Gembirakan Mustahik, Umat Diminta Tunaikan Zakat Lebih Awal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kepala Sub Direktorat Keuangan dan Koordinator Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS) Masjid Istiqlal, Ustaz Budi Firmansyah mengajak umat Islam menunaikan zakat lebih awal. Masjid Istiqlal siap menampung dana zakat dan menyalurkannya ke mustahik.

Ustaz Budi mengajak masyarakat untuk lebih awal menunaikan zakat.

“Masjid Istiqlal siap menerima dan menyalurkan dana zakat sesuai tujuan zakat, (salah satunya) untuk menggembirkan para mustahik,” kata Ustaz Budi kepada Republika, Ahad (18/4).

Ia menyampaikan, penghimpunan dana ZIS di awal Ramadhan 2021 hampir sama dengan Ramadhan 2020. Di hari-hari awal Ramadhan tidak ada yang datang untuk menunaikan zakat, mungkin karena masih dalam masa pandemi Covid-19 dan menjaga protokol kesehatan.

“Kebanyakan (masyarakat membayar zakat) melalui online dan transfer, tapi baru-baru ini sudah ada yang mulai menyampaikan zakatnya ke kita dan cukup signifikan ketimbang (Ramadhan) tahun lalu,” ujarnya.

Ustaz Budi mengatakan, di awal Ramadhan tahun lalu sedikit yang membayar zakat. Tapi Ramadhan tahun ini di hari kelima puasa sudah ada yang baya zakat fitrah dan zakat mal.

Menurutnya, di awal Ramadhan tahun ini nampak lebih banyak yang menunaikan zakat fitrah dan zakat mal dibandingkan Ramadhan tahun lalu. Mungkin karena Ramadhan tahun ini masjid sudah mulai dibuka.

Ia menerangkan, Ramadhan tahun lalu dapat menghimpun sekitar Rp 100 juta dari zakat fitrah, dan Rp 100 juta dari zakat mal. Jadi kurang lebih menghimpun zakat fitrah dan zakat mal sekitar Rp 200 juta.

“Tahun ini kurang lebih (targetnya) seperti itu (menghimpun zakat fitrah dan zakat mal Rp 200 juta) karena kita memaklumi kondisinya (sedang pandemi),” ujarnya.

Terkait penghimpunan dana ZIS oleh masjid Istiqlal, Ustaz Budi menyampaikan dengan menerapkan protokol kesehatan karena masih pandemi Covid-19.

Mengenai pendistribusian dana ZIS, ia mengatakan, seperti tahun lalu didistribusikan ke lembaga-lembaga yang mengajukan dan bermitra dengan masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal menjemput bola dalam penyalurannya.

“(Dana ZIS juga disalurkan ke) mustahik di sekitar kita (masjid Istiqlal), kita cari yang dekat (pendistribusiannya),” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

MUI Harap Polisi Mampu Menangkap Jozeph Paul Zhang

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pernyataan Jozeph Paul Zhang yang mengaku sebagai Nabi ke-26 mendapat tanggapan serius dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Organisasi ini meminta agar Polisi melakukan pelacakan terhadap keberadaan orang tersebut yang sudah meresahkan umat Muslim di Indonesia karena telah melakukan penodaan agama.

“Kami sangat mendukung jajaran Polri untuk bekerja dengan profesional serta melibatkan sejumlah negara jika benar yang bersangkutan sudah tidak berada di Indonesia,’’ kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI, Dr H Amirsyah Tambunan dalam rilis yang diterima Republika, Ahad (18/4).

Menurut Amirsyah, yang bersangkutan sudah melakukan penodaan agama karena dalam video yang viral di media sosial, Jozeph selain mengaku sebagai Nabi ke-26 juga diduga telah menista agama Islam. Ia berharap Polisi dapat bertindak seadil-adilnya agar peristiwa seperti penistaan terhadap agama manapun tidak terulang kembali.

Sekjen MUI juga meminta agar umat Islam tetap tenang dan tidak terprovokasi terhadap pernyataan Jozeph yang videonya cukup viral di media sosial. Apalagi lanjut dia, saat ini umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa sehingga membutuhkan kekhusyukan dan tidak terganggu dengan ucapan yang bersangkutan dalam video tersebut.

