Berita Terkini

Wamenag Ajak Semua Pihak Tangkal Hoaks Soal Vaksin

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid mengatakan bahwa setiap ASN harus mengedukasi masyarakat dan membantu menangkal hoaks tentang vaksin. Hal ini disampaikan Wamenag saat Silaturahmi dan Pembinaan ASN di lingkungan Kanwil Kemenag Nusa Tenggara Barat yang berlangsung di Aula MAN 2 Mataram, Senin (11/10/2021).

Menurutnya, hoaks tentang vaksinasi masih banyak beredar di masyarakat, entah itu tentang kehalalannya, efek kematian pasca vaksin, dan lainnya. Masih banyak masyarakat yang tidak percaya vaksin dapat membantu meredakan gejala covid, dan ini tugas ASN untuk mengedukasi masyarakat.

“Vaksinasi yang diinginkan pemerintah bukan soal angka, bukan hanya soal berapa banyak masyarakat yang melakukan vaksinasi, tapi juga bagaimana vaksin dapat meminimalisir gejala covid di tubuh kita. Ini lebih tentang keselamatan kita semua,” kata Zainut.

“Bukan hanya guru yang wajib divaksin, semua ASN  yang tugasnya melayani masyarakat, ayo vaksin agar semua aman, semua nyaman,” ujarnya lagi.

Ditambahkan Wamenag, selain vaksinasi, penerapan protokol kesehatan 5M dan 1 D juga harus tetap dilakukan dengan ketat. “5M plus 1D jadikan sebagai ikhtiar kita, berdoa pandemi segera berakhir dan aktivitas kita dapat berjalan seperti sediakala dan perekonomian kembali membaik,” pungkas Wamenag.

Buku Panduan Pembelajaran Pendidikan Agama dan Madrasah Disusun

SURABAYA(Jurnalislam.com)-— Kementerian Agama tengah menyusun buku modul panduan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. Penyusunan ini berlangsung di Surabaya, Jawa Timur.

Hadir secara virtual, Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Moh. Ishom berpesan tentang tiga hal yang harus diperhatikan dalam penulisan konten buku-buku keagamaan. Pertama, sumber rujukan harus dari kitab-kitab yang mu’tabar atau kridibel. Kedua secara konten tidak bertentangan dengan mayoritas ulama ataupun sawadil a’dham (golongan ulama mayoritas).

“Ketiga, tidak dipertentangkan dengan idiologi bangsa Pancasila,” tegasnya, Minggu (10/10/2021).

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila tidak ada satupun yang bertentangan dengan syariat Islam. Pancasila justru menerjemahkan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. “Jadi jangan dipertentangkan,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Ishom meminta agar proses penuliasan buku-buku keagaman ini didampingi oleh akademisi, atau ahli di bidangnya.

Ishom berharap, buku-buku teks Pelajaran Agama Islam yang dikembangkan Kemenag RI bisa menjadi rujukan, di tengah maraknya dan mudahnya mengakses konten-konten keagamaan di internet.

“Pemahaman peserta didik yang didapatkan dari sumber-sumber di internet harus dikonfirmasi kebenarannya dengan buku teks ini. Demikian juga guru-gurunya. Guru PAI harus bisa mengkonfirmasi pengetahuan dan pemahaman peserta didik. Jangan sampai peserta didik tersesat pemahaman agamanya gara-gara mengakses internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ini kewajiban guru,” pungkasnya.

Kepala Sub-Direktorat Kurikulum dan Evaluasi, Ahmad Hidayatulloh menyatakan, bahwa kegiatan ini merupakan tahap kedua dari rangkaian penyusunan modul panduan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada madrasah. Draft buku direview oleh para ahli untuk diberi masukan-masukan dan penyempurnaan.

Kemenag Akan Bina Masyarakat Yang Terlibat NII di Garut

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Sejumlah masyarakat di Garut diduga telah direkrut masuk dalam organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Rekrutmen itu antara lain dilakukan melalui bentuk pengajian. Doktrin NII antara lain menganggap NKRI tidak sesuai dengan ajaran Islam (thogut).

Staf Khusus Menteri Agama Mohammad Nuruzzaman mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim Badan Litbang dan Diklat untuk berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Jawa Barat melakukan kajian terkait aktivitas rekrutmen NII dalam pengajian masyarakat di Garut.

