Fikih Islam Diyakini Berkontribusi Hadapi Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Pandemi Covid-19 dan segala dampaknya merupakan pengalaman baru bagi hampir semua pemerintahan di dunia, sehingga pemerintah Indonesia pun harus mengambil keputusan dan tindakan extraordinary untuk menanggulanginya.

Dunia membutuhkan gagasan-gagasan baru untuk mengatasi tantangan pandemi Covid-19, baik dari aspek medis maupun non medis yang meliputi semua bidang yang terdampak wabah ini. Di sinilah peran fikih Islam diyakini mampu memberikan solusi yang kontekstual agar kebijakan yang terbaik dapat diambil.

“Saya yakin fikih Islam dapat memberikan solusi dan sumbangan pemikiran untuk mengatasi pandemi Covid-19 beserta seluruh dampaknya,” tegas Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin saat membuka Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS)  Ke-20 Tahun 2021, melalui konferensi video dari Kediaman Resmi Wapres di Jl. Diponegoro No. 2, Jakarta Pusat, Senin (25/10/2021).

Keyakinan ini, sambung Wapres, karena fikih Islam dimaksud untuk memberikan kemaslahatan bagi semua orang.

“Fikih Islam tidak dimaksudkan untuk menyulitkan kehidupan, namun sebaliknya fikih Islam merupakan solusi bagi kehidupan umat manusia, termasuk solusi untuk menangani pandemi Covid-19 ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wapres mencontohkan bahwa pandemi Covid-19 berdampak pada kehidupan keagamaan.

“Para ulama di hampir semua negara, terutama yang berpenduduk muslim, melakukan telaah ulang terhadap pandangan keagamaannya Para ulama melakukan ijtihad untuk menetapkan fatwa baru yang lebih relevan dengan kondisi pandemi,” ujarnya.

Wapres mengungkapkan bahwa fatwa baru tersebut  menjadi panduan umat Islam di negara masing-masing, misalnya tentang bagaimana melaksanakan ibadah di tengah pandemi Covid-19, baik untuk tenaga medis, para penderita, ataupun umat Islam pada umumnya, tentang tata cara pemulasaraan jenazah pasien positif Covid-19 yang sesuai protokol kesehatan, dan fatwa terkait instrumen ekonomi yang dapat digunakan sebagai mitigasi dampak pandemi Covid-19.

“Pada dasarnya ajaran Islam diturunkan oleh Allah SWT tidak untuk menyulitkan pemeluknya. Di dalam menjalankan ibadah ada yang bisa dilakukan dengan cara yang normal, yaitu ketika dilakukan di situasi normal. Namun dalam kondisi tidak normal pelaksanaan ibadah bisa dilakukan dengan menyesuaikan kondisi yang ada,” tegasnya.

Adapun kondisi tidak normal tersebut, menurut Wapres, bisa berupa kesulitan atau darurat syariah, yang keduanya menjadi alasan adanya keringanan (rukhsah) dalam menjalankan ajaran Islam.

“Hukum Islam mempunyai fleksibilitas dalam pelaksanaannya sesuai kondisi yang ada,” tegasnya.

Dalam setiap pembahasan fikih, tutur Wapres, baik yang menyangkut ibadah, muamalah, jinayah, dan lainnya selalu memuat pedoman dan memberi tuntunan yang menyangkut kemaslahatan dan terwujudnya tujuan utama diturunkannya syariah.

“Fleksibilitas fikih Islam inilah yang menjadi ruh fatwa para ulama di setiap masa, termasuk pada masa pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Lebih jauh, Wapres menjelaskan bahwa kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, menjadikan keselamatan jiwa menjadi pertimbangan paling utama dalam menetapkan fatwa, karena tidak ada alternatif penggantinya.

“Dengan demikian penanggulangan Covid-19 bukan semata-mata masalah kesehatan, tetapi termasuk bagian penting dari persoalan agama yang sesuai dengan syariah yang sifatnya memberikan penjagaan dan perlindungan,” tegasnya.

