Berita Terkini

Intelijen AS: Pengacara Militer Israel Akui Ada Bukti Kejahatan Perang di Gaza

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Amerika Serikat dilaporkan telah mengumpulkan informasi intelijen bahwa para pengacara militer Israel telah memperingatkan adanya bukti yang dapat mendukung tuduhan kejahatan perang terhadap Israel atas genosida di Jalur Gaza termasuk serangan yang dilakukan menggunakan senjata yang dipasok oleh Amerika.

Lima mantan pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada Sabtu (8/11/2025), bahwa intelijen tersebut, yang sebelumnya tidak pernah diungkapkan, disampaikan pada tahun lalu dan digambarkan sebagai salah satu laporan paling mengkhawatirkan yang pernah dibagikan kepada para pembuat kebijakan di Washington.

Informasi itu disebut mengungkap adanya keraguan internal di kalangan militer Israel terhadap legalitas taktik yang mereka gunakan dalam operasi di Gaza.

Dua pejabat AS menyebutkan bahwa laporan tersebut mulai beredar lebih luas di dalam pemerintahan hanya pada minggu-minggu terakhir masa jabatan Presiden Joe Biden, menjelang pengarahan kepada Kongres pada Desember 2024.

Pengungkapan ini meningkatkan kekhawatiran di kalangan pejabat Washington seiring melonjaknya jumlah korban sipil di Gaza. Beberapa di antara mereka menilai bahwa dukungan militer dan politik AS terhadap Israel dapat membuat Washington turut terseret jika kejahatan perang tersebut kelak terbukti.

Informasi itu juga memicu pertemuan Dewan Keamanan Nasional AS, di mana para pejabat memperdebatkan langkah yang seharusnya diambil Washington dalam menanggapi temuan tersebut.

Sesuai hukum AS, apabila terbukti bahwa Israel melakukan kejahatan perang, Washington diwajibkan menghentikan pengiriman senjata dan pembagian informasi intelijen kepada Tel Aviv.

Namun, meskipun terdapat kekhawatiran hukum, para pejabat AS akhirnya menyimpulkan bahwa mereka tidak memiliki bukti langsung bahwa Israel secara sengaja menargetkan warga sipil. Kesimpulan ini menjadi dasar bagi kelanjutan dukungan AS terhadap Israel.

Sejumlah pejabat senior bahkan mengkhawatirkan bahwa penghentian bantuan militer justru dapat membuat kelompok perlawanan Hamas semakin berani dan menggagalkan upaya perundingan gencatan senjata.

Sebelumnya, para pengacara di Departemen Luar Negeri AS juga telah memperingatkan Menteri Luar Negeri Antony Blinken bahwa operasi militer Israel kemungkinan besar melanggar hukum humaniter internasional.

Sebuah laporan dari Washington pada Mei 2024 juga menyebutkan bahwa Israel “mungkin telah melanggar” hukum internasional dalam penggunaan senjata buatan AS, meskipun laporan itu tidak sampai pada kesimpulan resmi.

Israel sendiri membantah tuduhan kejahatan perang di Gaza dan menolak yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional (ICC), yang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sejumlah pejabat tinggi Israel lainnya. (Bahry)

Sumber: TRT

Virus Tak Mengenal Miskin dan Kaya, Hidup Sehat Hak Setiap Warga Negara

Oleh : Herliana Tri M

Penyakit, baik disebabkan oleh bakteri ataupun virus dapat menimpa siapapun. Tak mengenal status sosial, gender ataupun jabatan. Karena itulah penanganan kesehatan masyarakat tak mengenal strata, semua layak mendapatkan kemudahan kesempatan yang sama.

Dilansir antaranews.com, 23/10/2025 mengabarkan sehubungan dengan maraknya berita cuaca pans ekstrim dan peningkatan kasus ISPA di beberapa wilayah di Indonesia, Dinas Kesehatan Bogor menyampaikan bahwa
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah, seperti hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Penyakit berlangsung cepat (akut), biasanya kurang dari 14 hari, dan dapat menimbulkan berbagai gejala mulai dari ringan hingga berat.
ISPA disebabkan oleh virus atau bakteri.
Virus: influenza, parainfluenza, rhinovirus, adenovirus, RSV (Respiratory Syncytial Virus), dan coronavirus.
• Bakteri: Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Mycoplasma pneumoniae, dan Bordetella pertussis.
Faktor lingkungan seperti polusi udara, asap rokok, debu, cuaca dingin, dan kepadatan hunian juga meningkatkan risiko terjadi ISPA.

Himbauan ini mengingatkan kita untuk tetap berhati- hati dengan cuaca iklim yang tak menentu. Sulit untuk disebut apakah sekarang ini musim penghujan atau kemarau. silih bergantinya panas yang terik dan curah hujan tinggi tak terprediksi membuat adaptasi tubuh atas cuaca menjadi tantangan tersendiri.

Data ISPA Kota Bogor

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bogor mengalami lonjakan, dengan total kasus mencapai 26.597 kasus pada September 2025. Peningkatan ini menyebabkan Dinas Kesehatan Kota Bogor mengimbau masyarakat untuk meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti menjaga kebersihan, ventilasi rumah, menggunakan masker, mencuci tangan, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala. 

Imbauan dari pemerintah ini penting, namun tak langsung membuat masyarakat patuh dsn mengikuti saran tersebut. Bukan karena imbauan tersebut tidak bermanfaat, namun kondisi ekonomi menjadikan masyarakat tak mampu memperlakukan diri secara ideal, bagaimana seharusnya. Kebutuhan ekonomi yang tinggi, menjadikan sebagian masyarakat harus berhemat mengencangkan ikat pinggang, meskipun akhirnya kwalitas gizi tak terpenuhi.

Disisi lain, untuk berobat pun terkadang tidak memiliki waktu luang yang cukup, mengingat untuk mendapatkan layanan kesehatan murah mereka harus siap mengorbankan waktu jam kerja, belum lagi waktu yang cukup lama dalam hal administrasi rumah sakit sampai titik akhir mendapatkan obat.

Kondisi fisik kadang ‘terabaikan’ ditambah kondisi rumah masyarakat kurang layak huni dari sisi kurangnya cahaya matahari masuk karena padatnya rumah penduduk, minimnya ventilasi udara, sempitnya ukuran rumah yang tak sebanding dengan jumlah penghuni di dalamnya, menjadikan penyakit ISPA tak kunjung mereda, bahkan meningkat secara grafiknya.

