Pesantren Dinilai Mampu Hadapi Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Pandemi Covid-19 sudah berlangsung hampir dua tahun. Hari Santri, 22 Oktober 2021, juga diperingati masih dalam suasana pandemi.

Menag Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi kemampuan pesantren dalam menghadapi wabah Covid-19.  “Kita patut mengapresiasi pengalaman beberapa pesantren yang berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan atas dampak pandemi covid 19 ini,” tegas Menag Yaqut saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Santri di halaman kantor Kemenag, Jakarta, Jumat (22/10/2021).

“Ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren juga memiliki kemampuan untuk menghadapi pandemi Covid-19 di tengah berbagai keterbatasan fasilitas yang dimilikinya,” sambungnya.

Menag menilai, pesantren memiliki modal utama dalam menghadapi tantangan, yaitu tradisi dan sikap kehati-hatian, yang selama ini diajarkan oleh para kiai kepada santri-santrinya. “Keteladanan para kiai berkontribusi untuk mendorong para santri bersedia ikut vaksin yang saat ini sedang diprogramkan oleh pemerintah,” tuturnya.

Menag mengajak para santri dan seluruh elemen masyarakat untuk mendoakan para pahlawan terutama dari kalangan ulama, kiai, santri yang telah syahid di medan perang demi kemaslahatan bangsa dan agama. Hari Santri tidak terlepas dari perjuangan mereka yang pada 22 Oktober 1945 menerbitkan Resolusi Jihad di bawah komando Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari.

“Resolusi Jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sejak ditetapkan pada tahun 2015, setiap tahun umat muslim Indonesia rutin menyelenggarakan peringatan Hari Santri,” ujar Menag.

“Semoga arwah para pahlawan bangsa, mereka yang gugur sebagau kusuma bangsa, ditempatkan pada tempat yang terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Amin,” harap Menag.

 

Santri Zaman Now Harus Melek Literasi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Indonesia memiliki Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober. Tanggal ini merujuk pada terbitnya Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945. Resolusi ini menyulut semangat juang para santri dan masyarakat untuk mempertahankan NKRI dari ancaman pendudukan kembali tentara sekutu Belanda dan Inggris (NICA).

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid menilai jihad para santri masa kini semakin berat. Selain kemampuan ilmu keislaman (tafaqquh fi al-din), santri juga diharapkan memiliki keluasan cakrawala dalam beragam perspektif keilmuan umum. Kalau dulu berhadapan dengan penjajahan Belanda, tantangan santri saat ini jauh lebih kompleks. Mereka akan bergelut dengan isu-isu sosial kemasyarakatan, lingkungan, politik, ekonomi, dan kebangsaan yang lebih rumit dibanding dengan masa lalu, termasuk tantangan revolusi industri 4.0.

“Santri abad ke-21 harus memiliki keterampilan literasi digital (digital literacy), di samping literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan,” terang Wamenag saat berbicara pada webinar Peringatan Hari Santri di Jakarta, Kamis (21/10/2021).

Hadir juga sebagai narasumber, Katib Aam PBNU KH Yahya C Staquf, Anggota Komisi VIII DPR KH Maman Imanul Haq, dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono Abdul Ghofur

Menurut Wamenag, dunia saat ini tengah memasuki periode perubahan transformatif (transformative change) dan pergeseran besar (megashift) dalam pelbagai aspek kehidupan. Segala sesuatu telah mengalami proses mediatisasi, digitalisasi, virtualisasi, otomatisasi, robotisasi, mobilisasi, dan deteritorialisasi. Pelbagai bentuk teknologi digital telah berkembang, antara lain: kecerdasan buatan (artificial intelligence), data besar (big data), buku besar digital (blockchain), komputasi awan (cloud computing), Internet untuk Segala (Internet of Things atau IoT), pembelajaran mesin (machine learning), aplikasi seluler (mobile applications), nanoteknologi (nanotechnology), dan sebagainya.

