Berita Terkini

Penolakan Warga Wadas Disebut Sudah Sejak Tahun 2018

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) — Persoalan penambangan batuan andesit di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah sudah bergulir sejak 2018. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta pun sudah melakukan advokasi untuk warga Wadas yang menolak penambangan batuan andesit sejak 2018.

Kepala Divisi Advokasi LBH Yogyakarta, Julian Duwi Prasetia pun menjelaskan terkait kasus yang sudah terjadi bertahun-tahun tersebut. Berawal dari 2018, pihaknya bersama warga sudah menyampaikan berbagai bentuk penolakan penambangan ke pemerintah.

Julian menuturkan, penolakan ini awalnya disampaikan dengan audiensi ke Kantor Gubernur Pemprov Jawa Tengah. Setelah itu, juga dilakukan audiensi ke Kantor Bupati Purworejo, BBWS, BPN hingga ke kepolisian.

“Sudah banyak kita menemui dan berdialog dengan banyak pihak, tapi selama ini suara masyarakat di Desa Wadas itu tidak pernah didengar,” kata Julian, Selasa (15/2/2022).

Setelah upaya-upaya tersebut dilakukan, dilakukan sosialisasi oleh BBWS terkait penambangan yang akan dilakukan. Namun, tidak lama setelah itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menerbitkan Izin Penetapan Lokasi (IPL).

“Sejak sosialisasi, warga itu sudah walk out karena sudah tahu tanahnya mau ditambang. Tapi pada Juni 2018, Ganjar malah mengeluarkan IPL, artinya suara penolakan warga dari awal itu tidak didengarkan,” ujarnya.

Penolakan penambangan batuan andesit dilakukan warga atas beberapa alasan. Salah satunya untuk menjaga keutuhan desa, mengingat banyaknya dampak yang akan ditimbulkan seperti kerusakan lingkungan.

Dari aspek kebencanaan, Julian menyebut, Wadas memiliki risiko kebencanaan yang tinggi. Dengan adanya penambangan, maka akan semakin meningkatkan risiko bencana yang terjadi di desa tersebut.

“Wadas itu masuk wilayah yan warna kuning atau memiliki risiko yang tinggi terhadap kebencanaan. Justru, harusnya diperkuat mitigasi kebencanaannya, bukan memperlemah, malah (penambangan) justru memperkuat potensi bencananya,” jelas Julian.

Penambangan batuan andesit di Desa Wadas sendiri dilakukan pemerintah untuk digunakan sebagai material konstruksi Proyek Bendungan Bener. Meskipun menolak penambangan, namun warga tidak menolak adanya pembangunan bendungan tersebut.

“Selama ini belum pernah (batuan andesit di Wadas) ditambang, makanya warga bersikukuh bagaimana caranya membuat (lingkungan) utuh,” tambahnya.

Sumber: republika.co.id

Ini Kunci Sukses Hadapi Gelombang Ketiga Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Tidak memberi ruang penularan COVID-19 menjadi kunci pengendalian dalam menghadapi gelombang ketiga di Indonesia. Upaya ini harus dilakukan dikarenakan kasus positif nasional cukup tinggi yang disertai peningkatan angka kematian dan ketersian tempat tidur di rumah sakit (BOR).

Bahkan pada tingkatan provinsi, beberapa provinsi kasusnya sudah menembus rekor gelombang kedua. “Terlebih pula kita perlu waspadai, karena ditengah kondisi saat ini, mobilitas masih sangat tinggi, bahkan tertinggi sejak awal pandemi,” Juru Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito, Selasa (15/2/2022) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Untuk mengetahui kondisi terkini, kasus positif nasional pada gelombang ketiga melonjak tajam dan lebih cepat dibanding gelombang kedua. Bahkan kenaikan mingguan sudah mendekati kenaikan pada puncak kedua akibat varian Delta. Perbandingannya, kasus positif minggu lalu sebesar 290.000 sementara kasus tertinggi di puncak kedua mencapai 350.000 kasus.

Dampak yang sangat ditakutkan, meningkatnya kasus positif gelombang ketiga ini berpengaruh pada tren kematian yang juga meningkat. Meskipun, peningkatannya jauh lebih rendah dibanding di masa lonjakan kedua. Kasus kematian minggu ini 505 orang meninggal, sementara dimasa lonjakan Delta melebihi 12.000 orang meninggal.

“Walaupun demikian nyawa tetaplah nyawa yang tidak tergantikan. Penambahan kasus positif penting terus ditekan utamanya demi menghindarkan kelompok rentan dari paparan virus yang saat ini banyak menyumbangkan angka kematian,” tegas Wiku.