Dalam tahapan tersebut, menurut Wapres, peran para ulama sangat signifikan, yakni melalui fatwa yang menganjurkan untuk mengambil keringanan dalam menjalankan ibadah dan aktivitas keagamaan lainnya.

“Setiap aktivitas keagamaan yang melibatkan kerumunan orang banyak, seperti salat Jumat dan jamaah rawatib dan tarawih di masjid diarahkan untuk dilaksanakan di rumah,” contohnya.

Di samping masalah keagamaan, lanjut Wapres, kebijakan terkait dengan penanggulangan dampak Covid-19 di bidang ekonomi juga menggunakan ruh fleksibilitas ini.

“Pendekatan fikih sangat membantu dalam melakukan penanggulangan dampak ekonomi dari pandemi Covid-19, karena fikih mempunyai karakter solutif terhadap permasalahan yang muncul dan meringankan, yang dalam aplikasinya berupa langkah penyelamatan dengan memberlakukan relaksasi, terutama bagi kelompok terdampak dalam menjalankan kewajiban finansialnya,” terang Wapres.

Relaksasi yang diberlakukan tersebut, sambung Wapres, tentu setelah mempertimbangkan kondisi riil masyarakat yang mengalami kesulitan dalam menjalankan kewajiban finansialnya akibat dampak pandemi Covid-19.

“Namun demikian, relaksasi yang diberlakukan tersebut harus tetap dalam koridor yang dibenarkan secara syariah, yakni dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kesepakatan para pihak dan berdasarkan kebijakan pemerintah sebagai penanggung atas kewajiban finansial masyarakat terdampak,” tuturnya.

Selanjutnya, menurut Wapres, kebijakan pemerintah tersebut merupakan manifestasi dari tanggungjawab menjaga kemaslahatan masyarakat, karena pemerintah harus bersikap seperti disebut dalam kaidah bahwa pemerintah dalam melayani rakyatnya harus berdasarkan pertimbangan kemasalahatan.

“Pemberlakuan relaksasi selektif sebagai salah satu landasan penetapan kebijakan nasional dalam mitigasi dampak Covid-19 dalam bidang ekonomi, merupakan bagian sumbangan fikih Islam dalam mengurai permasalahan yang ada di masyarakat,” pungkasnya.

Sebelumnya, dalam acara yang mengusung tema “Islam in A Changing Global Context: Rethinking Fiqh Reactualization and Public Policy” ini, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas melaporkan bahwa AICIS merupakan bentuk komitmen Kementerian Agama dalam memberikan penguatan kapasitas (capacity building) kepada para ilmuwan dan dunia intelektual di kalangan Kementerian Agama khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

“Kegiatan AICIS ini merupakan upaya kita bersama untuk terus mengembangkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, menajamkan intelektualitas, dan memberikan kontribusi yang nyata kepada bangsa, agama, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Meskipun AICIS merupakan perhelatan internasional dalam bidang studi Islam, terang Yaqut, namun para pembicara yang dihadirkan tidak hanya para ilmuwan dan guru besar pemerhati Islam tetapi juga para cendekiawan dengan latar belakang agama yang berbeda dari berbagai negara.

“Ini menandakan bahwa AICIS merupakan sebuah miniatur kajian Islam Indonesia yang terbuka dan moderat, (serta) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat yang mayoritas memeluk agama Islam memiliki sifat terbuka atas kajian kritis,” tuturnya.

Tampak hadir dalam acara yang digelar luring dan daring ini, Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka, Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Mudhofir, Director General of Islamic Research Institute of International Islamic University of Pakistan Mohammad Khalid Mas’ud, Profesor Hukum Islam UIN Mataram Mohammad Abdun Nasir, para Pejabat Kementerian Agama, para Duta Besar Negara Sahabat, serta para Rektor UIN/IAIN dan Ketua STAIN se-Indonesia.

KSM Diharap Wadah Ikhtiar Integrasikan Sains dengan Agama

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama kembali menggelar Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Ajang tingkat nasional ini diikuti 374 siswa madrasah dari 34 provinsi.

