Perkuat Sinergi Pendidikan dan Dakwah, Al Mukmin Ngruki Silaturahmi ke PP Muhammadiyah

YOGYAKARTA (jurnalislam.com)— Pada hari Rabu, (16/9/2026) Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki melakukan kunjungan silaturahmi ke Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Yogyakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat ukhuwah, membangun jejaring kelembagaan, serta membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, dakwah, dan pengembangan sumber daya manusia.

Rombongan Al Mukmin Ngruki yang berjumlah 18 orang dipimpin langsung oleh Mudir Ma’had, KH. Munir, S.Pd., M.E. Turut dalam rombongan Pudir I Ust. Shofa Sudaryanto, M.Pd.I., Pudir II Ust. Muchson, serta jajaran asatidz Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki.

Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Ust. Dr. Jamaludin Prawiro Negoro, Ust. Sumadi, dan Ust. Abdurahman dari PP Muhammadiyah. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan mengenai perkembangan pendidikan Islam dan dakwah di tengah berbagai tantangan zaman.

Membuka Ruang Kolaborasi Pendidikan dan Dakwah

Dalam pertemuan tersebut, Al Mukmin Ngruki dan PP Muhammadiyah membahas sejumlah peluang kerja sama, terutama dalam bidang pendidikan, dakwah, pengembangan SDM, serta berbagai program lain yang dapat disinergikan.

Pihak PP Muhammadiyah menyambut baik kunjungan Al Mukmin Ngruki dan membuka ruang komunikasi untuk pengembangan kerja sama ke depan. Sambutan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara dua lembaga yang sama-sama memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan dakwah Islam.

Mudir Al Mukmin Ngruki, KH. Munir, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan yang diberikan PP Muhammadiyah. Silaturahmi ini diharapkan dapat menjadi awal dari berbagai bentuk kolaborasi yang lebih konkret dan memberikan manfaat yang luas bagi umat.

Jejaring Alumni yang Terus Berkarya

Pertemuan ini juga memiliki makna tersendiri bagi Al Mukmin Ngruki karena hubungan dengan Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui kelembagaan, tetapi juga melalui kiprah para alumni Al Mukmin yang berkontribusi di berbagai bidang.

Di antara alumni yang berkarya di lingkungan dan jaringan Muhammadiyah adalah Dr. Iman Sastra, yang disebut sebagai CEO Bank Syariah Matahari milik Muhammadiyah, serta Dr. Hakimuddin Salim, yang menjadi salah satu Mudir Ma’had ‘Ali Muhammadiyah.

Kiprah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang alumni Al Mukmin Ngruki dalam mengambil peran di tengah masyarakat. Para alumni tersebar di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, dakwah, ekonomi, hingga pengembangan lembaga Islam.

Jejaring alumni tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses pendidikan di pesantren tidak berhenti ketika seorang santri menyelesaikan masa belajarnya. Nilai-nilai, ilmu, dan pengalaman yang diperoleh selama di pesantren diharapkan terus dibawa untuk memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

Dari Silaturahmi Menuju Sinergi

Kunjungan ke PP Muhammadiyah menjadi salah satu langkah Al Mukmin Ngruki dalam memperluas jejaring dan membangun sinergi dengan berbagai lembaga Islam. Komunikasi antarlembaga diharapkan dapat melahirkan program-program bersama yang lebih konkret, khususnya dalam menjawab kebutuhan pendidikan dan dakwah umat.

Dengan semangat ukhuwah dan kolaborasi, Al Mukmin Ngruki berharap silaturahmi ini dapat terus terjaga dan berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi pesantren, Muhammadiyah, para alumni, serta masyarakat secara lebih luas.

Silaturahmi terjalin, jejaring diperkuat, sinergi pendidikan dan dakwah terus dilanjutkan.

Karhutla Berulang, Rakyat Jadi Korban, Hutan Dikuasai untuk Kepentingan Bisnis

Oleh: Guspiyanti
Aktivis Muslimah

Setiap tahun, asap pekat kembali menyelimuti langit Indonesia. Pada 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memicu kabut asap lintas negara dan menurunkan kualitas udara secara drastis. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di Sumatera dan Kalimantan tercatat sekitar 48.889,69 hektar. Warga di Pekanbaru dan beberapa daerah lain terpaksa beraktivitas dengan masker karena udara tidak sehat. Di Papua Tengah, api membakar 396 hektar dan belum padam.

