Aher Siap Sambut Pejalan Kaki Ciamis dengan Menyiapkan Bus

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan alias Aher mengatakan, siap menyambut peserta Aksi Bela Islam III asal Ciamis yang sedang long march serta akan menyiapkan bus mengantarkan mereka sampai Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

“Mereka adalah warga Jabar yang sangat menginspirasi, ada rencana kami menemui mereka dan siapkan bus, saat ini saya dengar sudah lewat Nagreg,” kata Aher dilansir Islamic News Agency (INA), Selasa (30/11/2016) usai apel akbar di Lapangan Gasibu Bandung.

Aher berharap peserta aksi dapat naik bus ke Jakarta agar sampai tepat waktu.

“Khawatir kan tidak sampai kalau jalan kaki, bisa jadi kami siapkan karena di sana kan ada anak anak, wanita dan lainnya,” terangnya.

Sebelumnya, dilansir INA bahwa peserta aksi jalan kaki dari Ciamis sudah sampai di wilayah Bandung.

 

Reporter: Mr/INA

DSKS Pastikan 30 Bis dan Sejumlah Ambulance Diberangkatkan untuk Aksi 212

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), melalui Korlap aksi bela Islam III Surakarta Suro Wijoyo, pastikan ribuan umat Islam Surakarta datang ke Jakarta pada Aksi 212.

“Tidak kurang 30 bis telah menyatakan kesediaannya mengangkut para peserta Aksi Bela Islam 3 ke Jakarta, dan di tambah beberapa Ambulance dan mobil pribadi,” katanya kepada jurniscom dalam rapat kordinasi aksi bela Islam III di Kantor DSKS, Pajang, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (29/11/2016).

Anggota divisi Advokasi dan Kelaskaran DSKS itu mengatakan, pemberangkatan rombongan aksi 212 direncanakan pada Kamis besok.

“Kami akan berangkat dari sini (Kantor DSKS -red) besok Kamis, yang sebelumnya akan di lepas oleh para Asadidz pukul 12.00 siang InsyaaAlloh,” ungkapnya.

Suro Wijoyo atau yang karib disapa Cak Rowi menegaskan, umat Islam yang ikut aksi 212 untuk tidak termakan oleh isu pembiasaan yang tersebar di jejaring internet. Harus optimis, aksi akan lancar seperti yang telah direncanakan.

“Masih terlalu dini mengatakan hal tersebut. Jangan menilai hari saat masih pagi, apalagi pada saat anda masih mimpi,” pungkasnya.

GNPF MUI Pastikan Rabu Depan Larangan kepada PO Bus Dicabut

SOLO (Jurnalislam.com) – Beredarnya informasi pelarangan Perusahaan Otobus (PO) yang terjadi di berbagai wilayah untuk aksi 212 dibenarkan Ketua GNPF MUI, Ustadz Bachtiar Nasir.

“Sejujurnya itu ada instruksi dari Kapolri, juga dari Presiden. Karena kita belum komunikasi kemarin, jadi ada kekhawatiran-kekhawatiran,” kata ketua GNPF MUI, Bahtiar Nasir kepada wartawan di gedung Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Pajang, Laweyan, Solo, Jumat (25/11/2016).

Pendiri AQL Center itu menegaskan, upaya pemerintah untuk menghalangi massa mengikuti aksi super damai itu tidak mendasar. Selain itu, ia juga membantah isu makar yang dikaitkan dalam aksi tersebut.

“Sebab menghalang-halangi, dengan tuduhan makar, mengganggu ketertiban umum, ini belum terbukti dan tidak ada indikasi,” tegasnya.

Untuk itu, ia berjanji akan melakukan upaya komunikasi dan kordinasi dengan pemerintah. “Mungkin kita akan berkoordinasi, mungkin selasa atau rabu sudah selesai,” pungkasnya.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat instruksi itu akan dicabut,” pungkasnya.

 

Ini Pernyataan Sikap IHR Menyoal Genosida Bangsa Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tindakan kejahatan kemanusiaan kepada bangsa Rohingya kembali terjadi. Citra satelit terbaru yang ditunjukkan kelompok Human Rights Watch (HRW) menunjukkan lima desa komunitas Rohingya dibakar dalam tindakan kekerasan junta militer Myanmar.

Akibatnya ratusan orang tewas, 1.250 bangunan hancur, 30.000 orang kehilangan tempat tinggal, serta 150 ribu jiwa hidup tanpa makanan dan akses kesehatan yang memadai. Ironisnya, Myanmar kini justru dipimpin oleh faksi politik Liga Nasional untuk Demokrasi (LND) pimpinan Aung San Suu Kyi, tokoh demokrasi peraih Nobel Perdamaian yang harusnya dapat mencegah terjadinya kekerasan, bukan menjadi aktor yang memperburuk kondisi kemanusiaan di Arakan.

