KH Cholil Nafis: Seni Adalah Nafasnya Dakwah

JAKARTA(Jurnalislam.com) -– Keterkaitan antara seni dan dakwah sudah terjadi sejak zaman rosulullah saw. Beliau pertama kali memulai peradaban dari seni. “Ketika Nabi Hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau disambut dengan sholawat Thola’al Badru Alaina, dan itu adalah sebuah seni”, ujar Kiai Cholil, (02/8/2022). Pada zaman Wali Songo, penyebaran agama Islam dilakukan dengan metode pendekatan pada kearifan […]

JAKARTA(Jurnalislam.com) -– Keterkaitan antara seni dan dakwah sudah terjadi sejak zaman rosulullah saw. Beliau pertama kali memulai peradaban dari seni.

“Ketika Nabi Hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau disambut dengan sholawat Thola’al Badru Alaina, dan itu adalah sebuah seni”, ujar Kiai Cholil, (02/8/2022).

Pada zaman Wali Songo, penyebaran agama Islam dilakukan dengan metode pendekatan pada kearifan lokal yang ada, salah satunya adalah melalui kesenian. Jika dipahami lebih mendalam, seni dan dakwah sebenarnya adalah dua hal yang sama dengan versi yang berbeda. Hal tersebut disampaikan oleh Kiai Cholil Nafis pada kegiatan Multaqa, FGD dan Rakornas LSBPI MUI.

 

“Dakwah dan seni tu sebenarnya sama, hanya versinya yang berbeda. Seni disentuh dari sisi ihsannya sementara dakwah disentuh dari sisi Islamnya. Yang dibangun oleh pendakwah kita dalam akidah disentuh dari imannya,” ujarnya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa perkembangan seni yang ada di Indonesia saat ini, seiring dengan perkembangan teknologi mampu merubah cara pandang seseorang dan memberikan jalan yang mudah untuk proses berdakwah.

”Saya dulu punya pemikiran bahwa menonton bioskop itu buruk, dan orang yang doyan maksiat. Tapi Ketika Ada Ayat – Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan film Islami lainnya membuat presepsi saya aitu berubah, bahwa ternyata film itu adalah sarana untuk dakwah, dan orang mau berkarya, menyampaikan pesan lewat film, sehingga film tidak lagi konotasi maksiat,” katanya menjelaskan.

Dalam penyaimpaiannya di ruang FGD LSBPI MUI, Kyai Cholil menyampaikan bahwa penyempurnaan seluruh aspek keislaman itu ada pada seni.

“Menurut saya penyempurna dari dakwah kita di MUI atau penyempurna dari seluruh aspek keislaman kita (iman dan Islam) adalah ihsan, dan ihsan ada pada seni. Seni ini adalah upaya mengungkapkan atau menampilkan rasa dalam visual. Bisa dalam bentuk tulisan, film dan sebagainya. Hal – hal yang sifatnya akulturasi, seni, itu sangat mencair, dan di situ lah nafas nafas Islam. Tinggal tugas nya LSBPI MUI untuk menemukan bagaimana caranya agar bisa memasukkan nilai – nilai dakwah di dalam seni, dan seni itu menjadi nafasnya dakwah,” pungkasnya. (mui)

 

Prof. Jimly: Hukum Islam Harus Dapat Dukungan dari Negara

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Di antara diskusi yang kerap mengemuka baik di kalangan praktisi atau pakar hukum tata negara adalah apakah hukum Islam perlu mendapat pengakuan dan dukungan negara? Jawaban atas pertanyaan di atas disampaikan pakar hukum tata negara yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi pertama (2003-2008), Prof Jimly Asshiddiqie, saat menyampaika materi dalam 6th Annual Conference on Fatwa […]

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Di antara diskusi yang kerap mengemuka baik di kalangan praktisi atau pakar hukum tata negara adalah apakah hukum Islam perlu mendapat pengakuan dan dukungan negara?

