Berita Terkini

AICIS Diharap Dorong Islam Jadi Inspirasi Membangun Peradaban

BALI(Jurnalislam.com)— Annual International Conference On Islamic Studies (AICIS) ke-21 tahun 2022 di Bali ditutup Wakil Menteri Agama Zainud Tauhid Sa’adi. Even tahunan ini telah menghasilkan sejumlah kesepakatan, antara lain pentingnya kontekstualisasi nilai-nilai dasar universal untuk kehidupan damai di masa depan.

“Saya harap AICIS tidak hanya melahirkan sebuah deklarasi formalitas belaka, namun diikuti dengan aksi dan tindakan nyata yang dapat menyentuh aspek kemaslahatan dan kedamaian untuk umat manusia,” pesan Wamenag di Bali, Kamis (3/11/2022) malam.

“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Karena agama bukanlah aspirasi semata, melainkan inspirasi mulia untuk membangun peradaban dunia,” sambungnya.

Menurutnya, Kementrian agama memiliki tugas dan tanggungjawab untuk memajukan kehidupan beragama di Indonesia. Dengan berbagai pengalaman beragama yang dimiliki, Indonesia telah menjadi sorotan dunia Islam dalam berbagai aspeknya. Bahkan, Samuel Huntington pernah meyakini bahwa kebangkitan dunia Islam akan lahir dari Asia Tenggara. Dan itu adalah Indonesia.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bahwa Indonesia ini menjadi laboratoriun dalam Islamic Studies dengan kompleksitas yang terjadi di dalamnya.

“Kementerian Agama yang menjadi leading sektor Studi Islam di Indonesia, menjadi institusi yang memiliki momemtum dalam mempromosikan hasil-hasil kajian Islam kepada masyarakat dunia,” jelasnya.

— Annual International Conference On Islamic Studies (AICIS) ke-21 tahun 2022 di Bali ditutup Wakil Menteri Agama Zainud Tauhid Sa’adi. Even tahunan ini telah menghasilkan sejumlah kesepakatan, antara lain pentingnya kontekstualisasi nilai-nilai dasar universal untuk kehidupan damai di masa depan.

“Saya harap AICIS tidak hanya melahirkan sebuah deklarasi formalitas belaka, namun diikuti dengan aksi dan tindakan nyata yang dapat menyentuh aspek kemaslahatan dan kedamaian untuk umat manusia,” pesan Wamenag di Bali, Kamis (3/11/2022) malam.

“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Karena agama bukanlah aspirasi semata, melainkan inspirasi mulia untuk membangun peradaban dunia,” sambungnya.

Menurutnya, Kementrian agama memiliki tugas dan tanggungjawab untuk memajukan kehidupan beragama di Indonesia. Dengan berbagai pengalaman beragama yang dimiliki, Indonesia telah menjadi sorotan dunia Islam dalam berbagai aspeknya. Bahkan, Samuel Huntington pernah meyakini bahwa kebangkitan dunia Islam akan lahir dari Asia Tenggara. Dan itu adalah Indonesia.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya bahwa Indonesia ini menjadi laboratoriun dalam Islamic Studies dengan kompleksitas yang terjadi di dalamnya.

“Kementerian Agama yang menjadi leading sektor Studi Islam di Indonesia, menjadi institusi yang memiliki momemtum dalam mempromosikan hasil-hasil kajian Islam kepada masyarakat dunia,” jelasnya.

 

Siswa Madrasah Raih Medali Emas di Kompetisi Sains Internasional

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan meraih medali emas International Science and Invention Fair (ISIF) 2022. Ajang ini diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali, 1 – 4 November 2022.

Even ini diikuti 112 peserta dari 32 negara, di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Korea, Kazakhstan, India, hingga Turki.

Siswa MAN 1 Medan menampilkan karya inovasi bertajuk “Smart Weather Prediction (Alat Bantu Prediksi Cuaca).” Inovasi ini diuji dan dipresentasikan di hadapan dewan juri dan seluruh partisipan. Selain medali emas, Siswa MAN 1 Medan juga memperoleh Special Award berupa Semi Grandprize dari Iran.