Dampak lain yang ditimbulkan, meningkatnya tren persentase BOR. Meskipun, angkanya masih lebih rendah dibanding lonjakan kedua. Saat ini persentase nasional 32,85%. Sementara rekor tertinggi lonjakan kedua adalah 77, 32%. Untuk hal ini, Pemerintah menjamin ketersediaan tempat tidur termasuk upaya konversi bed yang telah dilakukan di beberapa provinsi. Namun, penting diingat bahwa kapasitas kesehatan memiliki batasan. Terlebih banyak tenaga kesehatan yang sudah tertular.

Karenanya, menekan penularan perlu diupayakan oleh pemerintah daerah di provinsi-provinsi Pulau Jawa – Bali sebagai penyumbang terbesar kasus nasional. Seperti di provinsi ibukota DKI Jakarta sendiri, menyumbang 28% dari kasus nasional. Bahkan angka ini lebih tinggi dibanding masa lonjakan kedua yaitu sebesar 24%. Provinsi lainnya yang juga harus diperhatikan, ialah Jawa Barat dan Banten. Karena jumlah kasus mingguan di minggu melebihi rekor masa lonjakan kedua.

Untuk itu, Pemerintah Daerah harus segera mengevaluasi kembali penerapan PPKM. Terlebih PPKM sudah berjalan sekitar seminggu dan kasus masih belum berhasil ditekan. Harus dipastikan bahwa setiap aturan dalam instruksi Menteri Dalam Negeri terlaksana dengan baik. Juga, dimohon mengaktifkan kembali pembentukan dan kinerja posko di daerahnya.

Terkait posko, data menunjukkan kinerja posko konsisten turun sangat rendah. Saat ini tercatat hanya dibawah 1 juta kegiatan. Padahal pada periode lonjakan kedua kinerja posko ada di kisaran 4 juta. Bahkan kinerja posko pernah mencapai titik tertinggi pada bulan September 2021 sebesar 5,5 juta kegiatan. Dari data saat ini dapat dikatakan pelaksanaan PPKM di tingkat mikro belum berjalan baik.

“Penting diingat peran posko dalam upaya PPKM merupakan Garda terdepan. Posko merupakan modal pengendalian kasus tidak hanya untuk saat ini namun juga di masa depan termasuk periode libur panjang yang akan datang,” tambah Wiku.

Dan hal terakhir yang menjadi perhatian, ditengah tingginya kasus nyatanya tren mobilitas meskipun fluktuatif justru mencapai level tertinggi. Bahkan tertinggi sejak awal pandemi. Terutama di pusat perbelanjaan, lokasi ritel, tempat  rekreasi dan taman. Tingkat mobilitasnya masih setara dengan periode Idul Fitri 2021 lalu yang terjadi tepat sebelum lonjakan kasus kedua.

Hal yang sama juga pada mobilitas di perkantoran dan lokasi transportasi publik lebih tinggi dibanding masa sebelum lonjakan kedua. Meskipun di minggu lalu trennya sedikit menurun, namun level mobilitas yang masih tinggi ini perlu dijadikan kewaspadaan. Terlebih pula, provinsi penyumbang kasus tertinggi di Jawa – Bali sebagian besar wilayah aglomerasi dengan mobilitas antar wilayah yang tinggi.

“Mobilitas yang tinggi ini tidak semata-mata perlu ditekan, namun perlu dikendalikan dan dipastikan bahwa mobilitas yang ada dilakukan dengan aman,” lanjutnya.

Memastikan mobilitas yang aman dapat dilakukan dengan tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan 3M, melakukan skrining ketat baik dengan tes syarat perjalanan dan penggunaan PeduliLindungi, agar perpindahan orang positif yang dapat menulari banyak orang lainnya dapat dihindari. Sehingga dapat menjaga kasus dari daerah tinggi tidak keluar dan meluas, sama dengan menjaga wilayah lain yang kasusnya belum naik.

“Ingat yang terpenting adalah tidak memberi ruang untuk penularan terjadi,” pungkas Wiku.

Satgas: Gelombang Ketiga Covid Melonjak Lebih Cepat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, tren kematian akibat Covid-19 mulai mengalami peningkatan. Namun, peningkatan itu masih lebih rendah dibandingkan ketika gelombang delta atau gelombang kedua pandemi Covid-19.

Wiku mengatakan, penambahan kasus positif nasional pada gelombang ketiga saat ini melonjak tajam lebih cepat dibandingkan gelombang kedua. “Peningkatan kasus positif ini juga berdampak pada tren kematian yang saat ini juga sudah mengalami peningkatan. Kabar baiknya peningkatan di masa lonjakan ketiga ini jauh lebih rendah dibanding di masa lonjakan kedua,” ujar dia dalam konferensi pers virtual diikuti dari Jakarta, Selasa (15/2/2022).

Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 itu menjelaskan, pada pekan lalu terdapat 505 orang meninggal dunia. Pada masa lonjakan akibat penularan varian Delta, terdapat lebih dari 12.000 orang meninggal dunia.

Jumlah kenaikan per pekan pada pekan lalu hampir mencapai jumlah saat puncak kedua pada masa penularan varian Delta. Dia mengatakan, dengan terjadi penambahan sekitar 291.000 kasus Covid-19 pada pekan lalu, saat terjadi kenaikan akibat Omicron, dibandingkan penambahan 350.000 kasus ketika puncak penularan akibat Delta terjadi tahun lalu.

Terjadi juga tren kenaikan keterisian tempat tidur rumah sakit meski masih lebih rendah jika dibandingkan puncak ketika gelombang kedua. Tingkat keterisian nasional saat ini 32,85 persen, dibandingkan 77,32 persen yang menjadi rekor tertinggi ketika penyebaran varian Delta mencapai puncaknya.

Meski memiliki jumlah kematian yang lebih rendah, Wiku tetap mengingatkan pentingnya tetap menekan penambahan kasus khususnya untuk menghindari kelompok rentan tertular Covid-19. “Mencegah agar tidak tertular adalah cara terbaik untuk menyelamatkan nyawa terutama orang di sekitar kita yang lanjut usia, penderita komorbid dan tidak atau belum dapat divaksin,” kata Wiku Adisasmito.

Sumber: republika.co.id

Komorbid Diabetes dan Hipertensi Diminta Lebih Waspada

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, ada beberapa jenis penyakit penyerta (komorbid) yang bisa meningkatkan risiko kematian saat terpapar Covid-19. Untuk kasus secara nasional, kata dia, data menunjukkan mayoritas kasus positif meninggal paling banyak adalah mereka yang memiliki komorbid diabetes melitus.

“Faktanya secara nasional, berdasarkan data yang diakses dari rumah sakit online per tanggal 13 Februari 2022, tercatat pertama, mayoritas kasus positif yang meninggal dikontribusikan oleh komorbid diabetes melitus,” ujar Wiku dalam keterangan persnya secara virtual, Selasa (15/2/2022).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) 2022, jenis penyakit tersebut, yakni kanker, gangguan ginjal, hati, paru-paru yang kronis, gangguan neurologis, diabetes melitus tipe 1 dan 2, gangguan jantung dan pembuluh darah, infeksi HIV, gangguan sistem kekebalan tubuh, obesitas, thalasemia dan beberapa gangguan kesehatan.

Wiki melanjutnya, data menunjukkan bahwa 15 persen kasus kematian terjadi pada pasien yang memiliki riwayat komorbid lebih dari satu jenis penyakit. Ia menjelaskan, sebuah studi di rumah sakit di India juga menemukan lebih dari 90 persen pasien dengan lebih dari dua jenis komorbid meninggal dunia dibandingkan kasus positif yang hanya memiliki satu sampai dengan komorbid saja.

Selain itu, Wiku mengatakan, mayoritas kasus positif yang mengalami gejala berat atau kritis memiliki komorbid diabetes dan hipertensi. Sebesar 19 persen dari mayoritas tersebut memiliki lebih dari satu jenis penyakit.

Karena itu, Wiku mengingatkan seluruh masyarakat termasuk mereka yang memiliki komorbid atau orang di sekitarnya, wajib berperan untuk melaporkan kasus positif pada kelompok rentan agar dapat ditangani secara dini.

“Bagi kasus positif mengidap komorbid atau orang di sekitarnya dimohon untuk segera menghubungi tenaga kesehatan walaupun gejala yang dirasakan tergolong ringan demi perawatan yang lebih efektif dan cepat,” kata Wiku.

Ia juga mengimbau masyarakat yang memiliki komorbid untuk menyegerakan upaya vaksinasi baik dosis 1, 2, atau booster. Namun, dengan tetap mengkonsultasikan kondisi kesehatannya sebelum divaksinasi melalui fasilitas kesehatan terdekat.

“Pada prinsipnya seluruh masyarakat wajib berhati-hati dalam beraktivitas, termasuk bagi orang tidak termasuk kategori rentan ini. Kita perlu membangkitkan sikap tenggang rasa dengan berusaha saling melindungi karena virus dapat dibawa oleh siapapun baik oleh yang rentan maupun yang tidak,” kata Wiku.