Pemerintah merespon dengan mengerahkan satgas darat sebagai ujung tombak, dibantu helicopter water bombing untuk memadamkan titik api. Presiden bahkan memerintahkan pencabutan izin korporasi yang terbukti terlibat. Namun fakta di lapangan menunjukkan hal lain. Petugas menemukan indikasi bahwa pembakaran sengaja dilakukan untuk membuka lahan perkebunan. Di Kalimantan Timur, 1.260 hektar lahan terbakar dan kebanyakan milik perusahaan.

Pola ini berulang. Api padam, asap hilang, lalu tahun depan muncul lagi.

Akar Masalah Bukan Sekadar Api

Karhutla tidak bisa dilepaskan dari logika kapitalisme yang menempatkan hutan dan lahan sebagai komoditas. Hutan dinilai dari seberapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan. Lewat skema konsesi dan izin usaha, korporasi diberi akses luas untuk mengelola hutan. Ketika harga komoditas naik, pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi “jalan pintas” yang murah dan cepat.

Negara hadir secara reaktif. Fokus penanganan ada pada aspek teknis: menambah satgas, menyewa helikopter, membuat kanal. BMKG menyebut iklim kering efek El Nino sebagai pemicu. Namun sedikit sekali pembenahan terhadap struktur penguasaan lahan yang menjadi sumber masalah. Negara abai terhadap keselamatan rakyatnya.

Akibatnya, publik yang menanggung kerugian. Kabut asap lintas negara, gangguan kesehatan pernapasan, gagal panen, dan terganggunya aktivitas masyarakat menjadi beban rakyat. Sementara pelaku pembakaran, demi keuntungan, jarang mendapat hukuman setimpal. Kejahatan ini disebut “luar biasa”, tapi penindakan tegas masih sporadis.

Kondisi ini niscaya terjadi karena sistem kepemimpinan yang tegak hari ini bersifat sekuler. Jabatan dipahami sebagai alat meraih kekuasaan dan keuntungan material, bukan amanah. Konsep ri’ayah mengurus urusan rakyat dan junnah perisai pelindung rakyat hilang. Akibatnya negara tidak hadir melindungi, melainkan hanya memadamkan setelah bencana terjadi.

Hutan Milik Umum, Negara Penjamin

Islam memiliki pandangan berbeda terhadap hutan dan tanggung jawab negara.

Pertama, dalam Islam hutan termasuk milkiyah ammah atau kepemilikan umum. Sumber daya alam yang secara tabiatnya tidak bisa dikuasai individu seperti hutan, air, dan tambang, dikelola langsung oleh negara untuk kepentingan seluruh rakyat. Negara tidak boleh menyerahkannya lewat konsesi kepada korporasi untuk dikapling dan dieksploitasi.

Kedua, rakyat diberi hak memanfaatkan hutan secara langsung sesuai kemampuannya, selama tidak merusak dan tidak menghalangi hak orang lain. Pada kawasan lindung atau hima yang ditetapkan negara untuk kemaslahatan umum, tidak boleh ada aktivitas yang merusak.

Ketiga, negara wajib memberi sanksi tegas bagi pelaku pembakaran hutan yang disengaja. Merusak harta milik umum adalah kejahatan besar karena dampaknya mengenai seluruh umat.

Keempat, pemimpin dalam Islam adalah raa’in_ dan junnah. Rasulullah bersabda: “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya”. Penguasa muslim terdahulu selalu terdepan dalam melindungi rakyat dari bahaya. Dalam konteks bencana, negara akan hadir sejak awal: mencegah, menyiapkan mitigasi, dan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.

Penutup

Karhutla yang berulang adalah cermin gagalnya tata kelola. Selama hutan masih dipandang sebagai ladang bisnis dan negara hanya hadir sebagai pemadam kebakaran, maka asap akan terus datang setiap tahun.