“Revolusi digital diperkirakan akan menghilangkan 800 juta lapangan kerja di seluruh dunia, yang diestimasi terjadi sampai tahun 2030 karena digantikan oleh mesin. Hal ini bisa menjadi ancaman dunia termasuk bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki angkatan kerja dan angka pengangguran yang cukup tinggi,” pesan Wamenag.

“Kondisi saat ini memaksa semua pihak untuk melakukan akselerasi pemahaman dan penguasaan terhadap teknologi, tidak terkecuali para santri,” sambungnya.

Mengutip pesan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Wamenag mengatakan bahwa  santri milenial tidak cukup hanya pintar mengaji. Lebih dari itu, santri harus mempunyai daya hidup dan kreativitas agar siap memasuki dunia industri dan dunia usaha.

Agar lebih kontributif dalam memecahkan masalah yang kompleks pada abad ke-21, lanjut Wamenag, santri milenial juga harus dapat berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi.  Oleh sebab itu, proses pembelajaran di pesantren, selain tetap berorientasi tafaqquh fi al-din, semestinya juga terus disesuaikan agar selalu relevan dengan perkembangan zaman, tuntutan dunia industri dan dunia usaha, serta potensi kaum milenial dalam penghidupan di masa depan.

“Para ustadz di pesantren semakin penting untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada santri, yaitu karakter religius dan jiwa fastabiqul khairat atau berlomba-lomba untuk kebaikan,” tandasnya.

Helatan Babak Final, STQ Nasional Segera Ditutup

MALUKU(Jurnalislam.com)—  Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) Nasional XXVI tahun 2021 di Sofifi, Maluku Utara hampir berakhir. Babak final digelar hari ini diikuti 60 finalis.

STQH rencananya ditutup Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi pada pada 23 Oktober malam.

Kepala Subdirektorat Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al Quran dan Al Hadits Rijal Ahmad Sangkuty mengatakan persiapan pelaksanaan penutupan sudah mencapai 90%.

“Persiapan sudah mencapai 90%. Besok Insya Allah STQH Nasional XXVI tahun 2021 akan ditutup oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi,” ujar Rijal di Sofifi, Kamis (21/10/2021).

Selain persiapan penutupan, kata Rijal, setelah babak final selesai, dewan juri malam ini akan menggelar sidang untuk menentukan pemenang.

“Final terkahir adalah tilawah dewasa yang dilaksanakan pukul 19.30 WIT di venue utama Masjid Raya Shaful Khairat Sofifi. Setelahnya dewan juri akan berdiskusi untuk menentukan pemenang yang akan diumumkan besok pada acara penutupan,” pungkas Rijal.

Selain menutup STQH Nasional ke XXVI, Wamenag dijadwalkan akan mengisi kuliah umum di IAIN Ternate.

Maulid Nabi, Momen Pengingat Agar Umat Lebih Taat

BANDARLAMPUNG(Jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung, Prof Moh Mukri, mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi pengingat kepada umat Muslim agar lebih taat kepada ajaran agama.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini momentum kita untuk taat ajaran agama Islam,” kata Mukri saat dihubungi di Bandarlampung, Selasa (19/10).

Selain itu, lanjut dia, sebagai pengikutnya umat Islam seharusnya dapat bersyukur dengan mengingatnya setiap hari dan mengimplementasikan seluruh ajarannya dengan penuh keyakinan.

Terkait adanya pemunduran hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW, Ketua MUI Lampung itu mengatakan hal tersebut bukanlah menjadi suatu masalah karena tidak mengubah maknanya.

Sebab, lanjut dia, dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini umat Muslim bukan sekedar memperingati harinya melainkan lebih kepada subtansinya.

“Yang terpenting itu subtansinya dimana kita diminta menjadikan Nabi Muhammad jadi panutan dalam setiap kehidupan,” kata dia.

