Kekerasan Remaja, Buah Pahit Sekularisme dan Normalisasi Gaul Bebas

Oleh : Nabilaturra’yi

Kasus pembacokan yang terjadi di UIN Sultan Syarif Kasim Riau menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan.

Sebagaimana dikutip dari laman LPM Neraca, diberitakan bahwa “seorang mahasiswi Faradilla Ayu Pramesti (23) dibacok oleh sesama mahasiswa saat sedang menunggu jadwal seminar proposal skripsi di lantai dua Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum” pada Kamis pagi, 26 Februari 2026.

Korban mengalami luka serius di bagian kepala dan lengan hingga harus mendapatkan perawatan intensif.

Masih dari laman yang sama, polisi mengungkap bahwa pelaku telah merencanakan aksinya dan menyerang korban dengan senjata tajam (kapak) di depan ruang ujian. Sementara itu, laporan dari Ketik News menyebutkan bahwa motif awalnya berkaitan dengan persoalan asmara, yakni pelaku merasa cintanya ditolak setelah keduanya sebelumnya memiliki hubungan dekat.

Analisis Perspektif Islam Kaffah

Peristiwa ini bukan sekadar konflik pribadi, melainkan potret krisis pembinaan generasi. Ketika pergaulan bebas dinormalisasi pacaran, kedekatan emosional tanpa ikatan syar’i maka hubungan dibangun di atas hawa nafsu dan ekspektasi pribadi. Saat ekspektasi itu runtuh, sebagian individu yang rapuh secara iman dapat kehilangan kendali hingga menempuh jalan kekerasan.

Sistem pendidikan sekuler hari ini cenderung berfokus pada capaian akademik dan produktivitas, namun kurang menanamkan ketakwaan serta kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Akibatnya, kecerdasan intelektual tidak selalu diiringi kedewasaan emosional dan akhlak.

Padahal Islam telah memberi batas yang jelas. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala pintu yang mengarah kepadanya, termasuk relasi bebas tanpa ikatan yang sah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, kepribadian Muslim sejati tercermin dari kemampuannya menjaga diri agar tidak menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun emosional.

Islam Kaffah sebagai Solusi

Islam kaffah memandang agama bukan sekadar ritual, tetapi pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Pendidikan berbasis akidah membentuk generasi bertakwa, bukan hanya berprestasi.

Pengaturan interaksi laki-laki dan perempuan menjaga kehormatan dan stabilitas emosi.

Budaya amar ma’ruf nahi mungkar menciptakan lingkungan yang tidak permisif terhadap kemaksiatan.
Negara yang menerapkan syariat secara menyeluruh menghadirkan hukum yang tegas dan adil untuk menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat.

Kasus ini seharusnya menjadi momentum evaluasi mendasar apakah pendidikan hari ini benar-benar membentuk manusia bertakwa, atau sekadar menghasilkan individu cerdas namun rapuh secara moral?.

Maka Islam kaffah menawarkan solusi menyeluruh pendidikan ruhani, lingkungan yang mendukung ketaatan, serta sistem hukum yang menjaga nyawa dan kehormatan manusia.

Brutalitas Aparat: Bukti Nyata Bobroknya Sistem Perlindungan

Oleh: Dhevyna Wahyu Tri Wardani

Diawal bulan ramadhan ini kita sudah dibuat pilu dengan maraknya tindak kekerasan yang terjadi ditengah masyarakat. Lebih mirisnya tak hanya kekerasan pada masyarakat saja melainkan kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan negara.

Seperti yang dikutip pada Jakarta, tvOnenews.com – Kronologi Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mendapat sejumlah teror dari orang tak dikenal. Teror itu didapat Tiyo pasca Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melayangkan surat kepada Nations Children Fund (UNICEF) pada Jumat (6/2/2026).

Tidak hanya diteror melalui pesan WhatsApp, Tiyo Ardianto juga mengaku dikuntit dan difoto dari Jarak jauh oleh orang tak dikenal dengan ciri-ciri badan tegap. Bahkan, lebih parah teror tersebut merembet ke keluarga Tiyo Ardianto dan puluhan anggota BEM UGM yang lain.

Mereka yang berani mengungkap kebenaran kini justru sering kali dibungkam atau bahkan diancam hingga diteror agar kebenaran tersebut tidak terungkap.

Dilain sisi kita juga mendapati tindak kekerasan yang tidak seharusnya dilakukan oleh aparat keamanan.Yakni pada kasus Tindakan brutal oknum anggota Brimob di Tual, Maluku hingga mengakibatkan seorang siswa MTs Negeri Malra bernama Aryanto Tawakal meninggal dunia sebab dipukul menggunakan helm. Dikutip dari Republik Merdeka pada Ahad, 22 Februari 2026.

