Berita Terkini

Meski Israel Gempur Gaza, Trump: Gencatan Senjata Tak Akan Terganggu

GAZA (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata di Gaza akan tetap bertahan meskipun terjadi serangan udara mematikan oleh Israel. Pernyataan ini disampaikan Trump pada Rabu (29/10/2025) di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.

“Tidak ada yang akan membahayakan gencatan senjata,” kata Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan 𝘈𝘪𝘳 𝘍𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘖𝘯𝘦 saat melakukan kunjungan ke Asia.

Trump membela tindakan Israel yang melakukan serangan balasan terhadap Gaza setelah seorang tentara Israel dilaporkan tewas. “Mereka membunuh seorang tentara Israel. Jadi Israel membalas. Dan mereka harus membalas,” ujarnya.

Sementara itu, Hamas menghadapi tekanan internasional setelah mengembalikan sebagian jenazah seorang tawanan Israel pada Senin (27/10). Israel mengklaim tindakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 19 Oktober.

Menurut Hamas, jenazah yang dikembalikan merupakan bagian dari 28 jenazah tawanan yang disepakati untuk dikembalikan secara bertahap. Namun, hasil pemeriksaan forensik Israel menyebut bahwa jenazah itu sebenarnya adalah bagian dari tubuh seorang tawanan yang telah dipulangkan ke Israel dua tahun lalu.

Juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, menuduh Hamas melakukan manipulasi. “Hamas menggali lubang di tanah, menempatkan sebagian jenazah di dalamnya, lalu menyerahkannya kepada Palang Merah,” katanya kepada wartawan.

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Hamas Hazem Qassem membantah keras. Ia mengatakan bahwa kelompoknya tidak mengetahui lokasi seluruh jenazah tawanan yang hilang akibat gempuran Israel selama dua tahun terakhir.

“Gerakan ini bertekad menyerahkan jenazah para tawanan Israel sesegera mungkin setelah mereka ditemukan,” ujar Qassem kepada AFP.

Hamas menegaskan bahwa mereka telah memulangkan semua 20 tawanan Israel yang masih hidup sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata.

Di Gaza, sebagian warga mulai khawatir perang akan kembali pecah. Abdul-Hayy al-Hajj Ahmed (60) mengatakan kepada AFP bahwa tekanan terhadap Hamas dapat menjadi alasan bagi Israel untuk memulai serangan baru.

“Saat ini mereka menuduh Hamas mengulur waktu, dan itu bisa menjadi dalih untuk eskalasi baru,” katanya. “Kami hanya ingin beristirahat, tapi saya yakin perang akan kembali.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Serang Gaza di Tengah Gencatan Senjata, 30 Warga Tewas

GAZA (jurnalislam.com)– Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa Israel melancarkan serangan udara pada Selasa (28/10/2025) meskipun gencatan senjata masih berlaku. Serangan tersebut menargetkan beberapa wilayah di Jalur Gaza dan menewaskan sedikitnya 30 orang.

“Setidaknya 30 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan Israel di Jalur Gaza. Tim kami masih berupaya mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan,” kata juru bicara badan tersebut, Mahmud Basal, kepada AFP.

Menurut laporan, sedikitnya tiga serangan udara menghantam wilayah Gaza, termasuk satu serangan yang mengenai halaman belakang Rumah Sakit Al-Shifa. Lima orang dilaporkan tewas ketika kendaraan yang mereka tumpangi terkena serangan udara.

Sementara itu, militer Israel mengklaim serangan dilakukan sebagai balasan atas dugaan serangan Hamas terhadap pasukan mereka di Gaza. Menteri Pertahanan Israel Yoav Katz menyebut insiden tersebut sebagai “pelanggaran batas” yang akan dibalas dengan “kekuatan besar”.

“Serangan Hamas terhadap tentara IDF di Gaza merupakan pelanggaran batas yang akan ditanggapi dengan kekuatan besar,” ujar Katz dalam sebuah pernyataan. Namun, ia tidak merinci lokasi serangan yang dimaksud.

Di sisi lain, Hamas membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataannya, kelompok itu menyebut para pejuangnya “tidak terlibat dalam insiden penembakan di Rafah”.