Sementara itu, kasus harian Covid-19 di Indonesia kembali naik. Satgas Covid-19 mencatat penambahan 57.049 kasus Covid-19 pada hari ini. Sehari sebelumnya atau pada Senin (14/2/2022) kemarin, Satgas Covid-19 mencatat 36.501 kasus.

Meskipun kasus konfirmasi melonjak, angka kasus kematian Covid-19 berkurang menjadi 134 dalam 24 jam terakhir dibandingkan 145 kematian kemarin. Pasien yang telah dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona bertambah 26.747.

Sumber: republika.co.id

 Masyarakatdengan Mobilitas Tinggi Diminta Waspada

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap penularan kasus akibat Covid-19 karena tingginya mobilitas masyarakat. Satgas mencatat, mobilitas masyarakat saat ini masih sangat tinggi meskipun fluktuatif.

Bahkan, kata Wiku, angkanya tertinggi sejak awal pandemi. Mobilitas di pusat belanja, lokasi retail, rekreasi dan taman tercatat masih setara dengan periode Idulfitri 2021 silam sebelum lonjakan kasus kedua.

Sementara mobilitas di perkantoran dan lokasi transportasi publik justru lebih tinggi dibanding masa sebelum lonjakan kedua. “Kita perlu untuk waspada karena di tengah kondisi yang demikian, mobilitas masih sangat tinggi, bahkan tertinggi sejak awal pandemi,” kata Wiku saat konferensi pers perkembangan Covid-19, Selasa (15/2/2022).

Wiku mengatakan, meskipun tren mobilitas sedikit mengalami penurunan pada minggu lalu, level mobilitas yang masih tinggi ini perlu dijadikan kewaspadaan bersama. Apalagi, provinsi penyumbang kasus tertinggi di Jawa Bali sebagian besar merupakan wilayah aglomerasi dengan mobilitas antarwilayah yang tinggi.

“Mobilitas yang tinggi ini tidak semata-mata perlu ditekan, namun perlu dikendalikan dan dipastikan bahwa mobilitas yang ada dilakukan dengan aman,” ujarnya.

Untuk memastikan mobilitas yang aman dapat dilakukan, masyarakat tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan 3M, serta melakukan skrining ketat baik dengan tes syarat perjalanan dan penggunaan PeduliLindungi. Dengan demikian, perpindahan orang positif yang dapat menulari banyak orang lainnya dapat dihindari.

“Agar kasus dari daerah yang tinggi tidak keluar dan meluas, sama dengan menjaga wilayah lain yang kasusnya belum naik. Ingat, yang terpenting adalah tidak memberi ruang untuk penularan terjadi,” jelas dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mempersilakan masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis kedua dan juga booster, serta tak memiliki komorbid untuk bepergian ke berbagai tempat, seperti mall dll. Ia meminta masyarakat agar tak khawatir berlebihan terhadap kenaikan kasus Covid-19 saat ini.

“Kami mendorong dengan protokol kesehatan yang ketat dan sudah divaksin dua kali, apalagi sudah booster, dengan protokol kesehatan yang ketat, silakan saja jalan ke mana-mana, masuk ke mall segala macam, gunakan PeduliLindungi dan seterusnya,” ujar Luhut saat konferensi pers usai ratas evaluasi PPKM bersama Presiden, Senin (14/2/2022).

Kasus harian Covid-19 di Indonesia kembali naik. Satgas Covid-19 mencatat penambahan 57.049 kasus Covid-19 pada hari ini. Sehari sebelumnya atau pada Senin (14/2/2022) kemarin, Satgas Covid-19 mencatat 36.501 kasus.

Meskipun kasus konfirmasi melonjak, angka kasus kematian Covid-19 berkurang menjadi 134 dalam 24 jam terakhir dibandingkan 145 kematian kemarin. Pasien yang telah dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona bertambah 26.747.

Sumber:republika.co.id

Mayoritas Muslim, Indonesia Dibanggakan Karena Kerukunan Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Indonesia merupakan negara yang multikultural dan multireligius. Untuk menjaga keharmonisan dan kedamaian negeri ini, pemerintah melakukan berbagai strategi. Mulai yang bersifat lokal, struktural, maupun global.

Hal ini diungkapkan Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin dalam pertemuan Sidang Dewan Eksekutif Konferensi Menteri-Menteri Wakaf dan Urusan Agama Islam Negara-Negara Islam, yang diselenggarakan di Kairo, Mesir. “Saya ingin menyampaikan beberapa strategi Indonesia dalam menjaga keharmonisan sosial dan lebih mendukung perdamaian dunia,” ungkap Kamaruddin yang hadir secara daring mewakili Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Senin (14/2/2022).