Menurutnya pengunduran hari libur Maulid Nabi tersebut oleh pemerintah sudah tentu telah melalui pertimbangan-pertimbangan sehingga bukan menjadi persoalan yang harus dibesar-besarkan.

“Umat Islam tahu juga hari ini Maulid Nabi, tak masalah bila peringatannya diundur yang penting maknanya tidak, toh sholat pun yang wajib bisa dijamak atau qashar,” kata dia. (mui)

 

PTKIN Didorong Lakukan Transformasi Digital

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) diminta untuk bergegas dalam melakukan transformasi institusi, digitalisasi, dan internasionalisasi.

Hal ini dikatakan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ditjen Pendidikan Islam Kemenag  Suyitno saat menutup Focus Group Discussion (FGD) Forum Wakil Rektor II PTKIN se-Indonesia di Pekalongan, Senin (18/10/2021).

“Transformasi institusi yang sedang dilakukan Kementerian Agama adalah perubahan kelembagaan dari STAIN ke IAIN dan dari IAIN ke UIN,” terang Suyitno.

Transformasi digitalisasi yang dimaksudkan Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang, adalah perubahan dari sistem layanan manual ke digital. Pilot projeknya adalah didirikannya Universitas Islam Siber Syeh Nurjati (UISSI) Cirebon.

“Transformasi internasionaliasi meniscayakan perguruan tinggi untuk mampu bersaing dan berkualitas secara internasional, salah satunya melalui pendirian UIII Depok,” terang Mantan Direktur Guru dan tenaga Kependidikan (GTK) ini.

Di hadapan lima Rektor yang hadir dan 58 WR II PTKIN, Suyitno menegaskan bahwa Rektor/Pimpinan PTKI yang hebat adalah mereka yang meninggalkan legacy-nya sendiri. “Semakin hebat warisan yang ditinggalkan itu artinya semakin hebat Rector tersebut dan akan menjadi best practices bagi generasi setelahnya”, katanya.

“Ketika Bapak dan Ibu diberikan amanah menjadi pimpinan PTKIN, sejatinya hal yang harus melekat adalah tugas-tugas administratif, karenanya harus maksimal,” ujar Suyitno.

Rektor IAIN Pekalongan, Zaenal Mustaqim, mengatakan, FGD dan Evaluasi Tri Wulan III SBSN 2021 telah menghasilkan pokok-pokok pemikiran yang akan ditindaklanjuti. Di antaranya tentang review PMA No. 7/2018 tentang SSBOPT, besaran UKT TA. 2022, dan penyempurnaan ortaker PTKIN.

Zaenal mengatakan para rektor yang hadir telah melakukan telaah regulasi tentang ortaker PTKIN, dan ternyata memberikan peluang untuk penambahan lembaga semacam Rumah Moderasi Beragama dan Ma’had Al’Jamiáh.

Hadir dalam penutupan FGD, Rektor IAIN Kerinci Asyári, IAIN Metro Siri Nur Jannah, IAIN Ponorogo Evi Muafiah, IAIN Lhokseumawe Daniel, dan Ketua STAIN Majene Wasilah. Hadir juga, Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Ruchman Basori dan jajarannya serta unsur Pimpinan IAIN Pekalongan.

Gernas MUI Bantuk 100 Usaha Mikro Selama Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Majelis Ulama Indonesia (Gernas-MUI) penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi menyoroti kemiskinan yang cukup ekstrem di beberapa wilayah khsususnya di provinsi Jawa Barat.

Hal ini sejalan dengan tugas Gernas MUI yang bukan hanya fokus untuk membantu masyarakat mencapai herd immunity dengan vaksinasi, tapi turut membantu masyarakat dalam menyelesaikan masalah ekonomi.