“Selamat atas predikat juara yang diraih siswa MAN 1 Medan. Semoga prestasi ini menjadi motivasi untuk terus berprestasi dan juga memotivasi madrasah lainnya untuk berprestasi di berbagai ajang perlombaan,” ucap Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani di Jakarta, Senin (07/11/2022)

Ali Ramdhani juga menyampaikan terima kasih karena MAN 1 Medan telah mengharumkan nama negara, sekaligus menunjukkan eksistensi madrasah di tingkat internasional.

Hal senada juga disampaikan Direktur Kurikulum, Saraa, Kelembagaa dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Moh Isom Yusqi. Menurutnya, capaian siswa MAN 1 Medan merupakan prestasi yang membanggakan. “Apalagi, ajang ini bersifat international yang diikuti banyak peserta dari negara lain. Kami berharap madrasah semakin kompetitif, berdaya saing tinggi dan siap melahirkan talenta-talenta berprestasi untuk negara tercinta,” ujar Isom.

Kepala MAN 1 Medan Reza Faisal menjelaskan bahwa untuk mengikuti ajang ini, siswanya melakukan persiapan selama tiga bulan. Ada lima siswa yang terlibat dalam membuat karya inovasi ini, yaitu: Ahmad Surya Anshari, Nabila Rizki Matondang, Aisyah Noor Hakim, Nabila Putri Ammar Hasibuan dan Siti Viola Mayandrie.

“Kami sangat bersyukur dengan prestasi yang membanggakan ini, dan ini tentunya tidak lepas dari kerja keras anak-anak, bimbingan juga dukungan semua pihak, khususnya dari Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumut, Abdul Amri Siregar, Kepala Bidang Penmad Erwin Pinayungan Dasopang, serta doa guru dan orang tua,” tutur Reza.

Panitia pelaksana yang juga Wakil Rektor III Undiksha I Wayan Suastra menjelaskan, ISIF adalah kompetisi berlevel internasional yang dibalut dengan pameran. Para peserta melakukan presentasi di stan masing-masing. Undiksha menyiapkan 120 stan untuk pameran peserta ISIF.

“Ada 607 tim yang mengikuti ISIF secara daring dan luring. Dari jumlah tersebut, ada 112 tim yang datang secara luring dengan berisikan tiga hingga lima orang. Peserta berasal dari 32 negara yang mendaftar,” ujar Suastra.

Pada ajang internasional ini, seluruh peserta wajib melakukan presentasi atas karya inovasi yang mereka rancang dalam Bahasa Inggris. “Setiap peserta diberikan waktu presentasi sebanyak 15 menit, meliputi tujug menit presentasi dan delapan menit sesi tanya jawab,” ungkap Ahmad Zaki Mubarak selaku pelatih dan pembimbing riset.

“Siswa wajib meningkatkan skill berbicara dalam Bahasa Inggris. Presentasi yang baik dalam Bahasa Inggris mutlak harus dikuasai untuk menjelaskan kepada juri yang berasal dari India dan peserta lainnya dari berbagai negara,” jelas Zaki.

Gerhana Bulan 8 November, Umat Islam Diserukan Shalat Gerhana

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Gerhana Bulan atau khusuful qamar diprediksi akan kembali terjadi pada 8 November 2022. Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin menjelaskan bahwa berdasarkan data astronomis, Gerhana Bulan Total (GBT) akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

“Insya Allah, pada 8 November 2022, akan terjadi Gerhana Bulan Total di seluruh wilayah Indonesia,” terang Kamaruddin Amin di Jakarta, Jumat (4/11/2022).

Menurutnya, Gerhana Bulan Total di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu dapat dilihat pada kontak Umbra 3 (U3) pukul 18:42 WIB. Sementara masyarakat di Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat, dapat melihat GBT pada waktu puncak gerhana, yakni 17:59 WIB.

Untuk wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, GBT dapat dilihat pada kontak Umbra 2 (U2) pukul 17:16 WIB/18:16 WITA/19:16 WIT.

“Masyarakat Papua dan Papua Barat dapat melihat Gerhana Bulan Total pada kontak Umbra 1 (U1) pukul 18:08 WIT,” jelasnya.