Kejadian nahas ini semakin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa ada upaya terstruktur untuk melakukan genosida terhadap etnis Rohingya. Mencermati situasi ini, untuk itu lembaga kemanusiaan Indonesia Humanitarian Relief (IHR) menyatakan sikap:
gambar-satelit-menunjukkan-desa-muslim-rohingya-myanmar-kembali-dibakar3
1. Mengutuk tindakan kejahatan kemanusiaan terhadap bangsa Rohinya yang dilakukan oleh dan dibiarkan oleh rezim junta militer Myanmar. Kami memandang sikap pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya bukan bagian dari Myanmar adalah tindakan diskriminasi yang mendorong gelombang tsunami kekerasan terhadap etnis Rohingya.

2. Mengajak masyarakat Indonesia untuk turut memberikan kontribusi positif berupa bantuan kemanusiaan guna meringankan penderitaan warga Rohingya sebagai tuntutan agama dan konstitusi bahwa Indonesia berdiri di atas perikemanusiaan dan perikeadilan.

3. Meminta pemerintah Indonesia untuk pro aktif dalam kerja-kerja diplomatik dan kemanusiaan untuk menghentikan laju kekerasan terhadap etnis Rohingya dan membuka akses kemanusiaan ke titik pusat kejadian. Indonesia adalah kakak tertua di ASEAN yang seharusnya dapat memainkan peran lebih untuk menghentikan upaya genosida dan diskriminasi rasial (SARA) yang diberlakukan pemerintah Myanmar atas warga muslim Rohingya.

4. Mendesak ASEAN untuk mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan tragedi kemanusiaan berkepanjangan yang telah menimpa bangsa Rohingya. Etnis Rohingya selama ini telah dibunuh, diperkosa, dan kehilangan hak-haknya, namun selama ini aktivis kemanusiaan menilai ASEAN lebih banyak diam dan tidak banyak berbuat.

5. Mendorong para tokoh bangsa, masyarakat dan NGO internasional untuk terus mengangkat isu Rohingya dalam tiap kesempatan maupun pada forum-forum strategis untuk menjadikan masalah ini sebagai opini global sekaligus menyadarkan para pemimpin dunia bahwa telah terjadi pelanggaran HAM serius di wilayah Arakan, Myanmar tempat jutaan warga Rohingya berdiam.

Menakut-nakuti Demonstran, Media dan Upaya Membangun Phobia

JURNALISLAM.COM – Menjelang aksi damai 2 Desember 2016, publik sudah dpenuhi berbagai spekulasi dan wacana di layar kaca (ponsel atau televisi kita). Pemerintah dan elit parpol wara-wiri berkonsolidasi. Namun yang paling massif adalah pernyataan-pernyataan yang disebut terindikasi makar pada rencana aksi 212. Pernyataan itu misalnya disebut Kapolri, Tito Karnavian, pada (21/11/2016).

Sayangnya isu makar tersebut menjadi bola liar di masyarakat. Penjelasan pemerintah tak terang benderang. Kapolri misalnya ketika ditanya sosok aktor di balik rencana makar, meminta masyarakat untuk membacanya di Google. Begitu pula Menkopolhukam Wiranto, ketika ditanya sumber informasi tentang makar, menjawab mengetahuinya dari media sosial. Nyatanya informasi yang beredar di media sosial adalah informasi yang amat sumir dan harus di verifikasi kebenarannya. Majalah Nieman Reports yang dikeluarkan oleh Nieman Foundation di Harvard bahkan sampai mengeluarkan edisi khusus yang membahas kebenaran informasi di era digital. (Nieman Reports vol 66: 2012)