Mereka adalah siswa terbaik yang terseleksi dari 76.496 pendaftar sejak tingkat Kabupaten/Kota. KSM dilombakan dalam tiga jenjang, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

KSM tingkat nasional berlangsung tiga hari, 23 – 25 Oktober 2021. Ajang ini dibuka oleh Dirjen Pendidikan Islam, M Ali Ramdhani, secara virtual, Sabtu (23/10/2021).

“KSM menjadi bagian dari ikhtiar Kementerian Agama dalam mengembangkan bakat siswa madrasah, sekaligus mengintegrasikan sains dengan konteks nilai-nilai Islam,” terang M Ali Ramdhani.

Menurutnya, ikhtiar ini sudah mulai diintensifkan sejak KSM tahun 2018. KSM kali pertama digelar tahun 2012. Sampai 2017, pelaksanaan ujian KSM dilakukan secara terpisah antara mata uji sains dengan konteks keislaman.

“Nah, sejak KSM 2018, kami berupaya mengelaborasi sains dengan konteks nilai-nilai Islam,” tuturnya.

Integrasi sains dan konteks nilai-nilai Islam dalam KSM, kata pria yang akrab disapa Dhani ini, meliputi penggalian nilai-nilai sains dalam konteks Al Qur’an dan konsep-konsep terapan yang ada dalam Islam seperti pada zakat, falak, dan tema lainnya yang kontekstual. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan pribadi-pribadi madrasah yang Ulil Albab. Yakni, pribadi yang mampu menggunakan akal dan pikirannya untuk memahami fenomena alam sekaligus sebagai bukti-bukti keesaan dan kekuasaan sang Maha Pencipta.

“Dengan cara ini, KSM turut serta berperan dalam membangun citra madrasah dan juga sebagai wahana syiar Islam. Sehingga, ke depanya mampu meningkatkan daya saing madrasah, melalui performance penguasaan sains serta nilai-nilai keislaman,” pesannya.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah M Isom Yusqi menambahkan,  pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan KSM. Karena adanya kebijakan pembatasan interaksi antar orang, KSM tahun 2020 digelar sepenuhnya secara daring sehingga disebut KSMO (KSM Online).

Untuk tahun 2021, KSM digelar secara hybrid. KSMO hanya digelar dalam seleksi tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Sementara untuk tingkat nasional para finalis berkumpul di satu lokasi yang telah ditentukan Kanwil Kemenag Provinsi masing-masing. Mekanismenya dengan menerapkan protokol kesehatan dan  pengawasan yang sangat ketat.

“Pengawasan langsung dari dewan juri yang ditugaskan ke masing-masing lokasi, dipadu dengan pengawasan secara online yang dikendalikan langsung dari Posko Pusat di Jakarta. Dengan cara ini, diharapkan diperoleh juara KSM yang memang benar-benar juara,” jelas Isom.

“Para peserta akan menjalani dua model ujian, CBT dan eksplorasi atau eksperimen,” sambungnya.

Selain itu, KSM 2021 juga sudah menggunakan soal dengan tiga bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Menurut Isom, ini sebagai bentuk persiapan kegiatan KSM 2022 yang direncanakan mulai go international, dengan melibatkan negara-negara sahabat (MABIMS atau OKI).

 

Riset OJK: Potensi Ekonomi Halal Rp 4375 Triliun

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Perekonomian Indonesia mulai mengalami pertumbuhan positif akibat pandemi Covid-19. Kondisi menggeliatnya ekonomi nasional itu patut disyukuri.

Demikian disampaikan Peneliti Eksekutif Anggota Satgas Pengembangan Keuangan Syariah dan Ekosistem UMKM Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Setiawan Budi Utomo dalam Webinar KPE MUI yang bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kamis pagi (21/10).

Webinar itu bertemakan Ekonomi Syariah dan Literasi Digital di Era Pandemi untuk mendorong kebangkitan Ekonomi di Bangka Belitung.