Sampai akhir tahun ini, Gernas MUI menargetkan membagikan bantuan kepada 1000 usaha mikro di kabupaten yang masuk kedalam kategori ekstrem khususnya di Jawa Barat

“Bantuan kepada 100 usaha mikro di kabupaten yang masuk dalam kategori miskin ekstrem di Provinsi Jawa Barat ini, dapat membantu menyelesaikan masalah ekonomi akibat pandemi Covid-19,” kata ketua Gernas MUI KH Lukmanul Hakim, Senin (18/10).

Baca Juga  Satukan Langkah Pusat-Daerah, MUI Luncurkan Gerakan Nasional Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi

Di Provinsi Jawa Barat terdapat lima kabupaten dalam kategori miskin ekstrem, yaitu Karawang dengan 4,51 persen atau 106.780 jiwa, Kabupaten Indramayu dengan 6,15 persen atau 106.690 jiwa, Kabupaten Cianjur 4 persen atau 90.480 jiwa, Kabupaten Kuningan 6,36 persen atau 69.090 jiwa, dan Kabupaten Bandung dengan tingkat kemiskinan 2,46 persen atau 93.480 jiwa.

Baca Juga  MUI-ACT-DD Gelar Vaksinasi Massal di Bogor Lewat Gerai Vaksinasi

Kata Lukman, ikhtiar dalam menanggulangi Covid-19 dan pemulihan ekonomi secara bersama terus digencarkan, terutama di daerah penyangga ibu kota yang masih rendah persentase penduduk yang sudah di vaksin. Seperti halnya di Kabupaten Bogor yang baru mencapai 24,04 persen.

Data dari Kementerian Kesehatan memperlihatkan tingkat vaksinasi di 8 kabupaten dan kota, penyangga ibu kota.

Persentase vaksin kedua di 8 Kabupaten dan kota penyangga ibu Kota per tanggal 17 Oktober 2021. Antara lain: Kota Bekasi 52,81 persen, Kabupaten Bekasi 41,24 persen dan Kabupaten Bogor 24,04 persen.

Selain itu data Kemenkes kota lainnya yakni: Kota Bogor 59,18 persen, Kota Depok 43,76 persen, kota Tangerang 58,45 persen, Kabupaten Tangerang 35,39 persen, dan Kota Tangerang Selatan 50,54 persen.

Baca Juga  FGD Pra-Ijtima Bahas Hadhanah Anak

Sejauh ini, Gernas MUI telah melakukan vaksinasi dan menyalurkan bantuan kemanusian berupa paket beras di kabupaten dan kota daerah penyangga Ibu Kota seperti Depok, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Totalnya, sebanyak 25.000 dosis vaksin.

Lukman yang juga Ketua MUI Bidang Pemberdayaan Ekonomi ini menuturkan, bahwa program vaksinasi akan terus dilakukan sampai mencapai presentase kekebalan komunitas 60 persen.

“(Oleh) karena itu, meskipun jumlah kasus Covid cenderung menurun, kita tidak boleh lengah, harus terus mengejar target kekebalan komunitas,” pungkasnya

Hari Santri, Para Santri Diminta Peracaya Diri Sebarkan Dakwah

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Rangkaian Peringatan Hari Santri 2021 dimeriahkan dengan Pagelaran Wayang bertajuk Semar Bangun Pesantren. Acara ini dilaksanakan secara hybrid berpusat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (20/10/2021) malam.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas hadir di Asrama Pondok Gede, pukul 19.45 Wib. Menggunakan batik bermotif gambar Gareng ,salah satu tokoh wayang.

Pagelaran Wayang kali pertama di Kementerian Agama ini menghadirkan dalang Ki Gondong Al-Frustasi, sinden Agnes Sefronzo, dan pelawak Marwoto.

Pagelaran Wayang ini juga disiarkan secara langsung mulai pukul 19.30 WIB melalui kanal media sosial Kementerian Agama.