“Kami memang mendapat informasi terkait rekrutmen itu, dan polanya melalui pengajian. Ini sedang kita kaji dan dalami,” tegas Nuruzzaman di Jakarta, Senin (11/10/2021).

“Hasil kajian ini nantinya akan disampaikan juga kepada Polri, Kemendagri, dan Kemenkopolhukkam untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangannya,” sambungnya.

Menurut Nuruzzaman, Kementerian Agama juga akan melakukan pendampingan kepada sejumlah masyarakat yang telah menjadi korban baiat. Mereka perlu diberikan edukasi dan pencerahan terkait relasi agama dan negara, serta pentingnya penguatan moderasi beragama.

“Kita akan melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang menjadi korban baiat. Mereka tentu perlu mendapat pencerahan tentang relasi agama dan negara, serta penguatan moderasi beragama,” terangnya.

Kementerian Agama, lanjut dia, terus melakukan upaya dan langkah dalam penguatan moderasi beragama yang saat ini menjadi salah satu program prioritas. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandasarkan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

“Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengalaman kita dalam beragama,” tegas Nuruzzaman.

“Setidaknya ada empat indikator moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi. Ini yang akan kita kuatkan,” tandasnya.

Kajian Islami Virtual dan Sholat Tahajud, Program Penguatan Karakter SMP Muhammadiyah PK Solo

SURAKARTA(Jurnalislam.com)–inggu dini hari (10/10) pukul 03.00 WIB, sebanyak kuang lebih 91 siswa kelas 9 mengikuti kegiatan kajian Islami virtual dan sholat tahajud. Program ini merupakan pembiasaan sholat malam untuk penguatan karakter siswa.

 

Aryanto selaku Humas SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengatakan kegiatan ini merupakan program Ismuba (Al Islam dan Kemuhammadiyahan) yang dilaksanakan secara berkala minimal sebulan sekali. Tujuan diadakan agar siswa terbiasa menunaikan sholat tahajud.

 

“Alhamdulillah para siswa antusias mengikuti kegiatan melalui platform zoom meeting. Wali kelas bertugas membangunkan dan memantau kelengkapan siswa yang mengikuti kegiatan kajian dan sholat tahajud. Siswa bangun, membuka link zoom meeting untuk presensi, ambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat tahajud. Kemudian siswa mengikuti kultum hingga waktu Shubuh. Siswa yang berhalangan dipersilakan berzikir,” jelasnya.

 

Aryanto menambahkan sebelumnya program ini sudah dilakukan kepada guru dan karyawan secara rutin dan berkala. Kegiatan kajian Islami virtual dan sholat tahajud sebagai salah satu cara membangun kekompakan tim dengan pola komunikasi baru.

 

Ustaz Widi Kusumajati, guru Ismuba, dalam kultum singkatnya menceritakan pengalaman sholat tahajud semasa di sekolah. Memang awal berat dilaksanakan, tetapi kita harus memaksakan diri untuk bangun sholat tahajud. Apalagi kita mengetahui banyak keutaman sholat tahajud.

 

“Mari kita sandarkan hati kepada zat yang tidak terbatas, Allah SWT. Kita bangun malam melaksanakan sholat tahajud. Kita berdoa kepada Allah SWT, insyallah Allah akan mengabulkan doa dan mengangkat derajat kita,” paparnya.

 

Sementara itu, menurut Dara Latifah Azzahra, siswa kelas 9, kegiatan ini sangat menyenangkan dan memberikan motivasi kepada dirinya untuk bangun malam sholat tahajud.

 

“Saya merasa senang karena biasanya sholat tahajud hanya sendirian saja, namun pada kesempatan kali ini sholat tahajudnya ditemani oleh teman-teman dan Ustaz-Ustazah. Bukan hanya itu, kita bisa menambah ilmu dari kajian yang disampaikan oleh Ustaz Widi tentang manfaat sholat tahajud,” cerita Dara.

 

Hal serupa disampaikan oleh Wildan Haris Rasikh, siswa kelas 9, bahwa kegiatan ini selain bisa menambah pahala, bisa pula membentuk kebiasaan yang baik untuk bangun malam dan shalat tahajud.

 

Harapan Ustaz Widi Kusumajati, sholat tahajud bukan sekadar menunaikan program sekolah, melainkan muncul kesadaran diri masing-masing dengan niat karena Allah SWT untuk menunaikan sholat tahajud.