Sumirnya informasi tentang makar ini tak ayal akan menimbulkan rasa cemas dan ketakutan di masyarakat. Boleh jadi masyarakat akan saling mencurigai satu sama lain. Ketakutan di masyarakat ini bukan kebetulan. Melainkan diperkokoh oleh media massa yang amat mengeksploitasi informasi tentang makar yang sumir tersebut. Pembahasan soal rencana demonstrasi (aksi damai) 2 Desember 2016, terpusat pada isu makar yang dilontarkan pemerintah. Hal ini misalnya dapat dilihat dari pemberitaan media online nasional di tanah air seperti detik.com, kompas.com, Tempo.co dan cnnindonesia.com. Detik.com bahkan merangkum topik rencana demonstrasi 2 Desember 2016 dengan judul “Awas Demo Makar.” Sedangkan CNN Indonesia merangkum dengan judul “Aksi Menghadang #212.” Kedua judul tersebut memberikan kesan negatif pada aksi 2 Desember nanti. Sementara Kompas.com lebih memilih merangkum dengan judul yang lebih netral, yaitu “Demo 2 Desember 2016.“ Sedangkan Tempo.co memang tidak melakukan kebijakan pengelompokan khusus dengan memberi judul tertentu pada pemberitaannya. Dari ketiga media tersebut tak ada yang memuat rencana demonstrasi tersebut dengan sebutan resmi yang dikeluarkan oleh GNPF-MUI, pemrakarsa demonstrasi, yaitu Aksi Super Damai Jilid 3.

Isu makar yang diekspos begitu masif oleh media massa bukan kebetulan semata. Hal ini terlihat dari pemberitaan sejak menjelang aksi demonstrasi pertama yang menuntut proses hukum Gubernur non aktif Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) tanggal 14 Oktober 2016. Pemberitaan menjelang demonstrasi 14 Oktober 2016 kala itu sudah didominasi pemberitaan yang mengambil sudut pandang keamanan. Pemberitaan lebih banyak diberikan porsi pada persiapan keamanan yang dilakukan pemerintah. Pun ketika demonstrasi tanggal 14 oktober berlangsung tertib tak banyak perhatian yang diberikan. Media-media lebih memilih untuk memberitakan soal dampak dari demonstrasi seperti pengalihan arus lalu lintas. Bahkan kita tahu, media kemudian lebih tertarik memberitakan soal taman yang rusak akibat demonstrasi ketimbang aspirasi tersebut. Pemberitaan soal taman yang rusak ini amat diekspos oleh media massa. Salah satunya Detik.com yang bahkan memberitakan soal taman secara tiga hari berturut-turut dan setidaknya terdapat 10 berita soal rusaknya taman, di luar berita foto tentang taman tersebut sejak tanggal 14 hingga 16 Oktober 2016.

Salah satu bentuk pemberitaan lain untuk mengecilkan demonstrasi pertama adalah dengan mengecilkan beragamnya peserta demonstrasi. Hal ini yang dilakukan oleh Tempo.co. Tempo.co menyebut peserta demonstrasi sebagai FPI belaka. Tempo tetap konsisten dengan menyebut demonstrasi sebagai demonstrasi FPI baik di judul maupun isi berita mereka. Hal itu dapat dilihat misalnya pada berita “Unjuk Rasa FPI, Polda Siapkan Buka-Tutup Jalur Ini” dan “Hadang FPI, Ribuan Personl Gabungan Bersiaga di Balaikota DKI.” Begitu intensnya Tempo.co hendak mengidentifikasi peserta aksi yang beragam hanya sebatas FPI, dalam sebuah pemberitaannya Tempo.co menyesatkan pembaca dengan ‘meminjam mulut Presiden.’ Hal ini dapat kita lihat pada berita yang berjudul “Jokowi: Demo FPI Jangan Paksakan Kehendak.“ Pernyataan Presiden ini disampaikan pada 31 Oktober 2016, menanggapi rencana demonstrasi jilid dua yang meminta proses hukum terhadap Ahok. Tempo.co menulis dalam beritanya:

“Presiden Joko Widodo mengaku sudah mendengar soal rencana demo besar Front Pembela Islam pada Jumat, 4 November 2016. Ia mempersilakan FPI melakukan demo tersebut. (cetak tebal dari penulis). “Demonstrasi adalah hak tiap warga. Silakan, boleh saja demo,” ucap Presiden Jokowi saat dicegat awak media di Jakarta Convention Center, Senin, 31 Oktober 2016.”

Pertanyaan yang dapat kita ajukan, apakah Presiden Joko Widodo mengatakan secara literal FPI boleh melakukan demonstrasi? Ternyata tidak. Presiden Joko Widodo tidak menyebut pihak tertentu. Ia hanya menyebut demonstrasi hak setiap warga.