Marak terjadinya kekerasan ini adalah salah satu bukti bobroknya sistem saati ini. Dalam sistem ini aparat keamanan tidak memiliki syakhsiyah islam. Akibatnya mereka sewenang wenang dalam bertindak. Yang seharusnya dia menjalankan tugas menjadi penjamin keamanan dalam negeri dengan baik, Justru kini malah sebaliknya.

Dan dari banyak nya kasus kekerasan yang sudah dilakukan oleh aparat banyak dari korban tidak mendapatkan keadilan yang sepatutnya didapatkan. Bukti bahwa keadilan sangat sulit ditegakkan dan penguasa tidak benar benar hadir menjadi pembela bagi keadilan rakyatnya.

Sangat berkebalikan dengan sistem islam, didalam sistem islam persoalan keamanan bagi rakyat sangat diperhatikan dan dikembalikan sesuai hukum syara’ yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dijelaskan dalan Kitab Ajhizah Daulah Al Khilafah, Bahwa kepolisian berada di bawah De-partemen Keamanan Dalam Negeri, yang dipimpin oleh Direktur Keamanan Dalam Negeri. Kepolisian adalah alat utama negara dalam menjaga keamanan. Semua tugas dan fungsinya diatur dalam UU khusus, sesuai dengan ketentuan hukum syara’.

Dalam menjalankan tugasnya, seorang polisi harus mempunyai kepribadian yang baik, seperti tidak sombong dan arogan, kasih sayang, murah senyum, berwiba serta tegas. Juga harus memiliki akhlak yang mulia, seperti jujur, amanah, dan taat.

Tetapi nyatanya, polisi saat ini tidak demikian, sehingga kejahatan terus berulang. Untuk mencegah hal tersebut butuh pula pengawasan dan penyadaran, kemudian diberikan sanksi sebagai konsekuensi dari perbuatan kejahatannya.

Seperti halnya dalam Islam, setiap pelaku pembunuhan akan dikenakan diyat, berupa 100 ekor unta. Dengan begitu keluarga korban mendapatkan keadilan atas terbunuhnya salah satu keluarga mereka.

Maka, kini sudah saat nya kita kembali ke sistem ciptaan sang Kholiq, yakni sistem Islam. Dengan demikian tidak akan ada lagi kejahatan yang terjadi di tengah masyarakat, terlebih kejahatan oleh aparat negara, yang bertugas menjaga dan melindungi masyarakat. Kini sudah saatnya kita sebagai aktivis dakwah ideologi Islam, menyuarakan penerapan sistem Islam secara kaffah dalam kehidupan. Wallahualam bish showab

Cinta, Emosi, dan Kekerasan di Kampus: Alarm Serius bagi Dunia Pendidikan Islam

Penulis: Rika Arlianti DM

Peristiwa pembacokan terhadap mahasiswi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ia adalah alarm keras bagi kampus, keluarga, dan masyarakat, bahwa kita sedang menghadapi krisis pengendalian diri, krisis relasi, dan krisis kedewasaan emosional di ruang-ruang yang seharusnya menjadi pusat peradaban ilmu.

Berdasarkan keterangan resmi aparat, motif sementara mengarah pada persoalan relasi pribadi dan konflik emosional. Di ruang publik, beredar pula video kedekatan keduanya yang memunculkan beragam tafsir. Namun apa pun detail hubungan mereka, satu fakta tak terbantahkan, kekerasan telah terjadi.

Kampus Bukan Arena Pelampiasan Luka Batin

Perguruan tinggi, terlebih yang berbasis keislaman, bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini sering dibaca sebagai legitimasi kemuliaan akademik. Padahal, derajat tinggi dalam Islam bukan hanya karena gelar, melainkan karena iman dan akhlak. Ilmu yang tidak disertai kendali diri berpotensi menjadi alat pembenaran nafsu.

Kasus ini memaksa kita bertanya, “Apakah sistem pendidikan kita sudah sungguh-sungguh membentuk kematangan emosional, atau sekadar mengejar kelulusan dan IPK?”

Ketika Penolakan Dianggap Penghinaan

Salah satu akar kekerasan dalam relasi adalah ilusi kepemilikan. Merasa dekat bukan berarti berhak menguasai. Merasa menyayangi bukan berarti berhak menentukan masa depan orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan standar kekuatan dalam Islam, yakni kontrol diri. Namun realitas hari ini menunjukkan banyak orang gagal menerima penolakan. Padahal, dalam Islam, penolakan adalah bagian dari takdir, bukan penghinaan harga diri.

Ketika cinta berubah menjadi amarah, itu bukan lagi cinta, melainkan ego yang terluka.

Relasi Tanpa Batas: Bibit Luka yang Sering Diremehkan

Jika benar terdapat kedekatan intens sebagaimana yang beredar di media sosial, maka kita juga perlu jujur pada satu hal, bahwa Islam mengatur batas bukan untuk mengekang, tetapi untuk melindungi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32).