“Kita bersyukur pada Allah SWT bahwa kita bangsa yang dirahmati dan dikasihi Allah SWT, sehingga nampak pertumbuhan ekonomi di masyarakat mulai terlihat kembali menuju normal,” ujarnya.

Dijelaskan Setiawan, di tengah pandemi Covid-19 ini tidak hanya membawa masalah di bidang kesehatan dan sosial, melainkan masalah ekonomi yang memiliki pengaruh yang cukup signifikan.

 

Dia mengungkapkan, saat ini konsumsi dan investasi yang dilakukan oleh pemerintah, serta ekspor dan impor menunjukan grafik yang positif.

“Ini tidak direkayasa dan fakta, kita wajib syukuri bersama, dan meningkatkan optimisme bagaimana kita bisa bangkit dari dampak covid-19,” tambahnya.

Setiawan juga mengungkapkan bahwa potensi ekonomi halal di Indonesia menurut data Global State of Islamic Economy Report 2020/2021 sangat besar yaitu Rp 4.375 triliun.

“Terdiri dari makanan dan minuman halal Rp 2.088 triliun, pariwisata muslim Rp 162 triliun, fashion muslim Rp 232 triliun, kosmetik halal RP 58 triliun, media dan rekreasi halal Rp 319 triliun, asset keuangan syariah Rp 1.438 trilun,” demikian penjelasan Setiawan.

Melihat data pertumbuhan PDB Lapangan usaha menunjukan, berbagai sektor mengalami peningkatan seperti transportasi 25,10 persen, akomodasi dan makanan 21,58 persen. Selain itu, dia menuturkan sisi perbankan Syariah menunjukan residensi yang juga positif.

“Aset perbankan Syariah naik 15,4 persen Mei 2021, industri perbankan Syariah asetnya tumbuh menjadi RP 613 triliun, (serta) Kredit pembiayaan ini 7,32 persen dengan total pembiayaan Rp 401 triliun,” paparnya.

Menurutnya, perbankan nasional pun mengalami peningkatan yang cukup positif. Namun demikian, yang membuatnya bersyukur dan bahagia, perbankan syariah mengalami peningkatan dalam bentuk giro, tabungan dan deposito.

Selain itu, dia mengulas data mengenai aset perbankan syariah yang saat ini memiliki 12 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS), 163 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), 6.260 tenaga kerja, dan 3.044 outlet network.

Meski begitu, dia mengungkapkan bahwa market share perbankan syariah hanya 6,5 persen. Menurutnya, ada dua tantangan dalam mengembangkan perbankan syariah yaitu, daya saing dan jaringan jangkauan.

“Total penduduk 270.2 juta, outlet perbankan nasional 30.733 sedangkan outlet perbankan syariah hanya 2.426, artinya share outlet perbankan syariah terhadap perbankan nasional 7,2 persen saja,” pungkasnya. (mui)

 

IDI Dorong Penguatan Fisik dan Spiritual Hadapi Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Dalam menangani pandemi Covid-19, yang perlu dilakukan adalah upaya perorangan secara preventif. Tujuannya, untuk melakukan pencegahan sekaligus edukasi terkait masalah pandemi Covid-19.

Demikian disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terpilih, dr. Muhammad Adib Khumaidi saat menjadi narasumber Webinar yang digelar Infokom MUI dengan Ditjen IKP Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Sabtu (23/10).

Dokter Adib menyebutkan, di dalam kias epistomologis disebutkan ada tiga hal yakni agent (virus), host (manusia), dan lingkungan. Namun, kata dia, untuk agent atau virusnya tidak bisa diintervensi.

“Karena virus juga makhluk hidup yang dia akan melakukan proses adaptasi, sehingga akan muncul varian baru yang tentunya muncul, (akibat) usaha dari makhluk hidup tersebut,” ucapnya dalam webinar bertema “Perspektif kesehatan untuk pemulihan kehidupan masyarakat di masa pandemi di Sulawesi Selatan” itu.