Pandangan Islam Terkait Kesehatan Masyarakat
 
Islam tak memilah-milah apakah seseorang itu golongan kaya atau miskin. Kategori miskin maupun kaya tetap berhak mendapat layanan kesehatan terbaik oleh negara sesuai kebutuhan medisnya. Sebab, layanan kesehatan dipandang dalam Islam sebagai kebutuhan dasar (primer) bagi seluruh rakyat.

Dengan demikian negara wajib senantiasa mengalokasikan anggaran belanja untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan bagi seluruh warga dan negara tidak boleh melalaikan kewajibannya, negara tidak boleh juga mengalihkan tanggung jawab tersebut kepada pihak lain, baik kepada pihak swasta maupun pembebanan kepada rakyatnya sendiri.

Sehingga hubungan rakyat dengan penguasa untuk mengurusi kesehatan tak boleh dipandang dengan pendekatan bisnis atau urusan pribadi masing- masing warga negara.

Negara tidak boleh mengkomersilkan hak publik sekalipun ia orang kaya dan mampu membayar.  Hal ini karena negara berperan menjamin pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan semua warga negara.
 
Pelayanan gratis yang diberikan oleh negara, bukan berarti pelayanan secara asal-asalan dan apa adanya. Seperti istilah sekarang ‘wani piro’. Yang bisa diartikan, untuk mendapatkan pelayanan terbaik dibutuhkan biaya besar juga. Ini tak berlaku dalam pelayanan kesehatan Islam. Profesional dalam layanan Kesehatan menjadi bagian dari pengurusan negara untuk rakyat.

Negara wajib menyediakan sarana kesehatan, rumah sakit, obat-obatan, tenaga medis, dan sebagainya secara mandiri. Itu adalah tanggung jawabnya.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari).

Sebagai gambaran, Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam dan kepala negara setelah beliau, melaksanakan sendiri layanan kesehatan. Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam (sebagai kepala Negara Madinah) pernah mendatangkan dokter untuk mengobati Ubay. Ketika Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam mendapatkan hadiah dokter dari Raja Muqauqis, dokter tersebut Rasulullah jadikan sebagai dokter umum bagi masyarakat (HR Muslim).

Anas ra. menuturkan bahwa serombongan orang dari Kabilah ‘Urainah masuk Islam. Mereka jatuh sakit saat di Madinah. Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam selaku kepala negara meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba’. Mereka diperbolehkan minum air susunya secara gratis sampai sembuh (HR al-Bukhari dan Muslim).

Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah memanggil dokter untuk mengobati Aslam secara gratis (HR al-Hakim).
Semua itu merupakan dalil bahwa pelayanan kesehatan wajib dilakukan Negara dan bukan yang lain. Negara harus mandiri dan tidak bersandar maupun bekerjasama dengan pihak lain (swasta).

Pada masa penerapan Islam sebagai aturan kehidupan bernegara, hampir setiap daerah terdapat tenaga medis yang mumpuni. Negara tentu sangat memperhatikan penempatan tenaga ahli kesehatan di setiap daerah. Islam tidak membatasi kebolehan pasien menginap selama sakitnya sampai sembuh tanpa dipungut biaya sepeserpun.
 
Kompetensi Tenaga Medis

Sebagai bagian integral dari sistem kehidupan Islam secara keseluruhan dibangun atas fondasi yang kokoh dan benar untuk menjamin kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan tanggung jawab dan kewenangan penuh kepada Pemerintah untuk mengelola penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan, termasuk pendidikan kedokteran.  Tugas mulia ini tidak boleh dilalaikan sedikit pun. Apapun alasannya.

Sistem pendidikan Islam, termasuk pendidikan kedokteran, benar-benar sempurna pada tataran input, proses maupun output. Kebijakan sistem pendidikan bebas biaya. Kurikulum berdasarkan akidah Islam menjadi sebaik-baik jalan lahirnya para peserta didik pendidikan kedokteran, baik dari segi jumlah maupun kompetensi.

Pendidikan kedokteran bebas biaya. Kurikulum pendidikan kedokteran yang berdasarkan akidah Islam mampu melahirkan para dokter yang berkompeten.

Khilafah hanya akan menyelenggarakan pelayanan kesehatan di atas prinsip-prinsip pelayanan atau sosial dan sesuai  dengan etik kedokteran Islam. Para dokter yang jumlahnya memadai dengan kompetensi terbaik akan dipekerjakan pada institusi-institusi pelayanan kesehatan dalam negeri. Mereka digaji secara patut dan bertugas sesuai kapasitasnya

Kebijakan negara yang berorientasi pelayanan meniscayakan tersedianya fasilitas kesehatan, sarana prasarananya secara memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sistem sanksi Islam yang bersifat pencegah-penebus, atmosfir ketakwaan dan kesejahteraan yang melingkupi menjadikan sistem kesehatan benar-benar terjauh dari bahaya petaka malpraktek.
 
Demikian juga akselerasi riset dalam Islam, potensi intelektual muslim tidak boleh terbajak oleh kepentingan bisnis industri kesehatan. Kehidupan didesain untuk memberdayakan kehidupan manusia, bukan untuk menghidupkan mesin-mesin pemutar uang untuk industri kesehatan ala kapitalis. Kapitalisme telah gagal sebab menjadikan sumberdaya alam bahkan sumberdaya manusia sebagai aset bagi mekanisme putaran pasar atau uang semata.

Dalam model kesehatan Islam, intelektual para ahli di bidang kesehatan difungsikan untuk menginovasi produk-produk kesehatan termasuk obat agar negara mampu melayani seluruh rakyatnya dengan baik. Sekali lagi, ilmu terdedikasi bukan untuk bisnis industri global. Negara punya peran untuk mengurus kemaslahatan rakyat. Tidak semua hal harus dianggap berdasar kacamata bisnis.
Para ilmuwan Islam seperti al-Biruni, Ibnu Sina, dsb sebagai contoh dedikasi ilmu untuk kemaslahatan umat.

Dalam dunia kedokteran, ilmuwan Persia yang dikenal dengan nama Ibnu Sina atau Avicenna, menulis buku terkenal The Canon of Medicine. Ini merupakan buku teks standar yang diajarkan di berbagai universitas di seluruh dunia hingga abad ke-18. Melalui bukunya, Ibnu Sina memperkenalkan: sifat menular dari penyakit menular; penggunaan karantina untuk mencegah penyebaran infeksi; kondisi neuropsikiatri seperti epilepsy, stroke, dan dementia; gejala dan komplikasi diabetes; dan penggunaan uji klinis dalam obat eksperimental.