Kamaruddin Amin mengajak umat Islam untuk melaksanakan Salat Gerhana atau Salat Khusuf. Ditjen Bimas Islam telah menerbitkan seruan kepada para Kepala Kanwil Kemenag agar menginstruksikan Kepala Bidang Urusan Agama Islam/Kepala Bidang Bimas Islam/Pembimbing Syariah, Kepala Kemenag Kabupaten/Kota, dan Kepala KUA untuk bersama para ulama, pimpinan ormas Islam, imam masjid, aparatur pemerintah daerah dan masyarakat untuk melaksanakan Shalat Gerhana Bulan di wilayahnya masing-masing.

“Pelaksanaan shalat gerhana disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing,” katanya.

“Kami juga mengimbau masyarakat memperbanyak zikir, istighfar, sedekah dan amal saleh lainnya, serta mendoakan kesejahteraan dan kemajuan bangsa,” sambungnya.

Adapun tatacara Salat Gerhana Bulan adalah sebagai berikut:
a. Berniat di dalam hati;
b. Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa;
c. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: “Nabi Saw. menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.”(HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901);

d. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya;
e. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”;
f. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama;
g. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;

h. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal);
i. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali;
j. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya;
k. Salam.

Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, bersedekah.

Pertumbuhan Bank Syariah Capai 9 %, Konvensional 91 %

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi, mengajak ulama dan para dai untuk meningkatkan literasi keuangan syariah melalui jalur dakwah. Hal itu dia sampaikan saat mengisi kegiatan Standaridasi Da’i ke-17 Komisi Dakwah MUI.

Menurutnya, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, literasi keuangan syariah di Indonesia terbilang minim yaitu sebesar 8,93 persen. Itu berarti hanya Sembilan dari serratus orang dewasa Indonesia yang mengenal produk keuangan syariah dengan baik.

“Padahal Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Data Dukcapil Kemendagri pada Juni 2021 mengatakan jumlah penduduk Indonesia adalah 272,23 jiwa. Sekitar 86,88 persen atau sebanyak 236,53 juta jiwa adalah muslim, ” ujarnya Senin (31/10) di Wisma Mandiri, Jakarta.

Selain perbandingan jumlah muslim dan perkembangan bank syariah yang jomplang, Hery juga membandingkan dengan perkembangan bank konvensional yang drastis. Dia mengatakan, pertumbuhan bank syariah hanya 9,17 persen sementara bank konvensional yang bagus tumbuh sampai 91 persen.

Karena itu, dia berharap dai yang mulai mengangkat tema keuangan syariah bisa semakin mendorong pertumbuhan bank syariah di Indonesia.

Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi, menambahkan tujuan literasi keuangan syariah adalah memahamkan masyarakat mengenai manfaatnya. Maka, peran dai yang dikenal dekat dengan umat sangat efektif dalam mendorong gerakan literasi ini. Komisi Dakwah sendiri dalam beberapa kegiatan juga kerap menggandeng lembaga keuangan baik itu asuransi maupun pegadaian.

“Komisi Dakwah MUI sejak lama bekerjsama dengan lembaga keuangan syariah dalam meliterasikan keuangan syariah. Kami sadar perkembangan ekonomi syariah di satu sisi lumayan bagus namun dibandingkan perkembangan bank konvensional, masih sangat jauh tertinggal, ” ungkapnya.

 

Panduan EcoMasjid Akan Segera Disusun

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama tengah siapkan panduan pembentukan komunitas Eco-Masjid. Yaitu, mereka yang berkomitmen pada masjid hijau, melalui penanaman pohon di sekeling masjid, pengaturan ulang penggunaan air wudhu, pengelolaan sampah organik di lingkungan masjid, dan penggunaan tenaga surya pada masjid.

“Gerakan ini merupakan bagian dari kampanye Peduli Bumi yang menginginkan masjid sebagai cerminan rahmatan li alamin,” terang Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi saat memberikan sambutan pada Konferensi Nasional Masjid Ramah Lingkungan di Jakarta, Kamis (3/11/2022).

Konferensi ini diselenggarakan oleh Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI Pusat. Wamenag menilai kampanye Masjid Hijau di Indonesia masih menjadi isu elitis, belum menjadi gerakan yang massif dan populis.

Padahal, ide masjid ramah lingkungan bukanlah hal baru. Meskipun perubahan iklim bukan menjadi perhatian utama dalam sejarah awal Islam, namun masjid-masjid di era awal Islam semuanya dapat dianggap sebagai masjid ramah lingkungan.