Ketua IDI terpilih ini menyebutkan, kemungkinan munculnya varian-varian baru Covid-19 atau nantinya terdapat virus lain selain Covid-19.

Dia mengingatkan, yang harus dipersiapkan adalah mengintervensi dua hal dari kias epistimologis, yakni host atau manusianya, dan lingkungan.

Adib menjelaskan, untuk mengintervensi lingkungan diperlukan upaya SOP, upaya protokol Kesehatan, dan upaya standar dalam pemakaian alat proteksi diri seperti memakai masker. Sedangkan upaya manusianya, yaitu upaya Kesehatan perorangan.

“Apa upayanya? Disebutkan kesehatan fisik, mental, dan spiritual menjadi satu rangkaian sebenarnya, untuk penataan secara holistik dan komprehensif di dalam upaya-upaya kesiapan,” tuturnya.

“Kalau kita bicara sekarang fisik, maka dalam konteks mencegah penyakit tersebut ke dalam tubuh kita, syarat pentingnya adalah yang utama merubah gaya hidup kita, dan memaksimalkan waktu istirahat,” ungkapnya.

Dia menyarankan agar rutin melakukan olahraga, menjaga berat badan, dan membuat alarm tubuh yang nantinya menjadi sebuah pengingat. Apabila seseorang sudah merasa lelah dan capek, maka alarm tersebut berfungsi untuk mengingatkan agar menghentikan sementara aktivitas dan meluangkan waktu untuk istirahat.

Selain itu, dalam upaya meningkatkan kesehatan secara perorangan, seseorang harus meningkatkan daya tahan tubuh. Caranya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi.

 

Dia mengungkapkan bahwa nutrisi yang dibutuhkan untuk dikonsumsi manusia adalah makanan yang mengandung protein, Omega-3, vitamin C, dan Vitamin D3.

Menurutnya, kesehatan fisik memang perlu didukung oleh olahraga yang rutin. Namun demikian, tidak harus dilakukan dengan bermain bola atau berlari.

“Paling tidak menggerakan tubuh kita seperti jalan 5 menit baik pagi atau sore, kemudian pemanasan di sela-sela pekerjaan dengan berdiri melakukan senam-senam ringan selama 10 menit. Ini upaya untuk menggerakan tubuh kita yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyebut bahwa kesehatan mental juga sangat penting.

Meskipun, kata dia, ketahanan mental setiap individu itu berbeda. Adib kemudian menyarankan, untuk meningkatkan ketahanan mental di tengah pandemi Covid-19, masyarakat agar tidak paranoid. Artinya, masyarakar tidak boleh memiliki ketakutan yang berlebih dan didukung oleh spiritual melalui peran tokoh agama. (mui)

 

Pandemi, Potensi Zakat dan Wakaf Tetap Besar

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pembatasan sosial sejak masuknya Covid-19 di Indonesia mengakibatkan terjadinya penurunan ekonomi di masyarakat. Hal tersebut merupakan salah satu multiplier effect dampak dari pandemi pada sektor ekonomi.

Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah dan Halal, KH. Sholahudin Al-Aiyub menuturkan terdapat potensi besar untuk keluar dari dampak pandemi khususnya sektor ekonomi melalui zakat dan wakaf (ziswaf). Keduanya merupakan bagian integral umat Islam yang mampu membantu pemulihan ekonomi umat.

“Pandemi Covid 19 memberikan dampak luar biasa yaitu multiplier effect. Sehingga terjadinya penurunan ekonomi masyarakat merupakan imbas dari pembatasan kegiatan yang ditetapkan pemerintah untuk menekan penyebaran Covid 19 di ruang publik,” jelas Kyai Aiyub pada webinar yang diselenggarakan oleh Komisi Infokom MUI kolaborasi dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi, Kamis (21/10)

Dalam webinar yang bertemakan “Ekonomi Syariah dan Literasi Digital di Era Pandemi untuk Mendorong Kebangkitan Ekonomi di Bangka Belitung” tersebut, Kyai Aiyub mengungkap pembatasan sosial di ruang publik mengubah pola hidup masyarakat. Hal ini mengakibatkan turunnya pendapatan yang akhirnya terjadi kemerosotan pada daya beli masyarakat.