Tidak berhenti disitu, Tempo.co kembali menyesatkan pembaca dengan ;meminjam pernyataan presiden untuk menekankan identifikasi terhadap FPI. Dalam berita tersebut di tulis,

“Presiden Joko Widodo berujar, meski diperbolehkan, bukan berarti demo itu tanpa aturan dan batasan. Ia menuturkan FPI boleh berdemo, asal tidak memaksakan kehendaknya lewat cara apa pun, terutama kekerasan. (cetak tebal dari penulis). Presiden berharap tidak ada tindakan kekerasan apa pun pada unjuk rasa Jumat nanti. Ia mengatakan FPI harus bisa berdemo dengan tertib, aman, dan tidak menimbulkan aksi anarkistis.” (cetak tebal dari penulis)

Benarkah Presiden Joko Widodo benar-benar menuturkan : “FPI boleh berdemo?“ Nyatanya tidak demikian.* Setelah mengatakan, “Demonstrasi adalah hak setiap warga,“ Presiden Joko Widodo hanya mengatakan, “Silakan, boleh. Boleh saja..mau demonstrasi. Tapi yang Penting Jangan memaksakan kehendak.“

Begitu pula dengan kalimat “Ia mengatakan FPI harus bisa berdemo dengan tertib,…“ Apakah presiden benar berbicara demikian? Setelah mengatakan “boleh saja..mau demonstrasi,“ Presiden Jokowi hanya mengatakan, “Tapi yang penting jangan memaksakan kehendak. Atau.yang merusak, yang anarkis. Dan Pemerintah terus akan menjamin setiap warga negara untuk menyampaikan pendapatnya. Tapi tetap mengutamakan ketertiban umum“
Lantas mengapa Tempo.co menulis “presiden menuturkan FPI boleh berdemo?“ dan “FPI harus bisa berdemo dengan tertib?“ Bukankah ini dapat menyesatkan pembaca? Tugas jurnalis adalah menulis sesuai fakta, bukan menafsirkan, atau memaksakan fakta sesuai dengan kepentingan media. Framing dibolehkan dalam pemberitaan, selama tidak mengaburkan fakta. Apa yang dilakukan tempo.co adalah meminjam figur presiden Jokowi (putting words into someone’s mouth) untuk menekankan pemberitaan pada FPI. Cara-cara seperti ini amat kita sesalkan dalam praktek jurnalisme di Indonesia. Memaksakan cara pandang media sehingga mengaburkan fakta.

Seperti yang sudah kita ketahui, demonstrasi 4 November 2016, kemudian bukan saja berlangsung secara damai, tetapi juga diikuti setidaknya 2 juta orang, dan mungkin salah satu demonstrasi terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Media massa dan masyarakat kemudian mengenalnya sebagai aksi damai 4 November 2016. Insiden ricuh pada malam harinya pun dimaklumi sebagai tindakan provokator dan tidak menodai kesan aksi damai yang berlangsung dari siang hingga sore harinya. Fokus pemberitaan kembali bergerak pada sentimen politik setelah pemerintah kembali memberi pernyataan yang sumir mengenai aktor politik. Dan isu aktor politik itu pun kembali menjadi bola liar hingga menjelang demonstrasi ketiga.

Pemberitaan yang kita simak saat ini tampaknya memang akan terus berpusar pada persoalan makar yang sangat diekspos oleh media. Lantas mengapa media begitu intens memberikan pemberitaan yang membangun rasa takut di masyarakat terhadap demonstrasi? David L. Altheide (2003) menyatakan bahwa kecondongan media untuk menyajikan pemberitaan yang membangun rasa takut terinspirasi dari dunia hiburan. Penyajian yang membangun rasa takut ini bukan hanya perkara kriminalitas, tetapi juga hal lain yang terasosiasi dengan rasa takut, seperti wabah, AIDS terorisme, anak-anak dan sekolah. Dan biasanya hal ini juga diikuti dengan komunikasi yang membangun rasa takut dan kontrol dari pemerintah.

Dampak dari pemberitaan yang membangun rasa takut ini tentu bukan sepele. Media memiliki kemampuan untuk berkontribusi di agenda politik dan sosial. Media bukan saja memberikan informasi tetapi juga dapat mengarahkan orang untuk fokus dan takut pada kejahatan, ia bahkan dapat menanamkan nilai dan perspektif tertentu. Masyarakat akibatnya merasa tak aman dan merasa dapat menjadi korban. (David L. Altheide : 2003)

Dampak terbesar dari wacana ketakutan adalah mempromosikan rasa tidak teratur, (disorder), dan percaya keadaan sudah diluar kendali. Kehidupan sosial bisa menjadi lebih berbahaya jika aktor sosial mendefinisikan situasi mereka sebagai “menyeramkan” dan terlibat dalam masyarakat lewat wacana ketakutan. Ketika masyarakat sudah terfokus dalam ketakutan (dan kekalutan), mereka tak lagi mampu memilah secara rasional, informasi yang disajikan tak lagi diseleksi sehingga kehadiran pemerintah yang seakan menjadi “penyelamat” tanpa dikritisi lagi.

