Armada Perang Turki Tiba di Jarablos dalam Jumlah Besar

JARABLOS (Jurnalislam.com) – Tentara Turki pada hari Kamis mengirim lebih banyak tank dan kendaraan lapis baja ke kota Jarablos yang berdekatan dengan wilayah perbatasan sebagai bagian dari Operasi Perisai Efrat untuk meningkatkan langkah-langkah keamanan di wilayah perbatasan, ElDorar AlShamia melaporkan Jumat (02/09/2016).

Sumber Turki mengatakan kendaraan spesialis untuk membongkar ranjau darat terus bekerja membongkar ranjau yang ditanam oleh pasukan Islamic State (IS) di Jarablos sebelum mundur dari kota tersebut.

Para pejabat Turki menolak laporan AS tentang gencatan senjata dengan milisi SDF, di mana Amerika Serikat menyerukan Turki agar tidak berbenturan dengan mereka sedangkan Turki menuntut milisi SDF untuk kembali ke timur Sungai Efrat.

Sebelumnya pada hari Selasa (30/08/2016), Menteri Ekonomi Nihat Zabkja mengatakan, “Turki akan tetap di Suriah untuk memulihkan keamanan dan bahkan akan menumpas segala ancaman yang datang,” serta menambahkan, “Tapi alasan utama kehadiran kami adalah untuk menjaga kesatuan tanah Suriah.”

Angkatan Darat Turki: Suriah Utara Telah Dibersihkan dari IS dan Milisi YPG

SURIAH (JUrnalislam.com) – Turki menyapu kelompok Islamic State (IS) dan milisi YPG Kurdi dukungan AS dari daerah Suriah utara, pasukan Turki terus mendesak milisi Kurdi Suriah untuk mundur ke timur sungai Efrat, Anadolu Agency melaporkan, Jumat (02/09/2016).

Turki melancarkan serangan lintas-perbatasan ke Suriah pekan lalu, mengatakan bahwa mereka memiliki tujuan ganda mengusir IS dan memastikan milisi Kurdi tidak mengisi kekosongan yang ditinggalkan dengan memperluas kendali mereka di wilayah sepanjang perbatasan Turki.

Turki khawatir bahwa para milisi Kurdi Suriah bisa memberi semangat militan Kurdi melancarkan pemberontakan di wilayahnya.

Pesawat-pesawat tempur Turki memperbarui serangan udara di lokasi IS di Suriah utara, Jumat, CNN Turk melaporkan, yang merupakan serangan terbaru sejak pasukan yang didukung Turki mulai menyerbu pada 24 Agustus. Pejabat Turki mengatakan pasukan milisi yang didukung Turki dalam beberapa hari terakhir telah maju ke arah barat, di daerah IS.

Erdogan mengatakan pada konferensi pers Jumat pagi bahwa operasi yang disebut “Euphrates Shield” telah berhasil membersihkan IS dan YPG Kurdi dari wilayah seluas 400 km persegi (150 mil persegi).

Tapi Erdogan menolak laporan bahwa Kurdi YPG, yang disebut Turki sebagai kelompok teroris, telah mundur ke wilayah yang dikendalikan Kurdi di sebelah timur Sungai Efrat. YPG mengatakan telah mundur ke timur Sungai Efrat dan pejabat AS menyetujuinya.

Militan ektremis PKK Kurdi telah menyia-nyiakan kesempatan untuk proses perdamaian politik dengan Turki dengan terus melakukan pemberontakan terhadap Ankara, Perdana Menteri Turki mengatakan pada hari Jumat.

Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang mencari kebebasan otonomi telah meluncurkan serangkaian serangan sejak serangan gencatan senjata tahun lalu, kembali mempersenjatai diri dalam pemberontakan tiga dekade di Turki tenggara.