Jawaban atas pertanyaan di atas disampaikan pakar hukum tata negara yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi pertama (2003-2008), Prof Jimly Asshiddiqie, saat menyampaika materi dalam 6th Annual Conference on Fatwa Studies yang digelar Komis Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) 26-28 lalu, Senin (1/8/2022).

Prof Jimly menyatakan hukum Islam yang ada harus mendapat dukungan dari pemerintah dalam pelaksanaannya.

 

“Hukum dalam agama kita ini membutuhkan dukungan kekuasaan untuk penerapan. Hukum Islam harus ditopang oleh sistem kekuasaan resmi bernegara. Masalahnya, sistem kekuasaan resmi bernegara ini tidak hanya tercermin dalam peraturan perundang –undangan seperti yang secara sempit kita pahami sekarang,” kata dia.

Menurut Prof Jimly, ada beberapa produk hukum yang membutuhkan topangan dari kekuasaan negara, di antaranya adalah produk hukum regulasi, produk hukum administrasi, produk hukum ajudikasi, produk hukum perjanjian, dan produk ilmu hukum umum.

Tidak hanya membahas terkait hukum Islam, pada kesempatan tersebut Prof Jimly juga menyampaikan beberapa hal yang harus dibenahi dalam hukum nasional. Beliau menegaskan ada tiga hal yang harus dibenahi dalam konteks hukum nasional.

“Menurut saya, dalam konteks hukum nasional kita, kita perlu membenahi mekanisme pembentukan fatwa, selanjutnya mengenai substansi fatwa, lalu mengenai bagaimana fatwa menjadi fungsional dalam konteks hukum nasional bernegara,” kata dia.

Dengan terselenggaranya kegiatan yang mengusung tema “Peran Fatwa MUI dalam Perubahan Sosial” ini, dia berharap bahwa ke depannya ada kumpulan fatwa MUI yang diresmikan.

Peresmian tersebut melalui dua cara yaitu melalu pemerintahan eksekutif yang dituangkan dalam keputusan presiden. Kedua, melalui peradilan dengan tujuan untuk memandu hakim dalam menjalankan tugasnya, memeriksa, mengadili, dan memutus perkara.

Selanjutnya, dia juga berharap kedepannya Fatwa MUI dikukuhkan Mahkamah Agung dengan penetapan administratif yang diberlakukan sebagai petunjuk untuk semua hakim dalam menjalankan semua tugasnya yang berhubungan dengan kewenangan peradilan agama.

Dia juga mengingatkan MUI memiliki tugas yang cukup besar, baik dalam penegakan hukum maupun dalam bidang lainnya. (mui)

 

55 Ribu Jamaah Haji Telah Kembali ke Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com) —- Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1443H/2022M telah memasuki hari ke-60. Saat ini masih berlangung pemulangan jemaah haji Indonesia yang diberangkatkan pada gelombang kedua. Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Setjen Kemenag Akhmad Fauzin mengatakan, tahun ini kuota haji Indonesia berjumlah 100.051 orang. Dari jumlah itu, lebih dari 55 ribu sudah kembali ke Tanah Air. Artinya, lebih dari […]

JAKARTA(Jurnalislam.com) —- Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1443H/2022M telah memasuki hari ke-60. Saat ini masih berlangung pemulangan jemaah haji Indonesia yang diberangkatkan pada gelombang kedua.

Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Setjen Kemenag Akhmad Fauzin mengatakan, tahun ini kuota haji Indonesia berjumlah 100.051 orang. Dari jumlah itu, lebih dari 55 ribu sudah kembali ke Tanah Air. Artinya, lebih dari 50% jemaah yang sudah pulang ke Indonesia.

“Jumlah jemaah haji yang telah tiba di tanah air sebanyak 55.473 orang. Hari ini kembali dipulangkan lagi sebanyak sembilan kloter menuju delapan Debarkasi,” kata Akhmad Fauzin, saat memberikan keterangan pers di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (2/8/2022).