Perhatikan kata “mendekati”. Islam menutup pintu sejak awal, karena yang berbahaya bukan hanya perbuatan besar, tetapi proses menuju ke sana, seperti kedekatan tanpa kejelasan, ekspektasi sepihak, pun keterikatan emosional tanpa komitmen.

Relasi yang tidak terdefinisi sering melahirkan asumsi yang tidak disepakati. Dan ketika ekspektasi itu runtuh, sebagian orang memilih jalan paling keliru, yakni kekerasan; tindakan kriminal.

Menjaga Jiwa: Prinsip yang Dilupakan

Sering kali kita lupa bahwa menjaga jiwa (hifzh an-nafs) adalah salah satu tujuan utama hukum Islam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Barang siapa membunuh satu jiwa… maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Maidah: 32).

Ayat ini menegaskan betapa sakralnya nyawa manusia. Kekerasan karena urusan pribadi adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip tersebut.

Lebih jauh, kasus seperti ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental dan pengendalian emosi tidak bisa lagi dianggap isu sekunder. Kampus harus menyediakan ruang konseling yang aktif, bukan sekadar formalitas administratif.

Tanggung Jawab Kolektif

Tragedi ini bukan hanya tanggung jawab pelaku secara hukum. Ia juga menjadi refleksi kolektif:

1) Kampus, perlu memperkuat sistem keamanan dan layanan psikologis yang responsif.

2) Keluarga, harus lebih peka terhadap perubahan perilaku dan tekanan emosional anak.

3) Masyarakat, wajib berhenti membangun narasi spekulatif sebelum fakta hukum final.

4) Bagi generasi muda, pelajarannya jelas, bahwa cinta tidak pernah membenarkan kekerasan. Penolakan bukan akhir harga diri. Tidak semua perasaan harus dimiliki, dan tidak semua kehilangan harus dibalas.

Penutup: Mengembalikan Martabat Cinta

Islam tidak memusuhi cinta. Islam justru memuliakannya dengan aturan. Cinta yang sehat menghargai pilihan. Cinta yang dewasa siap menerima takdir. Cinta yang beriman tidak memaksa. Cinta yang tulus senantiasa menjaga.

Tragedi di UIN Suska Riau adalah peringatan bahwa tanpa iman dan kendali diri, emosi bisa berubah menjadi bencana. Ketika bencana itu terjadi di ruang pendidikan Islam, sejatinya kita tidak boleh sekadar berduka, tapi kita harus berbenah. Sebab peradaban tidak runtuh karena kurangnya ilmu, tetapi karena hilangnya akhlak. Wallahu a’lam bisshowab.

Menjaga Kesucian Ayat Al-Quran di Era Digital: Refleksi atas Kasus Viral di Bulukumba

Oleh: Rika Arlianti DM

Di tengah derasnya arus media sosial, batas antara hiburan dan penghormatan terhadap nilai-nilai sakral kerap menjadi kabur. Fenomena inilah yang kembali mengemuka setelah viralnya sebuah video dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang memperlihatkan dua konten kreator memelesetkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam siaran langsung media sosial. Meski disebut sebagai candaan dan “seru-seruan”, konten tersebut menuai kecaman luas dari masyarakat.

Peristiwa ini bukan sekadar persoalan viralitas, melainkan menyentuh aspek mendasar dalam kehidupan beragama, penghormatan terhadap ayat-ayat suci Al-Quran.

Bagi umat Islam, Al-Quran bukan hanya teks yang dibaca, tetapi pedoman hidup, sumber hukum, dan rujukan moral. Setiap ayat memiliki kedudukan sakral yang dijaga bukan hanya secara fisik, tetapi juga melalui pemahaman dan adab dalam menyampaikannya.

Ketika Candaan Menjadi Polemik

Dalam video yang beredar, ayat dibacakan lalu ditanggapi dengan pelesetan makna yang menyimpang dari arti sebenarnya. Reaksi publik pun cepat dan keras. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap kitab suci.

Kedua konten kreator tersebut kemudian mendatangi kantor kepolisian dan memberikan klarifikasi serta permintaan maaf. Penanganan kasus dilakukan oleh Polres Bulukumba dengan melibatkan tokoh agama untuk memberikan pembinaan dan pemahaman. Kasus ini bahkan sempat dilaporkan sebagai dugaan penistaan agama oleh sejumlah warga.

Terlepas dari proses hukum yang berjalan, peristiwa ini menjadi cermin bahwa niat bercanda tidak selalu sejalan dengan dampak yang ditimbulkan. Di ruang digital yang tanpa batas, sebuah video berdurasi singkat dapat menyebar dalam hitungan menit dan memantik respons emosional ribuan orang.