Kiai Cholil Nafis Sarankan Tunda Umrah Saat Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Cholil Nafis menyambut baik rencana pembukaan umroh untuk jamaah Indonesia oleh Pemerintah Arab Saudi. Meski demikian, ia menyarankan masyarakat tidak memaksakan berumroh di masa pandemi Covid-19.

“Saya menyambut baik, tetapi ada sejumlah hal yang perlu menjadi pertimbangan bagi sebagian Muslim,” kata Kiai Cholil yang menjabat sebagai ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Sabtu (9/10).

Menurut Kiai Cholil, calon jamaah umroh perlu mempertimbangkan risiko kesehatan maupun besaran biaya tambahan yang harus dikeluarkan terkait aturan karantina. Ia menjelaskan, pelaksanaan umroh di masa pandemi tidak lepas dari kerawanan-kerawan dalam perjalanan.

Menyesuaikan aturan protokol kesehatan selama perjalanan, menurut Kiai Cholil, juga dapat menyebabkan orang kelelahan. Hal itu dapat membuat ketahanan tubuh berkurang.

“Menurut saya, meskipun dibuka, sebaiknya ditunda dulu untuk melaksanakan umroh, karena pertama tidak efektif melaksanakan umrah sebab di sini di karantina, di sana karantina,” katanya.

Menurut Kiai Cholil, di situasi saat ini, terlalu mahal jika mengejar pahala sunnah sampai harus mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Padahal, ada ibadah sunnah setelah subuh yang pahalanya sama dengan ibadah umrah dan haji, bahkan ada jaminan diterima.

Andaikan masih membahayakan dan ketentuan karantina juga merepotkan, Kiai Cholil merekomendasikan untuk menunda berangkat beribadah ke Tanah Suci. Ia mengingatkan, banyak ibadah sunnah lainnya yang bisa dikejar umat.

“Uang yang dipakai kenapa nggak diberikan sebagai bantuan kepada orang yang nggak mampu, yang sekarang terkena pandemi ini, mereka kan lebih membutuhkan. Jadi, jangan sampai kita menjadi egois dalam beribadah,” katanya.

Sumber: ihram.co.id

Kiai Cholil Nafis Sarankan Tunda Umrah Saat Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Cholil Nafis menyambut baik rencana pembukaan umroh untuk jamaah Indonesia oleh Pemerintah Arab Saudi. Meski demikian, ia menyarankan masyarakat tidak memaksakan berumroh di masa pandemi Covid-19.

“Saya menyambut baik, tetapi ada sejumlah hal yang perlu menjadi pertimbangan bagi sebagian Muslim,” kata Kiai Cholil yang menjabat sebagai ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Sabtu (9/10).

Menurut Kiai Cholil, calon jamaah umroh perlu mempertimbangkan risiko kesehatan maupun besaran biaya tambahan yang harus dikeluarkan terkait aturan karantina. Ia menjelaskan, pelaksanaan umroh di masa pandemi tidak lepas dari kerawanan-kerawan dalam perjalanan.

Menyesuaikan aturan protokol kesehatan selama perjalanan, menurut Kiai Cholil, juga dapat menyebabkan orang kelelahan. Hal itu dapat membuat ketahanan tubuh berkurang.

“Menurut saya, meskipun dibuka, sebaiknya ditunda dulu untuk melaksanakan umroh, karena pertama tidak efektif melaksanakan umrah sebab di sini di karantina, di sana karantina,” katanya.

Menurut Kiai Cholil, di situasi saat ini, terlalu mahal jika mengejar pahala sunnah sampai harus mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Padahal, ada ibadah sunnah setelah subuh yang pahalanya sama dengan ibadah umrah dan haji, bahkan ada jaminan diterima.

Andaikan masih membahayakan dan ketentuan karantina juga merepotkan, Kiai Cholil merekomendasikan untuk menunda berangkat beribadah ke Tanah Suci. Ia mengingatkan, banyak ibadah sunnah lainnya yang bisa dikejar umat.

“Uang yang dipakai kenapa nggak diberikan sebagai bantuan kepada orang yang nggak mampu, yang sekarang terkena pandemi ini, mereka kan lebih membutuhkan. Jadi, jangan sampai kita menjadi egois dalam beribadah,” katanya.