Meski terjadi serangan, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan bahwa gencatan senjata tetap berlaku. “Itu bukan berarti tidak akan ada pertempuran kecil,” kata Vance dalam wawancara dengan Fox News yang juga diunggah oleh Gedung Putih.

Vance merupakan salah satu dari beberapa pejabat tinggi AS yang pekan lalu melakukan kunjungan ke Israel untuk memperkuat gencatan senjata rapuh yang ditengahi oleh Presiden Donald Trump.

“Kita tahu Hamas atau pihak lain di Gaza menyerang seorang tentara IDF. Israel kemungkinan akan membalas, tetapi saya pikir perdamaian yang dijanjikan presiden akan bertahan,” tambahnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Pengadilan Tolak Permintaan Netanyahu untuk Kurangi Jadwal Sidang Korupsi

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Pengadilan Distrik Yerusalem menolak permintaan tim pembela Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengurangi jumlah hari kesaksiannya dalam persidangan kasus korupsi yang sedang berlangsung.

Menurut laporan harian Yedioth Ahronoth, Hakim Rivka Friedman-Feldman, yang memimpin majelis hakim dalam persidangan tersebut, menolak permintaan Netanyahu agar hanya bersaksi tiga hari dalam sepekan, bukan empat hari seperti yang telah dijadwalkan.

“Sidang akan berjalan sesuai rencana,” kata Friedman-Feldman seperti dikutip media Israel, Ahad (26/10/2025).

Sebelumnya, pada 13 Oktober lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya di Knesset (parlemen Israel) meminta Presiden Israel Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada Netanyahu atas dakwaan korupsi yang dihadapinya.

Sementara itu, Komite Menteri untuk Legislasi Israel dilaporkan tengah membahas rancangan undang-undang yang memungkinkan penundaan tak terbatas terhadap persidangan Netanyahu. Jika disetujui, rancangan tersebut akan dibawa ke Knesset untuk diperdebatkan lebih lanjut.

Namun, Jaksa Agung Israel, Gali Baharav-Miara, menentang keras upaya itu.
Ia memperingatkan bahwa langkah semacam itu dapat “memungkinkan pertimbangan politik masuk ke dalam proses pidana,” yang akan merusak independensi hukum Israel.

𝗧𝗲𝗿𝗱𝗮𝗸𝘄𝗮 𝗣𝗶𝗱𝗮𝗻𝗮 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁

Netanyahu menjadi perdana menteri pertama dalam sejarah Israel yang bersaksi sebagai terdakwa pidana.
Ia menghadapi tuduhan dalam tiga kasus besar yang dikenal sebagai Kasus 1000, 2000, dan 4000, yang mencakup dugaan suap, penipuan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Persidangan ini dimulai pada 24 Mei 2020, dan hingga kini masih berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi dan pembelaan terdakwa.

Selain kasus korupsi, Netanyahu juga menghadapi dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada November 2024 telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kekejaman yang dilakukan terhadap warga sipil di Gaza.

Agresi militer Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 68.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan infrastruktur sipil secara besar-besaran di Jalur Gaza. (Bahry)

Sumber: TRT

Hamas Serahkan Lagi Jenazah Sandera Israel, 12 Jenazah Tawanan Masih Tersisa

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel menyatakan bahwa Palang Merah Internasional telah menerima dan menyerahkan peti jenazah seorang sandera Israel dari Jalur Gaza kepada pasukan pendudukan pada Senin malam (27/10/2025).

“Menurut informasi yang diberikan oleh Palang Merah, peti jenazah seorang sandera yang telah meninggal telah diserahkan kepada pihaknya dan sedang dalam perjalanan menuju pasukan IDF di Gaza,” demikian pernyataan resmi militer Israel.

Sebelumnya, sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, melalui akun Telegram resminya, mengumumkan bahwa penyerahan jenazah tersebut akan dilakukan sekitar pukul 19.00 GMT.

Siaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa pihak militer telah mempersiapkan penerimaan jenazah sekitar pukul 21.00 waktu setempat satu jam sebelum batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump dalam kesepakatan gencatan senjata.