Kamaruddin mengungkapkan, meskipun mayoritas penduduknya (sekitar 87%) pemeluk agama Islam, Indonesia bukanlah negara Islam teokratis maupun negara sekuler. “Indonesia bukan negara agama, namun agama memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” tutur Kamaruddin.

Sejak dulu, lanjut Kamaruddin, seluruh penduduk memiliki kesadaran akan pentingnya persatuan bangsa untuk pembangunan yang mutualistik. Di masa lalu, Indonesia memiliki sejarah kolonialisme, dan hanya dengan bersatu, Indonesia dapat mencapai dan mempertahankan kemerdekaan hingga sekarang.

“Kesadaran ini kemudian diwujudkan dalam kesepakatan bersama tentang rukun Pancasila, UUD 1945, dan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Setelah itu, terus dilakukan upaya untuk menjaga kerukunan bermasyarakat dan berbangsa,” papar Kamaruddin.

“Selain peraturan negara, ada ikatan peraturan sosial yang lebih kuat, atau disebut ‘kearifan lokal’, yang mengikat seluruh masyarakat secara sosial,” sambungnya.

Selanjutnya, ada upaya struktural yang dilakukan untuk merawat kerukunan yang ada. Yakni, dengan membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Forum ini telah dibentuk di 34 provinsi dan sekitar 510 kabupaten dan kota.

“Fungsinya adalah membantu menjaga kerukunan antar umat beragama dan meningkatkan kerjasama antar umat beragama di Indonesia serta memberikan kesempatan,” ujar Kamaruddin.

Sementara dalam tataran yang lebih luas, Indonesia juga terlibat dalam perdamaian dunia. Selain aktif dalam dialog lintas agama dan multinasional, Indonesia telah mengekspor pengalaman mengelola keragaman agama dan budaya ke ranah global.

Ini, lanjut Kamaruddin, merupakam strategi global yang dilakukan Indonesia untuk terlibat menjaga perdamaian dunia. “Indonesia juga melakuka  penguatan Islam rahmatan lil alamin atau moderasi beragama, sebagai cara strategis untuk kerukunan umat beragama. Selanjutnya, penguatan peran masyarakat sipil berbasis agama seperti Nahdlatul Ulama dalam proses perdamaian di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir,” sambungnya.

Sidang yang diadakan di Kairo ini dipimpin oleh Menteri Urusan Islam Arab Saudi, Syeikh Abdul Lathif Alu al-Syaikh. Hadir dalam pertemuan tersebut secara luring, Menteri Wakaf Mesir selaku tuan rumah; Menteri Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Arab Saudi; Menteri Agama Pakistan; Menteri Agama Gambia; Dubes Maroko di Kairo, mewakili Menteri Wakaf Maroko; dan Dirjen Kementerian Wakaf Yordania.

Sementara Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI didampingi oleh Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag Muchlis M Hanafi hadir secara daring. Begitu pula Direktur di Kementerian Wakaf Kuwait. Pertemuan ini berlangsung selama dua hari, 14-15 Februari 2022.

Angka Kesembuhan Covid Semakin Meningkat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Perkembangan penanganan pandemi COVID-19 per 15 Februari 2022 secara nasional menunjukkan angka kesembuhan harian sebesar 26.747 orang sembuh per hari, terdiri transmisi lokal 26.335 orang dan Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) 412 orang. Sehingga angka kumulatifnya bertambah melebihi 4,3 juta orang sembuh atau tepatnya 4.349.848 orang (86,7%).

Disamping itu, kasus aktif atau pasien positif yang masih membutuhkan perawatan medis, bertambah 30.168 kasus dan kumulatifnya menjadi 406.025 kasus (8,3%). Lalu, pasien terkonfirmasi positif (RT-PCR/TCM dan rapid antigen), hari ini bertambah sebanyak 57.049 kasus terdiri 56.267 kasus transmisi lokal dan PPLN 782 kasus. Sehingga angka kumulatifnya, atau jumlah pasien terkonfirmasi positif yang tercatat sejak kasus pertama hingga hari ini mencapai 4.901.328 kasus.

Sementara, pasien meninggal bertambah 134 dari kasus transmisi lokal dengan kumulatifnya mencapai 145.455 kasus (3,0%). Selain itu, dari hasil uji laboratorium per hari, spesimen selesai diperiksa (RT-PCR/TCM dan rapid test antigen) per hari sebanyak 582.828 spesimen dengan jumlah suspek sebanyak 35.594 kasus.