Memahami Makna Pencemaran Ayat Suci Al-Quran

Pencemaran ayat suci Al-Quran dapat dimaknai sebagai tindakan merendahkan, memelintir, atau menggunakan ayat secara tidak pantas. Bentuknya bisa berupa penggalan ayat tanpa konteks, manipulasi makna demi kepentingan tertentu, hingga menjadikannya bahan olok-olok demi konten hiburan.

Fenomena ini kian sering terjadi di era digital, ketika kreator berlomba-lomba menghadirkan konten unik dan menarik perhatian. Namun, ketika simbol agama dijadikan materi hiburan, sensitivitas publik menjadi hal yang tak terhindarkan.

Kebebasan Berekspresi dan Batas Tanggung Jawab

Media sosial membuka ruang kebebasan berekspresi yang luas. Setiap orang bisa menjadi kreator, penyiar, sekaligus penyebar informasi. Namun kebebasan tersebut tidak berdiri sendiri; ia selalu beriringan dengan tanggung jawab moral dan sosial.

Dalam konteks keagamaan, penggunaan ayat suci menuntut pemahaman yang benar. Tradisi keilmuan Islam mengenal tafsir, asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), serta adab membaca dan menyampaikan Al-Quran. Tanpa bekal pengetahuan tersebut, risiko kesalahpahaman dan penyimpangan makna menjadi sangat besar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam berbicara, termasuk saat menyampaikan ayat suci di ruang publik.

Kasus di Bulukumba memperlihatkan bahwa kurangnya literasi keagamaan dan minimnya kesadaran akan dampak digital dapat berujung pada persoalan serius. Apa yang dianggap lucu oleh sebagian orang bisa dipandang sebagai penghinaan oleh yang lain.

Edukasi sebagai Jalan Tengah

Alih-alih hanya terjebak pada kemarahan atau perdebatan, peristiwa ini semestinya menjadi momentum refleksi bersama. Literasi keagamaan perlu diperkuat, khususnya di kalangan generasi muda yang aktif di media sosial. Edukasi tentang adab, etika digital, dan sensitivitas antar umat beragama menjadi kunci untuk mencegah kasus serupa terulang.

Menjaga kesucian Al-Quran bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa wahyu Allah adalah sumber nilai yang harus diperlakukan dengan hormat, sekaligus kesadaran bahwa dunia digital bukan ruang tanpa konsekuensi.

Dalam Al-Quran, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Ayat ini menegaskan kemuliaan dan penjagaan Ilahi terhadap Al-Quran. Kehormatan tersebut bukan hanya dalam penjagaan teksnya, tetapi juga dalam cara manusia memperlakukannya.

Selain itu, Allah juga mengingatkan, “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. Al-An’am: 68).

Ayat ini menjadi dasar bahwa mempermainkan atau memperolok ayat Allah merupakan perbuatan yang tercela.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Muslim).

Prinsip ini relevan dalam konteks media sosial saat ini, di mana kebebasan berbicara tetap harus berada dalam koridor kebaikan dan tanggung jawab.

Penutup

Kasus viral di Bulukumba menjadi pengingat bahwa era digital menuntut kedewasaan dalam bersikap. Kreativitas tetap penting, kebebasan berekspresi tetap dijamin, tetapi penghormatan terhadap keyakinan dan simbol agama tidak boleh diabaikan.

Pada akhirnya, menjaga kesucian ayat-ayat Al-Quran bukan hanya tanggung jawab individu tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan ilmu, adab, dan kebijaksanaan, masyarakat dapat merawat harmoni sosial sekaligus mempertahankan nilai-nilai spiritual yang diyakini. Wallahu a’lam bisshowab.

Penguasa yang Dicintai Rakyatnya

Oleh: Herliana Tri, M. S.P

Kerusakan para pejabat di negeri ini semakin nyata. Gaji dan tunjangan mereka sangat besar. Fasilitas melimpah. Namun, korupsi tetap merajalela. Seakan gaji fantastis tak mencukupi memenuhi ” kebutuhan dunianya” Alih-alih berpihak kepada rakyat, kebijakan mereka lebih sering memanjakan oligarki.

Inilah wajah asli pemimpin rakyat dari masa ke masa. Rakyat selalu berharap akan hadirnya pemimpin yang mampu mengayomi dan melindunginya. Namun serasa harapan fatamorgana dalam sistem sekuler saat ini. Saat agama hanya berhenti pada sajadah masjid, dan lepas saat mengatur urusan rakyat. Harapan akan hadirnya pengayom, keinginan, impian, atau tujuan yang tampak indah dan meyakinkan, namun sebenarnya hanyalah khayalan (ilusi) yang tidak nyata dan mustahil digapai.

Hausnya rakyat akan kepemimpinan yang melindunginya dan berpihak pada kepentingannya menjadikan rakyat ini rindu keteladanan pemimpin. Wajar saat muncul tokoh yang berani bersuara sebagaimana munculnya juru bicara pejuang Palestina yang fenomenal, berhasil “membius mata dunia” dan mengelu-elukan sebagai pahlawan yang didamba.