Kemajuan yang dicapai dalam dunia kedokteran adalah karena umat Islam mengikuti perintah Allah seperti yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah dalam menjaga urusan rakyat. Salah satu Hadis Nabi shalallahu alaihi wa Sallam yang terkenal berbunyi, “Tidak ada penyakit yang Allah telah ciptakan, kecuali bahwa Dia juga telah menciptakan pengobatannya.” (HR al-Bukhari).

Keberadaan obat untuk setiap penyakit dan menjaga urusan warga negara mendorong umat Islam untuk membuat kemajuan dalam penelitian medis sebagai dorongan keimanan dan ketakwaan.

Negara Islam akan menumbuhkan semangat rakyatnya untuk meningkatkan kapasitas diri. Di antaranya untuk memberi kontribusi bagi umat, juga melakukan opini publik tentang sistem kesehatan yang merawat dan melindungi kehidupan manusia. Negara mereposisi diri dengan menjalankan pola kehidupan masyarakat sesuai tuntunan Islam, sekaligus membuang pola kehidupan kapitalis dan komunis. Negara mengambil peran besar dalam pengelolaan riset dalam bidang kesehatan, yakni menjadikan arah riset didedikasikan bagi penduduk bumi.
 
Dalam konsep sistem kesehatan dalam Islam, Negara mengobati pasien penderita wabah secara gratis, profesional dan tidak mendasarkan pelayanan pada ‘kembalinya uang’. Negara justru diwajibkan oleh syariah untuk membantu mereka yang membutuhkan perawatan secara gratis, mengurus kebutuhan warganya dan memastikan bahwa seluruh warganya (baik Muslim maupun non-Muslim) hidup dengan mendapatkan jaminan makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan. Hal-hal semacam itu merupakan kewajiban umum (fardhu kifayah).

Beginilah gambaran kesehatan ideal yang diberlakukan Islam. Penanganan gratis, cepat dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat menjadikan penyakit tak dibiarkan bertahan lama ada pada masyarakat, apalagi virus yang sifat penyebarannya cepat melalui udara, dibutuhkan penanganan cepat dan memadai sehingga penyakit tak merata menjadi endemik dan pandemi.

Akhiri Perang Saudara di Sudan dengan Tegaknya Institusi Islam

Oleh: Djumriah Lina Johan
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Sudan menjadi topik hangat yang wajib untuk diikuti akhir-akhir ini. Dikutip dari Aljazirah, RSF yang berperang melawan militer Sudan untuk menguasai negara itu, menewaskan sedikitnya 1.500 orang selama tiga hari terakhir, ungkap Jaringan Dokter Sudan pada hari Rabu. Kelompok tersebut, yang memantau perang saudara di Sudan, menggambarkan situasi itu sebagai “genosida yang nyata”.

“Pembantaian yang disaksikan dunia saat ini merupakan perpanjangan dari apa yang terjadi di el-Fasher lebih dari satu setengah tahun lalu, ketika lebih dari 14.000 warga sipil terbunuh akibat pemboman, kelaparan, dan eksekusi di luar hukum,” kata kelompok Jaringan Dokter Sudan.

Serangan dilakukan sebagai bagian dari “kampanye pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja dan sistematis”. Pernyataan ini muncul ketika bukti baru pembunuhan massal di wilayah strategis tersebut muncul dari Humanitarian Research Lab (HRL) Yale, yang melaporkan bahwa citra satelit el-Fasher, yang diambil setelah RSF masuk, menunjukkan kumpulan objek yang sesuai dengan ukuran tubuh manusia. Serta area perubahan warna merah yang luas di tanah.

RSF telah terlibat dalam perang saudara berdarah dengan tentara Sudan sejak tahun 2023. Pasukan paramiliter menyerbu el-Fasher, benteng terakhir tentara di Darfur, pada hari Ahad setelah 17 bulan pengepungan.

Analisis

“Seorang pejabat diplomatik pada Kamis kemarin menegaskan bahwa negara-negara Kuartet (AS, Saudi, UEA dan Mesir) akan berkumpul pada hari ini di Washington dengan perwakilan dari Militer Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat untuk mendorong kedua pihak ke gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan. Ia mengatakan bahwa tujuannya adalah “menekan secara bersatu untuk mengokohkan gencatan senjata dan mengizinkan masuknya bantuan-bantuan kemanusiaan ke warga sipil” (al-‘Arabiya, 24/10/2025).

Ini bermakna bahwa bersamaan waktunya penyerbuan al-Fasyir oleh Pasukan Dukungan Cepat dan pengosongan Militer Sudan dari kota tersebut dengan pertemuan di Washington menunjukkan bahwa keputusan penyerahan kota strategis tersebut kepada Pasukan Dukungan Cepat telah diambil di Washington dan kedua belah pihak Sudan segera melaksanakannya.

Al-‘Arabiya pada 12/9/2025 mengutip dari pernyataan yang keluar dari pertemuan itu: “Dinyatakan di dalam pernyataan bersama: “dengan undangan dari Amerika Serikat, para menteri luar negeri Amerika Serikat, Mesir, Saudi dan UEA menggelar konsultasi mendalam mengenai konflik di Sudan, mengingat bahwa konflik tersebut telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia dan menimbulkan risiko serius bagi perdamaian dan keamanan regional. Para menteri menegaskan komitmen mereka terhadap seperangkat prinsip bersama untuk mengakhiri konflik di Sudan”.

Poin keempat pernyataan tersebut menyatakan: “Masa depan pemerintahan di Sudan akan ditentukan oleh rakyat Sudan melalui proses transisi yang inklusif dan transparan yang tidak tunduk kepada kendali pihak yang bertikai”.

Salah satu poin pernyataan tersebut juga menyatakan: “Segala upaya akan dilakukan untuk mendukung penyelesaian konflik melalui negosiasi dengan partisipasi efektif Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat”.