Tak heran presentse pengangguran selama pandemi mengalami kenaikan. Hal ini terjadi karena produsen produk atau jasa turun tidak bisa produksi terlalu banyak. Langkah tersebut mengantisipasi penumpukan produk dengan melakukan pembatasan supply bahkan tak jarang pemilik usaha merumahkan pegawai bahkan memberhentikannya.

“Analogi gunung es merupakan fenomena misbar atau kelompok miskin baru yang muncul di tengah merebaknya wabah. Yang nampak dipermukaan jauh lebih kecil dibanding yang terlihat dari dasar. Diperlukan perhatian kita semua, karena data kemiskinan presentasenya lebih kecil jika dilihat pada masyarakat secara langsung,” tutur Kyai Aiyub yang juga Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) DSN-MUI.

 

Lebih lanjut, menurutnya harus ada upaya bersama untuk mendongkrak pendapatan masyarakat. Jika hanya mengandalkan pemerintah atau pihak swasta akan sulit mengembalikan kestabilan ekonomi.

Potensi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia sangat besar. Salah satunya berdasarkan survei yang dilakukan oleh Charities Aid Fundation yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan masyarakat paling dermawan.

Potensi tersebut juga dapat dimaksimalkan dengan melakukan pengalokasian dana ziswaf untuk dijadikan tools dalam menangani dampak pandemi. Potensi zakat dan wakaf uang jika diorganisir dengan baik akan menjadi kekuatan ekonomi bagi masyarakat Indonesia. (mui)

 

76 Ribu Pelajar Ikuti Kompetisi Sains Madrasah 2021

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tahun 2021 memasuki seleksi tingkat nasional. KSM tingkat nasional ini berlangsung dua hari, 23 – 25 Oktober 2021.

KSM Nasional diikuti siswa madrasah yang lolos seleksi berjenjang, sejak dari tingkat kabupaten/kota, hingga tingkat provinsi. Total ada 76.617 siswa yang ikut ambil bagian dalam ajang ini, terdiri atas: 24.634 siswa MI, 26.717 siswa MTs, dan 22.816 siswa MA.

“Antusias siswa madrasah tahun ini dalam mengikuti KSM sangat bagus, dibuktikan dengan lebih dari tujuh puluh ribu siswa yang mendaftar sejak seleksi di tingkat kabupaten/kota,” terang Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, M Isom Yusqi di Jakarta, Sabtu (23/10/2021).

Menurut Isom, KSM Nasional akan dibuka secara virtual oleh Menag Yaqut Cholil Qoumas. Tahap ini diikuti 374 siswa yang lolos seleksi di 34 provinsi. Mereka adalah para siswa terbaik tingkat provinsi untuk setiap bidang studi yang dilombakan.

Ada 11 bidang studi yang dilombakan dalam KSM 2021. Dua bidang studi untuk jenjang MI adalah Matematika Terintegrasi dan IPA Terintegrasi. Total ada 68 siswa MI yang ikut ambil bagian di KSM Nasional.

Untuk jenjang MTs, ada tiga bidang studi yang dilombakan adalah Matematika Terintegrasi, serta IPA dan IPS Terpadu Terintegrasi. Total peserta 102 siswa.

Sedang untuk jenjang MA, ada enam bidang studi lomba, yaitu: Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, dan Geografi Terintegrasi. Jenjang ini diikuti 204 siswa.

“KSM dilaksanakan secara nasional serentak menggunakan sistem yang disiapkan dan di bawah kendali Komite KSM Nasional. Even ini digelar berbasis elektronik, eksplorasi, dan eksperimen,” jelas Isom.