“Dalang Ki Gondong Al-Frustasi ini, Saya temukan di daerah Rembang. Ia bersemayam di tengah hutan, dalang muda, yang memiliki talenta yang tidak banyak kita temukan sekarang,” kata  Menag Yaqut, yang hadir bersama istrinya, Hj Eny Yaqut Cholil.

“Mudah-mudahan gelaran wayang malam ini menjadi inspirasi bagi anak-anak muda bangsa Indonesia, bahwa kita memiliki budaya, nilai-nilai tradisi, dan nilai-nilai keagamaan yang selalu membimbing masyarakat, dan ini perlu dilestarikan,” tambah Menag Yaqut.

Gus Yaqut, begitu ia disapa, menyampaikan bahwa gelaran wayang ini bagian dari suka cita Kementerian Agama terhadap peran penting santri yang turut memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Santri harus percaya diri. Karena, Santri bisa jadi presiden, wakil presiden, menteri, bupati, dan bisa jadi apa saja. Selamat hari santri, semoga benar-benar menjadi inspirasi,” tutup Gus Yaqut.

Dirjen Pendis, Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan bahwa dalam menyemarakkan hari santri, malam ini Kementerian Agama mengadakan pagelaran wayang.

Bagi Ali Ramdhani, tokoh Semar dalam wayang, bisa menjadi sosok sebagai kyai yang membangun pesantren. Pesantren tidak hanya sebagai menara gading yang indah, elok dipandnag, namun harus bisa sebagai mercusuar yang dibutuhkan bangsa untuk pembangunan bangsa.

“Agama, dakwah, dan budaya sebagai satu nafas dalam membangun peradaban. Agama lebih manusiawi dengan tampilan kearifan lokal,” kata Ali Ramdhani.

Ali Ramdhani berharap, dengan pagelaran wayang ini, semua yang menyaksikan utamanya para santri di seluruh penjuru Indonesia dapat mengambil pesan dan nilai tradisi, dan agar santri menjadi piara kebudayaan.

“Santri harus menampilkan wajah-wajah yang ramah, tidak mengejek, dan dapat menampilkan nilai-nilai rahmatan lil alamin,” tutup Ali Ramdhani.

Tampak hadir Sekjen Kemenag RI, Nizar Ali, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono Abdul Ghofur, pejabat eselon I, II, III di Kementerian Agama.

 

DMI Salurkan Rp 1 Miliar  untuk RSIH di Palestina

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyalurkan bantuan Rp 1 miliar untuk Rumah Sakit Indonesia Hebron (RSIH) di Palestina, melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua Umum DMI Jusuf Kalla didampingi oleh Sekretaris DMI, Imam Addaruquthni menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada MUI.

Dalam sambutanya, Jusuf Kalla mengatakan, bahwa bantuan ini merupakan amal jariyah yang besar dan berkelanjutan.

“Nilai amal jariyah yang berkelanjutan, yang memberikan manfaat yang besar,” ujarnya, di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta (19/10).

Jusuf Kalla menambahkan, bantuan yang diserahkan untuk pembangunan RSIH di Palestina melalui MUI ini merupakan sumbangan dari masyarakat yang sangat penting.

 

Menurutnya, Indonesia sebagai bagian dari negara G20 sudah waktunya untuk melakukan diplomasi ‘tangan di atas’. Apalagi, rumah sakit yang dibangun nantinya akan dianggap rumah sakit Indonesia, bukan hanya MUI.

JK sapaan akrabnya, menyamakan hal tersebut dengan prestasi yang ditorehkan oleh para atlet Indonesia yang membawa harum di kancah internasional. “Itu akan mengangkat nama Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, DMI sendiri disambut oleh para Pimpinan MUI di antaranya Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar, Sekertaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Bendahara Umum MUI Misbahul Ulum, serta Ketua MUI bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat KH Lukmanul Hakim.

Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar dalam sambutanya menyampaikan rasa terimakasih kepada DMI atas bantuan yang diberikan untuk nantinya diserahkan untuk RSIH.Baginya, ini merupakan sebuah Amanah.