Membangun rasa takut terhadap demonstrasi tak ayal adalah salah satu ciri dari rezim orde baru. Demonstrasi dianggap sebagai sebuah aksi subversif terhadap pemerintah. Stempel baik ekstrim kiri atau ekstrim kanan ditimpakan begitu saja kepada mereka yang terlibat demonstrasi. Sehingga ketika masyarakat dilanda ketakutan terhadap demonstrasi, masyarakat akhirnya membiarkan begitu saja tindakan represif bahkan berujung pembantaian terhadap demonstran, seperti misalnya yang terjadi pada Tanjung Priok tahun 1984.

Demonstrasi seharusnya tidak perlu ditakuti. Selain dijamin oleh Undang-Undang, demonstrasi juga sebuah pertanda hidupnya demokrasi di sebuah negara. Di Indonesia, demonstrasi menjadi seiring dengan perjalanan bangsa kita. Bahkan demonstrasi menentang penistaan agama sudah terjadi sejak tahun 1918, ketika surat kabar Djawi Hiswara menerbitkan tulisan Djojodikoro yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo.” Dalam artikelnya, Djojodikoro menulis“Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. gin, minoem opium, dan kadang soeka mengisep opium.”

Tulisan ini mengundang reaksi hebat umat Islam kala itu. Dimotori oleh Sarekat Islam, organisasi bercorak nasional pertama di Indonesia, protes terhadap penistaan agama itu menghebat di berbagai tempat. Tjokroaminoto kemudian membentuk Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM), melakukan aksi protes di 42 tempat di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera dihadiri oleh lebih dari 150.000 orang. Perlu diingat, saat itu Indonesia masih dalam keadaan terjajah oleh kolonial Belanda, namun aksi protes tetap bisa berlangsung. Pun, sepanjang sejarah bangsa kita, aksi massa terus mewarnai. Berkumpulnya massa di lapangan IKADA tahun 1945 juga bagian dari sejarah bangsa. Bahkan reformasi yang menandai pergerakan Indonesia lepas dari sistem otoriter di tahun 1998 juga tak lepas dari aksi demonstrasi.

Di era digital saat ini, aksi demonstrasi justru menjadi pertanda baik hadirnya aktivitas politik masyarakat yang nyata. Sejak hadirnya media digital, terutama media sosial seperti Facebook dan Twitter, masyarakat seperti amat aktif berpolitik dan menjadikan politik isu keseharian mereka. Aktivisme politik pada era digital saat ini bernuansa kontestasi kuasa dan makna dalam dunia maya dan ditentukan pembagian peran oleh buzzer, influencer dan followers. Benar atau salah dihitung dari seberapa banyak menuai like dan seberapa viral di dunia maya. Selain itu aktivisme politik di dunia maya saat ini memang condong pada saling perang kepentingan yang diungkap secara reaksioner dan emosional. Hujat menghujat meramaikan aktivisme politik ini. (Wasis Raharjo Jati : 2016) Namun aktivisme politik ini dipertanyakan wujudnya dalam dunia nyata. Seberapa besar aktivisme di dunia maya ini mampu menggerakan masyarakat dalam politik yang nyata? Ataukah hanya keriuhan di dunia maya semata. Hadirnya gelombang informasi yang begitu massif memang bukan berarti hidupnya demokrasi di masyarakat.

Hadirnya internet, terutama media sosial juga bukan berarti memberi pengetahuan politik yang memadai bagi masyarakat. Masyarakat dibanjiri informasi, namun tak dapat memilah. Masyarakat (merasa) hanya perlu dilibatkan saat politik elektoral saja. Ketika menjelang pemilu, mereka dilibatkan. Namun setelah para politisi terpilih, mereka menyerahkan pada politisi semata untuk mengurus soal politik. Schudson menyebut fenomena ini sebagai ‘political backpackers.’ “Why we should expect when we are all wired, we’ll be closer to some kind of democracy?” (Michael Schudson: 2001)