Islam, kata Wamenag, punya alasan yang sangat kuat untuk mendukung upaya penyelesaian masalah lingkungan. Di samping karena melimpahnya ayat Al-Qur’an yang mengandung aksioma moral tentang pelestarian alam, historisitas Islam di masa awal juga menunjukkan keberpihakan itu.

“Masjid Nabawi yang menjadi pusat penyebaran ajaran Islam, misalnya, dibangun Rasulullah dari bahan-bahan lokal yang ramah lingkungan. Seperti yang diungkapkan gerakan global Ummah for Earth, sumber-sumber bangunan masjid Rasulullah itu memenuhi syarat-syarat metode berkelanjutan,” jelas Wamenag.

Saat ini, di beberapa negara juga sudah mulai melakukan kebijakan untuk menerapkan eco-Masjid, eco-friendly atau go green atau “Masjid Hijau”. Misalnya di Turki, Maroko, Chicago Amerika Serikat, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Paris-Perancis.

Misalnya di Maroko, sebut Wamenag, sudah mulai mengarusutamakan agenda proyek “Masjid Hijau”. Negara itu menginisiasi modifikasi desain panel surya dan LED ke dalam 600-an masjid. Dengan proyek itu, pada 2030 Maroko menargetkan untuk tidak mengimpor energinya, melainkan memproduksi 52% energi yang dihasilkan dengan sumber-sumber tebarukan.

“Bahkan Masjid Jami’a al-Kutubiyya di Marakesh yang dibangun pada abad ke-12, dengan penambahan panel surya, telah menjadi masjid energi-plus atau berhasil menciptakan lebih banyak energi dibandingkan mengonsumsinya,” paparnya.

Di Indonesia sendiri sejatinya sudah memiliki percontohan masjid hijau, seperti Masjid Istiqlal dan Masjid Raya Pondok Indah. Masjid Istiqlal Jakarta menjadi masjid pertama di dunia yang meraih sertifikat Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) sebagai rumah ibadah dengan bangunan ramah lingkungan atau green building. Masjid Istiqlal diberikan sertifikat EDGE karena telah dilakukan renovasi di beberapa bagian dengan konsep ramah lingkungan yang terbukti menurunkan jejak karbon secara signifikan.

Pelesteraian Lingkungan sebagai Basis Peradaban Pembahasan mengenai integrasi masjid terhadap lingkungan sudah saatnya dijadikan isu sentral peradaban. Untuk menjadikan gerakan yang massif dan populis, setidaknya ada dua faktor yang perlu dilakukan. Pertama, aspek kebudayaan yang menjadi basis inspirasi. Kedua peran negara melakukan objektivikasi terhadap kebudayaan tersebut.

“Kementerian Agama terus mendorong dan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk membudayakan hidup bersih melalui gerakan eco-Masjid. Sosialisasi dan edukasi tersebut dilakukan kepada ormas keagamaan, pondok pesantren, lembaga pendidikan maupun komunitas keagamaan untuk menjadi pelopor dalam melestarikan lingkungan berbasis masjid,” ujar Wamenag.

“Hal tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti seminar, FGD, perlombaan, lokakarya dan pelatihan-pelatihan kepada Dewan Kemakmuran Masjid untuk menciptakan lingkungan masjid yang hijau dan ramah polusi,” sambungnya.

Kementerian Agama, kata Wamenag, memberikan apresiasi kepada kelompok masyarakat yang membuat gerakan ecoMasjid yang berbasis pemberdayaan masjid untuk pelestarian lingkungan hidup. Misalnya gerakan masyarakat menghimpun 206 masjid untuk dijadikan ecoMasjid. Meski jumlahnya masih terbilang sedikit dibandingkan 741.991 masjid yang terdata, namun gerakan tersebut memiliki dampak positif bagi pengurus masjid yang lain, untuk meniru dan mengembangkan di lingkungannya.

“Gerakan ecoMasjid menginisiasi banyak inovasi seperti embung desa, kompor biomasa, tungku bakar sampah tanpa asap, penyediaan air bersih desa dari pengelolaan air wudhu, dan listrik surya. Salah satu inovasi mereka 300 Keran Hemat Air yang menekan penggunaan air hingga 50%, dan masih banyak inovasi yang lain,” terangnya.