“Saya berharap semua umat muslim di Indonesia dapat menjaga kesucian bulan Ramadhan, tetap tenang dan mempercayakan pengusutan kasus ini kepada kepolisian,’’ pintanya.

Sebagaimana diketahui, Jozeph diduga melakukan penistaan agama Islam dengan melakukan diskusi daring melalui Zoom yang kemudian diunggah ke saluran Youtube miliknya dengan judul Puasa Lalim Islam. Dalam video diskusi itu, ia mengatakan Allah SWT dikurung di Kakbah.

Tak hanya sampai di sana, Jozeph menantang siapa pun untuk melaporkan dirinya kepada pihak berwajib. Ia juga menawarkan imbalan masing-masing sebesar Rp 1 juta kepada lima pelapor pertama.

“Yang bisa laporin gua penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26 Josep Fauzan meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulan yang maha cabul,” ujar Jozeph dalam video itu.

Sumber: republika.co.id

Fenomena Penistaan Agama, Umat Diminta Tak Terprovokasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Filsuf dan Guru Besar filsafat kebudayaan Islam di Universitas Paramadina, Abdul Hadi WM,  Umat Islam harus menangapi dengan dingin kasus penghinaan agama yang dilakukan oleh Jozeph Paul Zhang yang telah menghina nabi Muhammad dan melecehkan ajaran Islam.

Hal tersebut karena terbuka kemungkinan besar penghinaan yang dia lakukan punya skenario lain. Yakni, membuat Islam marah sehingga membenarkan apa yang selama inii dituduhkan bahwa Islam itu agama yang terkait kekerasan.

”Saya kira tenang saja. Biar polisi yang bertindak sebab sudah ada aturan hukumnya. Kita tidak tahu siapa dia dan latar belakang dia melakukan perbuatan nista itu. Lagi-lagi umat Islam harus terus bersabar karena memang ada pihak yang berusaha terus memancing agar ribut,” kata Abdul Hadi, Ahad(18/4).

Menurut Abdul Hadi apa yang dilakukan oleh Paul Zhang, bukan fenomena yang baru. Bahkan sejak zaman nabi Muhammad atau awal tarikh Islam sudah ada. Dan fenomena mengaku nabi baru pun kini ada.

”Kemarin dahulu ada fenomena Lia Aminudin dan Ahmad Musadeq. Yang lainnya juga banyak, misalnya muncul aliran kepercayaan baru. Kalau dalam bahasa ilmiah ini disebut fenomena eksatologis di mana ada orang resah dengan kepercayaan akan datangnya akhir zaman,” ujarnya.

Di dalam Islam, fenomena ini misalnya dahulu ditandai dengan banyak hal. Misalnya munculnya agama Sikh di India yang merupakan pencampuran Hindu dan Islam, agama Bahai, hingga agama Druze yang awalnya merupakan sempalan dari Islam dengan mahzab Syiah.

Maka, lanjutnya pihak memang harus  berwenang segera mengatasi soal ini secara hukum. Ini sangat penting untuk meredam keresahan masyarakat.”Sekali lagi polisi memang harus bersikap. Kita tak tahu mengapa Paul Zhang sampai berani bertindak seperti itu,” ujarnya,

Sumber: republika.co.id

Kiai Cholil: Sudah Seharusnya Penista Agama Diproses Hukum

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat M  Cholil Nafis mendukung kepolisian yang sedang menyelidiki kasus dugaan penistaan agama Islam oleh seorang pria bernama Jozeph Paul Zhang. Ia berharap tersangka dapat ditangkap dan proses hukum terhadapnya terus dilanjutkan.

Menurut Cholil, pelaku dalam kasus penistaan agama seperti saat ini sudah sepantasnya menghadap meja hijau dan mendapat hukuman seberat-beratnya. Hal ini penting untuk menjadi pelajaran bagi banyak orang, sekaligus mencegah agar tidak ada yang bersikap main hakim sendiri karena merasa tidak puas dengan hukum.