Pada perkembangan program vaksinasi, penerima vaksin ke-1 bertambah 252.141 orang dengan totalnya melebihi 188 juta orang atau 188.590.685 orang. Sedangkan penerima vaksinasi ke-2 bertambah 833.899 orang dan totalnya meningkat melebihi 136 juta orang atau angka tepatnya 136.647.928 orang. Penerima vaksinasi ke-3 bertambah 218.237 dengan kumulatifnya melebihi 7 juta orang atau 7.277.382 orang. Sementara target sasaran vaksinasi berada di angka 208.265.720 orang.

Lebih lanjut, pada perkembangan per provinsi, terdapat 5 provinsi dengan angka kesembuhan harian tertinggi. DKI Jakarta menambahkan 9.103 orang terdiri dari transmisi lokal 8.816 orang dan PPLN 287 orang dengan kumulatifnya 984.859 orang, diikuti Jawa Barat menambahkan 5.739 orang terdiri transmisi lokal 5.707 orang dan PPLN 32 orang dengan kumulatifnya 715.829 orang, Jawa Timur menambahkan 3.618 orang terdiri dari transmisi lokal 3.60/ orang dan PPLN 18 orang dengan kumulatifnya 399.380 orang, Banten menambahkan 3.350 terdiri dari transmisi lokal 3.303 orang dan PPLN 47 orang dengan angka kumulatifnya 152.805 orang serta Bali menambahkan 1.785 orang terdiri dari transmisi lokal 1.767 orang dan PPLN 18 orang dengan kumulatifnya 118.922 orang.

Lalu, pada penambahan kasus terkonfirmasi positif harian terdapat 5 provinsi dengan angka tertinggi. Jawa Barat menambahkan 14.058 kasus terdiri transmisi lokal 14.013 dan PPLN 45 kasus dengan kumulatifnya 855.684 kasus, diikuti DKI Jakarta menambahkan 9.482 kasus terdiri dari transmisi lokal 8.908 orang dan PPLN 574 kasus dengan kumulatifnya 1.082.965 kasus, Jawa Timur menambahkan 7.528 kasus terdiri transmisi lokal 7.503 kasus dan PPLN 25 kasus dengan kumulatifnya 452.211 kasus, Banten menambahkan 6.509 kasus terdiri transmisi lokal 6.450 kasus dan PPLN 59 kasus dengan kumulatifnya 217.234 kasus serta Jawa Tengah menambahkan 3.514 kasus dari transmisi lokal dengan kumulatifnya 514.365 kasus.

Selain itu, per hari ini terdapat 21 provinsi menambahkan kematian dari kasus transmisi lokal. Namun, terdapat 5 provinsi dengan angka tertinggi harian diantaranya, DKI Jakarta 50 kasus dengan kumulatifnya 14.135 kasus, diikuti Jawa Tengah 21 kasus dengan kumulatifnya 30.453 kasus, Jawa Timur 15 kasus dengan kumulatifnya 29.875 kasus, Bali 14 kasus dengan kumulatifnya 4.212 kasus serta Jawa Barat 11 kasus dengan kumulatifnya 14.849 kasus.

Disamping itu, hasil uji per hari jejaring laboratorium berbagai wilayah, jumlah kumulatif spesimen selesai diperiksa mencapai 78.438.828 spesimen. Terdiri dari spesimen positif (kumulatif) sebanyak 9.223.801 spesimen dan spesimen negatif (kumulatif) sebanyak 67.541.263 spesimen. Positivity rate spesimen (NAAT dan Antigen) harian di angka 22,80% dan positivity rate spesimen mingguan (6 – 12 Februari 2022) di angka 19,81%. Sementara spesimen invalid dan inkonklusiv (per hari) berjumlah 182 spesimen.

Untuk jumlah orang yang diperiksa per hari ini ada 358.270 orang dan kumulatifnya 52.603.909 orang. Lalu pada hasil terkonfirmasi negatif jumlah kumulatifnya meningkat menjadi 47.702.581 orang termasuk tambahan hari ini sebanyak 301.221 orang. Sementara positivity rate (NAAT dan Antigen) orang harian di angka 15,92% dan positivity rate orang mingguan (6 – 12 Februari 2022) di angka 16,04%. Secara sebaran wilayah terdampak masih berada di 34 provinsi dan 510 kabupaten/kota.