Keteladanan Pemimpin yang Dicintai

Islam kaya akan tokoh teladan yang dicintai umatnya. Kokohnya iman, kuatnya memegang tali agama Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kecintaan pada rakyat dan posisi dirinya sebagai perisai sejati, yang siap berada pada garda terdepan, melindungi, menjadikan pemimpin umat Islam selalu mendapat cinta dan tempat di hati warga negaranya.

Contoh ideal yang seharusnya menjadi figur keteladanan bagi semua pemimpin dunia terutama pemimpin umat Islam adalah sosok Rasulullah saw. Keteladanan tanpa cela karena Rasulullah sebagai nabi utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus menjadi pemimpin negara besar yang melahirkan tokoh-tokoh handal hasil ‘didikan’ beliau. Bahkan tokoh- tokoh besar yang lahir meski mereka tak pernah bertemu Rasulullah. Meneladani sosok Rasulullah dan berusaha menempa diri dan melayakkan diri menjadi tokoh inspiratif terbaik pada zamannya.

Islam memandang penguasa adalah râ’in (penggembala). Mereka wajib memelihara urusan rakyat dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jabatan bukanlah sarana memperkaya diri, serta keluarga dan kolega, tetapi amanah berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Meneladani penguasa dalam Islam berarti mencontoh kepemimpinan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam yang adil, bijaksana dan senantiasa menegakkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa pandang bulu. Begitu pula Khulafaur Rasyidin setelahnya, menganggap kekuasaan sebagai amanah, bukan sumber keuntungan pribadi. Islam memandang kekuasaan sebagai wasilah (sarana) untuk menegakkan syariah secara menyeluruh demi mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Kekuasaan adalah instrumen mulia, menjaga agama sekaligus mengatur dunia dengan keadilan.

Wajar dengan penerapan Islam kaffah sebagaimana yang diteladankan Rasulullah saw menjadikan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam ditempatkan sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh dalam sejarah oleh astrofisikawan Michael H. Hart yang cukup menggemparkan dalam bukunya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”.

Rasulullah dipilih sebagai sosok satu-satunya figur dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan tertinggi, baik dalam bidang agama maupun duniawi. Ini adalah penilaian obyektif yang disematkan atas penerapan Islam yang dibawa Rasulullah. Bahkan digambarkan bahwa ajaran dan pengaruhnya tetap relevan dan diikuti oleh miliaran manusia bahkan lebih dari 13 abad setelah wafatnya.

Wujud Kecintaan Rakyat

Kecintaan rakyat kepada pemimpinnya tak membutuhkan setingan khusus atau sebatas opini yang diaruskan untuk mendapatkan dukungan. Bukan dengan memanipulasi data, berita atau menutupi fakta sebenarnya agar terlihat bagus meski sebenarnya banyak peristiwa yang sengaja ditutup-tutupi. Bahkan memenjarakan rakyat yang berusaha menunjukkan kebenaran fakta. Tentu tidak dengan cara demikian.

Pemimpin yang faham akan tugasnya sebagai pelaksana syariah Allah Subhanahu wa Ta’ala faham akan tugas beratnya menjalankan amanah. Hati- hati dalam bertindak dan mengambil keputusan agar tak ada rakyat yang terdzolimi.

Salah satu contoh hasil pembinaan langsung Rasulullah adalah kisah Umar bin Khattab saat paceklik (Tahun Ramadah, sekitar 18 Hijriah). Salah satu bukti keteladanan pemimpin yang memikul penderitaan rakyatnya. Beliau tidak hanya mengatur kebijakan dari balik meja, tetapi terjun langsung merasakan penderitaan rakyat.

Sebagai wujud empaty dan merasakan derita rakyatnya, Umar memilih hidup Sederhana dan menolak makanan mewah. Umar bersumpah untuk tidak makan makanan enak (seperti samin/mentega, susu, dan daging) sampai seluruh rakyatnya bisa menikmatinya kembali. Beliau hanya makan roti kasar dan minyak zaitun.

Ini hanyalah salah satu.contoh sikap keteladanan dibalik banyaknya keteladanan sikap dan pengurusan mereka terhadap rakyatnya. Wajar kesungguhan mereka berbuah kecintaan rakyat untuk pemimpinnya. Ibarat penguasa hidup mewah pun, rakyat tak akan iri hati, bahkan mendukungnya sebagai wujud kecintaan dan memuliakan pemimpin yang selalu menjaga dan memberikan perlindungan penuh untuknya. Meski pada faktanya sebagian besar penguasa Islam lebih memilih hidup sederhana dan fokus beramal, mengurus negaranya.