 

“(Sekaligus) ini amalan yang luar biasa,’’tambahnya.

Kiai Miftachul juga mengibaratkan masjid semacam parlemen yang anggotanya tidak membedakan ras, kedudukan pangkat serta status sosial.

Ia juga menceritakan pengalamanya saat berkunjung ke Hebron, Palestina. Menurutnya, situasi di Hebron cukup mencengkam.

“Kami sebelum berangkat sudah ada insiden tembak menembak,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan mengungkapkan bahwa pembangunan RSIH diinisiasi oleh JK saat masih menjadi Wakil Presiden RI.

“Perhatian beliau sangat intens supaya Indonesia memiliki suatu momentum, untuk membangun sarana prasarana kepada Palestina yang mengalami penderitaan,” ungkapnya.

Untuk pembangunanya RSIH, Buya Amirsyah mengaku terharu dengan banyaknya Gerakan dari masyarakat untuk palestina meskipun masih di tengah pandemi Covid-19.

 

Hingga saat ini, kata dia, banyak Gerakan masyarakat seperti yang dilakukan melalui kitabisa.com, Ustad Adi Hidayat maupun dari DMI untuk membantu Palestina.

“Saat ini masyarakat terus melakukan gerakan, termasuk di Aceh memberikan donasi,” tuturnya.

Selain itu, Buya Amirsyah menambahkan, komunikasi dan MoU dengan berbagai pihak termasuk Walikota Hebron terus dilakukan. Tujuannya, untuk membantu Palestina.

Kata Buya Amirsyah, MUI bersyukur dan berterimakasih atas pemberian donasi Rp 1 Miliar dari DMI untuk nantinya disalurkan kepada Palestina, dan memberikan doa kepada Jusuf Kalla dan KH Miftachul Akhyar.

“Kami Bersyukur dan berterimakasih. Semoga allah memberikan Kesehatan dan keberkahan,” pungkasnya. (mui)

 

Berkarakter, Santri Disebut Pemenang di Masa Depan!

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menjadi pembicara pada Webinar Internasional dalam rangka memperingati Hari Santri 2021. Acara ini digelar RMI-PBNU dengan tema Santri Membangun Negeri: Sudut Pandang Politi, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknologi.

Dalam acara yang dihadiri banyak santri baik dari dalam dan luar negeri, Menag menyampaikan bahwa masa depan akan dimenangkan oleh para santri hari ini. Hal ini sangat dimungkinkan dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh pesantren.

“Di masa depan, anak anak yang ada di pesantren ini yang akan memenangkan kompetisi. Mengapa? karena ketika santri masuk ke dalam pesantren, berinteraksi dengan santri dan para kiai, disitulah nilai pendidikannya,” tegas Menag di Jakarta, Rabu (20/10/2021).

“Pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung melalui tata krama yang dicontohkan langsung dari para kiainya,” lanjutnya.

Tata krama dan adab, menurut Menag, akan membentuk karakter. Dan manusia yang akan menang itu adalah manusia yang memiliki karakter.

 

Di masa mendatang, santri akan semakin banyak berkiprah membangun dan berdayaguna membangun bangsa Indonesia melalui berbagai peran, seperti: menjadi presiden, wakil presiden, menteri, dan komisarris BUMN.

“Dan itu bukan lamunan dan imajinasi saja,” ungkap Menag.

Tugas kita sekarang, menurut Menag, adalah mempersiapkan para itu semua. Kemenag dengan tangan terbuka siap bekerja sama dengan seluruh pihak untuk agenda besar ini.

Menag melanjutkan, jasa masyarakat pesantren dan para santri untuk memerdekakan bangsa Indonesia sangat besar. “Oleh karenanya, bangsa dan negara ini harus memberikan perhatian dan penghargaan lebih kepada pesantren dan para santri,” ungkap Menag.