Menurut Fauzin, ada satu kloter yang akan menuju Debarkasi Batam/BTH dengan total 446 jemaah. Masing-masing dua kloter menuju Debarkasi Jakarta – Pondokgede (JKG), Jakarta – Bekasi (JKS), dan Solo (SOC). Selain itu, masing-masing satu kloter menuju Debarkasi Lombok (LOP), Palembang (PLM), Surabaya (SUB), dan Ujungpandang (UPG). “Total sebanyak 3.613 jemaah,” ujar Fauzin.

Berkenaan update data jemaah sakit, Akhmad Faizin menyampaikan saat ini tecatat masih ada 64 jemaah sakit. Sebanyak 24 jemaah dirawat di RS Arab Saudi (RSAS), dan 40 lainnya dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah.

Jemaah wafat bertambah dua orang atas nama Saeti Jaya Sadimin, perempuan, 63 tahun, Nomor Paspor C63 34 513, kloter JKS 39, asal Embarkasi Jakarta Bekasi, dan Dyan Novi Laila, perempuan, 46 tahun, Nomor Paspor C65 93 665, kloter SUB 33, asal Embarkasi Surabaya.

“Sehingga jumlah jemaah wafat sampai hari ini sebanyak 83 orang,” tandas Akhmad Fauzin.

 

Banyak Dai Berdakwah Melalui Seni dan Budaya

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Dalam sejarah peradaban Islam di Indonesia, Wapres KH Ma’ruf Amin  menjelaskan bahwa banyak para dai dan mubaligh yang mendakwahkan Islam juga merupakan seniman ulung, atau paling tidak menggunakan seni sebagai wasilah dakwah, tidak terkecuali karya-karya sastra popular yang dikenal belakangan ini. “Jika kita baca pelan-pelan karya-karya para sastrawan kita, kita akan menemukan ada banyak jejak […]

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Dalam sejarah peradaban Islam di Indonesia, Wapres KH Ma’ruf Amin  menjelaskan bahwa banyak para dai dan mubaligh yang mendakwahkan Islam juga merupakan seniman ulung, atau paling tidak menggunakan seni sebagai wasilah dakwah, tidak terkecuali karya-karya sastra popular yang dikenal belakangan ini.

“Jika kita baca pelan-pelan karya-karya para sastrawan kita, kita akan menemukan ada banyak jejak pesan dakwah di sana. Puisi-puisi D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib dan puisi-puisi Gus Mus sepenuhnya adalah dakwah. Demikian juga kebanyakan puisi Taufiq Ismail yang dilagukan oleh Bimbo,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Wapres mengapresiasi MUI sebagai penyelenggara acara tersebut dan berharap pertemuan ini dapat menghasilkan kebaikan bagi semua pihak.

“Sekali lagi saya sampaikan apresiasi kepada MUI, LSBPI MUI, segenap panitia penyelenggara, dan kepada seluruh seniman dan budayawan muslim yang turut hadir di acara ini. Semoga multaqa ini menjadi “liqa’an muntijan mubarakan fiih”, pertemuan yang produktif dan diberkahi oleh Allah SWT,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia Acara Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia, FGD dan Rakornas Lembaga Seni Budaya Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Erick Yusuf menyampaikan tujuan acara ini sebagai media kolaborasi antarpihak terkait untuk memberikan solusi masyarakat melalui seni dan budaya.

“Acara ini selain silaturahim juga merapatkan barisan menyatukan semuanya, seniman, budayawan, para alim ulama, praktisi untuk bersama-sama bisa saling berkolaborasi dan bersinergi bisa menguraikan permasalahan keumatan dari sisi seni budaya,” ujar Erick.

Hadir dalam acara ini, di antaranya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua MUI Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam Jeje Zainudin M.A., serta para pelaku seni dan budayawan.

Wapres Buka Helatan Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Seni merupakan unsur kebudayaan yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia. Karya-karya seni yang dihasilkan oleh seniman maupun budayawan yang populer di tengah masyarakat tentunya berpengaruh terhadap kemajuan pola pikir dan perilaku masyarakat tersebut. Oleh karena itu, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin mengimbau kepada para pelaku seni untuk bersama-sama menciptakan karya-karya yang […]

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Seni merupakan unsur kebudayaan yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia. Karya-karya seni yang dihasilkan oleh seniman maupun budayawan yang populer di tengah masyarakat tentunya berpengaruh terhadap kemajuan pola pikir dan perilaku masyarakat tersebut.