Sudah saatnya kita berani mengubah paradigma. Kembalikan hutan sebagai milik umum. Tegakkan fungsi negara sebagai pengurus dan pelindung rakyat. Tanpa itu, rakyat akan terus menjadi korban dari api yang dinyalakan demi keuntungan segelintir orang. Wallahu a’lam bisshawab

Ilusi Kesejahteraan ala Desil

Oleh: Herliana Tri, M. S.P

Belakangan ini, ruang publik di Indonesia dihebohkan oleh polemik klasifikasi desil mulai dari desil 1 sampai desil 10 melalui pemutakhiran data registrasi sosial-ekonomi. Skema desil dijadikan tolak ukur penentu apakah sebuah keluarga berhak menerima jatah bantuan sosial (bansos), kepesertaan jaminan kesehatan (PBI), beasiswa pendidikan, subsidi bahan bakar. Hingga akhirnya rakyat dibuat resah, cemas, dan saling curiga. Warga yang sebelumnya menerima bantuan, secara tiba-tiba dicoret karena dianggap naik ke desil 5 atau 6, padahal beban dapur, sewa rumah, dan tagihan listrik semakin hari terasa berat.

Fakta Seputar Desil

Desil adalah pengelompokan keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi. Dalam DTSEN, keluarga dikelompokkan ke dalam 10 desil, mulai dari Desil 1 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.detik.com (23/8/2026). Setiap desil menggambarkan posisi relatif keluarga dibandingkan keluarga lainnya dalam data sosial ekonomi. Karena itu, desil tidak dapat diartikan sebagai besaran penghasilan tertentu. Sehingga dengan Gambaran ini, standart kesejahteraan atau garis kemiskinan menjadi relatif tergantung wilayah Dimana iya berada.

Gambaran klasifikasi desil diantaranya adalah, desil 1 sangat miskin, desil 2 miskin, desil3 hampir miskin dan desil 4 menjadi kelompok masyarakat yang bisa mendapatkan berbagai program bantuan masyarakat.

Sedangkan desil 5-10 menjadi kelompok masyarakat yang akan sangat kesulitan untuk mendapatkan bantuan karena mereka tidak berkategori masyarakat miskin atau hidup layak/mampu.

Berlandaskan penjabaran desil, kita mengetahui bagaimana negara mengurus rakyatnya. Mengelompokkan masyarakat untuk mengetahui mana yang layak mendapatkan bantuan pemerintah dan mana yang harus mandiri mengurus kebutuhannya. Memang betul bahwa data dibutuhkan oleh negara, bahkan sangat penting untuk dimiliki. Tanpa data, pemerintah akan kesulitan mengetahui kondisi masyarakat serta menentukan kebijakan.

Namun dari sini juga letak persoalan besar muncul. Pada saat paradigma kapitalis menjadi acuannya, basis data, klasifikasi ekonomi berubah menjadi ‘pintu penghakiman’. Seseorang berada pada kelompok tertentu kemudian dianggap layak atau tidak menerima bantuan. Padahal kehidupan tidak pernah statis. Pendapatan dapat naik, turun. Harga pangan fluktuatif, kesehatan keluarga juga tidak pernah sama dari hari ke hari.

Peluangnya kebutuhan justru membengkak dan pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Bahkan mungkin terjadi kepala rumahtangga sebagai tulang punggung ekonomi keluarga tidak mampu menjalankan tugasnya karena sakit atau meninggal dunia.

Di sinilah letak ironi terbesar. Negara yang semestinya bertindak sebagai raa’in (pengurus urusan umat) justru bertransformasi menjadi kalkulator raksasa dengan tugas utamanya adalah menyeleksi, menyortir, dan menyingkirkan warganya sendiri dari hak-hak dasar.

Padahal secara kasat mata, kemiskinan adalah kondisi pada saat individu tak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan dan papan. Oleh karena itu, tak selayaknya prosentase desil hadir untuk menilai kesejahterakan warga negaranya dan menjadi acuan untuk mendapatkan atau dicabutnya bantuan pemerintah.

Karena hadirnya prosentase seperti yang digambarkan desil menjadikan kemiskinan relatif. Miskin disuatu tempat bisa dipandang tidak untuk wilayah lain. Akhirnya seseorang individu warga yang seharusnya dapat memperoleh bantuan, tercoret datanya karena dianggap mampu meskipun pada kondisi sebenarnya ia masih membutuhkan uluran tangan.

Sudah saatnya negara mengurusi rakyat sebagai pelindung dan perisai yang sejati. Menghalangi rakyat dari kemudaratan tanpa pandang bulu. Acuan desil bukan harga mati untuk membantu warganya sendiri. Jangan sampai peribahasa “ayam mati di lumbung padi” menjadi fakta karena salah dalam menempatkan posisi rakyatnya sendiri dalam memandang kemakmuran.