Dari teks pernyataan di atas menunjukkan pengakuan kepada kedua pihak yang bertikai di Sudan dan secara setara dan meminta keduanya untuk berpartisipasi. Artinya bahwa pernyataan tersebut tidak menunjuk kepada Pasukan Dukungan Cepat dengan sifatnya sebagai pasukan separatis dan pemberontak dan tidak menyerunya untuk menghentikan pemberontakannya secara khusus dan bahwa ia membentuk pemerintahan separatis untuk memecah belah Sudan. Hal itu berarti pengakuan Amerika atas kontrol Pasukan Dukungan Cepat dan eksistensi legalnya di wilayah Darfur dan kota terpentingnya, al-Fasyir.

Langkah selanjutnya dari rencana Amerika untuk Sudan, yaitu gencatan senjata, yang berarti menutup jalan sepenuhnya bagi Militer Sudan untuk merebut kembali al-Fasyir dan membuat kontrol Hamidati atas wilayah tersebut menjadi stabil dan tidak terganggu oleh bentrokan apa pun.

Amerika dengan hampir jelas dan tegas, melanjutkan rencananya dan mempercepat langkahnya untuk memecah belah Sudan dan memisahkan wilayah Darfur dari Sudan, sebagaimana sebelumnya telah memisahkan wilayah selatan Sudan.

Sungguh termasuk hal yang menyakitkan, Amerika kafir penjajah mampu mengatur perang yang menewaskan ribuan orang di Sudan dan menggunakan agen-agennya untuk menjalankan hal itu secara terbuka bukan secara rahasia, terangan-terangan bukan tersembunyi.

Al-Burhan dan Hamidati bertarung menggunakan darah warga Sudan bukan untuk apa-apa kecuali untuk melayani kepentingan-kepentingan Amerika yang mana Amerika ingin mengulangi pembagian Sudan seperti yang telah dilakukannya pada pemisahan Sudan selatan dari Sudan. Dan Amerika kafir penjajah sekarang mengerahkan segenap usaha dalam memisahkan Darfur dari Sudan yang masih tersisa.

Upaya yang dilakukan oleh Amerika di atas tidak terlepas dari Sudan yang memiliki signifikansi geopolitik yang sangat besar. Yakni, dibentuk oleh daratannya yang luas, sumber daya alam yang melimpah, dan lokasi di jantung beberapa jalur perdagangan dan politik paling vital di dunia.

Posisi geografis Sudan merupakan salah satu aset strategis terbesarnya. Yaitu, terletak di timur laut Afrika, Sudan berbatasan dengan tujuh negara, yakni Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Etiopia, dan Eritrea. Hal ini menjadikannya penghubung utama antara Afrika Utara, wilayah Sahel, dan Afrika Sub-Sahara.

Sudan juga memiliki garis pantai yang signifikan di sepanjang Laut Merah, tepat di seberang Jazirah Arab dan dekat Selat Bab al-Mandeb, salah satu titik kunci maritim paling penting di dunia.

Selat Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab, menjadikannya koridor vital bagi perdagangan internasional dan pengiriman minyak. Hampir 10% minyak dunia yang diangkut melalui laut melewati jalur sempit ini.

Kedekatan Sudan dengan jalur air ini menjadikannya sebagai lokasi yang strategis dan diinginkan bagi kekuatan-kekuatan global yang ingin menguasai rute laut dan logistik angkatan laut. Kendali atau aliansi dengan Sudan dapat memberikan pengaruh yang signifikan dalam mengelola keamanan Laut Merah dan arus perdagangan antara Asia, Eropa, dan Afrika.

Tidak hanya itu, Sudan kaya akan sumber daya alam (SDA) yang secara signifikan meningkatkan nilai geopolitiknya. Negara ini merupakan salah satu penghasil emas terbesar di Afrika dan kekayaan mineralnya meliputi kromium, mangan, seng, bijih besi, dan uranium.

Dengan demikian, wajarlah bila Amerika sebagai negara adidaya sangat bernafsu ingin menguasai Sudan melalui agen dan antek-anteknya. Dengan watak kapitalisme-nya, Amerika siap mengerahkan segala kekuatan dan dominasinya serta tentu dengan menghalalkan segala cara. Sebagaimana yang selalu ia lakukan, baik di Irak, Afghanistan, Palestina, maupun negara kaum muslimin lainnya.

Solusi Tuntas

Genosida di Darfur membuktikan bahwa sejak diruntuhkannya Khilafah Islam pada 1924, umat Islam terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara dan terus menjadi objek kekejaman. Solusi terbaik dan paripurna adalah menegakkan persatuan dan kepemimpinan global di bawah naungan Khilafah.

Khilafah bukan sekadar sistem politik, tapi perisai umat. Dengan khilafah, darah kaum Muslim dilindungi, kehormatan dan harta dijaga, serta hukum Allah ditegakkan secara sempurna.

Sebaliknya tanpa khilafah, negeri-negeri Islam hanyalah seperti tubuh tanpa kepala, seperti hidangan yang diperebutkan oleh kaum yang tamak dan rakus. Tanpa khilafah, umat Islam terus terombang-ambing bagaikan buih di lautan.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda dalam riwayat Ibnu Majah, “…. Jika para pemimpin mereka tidak memerintah berdasarkan Kitab Allah dan tidak mencari kebaikan dari apa yang diturunkan Allah, niscaya Allah akan menjadikan mereka berperang satu sama lain.” Wallahu a’lam bish shawab.

Digitalisasi Tanpa Landasan Syariah, Bumerang Bagi Umat

Oleh: Devi Ramaddani
Aktivis Muslimah

Maraknya modus penipuan berkedok aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) di Kalimantan Timur menjadi peringatan serius bagi masyarakat. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kaltim bahkan telah mengingatkan warga agar lebih waspada, sebab kasus serupa dilaporkan di berbagai daerah dengan pola yang sama. Fenomena ini menandakan bahwa di balik kemudahan digitalisasi, tersembunyi ancaman besar berupa kejahatan siber yang menyasar data dan identitas masyarakat. (Tribunkaltim, 31 Oktober 2025).

Di tengah era digitalisasi saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi membawa banyak manfaat dan kemudahan dalam kehidupan manusia. Segala urusan menjadi cepat dan efisien. Namun, ketika teknologi tidak dibangun di atas pijakan nilai yang sahih, ia dapat berubah menjadi alat kejahatan. Akibatnya, keberadaan teknologi yang seharusnya memberi manfaat justru membawa mudarat. Dunia maya kini menjadi ladang baru bagi penipuan, pencurian data, hingga penyalahgunaan informasi pribadi.