Oleh karena itu, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin mengimbau kepada para pelaku seni untuk bersama-sama menciptakan karya-karya yang membangun masyarakat ke arah yang lebih baik.

“Di dalam multaqa ini saya berharap tercipta sinergi antarseniman dan budayawan muslim untuk membentengi bangsa ini dari budaya-budaya destruktif. Sekaligus tercipta kekuatan kreatif yang melahirkan gagasan-gagasan dan karya-karya yang positif bagi bangsa ini,” ujar Wapres saat membuka secara resmi Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia, FGD dan Rakornas Lembaga Seni Budaya Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa (02/08/2022).

Mengutip hadis Bukhari dan Muslim, Wapres menyebut bahwa terdapat penghargaan yang begitu tinggi kepada para penyair, sastrawan, seniman dan budayawan dalam Islam di mana Nabi Muhammad SAW meminta Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu agar merangkai syairnya untuk menumbangkan kepongahan para penyair musyrikin yang saat itu sangat gencar menghina dan melecehkan Allah dan Rasul-Nya.

“Baginda Nabi Muhammad SAW, berkata kepada Hassan bin Tsabit, Keluarkan syairmu untuk merendahkan mereka para penyair musyrikin yang melecehkan Allah dan Rasul-Nya dan Jibril menyertaimu!” kutip Wapres.

Wapres menambahkan bahwa hal tersebut juga mencerminkan penghargaan dan doa bagi para penyair muslim untuk senantiasa menyebar kebaikan dan membela kebenaran.

“Menurut saya, ini juga doa bagi semua penyair muslim, semua sastrawan muslim, semua seniman dan budayawan muslim yang menulis dan menciptakan karyanya untuk membela Allah dan Rasul-Nya, untuk membela kebajikan dan kebenaran,” tambah Wapres.

 

‘Indonesia Butuh Strategi Kebudayaan di Tengah Pusaran Global’

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia saat ini dihadapkan pada pusaran arus globalisasi yang sangat dinamis dan multi dimensional. Meski demikian, Indonesia tidak memerlukan ”revolusi kebudayaan”, tetapi membutuhkan ”strategi kebudayaan” untuk bisa bertahan. Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan sambutan pada Multaqa Lembaga Seni, Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama […]

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia saat ini dihadapkan pada pusaran arus globalisasi yang sangat dinamis dan multi dimensional. Meski demikian, Indonesia tidak memerlukan ”revolusi kebudayaan”, tetapi membutuhkan ”strategi kebudayaan” untuk bisa bertahan.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan sambutan pada Multaqa Lembaga Seni, Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia. Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian Milad ke-47 MUI yang diperingati setiap 26 Juli.

”Indonesia membutuhkan strategi kebudayaan untuk bertahan di tengah pusaran global,” terang Wamenag di Jakarta, Senin (1/8/2022).

Indonesia, kata Wamenag, memiliki pengalaman sejarah berkenaan dengan seni dan budaya yang pernah menjadi alat propaganda ideologi yang bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Tantangan saat itu dapat dijawab secara bijak dan persuasif oleh para seniman dan budayawan muslim dengan membentuk wadah yaitu: Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang digerakkan oleh tokoh-tokoh seperti Buya Hamka, Bahrum Rangkuti, Junan Helmy Nasution, H. Sudirman, dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh seniman Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani dan kawan-kawan.

Sejarah mencatat HSBI yang berafiliasi ke Masyumi dan Muhammadiyah, dan LESBUMI berafiliasi ke NU, memiliki peran yang sangat penting di masa lalu, terutama dalam mengadvokasi politik seni dan budaya yang berpijak pada nilai-nilai agama sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.

“Dalam konteks kekinian, sarana dan media seni-budaya generasi millennial tidak boleh kehilangan orientasi keindonesiaan sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya ketimuran dengan menjunjung tinggi norma-norma kesopanan,” jelasnya.