“Umat Islam tidak usah terprovokasi. Percayakan proses hukum pada aparat dan dorong pihak berwenang bisa segera mengatasinya,” ujar Cholil, Ahad (18/4).

Cholil mengatakan seluruh ajaran agama tidak boleh dihina. Selama ini umat Muslim telah diajarkan saling menghargai terhadap penganut kepercayaan atau agama lain, sebagaimana mereka juga ingin dihargai.

“Kita (umat Muslim) harus menghargai orang lain sebagaimana juga ingin diposisikan demikian,” kata  Cholil.

Sebelumnya, Jozeph diduga melakukan penistaan agama Islam dengan melakukan diskusi daring melalui Zoom yang kemudian diunggah ke saluran Youtube miliknya dengan judul Puasa Lalim Islam. Dalam video diskusi itu, ia mengatakan Allah SWT dikurung di Ka’bah.

Tak hanya sampai di sana, Jozeph menantang siapa pun untuk melaporkan dirinya kepada pihak berwajib. Ia juga menawarkan imbalan masing-masing sebesar Rp 1 juta kepada lima pelapor pertama.

“Yang bisa laporin gua penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26 Josep Fauzan meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulan yang maha cabul,” ujar Jozeph dalam video itu.

Sumber: republika.co.id

Pondok Pesantren Diminta Taati Protokol Kesehatan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pondok pesantren diminta mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penyebaran covid-19.”Kami berharap kegiatan belajar di pesantren tetap mengutamakan prokes,” kata Kepala Seksi Pondok Pesantren Kantor KemenagKabupaten Lebak Ajrum Firdaus di Lebak, Sabtu (17/4).

Permintaan penerapan prokes itu agar para santri yang tengah belajar di pesantren tidak terpapar covid-19.Sebab, kata dia, dulu sebelum bulan suci Ramadhan beberapa santri di Kabupaten Lebak positif tertular virus corona akibat pesantren tidak menerapkan prokes.

Sebetulnya, ujar dia, prokes lebih efektif untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.Saat ini, kata dia, jumlah ponpes di Kabupaten Lebak sebanyak 1.700 lembaga, baik yang dikelola secara modern maupun tradisional diwajibkan mematuhi prokes.

“Kami minta pesantren dapat mengendalikan pandemi covid-19 agar tidak menjadikan klaster penularan penyakit yang mematikan itu,” katanya.

Menurut dia, para pengelola pesantren harus mematuhi prokes dengan membudayakan 3 M yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan serta menghindari kerumunan.Saat ini, kata dia, tren penyebaran virus corona di Kabupaten Lebak dapat dikendalikan dan kini menjadi status zona kuning dengan risiko penularan rendah.Selain itu juga tingkat kesembuhan pasien COVD-19 cenderung meningkat.

sumber: republika.co.id

 

Syaikh Yusuf Qardhawi Dikabarkan Terpapar Covid-19

DOHA(Jurnalislam.com) — Ulama kenamaan Syekh Yusuf al Qardhawi dikabarkan terpapar Covid-19. Lewat jejaring sosial twitter resmi, pada Sabtu (17/4), pendiri Persatuan Para Cendikiawan Muslim Dunia itu mengumumkan telah menjalani tes covid-19, dan dinyatakan terinfeksi virus corona

Kesehatan ulama 94 tahun tersebut dilaporkan dalam kondisi yang baik. “Yang mulia, Syekh al-Qardhawi, terinfeksi virus corona, dan dia dalam kondisi baik, dan dia menerima perawatan kesehatan, dan meminta kita semua mendoakan, untuk pemulihan dan kebugarannya,” begitu tulis akun resmi Syekh al-Qardawi, yang dikutip dari portal berita, the Peninsula Qatar, Sabtu (17/4).

Syekh al-Qardhawi adalah salah satu tokoh, dan pemikir Islam kelas dunia. Ia lahir, dan besar di Mesir. Namun, reputasi politiknya yang dekat dengan kelompok Ikhwanul Muslimin, membuatnya terusir, dan terancam di Negeri Piramida.