Kian maraknya kejahatan digital tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem kehidupan sekuler kapitalistik. Sekularisme menyingkirkan peran agama dari kehidupan, menjadikan manusia berorientasi hanya pada materi. Akibatnya, ukuran kebahagiaan adalah kepuasan jasmani, bukan ketenangan batin. Dari pola pikir inilah lahir manusia-manusia materialistis yang rela melakukan apa saja demi memperoleh harta, meskipun harus menipu atau merugikan orang lain.

Masyarakat sekuler kapitalistik menumbuhkan mental “asal untung” tanpa peduli halal-haram. Mereka menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang, termasuk mencuri data atau menipu lewat aplikasi digital. Kejahatan dunia maya yang kini makin masif adalah buah dari sistem yang rusak sistem yang meniadakan pengawasan Allah, menuhankan materi, dan memisahkan nilai agama dari aktivitas manusia.

Termasuk kasus kebocoran data pribadi yang mudah diretas menunjukkan lemahnya sistem perlindungan negara. Di satu sisi, pemerintah mendorong digitalisasi agar pelayanan publik lebih cepat dan mudah. Namun di sisi lain, negara gagal menjaga keamanan data rakyatnya. Akibatnya, justru masyarakat yang menjadi korban, sementara pelaku kejahatan terus berkembang di ruang digital tanpa pengawasan yang memadai.

Dalam pandangan Islam, data pribadi dan hal-hal yang bersifat privat wajib dilindungi oleh negara. Ini termasuk dalam kategori amanah yang tidak boleh disia-siakan. Negara Islam memiliki tanggung jawab untuk menjamin keamanan data, baik di dunia nyata maupun di ranah elektronik. Islam melarang keras segala bentuk pencurian atau penyalahgunaan data karena termasuk tindakan zhulm (kezaliman) yang mengancam kehormatan manusia.

Jika Islam dijadikan panduan dalam pengelolaan teknologi, maka keberadaannya akan membawa keberkahan dan kemaslahatan. Teknologi tidak hanya mempermudah urusan umat, tetapi juga menjadi sarana untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, memperkuat dakwah, dan menunjang kemajuan peradaban. Islam menjadikan teknologi sebagai alat bantu dalam pelayanan umat dan pengembangan ilmu, bukan sebagai alat eksploitasi.

Keamanan dan keberkahan dalam dunia digital hanya bisa terwujud dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh. Dalam Islam, penjagaan umat dilakukan melalui tiga pilar utama yaitu individu yang bertakwa dan takut melanggar syariat, negara yang menjalankan pemerintahan berdasarkan hukum Allah, serta masyarakat yang saling menasihati dalam kebaikan. Ketiganya membentuk sistem yang saling menopang untuk mewujudkan keamanan, keadilan, dan kejujuran, termasuk di dunia maya.

Oleh karena itu, maraknya penipuan dan kebocoran data bukan sekadar akibat lemahnya literasi digital, melainkan akibat dari sistem sekuler kapitalisme yang rapuh dan tidak berpijak pada nilai Ilahi. Selama sistem ini masih menjadi dasar kehidupan, teknologi akan terus menjadi pedang bermata dua tampak canggih di luar, namun melukai dari dalam. Hanya dengan kembali kepada Islam sebagai panduan hidup, umat akan mampu menjadikan teknologi sebagai sarana kemaslahatan dan kebangkitan peradaban yang benar-benar menebar rahmat bagi seluruh manusia. Wallahu a’lam

PBB: Satu Juta Warga Gaza Terima Bantuan Makanan, Akses Bantuan Masih Dibatasi Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (4/11) menyatakan telah mendistribusikan paket makanan kepada sekitar satu juta warga Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan, namun memperingatkan bahwa lembaga-lembaga kemanusiaan masih berlomba menyelamatkan nyawa di tengah pembatasan akses yang diberlakukan Israel.

Program Pangan Dunia (WFP) PBB mengatakan operasi mereka masih sangat terhambat oleh penutupan berkelanjutan Israel terhadap penyeberangan di wilayah utara Gaza, di mana jutaan warga terancam kelaparan.

“Tiga setengah minggu setelah gencatan senjata, kami telah menjangkau sekitar satu juta orang di seluruh Gaza,” kata Abeer Etefa, juru bicara WFP untuk Timur Tengah, dalam konferensi pers dari Kairo.

“Itu bagian dari operasi besar untuk mengatasi kelaparan di Gaza. Tetapi kami membutuhkan lebih banyak akses lebih banyak penyeberangan perbatasan yang dibuka dan izin melintasi jalan-jalan utama di dalam Jalur Gaza,” ujarnya.

Gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat antara Israel dan Hamas sejak 10 Oktober telah memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dalam jumlah terbatas. Namun, kelompok-kelompok bantuan internasional menilai volume bantuan tersebut masih jauh di bawah kebutuhan sebenarnya.

𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀

Etefa menjelaskan, WFP menargetkan 1,6 juta warga Gaza dengan paket bantuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga selama sepuluh hari. Hingga kini, baru 44 dari 145 titik distribusi yang direncanakan berhasil dibuka. WFP juga menyediakan roti segar setiap hari bagi 700.000 orang melalui 17 toko roti di berbagai wilayah Gaza.

Meski terdapat sedikit kemajuan, konsumsi pangan warga Gaza disebut masih “jauh di bawah tingkat sebelum perang.” Sebagian besar keluarga hanya bisa bertahan hidup dengan sereal dan kacang-kacangan, sementara daging, telur, dan sayuran hampir tidak tersedia.

Situasi diperparah dengan melonjaknya harga bahan pangan.

“Sekarang harga satu apel setara dengan satu kilogram apel sebelum perang,” kata juru bicara WFP lainnya, Nour Hammad.

WFP menegaskan bahwa mereka baru mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan pangan di Gaza. Truk-truk bantuan hanya dapat masuk melalui penyeberangan Karem Abu Salem dan Kissufim, yang menjadi titik kemacetan dan menghambat distribusi ke wilayah utara yang paling terdampak.

“Kami belum menerima penjelasan mengapa penyeberangan di utara masih ditutup,” ujar Etefa.