”Dalam pandangan hidup muslim, tidak dapat dibenarkan liberalisasi seni dengan slogan “seni untuk seni”. Tetapi seni dan budaya sebagai karya cipta manusia tidak boleh dipisahkan dari tujuan hidup manusia sebagai hamba Allah,” sambungnya.

Seni dan budaya, kata Wamenag, tidak boleh dijauhkan dari tujuan pembangunan manusia dan masyarakat yang bermoral, beragama, dan berkeadaban. Di temgah arus budaya global dan teknologi informasi, umat Islam dan bangsa Indonesia harus memiliki ketahanan kultural dalam memilah dan memilih unsur-unsur budaya dari luar yang tidak bertentangan dengan pandangan hidup masyarakat.

“Ketahanan kultural paling kokoh adalah yang bersumber dari pandangan hidup, akidah dan way of life yang kita yakini, yaitu ajaran dan nilai-nilai agama. Jangan kita menjadi bangsa yang terombang-ambing dalam arus perubahan, menjadi bangsa yang rapuh dan kehilangan kepribadian di tengah pusaran budaya global,” pesannya.

Mengutip Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, mantan Menteri Agama, Wamenag mengatakan, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dengan agama hidup menjadi bermakna. Ungkapan ini, menurutnya, membawa pesan filosofis dan ontologis yang mendalam bahwa para ilmuwan, seniman-budayawan dan agamawan perlu dan bahkan wajib bekerjasama dan saling mengisi untuk membangun dan memajukan peradaban kemanusiaan.

“Saya mengajak para seniman dan budayawan muslim kontemporer agar semakin berperan dan memberi sumbangsih nyata untuk memperkuat sendi-sendi ketahanan nasional dari aspek ketahanan seni dan budaya. Selain itu, mengisi kekosongan dakwah dan mengawal modernisasi dengan mengedepankan nilai-nilai universal Islam sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta,” tuturnya.

“Mari terus mengembangkan berbagai fikiran budaya dan budaya berfikir secara kreatif dan produktif untuk Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Mari hidupkan ruh kebudayaan sebagai salah satu medium aktualisasi nilai-nilai beragama yang moderat dan inklusif,” tandasnya.

MUI: Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Tonggak Sejarah Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia. Pertemuan antara ulama dan para cendekiawan yang konsen dalam bidang seni tersebut, akan dilaksanakan secara offline di Hotel Sari Pan Pasifik, pada 2-3 Agustus 2022. Dalam acara silaturahim dan bincang-bincang pra-acara, Ketua Majelis Ulama […]

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia.

Pertemuan antara ulama dan para cendekiawan yang konsen dalam bidang seni tersebut, akan dilaksanakan secara offline di Hotel Sari Pan Pasifik, pada 2-3 Agustus 2022.

Dalam acara silaturahim dan bincang-bincang pra-acara, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pengembangan Seni Budaya dan Peradaban Islam, KH Jeje Zaenudin menyampaikan bahwa Multaqo yang diselenggarakan oleh LSBPI MUI merupakan yang pertama dan dapat dijadikan tonggak sejarah bagi para seniman budayawan muslim Indonesia.

 

“Kegiatan Rakornas, FGD dan Multaqo ini dapat dijadikan soko guru serta pondasi untuk membuka dakwah yang berbasis pada seni budaya Islami,” tutur Kiai Jeje, (01/08).

Kiai Jeje menjelaskan, LSBPI MUI merupakan wadah untuk mengembangkan lahirnya insan-insan kreator, pemikir, hingga para praktisi seni budaya Islam yang karyanya akan dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Karena merupakan Multaqo perdana yang diselenggarakan, Kiai Jeje mengingatkan untuk memberi banyak kritik dan masukan selama terselenggaranya acara nanti.

“Akan banyak evaluasi yang didapatkan selama terselenggaranya Multaqo, namun hal itu justru menjadi masukan yang membangun guna peningkatan kualitas penyelenggaraan acara selanjutnya,” kata Kiai Jeje.