Gencatan senjata tahap pertama di Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober lalu berdasarkan rencana 20 poin Trump, yang mencakup pertukaran tahanan dan jenazah antara kedua pihak, serta pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.

Sejak gencatan senjata dimulai, Hamas telah menyerahkan 20 sandera Israel yang masih hidup dan 16 jenazah lainnya. Sementara itu, 12 jenazah sandera dilaporkan masih berada di Jalur Gaza.

Menurut laporan Channel 13 Israel, intelijen meyakini Hamas masih menyimpan sisa-sisa jenazah 10 dari 12 sandera yang diyakini tewas selama agresi, termasuk Kolonel Asaf Hamami dan Letnan Hadar Goldin, dua tokoh militer yang dianggap simbol nasional di Israel.

Media tersebut menuduh Hamas sengaja menyembunyikan lokasi jenazah-jenazah tersebut, yang disebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat.

Namun, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, membantah tuduhan itu.

“Klaim pendudukan bahwa Hamas mengetahui keberadaan para jenazah sandera adalah salah, terutama setelah agresi di Jalur Gaza yang telah menghancurkan banyak wilayah dan mengubah kondisi di lapangan,” ujarnya, Senin (27/10).

Sementara itu, Kepala Staf Tentara Israel (IDF), Letjen Eyal Zamir, menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum semua sandera hidup maupun tewas dipulangkan ke Israel.
Ia menyebut pemulangan tersebut sebagai “misi suci” dan menyerukan agar kampanye militer melawan Hamas terus dilanjutkan. (Bahry)

Sumber: TRT, TOI

UNICEF: Gencatan Senjata Gaza Kesempatan Vital untuk Selamatkan Satu Juta Anak Palestina

GAZA (jurnalislam.com)– Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) menyebut perjanjian gencatan senjata di Gaza sebagai “kesempatan vital” untuk melindungi sekitar satu juta anak yang terjebak di wilayah yang hancur akibat agresi militer Israel.

“Operasi militer Israel di Gaza telah menyebabkan kehancuran luar biasa. Kata-kata dan angka saja tidak dapat menggambarkan skala dampak yang saya saksikan terhadap anak-anak dampak yang akan berlangsung selama beberapa generasi,” ujar Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, dalam pernyataannya, Ahad (26/10/2025).

Beigbeder menegaskan bahwa gencatan senjata ini merupakan kesempatan penting bagi kelangsungan hidup, keselamatan, dan martabat anak-anak Palestina, serta tidak boleh dibiarkan gagal.

“Ini akan membutuhkan waktu, tetapi masa depan yang inklusif dan memprioritaskan hak-hak satu juta anak di Gaza dapat terwujud dengan perdamaian, tindakan nyata, dan kemauan bersama,” ujarnya.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejak awal agresi genosida Israel pada Oktober 2023, lebih dari 64.000 anak di Gaza tewas atau terluka, sementara 58.000 lainnya kehilangan orang tua.

“Satu juta anak telah menanggung kengerian setiap hari dalam upaya bertahan hidup di tempat paling berbahaya di dunia bagi seorang anak. Mereka hidup dengan luka ketakutan, kehilangan, dan kesedihan yang mendalam,” tambah Beigbeder.

UNICEF juga berupaya menyelamatkan anak-anak dari ancaman yang dapat dicegah, seperti malnutrisi, penyakit, dan musim dingin yang ekstrem. Lembaga ini telah menyediakan pendidikan tatap muka bagi lebih dari 100.000 anak Palestina, dan tengah berupaya mengembalikan sekitar 650.000 anak usia sekolah ke bangku pendidikan.

“Pemulihan pendidikan dalam upaya rekonstruksi awal sangat penting. Setelah dua tahun yang hilang, keluarga tahu bahwa kembali ke pendidikan yang layak akan menjadi fondasi pembelajaran, penyembuhan, dan harapan jangka panjang bagi komunitas mereka,” jelasnya.

Beigbeder juga menyerukan akses penuh dan aman bagi bantuan kemanusiaan ke seluruh wilayah Gaza. Ia menyebut meski ada peningkatan pengiriman bantuan, jumlah tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar warga sipil.