Sumber: ihram.co.id

Akhirnya Umrah Kembali Diizinkan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wasekjen Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Adji Mubarok mengaku bersyukur atas informasi yang disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengenai persiapan teknis yang tengah dilakukan Kerajaan Arab Saudi bagi jamaah umroh Indonesia. Menurutnya, kabar dari Menlu itu sudah ditunggu umat Islam di Indonesia.

“Alhamdulillah, momen yang kami tunggu-tunggu akhirnya sampai di garis finis,” kata Adji,Sabtu (9/10).

Adji mengatakan, umat Islam di Indonesia sudah lama merindukan ibadah di Makkah dan Madinah untuk umroh maupun haji. Ia menyebut, kabar yang disampaikan pemerintah seakan melepas kerinduan kepada Tanah Suci.

Adji memastikan asosiasinya siap membantu pemerintah dalam hal teknis demi menyegerakan terselenggaranya kembali ibadah umroh. Apalagi, selama ini sudah banyak jamaah umroh yang batal diberangkatkan karena pandemi Covid-19 dan mereka ingin segera beribadah ke Tanah Suci.

“Kami selaku asosiasi siap mengawal ini semua agar semua sesuai dengan peraturan yang berlaku dan protokol kesehatan tentunya,” katanya.

Adji berharap, kabar gembira ini bisa kembali membangkitkan bisnis travel haji umroh yang sudah tiarap hampir dua tahun lamanya. Ia menyebut, persiapan sudah mulai dilakukan oleh para pelaku bisnis travel umroh, mulai dari berbenah kantor hingga membuka kembali pendaftaran jamaah umroh. Bahkan, para provider visa pun sudah bersiap mengurus izin atau kontrak mereka dengan muasasah.

“Insya Allah semua persiapan sudah dipersiapkan oleh tiap travel umroh-haji. Semoga dalam beberapa hari kedepan Insya Allah sistem pengajuan visa bisa kembali on dan umroh bisa segera dimulai. Aamiin,” katanya.

Sumber: ihram.co.id

DMC Dompet Dhuafa Buka Dapur Umum dan Pos Hangat di Walenrang Utara

LUWU(Jurnalislam.com)—Disaster Management Center ( DMC ) Dompet Dhuafa terus mengupayakan bantuan untuk penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (07/10/2021).

Tim DMC Dompet Dhuafa membuka Dapur Umum dan Pos Hangat dengan menyediakan ratusan porsi untuk Desa Sangtandung dan Desa Bolong, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu pada Kamis siang (07/10/2021).

Kemudian bersama tim relawan gabungan, bersama-sama bantu menyalurkan logistik dan pemasangan tenda pengungsi untuk penyintas Desa Sangtandung.

“Menyalurkan logistik,  terpal, tikar, popok bayi, lilin, dan autan di pengungsian Desa Santandung,” jelas Syarif selaku relawan DMC Dompet Dhuafa penugasan Sulawesi Selatan melalui pesan singkat.

Berdasarkan asesmen tim di lapangan, total penyintas yang mengungsi ada 23 KK / 94 jiwa. “Alasan mengungsi karena masyarakat masih cemas dan khawatir,” sambuh Syarif.

Selain itu tim melakukan asesmen jembatan rusak yang menjadi penghubung Dusun Buntu Awo dan Dusun Kole, Desa Siteba, Kecamatan Walenrang Utara. Jembatan ini juga digunakan masyakarat untuk menyebrang termasuk anak-anak sekolah. Adapun rincian jembatan yang rusak ialah jembatan dengan panjang 51 meter dan lebar 2 meter.

Sebelumnya Desa Sangtandung merupakan desa terakhir yang terisolasi akibat material lumpur yang menghalangi jalur transportasi. Laporan Kepala Pelaksana (Kalaks) BPBD Kabupaten Luwu, Rahman Mandaria per Selasa (5/10) pukul 21.00 WIB, keenam desa di Walenrang Barat sudah bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Namun tersisa Desa Sangtandung yang masih terisolir.

“Masih terdapat 1 Dusun terisolir di Desa Sangtandung, Kecamatan Walenrang Utara,” keterangan Rahman sebagaimana dalam rilis resmi BPBD Sulawesi Selatan.

Selain sulit dilalui, Rahman juga menambahkan bahwa kondisi akses jalur berada pada kawasan yang rawan dan dikhawatirkan dapat terjadi longsor susulan.

Berdasarkan pendataan lanjutan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu bersama tim gabungan, banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Luwu telah berdampak di 12 desa dan satu kelurahan yang berada di lima kecamatan.