Selain itu, Kiai Jeje berharap, terselenggaranya Multaqo bagi seniman dan budayawan muslim Indonesia dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim dalam aspek seni budaya.

Karena menurut dia, seni budaya sangat melekat di dalam jiwa manusia dan tidak bisa lepas dari spirit agama. (mui)

 

 

Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Bahas Arah Budaya Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI menggelar kegiatan Multaqo (pertemuan) Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia pada Selasa (02/08) di Hotel Sari Pasifik, Jakarta. Kegiatan tersebut dalam rangka meminta masukan dari berbagai pihak khususnya dari kalangan seniman dan budayawan Islam untuk mempersiapkan Kongres Budaya Islam 2023. Wapres RI KH Ma’ruf Amin dipastikan […]

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI menggelar kegiatan Multaqo (pertemuan) Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia pada Selasa (02/08) di Hotel Sari Pasifik, Jakarta.

Kegiatan tersebut dalam rangka meminta masukan dari berbagai pihak khususnya dari kalangan seniman dan budayawan Islam untuk mempersiapkan Kongres Budaya Islam 2023. Wapres RI KH Ma’ruf Amin dipastikan akan membuka langsung kegiatan ini.

Pada malam harinya, LSPBI MUI akan meneruskan dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Road to Kongres Kebudayaan Islam 2023. Agenda ini akan diikuti budayawan, seniman muslim, pengurus MUI Pusat, pengurus LSBPI MUI, dan LSBPI MUI Provinsi.

 

“Kegitan ini akan membahas mengenai konsep arah baru budaya Indonesia yang berisi tentang budaya Islam masa lampau, sekarang, maupun masa depan, ” ungkap Ketua LSBPI MUI, Habiburrahman El Shirazy, kepada MUIDigital, Senin (08/07).

Ketua Panitia Multaqo, Erick Yusuf, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaring ide dan gagasan untuk Kongres Budaya Islam 2023. Kongres Budaya Islam merupakan agenda lanjutan MUI setelah dua kali berhasil menyelenggarakan Kongres Ekonomi Umat.

“Ide-ide dan gagasan brilian dari para pakar dan pelaku seni budaya ini kemudian menjadi bahan utama yang akan ditindaklanjuti dalam Kongres Budaya Islam 2023, ” ujar dia.

Kegiatan bertema “Meneguhkan Orientasi Seni dan Budaya Islam dalam Membangun Peradaban Bangsa” ini akan dibuka oleh Wapres RI KH Ma’ruf Amin dan diberikan sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, serta Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya KH Jeje Zainuddin.

Pada kegiatan Multaqo ini, juga akan ada penyerahan penghargaan Hamka Award. Ini merupakan penghargaan khusus yang diberikan kepada tokoh seni dan budaya Islam yang telah dikurasi oleh LSBPI MUI.

Selain itu, pada kegiatan ini, juga ada pembacaan puisi dari penyair yang puisinya terkenal unik yaitu Sutardji Calzoum Bachri. Musisi Dwiki Dharmawan juga akan tampil memeriahkan kegiatan ini.

Malam harinya, pada kegiatan FGD, narasumber terdiri dari Prof Abuddin Nata, Adian Husaini, dan Saiful Bahri. Sementara peserta aktif terdiri dari Habiburrahman El Shirazy, Tiar Anwar Bachtiar, Kusen, Ahmad Mujib, Aguk Irawan, dan M Irfan Hidayatullah.

Setelah seharian penuh menggelar Multaqo dan FGD, LSBPI akan melanjutkan dengan kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang diisi oleh Ketua MUI Bidang Seni Budaya KH Jeje Zainuddin dan Kang Abiek sebagai Ketua LSBPI MUI pada Rabu (03/08) pagi sampai siang.

Menurut Kang Abik, Rakornas LSBPI MUI ini bertujuan menjadi wadah silaturahim pengurus LSBPI MUI dari pusat sampai daerah. Berbagai program unggulan LSBPI juga akan dibahas dalam pertemuan ini.