Maka ketika masyarakat turun ke jalan untuk melakukan aksi demonstrasi, itu berarti masyarakat telah menyalurkan aspirasinya dalam ruang demokrasi. Pertanda yang baik bahwa gelombang protes masyarakat di dunia digital khususnya media sosial, untuk menuntut penegakan hukum terhadap kasus penistaan agama oleh ahok bukanlah gelombang protes yang diciptakan oleh aktor-aktor palsu semacam buzzer. Mereka benar adanya orang-orang yang menyalurkan aspirasinya baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Media massa tak seharusnya membangun rasa takut di masyarakat dengan mengeksploitasi pemberitaan yang ‘seram’ dan menakut-nakuti aksi demonstrasi. Media adalah pilar demokrasi. Amat ironis jika sebagai pilar demokrasi, media turut merubuhkan demokrasi itu sendiri. Seiring dengan media, perilaku pejabat di negeri ini juga seharusnya tidak reaktif dan kalut menghadapi demonstrasi. Tak perlu mengungkap pernyataan-pernyataan yang mengambang, dan hanya menimbulkan kebinungan serta rasa khawatir di benak masyarakat. Demonstrasi adalah bagian dari aspirasi rakyat yang dilindungi oleh undang-undang. Ia adalah pertanda hidupnya dialog di sebuah negara.

Ada baiknya para pejabat pemerintahan belajar kembali dari para pendiri negeri ini. Salah satunya adalah sikap Bung Hatta menghadapi demonstrasi. Suatu ketika di bulan April tahun 1962, saat ia sudah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI, Bung Hatta di demonstrasi di Bandara Kemayoran. Di depan ruang VIP Bandara Kemayoran, ratusan pemuda, yang disebut Rosihan Anwar sebagai orang suruhan PKI, mencemooh dan memrotes dirinya. Mereka membawa berbagai poster yang bertuliskan “Hatta tetap Hatta, Belanda tetap Belanda,” “Bung Hatta berevolusilah,” dan “Bung Hatta jangan bermuka dua.” Para demonstran liar itu berada dekat sekali dengan Bung Hatta yang berada di ruang VIP bandara Kemayoran. Namun Bung Hatta tetap terlihat tenang-tenang saja. Malah ia kemudian berjalan menuju mobilnya dan sambil berkata kepada mereka, “Saya tetap Hatta”, “Muka saya cuma satu.” (Rosihan Anwar : 2006)

*Pernyataan Presiden Joko Widodo dapat di lihat pada tautan ini: https://www.youtube.com/watch?v=XSWcx9f9ivQ

 

Ditulis oleh Pegiat Kultura: Beggy Rizkiyansyah

Parade Bhinneka Tunggal Ika Tak Sampai Bunderan HI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ratusan orang menggelar acara Parade Bhinneka Tunggal Ika (PBTI) di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (19/11/2016). Acara itu disinyalir menjadi tandingan aksi 411 lalu.

Aksi itu dimulai dengan orasi dari berbagai lintas agama dan suku di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat dilanjutkan dengan long march menuju Tugu Tani dan kembali ke kawasan Patung Kuda. Diketahui, rencana aksi long march sedianya dilaksanakan dengan tujuan akhir Bunderan HI. Namun panitia mengaku pihak kepolisan melarang, tetapi seorang polisi mengatakan sebaliknya.

“Ngga tau kenapa ke Tugu Tani, kami ga melarang kok di Bundaran HI,” terang seorang polisi yang tidak ingin disebut namanya.

“Mungkin dapat menyebabkan kemacetan,” tambahnya.

Pantauan kami, hampir setengah massa memilih untuk berdiam diri di pojok taman dan tidak ikut melakukan long march. Namun demikian, long march itu tetap menampilkan beberapa kostum adat dan dikomando dengan iringan lagu-lagu daerah.

“Merdeka, mari bersatu,” teriak massa aksi dengan pita merah putih yang diikatnya dikepala mereka.

Pantauan kami juga melihat massa PBTI tampak kurang kompak. Pasalnya, saat long march berlangsung, sebagian massa memilih jalan kaki, sebagian menaiki metro mini. Cukup banyak massa yang tidak mengikuti long march dengan duduk santai berteduh di taman. Saat itu, sekitar pukul 11:00 WIB cuaca terik.

Parade ini sedianya berakhir pada sore hari, pukul 16:00. Namun, massa sudah membubarkan diri pada siang hari, sekitar pukul 12:00 WIB.

Reporter: Muhammad Fajar/JituIslamicNewsAgency

Taman Rusak dan Sampah Berserakan di PBTI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Taman-taman di sekitar lokasi Parade Bhinneka Tunggal Ika (PBTI) rusak. Aksi itu digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (19/11/2016). Setidaknya, ada 3 titik taman yang rusak.

Pantauan wartawan Jitu Islamic News Agency, kerusakan pertama ada di sekitar kawasan Patung Kuda dan 2 titik lainnya di kawasan taman Monas.

Di taman Patung Kuda terlihat massa PBTI duduk-duduk serta berdiri-diri di atas rumput dan bunga. Ada yang berbaring, ada juga yang menduduki tali pagar pembatas taman. Kondisi serupa juga terjadi di dua titik taman yang rusak lainnya.