Rincian 12 desa dan satu kelurahan yang terdampak meliputi, Kelurahan Bulo di Kecamatan Walenrang, Desa Ilan Batu di Kecamatan Walenrang Barat, Desa Sangtandung dan Desa Bolong di Kecamatan Walenrang Utara, Desa Kendekan, Desa Rante Damai, Desa Taba dan Desa Seba-Seba di Kecamatan Walenrang Timur. Kemudian Desa Seriti, Desa Pelalan, Desa Pompengan dan Desa Pompengan Timur di Kecamatan Lemasi Timur.

 

Banjir bandang dan tanah longsor tersebut juga telah menyebabkan 4 warga meninggal dunia, 169 jiwa mengungsi, 771 KK/3.084 jiwa terdampak, 165 KK terisolir dan 20 orang sempat dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan intensif.

Di samping itu, ada 771 unit rumah yang terdampak banjir, 5 unit rumah bahkan mengalami rusak berat, 2 unit rumah terancam longsor, 15 hewan ternak hanyut, 1.432 hektar lahan pertanian dan perkebunan terdampak serta 14 titik tanggul dengan total sepanjang 150 meter jebol.

Tiga Siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Maju KSN Provinsi

SURAKARTA(Jurnalislam.com)–Tiga siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta maju perlombaan KSN (Kompetisi Sains Nasional) tingkat Provinsi Jawa Tengah pada Senin (11/10). Terdapat tiga mata pelajaran yang diikuti antara lain Shafira Zahra Nur Izza (Sains), Dzaky Aulia Fadhil (Matematika), Reyhan Demas Kusuma Bramantyo (IPS).

 

Kepala SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta, Muhdiyatmoko Jumat (8/10) mengatakan ketiga siswa tersebut akan maju pada tingkat provinsi setelah memborong kemenangan di tingkat Kota Surakarta pada 14 dan 15 September lalu. “Ketiga siswa tersebut menang di tingkat kota dan maju tingkat provinsi,” katanya

 

Ia mengatakan, sekolah dan tim lomba sudah mempersiapkan segalanya terkait perlombaan baik persiapan secara materi maupun mental para siswa. “Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan berdoa. Semoga dengan apa yang sudah dipersiapkan bisa memberikan hasil yang maksimal,” jelasnya saat memberikan doa restu kepada ketiga delegasi KSN SMP Muhammadiyah PK pada Jumat (8/10).

 

Ustazah Nurul Fitria selaku koordinator tim lomba menambahkan bahwa persiapan siswa untuk maju lomba di provinsi lebih banyak dari sebelumnya dengan melibatkan guru-guru dalam pembinaan sesuai dengan bidang. “Latihan-latihan soal disesuaikan dengan kriteria KSN provinsi. Kisi-kisi tersebut dibedah dan diolah lagi untuk mempertajam penguasaan konsep anak-anak,” jelasnya.

 

Sementara itu, Shafira Nur Izza, siswa kelas 9, berhasil meraih peringkat 5 KSN tingkat Kota Surakarta untuk mapel IPA. Izza mengaku lebih serius mempersiapkan perlombaan KSN provinsi. Sebelumnya belajar satu setengah jam hingga tiga jam. Kini waktu belajar ditingkatkan dari tiga jam hingga enam jam. Hal serupa disampaikan Dzaky Aulia Fadhil, siswa kelas 9, yang berhasil meraih peringkat 1 KSN Matematika tingkat Kota Surakarta. Ia berprinsip selama kita mau belajar, berlatih, dan berdoa maka insyallah kita bisa berhasil meraih cita-cita.

 

 

Reyhan Demas Kusuma Bramantyo, siswa kelas 9, meraih peringkat 2 untuk mapel IPS tingkat kota Surakarta. Persiapan Reyhan cukup banyak yakni mengembangkan materi sesuai yang dikeluarkan saat tahap pertama. Selain itu juga mengikuti tambahan dari sekolah setiap siang.

 

“Karena lomba KSN tingkat provinsi terdapat soal uraian maka ia juga mulai belajar cara menjawab soal uraian dengan baik dan benar,” tandasnya.

 

Pemerintah Siapkan Teknis Umrah di Tengah Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktur Bina Umroh dan Haji Khusus, Nur Arifin, mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah teknis umrah di masa pandemi Covid-19. Ini sebagai upaya persiapan ketika umrah benar-benar dibuka oleh Arab Saudi.