“Perlengkapan pendidikan UNICEF serta dukungan kesehatan mental dan psikososial telah diblokir selama lebih dari setahun. Kami membutuhkan perlengkapan ini untuk segera masuk,” tegasnya.

Beigbeder mendesak Israel membuka seluruh perlintasan perbatasan agar bantuan kemanusiaan, material, dan peralatan yang diperlukan dapat mengalir tanpa hambatan, termasuk melalui jalur Mesir, Yordania, dan Tepi Barat yang diduduki.

Gencatan senjata tahap pertama mulai berlaku pada 10 Oktober lalu di bawah rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump, yang mencakup pertukaran tahanan, pembangunan kembali Gaza, serta pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa kehadiran Hamas. (Bahry)

Sumber: TRT

Gagal Fokus Dalam Berpihak

Oleh : Herliana Tri M

Gencatan senjata yang saat ini terjadi belum mampu meredakan derita dan sakitnya warga Gaza. Kata dan perilaku tak bisa dipercaya. Inilah gambaran warga Gaza harus berhadapan dengan pendudukan Israel.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan pada 10 Oktober lalu ternyata tidak menunjukkan angin segar bagi kedamaian warga Palestina di Gaza. Dalam sepuluh hari sejak kesepakatan itu berlaku, hampir 100 warga Palestina meninggal dan 230 lainnya luka-luka akibat serangan militer Israel. Serangan udara dan tembakan langsung terhadap warga sipil terjadi meski kesepakatan damai masih resmi berlaku.

Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dengan dukungan Qatar, Mesir, dan Turki memuat 20 poin kesepakatan. Di antaranya penghentian secara total pertempuran, pembebasan tahanan, penarikan bertahap pasukan Israel, hingga penyerahan pemerintahan Gaza kepada administrasi yang independen dari Hamas. Artinya dalam kesepakatan ini Hamas siap melucuti senjatanya dan memberikan kepada tim independen yang akan membangun Gaza kembali.

Gagal Fokus

Karakter Israel tak pernah berubah. Tak pernah bisa dipegang janjinya. Bangsa yang selalu ingkar. Dugaan kuat, Israel mau duduk untuk mengikuti gencatan senjata karena kuatnya tekanan internasional dan desakan Israel untuk mundur dari wilayah Gaza.

Saat dirasa penduduk dunia mulai mengendur atas pembelaannya terhadap Gaza, tabiat aslinya kembali dipertontonkan, membombardir membabi buta, tak pandang bulu, tak mengenal waktu dan kembali bantuan sulit untuk masuk. Padahal ini baru hitungan jari jalannya gencatan senjata.

Kedatangan tentara muslim di Palestina yang diatur oleh Trump, masuk ke wilayah Gaza dan bermaksud melucuti senjata pejuang disana justru menunjukkan langkah mundur, gagal fokus dalam pembelaan. Bukankah yang menduduki wilayah Gaza adalah Israel, mengapa posisi negara-negara yang akan masuk wilayah Gaza tidak melucuti senjata Israel dan mengusirnya dari wilayah jajahan?

Sungguh tak masuk nalar apabila negara- negara yang ingin menjadi penengah konflik ini justru ingin hadir dan memuluskan usaha Israel untuk melumpuhkan perjuangan penduduk Gaza. Keberadaan saudara muslim yang akan hadir justru melaksanakan kehendak Trump yang selalu mendukung Israel. Disamping itu, para tentara juga melaksanakan kehendak mantan perdana menteri Inggris Tony Blair yang terkenal kejam. Pusat operasi tentara yang dianggap independen tidak akan berada di bawah bendera tauhid, melainkan di bawah perlindungan entitas Zionis sang pembunuh dengan bendera biru-putihnya.

Bersikap Ksatria, Membebaskan Tanah Jajahan

Untuk membebaskan Gaza secara efektif sebenarnya kita dapat belajar dari Sultan Salahuddin al-Ayyubi saat membebaskan Palestina pada tahun 1187. Tokoh pejuang ini membangun kekuatan militer yang mampu menyatukan wilayah-wilayah kaum Muslim yang terpecah-belah. Pada akhirnya Palestina dapat dibebaskan dari pasukan Salib setelah dijajah selama 90 tahun lamanya.