“Melalui Rakornas, kita juga menyosialisasikan AD/ART LSBPI MUI maupun buku panduan karya seni budaya islami disertai sharing season LSBPI MUI seluruh Indonesia, ” tutupnya.  (mui)

 

MUI Kembali Gelar Standardisasi Dai Angkatan ke-14

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Komisi Dakwah dan Ukhuwah MUI Pusat mengadakan kegiatan standardidasi da’i ke-14 pada 28 Juli 2022 di Kantor MUI Pusat, Jakarta. Seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya, standardidasi kali ini juga bertujuan meningkatkan kualitas dai. Selain itu, program ini merupakan pembekalan agar para dai memahai secara mendalam Islam Wasathiyah. Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi, menyampaikan MUI […]

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Komisi Dakwah dan Ukhuwah MUI Pusat mengadakan kegiatan standardidasi da’i ke-14 pada 28 Juli 2022 di Kantor MUI Pusat, Jakarta.

Seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya, standardidasi kali ini juga bertujuan meningkatkan kualitas dai. Selain itu, program ini merupakan pembekalan agar para dai memahai secara mendalam Islam Wasathiyah.

Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi, menyampaikan MUI akan terus melakukan upaya peningkatakan kompetensi da’i. Cakupan kompetensi itu meliputi pemahaman keagamaan, kecakapan metodologi dakwah, dan pemahaman wawasan kebangsaan.

 

“MUI terus berkomitmen menciptakan dakwah yang mencerahkan, membangun, serta meningkatkan kemampuan umat. Kami ingin menumbuhkan dkawah yang mendamaikan dan santuan sekaligus tetap berkomitmen pada NKRI dan Pancasila, ” ungkap Kiai Zubaidi, Senin (01/08) kepada MUIDigital.

Akademisi UIN Jakarta ini menyampaikan, kegiatan standardisasi dai rencananya akan terus dilaksanakan bahkan meluas ke berbagai daerah. Langkah ini untuk membuka peluang yang setara sehingga dai di daerah bisa merasakan program standardidasi juga.

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, menyampaikan bahwa MUI terus mendorong da’i berdakwah yang dilandasi kompetensi keagamaan dan pemahaman kebangsaan.

“Hal itu dapat dijawab dengan dakwah Islam Wasathiyah yang digulirkan MUI, ” ujar dia.

Menurutnya, Islam Wasathiyah memiliki ciri khas yang unik sehingga mampu menjadi jawaban masalah keumatan dan kebangsaan. Beberapa ciri Islam wasathiyah tersebut antara lain mengutamakan kedilan, bertindak proporsional, jalan tengah antara yang berlebihan dalam beragama dan mengurangi ajaran agama, keseimbangan dan tegas, sehingga dapat membedakan antara penyimpangan (inhiraf) dan perbedaan (ikhtilaf).

Islam wasathiyah, ungkap Kiai Cholil, juga mengedepankan prinsip musyawarah (syuro), dengan prinsip menempatkan kemaslhatan umum di atas segalanya, mengutamakan prinsip reformatif (islahi) dengan berpijak pada kernagka nilai dan mengakomodasi kemajuan zaman.

“Islam Wasathiyah juga mengutamakan sikap tasamuh, bersikap egaliter (musawah) dalam bermuamalah dan hukum, memegang prinsip aulawiyyah, dan memperhatikan perkembangan zaman (tathowwuriyah), ” ungkapnya.(mui)

 

Pemkot Padang Panjang Diapresiasi Serius Perhatikan  Aspek Keagamaan

SUMBAR(Jurnalislam.com)–– Sekretaris Jendral Kementerian Agama Nizar Ali menyambut baik rencana Pemkot Padang Panjang untuk menegembangkan pendidikan agama di wilayahnya. Menurutnya, selama ini Kemenag terkendala dengan keterbatasan lahan dalam program pengembangan. Sehingga, sinergisitas antara pemkot Padang Panjang dan Kemenag sangat tepat. “Kami menerima manfaat yang sangat penting. Keterbatasan kami memang tanah. Kalau ada walikota mau menghibahkan […]

SUMBAR(Jurnalislam.com)–– Sekretaris Jendral Kementerian Agama Nizar Ali menyambut baik rencana Pemkot Padang Panjang untuk menegembangkan pendidikan agama di wilayahnya.