Penderita Komorbid Diminta Waspada Omicron

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Di tengah kondisi kasus COVID-19 yang tinggi, masyarakat diminta beraktivitas dengan penuh kewaspadaan. Terlebih lagi kepada masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid yang berpeluang mengalami perburukan kondisi apabila terpapar COVID-19.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan ada beberapa faktor yang dapat memperparah kondisi seseorang apabila terpapar COVID-19. “Yaitu faktor usia, riwayat vaksinasi seseorang serta riwayat komorbid atau penyakit penyerta,” Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Selasa (15/2/2022) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Tentang faktor risiko ini, umumnya akan menyebabkan sistem pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi menjadi kurang optimal. Khususnya, salah satu faktor risiko yaitu komorbid. Karena jika sudah terpapar, seseorang yang memiliki satu bahkan lebih penyakit penyerta, berisiko membutuhkan perawatan inap maupun perawatan intensif di rumah sakit. Dan akan membutuhkan ventilator akibat perkembangan gejala yang berat atau kritis. “Dan ancaman kematian akan menjadi lebih besar,” imbuh Wiku.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) di tahun 2022 menyebut sejumlah jenis penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko. Diantaranya kanker, gangguan ginjal, hati, paru-paru kronis, gangguan neurologis, diabetes melitus tipe 1 dan 2, gangguan jantung dan pembuluh darah, infeksi HIV, gangguan sistem kekebalan tubuh, obesitas, thalasemia dan beberapa gangguan kesehatan lainnya.

Bahkan berdasarkan studi, keparahan gejala pada berbagai jenis komorbid dapat berbeda-beda. Menurut studi Hijaz dkk tahun 2020, umumnya penderita hipertensi mengeluhkan terjadinya peradangan paru-paru atau pneumonia dibarengi dengan kenaikan tekanan darah. Lalu, penderita gangguan paru-paru kronik mengeluhkan terjadinya kekurangan darah atau hiposemia parah dan gejala khas lainnya pada setiap komorbid.

Faktanya, secara nasional berdasarkan data yang diakses dari rumah sakit online tertanggal 13 Februari 2022, tercatat bahwa mayoritas kasus positif yang meninggal dikontribusikan komorbid diabetes melitus. Dan 15% diantaranya bahkan memiliki riwayat komorbid lebih dari satu jenisnya.

Sebagai tambahan menurut studi di salah satu rumah sakit di India, lebih dari 90% pasien dengan lebih dari 2 jenis komorbid meninggal dunia dibandingkan kasus positif yang hanya memiliki satu sampai dengan dua komorbid saja. Selanjutnya, mayoritas kauss positif dengan gejala berat atau kritis, memiliki komorbid diabetes melitus dan hipertensi. Dan 19% dari mayoritas tersebut bahkan memiliki lebih dari satu jenis penyakit.

Untuk itu apabila masyarakat menemukan seseorang dengan komorbid pada kelompok rentan disekitarnya, wajib melaporkan  agar dapat ditangani secara Dini. Dan bagi penderita komorbid yang positif itu sendiri, dimohon secara aktif segera menghubungi tenaga kesehatan. Walaupun gejala yang dirasakan tergolong ringan demi perawatan yang lebih efektif yang cepat.

Sedangkan penderita komorbid lainnya yang masih berada dalam kondisi sehat, diminta segera mendapatkan vaksinasi baik dosis 1, 2 atau booster. Namun dengan cermat mengkonsultasikan kondisi kesehatannya dengan fasilitas kesehatan sebelum divaksinasi.

Dan hasil studi lainnya di tahun 2021 merekomendasikan lansia atau usia diatas 50 tahun sekaligus penderita komorbid berhak mendapatkan perlindungan lebih. Misalnya menjadi populasi prioritas dalam program vaksinasi. Yang mana, hal ini sudah dilakukan di Indonesia.

Untuk saat ini, agar terhindar dari COVID-19, hal yang dapat dilakukan masyarakat dengan meminimalisir kegiatan di luar rumah yang tidak terlalu penting. Terutama selama tren kenaikan kasus masih terjadi. Manfaatkan teknologi terkini untuk komunikasi, mendapatkan informasi bahkan membantu kegiatan lainnya sehingga aktivitas fisik dan berbelanja.

“Pada prinsipnya seluruh masyarakat wajib berhati-hati dalam beraktivitas termasuk bagi orang yang tidak termasuk kategori rentan ini,” saran Wiku.

Kiai Marsudi: Teladani Sosok Almarhum Kiai Hasanuddin, Ulama Fatwa Kebanggaan Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, menyampaikan bela sungkawa atas kepergian Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof Hasanuddin Abdul Fattah. Wakil Ketua Umum MUI yang mengkoordinasi bidang Fatwa ini menyampaikan, sosok Prof Hasan merupakan orang yang sangat ringan dalam persoalan-persoalan agama.