Oleh karena itu, untuk membebaskan Palestina kita juga butuh pemimpin tangguh, yang berani mengambil sikap tegas sama seperti para pemimpin kaum Muslim terdahulu. Mereka mampu menyatukan kekuatan kaum muslim, membangun militer yang kuat dan memobilisasi tentara kaum muslim, melakukan pembebasan terhadap Palestina. Hanya dengan itu, persoalan penjajahan dan pembantaian terhadap saudara Muslim Palestina bisa diselesaikan dengan cepat dan efektif.

Jika langkah ini tidak diambil, dunia hanya akan menonton dan menghitung jumlah korban tiap harinya yang terus-menerus bertambah, baik karena ditembak, dibom, atau mati kelaparan kekurangan nutrisi. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, apabila keberadaan negeri-negeri muslim yang nantinya hadir ke Gaza justru menyelesaikan ambisi Israel yang belum bisa ia tuntaskan, yakni ‘memandulkan’ perjuangan rakyat Gaza dengan melucuti semua senjata pejuang. Sungguh apabila ini terjadi, sejarah akan mencatat sebagai wujud pengkhianatan atas saudara yang tertindas.

Nasib Kelabu Pemandu Lagu

Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.
Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

Satpol PP Paser berhasil mengamankan 80 botol minuman keras (miras) saat menggelar razia di warung remang-remang kawasan Gunung Rambutan, Kecamatan Kuaro. Kepala Satpol PP Paser, M Guntur menyebut pihaknya secara rutin menggelar razia setiap minggunya, sebagai langkah pengawasan dan pembinaan.

Selain puluhan miras, pihaknya juga mendapati 20 Pemandu Lagu (PL) di warung remang-remang tersebut didominasi warga luar Paser. “Kepada PL kami memberikan imbauan agar tidak berlaku ke perbuatan yang mengarah kepada asusila,” tegasnya. Dari razia ditemukan, hanya beberapa warung yang memiliki kamar-kamar, sementara yang lain hanya tempat untuk karaoke.

Tanpa berniat mengecilkan upaya yang sudah ada, tetap terus berlangsungnya aktivitas warung remang-remang di Paser selama bertahun-tahun menjadi indikasi, razia dan himbauan belum cukup ampuh menghilangkan bahkan sebatas mengerem kegiatan tersebut. Sebagaimana prinsip bisnis, selama permintaan masih ada, dirasa menguntungkan, mengapa tidak diadakan?

Berat untuk dimungkiri, tertangkap kesan ketidakseriusan dalam memberantas masalah ini. Mengapa? Karena walaupun sudah terkategori aktivitas maksiat, selama telah mengantongi surat izin, maka menjadi legal dan bukan masalah. Ditambah lagi, sistem kapitalis yang hanya melihat kepada untung dan rugi, bukan halal-haram, mudah memberi celah pada hal-hal yang justru merusak kehidupan sosial masyarakat.

Sistem kehidupan sekuler adalah yang paling bertanggung jawab terhadap maraknya warung remang-remang dan PL. Sistem yang menihilkan agama dari kehidupan, telah lama mencabik-cabik kesucian dan harga diri perempuan. Perempuan dilekati nilai jual dari sisi sensualitasnya. Itu pun bukan berarti tanpa resiko. Resiko dianiaya bahkan hilang nyawa, terjangkit penyakit mematikan, sudah menjadi ‘paket tambahan’ dari profesi semacam ini. Ditambah lemahnya iman, dengan alasan bertahan hidup, standar halal-haram diabaikan. Tanpa segan, mereka mencari cuan dengan cara-cara yang melanggar ajaran agama.