Menurutnya, selama ini Kemenag terkendala dengan keterbatasan lahan dalam program pengembangan. Sehingga, sinergisitas antara pemkot Padang Panjang dan Kemenag sangat tepat.

“Kami menerima manfaat yang sangat penting. Keterbatasan kami memang tanah. Kalau ada walikota mau menghibahkan justru kami sangat mengapresiasi atas upaya pak Walikota terhadap Kemenag,” jelasnya di Jakarta, Senin (1/8/2022).

Nizar pun menyampaikan kesiapannya untuk menindaklanjuti hibah dari Pemkot Padang Panjang. Menurutnya, tidak ada alasan bagi Kemenag untuk tidak memanfaatkan hibah yang sudah diberikan.

“Akan kami tindaklanjuti. Karena tidak mungkin setelah dihibahkan akan mangkrak. Namun kita akan serahkan kepada tim teknis, kira-kira dari segi kemanfaatan, cocoknya akan dibangun apa,” jelasnya.

Nizar berharap apa yang akan dibangun nanti sesuai dengan visi misi pemkot Padang Panjang sebagai kota pendidikan. Salah satunya dengan sekolah yang berkualitas. sehingga bisa membawa Padang Panjang ke kancah nasional bahkan  internasional.

Walikota Padang Panjang Fadly Amran, menyampaikan terima kasih karena Kemenag selam ini selalu memberikan respon positif dan  mendukung berbagai pembangunan daerah, terutama di bidang pendidikan dan keagamaan.

“Jadi kami sangat bersyukur dalam beberapa tahun kebelakang ini kerja sama dengan Kemenag sangat luar biasa, karena beberapa yang sudah kami hibahkan, seperti tanah, langsung disambut dengan pembangunan beberapa fasilitas, seperti gedung asrama di MTsN dan gedung sekolah MAN Program Khusus (PK), serta lainnya,” ungkapnya.

Fadly juga mengutarakan keinginannnya untuk terus mengembangkan bidang keagamaan dan pendidikan kegamaan di Padang Panjang, terutama di kawasan Islamic Center yang sudah di bangun sejak 2016.

Menurutnya, Islamic Center di Kota Serambi Mekah, julukan dari Kota Padang Panjang, merupakan kawasan terpadu bidang agama dan ekonomi. Namun, seiring berjalannya waktu ia menilai lebih cocok digunakan menjadi pusat pendidikan. Hal itu yang mendasari Pemkot Padang Panjang menghibahkan tanah tersebut kepada Kementerian Agama.

“Masih ada wilayah di Islamic Center yang bisa dimanfaatkan guna menunjang pendidikan anak-anak kita. Jika hal tersebut bisa diwujudkan mungkin bisa menjadi MAN terlengkap di Indonesia,  dengan seluruh fasilitas pendukung yang sudah ada,” ungkapnya.

Kepala Kanwil Kemenag Sumatera Barat H Helmi menjelaskan, bahwa Padang Panjang memang merupakan salah satu wilayah yang tinggi perhatian terhadap agama dan pendidikan agama.

“Banyak indikatornya, antara lain suksesnya pelaksanaan MTQ Nasional tingkat Sumbar pada 2021. Setiap tahun dana hibah untuk pesantren selau turun, hingga satu-satunya kota dengan KUA yang semuanya sudah direvitalisasi, dan tentu dengan madrasah,” ungkapnya.

Hal tersebut menurutnya terjadi  karena sinergitas yang kuat antara Pemerintah Kota Padang Panjang dan Kementerian Agama. “Pemkot memang selalu mendukung, salah satunya masalah lahan. Mereka selalu mendukung, sehingga dengan mudah kita bisa membangun fasilitas keagamaan yang mumpuni,” katanya.