“Walaupun mareka sama sekali tidak pernah memintanya,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Lembaga RMI PBNU Abdul Ghofur Rozin, menyampaikan bahwa webinar ini adalah bagian dari peringatan Hari Santri 2021.

“Harapannya, bangsa Indonesia termasuk masyarakat dan para santri, dapat mengingat kembali peran penting dan strategis dalam membangun negara ini,” kata Gus Rozin.

Hadir selaku narasumber Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin, Rais Syuriah PCI NU Amerika Serikat Shalahudin Kafrawi, PCI NU Australia Eva Fahrun Nisa, Ketua Sekolah Tinggi Al Anwar Abdul Ghafur Maimoen, Monash University Nadirsyah Hosein.

Maulid Nabi, Kuatkan Kembali Spirit Keteladanan

Oleh: Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan

Peringatan Maulid Nabi 12 Rabi’ul Awwal 1443 H bertepatan 19 Oktober 2021, dalam konteks kekinian merupakan memomentum penguatan spritual di tengah kemiskinan keteladanan. Rasulullah SAW merupakan spirit keteladanan.

Keteladanan disebut harus sejalan antara teori maupun praktik. Dalam QS As Saff ayat 2-3, Allah SWT menegaskan membenci orang yang pandai berbicara atau berteori, namun tidak memberi aksi dalam bentuk amal.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

 

Agar spririt keteladanan bisa berjalan dengan baik, maka keimanan harus sejalan dengan amal saleh. Artinya, aktivitas spiritual Islam tidak semata berorientasi pada diri sendiri, tapi membawa dampak transformasi perbaikan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam sejarahnya, Nabi SAW pernah mengingatkan seorang sahabat yang hanya menekankan spritual berzikir dan berdoa (itikaf) di dalam masjid, sementara keluarga dan masyarakatnya tidak diperhatikan. Artinya, harus ada keseimbangan antara dzikir dan pikir, seperti yang tertulis dalam QS Ali Imran ayat 190-191.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

 

Spiritual keteladanan Nabi Muhammad dalam sejarah kemanusiaan semesta telah diaktualisasikan dalam berbagai dimensi kehidupan. Rasulullah SAW, menurut Buya Amirsyah, merupakan sosok pemimpin yang tiada bandingnya dengan tokoh di permukaan bumi. Cerminan akhlak yang mulia patut menjadi teladan segenap umat manusia di alam semesta.

Qudwah hasanah Beliau diakui bukan sebatas di kalangan dunia Islam, melainkan juga seluruh penjuru dunia. Pada hakikatnya Maulid Nabi bukan sekedar perayanan yang bersifat serimonial, akan tetapi harus mampu memperkuat kembali sosok dan perilaku (akhlak) beliau yang mulia itu. Peringatan Maulid Nabi dapat disebut sebagai ibadah aktual (ghairu-mahdhah) yang baik dan positif (bid’ah hasanah).

Menyikapi kondisi pandemi Covid-19 saat ini, di berbagai belahan dunia banyak yang kehilangan keteladanan dalam mengatasi berbagai krisis. Mulai dari krisis kepercayaan hingga dekadensi moral, semua aspek telah membuat manusia kehilangan pijakan.

 

Maka, penting menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan dalam berbagai aktivitas keagamaan, terutama dalam penguatan spritual, agar tidak terjebak pada bentuk keteladanan simbolis yang sering tidak sejalan dengan misi kerasulan Muhammad SAW.

Muhammad Rasulullah SAW mempunyai visi kerasulan, mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Visi tersebut sangat relevan dengan misi Nabi membawa risalah, menjadi contoh yang baik (akhlaq al karimah) bagi semua makhluk di muka bumi.

Misi tersebut dikatakan tidak sekadar ranah teori, melainkan telah ditransformasikan dalam semangat keteladanan, utamanya dalam berbagai dimensi kehidupan yang dijalani Nabi Muhammad SAW.