Contoh- contoh keteladanan yang berserakan dalam penerapan syariat Islam kafah, sudah seharusnya menjadikan pemimpin negeri ini sadar akan amanah dan tanggung jawab berat mengurus negeri ini. Puasa ini bisa menjadi bahan evaluasi diri baik skala individu maupun memutuskan kebijakan’. Kesalahan dalam mengambil keputusan efeknya dapat membahayakan seluruh rakyat dalam naungannya.

Program “Bahagia dengan Berzakat”, BMH Target Rp83 Miliar di Ramadhan 1447 H

JAKARTA (jurnalislam.com)— Baitul Maal Hidayatullah (BMH) meluncurkan program bertajuk “Bahagia dengan Berzakat” menjelang Ramadhan 1447 Hijriah. Peluncuran tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/2/2026), sebagai ajakan menegaskan bahwa kebahagiaan sejati seorang Muslim terletak pada kemampuan berbagi dan memberi manfaat nyata bagi sesama.

Direktur Utama BMH Supendi mengatakan, kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh penerima zakat, tetapi juga oleh pemberinya. Ia mengutip hasil survei yang menyebutkan bahwa aktivitas memberi dapat menstimulasi otak menghasilkan hormon dopamin yang memunculkan rasa senang dan bahagia.

“Kebahagiaan dalam berbagi akan menciptakan efek berantai. Kalau penduduk Indonesia banyak yang bahagia karena berzakat dan bersedekah, secara otomatis negara ini akan sejahtera, aman, dan tenang,” ujar Supendi.

Ia juga memaparkan peningkatan kepercayaan publik terhadap BMH sepanjang 2025. Penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah tercatat naik dari Rp269 miliar menjadi Rp302 miliar atau tumbuh 12,3 persen.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator pengakuan masyarakat atas profesionalisme dan transparansi lembaga.

Secara khusus untuk program Ramadhan, BMH menargetkan penghimpunan Rp82 miliar pada 2026, meningkat dari realisasi Rp73 miliar pada tahun sebelumnya. Dana tersebut akan difokuskan untuk mengoptimalkan pelaksanaan berbagai program tematik selama bulan suci.

Direktur Program dan Pemberdayaan (Prodaya) BMH Syamsuddin menjelaskan, Ramadhan 1447 H menghadirkan delapan program yang dirancang sebagai ekosistem dampak komprehensif. Salah satu inovasi yang diusung adalah “Dapur Bahagia”, yakni program penyediaan paket berbuka puasa berbasis pemberdayaan ekonomi.

“Tidak sekadar berbagi nasi kotak. Kami melibatkan ibu-ibu yang menjadi tulang punggung keluarga untuk menyiapkan makanan. Jadi manfaatnya tidak hanya dirasakan penerima, tetapi juga menggerakkan ekonomi keluarga,” kata Syamsuddin.

Selain itu, program Tebar Sedekah dan Wakaf Al-Qur’an dilakukan dengan verifikasi kebutuhan di lapangan serta pengiriman dai ke lokasi distribusi.

Penyaluran sembako pun dilakukan berbasis pendampingan oleh dai setempat agar bantuan tidak bersifat sesaat, melainkan menjadi bagian dari penguatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan instrumen perubahan sosial yang mampu mengurangi kesenjangan dan memperkuat solidaritas umat.

“Ramadhan adalah momentum spiritual sekaligus sosial. Melalui zakat, kita membersihkan harta dan jiwa, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi saudara-saudara kita yang terdampak krisis,” ujarnya.

Sebagai pijakan menuju Ramadhan 1447 H, BMH mencatat capaian Ramadhan 1446 H, di antaranya penugasan 1.500 dai melalui program Sebar Dai Ramadhan, distribusi 15.158 mushaf Al-Qur’an termasuk 30 paket braille, penyaluran 273.539 paket buka puasa di dalam negeri serta bantuan untuk Palestina dan Suriah, hingga distribusi paket zakat fitrah, fidyah, dan kafarat kepada puluhan ribu mustahik.

Memasuki awal 2026, BMH juga merespons situasi kebencanaan nasional dengan meluncurkan program “Bahagia Berbagi untuk Penyintas Bencana”.

Program ini menyasar korban bencana di sejumlah wilayah Sumatera serta masyarakat terdampak konflik kemanusiaan di Palestina dan Sudan.

“Zakat harus hadir di titik-titik krisis. Kami memastikan kebutuhan dasar penyintas terpenuhi selama Ramadhan, sekaligus membangun kembali harapan mereka,” kata Imam Nawawi.

Melalui tema “Bahagia dengan Berzakat”, BMH berharap Ramadhan 1447 H menjadi momentum kebangkitan solidaritas umat. Zakat diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai instrumen keadilan sosial yang menghadirkan dampak jangka pendek dan panjang bagi masyarakat rentan.