“Beliau yang saya kenal, adalah orang yang sangat entengan, ringan kalau ada persoalan agama. Persoalan agama yang membutuhkan jawaban cepat. Beliau adalah kitab berjalan yang selalu bisa menjawab persoalan keagamaan, wabil khususil khusus, pondasi ekonomi syariah dan kehidupan bermasyarakat, ” ujarnya, Jum’at (11/02) pasca acara tahlil malam pertama untuk Prof Hasanuddin AF secara virtual.

Dengan karakter seperti itu, Kiai Marsudi melanjutkan, Prof Hasan menjadi bagian sangat penting di Komisi Fatwa selama ini. Segala amal yang dikerjakan Prof Hasan, menurut dia, dipaketkan kepada Allah SWT melalui dedikasinya di Komisi Fatwa puluhan tahun.

“Saya yakin, amal sholeh yang ditinggalkan oleh almarhum dilihat oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Terlebih, apa yang beliau fatwakan telah dipaketkan di Komisi Fatwa MUI. Manfaatnya sungguh bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia serta rujukan bagi dunia internasional, ” ungkapnya.

Untuk itu, Kiai Marsudi mengatakan, apa yang sudah dikerjakan Prof Hasan perlu banyak dicontoh dan diteladani. Tokoh berwawasan luas seperti Prof Hasan sangat dibutuhkan oleh umat. Generasi yang meneruskan jejak Prof Hasan sangat dibutuhkan karena persoaln umat di dunia semakin terus berkembang.

“Amal sholeh beliau ini rasanya belum bisa ada yang menandingi. Karena karya dan usahanya yaitu menghidupkan fatwa-fatwa MUI mengenai ekonomi syariah dan sosial kemasyarakatan, ” jelasnya.

 

Pada kesempatan itu, Kiai Marsudi juga memanjatkan doa agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keistiqomahan, dan kemampuan meneruskan amal sholeh yang telah ditinggalkan Prof Hasan.

“Mewakili Majelis Ulama Indonesia, saya turut berduka cita atas wafatnya Prof. Hasanuddin selaku Komisi Fatwa MUI. Insyaalmarhum min ahlil khoir, min ahlil khoir, min ahlil khoir, ” pungkas Kiai Marsudi.(mui)

 

 

Rektor UIN Cerita Peran Kiai Hasanuddin dalam Bidang Pendidikan

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Rektor UIN Jakarta, Prof Amany Lubis, menyampaikan bahwa kepergian Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof Hasanuddin AF, meninggalkan duka mendalam. Dia menceritakan bahwa Prof Hasanuddin AF berperan besar dalam perjalanan akademiknya meraih gelar Guru Besar bidang Hukum Tata Negara di UIN Jakarta.

“Saya atas nama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya almarhum Prof Hasanuddin AF. Beliau mantan dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta periode 2000-2005. Sejak itu, beliau menjadi Ketua Komisi Fatwa,” ujar Rektor Perempuan Pertama UIN Jakarta ini, Jumat (11/02) pasca tahlilan malam pertama untuk KH Hasanuddin AF.

Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) ini memiliki pengalaman personal dengan Prof Hasanuddin AF. Dia menceritakan sangat kehilangan.

“Saya merasa dibersarkan oleh beliau walaupun tidak pernah menjadi muridnya langsung. Ketika mau menjadi Guru Besar dengan spesialisasi sejarah politik Islam, Prof Hasanuddin AF sangat berjasa, seperti halnya Prof Huzaemah T. Yanggo. Mereka berdua seperti telah meranacng masa depan saya untuk tetap di syariah dan berkiprah di Hukum Tata Negara, ” ujarnya.

Dia ingat, pada tahun 2004, ketika menyusun persyaratan menjadi Guru Besar, banyak sekali bantuan dari Prof Hasanuddin AF.

“Saya ingin menyampaikan bahwa Prof Hasanuddin AF sangat baik, sangat santun, dan secara pribadi kedekatan keluarga dan kekerasaban sangat terhormat. Kita merasakan sangat kehilangan namun kita harus relakan kepergian beliau menghadap sang khaliq,” ujarnya.

 

Dia menyampaikan, Prof Hasanuddin AF wafat di malam Jum’at dan dimakamkan di hari Jum’at. Beliau insyallah syahid dan diterima di tempat yang sangat mulia di sisi Allah SWT.

“Insyaallah almarhum dimakamnya juga merasakan kebahagiaan dari doa yang kita panjatkan, dilapangkan kuburnya, dan diberikan cahaya di dalam kuburnya. Insyallah beliau diterima di surga Allah SWT bersama orang-orang shalih dan para nabi,” ucapnya. (mui)