Selain itu, sampah-sampah berserakan di lokasi utama aksi di kawasan Patung Kuda dan Monas. Sampah itu berupa poster, kardus bekas, kertas-kertas, botol dan gelas plastik, pembungkus makanan serta banyak lagi.

Massa tampak membiarkan sampah-sampah itu berserakan. Sejauh pengamatan kami, tidak terlihat massa yang mengumpulkan atau membersihkan sampah-sampah itu. Massa lebih memilih untuk bercengkerama dan fokus melihat panggung utama.

Diakhir acara massa tampak bergegas pulang meninggalkan sampah-sampah yang berserakan. Kemudian, petugas kebersihan tampak membersihkan sampah-sampah di lokasi itu.

Sebelumnya, disela-sela aksi terlihat seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang. Ibu yang berasal dari daerah Kapuk, Jakarta Utara itu tampak bingung dan segera melapor kepada panitia setempat.

“Bapa-bapa Ibu-ibu ada yang melihat anak kecil yang hilang?” tanya seorang panitia kepada massa disekitarnya.

Namun, selang setengah jam anak kecil itu ditemukan dan langsung diberikan kepada Ibunya.

Reporter: Muhammad Fajar/JituIslamicNewsAgency

Tanaman bunga diduduki
Tanaman bunga diduduki

 

Pagar pembatas taman di duduki
Pagar pembatas taman di duduki

Mahkamah Syariah Ansharusyariah: Aksi 411 Patut Disyukuri dengan Menjaga Semangat Jihad

TANGERANG (Jurnalislam.com) – Perkataan Jihad sudah dipakai sejak zaman Nabi Muhammad Saw saat di zaman dakwah Mekkah. Hal itu disampaikan ketua Mahkamah Syariah Ansharusyariah, Ustadz Muzayyin lantaran masih banyaknya umat Islam yang masih asing dengan kata itu.

“Pada Zaman Nabi di Mekkah, Nabi menggunakan bahasa Jihad Akbar kepada umatnya di setiap amalannya,” katanya dalam seminar Ilmiyah “Panduan Praktis dalam Menyikapi Hukum Positif” di Masjid Jami Al Ukhuwwah, Karawaci, Tangerang, Ahad (20/11/2016).

Ia menilai, banyak dari berbagai kalangan menyebut aksi 411 dengan Jihad Konstitusi, Jihad Lisan dan lain lain pantas disematkan pada aksi yang dihadiri 2 jutaan orang itu.

“Aksi 411 patut disyukuri dengan menjaga semangat jihad dari jutaan umat Islam itu. Juga menjaga jumlah umat Islam agar tidak berkurang, harus ditambah (pada aksi bela Islam III),” ujarnya.

Pengasuh ponpes Al Mukin, Ngruki, Solo itu memaparkan, umat Islam masih bingung dengan makna jihad. Mereka memahami jihad konstitusi yang diusung pada aksi 411 tidak bersumber dari Islam.

“Ini namanya gagal paham. Beribadah itu ada saatnya tidak penting sebuah kata. Tapi lebih kepada makna dan apa yang dikerjakan,” terangnya.

Untuk itu, jihad lisan memerlukan sebuah konsep yang tersusun dengan rapih. Membangun ukhuwah (tali persaudaraan –red), menggalang massa dengan banyak sampai pengadaan advokasi.

“Bangun ukhuwah, membangun opini (pilih isu sentral /kunci konflik), bangun kerjasama (mengatur konflik), galang masa sebanyak-banyaknya (seperlunya), agar aksi damai terkendali dan mendapatkan realisasi dan aktualisasi dari Quran surat Al Anfal : 60,” pungkasnya menutup materi.

Ansharusyariah Gelar Seminar Ilmiah “Panduan Praktis dalam Menyikapi Hukum Positif”

TANGERANG (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusyariah wilayah Jakarta menggelar dauroh bertajuk “permasalahan berhukum kepada pemerintah dalam kondisi darurat ” di Masjid Jami Al Ukhuwwah, Karawaci, Tangerang, Ahad (20/11/2016). Menghadirkan pemerhati dunia Islam, Ustadz Fuad Al Hazimi.

“Ini adalah panduan praktis bagi kaum muslimin dalam berinteraksi kepada hukum positif ketika hukum syariat Islam belum tegak,” katanya membuka paparan materi.

