada serangan Hamas dalam Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, dan menyebut Gaza telah berubah menjadi “negara Hamas” yang dibangun di atas “bunker” dan “terowongan teror.” Ia bahkan menyamakan aksi-aksi perlawanan tersebut dengan kekejaman yang terjadi pada era Nazi dan Holocaust.

“Inilah sebabnya orang-orang tidak bisa begitu saja berkata, ‘Mari kita beri mereka negara lain saja’,” katanya.

Saat ditanya apakah solusi dua negara masih memungkinkan, Trump menjawab, “Saya tidak tahu,” dan menyerahkan pertanyaan itu kepada Netanyahu.

Netanyahu menambahkan, “Kami akan berdamai dengan tetangga Palestina kami—dengan mereka yang tidak ingin menghancurkan kami—dan kami akan berdamai dengan ketentuan bahwa kekuatan kedaulatan atas keamanan selalu berada di tangan kami.”

Ia juga menegaskan bahwa meski wilayah Palestina yang diusulkan tidak disebut sebagai negara penuh oleh sebagian pihak, hal itu bukan menjadi persoalan utama bagi Israel.

“Kami bersumpah tidak akan pernah lagi [mengalami hal seperti Holocaust]. Itu tidak akan terjadi lagi,” katanya.

Pernyataan Netanyahu muncul di tengah pembicaraan gencatan senjata tidak langsung antara Israel dan Hamas yang difasilitasi oleh Amerika Serikat di Qatar. Sementara itu, kekerasan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina terus meningkat di Tepi Barat, bersamaan dengan serangan militer yang masih berlangsung di Jalur Gaza.

Secara terpisah, beberapa menteri dari Partai Likud yang dipimpin Netanyahu mendesak dilakukannya aneksasi resmi terhadap wilayah Tepi Barat sebelum masa reses parlemen Knesset pada akhir bulan ini.

Kunjungan Netanyahu ke Washington juga mencakup pertemuan tertutup dengan pejabat tinggi AS untuk membahas berbagai agenda regional, termasuk pengaturan pascaperang di Gaza, percepatan normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab, serta wacana relokasi warga Palestina ke negara ketiga.

Selain itu, pejabat dari kedua negara disebut meninjau koordinasi militer, termasuk kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran, dengan keterlibatan AS bergantung pada perkembangan diplomatik.

Kembalinya Trump ke Gedung Putih dinilai telah menguatkan posisi faksi-faksi sayap kanan di Israel, yang secara terbuka mendukung rencana pengusiran warga Palestina dari Gaza untuk digantikan dengan proyek-proyek permukiman baru yang disebut sebagai “Trump Riviera.”

Proyek tersebut dikabarkan akan mengubah wilayah Gaza menjadi zona perdagangan bebas di atas reruntuhan wilayah yang telah terkepung dan hancur akibat serangan, sementara kelompok-kelompok perlawanan Palestina masih terus melancarkan operasi melawan pasukan pendudukan Israel. (Bahry)

Sumber: The Cradle

AS Cabut Status Teroris Hayat Tahrir al-Sham, Langkah Awal Normalisasi dengan Suriah

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Pemerintah Amerika Serikat resmi mencabut penetapan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) sebagai Organisasi Teroris Asing (Foreign Terrorist Organization/FTO), seiring dengan upaya Washington melunakkan pendekatannya terhadap Suriah pasca-jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad tahun lalu.

Keputusan ini mulai berlaku pada Selasa (8/7/2025) dan merupakan bagian dari strategi yang lebih luas dari Presiden AS Donald Trump untuk kembali terlibat dalam proses rekonstruksi dan stabilisasi Suriah setelah lebih dari satu dekade dilanda konflik.

“Pencabutan FTO ini merupakan langkah penting dalam memenuhi visi Presiden Trump tentang Suriah yang stabil, bersatu, dan damai,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam pernyataan tertulis, Senin (6/7).

HTS sebelumnya ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada tahun 2018 karena keterkaitannya dengan jaringan al-Qaeda. Kelompok ini merupakan transformasi dari Front al-Nusra, yang dahulu dikenal sebagai cabang resmi al-Qaeda di Suriah. Namun, pada tahun 2016, pemimpin HTS, Ahmed al-Sharaa, menyatakan pemisahan kelompoknya dari afiliasi dengan al-Qaeda.

Al-Sharaa kini menjabat sebagai Presiden Suriah setelah memimpin pasukan oposisi menggulingkan rezim Bashar al-Assad melalui serangan kilat pada Desember tahun lalu. Sejak menjabat, ia aktif melakukan diplomasi internasional, termasuk bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Donald Trump dalam pertemuan di Riyadh pada Mei lalu.

Sebagai bagian dari kebijakan baru terhadap Suriah, pemerintahan Trump dan Uni Eropa telah mulai mencabut sejumlah sanksi terhadap negara tersebut.