Sumber: republika.co.id

Kecam Penistaan Agama, PBNU Desak Polisi Tangkap Jozeph Paul Zhang

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (PBNU)) mengecam keras Jozeph Paul Zhang, seorang pria yang mendadak viral di media sosial setelah diduga menista agama dan Nabi Muhammad SAW. PBNU menilai pernyataan Jozeph mencederai keyakinan dan ajaran umat Islam.

“Mengecam keras pernyataan yang mencederai keyakinan dan ajaran umat Islam. Pernyataan yang dilakukan oleh Joseph Paul Zhang masuk ke dalam penghinaan terhadap keyakinan umat Islam,” Sekjen PBNU, A Helmy Faishal Zaini, dalam keterangan tertulis, Minggu (18/4/2021).

Helmy meminta Polri segera menangkap Jozeph Paul Zhang. Dia juga meminta umat Islam tetap tenang dan tidak terprovokasi melakukan hal-hal yang di luar koridor hukum yang berlaku.

“Meminta aparat keamanan, dalam hal ini Polri untuk segera melalukan langkah konkret mengusut dan menangkap Joseph Paul Zhang atas perbuatannya tersebut,” ucapnya.

“Meminta kepada umat Islam untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi melalukan hal-hal yang di luar koridor hukum yang berlaku. Mari kita senantiasa menjaga bulan suci Ramadhan dengan cara-cara yang arif dan bijaksana. Salah satunya, saling menghargai dan menghormati keyakinan umat beragama,” tambahnya.

Sumber: detik.com

 

Menag Apresiasi Pelaporan Terhadap Penistaan Agama

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Dugaan penistaan agama kembali terjadi dan menjadi perbincangan publik pekan ini. Ada dua peristiwa yang muncul, video Jozeph Paul Zhang yang diduga menghina Islam dan Desak Made Darmawati yang diduga melakukan penistaan agama Hindu.

Desak Made sudah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada umat Hindu, meski proses hukum yang berjalan tetap harus dihormati. Sementara itu, aparat juga sudah menindaklanjuti laporan terkait Joseph Paul Zhang.

“Saya mengapresiasi langkah proaktif aparat dalam menindaklanjuti dan mengambil tindakan atas laporan ujaran yang mengandung penistaan dan menimbulkan keresahan,” terang Menag setibanya di Jakarta, Minggu (18/4/2021), usai bertemu beberapa tokoh agama Kalimantan Utara.

“Saya minta masyarakat untuk tetap tenang, mengedepankan kebersamaan dan toleransi di tengah upaya berbagai pihak mengadu dan memecah persatuan dan kesatuan bangsa,” sambungnya.

Menurut Menag, tindakan menistakan agama memang tidak dibenarkan atas alasan apapun. Karenanya, menjadi tugas aparat untuk melakukan tindakan tegas pada setiap bentuk penistaan agama, siapapun pelakunya.

“Saya mendorong aparat untuk menindak setiap pelaku ujaran atau pun perbuatan yang mengarah pada penistaan agama. Tidak hanya terkait kasus Joseph Paul Zhang dan Desak Made, tapi siapapun pelakunya,” tegas Menag.

Ditegaskan Menag, setiap umat beragama memang harus meyakini kebenaran keyakinan agamanya. Namun, hal itu tidak boleh diikuti dengan sikap merendahkan atau menyalah-nyalahkan ajaran atau keyakinan agama lainnya.

“Kedepankan toleransi. Mari yakini kebenaran agama masing-masing dengan tetap menghormati dan menghargai saudara sebangsa yang berbeda keyakinan,” tandasnya.

Prof. Azra: Sejak 100 Hari Pertama, Mendikbud Raportnya Merah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Setelah sempat lalai tidak memasukkan frasa ‘agama’ dalam draft Peta Jalan Pendidikan Nasional (PJPN) 2020-2035, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali melakukan blunder dengan menghilangkan kurikulum wajib Pancasila dan Bahasa Indonesia dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

PP 57 Tahun 2021 itu sendiri berfungsi bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan dalam pendidikan formal hingga non-formal.
Meskipun kesalahan itu segera diperbaiki oleh Kemendikbud dengan mengajukan revisi atas PP nomor 57 Tahun 2021 yang baru beberapa hari diteken Presiden Joko Widodo, pakar pendidikan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra mengaku tak kaget.