Warga Cemani Deklarasi Sambut Ramadhan 1447 H dengan Khidmat, Aman dan Nyaman

CEMANI (jurnalislam.com)- Bertempat di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI) desa Cemani, acara Sambut Ramadhan 1447 H dan Sarasehan yang melibatkan Kepala Desa, Bhabinkamtibmas, Bhabinsa dan Forum Silaturahmi Takmir Masjid dan Mushola (Forsitama) berlangsung dengan lancar dan sukses pada Sabtu, (14/2/20206).

Acara yang diinisiasi oleh Forsitama itu juga menghadirkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), ketua Rt dan RW dan Takmir masjid Desa Cemani serta warga Cemani.

Hadir dalam sarasehan ini adalah Mardiyanto PJ Kepala Desa, Ustadz Ngadiri Ketua Forsitama, Serma Ahmad Baidhowi Bhabinsa, Aipda Aryad Fauzi dan Bripka Hari Kurniawan dari Babinkamtibmas hadir pula Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sudarmadi.

Dalam sambutannya, Endro Sudarsono selaku ketua panitia menyampaikan, bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur kita dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

“Bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Melalui kegiatan ini, kita berharap dapat mempersiapkan diri, baik secara spiritual, sosial, maupun moral, agar dapat menjalani Ramadhan dengan lebih khusyuk dan bermakna,” katanya.

“Selain itu, melalui sarasehan warga, kita juga ingin mempererat tali silaturahmi, memperkuat persatuan, serta membangun komunikasi yang harmonis antar warga. Dengan kebersamaan dan musyawarah, kita berharap Desa Cemani senantiasa menjadi desa yang aman, nyaman, religius, dan sejahtera,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Endro juga berharap, momentum Ramadhan ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat nilai-nilai keimanan, serta menjaga lingkungan masyarakat dari berbagai penyakit sosial, sehingga tercipta kehidupan yang lebih bermartabat dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Semoga kegiatan sambut ramadhan dan sarasehan warga ini membawa manfaat bagi kita semua, memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah di tengah masyarakat Desa Cemani,” pungkasnya.

Acara yang dimulai sejak pukul 20.15 Wib ini dihadiri ratusan peserta dan berakhir hingga pukul 22.30 Wib diakhiri dengan pembacaan Deklarasi Ramadhan 1447 H dengan khidmat, aman dan nyaman dan ditandatangani oleh Pj Kepala Desa, Ketua Forsitama, Ketua BPD, Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas .

Unik dan Meriah, Pawai Bajaj Hiasi Tarhib Ramadan 1447 H Banyuanyar

SURAKARTA (jurnalislam.com)– Semarak menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah di Kelurahan Banyuanyar tahun ini terasa berbeda dan lebih istimewa. Pada hari Ahad (15/2/2026), ribuan warga memadati jalanan dalam gelaran Tarhib Ramadan yang mengambil titik start dan finish di Masjid Mukhlis Banyuanyar.

Acara akbar ini terselenggara berkat sinergi antara Koordinator Umat Islam Banyuanyar (KUIB), Panitia Semarak Ramadan dan Sholat Ied, Badan Koordinator Pemuda Islam Banyuanyar (BKPI), serta seluruh elemen masyarakat setempat.

Ketua Panitia Semarak Ramadan dan Sholat Ied, Muhammad Samsul Hadi, yang turut serta berjalan kaki mengikuti rute pawai dari awal hingga akhir, mengungkapkan kekagumannya atas antusiasme warga. Menurutnya, gelaran tahun ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas terselenggaranya Tarhib Ramadan 1447 Hijriah ini. Ini adalah Tarhib keempat, dan insyaAllah ini yang paling meriah,” ungkap Samsul Hadi di sela-sela kegiatan.

Samsul menyoroti adanya inovasi dalam pawai kali ini, salah satunya adalah penggunaan moda transportasi unik yang menambah daya tarik syiar.

“Tempatnya lebih terbuka, kemudian wahana atau sarana transportasinya juga lebih unik, kita menggunakan Bajaj juga. Ini memberikan satu gaung syiar Ramadan yang lebih lengkap dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Samsul memberikan apresiasi tinggi atas soliditas panitia dan partisipasi masif dari puluhan tempat ibadah di wilayah tersebut.

“Kesan pertama yang saya sampaikan adalah kekompakan dari seluruh panitia dan juga seluruh jamaah yang di-support dengan 27 masjid dan musholla se-Banyuanyar. Ini membangun sebuah suasana yang begitu luar biasa,” tambahnya.

Ia berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi mampu menjadi penyemangat bagi umat Muslim Banyuanyar, khususnya bagi anak-anak sebagai generasi penerus.

“Tarhib Ramadan ini bisa memberikan sebuah motivasi bagi warga muslim seluruh Banyuanyar dan juga pada anak-anak yang mereka adalah generasi penerus kita. Ini menjadi poin yang sangat positif,” tutup Samsul Hadi.