Terakhir, Wamenag berpandangan bahwa krisis lingkungan hidup dengan berbagai manisfestasinya seperti perubahan iklim dan pemanasan global, sejatinya adalah krisis moral. Karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subjek dalam kehidupan semesta. Penanggulangan terhadap masalah lingkungan dan perubahan iklim haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan melalui kolaborasi lintas agama, dan perlu dimulai dari rumah ibadah masing-masing.

“Keberhasilan menciptakan rumah ibadah yang ramah lingkungan adalah penjelmaan dari hati bersih dan pikiran jernih umat beragama dan merupakan titik-tolak upaya menciptakan negeri yang asri, nyaman, aman sentosa,” tandasnya.

Ini Tiga Rekomendasi Utama Konferensi Masjid Ramah Lingkungan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Konferensi Nasional Masjid Ramah Lingkungan 2022 yang digelar Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup & Sumber Daya Alam (LPLH & SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghasilkan tiga rekomendasi.

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH-SDA) MUI, Hayu Prabowo, menuturkan ketiga rekomendasi tersebut yaitu pembuatan fatwa mengenai lingkungan hidup, implementasi fatwa, dan pendanaan.

“Sebenarnya ada beberapa fatwa terkait lingkungan hidup, seperti fatwa pengelolaan sampah, pelestarian satwa, hingga sanitasi air,” jelas Ketua (LPLH-SDA) MUI (Jumat (04/11/2022).

Merujuk pada tema yang diangkat dalam Kongres Nasional yaitu “Dari Masjid Wujudkan Kehidupan Berkelanjutan” tersebut, Hayu memaparkan, kaitannya masjid dengan fatwa-fatwa yang telah disahkan adalah sebagai ruang implementasi.

Oleh karena itu, masjid ramah lingkungan ikut berperan dalam meningkatkan kapasitas individu umat Islam, akan tetapi juga turut meningkatkan perekonomian umat.
“Melalui skema seperti ini, dapat menjadikan fatwa dapat didakwahkan secara lebih luas, karena pelaksanaannya yang diawali dari masjid,” tuturnya.

Sedangkan terkait pendanaan, Hayu menyebut bisa bersumber dari CSR, pengelolaan dana wakaf, dan pendanaan dari internasional yang berdasarkan kerja sama.
Di samping itu, dia menjelaskan terkait program dalam jangka waktu terdekat, fokus LPLH-SDA MUI yaitu pada kegiatan sedekah sampah.

Menurut dia, meningkatnya sampah di masyarakat merupakan persoalan nyata yang harus segera diatasi. Apabila penanggulangan sampah ini telah berjalan, maka dampaknya akan segera dirasakan masyarakat itu sendiri.

“Kami memiliki program sedekah sampah yang telah bekerja sama dengan Pemerintah dan juga LIPI, ” katanya.

“Sampah-sampah yang ada dipilah dan dipisahkan baik yg berupa plastik, elektronik, dan organik. Hal ini guna memudahkan daur ulang sampah sesuai dengan jenisnya,” lanjutnya.

Hayu berharap melalui Konferensi Nasional ini dapat memperkuat jaringan dan membangun kapasitas individu. Upaya tersebut guna mewujudkan masjid ramah lingkungan yang mampu andil dalam meningkatkan perekonomian.  (mui)

 

 

Masjid Ramah Lingkungan Berperan Hadapi Perubahan Iklim

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH-SDA) MUI, Hayu Prabowo, menyampaikan Masjid ramah lingkungan berperan dalam menghadapi krisis perubahan iklim yang terjadi. Masjid ramah lingkungan, ujar dia, menjadi aktor baru dalam mencegah dampak krisis perubahan iklim.

“Saat ini, krisis perubahan iklim menjadi ancaman global. Salah satu solusi menghadapi masalah itu adalah dengan mengoptimalkan peran Masjid ramah lingkungan, ” ujar Hayu, Rabu (03/11) dalam Konferensi Nasional Masjid Ramah Lingkungan LPLH SDA-MUI 2022, di Hotel Novotel Cikini, Jakarta.

Hayu mengatakan, Masjid berperan mengatasi perubahan iklim karena hubungan dekat Masjid dengan manusia Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim membuat peran Masjid dalam menyadarkan bahaya perubahan iklim begitu penting. Praktek beribadah di Masjid yang ramah lingkungan juga mampu mendorong kebiasaan baru di masyarakat.