“Kebutuhannya sangat mendesak. Kami benar-benar sedang berlomba untuk menyelamatkan nyawa.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TRT

Menhan Sudan Tolak Usulan Gencatan Senjata AS, Tegaskan Perang Lawan RSF Akan Dilanjutkan

KHARTUM (jurnalislam.com)– Menteri Pertahanan Sudan, Hassan Kabroun, menegaskan bahwa militer Sudan akan terus memerangi Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meskipun Amerika Serikat mengajukan proposal gencatan senjata baru. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa (4/11), setelah Dewan Keamanan dan Pertahanan Sudan menggelar pertemuan di Khartum.

“Kami berterima kasih kepada pemerintahan Trump atas upaya dan proposalnya untuk mencapai perdamaian,” kata Kabroun dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.
Namun ia menegaskan, “Persiapan kami untuk perang adalah hak nasional yang sah. Rakyat Sudan sedang mempersiapkan pertempuran untuk membela negaranya.”

Pemerintah Sudan belum mengungkapkan rincian proposal gencatan senjata dari AS.

Perang antara militer dan RSF telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan warga mengungsi selama dua tahun terakhir. Dalam beberapa hari terakhir, konflik semakin meluas ke wilayah-wilayah baru, meningkatkan kekhawatiran akan bencana kemanusiaan yang lebih besar.

𝗔𝗦 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗸𝘂𝘁𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮

Pemerintahan Donald Trump kini berupaya menengahi konflik Sudan setelah sebelumnya terlibat dalam diplomasi di Afrika dan Timur Tengah. Namun, otoritas yang berafiliasi dengan militer Sudan menolak proposal gencatan senjata sebelumnya karena menganggapnya mengecualikan militer dan RSF dari proses politik transisi.

Diskusi terbaru ini muncul setelah RSF merebut kota strategis Al-Fasher, benteng terakhir tentara di wilayah Darfur.
Paramiliter pimpinan Hamdan Daglo (Hemeti) kini dilaporkan tengah mempersiapkan serangan ke wilayah Kordofan di bagian tengah Sudan.

Para pengungsi dari Al-Fasher menggambarkan kekejaman yang dilakukan oleh RSF.
Seorang warga, Mohamed Abdullah (56), mengatakan kepada AFP bahwa ia dan keluarganya dihadang RSF saat melarikan diri dari kota tersebut.

“Mereka meminta ponsel, uang, dan semua barang kami. Mereka menggeledah kami dengan brutal,” ujarnya.

Abdullah juga menyebut melihat “sesosok mayat di jalan yang tampak dimakan anjing” dalam perjalanan menuju Tawila, sekitar 70 kilometer dari Al-Fasher.

𝗟𝗶𝗴𝗮 𝗔𝗿𝗮𝗯 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗕𝗕 𝗦𝗲𝗿𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻

Utusan khusus Presiden Trump untuk Afrika, Massad Boulos, mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dan pejabat Liga Arab di Kairo. Dalam pertemuan itu, Abdelatty menekankan pentingnya “upaya bersama untuk mewujudkan gencatan senjata kemanusiaan dan membuka jalan bagi proses politik yang komprehensif.”

Liga Arab menyebut Boulos telah melaporkan kepada Sekjen Ahmed Aboul-Gheit tentang upaya diplomasi AS untuk menghentikan perang, mempercepat bantuan kemanusiaan, dan memulai proses politik.

Sebelumnya, kelompok Quad yang terdiri dari AS, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi telah menawarkan gencatan senjata tiga bulan pada September lalu, disusul rencana transisi sembilan bulan menuju pemerintahan sipil. Namun, rencana itu ditolak oleh pihak militer Sudan.

𝗗𝘂𝗴𝗮𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗷𝗮𝗵𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗔𝗹-𝗙𝗮𝘀𝗵𝗲𝗿

Sejak jatuhnya Al-Fasher ke tangan RSF, berbagai laporan muncul tentang pembunuhan massal, kekerasan seksual, penjarahan, dan penculikan.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada Senin (3/11) menyampaikan “keprihatinan mendalam” atas laporan tersebut dan menyebut tindakan itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam forum di Qatar, menyerukan kepada kedua pihak untuk segera “mengakhiri mimpi buruk kekerasan ini.”

“Krisis mengerikan di Sudan semakin di luar kendali,” ujar Guterres.

Di ibu kota Khartum, yang berada di bawah kendali militer Sudan, ratusan warga menggelar aksi protes pada Senin (3/11) menentang kekejaman RSF. Sejumlah anak-anak terlihat membawa spanduk bertuliskan:
“Jangan bunuh anak-anak, jangan bunuh perempuan.”

Spanduk lain berbunyi: “Milisi membunuh perempuan Al-Fasher tanpa ampun.”

UEA sebelumnya dituduh oleh PBB memasok senjata kepada RSF, tuduhan yang berulang kali dibantah.
Sementara itu, militer Sudan diketahui mendapat dukungan dari Mesir, Arab Saudi, Turki, dan Iran, menurut para pengamat.

Kejatuhan Al-Fasher menandai dominasi penuh RSF atas lima ibu kota wilayah Darfur, memperkuat kekhawatiran bahwa Sudan kini terbelah dua secara de facto:
RSF menguasai Darfur dan bagian selatan, sementara tentara mengendalikan wilayah utara, timur, dan tengah di sepanjang Sungai Nil serta Laut Merah. (Bahry)

Sumber: TNA

RSF Serang Rumah Sakit Anak di Darfur Utara, Tujuh Orang Tewas

SUDAN (jurnalislam.com)– Pasukan Dukungan Cepat (RSF) menyerang sebuah rumah sakit anak di kota Karnoi, Darfur Utara, pada Senin (3/11), di tengah meningkatnya pertempuran antara kelompok paramiliter tersebut dan angkatan bersenjata Sudan.

Menurut Jaringan Dokter Sudan, sedikitnya tujuh orang tewas dalam serangan itu, sementara rumah sakit mengalami kerusakan parah. Korban tewas dilaporkan merupakan perempuan dan anak-anak, berdasarkan keterangan saksi mata serta laporan jaringan tersebut.

Sebuah video yang disiarkan oleh Al Jazeera memperlihatkan darah berceceran di lantai rumah sakit, dinding berlubang akibat peluru, dan peralatan medis yang hancur. Sedikitnya lima orang terluka, termasuk dua anak yang tengah dirawat saat serangan terjadi.

Dalam pernyataan resminya, Jaringan Dokter Sudan mengecam tindakan itu sebagai kejahatan perang, menyebutnya sebagai “teror sistematis dan serangan brutal terhadap kehidupan itu sendiri.”