Bedah Historiografi Hubungan Indonesia-Palestina: Fajar Sadikov Tekankan Makna ‘Ukhuwah’, JIB Jelaskan Pentingnya Narasi Inklusif

BEKASI (jurnalislam.com)— Diskusi kritis mengenai pembacaan sejarah hubungan Indonesia dan Palestina mengemuka dalam acara Empower Youth Book Talk yang berlangsung di Typica Coffee, Bekasi pada Sabtu, (12/9/2026).

Forum yang dipadati peserta dari berbagai elemen pemuda ini membedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” dengan pendekatan kritisisme sejarah.

Pengulas buku, Fajar Sadikov, menggunakan metode kritik sejarah (Annaqadd at-Tarikh) ala Ibnu Khaldun untuk menguji terminologi yang digunakan dalam narasi sejarah hubungan Indonesia-Palestina, khususnya perbedaan antara konsep ‘solidaritas’ dan ‘ukhuwah’.

“Dalam perspektif aritas merupakan salah satu manifestasi eksternal dari satu relasi yang lebih mendasar, yaitu ukhuwah. Kalau solidaritas itu relationship of support, tetapi kalau ukhuwah relationship of brotherhood. Ketika ukhuwah, kamu adalah saudaraku, penderitaanmu bukanlah hal eksternal bagiku,” papar Fajar Sadikov.

Fajar juga mengkritisi penggunaan istilah ‘pan-Islamisme’ yang sering dirujuk dari kacamata sejarawan kolonial Barat.
“Istilah pan-Islamisme itu kebanyakan datang dari para sejarawan kolonial… Istilah-istilah yang dibawa oleh para penulis dan para pemikir Islam pada saat itu sebenarnya al-wahdah al-islamiyah, al-islah, tajdid, atau ittihadul ummah,” tambah Fajar.

Merespons catatan kritis tersebut, penulis buku Beggy Rizkiansyah menuturkan alasan sosiologis di balik pemilihan istilah ‘solidaritas’ dalam karyanya, yakni untuk merangkul spektrum pembaca yang lebih luas dari berbagai latar belakang.

“Kita pakai kata solidaritas untuk mencakup pembaca yang lebih luas, karena di sini tidak hanya berbicara tentang tokoh Islam, tapi juga tokoh-tokoh di luar Islam atau dengan ideologi bukan Islam… Untuk merangkul pembaca audiens lebih luas,” jelas Beggy Rizkiansyah.

Melalui diskusi historiografi ini, para pembicara berharap publik tidak terjebak pada narasi permukaan, melainkan mampu memahami kedalaman ikatan historis antara kedua bangsa.

Acara Booktalk ini membedah buku berjudul Akar Sejarah Solidaritas Indonesia Palestina, hasil kolaborasi dengan komunitas sejarah Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Kelompok Kerja Strategis Ummatica dan PC Pemuda Muhammadiyah Jatiasih dan PC Nasyiatul Aisyiah Jatiasih Kota Bekasi.

Melacak Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina: PCPM Jatiasih dan JIB Ungkap Peran Vital Tokoh Muhammadiyah Sejak Era Pra-Kemerdekaan

BEKASI (jurnalislam.com)— Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina bukanlah fenomena baru yang muncul akibat algoritma media sosial, melainkan ikatan sejarah mendalam yang diwariskan oleh ulama Nusantara hingga founding fathers Indonesia.

Hal tersebut terungkap dalam acara Empower Youth Book Talk bertajuk bedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” yang diselenggarakan pada Sabtu, (12/9/2026) di Typica Coffee, Bekasi, serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Ummatica.

Acara diskusi kolaboratif yang diinisiasi oleh Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Ummatica, PC Pemuda Muhammadiyah Jati Asih, dan PC Nasyiatul Aisyiyah ini menghadirkan penulis buku Beggy Rizkiansyah serta pegiat literasi Fajar Sadikov sebagai pengulas.

Dalam pemaparannya, Beggy Rizkiansyah menjelaskan bahwa jejak kecintaan terhadap Palestina bahkan sudah tertanam sejak era Wali Songo melalui pendirian Kota Kudus dan Masjid Al-Aqsa (Menara Kudus) di Jawa Tengah.

“Kalau dibilang Palestina itu baru-baru aja, enggak juga sih sebetulnya. Ada warisan ulama yang sudah lama banget yang tentang Palestina tuh ada di Indonesia, dan itu menariknya sebuah kota namanya Kudus. Kudus itu dari asal kata Al-Quds, makanya masjidnya nama masjidnya Masjid Al-Aqsa sebetulnya, dan itu didirikan oleh Sunan Kudus waktu itu di abad ke-16,” ujar Beggy Rizkiansyah.