Menurutnya, sebagian besar penyebab perubahan iklim adalah ulah tangan manusia. Banjir, kekeringan, kebakaran hutan, hingga angin topan muncur dari pengabaian terhadap lingkungan.

Perilaku manusia yang demikian, ujar Hayu, telah difirmankan Allah dalam surah ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Hayu melanjutkan, minimnya perhatian terhadap kelestarian alam akan berdampak pula pada sektor lain seperti perekonomian.

“Hari ini, banyak krisis besar yang terjadi, seperti kelaparan dan sulitnya akses energi yang terjadi di Eropa, serta meningkatnya harga pangan dan inflasi di Inggris yang mencapai 10% bagian dampak dari minimnya penghargaan terhadap alam,” jelasnya.

Di samping itu, Ketua LPLH & SDA-MUI menilai, langkah awal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki ragam persoalan tersebut yaitu dengan cara merawat alam. Ini disebabkan, segala sesuatu yang manusia konsumsi dan gunakan berasal dari alam itu sendiri.

“Sederhananya, kalau kita mencintai alam, maka alam akan mencintai kita,” tegas Hayu.

Hayu berharap, kegiatan ini bisa mengoptimalkan kesadaran Masjid yang ramah lingkungan bagi pengurus/takmir masjid maupun masyarakat di sekitar Masjid. (mui)

KH Bachtiar Nasir Bangga Muhammdiyah Gencar Bangun Infrastruktur Secara Swadaya

SUKOHARJO(Jurnalislam.com)—Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir menyampaikan rasa bangga dengan gencarnya pembangunan infrastruktur Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berasal dari dana swadaya warga Persyarikatan Muhammadiyah.

Hal ini disampaikan UBN, demikian sapaan akrab KH Bachtiar Nasir, saat mengisi Tablig Akbar Gebyar Muktamar Muhammadiyah Aisyiyah ke-48 di lapangan Desa Wonorejo Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (5/11/2022) malam.

“Bangga saya pada Muhammadiyah. Muhammadiyah punya program tiada hari tanpa peresmian. Gedung-gedung pendidikan, gedung-gedung dakwah, gedung-gedung sosial yang dibutuhkan masyarakat, Muhammadiyah mengeluarkan itu semua dari kantongnya sendiri,” jelas UBN di hadapan ribuah jemaah yang hadir.

Gencarnya pembangunan infrastruktur AUM ini, membuat pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah disibukkan dengan aktifitas peresmian gedung baru maupun peresmian peletakan batu pertama pembangunan di berbagai daerah.

“Sehingga Muhammadiyah tetap tegak lehernya, tetap mulia hidupnya dan tidak akan pernah berhenti memajukan bangsa dan mencerahkan semesta sampai kapan pun. Orang-orang Muhammadiyah suka berinfak, suka bersedekah dan rajin bekerja,” ujar UBN yang juga Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI).

UBN berharap perhelatan Muktamar ke 48 Muhammadiyah Aisyiyah dapat mengokohkan gerak langkah Persyarikatan Muhammadiyah yang tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan bangsa, tetapi juga dunia.

Kaitannya dengan apresiasi UBN, untuk diketahui Persyarikatan Muhammadiyah memang gencar melakukan pembagunan infrastruktur AUM. Bahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pernah dalam satu hari meresmikan 11 gedung AUM di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dengan sejumlah aktivitas pembangunan infrastuktur AUM, Haedar berharap Muhammadiyah dapat berperan dalam memperkuat institusi pendidikan, kesehatan, sosial, bahkan ekonomi bangsa Indonesia.*

Ustadz Bachtiar Nasir Bangga Muhammadiyah Gencar Bangun Infrastruktur Secara Swadaya

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir menyampaikan rasa bangga dengan gencarnya pembangunan infrastruktur Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berasal dari dana swadaya warga Persyarikatan Muhammadiyah.

Hal ini disampaikan UBN, demikian sapaan akrab KH Bachtiar Nasir, saat mengisi Tablig Akbar Gebyar Muktamar Muhammadiyah Aisyiyah ke-48 di lapangan Desa Wonorejo Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (5/11/2022) malam.