“Apa yang terjadi di Karnoi adalah kejahatan perang yang menggambarkan luasnya pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa yang kini menjadi sasaran tembak harian RSF,” tegas jaringan tersebut.

RSF juga dilaporkan menyerang wilayah Al-Tina dekat Karnoi, yang saat ini berada di bawah kendali tentara Sudan.

Pasukan paramiliter pimpinan Hamdan Daglo (Hemeti) kini menguasai sebagian besar wilayah selatan dan tengah Sudan, termasuk Al-Fasher, Nyala, Al Geneina, Ad Daein, dan Zalingei lima ibu kota provinsi di kawasan Darfur.

Konflik di Sudan meletus sejak April 2023 akibat perebutan kekuasaan antara Daglo dan panglima militer Sudan, Abdul Fattah al-Burhan. Sejak itu, berbagai laporan menunjukkan maraknya kejahatan perang, kekerasan seksual, kelaparan, dan krisis kemanusiaan di berbagai wilayah.

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗹𝘂𝗮𝘀 𝗸𝗲 𝗞𝗼𝗿𝗱𝗼𝗳𝗮𝗻

Pertempuran terbaru juga terjadi di wilayah Kordofan, termasuk kota Al-Obeid, ibu kota negara bagian Kordofan Utara. Sedikitnya 40 warga sipil tewas dalam serangan RSF di Al-Luweib, sebelah timur Al-Obeid, pada hari yang sama.

Menurut media Al-Araby Al-Jadeed (The New Arab), RSF mengerahkan tambahan pasukan dari Darfur untuk memperkuat serangan ke Al-Obeid dan sekitarnya. Kota Bara, yang berjarak 30 km di utara Al-Obeid, juga dilaporkan dalam kepungan.

Wartawan Majed Ali mengatakan kepada Al-Araby Al-Jadeed bahwa RSF berupaya memperluas pijakan di Kordofan guna menciptakan “zona penyangga terhadap Darfur” yang kini dikuasai penuh oleh mereka setelah merebut Al-Fasher pekan lalu.

Namun, ia menilai Al-Obeid akan sulit direbut karena di kota itu terdapat pangkalan militer besar serta markas Divisi Infanteri ke-5 milik tentara Sudan.

𝗣𝗕𝗕 𝗡𝘆𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝘂𝗿𝗮𝘁 𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻

Sementara itu, PBB pada Senin (3/11) menyatakan darurat kelaparan di Al-Fasher (Darfur Utara) dan Kadugli (Kordofan Selatan).

Laporan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) menyebutkan bahwa kelaparan kemungkinan berlanjut hingga Januari 2026 akibat blokade, pertempuran sengit, dan terhambatnya akses bantuan kemanusiaan.

Sedikitnya 21,2 juta warga Sudan, atau sekitar 45 persen populasi, kini mengalami kerawanan pangan akut akibat kenaikan harga bahan pokok, konflik, dan pengungsian massal. (Bahry)

Sumber: TNA

UBN: Tragedi Sudan Lebih Dahsyat dari Gaza, Rakyat Sipil Jadi Korban Utama

JAKARTA (jurnalislam.com)— Ulama nasional sekaligus Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menyoroti krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Sudan. Ia menyebut, apa yang terjadi di negara tersebut lebih parah dibandingkan tragedi di Gaza, Palestina.

“Apa yang terjadi di Sudan ini lebih dahsyat dari Gaza. Di Gaza yang terbunuh hingga hari ini sekitar 70 ribu orang. Di Sudan, hanya dalam beberapa hari, sudah 150 ribu pembantaian,” ujar UBN dalam Kuliah Semangat Pagi di kanal YouTube Bachtiar Nasir, Selasa (4/11/2025).

UBN menyebut, konflik di Sudan merupakan perang saudara antara dua faksi militer, yakni Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF). Menurutnya, situasi kini makin mengerikan karena sebagian besar korban adalah warga sipil tak bersenjata.

“Pembunuhan kejam terjadi, rakyat sipil ditembaki. Fasilitas kesehatan lebih dari 80 persen tidak berfungsi. Ini lebih parah dari Gaza. Konflik terkini terpusat di Darfur,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, RSF saat ini menguasai hampir seluruh wilayah Darfur, termasuk kota El Fasher yang baru direbut, sementara SAF mengendalikan wilayah utara dan timur, termasuk Port Sudan dan Laut Merah dengan dukungan asing.

UBN menilai, konflik tersebut telah menjelma menjadi proxy war atau perang perpanjangan kepentingan asing di kawasan tanduk Afrika dan Laut Merah.

“Yang berkepentingan sudah orang luar. Ada intervensi negara-negara yang memiliki kepentingan strategis, baik ekonomi maupun ideologi. Inilah yang memperpanjang konflik,” jelasnya.

Menurutnya, akar masalah konflik Sudan berawal dari ketidakstabilan politik, kudeta militer, serta perselisihan etnis dan ekonomi yang tak terselesaikan.

“Semoga Indonesia bisa belajar dari kesalahan ini. Inilah bahayanya kalau syahwat hawa nafsu memegang senjata dan memimpin negara. Akibatnya, rakyat yang menjadi korban,” tegas UBN.

UBN berpesan dengan seruan moral bagi umat Islam untuk peduli terhadap penderitaan sesama.

“Sayangilah yang di bumi, maka kamu akan disayangi yang di langit. Begitulah seharusnya seorang muslim, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” ujarnya.

Perluas Kerja Sama Bidang Pendidikan, UIN Jakarta Sambut Kunjungan Menteri Wakaf Suriah

CIPUTAT (jurnalislam.com)– Sejalan dengan program internasionalisasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus memperluas jejaring kerja sama global dengan berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan dunia. Salah satunya, penjajakan kerjasama bidang pendidikan dan keagamaan dengan institusi pendidikan dan pemerintahan Republik Arab Suriah yang ditandai dengan kunjungan kehormatan Menteri Wakaf Republik Arab Suriah, H.E. Dr. Muhammad Abu al-Khair Shukri, ke kampus UIN Jakarta, Jumat (31/10/2025).

Dalam kunjungan ini, baik perwakilan pemerintahan Republiki Arab Suriah dan UIN Jakarta menjajaki peluang kolaborasi, khususnya dalam bidang pertukaran pelajar, tenaga pendidik, dan pengembangan keilmuan Islam. Dalam kunjungan ini, Menteir Wakaf didampingi Mufti Damaskus Mr. Abdul Fattah al-Bazm, serta sejumlah pimpinan fakultas dan pejabat universitas Syuriah.