Sistem ekonomi kapitalisme sukses memiskinkan masyarakat. Pengaturan negara kapitalis menyerahkan seluruh urusan rakyat pada swasta. Hubungan yang terjalin antara penguasa dan rakyat sebatas pedagang dan pembeli. Inilah yang menjadikan perekonomian rakyat kian terpuruk. Lapangan pekerjaan kian sulit, harga kebutuhan pokok makin naik. Alhasil, buka warung remang-remang dilakoni, sebagian perempuan “terpaksa” menjadi PL demi bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Oleh karenanya, sudah seharusnya beralih kepada sistem kehidupan Islam. Menerapkan kehidupan Islam secara menyeluruh merupakan kewajiban yang telah jelas dalilnya. Apalagi Islam sebagai sebuah sistem kehidupan mampu menjawab berbagai persoalan, termasuk masalah warung remang-remang dan PL.

Allah Taala mewajibkan umatnya untuk menerapkan Islam secara menyeluruh. Hal demikian telah jelas dalam QS Al-Baqarah 208 : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Sistem kehidupan Islam akan melahirkan manusia-manusia beriman dan bertakwa. Alhasil, apa pun yang mereka lakukan akan senantiasa terikat dengan aturan Allah Taala sebab tolok ukur perbuatan seorang muslim adalah halal dan haram. Begitu pun standar kebahagiaan seorang hamba, yakni rida-Nya. Inilah yang menjadi jaminan seseorang untuk senantiasa taat pada Allah Taala. Secara otomatis, siapa pun akan takut untuk menjalankan bisnis haram karena hisabnya yang sangat berat.

Sistem sanksi dalam Islam sangat menjerakan. Hukuman bagi PSK dan pengguna PSK telah jelas, yaitu jilid dan rajam. Bagi pezina mushan (sudah menikah), hukumannya berupa rajam dan bagi pezina ghairu muhsan (belum menikah), hukumannya berupa cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun. “Ambillah dari diriku, ambillah dari diriku, sesungguhnya Allah telah memberi jalan keluar (hukuman) untuk mereka (pezina). Jejaka dan perawan yang berzina hukumannya dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun. Sedangkan duda dan janda hukumannya dera seratus kali dan rajam.” (HR Muslim).

Sistem ekonomi Islam akan menjamin kehidupan masyarakat penuh dengan kesejahteraan. Hubungan penguasa dan rakyat bak pelayan dan tuannya. Penguasa ada untuk melayani rakyatnya. Inilah yang menjadikan seluruh urusan kehidupan rakyat terjamin, termasuk lapangan kerja.

Terlebih para perempuannya, nafkah mereka akan dijamin oleh suami dan para wali mereka, bahkan negara. Mereka tidak harus terbebani dengan pencarian nafkah sebagaimana kondisi saat ini. Kehormatan para wanita akan sangat dijaga dan dimuliakan sebab dari wanitalah akan lahir generasi yang siap membangun peradaban mulia.

Selama sistem kehidupan sekuler kapitalisme terus diterapkan, masalah warung remang-remang dan PL jangan harap bisa dilenyapkan. Oleh karena itu, mari berjuang bersama mewujudkan kehidupan Islam di bawah panji Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam. Wallahualam.

Butuh 30 Tahun untuk Bersihkan Gaza dari Bom Israel yang Belum Meledak

GAZA (jurnalislam.com)– Membersihkan seluruh wilayah Gaza dari persenjataan yang belum meledak diperkirakan akan memakan waktu antara 20 hingga 30 tahun, menurut seorang pejabat dari lembaga bantuan Humanity & Inclusion. Ia menggambarkan wilayah Gaza sebagai “ladang ranjau yang mengerikan dan belum dipetakan.”

Lebih dari 53 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat sisa-sisa mematikan dari perang Israel–Hamas selama dua tahun terakhir, yang baru berhenti awal bulan ini setelah diberlakukannya gencatan senjata. Data ini bersumber dari basis data yang dipimpin PBB, namun disebut kelompok-kelompok bantuan sebagai perkiraan yang masih sangat rendah.

“Jika berbicara tentang pembersihan penuh, hal itu tidak akan pernah benar-benar selesai karena banyak yang berada di bawah tanah. Kita akan terus menemukannya selama beberapa generasi mendatang,” kata Nick Orr, pakar penjinak bahan peledak dari Humanity & Inclusion, seperti dikutip pada Kamis (23/10).