“Bangga saya pada Muhammadiyah. Muhammadiyah punya program tiada hari tanpa peresmian. Gedung-gedung pendidikan, gedung-gedung dakwah, gedung-gedung sosial yang dibutuhkan masyarakat, Muhammadiyah mengeluarkan itu semua dari kantongnya sendiri,” jelas UBN di hadapan ribuah jemaah yang hadir.

Gencarnya pembangunan infrastruktur AUM ini, membuat pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah disibukkan dengan aktifitas peresmian gedung baru maupun peresmian peletakan batu pertama pembangunan di berbagai daerah.

“Sehingga Muhammadiyah tetap tegak lehernya, tetap mulia hidupnya dan tidak akan pernah berhenti memajukan bangsa dan mencerahkan semesta sampai kapan pun. Orang-orang Muhammadiyah suka berinfak, suka bersedekah dan rajin bekerja,” ujar UBN yang juga Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI).

UBN berharap perhelatan Muktamar ke 48 Muhammadiyah Aisyiyah dapat mengokohkan gerak langkah Persyarikatan Muhammadiyah yang tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan bangsa, tetapi juga dunia.

Kaitannya dengan apresiasi UBN, untuk diketahui Persyarikatan Muhammadiyah memang gencar melakukan pembagunan infrastruktur AUM. Bahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pernah dalam satu hari meresmikan 11 gedung AUM di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dengan sejumlah aktivitas pembangunan infrastuktur AUM, Haedar berharap Muhammadiyah dapat berperan dalam memperkuat institusi pendidikan, kesehatan, sosial, bahkan ekonomi bangsa Indonesia.*

7 Visi Dakwah Hantarkan Umat Berjaya

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Visi dakwah adalah terwujudnya dakwah Islam yang mencerminkan nilai-nilai Islam wasathiyah.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua bidang komisi dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Risman Muchtar, saat menjadi narasumber dalam Standardisasi Dai MUI angkatan 17 di Wisma Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2022).

“Tantangan luar biasa yang dihadapkan sekarang ialah kita harus mampu melahirkan suatu fungsi dimana umat semakin punya kemauan, energi kuat untuk melaksanakan ajaran Allah SWT,” ujarnya.

Kiai Risman mengatakan menggerakkan kepemimpinan dan kelembagaan umat secara efektif dengan menjadikan ulama sebagai panutan (qudwah hasanah), sehingga mampu mengarahkan dan membina umat Islam dalam menanamkan dan memupuk akidah Islam dan menjalankan syariat Islam.

“Dengan dakwah yang kita sampaikan itu, ada motivasi yang kuat untuk menyelamatkan Islam dan dakwah yang menggerakkan yaitu menggerakkan umat untuk beramal bukan sekadar kognitif, pengetahuan tapi bagaimana kemudian kita mampu menjadikan dakwah yang gerak dari umat, yang barangkali sempat ‘tertidur’, namun hanya pengetahuan yang dimiliki umat, akan semakin terus termotivasi,” kata dia.

Kiai Risman juga menyampaikan hal yang penting dalam dakwah ini adalah dakwah yang mempersatukan umat, dakwah yang membangun ukhuwah islamiyyah, dan dakwah yang punya komitmen.

Dengan harapan mereka yang tadinya sering berpecah belah sehingga dengan dakwah yang tersampaika, akan terbentuk untuk menjadi umat Islam yang bersatu.

Hal ini menurut dia penting, mengingat fakta bahwa umat Islam itu bersaudara. Anjuran persatuan ini pun sebagaimana terdapat dalam Alquran surat Ali Imran ayat 103:

‎وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

“Ketika kita mubalig/dai tidak mampu membangun umat maka berarti kita membiarkan mereka masuk nerakanya Allah SWT,” ujarnya.

Diakhir penyampaiannya, Kiai Risman menyampaikan bahwa ada tujuh prinsip ukhuwah dalam berdakwah yang harus diketahui yaitu bersatu dalam aqidah, berjamaah dalam ibadah, tasamuh dalam khilafiyah, ihsan dalam bermujadalah, fathanah dalam bersiyasah, santun dalam bermuamalah, dan istiqamah dalam berdakwah.

“Kalau kita melaksanakan 7 hal tersebut Islam akan maju dan menjadi jaya, dengan bersatu melalui akidah sehingga selama saudara kita akidahnya benar wajib hukumnya kita bersilaturahim dan haram hukumnya memutuskan tali silaturahim satu sama lain,” sambungnya. (mui)