“Pandangan saya Kemendikbud diserahkan pada orang yang bukan ahlinya. Bukan orang yang paham sejarah pendidikan Indonesia. Makanya sebelum munculnya (kasus) peta jalan, saya sudah menyatakan bahwa saya memberikan rapor merah pada Mendikbud yang sekarang itu,” ungkap Azyumardi dalam Pengajian Ramadan 1442 H PP Muhammadiyah, Ahad (18/4).
“Itu 100 hari kabinet. Sekarang hampir 1,5 tahun tidak berubah, bahkan lebih jelek,” imbuhnya.

Azyumardi menganggap terjadinya dua kali kesalahan mendasar itu sebagai hal yang fatal. Mendikbud menurutnya tidak menyiapkan pembangunan sumber daya manusia, tapi hanya menyiapkan sistem pendidikan yang merespon secara reaktif naik turunnya dinamika pasar semata.

“Kalau ada kata akhlak, itu gimmick saja,” kritiknya.
Sementara itu, Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Abdul Mu’ti menyatakan bahwa BSNP telah membuat dan menyediakan masukan secara rinci terkait PP Nomor 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

“Termasuk mengenai rumusan PJPN, BSNP sudah membuat konsep pendidikan 2045 yang sudah beredar yang memang isinya berbeda dengan yang diterbitkan dengan Kementerian (Kemendikbud),” ungkap Mu’ti heran karena rekomendasi BSNP tidak diperhatikan.

Sebelumnya pada Kamis (15/4), Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) melalui keterangan tertulis turut menyatakan prihatin atas kesalahan Kemendikbud.

“Kami menduga, hilangnya Pancasila dan Bahasa Indonesia ini merupakan kesalahan tim penyusun baik secara prosedural, formal, maupun substansial,” tulis Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim.

Sumber: muhamamdiyah

Lonjakan Kasus Covid di India, Faskes di Beberapa Kota Dikabarkan Lumpuh

INDIA(Jurnalislam.com)–Lonjakan kasus Covid-19 di India menjadi perhatian dunia. Pada Ahad (18/4), India melaporkan 261.500 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Kenaikan kasus positif yang sangat signifikan membuat sejumlah provinsi di India melaporkan ketidakmampuan merawat pasien Covid-19. Terutama ketidakmampuan memberikan bantuan oksigen bagi pasien Covid-19.

Salah satu daerah yang kesulitan oksigen adalah New Delhi. Chief Minister Delhi, Arvind Kejriwal, mengatakan Delhi mengalami kekurangan oksigen yang akut.

“Delhi sangat membutuhkan pasokan normal. Ketimbang meningkatkan suplai, suplai normal kami sudah sangat berkurang. Kuota oksigen Delhi dialihkan untuk negara bagian lain,” katanya lewat akun Twitternya, dikutip dari Indian Express, Senin (19/4).

Kejriwal mencicit, oksigen sudah menjadi benda darurat di Delhi. Cicitan Kejriwal diberi latar kondisi di beberapa daerah, seperti Maharashtra, Madhya Pradesh, dan Uttar Pradesh yang juga berlomba untuk mencari oksigen.

Ia pun sudah menulis surat ke PM Modi meminta bantuan bagi Delhi. Surat tersebut menyatakan, situasi Covid-19 di Delhi sangat serius. “Terjadi kekurangan tempat tidur dan oksigen. Kami butuh bantuan. Kami juga mengalami kekurangan pasokan oksigen yang ekstrem. Itu seharusnya diberikan ke kami secepatnya.”

Kurang dari 10 hari setelah India mengatakan tidak terdapat kekurangan oksigen, bahkan saat rumah sakit di sejumlah daerah yang mengibarkan bendera merah dan menyatakan stok oksigen rendah hingga tingginya kematian pasien Covid-19, perintah pemesanan oksigen keluar dalam 24 jam. Perintah tersebut untuk memastikan tidak ada gangguan dalam silinder oksigen di seluruh daerah. Termasuk meminta industri dan distributor melayani rumah sakit di seluruh India.