Cabang AQIM, Batalyon Uqba bin Nafi, Serang Pasukan Tunisia di Kasserine

TUNISIA (Jurnalislam.com) – Batalyon Uqba bin Nafi, cabang al Qaeda Maghreb Islam (AQIM) di Tunisia, melaporkan penyergapan terhadap tentara Tunisia di wilayah Gunung Sammama di Kasserine Governorate pada 29 Agustus lalu mengikuti laporan serupa hanya sebulan sebelumnya.

The Long War Journal melaporkan Kamis (01/09/2016), dalam pernyataan yang pertama kali dirilis di pakan Twitter-nya pada 30 Agustus dan kemudian dikonfirmasi oleh AQIM, mengatakan bahwa kelompok jihad “Sammama Brigade” meledakkan alat peledak improvisasi (IED) di salah satu kendaraan lapis baja militer Tunisia saat berpatroli.

Setelah ledakan, ia mengatakan para mujahidin bentrok dengan tentara lainnya yang mengakibatkan kematian “sejumlah” pasukan dan penangkapan tiga senapan serbu Steyr AUG. Media lokal melaporkan bahwa tiga tentara Tunisia tewas dalam serangan itu, sementara tujuh lainnya luka-luka. Laporan lain menunjukkan sebanyak sembilan tentara terluka.

Sebagai balasan, militer Tunisia meluncurkan operasi penyisiran di daerah. Dalam operasi ini, daerah Kasserine di Hay el Karma menjadi tempat pertempuran mematikan antara pasukan jihadis dan pasukan Tunisia, menewaskan dua jihadis dan satu warga sipil. Salah satu jihadis yang gugur, syahid, dilaporkan adalah Mbarki, yang diyakini adalah wakil senior untuk Lokman Abou Sakhar, mantan amir Batalyon Uqba bin Nafi. Sakhar gugur dalam operasi militer Tunisia Maret 2015.

Pada bulan Juli, Batalyon Uqba bin Nafi melaporkan menargetkan kendaraan militer dengan dua ranjau darat, menewaskan seorang tentara di wilayah Gunung Sammama. Laporan tersebut menandai serangan pertama sejak Maret.

Dalam penyergapan itu, penjaga perbatasan Tunisia menjadi sasaran di Bouchebka dekat perbatasan dengan Aljazair. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis secara online oleh salah satu sayap media AQIM, kelompok jihad mengatakan pasukannya “melukai sejumlah tentara dengan berbagai tingkat kerusakan dan membakar kendaraan militer.” Otoritas Tunisia mengkonfirmasi serangan itu, namun para pejabat mengatakan bahwa hanya satu penjaga perbatasan yang terluka dalam serangan itu.

Selama dua tahun terakhir, cabang AQIM telah melaporkan beberapa serangan lainnya terhadap pasukan Tunisia. Pada bulan Desember tahun 2014, Batalyon Uqba bin Nafi mengklaim dua serangan terhadap pasukan Tunisia di kawasan Gunung Chaambi, dan memposting foto serangan beberapa hari kemudian. Hanya dua bulan kemudian, kelompok melaporkan telah membunuh empat tentara dalam serangan di Kasserine. Pada bulan Agustus tahun lalu, kelompok juga membunuh agen pabean di Bouchebka.

Penyergapan Uqba bin Nafi paling mematikan terhadap militer Tunisia terjadi di wilayah Gunung Chaambi pada bulan Juli 2014, sebuah pertempuran yang menewaskan 15 tentara dan melukai 20 lainnya.

Milisi Syiah Saraya al Salam Serahkan Wilayah Tikrit ke Tentara Irak

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah, Saraya al-Salam, menyerahkan beberapa bagian kota Tikrit di barat laut Irak ke tentara Irak pada Kamis (01/09/2016) sekitar satu tahun setelah merebut daerah tersebut dari Islamic State (IS).

“Saraya al-Salam telah secara resmi menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Irak dari Komando Operasi Baghdad di daerah yang terletak di sebelah barat daya distrik Al-Ishaqi (Tikrit ini),” sekte Syiah Saraya. Iyad al-Musawi mengatakan kepada Anadolu Agency, Kamis.