Sambut Ramadan 1447 H, Ketua KUIB Apresiasi Peran Pemuda dalam Semarak Tarhib Banyuanyar

SURAKARTA (jurnalislam.com)– Ribuan umat Islam memadati kawasan Banyuanyar pada hari Ahad (15/2/2026) dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan Tarhib Ramadan yang mengambil rute start dan finish di Masjid Mukhlis Banyuanyar ini berlangsung meriah dan penuh khidmat.

Acara akbar ini terselenggara berkat kolaborasi antara Koordinator Umat Islam Banyuanyar (KUIB), Panitia Semarak Ramadan, Badan Koordinator Pemuda Islam Banyuanyar (BKPI), serta seluruh elemen masyarakat yang berpartisipasi.

Ketua KUIB, Drs. H. Jawari, yang turut serta mengikuti pawai dari awal hingga akhir, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pemuda yang menjadi motor penggerak acara.

“Alhamdulillah, kami sangat terkesan dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BKPI selaku garda terdepan angkatan muda muslim di Banyuanyar,” ujar Drs. H. Jawari dalam sambutannya di Masjid Mukhlis.

Jawari menambahkan bahwa kesuksesan acara ini juga tidak lepas dari dukungan solid seluruh takmir masjid se-Banyuanyar. Ia mencatat adanya peningkatan antusiasme yang signifikan dari tahun ke tahun.

“InsyaAllah ini tahun yang keempat. Alhamdulillah dari tahun ke tahun ternyata makin meningkat, terlihat semaraknya terus bertambah. Ini menunjukkan betapa besar dukungan dan partisipasi dari Umat Islam Banyuanyar melalui masjid-masjidnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, H. Jawari juga menitipkan pesan khusus kepada BKPI agar terus membina generasi penerus, khususnya anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), demi keberlangsungan syiar Islam di masa depan. Ia mendorong panitia untuk terus berinovasi dengan kreasi-kreasi baru yang menarik bagi angkatan muda.

Menutup keterangannya, Ketua KUIB mengajak seluruh jamaah untuk bersukacita dan mempersiapkan diri mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan positif.

“InsyaAllah Ramadan akan segera tiba. Jangan sampai kita tidak mendapatkan apa-apa. Mari kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang baik seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam,” pungkas Jawari sembari mendoakan kesuksesan bagi seluruh panitia.

Lurah Banyuanyar Bersamai 700 Jamaah Semarakkan Tarhib Ramadhan KUIB

SURAKARTA (jurnalislam.com)– Semangat menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah mulai terasa di Kelurahan Banyuanyar. Pada hari Ahad (15/2/2026), Koordinator Umat Islam Banyuanyar (KUIB) menggelar kegiatan Tarhib Ramadan yang berlangsung meriah.

Lurah Banyuanyar, Legiyanto, turut hadir dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Sebagai bentuk apresiasi, orang nomor satu di Kelurahan Banyuanyar tersebut mengikuti seluruh rangkaian acara dari garis start hingga finish yang berpusat di Masjid Mukhlis, Banyuanyar.

Dalam sambutannya, Legiyanto menyampaikan rasa bangganya atas inisiatif KUIB yang berhasil mengumpulkan elemen umat Islam di wilayahnya.

“Saya Lurah Banyuanyar, menyambut dengan hangat dan semangat kegiatan dari Koordinator Umat Islam Banyuanyar yang sudah mengumpulkan jamaah pada pagi hari ini yang diawali dengan Tarhib Ramadan,” ujar Legiyanto, Ahad (15/2/2026).

Kegiatan ini dinilai Legiyanto sebagai wujud nyata persatuan dan kebersamaan warga. “Ini sebagai wujud kebersamaan kita, silat ukhuwah kita sebagai Umat Islam Banyuanyar untuk bersatu menyambut bulan Ramadan,” tambahnya.

Pantauan di lokasi, acara berlangsung sangat semarak dengan estimasi peserta mencapai ratusan orang. Barisan pawai didominasi oleh santri-santri cilik yang antusias.

“Tadi sudah sangat semarak, diikuti kurang lebih hampir 700 peserta, mulai dari TPA dan TPQ yang ada di Kelurahan Banyuanyar ini,” terang Legiyanto.

Lebih lanjut, Lurah Legiyanto menjelaskan bahwa Tarhib ini hanyalah permulaan dari rangkaian kegiatan syiar Islam di wilayahnya. Nantinya, bulan Ramadan di Banyuanyar akan diisi dengan berbagai agenda positif, mulai dari bazar hingga kegiatan peribadatan yang intensif.

Menutup keterangannya, Legiyanto menaruh harapan besar pada kepengurusan KUIB agar terus solid dalam menebar kebaikan.

“Semoga dengan semakin baik kepengurusan dari KUIB ini, semakin semarak kegiatannya. InsyaAllah syiar kita dengan rahmat dan ridho Allah akan menjadikan Banyuanyar ini lebih baik ke depannya,” pungkasnya.