“KSM Nasional digelar secara luring dengan peserta dikumpulkan di lokasi yang ditetapkan Kanwil Kemenag Provinsi masing-masing. Setiap provinsi ada 11 peserta,” sambungnya.

Penilaian soal KSM, lanjut Isom, dilaksanakan oleh Tim Juri yang ditetapkan oleh Komite KSM Nasional. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan nilai tes dan nilai integritas peserta selama mengikuti tes. Soal KSM menggunakan tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris sebagai persiapan go international di masa mendatang.

“Hasil KSM Nasional dipublikasikan pada 30 Oktober melalui Portal Resmi KSM dan Portal Kementerian Agama Republik Indonesia,” tuturnya.

Isom menambahkan, KSM menjadi sarana Kementerian Agama  mengembangkan bakat dan minat siswa madrasah di bidang sains. Sejak kali pertama digelar pada 2012, KSM telah menjadi ajang yang positif dalam membangun iklim belajar yang kompetitif. Sejak 2018, KSM dielaborasi dengan konteks nilai-nilai Islam.

BMH Jatim Salurkan 1311 Paket Gizi di Hari Santri Nasional

JATIM(Jurnalislam.com)–Peringatan Hari Santri Nasional 2021 dilakukan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Timur dengan berbagi bersama santri. Jum’at, (22/10/2021).
Tahun ini, untuk menyemarakkan Hari Santri Nasional 2021, BMH Jatim dengan mendistribusikan 1.311 Paket Gizi untuk santri serentak 25 kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Semarak peringatan tahun ini, karena masih dalam suasana pandemi, Alhamdulillah BMH bisa berbagi dengan 1.311 santri penghafal Al Qur’an di Jawa Timur.” terang Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jatim.
“Tiap santri mendapat paket bantuan gizi yang meliputi makanan daging, sayur, telur, susu dan juga beasiswa.” jelas Muslim.
Sehingga diharapkan dengan adanya paket gizi ini, para santri bisa terus sehat untuk jadi generasi Indonesia yang kuat.
Farukh, salah satu santri Tahfidz Darul Hijrah Salam Pasuruan, merasa senang dengan adanya paket gizi ini.
“Terima kasih kepada semua donatur BMH bantuan paket gizi di Hari Santri Nasional ini. Saya senang minum susu.”ujar Farukh, santri yang telah menyelesaikan hafalan al Qur’an 30 juz ini.

Hari Santri, Direktorat Zakat Wakaf Kemenag: Santri Garda Terdepan Kembangkan Wakaf

JAKARTA(Jurnalislam.com) – – Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag), Tarmizi Tohor menyampaikan, di peringatan Hari Santri 2021 berharap para santri dapat menjadi garda terdepan dalam mengembangkan wakaf di Indonesia. Menurut data Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag per 18 Oktober 2021, jumlah santri dan santriwati di Indonesia sebanyak 4.009.692 jiwa.

“Banyaknya jumlah santri di Indonesia sangat potensial bila diedukasi untuk melaksanakan gerakan wakaf uang,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Sabtu (23/10).

Direktur mencontohkan, jika setiap santri dianjurkan melaksanakan gerakan wakaf uang sebesar Rp5 ribu per orang, satu bulannya akan terkumpul Rp20,49 miliar dan Rp240 miliar untuk satu tahun. Jumlah tersebut, lanjut Direktur dapat membiayai dan mengembangkan 10 sektor potensi ekonomi yang dimiliki pesantren di Indonesia.

“Sehingga nantinya dapat menjadi aset abadi pondok pesantren serta dapat membiayai seluruh kebutuhan operasional pesantren dan mendukung kemandirian pondok,” ujarnya.

Direktur mengatakan, menurut data Ditjen Pendis Kemenag per 18 Oktober 2021, 10 potensi ekonomi yang dimiliki pesantren adalah maritim, agrobisnis, vokasional, UMKM, peternakan, perkebunan, teknologi, kesehatan, olahraga, dan seni budaya.