Orr membandingkan kondisi Gaza dengan kota-kota di Inggris setelah Perang Dunia II.

“Pembersihan di permukaan masih memungkinkan, tapi akan membutuhkan waktu satu generasi — mungkin 20 hingga 30 tahun. Itu hanyalah langkah kecil untuk menyelesaikan masalah yang sangat besar,” ujarnya.

Orr, yang beberapa kali mengunjungi Gaza selama konflik, merupakan bagian dari tim beranggotakan tujuh orang dari organisasinya yang akan mulai mengidentifikasi sisa-sisa perang di lokasi-lokasi vital seperti rumah sakit dan toko roti pada pekan depan.

Namun hingga kini, kelompok-kelompok bantuan seperti Humanity & Inclusion belum memperoleh izin penuh dari Israel untuk memindahkan atau memusnahkan persenjataan yang belum meledak, serta belum diizinkan mengimpor perlengkapan penting untuk operasi tersebut.

Badan COGAT, otoritas di bawah Kementerian Pertahanan Israel yang mengawasi bantuan untuk Gaza, tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar. COGAT diketahui kerap memblokir barang-barang yang dianggap memiliki “kegunaan ganda”, yakni dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer, agar tidak masuk ke Gaza.

Orr menambahkan bahwa pihaknya sedang mengajukan izin untuk mengimpor peralatan khusus yang memungkinkan bom dimusnahkan dengan cara dibakar, bukan diledakkan, guna menenangkan kekhawatiran Israel bahwa bahan peledak tersebut dapat digunakan kembali oleh kelompok perlawanan Palestina. (Bahry)

Sumber: TOI

GRC: Gaza Jadi Tempat Paling Berbahaya di Dunia Akibat 20 Ribu Sisa Bom Israel yang Belum Meledak

GAZA (jurnalislam.com)– Warga Palestina di Jalur Gaza terus menghadapi ancaman besar dari puluhan ribu persenjataan yang belum meledak (UXO) yang tersebar di seluruh wilayah setelah dua tahun agresi militer Israel.

Pusat Hak Asasi Gaza (Gaza Rights Center/GRC) dalam laporan terbarunya, Jumat (24/10), memperingatkan bahwa sisa-sisa bom dan amunisi tersebut menimbulkan bahaya harian bagi warga sipil, menghambat operasi kemanusiaan, serta menghalangi upaya penyelamatan dan pemulihan kehidupan bagi keluarga yang kembali ke rumah mereka.

Perang yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 telah menghancurkan hampir seluruh lanskap perkotaan Gaza. Serangan brutal Israel yang disebut luas sebagai genosida itu menewaskan lebih dari 68.000 orang, sebagian besar warga sipil, sementara banyak jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.

Menurut GRC, sedikitnya 20.000 amunisi yang belum meledak, termasuk bom, rudal, dan peluru artileri buatan Israel, masih tersebar di seluruh Jalur Gaza. Berat total persenjataan itu diperkirakan mencapai 71.000 ton, tertimbun di antara 65 hingga 70 juta ton puing akibat pemboman.

“Hal ini menjadikan Gaza salah satu tempat paling berbahaya di dunia,” tegas GRC.

“Jika tidak segera ditangani, situasi ini dapat memicu bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern.” imbuhnya.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) juga melaporkan bahwa lebih dari 61 juta ton puing kini menutupi wilayah Gaza.

Mahmoud Bassal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, mengatakan banyak sisa bahan peledak ditemukan di dalam rumah warga, di jalan, bahkan di lahan pertanian.

“Setiap operasi penyelamatan atau pembersihan menjadi tugas yang mengancam jiwa,” ujarnya kepada GRC.

Dalam beberapa bulan terakhir, GRC telah mendokumentasikan sejumlah insiden ledakan yang disebabkan oleh amunisi yang belum meledak. Salah satu yang terbaru terjadi di lingkungan Al-Zaytoun, Kota Gaza, saat sebuah granat meledak dan menewaskan tiga warga sipil yang sedang membersihkan puing di sekitar rumah mereka.