Menurut al-Musawi, semua elemen milisi Syiah sekarang telah ditarik dari daerah dan sejak itu telah digantikan oleh personil militer Irak.

Sekte Saraya al-Salam adalah sayap militer dari gerakan ekstremis Syiah Sadr yang dipimpin oleh tokoh Syiah Irak dan tokoh oposisi Moqtada al-Sadr.

Kelompok ini merupakan bagian dari Hashd al-Shaabi, payung milisi Syiah pro militer Irak yang saat ini terlibat dalam memerangi IS.

Pada pertengahan 2014, IS menyerbu distrik Al-Ishaqi Tikrit, ibukota daerah provinsi Saladin utara Irak.

Hampir satu tahun kemudian, pasukan Irak – yang didukung oleh milisi Syiah Hashd al-Shaabi – merebut kembali distrik dari IS, dengan Saraya al-Salam bertanggung jawab atas setiap kondisi di wilayah Samarra, Balad dan Al-Dujail.

Pasukan Rezim Assad Gagal Rebut Hama dari Mujahidin Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sejumlah area provinsi Hama Suriah yang diberhasil direbut oleh koalisi mujahidin Suriah dihantam serangan udara berat pada hari Kamis saat pasukan pro-rezim Assad berusaha menghadang serangan besar kelompok mujahidin Suriah di daerah strategis yang penting bagi rezim Bashar al-Assad, lansir Al Jazeera Kamis (01.08.2016).

Serangan yang dimulai pada hari Selasa adalah serangan koalisi mujahidin yang terkoordinasi terbesar di provinsi Hama sejak 2014, menurut kelompok monitoring Observatorium Suriah untuk HAM (the Syrian Observatory for Human Right-SOHR).

Observatorium yang berbasis di Inggris tersebut mengatakan sedikitnya 25 orang warga sipil, termasuk enam anak, tewas dalam serangan udara rezim Assad semalam, Rabu.

Televisi pemerintah Suriah mengatakan pada hari Kamis bahwa angkatan udara telah melakukan “serangan terkonsentrasi” terhadap daerah yang mereka gambarkan sebagai “daerah jihadis”.

Dorongan kelompok pejuang Suriah di Hama menandai tantangan baru bagi rezim Assad dan sekutunya di wilayah Suriah di mana Nushairiyah Assad mencoba mengkonsolidasikan kekuasaannya terhadap upaya lima tahun untuk menggulingkan dia.

Seorang pejabat di salah satu faksi yang melancarkan serangan, Jaish al-Nasr, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa jet Suriah dan Rusia terlibat dalam serangan udara berat. Rusia telah membom pemukiman sipil selama hampir satu tahun.

 

Pemimpin Garda Revolusi Iran, Jenderal Ahmad Gholami, Tewas di Selatan Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Media Iran melaporkan kematian salah satu pemimpin Garda Revolusi Iran (IRGC) di dalam wilayah Suriah selama pertempuran berlangsung di pedesaan selatan Aleppo, ElDorar AlShamia mengatakan Kamis (01/08/2016).

Sumber Media melaporkan bahwa mantan wakil Ketua IRGC dan pemimpin Batalion Sayed al-Shohadaa, Brigadir Jenderal Ahmad Gholami, tewas dalam pertempuran pedesaan selatan Aleppo dalam 24 jam terakhir.

Lewaa Fatemion” Afghanistan berkabung atas kematian tiga prajuritnya yaitu Abbas Kamel, Mustafa Husseini dan Hussein Rezai dalam pertempuran yang sama di selatan Aleppo, menunjukkan bahwa mereka dibunuh “di garis depan saat bertugas.”