“Sehingga melalui gerakan wakaf uang santri dopat berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Waketum MUI Kritik Yaqut: Tak Hargai Elemen Umat Lain

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Tokoh Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengkritik keras pernyataan Menteri Agama Yqut Cholil Qoumas yang menyebut Kementerian Agama hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama (NU).

 

Pernyataan tersebut sangat disayangkan dan seakan tidak menghargai kelompok masyarakat lainnya.

 

“Pernyataan ini tentu sangat-sangat kita sayangkan karena tidak menghargai kelompok dan elemen umat dan masyarakat lainnya,” kata Anwar dalam keterangannya, Ahad 24 Oktober 2021.

Menurut Anwar, pernyataan tersebut juga seakan menjelaskan ke publik terkait banyaknya anggota NU yang menjabat di institusi Kementerian Agama. Pernyataan ini tentu dapat menimbulkan kegaduhan.

“Tetapi ada jugalah bagusnya kehadiran dari pernyataan ini karena dengan adanya pernyataan tersebut menjadi terang benderanglah bagi kita semua warga bangsa mengapa para pejabat di Kemenag dan bahkan juga para pegawainya dari atas sampai ke bawah serta juga rektor-rektor UIN dan IAIN di seluruh Indonesia nyaris semuanya dipegang dan diisi oleh orang NU,” ujar Anwar.

 

Terlebih, kata Anwar, jika pernyataan Menag Yaqut dikaitkan dengan pernyataan Ketum PBNU Said Aqil yang menyatakan ‘jabatan agama kalau tidak dipegang oleh NU maka bakal salah semua’ itu pandangan yang tidak bisa diterima.

sumber: viva.co.id

Bantah Pernyataan Menag, PBNU: Kemenag Hadiah untuk Semua Agama, Bukan Hanya NU

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini membantah pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas tentang Kemenag adalah hadiah negara untuk NU.

Helmy menegaskan Kemenag bukan hanya punya NU. Dia mengatakan semua pihak bisa memimpin Kemenag asal bertujuan untuk melahirkan kemaslahatan dan kesejahteraan.

“Kemenag hadiah negara untuk semua agama, bukan hanya untuk NU atau hanya untuk umat Islam,” kata Helmy dalam keterangan tertulis, Minggu (24/10).

Helmy menyampaikan NU memang punya peran penting dalam penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta saat dituang ke Pancasila. Namun, hal itu tak membuat NU menjadi istimewa di pemerintahan.

Dia menuturkan NU tidak boleh semena-mena. Helmy juga menegaskan NU tidak berniat memanfaatkan momen sejarah untuk melakukan kesewenang-wenangan.

“Meski demikian, NU tidak memiliki motivasi untuk menguasai ataupun memiliki semacam privelege dalam pengelolaan kekuasaan dan pemerintahan karena NU adalah jamiyyah diniyah ijtimaiyyah, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan,” tuturnya.

Helmy menyatakan pernyataan soal Kemenag hadiah negara untuk NU merupakan pendapat pribadi Yaqut. Ia menyayangkan pernyataan tersebut diucapkan oleh seorang menteri.

“Pada dasarnya, semua elemen sejarah bangsa ini punya peran strategis dalam pendirian NKRI, melahirkan Pancasila, UUD 1945 dalam keanekaragaman suku, ras, agama, dan golongan. Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Helmy.

Lihat Juga :

Yaqut Kontroversial, Anwar Abbas Serukan Pembubaran Kemenag
Sebelumnya, Menag Yaqut menuai kontroversi dengan menyebut Kemenag adalah hadiah negara untuk NU. Ia berkata NU berhak atas posisi di Kemenag karena jasa dalam penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta.

“Kemenag itu hadiah untuk NU, bukan umat Islam secara umum, tapi spesifik untuk NU. Saya rasa wajar kalau sekarang NU memanfaatkan banyak peluang di Kemenag karena hadiahnya untuk NU,” klaim Yaqut, disiarkan kanal YouTube TVNU Rabu (20/10).

sumber: cnnindonesia