Dauroh itu digelar bertujuan untuk menjawab keraguan umat Islam dalam aksi bela Islam II beberapa waktu lalu. Sebab, tidak sedikit dari umat Islam yang belum mengetahui apa hakikat aksi pembelaan al Qur’an itu.

“Ini adalah jihadul kalimah, memperjuangkan Islam melalui kalimat. Itu tidak mengapa, pada zaman salaf dulu pernah dicontohkan,” paparnya menjelaskan.

Ia mencontohkan, setidaknya ada 4 kritik pada zaman salaf yang dilontarkan di depan umum terhadap gubernur Damaskus. Ini menunjukan zaman salaf pernah berunjuk rasa seperti aksi 411 itu.

“Masyarakat waktu itu memprotes dan mengkritisi gubernur kepada khalifah Umar bin Khottob. Umat memanggil gubernur itu berkat kritikan yang diperolehnya dan diketahuilah alasan mengapa mereka berbuat itu,”

“Itulah yang harus dibahas oleh umat Islam,” tambahnya.

Namun, kata dia, bukan berarti umat Islam rela dan ridho terhadap hukum positif, ini merupakan tindakan yang paling memungkinkan untuk menolong agama Islam.

“Ini adalah keadaan darurat. Masa kita rela untuk berdiam diri ketika agama sedang dinistakan?. Ini bukan berhukum kepada mereka, ini adalah keadaan darurat karena hukum syariat belum tegak,” terangnya mengimbau peserta.

Pimpinan pondok Tahfidz An Nahl Magelang itu menyatakan, umat Islam sekarang untuk tidak terlalu berfikir keras tentang masalah ini. Sebab, persatuan dan kesatuan umat Islam dibutuhkan saat ini.

“Kalau bisa orang-orang Nasionalis dan yang lain diajak untuk membela Islam. Ini dapat menjadi momentum untuk persatuan umat Islam, kita harus menjaga semangat ini, bukan saatnya berdebat !” pungkasnya.

Ratusan Jamaat Memenuhi Masjid
Ratusan Jamaah Memenuhi Masjid

 

Ibu-ibu Tj. Priok Ini Dibohongi Pakai Acara Istighosah dalam Parade Bhinneka Tunggal Ika

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sungguh malang nasib ibu-ibu dari Tanjung Priuk ini. Niatnya untuk berdoa dalam acara istighosah pupus lantaran dibohongin oleh orang dekat rumahnya.

“Tadi kita dibilanginnya istighosah, jadi kita pada mau ngikut. Ternyata nyampe sini mana istighosahnya,” ujar Ita, (45 tahun), salah seorang ibu rumah tangga.

Ia mengaku dijanjikan untuk diikutkan dalam acara sebuah acara istighosah hari ini, Sabtu (19/11). Namun, bukannya lafal kalimah tayyibah yang didengar, justru alunan musik tak jelas yang mampir di telinganya.

Dengan raut muka kecewa, Bu Ita menceritakan bahwa orang tersebut akan membawanya ke Gelora Bung Karno. Namun ia justru diturunkan di areal Patung Kuda, tempat parade Bhinneka Tunggal Ika dilangsungkan.

“Istighosah gitu katanya di Gelora bilangnya. Tahu-tahunya lho kok sampai sini naik mobilnya. Katanya di gelora, kan masih jauh,” tuturnya kepada JITU Islamic News Agency.

Ia mengatakan masih belum jelas untuk acara apa ia diturunkan di tempat itu. Apakah ikut istighosah atau acara tandingan aksi bela Islam 4 November lalu.

“Ngelihatnya ya gak jelas sih. Tujuannya juga kurang jelas. Masalahnya kita dari awal saja usah dibohongin.

Awalnya aja sudah gak baik, ya nggak tahu deh belakang-belakangnya mau dijadikan apaan gak tahu,” katanya dengan pasrah.

Lebih sedihnya lagi, Bu Ita mengaku harus meninggalkan kerjaan di rumah untuk acara istighosah yang dijanjikan. “Ternyata sampai sini kayak begini doang gak jelas. Gak ada doa-doanya sama sekali. Malah nyanyi-nyanyi,” imbuhnya.

Orang yang menjemputnya, kata dia, berjanji untuk mengantar pulang pukul setengah dua belas siang. Saat diwanti-wanti apakah akan diikutkan hingga akhir acara, ibu ini berharap tidak.

“Mudah-mudahan enggak ya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, hari ini sejumlah orang mengikuti parade Bhinneka Tunggal Ika di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Acara diisi dengan berbagai hiburan untuk menari peserta berupa musik dan tari-tarian.

Reporter: M. Fajar/JITU Islamic News Agency