Milisi Syiah Iran, Irak, Afghanistan dan Hizbullah Libanon bergabung dengan pasukan rezim Nushairiyah Assad pada pertempuran di selatan Aleppo, wilayah kendali faksi mujahidin Suriah, dengan tujuan untuk memotong jalan pasokan antara Aleppo dan seluruh pedesaan nya.

 

 

 

Faksi Mujahidin Suriah Siap Gagalkan Pengepungan Pasukan Assad pada Penduduk Al Waer, Homs

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi mujahidin Suriah menegaskan bahwa mereka akan berusaha menggagalkan rencana rezim Syiah Assad untuk mengubah keadaan demografi di Suriah dan mencegah perpindahan penduduk yang tinggal di lingkungan “al-Waer” di Homs, ElDorar AlShamia melaporkan, Kamis (01/09/2016).

11 Faksi mengancam melalui pernyataan pada hari Rabu untuk mengebom barak dan pertemuan milik pasukan Nushairiyah Assad: “Kami tidak akan membiarkan lingkungan dan desa-desa pro Assad tetap aman dan pasukan kami telah melakukan pemboman dan perusakan.”

Pernyataan itu juga menegaskan organisasi-organisasi internasional berkontribusi pada perpindahan warga sipil Muslim dan berkolusi dengan rezim Assad, serta mempertanyakan: “Mengapa mereka khawatir tentang lingkungan pro rezim Assad di Aleppo dan tidak pernah berbicara tentang apa yang terjadi di Homs”.

Rezim Syiah Assad menerapkan kebijakan mengepung dan menciptakan kelaparan terhadap banyak daerah di Suriah, sehingga memaksa penduduk Daraya untuk keluar beberapa hari lalu setelah lima tahun pengepungan serta pemboman berat, dan saat ini mereka bersiap mengulangi skenario yang sama di lingkungan “al-Waer” yang terkepung di Homs.

 

Bantuan Idul Adha Turki Mencapai 130 Negara

TURKI (Jurnalislam.com) – Ribuan hewan kurban sebagai bagian dari perayaan Idul Adha mendatang akan disumbangkan kepada keluarga yang membutuhkan di 130 negara, menurut seorang pejabat senior dari Direktorat Urusan Agama Turki, lansir World Bulletin, Kamis (01/09/2016).

Yayasan, yang merupakan salah satu badan amal terbesar di negara itu, memimpin persiapan untuk hari raya dan mendistribusikan daging hewan kurban untuk keluarga Muslim di seluruh dunia.

Wakil Presiden Abdurrahman Cetin mengatakan 225.000 hewan akan dikorbankan selama Idul Fitri.

“125.000 dari 225.000 hewan kurban akan disembelih di luar negeri dan didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan di 130 negara,” kata Cetin.

Dia mengatakan 100.000 hewan yang tersisa akan dikorbankan di Turki dan akan didistribusikan kepada ribuan orang di seluruh Turki, terutama lokasi para pengungsi Suriah.

Menurut yayasan, mereka yang ingin mengambil bagian dalam perayaan ini dapat membayar 500 lira Turki (sekitar $ 169) di luar negeri, sementara itu untuk mengambil bagian dalam perayaan domestik di Turki akan dikenakan biaya 690 lira Turki (sekitar $ 230).

Dimulai pada 12 September, Muslim akan merayakan Idul Adha tiga hari, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, yang merayakan kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya Ismail untuk Allah Swt.

Ini adalah hari raya utama kedua dari dua hari raya utama yang dirayakan oleh umat Islam dan menandai hari terakhir ibadah haji bagi kaum muslimin di Arab Saudi, di mana jutaan jamaah berkumpul ke Makkah dan Madinah.

 

Kantor Militer al Asala dan al Tanmya: Dengan Cara Ini al Adnani Dibunuh

SURIAH (Jurnalislam.com)ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (01/09/2016), bahwa sekretaris Jenderal al-Asala & al-Tanmya, “Khaled Al-Hamad”, mengumumkan sebuah informasi baru mengungkapkan siapa yang membunuh juru bicara kelompok Islamic State (IS), Abu Muhammad al Adnani, dan keterangan ini membuat berita sebelumnya yang diterbitkan oleh media Barat, Rusia dan Amerika yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan terbukti tidak benar.