Kunjungan sendiri diterima langsung Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. yang didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A. dan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Din Wahid M.A. Ph.D. Hadir juga pimpinan fakultas dan lembaga di lingkungan UIN Jakarta.

Dalam sambutannya, Rektor Prof. Asep Saepudin Jahar menyampaikan apresiasi dan rasa hormat atas kunjungan tersebut. Menurutnya, UIN Jakarta sangat terbuka untuk bekerjasama dengan badan pemerintahan dan perguruan tinggi Suriah yang disebutkannya akan memberikan manfaat besar bagi penguatan akademik, keilmuan, dan budaya antarnegara.

“Suriah merupakan salahsatu negara Arab dan tentu saja memiliki keunggulan dalam pengajaran bahasa Arab. Melalui kerja sama ini, kita dapat mengembangkan program pertukaran dosen dan mahasiswa, serta membuka peluang student mobility ke Suriah. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Suriah, termasuk dalam penguatan ilmu-ilmu keislaman dan pengelolaan pendidikan tinggi,” jelas Rektor.

Rektor menambahkan bahwa kunjungan ini merupakan kesempatan berharga yang penuh makna dan dilaksanakan dengan rasa hormat yang tinggi. “Kami berpartisipasi dengan sepenuh hati, ini adalah kunjungan yang sangat mulia dan penuh keberkahan di dunia,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Wakaf Suriah H.E. Dr. Muhammad Abu al-Khair Shukri mengungkapkan, kunjungan ini bertujuan memperkuat hubungan keilmuan dan keagamaan antara Kementerian Wakaf Republik Arab Suriah dan Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya melalui kemitraan dengan UIN Jakarta.

“Kami sangat senang dapat membuka kembali kerja sama ilmiah dan budaya antara universitas-universitas di Syam dan universitas-universitas di Indonesia. Kami berharap mahasiswa dari Indonesia dapat belajar di Damaskus dan menimba ilmu-ilmu keislaman dari para ulama besar di negeri Syam,” ujarnya.

Menambahkan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Din Wahid, M.A. menyampaikan bahwa UIN Jakarta siap menindaklanjuti kunjungan ini melalui penjajakan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) antara kedua institusi.

“Kami akan segera menyiapkan langkah konkret untuk memperkuat kerja sama ini, baik dalam bidang pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, maupun program penguatan bahasa Arab dan studi Islam. Ini menjadi bagian dari komitmen UIN Jakarta dalam memperluas kerja sama global,” terangnya.

Diketahui, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah menjalin berbagai kerja sama internasional dengan perguruan tinggi ternama di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, pengembangan kurikulum, serta peningkatan kapasitas akademik dan kelembagaan.

RSF Hancurkan Dapur Umum dan Rumah Sakit, El-Fasher di Ambang Kelaparan dan Kematian Massal

EL-FASHER (jurnalislam.com)— Kota El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, Sudan, kini menghadapi bencana kemanusiaan setelah pasukan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) menghancurkan dapur umum, menjarah rumah sakit, dan memutus akses keluar dari kota.

Penduduk dan pekerja kemanusiaan menggambarkan El-Fasher sebagai “kota hantu”. Warga sipil terjebak tanpa makanan, obat-obatan, maupun jalur aman, sementara pasukan RSF melakukan penjarahan dan kekerasan brutal terhadap penduduk.

“Kami menghadapi penyiksaan, kelaparan, dan pembunuhan. Bahkan gerobak keledai yang digunakan anak-anak dan lansia dihancurkan agar mereka tak bisa melarikan diri,” kata seorang pengungsi yang berhasil tiba di kota Tawila kepada The New Arab, Senin (3/11).

Menurut warga, milisi RSF menargetkan tekaya, yakni dapur amal yang selama ini menyediakan makanan bagi masyarakat miskin.

“Setelah RSF masuk, mereka menghancurkan semua fasilitas dan membunuh banyak pekerja. Mereka ingin warga mati kelaparan,” ujar Mohammad Othman, pengelola salah satu dapur amal.

Seorang ibu bernama Sit al-Nafr Mahmoud yang melarikan diri pekan lalu mengatakan El-Fasher kini lumpuh total.

“Air tidak mengalir, dapur umum dan pasar lenyap, rumah dijarah. Hidup menjadi tak tertahankan, terutama bagi anak-anak dan lansia,” ungkapnya.

Beberapa saksi mata juga menuturkan praktik pemerasan dan pelecehan oleh anggota RSF. Warga yang ingin keluar dari kota dipaksa membayar jutaan pound Sudan. Mereka yang tak mampu membayar ditahan, disiksa, atau bahkan dibunuh.

“Mereka menelanjangi perempuan untuk mencari uang dan emas,” kata Aisha Ismail, salah satu penyintas. “Beberapa perempuan terpaksa ditinggalkan agar yang lain bisa melarikan diri.”

Seorang pejabat kesehatan yang berhasil melarikan diri menyebut seluruh rumah sakit dan klinik di El-Fasher telah dijarah atau dibakar.

“Obat-obatan dicuri, apotek dibakar, dan pasien dibunuh dengan alasan mereka tentara,” ujarnya. “Kota ini runtuh. Orang-orang mati karena kelaparan dan penyakit.”

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan masuknya pasukan RSF ke El-Fasher memicu “kepanikan massal” di antara penduduk yang telah terperangkap lebih dari 500 hari. Sekitar 260.000 orang dilaporkan kembali mengungsi.

Sementara itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut lebih dari 1.500 orang mengungsi dari Kordofan Utara dan Selatan dalam sepekan terakhir akibat kekerasan RSF.

Akses bantuan kemanusiaan ke Darfur hampir mustahil dilakukan. Persediaan medis sebanyak 15 ton dilaporkan tertahan karena pembatasan keamanan dan birokrasi.

“Orang-orang makan daun untuk bertahan hidup. Tidak ada obat-obatan, tidak ada makanan,” kata seorang jurnalis pengungsi di Tawila.

PBB memperingatkan bahwa tanpa akses kemanusiaan segera, ribuan warga Darfur dapat tewas akibat kelaparan dan penyakit dalam beberapa pekan ke depan. (Bahry)

Sumber: TNA