Arifin mengatakan, rilis nota diplomatik dari Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi yang disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) bukan menyatakan umroh telah dibuka, tapi segera dibuka. Artinya pemerintah Indonesia harus segera menyiapkan langkah-langkah teknisnya.

“Misalnya (menyiapkan) kesiapan jamaah umrah Indonesia, saat ini ada jamaah umrah yang tertunda keberangkatannya, karena dulu sudah membayar umroh tapi belum bisa berangkat akibat ditutupnya umrah pada Februari 2020, ada sekitar 59 ribu jamaah,” kata Arifin kepada Republika, Senin (11/10).

Ia menyampaikan, pemerintah akan melakukan mitigasi, dari sekitar 59 ribu calon jamaah umrah ini berapa banyak yang sudah divaksin dua kali. Kemudian yang sudah siap dengan umrah di era pandemi Covid-19 berapa banyak.

Ia menerangkan, sebab di era pandemi ini ada standar protokol kesehatan (prokes) yang harus diikuti setiap calon jamaah umrah. Misalnya standar prokesnya harus divaksin dua kali dengan vaksin yang diakui oleh Arab Saudi, yakni Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Johnson & Johnson.

“Bagi yang vaksin di luar empat vaksin itu (yang diakui Arab Saudi) misalnya sinovac dan sinopharm, maka perlu booster,” ujarnya.

Arifin mengatakan, terkait booster ini masih dalam diplomasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia dengan Kemenkes Arab Saudi. Kemenkes Indonesia sedang menawar ke Arab Saudi agar tidak perlu booster, karena sinovac dan sinopharm sudah diakui PBB.

Ia mengatakan, kalau calon jamaah umroh tetap wajib melakukan booster, khawatir melukai rasa keadilan rakyat Indonesia. Karena mayoritas rakyat Indonesia masih banyak yang belum divaksin.

Arifin menegaskan, rakyat Indonesia yang sudah divaksin dua kali belum mencapai 30 persen, sehingga masih banyak rakyat Indonesia yang belum divaksin.

“Ketika masih banyak rakyat Indonesia yang masih belum divaksin, tapi sebagian ada yang divaksin tiga kali atau booster, ini bisa melukai rasa keadilan, ini pendapat pak menteri kesehatan,” jelasnya.

Namun, ia menyampaikan, saat ini Arab Saudi masih memberikan informasi bahwa calon jamaah umrah Indonesia perlu booster. Mudah-mudahan penawaran Kemenkes Indonesia ke Arab Saudi agar tidak perlu booster segera ada hasilnya, karena ini sangat menentukan.

Arifin menambahkan, terkait karantina yang disampaikan Menlu Indonesia, calon jamaah umroh yang tidak memenuhi standar vaksin perlu karantina lima hari.

“Ini sedang dikomunikasikan, yang dimaksud tidak memenuhi standar vaksin itu yang bagaimana, apakah yang belum vaksin dua kali atau yang menggunakan vaksin selain yang diakui oleh Arab Saudi atau yang belum booster, ini perlu ditegaskan karena hal-hal teknis seperti ini sangat penting,” ujarnya.

Ia menegaskan, KJRI Jeddah menyampaikan jangan sampai Indonesia mengirim jamaah umrah yang tidak sesuai dengan regulasi di Arab Saudi. Misalnya kalau booster tetap diwajibkan Arab Saudi, jangan sampai Indonesia mengirim jamaah yang menggunakan vaksin selain yang diakui Arab Saudi misalnya sinovac serta sinopharm dan belum dibooster, nanti akan menjadi masalah.

“KJRI akan kerepotan kalau sampai ada ratusan atau ribuan jamaah umrah yang tidak sesuai dengan standar di sana, akan menjadi pekerjaan yang berat,” kata Arifin.

Ia menyampaikan, sedang diupayakan juga agar sertifikat vaksin dari aplikasi Peduli Lindungi terintegrasi dengan aplikasi Tawakkalna di Arab Saudi.

Di samping itu, Arifin menambahkan, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) akan menerbitkan surat edaran kepada seluruh penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) agar melakukan pendataan jamaah umrah yang siap berangkat di masa pandemi Covid-19, dan agar siap dengan standar prokes di Indonesia dan Arab Saudi.

 

Sumber: ihram.co.id