Al-Hammad mengatakan bahwa yang membunuh Adnani adalah salah satu pemimpin IS itu sendiri, yang dikenal sebagai Ali Moussa Al Shawakh, yang dijuluki “Abu Luqman,” di mana ia menanam bahan peledak di dalam mobilnya.

Hammad mengatakan alasan Abu Luqman membunuh al Adnani adalah karena pimpinan IS, Abu Bakr al-Baghdadi mengirim Adnani ke Suriah, setelah ekstraksi sertifikat membuktikan garis keturunan untuk “Ahlul Bait” yang bertujuan menetapkan struktur baru organisasi IS di Suriah, dan dengan garis keturunan tersebut mencegah Abu Luqman memimpin dan memegang jabatan IS di Suriah, yang telah diperjuangkan sejak dua tahun lalu, sehingga membangkitkan kemarahan Abu Luqman, dan ia bergegas membunuh Adnani dengan alat peledak improvisasi.

Sebelumnya departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengumumkan kemarin bahwa Adnani tewas dalam serangan udara di mobilnya, di dekat kota al-Bab di timur Aleppo.

Penakluk Pasukan Ahzab

Seorang panglima yang brilian adalah dia yang bisa menggunakan taktik atau senjata baru dalam peperangan. Khandaq (parit) merupakan taktik atau senjata baru kedua yang digunakan Rasulullah saw untuk berperang setelah taktik “barisan berlapis” dalam perang Badar.

Ide penggalian parit itu berasal dari Salman Al-Farisi, dialah penakluk Ahzab pertama sehingga Rasulullah memberikan pujian pada Salman, “Salman adalah dari kami, golongan ahli bait,” untuk memotivasi lahirnya ide-ide yang bermanfaat, memuji mereka yang beramal bagi kemajuan umat dan mengikis fanatisme golongan.

Penakluk Ahzab kedua yaitu Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw, yang berhasil membunuh intelijen Yahudi dengan sepotong tiang kayu. Ketika si Yahudi mengitari rumah-rumah penampungan kaum wanita dan anak-anak. Kejadian itu membuat komunitas Yahudi berpikir bahwa Madinah memiliki penjaga-penjaga yang gagah berani dan sulit untuk ditembus. Setelah itu, umat Islam lepas dari ancaman bahaya yang hendak menimpa mereka.

Perang Ahzab termasuk perang urat syaraf yang lebih banyak mengandalkan propaganda. Untuk masalah ini Allah telah mempersiapkan seorang penakluk Ahzab dari kabilah Ghathafan, Nu’aim bin Mas’ud. Dia menemui nabi untuk memberitahu perihal keislamannya yang tidak diketahui oleh kaumnya. Setelah mendengar pengakuan Nu’aim, Rasulullah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau hanya seorang diri, untuk itu cerai beraikan kesatuan mereka semampu kalian untuk membantu kami, karena perang adalah tipu daya.”

Penakluk Ahzab keempat yaitu sosok intelijen muslim yang selalu dipercaya Rasulullah, Hudzaifah bin Al-Yaman. Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang berani menjadi mata-mata untuk melaporkan musuh, niscaya ia selalu bersamaku di hari kiamat nanti?” Tidak ada seorangpun dari kami yang bersedia menyanggupi tawaran Rasulullah. Beliau kembali mengulangi sabdanya sampai tiga kali. Namun tidak ada yang sanggup melakukannya kemudian Rasulullah bersabda, “ Wahai Hudzaifah berdirilah kamu! Berangkatlah untuk memata-matai musuh.” (HR. Muslim)

Perang Dramatis
Itulah para penakluk Ahzab yang telah dipilih Allah untuk membela Allah dan Rasul-Nya, menegakkan Dienul Islam. Mereka adalah umat pilihan yang sedang diuji keimanannya melalui serangkaian peperangan. Mahmud Syeit Khaththab dalam Rasulullah Sang Panglima, mengisahkan bahwa Rasulullah memimpin 3000 umat Islam untuk melawan 10.000 tentara Ahzab di bawah komando Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah yang terdiri dari 4000 tentara musyrikin Quraisy dan 6000 tentara aliansi dari Bani Sulaim, Asad, Fizarah, Asyja’, dan Ghathafan.