Perintah tersebut ditandatangani oleh Menteri Dalam Negeri Ajay Bhalla, dilansir dari India Times, keluar beberapa jam setelah PM Modi diberi tahu tentang usaha pusat meningkatkan produksi dan pasokan tabung oksigen. Keluhan kekurangan oksigen tidak hanya disuarakan Delhi. Daerah dengan dampak parah seperti Maharashtra dan Madhya Pradesh juga mengeluh kekurangan oksigen. Akibatnya, rumah sakit menolak merawat pasien yang keluarganya tidak mau menandatangani klausul tidak akan menuntut rumah sakit secara hukum bila terjadi kekurangan oksigen.

Sebanyak 17 ribu ton oksigen sudah dialihkan dari negara-negara yang surplus oksigen ke 12 daerah yang paling membutuhkan. Masalahnya, di daerah terpencil, yang juga mengalami kenaikan kasus Covid-19 tapi tidak memiliki tempat penyimpanan oksigen yang besar. Di klinik yang relatif kecil, pasokan oksigen juga terganggu. Karena klinik tersebut mengandalkan pasokan tabungan oksigen harian.

Saat ini India sudah mendeteksi lebih dari 2,5 kali lipat kasus positif Covid-19 dibanding saat puncak gelombang pertama di September. Kenaikan kasus bukan karena kenaikan jumlah pengetesan. Tingkat pengetesan berada di kisaran angka yang sama seperti September dan Oktober tahun lalu. Tapi kali ini lebih banyak hasil tes yang keluarnya positif.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa gelombang kedua pandemi Covid-19 di India saat ini didorong oleh varian-varian baru yang lebih menular. Sebagian merupakan varian dari luar negeri dan sebagian lainnya merupakan varian dari India yang telah bermutasi dan menyebar.

“Saya percaya kita menjumpai sebuah mutasi yang lebih kuat, banyak pasien yang menunjukkan hasil negatif terhadap virus tetapi secara klinis mereka positif Covid-19, kotak pandora dalam bencana ini terbuka sekarang,” ujar Direktur Medis Dharamveer Solanki Hospital Dr Pankaj Solanki, seperti dilansir Telegraph.

Dr Solanki mengatakan kondisi para pasien di India saat ini memburuk dengan cepat. Ada lebih banyak pasien yang kini mengalami badai sitokin. Selain itu, gejala yang dialami pasien-pasien berusia lebih muda juga menjadi lebih sulit untuk dikelola.

Sisi barat dari negara bagian Maharashtra merupakan wilayah yang mengalami gelombang kedua pandemi Covid-19 terburuk di India. Sekitar 61 persen dari kasus yang ditemukan pada Januari-Maret di area tersebut disebabkan oleh strain B.1.617 atau dikenal sebagai double mutant. Varian ini juga menjadi penyebab lebih dari 70 kasus Covid-19 di Inggris.

Varian B.1.617 membawa dua mutasi spesifik yang menjadi perhatian yaitu E484Q dan L452R. Ahli virologi meyakini kedua mutasi tersebut lebih menular dan dapat menyebabkan reinfeksi. Mutasi serupa juga menjadi dalang di balik lonjakan kasus Covid-19 di Brasil dan banyak wilayah di Amerika Selatan dalam beberapa bulan ke belakang.

Seperti di banyak negara lain, ahli virologi Dr Shahid Jameel emngatakan kapasitas India untuk melakukan sekuensi terhadap strain baru ini masih terbatas. Ahli lainnya, Dr Ramanan Laxminarayan, menambahkan bahwa India saat ini belum menemukan hubungan antara sekuens-sekuens yang ada dengan epidemiologi dari Covid-19.

“Tanpa hubungan tersebut, kita tak bisa mengatakan varian mana yang paling mengkhawatirkan di lingkup India,” jelas Dr Laxminarayan.

sumber: republika.co.id