Ledakan serupa juga dilaporkan di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah yang melukai empat pekerja, serta di kota Al-Qarar, selatan Khan Younis.

“Setiap jalan dan lingkungan di Gaza kini menjadi potensi lokasi ledakan mematikan,” kata GRC.

“Baik saat warga berusaha kembali ke rumah, mengambil jenazah keluarganya, maupun saat memulihkan lahan pertanian.”

GRC menegaskan bahwa keberadaan persenjataan yang belum meledak merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa, yang mewajibkan pihak pendudukan mengambil langkah nyata untuk melindungi warga sipil dan menyingkirkan sisa-sisa perang dari wilayah berpenduduk.

Organisasi tersebut menuntut Israel mengungkapkan peta dan koordinat seluruh bom dan amunisi yang dijatuhkan di Gaza agar proses pembersihan dapat dilakukan secara aman.

Selain itu, GRC menyerukan pembentukan komite internasional di bawah pengawasan PBB untuk melakukan survei menyeluruh terhadap persenjataan yang belum meledak, serta mendesak pengerahan tim teknik internasional dengan peralatan lengkap guna membersihkan dan mengamankan wilayah penduduk.

GRC juga menekankan pentingnya pembukaan kembali seluruh perlintasan perbatasan Gaza agar alat berat dan bantuan teknis dapat masuk untuk mempercepat operasi pembersihan dan rekonstruksi. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Kembali Langgar Gencatan Senjata, Dua Bersaudara Palestina Gugur di Deir al-Balah

GAZA (jurnalislam.com)– Tentara pendudukan Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menewaskan dua bersaudara Palestina dalam serangan artileri di timur Deir al-Balah, Gaza tengah, pada Jumat (24/10).

Menurut sumber medis yang dikutip Anadolu Agency, kedua korban bernama Saeed dan Masoud al-Ghawash, gugur setelah menjadi sasaran tembakan artileri Israel di dekat Menara al-Qastal, sebelah timur Deir al-Balah.

Sumber lokal menyebut, kedua bersaudara itu tengah melintasi apa yang disebut Israel sebagai “garis kuning”, batas buatan yang memisahkan wilayah di bawah kehadiran militer Israel di timur dengan area yang dianggap “zona aman” di barat sesuai kesepakatan gencatan senjata.

Namun, batas tersebut tidak memiliki penanda jelas di lapangan, sehingga warga sipil kerap menjadi korban tembakan tanpa peringatan.

“Mereka diserang secara langsung tanpa adanya peringatan sebelumnya,” ujar seorang sumber lokal kepada Anadolu.

Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, pasukan Israel seharusnya telah mundur ke wilayah timur “garis kuning”, yang disebut warga Palestina sebagai “garis penarikan sementara”. Meski demikian, Israel masih menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza, dan penarikan lanjutan baru akan dilakukan pada fase berikutnya dari perjanjian.

Sebelumnya pada hari yang sama, lembaga penyiaran publik Israel melaporkan bahwa Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam sebuah rapat pemerintah, menyerukan agar tentara menembak warga Palestina, termasuk anak-anak, yang mendekati “garis kuning” di Gaza.

Pernyataan itu memperkuat laporan Pertahanan Sipil Gaza yang menuduh tentara Israel sengaja menargetkan warga sipil yang secara tidak sengaja mendekati garis tersebut, tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu.

Tentara Israel sebelumnya juga telah membunuh sejumlah warga Palestina dengan dalih serupa, yakni melintasi “garis kuning”.

Menurut data Kantor Media Pemerintah Gaza pada 19 Oktober, sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel telah melakukan 80 pelanggaran, menewaskan 97 warga Palestina, termasuk 44 orang yang gugur dalam pelanggaran militer pada pekan lalu.

Kesepakatan gencatan senjata Gaza sendiri merupakan fase pertama dari 20 poin rencana yang diusulkan pemerintahan Trump dan disepakati pada 10 Oktober.

Fase pertama itu mencakup pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina, serta membuka jalan bagi rekonstruksi Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru di wilayah yang hancur akibat agresi militer. (Bahry)

Sumber: TRT