Sebuah peperangan yang sangat dramatis, awal dan akhirnya berisi hal-hal yang sangat sulit dan dahsyat, sehingga Allah perlu memberikan catatan khusus dalam firmannya yaitu surat Al-Ahzab. “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Perang Ahzab

Perang Ahzab

Bagaimana tidak dramatis ? Umat Islam hanya tiga ribu dikepung oleh sepuluh ribu pasukan sekutu selama satu bulan. Ditambah dengan cuaca dingin dan badai topan yang sebenarnya Allah kirimkan untuk membantu umat Muhammad saw. Situasi sulit itu akhirnya membelah umat dalam 2 golongan: Mukmin dan Munafiq. Mu’attib bin Qusyair melontarkan kemunafikannya, “Muhammad telah menjanjikan bahwa kita akan menikmati gudang-gudang kekayaan Kisra dan kaisar Heraklius. Sementara (di saat sekarang ini) untuk buang air besar saja tidak ada satupun dari kita yang berani pergi melakukannya.” (Shoheh Tafsir Ibnu Katsir, Syeikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri, Juz 21, 241).

Sedangkan cobaan, kesukaran dan kesulitan, bagi orang-orang Mukmin, semakin menambahkan keimanan mereka. Buktinya Allah memuji para penakluk Ahzab dengan dua hal: Mati syahid atau menunggu datangnya syahid. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati janji apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah ( janjinya).” (Al-Ahzab: 23)

Ahzab Modern
Pasukan Ahzab modern yang dipimpin Amerika sudah hamper satu abad mengepung umat Islam di seluruh dunia jika dihitung sejak runtuhnya kekhalifahan Turki pada 1924 sampai saat ini (1924-2015 = 91 tahun ). Dramatis ! 1 bulan berbanding 91 tahun. Sementara strategi koalisi Ahzab, dahulu dan sekarang tidak pernah berubah. Abu Mush’ab As-Suri menyebutnya dengan “koalisi dalang” Salibis-Yahudi yang terdiri dari Amerika – Israel atau dahulu Quraisy-Yahudi. Ditambah dengan “koalisi wayang” yang beranggotakan para penguasa bonek seperti Negara-negara Islam Timur Tengah, Asia, Afrika yang dahulu masa Rasulullah diduduki posisi kabilah-kabilah atau suku-suku di sekitar Madinah.

Dalam rangka menghancurkan pasukan Ahzab, Rasulullah membuat skala prioritas musuh. Pertama, pasukan Quraisy-yahudi seperti Bani Sulaim, Asad, Fizarah, dan Asyja’. Untuk menggempur mereka Rasulullah membuat khandaq sebagai taktik peperangan. Kedua, pasukan Yahudi bani Quraizhah yang cukup diserang dengan menggunakan peperangan opini / urat syaraf melalui sang propagandis, Nu’aim bin Mas’ud.

Sedangkan untuk menyerang pasukan Ahzab modern, mujahidin menyerukan perlawanan jihad global dengan membuat empat rangking prioritas musuh (Mush’ab As-Suri, Visdi Politik Gerakan Jihad, 2010).