“Sejalan dengan janji Presiden Trump pada 13 Mei untuk memberikan keringanan sanksi kepada Suriah, saya mengumumkan niat saya untuk mencabut sebutan Organisasi Teroris Asing (FTO) terhadap Front al-Nusra, yang juga dikenal sebagai Hay’at Tahrir al-Sham,” kata Rubio.

Ia juga menyebut pencabutan ini dilakukan berdasarkan Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan, serta mengikuti pengumuman pembubaran resmi HTS pada akhir Januari lalu. Pasukan HTS telah digabung ke dalam militer dan aparat keamanan negara di bawah pemerintahan baru Suriah.

Pemerintah Suriah menyambut baik langkah Amerika Serikat tersebut. Dalam sebuah pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut pencabutan status FTO terhadap HTS sebagai “langkah positif menuju koreksi arah kebijakan yang sebelumnya menghambat keterlibatan konstruktif”.

Mereka juga berharap langkah ini akan mengarah pada pencabutan berbagai pembatasan lain terhadap institusi dan pejabat Suriah, serta membuka ruang bagi kerja sama internasional yang lebih rasional dan berdasarkan kedaulatan.

Meski demikian, HTS dan Presiden Ahmed al-Sharaa masih berada dalam daftar sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), yang diberlakukan sejak 2014 karena afiliasi masa lalu kelompok ini dengan al-Qaeda. Pencabutan sanksi tersebut hanya dapat dilakukan oleh DK PBB secara terpisah.

Presiden al-Sharaa dikabarkan tengah mempersiapkan kehadirannya dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York pada September mendatang. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

IDF Rilis Identitas 5 Tentara yang Tewas dalam Serangan Bom di Beit Hanoun

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Militer Israel (IDF) mengumumkan bahwa lima tentaranya tewas dan 14 lainnya terluka akibat ledakan bom pinggir jalan di Beit Hanoun, Jalur Gaza utara, pada Senin malam (7/7). Nama-nama korban yang telah berhasil diidentifikasi dirilis pada Selasa pagi (8/7/2025).

Kelima tentara yang gugur dalam insiden tersebut adalah:

– Sersan Staf Meir Shimon Amar (20), dari Yerusalem.

– Sersan Moshe Nissim Frech (20), dari Yerusalem.

– Sersan Staf Noam Aharon Musgadian (20), dari Yerusalem.

– Sersan Staf Moshe Shmuel Noll (21), dari Beit Shemesh.

– Sersan Kelas Satu (purnawirawan) Benyamin Asulin (28), dari Haifa.

Empat di antaranya Amar, Frech, Musgadian, dan Noll bertugas di Batalyon Netzah Yehuda Brigade Kfir. Sedangkan Asulin merupakan anggota Brigade Utara Divisi Gaza.

Menurut penyelidikan awal IDF, para prajurit tersebut sedang berjalan kaki dalam operasi darat di Beit Hanoun ketika mereka terkena ledakan bom yang ditanam di pinggir jalan oleh kelompok bersenjata Palestina. Ledakan terjadi sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Saat upaya evakuasi korban berlangsung, pasukan Israel kembali mendapat serangan di area tersebut.

Militer Israel mengklaim bahwa wilayah tempat kejadian sebelumnya telah menjadi sasaran serangan udara sebagai bagian dari persiapan operasi. Pasukan Netzah Yehuda yang terlibat dalam insiden ini beroperasi di bawah Brigade Utara Divisi Gaza, bersama Brigade Pasukan Terjun Payung Cadangan ke-646 dalam serangan terbaru ke Beit Hanoun sejak Sabtu lalu. Operasi tersebut bertujuan untuk “membersihkan wilayah dari pejuang Hamas yang tersisa,” menurut IDF.

Menanggapi peristiwa tersebut dari Washington, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

“Pada pagi yang sulit ini, seluruh rakyat Israel menundukkan kepala dan berduka atas kematian para pejuang heroik kami, yang mengorbankan nyawa mereka dalam operasi militer untuk mengalahkan Hamas dan membebaskan semua sandera kami,” kata Netanyahu.

“Kami merangkul keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai dan berdoa agar mereka yang terluka dalam insiden tersebut pulih sepenuhnya.”

Dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar tentara Israel yang tewas di Gaza dilaporkan akibat ledakan alat peledak rakitan (IED) yang dipasang di dalam bangunan maupun di jalur-jalur patroli. Pada 24 Juni lalu, tujuh tentara unit teknik tewas di Khan Younis ketika seorang anggota Hamas melemparkan bahan peledak ke dalam kendaraan lapis baja mereka.

Dengan insiden terbaru ini, total korban jiwa dari pihak militer Israel dalam operasi darat di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah mencapai 449 tentara. (Bahry)

Sumber: TOI.