Pertama, Yahudi, Nasrani Barat, Nasrani Timur. Kedua, Penguasa Kafir/ sekular, pembantu penguasa, ulama jahat, pasukan penjaga konstitusi Kafir. Ketiga, lembaga yang berafiliasi dengan penguasa, kelompok cendikiawan (kaum Liberal), kelompok fasik yang menyebarkan kekejian di masyarakat dengan berlindung di balik seni. Keempat, Ormas yang manhajnya menyimpang, Parpol nasionalis. Sebagai tambahan, prioritas Ahzab modern untuk wilayah local Indonesia bisa dilihat dari dukungan setiap musuh Islam terhadap rezim kafir di negeri ini. Misalnya koalisi yang berada dalam deretan gerbang pendukung Jokowi antara lain pengusaha tertentu, kekuatan asing dan kelompok garis keras AS (hawkish), jendral-jendal, kelompok Syiah dan konglomerat hitam. (Bambang Soesatyo, Republik Komedi ½ Presiden, 2015)

Giliran Kita
Perang Ahzab / Khandaq merupakan peperangan sengit kedua yang sangat menentukan nasib umat Islam setelah perang Badar Kubra. Andaikata koalisi Musyrikin Quraisy-Yahudi menang, niscaya lembaran sejarah Islam akan berubah. Bergabungnya pasukan Ahzab tersebut menjadi peluang emas yang tidak mungkin terulang kembali, terutama jika orang-orang Yahudi gagal memobilisasi pasukan Ahzab, apalagi gagal pula dalam memenangkan pertarungan dengan umat Islam. Artinya, di masa mendatang mereka tidak akan dapat bergabung kembali dan tidak akan mampu mengalahkan tentara Islam. Berkoalisi saja gagal mengalahkan umat Islam apalagi sendirian.

Pelajaran penting lainnya adalah taktik Mubada’ah (memulai aksi lebih dahulu) di mana umat Islam telah berpindah dari fase defensive ke fase ofensif. Oleh karena itu Rasulullah mengatakan pada para sahabatnya setelah pasukan Ahzab mundur dari medan peperangan, “Sekarang , kita lah yang menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita.”

Setelah perang Khandaq inisiatif penyerangan berpindah dari kaum musyrikin kepada umat Islam. Bahkan umat Islam tidak pernah berhenti penyerang musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya hingga Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Itulah kebenaran Sang Sutradara tunggal, Allah subhanahu wata’ala. (QS. Al-Ahzab: 25 )
Dalam masa pengepungan tentara Ahzab Modern, umat Islam telah melahirkan ash-Shahwah al-Islamiyyah (gerakan kebangkitan Islam) dengan berbagai bentuk dan tujuan yakni mengembalikan Khilafah, pemerintahan Islam dan kebangkitan Islam. Rekam jejak gerakan itu menjadi catatan sejarah yang panjang, sejak eksperimen Gerakan Pemuda Maroko 1963 sampai eksperimen jihad Al-Qaidah pada 11 September 2001 yang berhasil menghancurkan symbol ekonomi dajjal Amerika, WTC.

Setelah tragedi WTC, para mujahidin ash-Shahwah al-Islamiyyah seolah ingin mengatakan kepada dunia khsusunya musuh-musuh Allah, “ Kini giliran kita yang mengepung pasukan Ahzab.” Melalui strategi The Arab Spring, fir’aun Amerika sebagai komandan Ahzab Modern itu ‘bangkrut”, negaranya dibuat miskin oleh Allah. Bahkan negara-negara boneka fir’aun modern yang nota bene negara Islam pun satu demi satu hancur: Irak, Libya, Mesir, Sudan, Pakistan, Suriah, Yaman dan tinggal menunggu Saudi Arabia.

Kini, para Ahzab Modern tengah menghadapi mimpi buruk sebagai bentuk ketakutan mereka akan datangnya hari-hari gelap mereka. Salah satu alasannya adalah bahwa hampir semua negara di dunia di mana umat Islam berada sedang bergejolak untuk melawan dan menghancurkan hegemoni pasukan Ahzab. Wallahu ‘Alam.

 

Muntaha Bulqini | Jurnalislam