Lebih lanjut, Beggy menyoroti peran kunci tokoh pemuda Muhammadiyah, K.H. Abdul Kahar Muzakir, yang pada tahun 1931 menjadi orang Indonesia pertama yang memegang posisi strategis dalam diplomasi Islam internasional untuk Palestina.

“Kia Haji Abdul Kahar Muzakir… inilah orang pertama yang kenapa dia bisa terlibat dalam solidaritas itu. Tahun 30-an dia kuliah di Darul Ulum Mesir… K.H. Abdul Kahar Muzakir ini bukan cuma penggembira, tapi dia menjadi sekretaris kongres [Kongres Muslim Sedunia 1931 di Yerusalem]. Peran dia penting banget, orang Muhammadiyah jadi sekretaris kongres,” tegas Beggy.

Sementara itu, Fajar Sadikov memberikan apresiasi tinggi terhadap pembuktian sejarah dalam buku ini. Menurutnya, karya ini memberikan landasan riset ilmiah yang kokoh bagi para aktivis dan generasi muda.

“Buku ini jelas punya uniqueness dan novelty, ada kebaruan penelitian atau kebaruan temuan… betul-betul berasal dari riset. Buku ini meletakkan pondasi sejarah… sangat mengakar. Selain radikal, juga fundamentalis sekali karena berbicara secara funden, secara akar, secara filosofis,” ungkap Fajar Sadikov.

Menembus Jarak, MeDAN dan Aliansi Muslim Bali Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

BALI (jurnalislam.com)— Di tengah penanganan dampak gempa bumi yang masih berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT), Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (MeDAN) bersama Aliansi Muslim Bali bergerak mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Tim berangkat dari Bali menuju NTT pada Kamis (10/9/2026) pukul 22.00 WITA, membawa sejumlah kebutuhan pokok dan perlengkapan untuk membantu masyarakat terdampak bencana.

Berdasarkan data BNPB per 10 September 2026 pukul 07.00 WIB, gempa yang melanda wilayah Flores, NTT, sejak 15 Agustus 2026 telah menyebabkan 136 orang meninggal dunia dan 1.776 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 56.577 warga juga masih mengungsi, sementara kerusakan rumah tercatat mencapai 102.384 unit.

Gempa utama tersebut memiliki magnitudo 7,7. Aktivitas kegempaan di wilayah Flores juga masih berlanjut. BMKG mencatat hingga 9 September 2026 pukul 05.00 WIB telah terjadi 13.863 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sebanyak 183 gempa susulan di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

Dalam situasi tersebut, MeDAN dan Aliansi Muslim Bali membawa sejumlah bantuan yang dihimpun dari para donatur. Bantuan tersebut antara lain abon, biskuit untuk anak-anak, perlengkapan mandi dan cuci (MCK), terpal, roti, serta berbagai kebutuhan lainnya.

Beras secara khusus akan dibeli langsung di wilayah NTT. Selain untuk mengurangi beban muatan selama perjalanan dari Bali, langkah tersebut sekaligus menjadi upaya mendukung aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa logistik yang dibawa dari Bali, tetapi juga melibatkan pemenuhan kebutuhan di daerah terdampak.

Menembus Jarak Bali-NTT

Bagi MeDAN dan Aliansi Muslim Bali, keberangkatan menuju NTT merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat yang tengah menghadapi musibah.

Jarak antara Bali dan NTT yang cukup jauh tidak menjadi penghalang untuk mengantarkan amanah para donatur secara langsung.

“Kami ingin memastikan amanah dari para donatur dapat sampai kepada saudara-saudara kita di NTT yang sedang membutuhkan. Jarak bukan alasan bagi kita untuk tidak peduli. Semoga bantuan yang kami bawa dapat memberikan manfaat dan sedikit meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Suherman, perwakilan tim.

Ia mengatakan, aksi kemanusiaan tersebut tidak dapat berjalan tanpa dukungan berbagai pihak, baik melalui donasi, tenaga, maupun dukungan lainnya.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, komunitas, dan masyarakat yang telah mendukung aksi kemanusiaan ini. Setiap bantuan yang diberikan sangat berarti bagi saudara-saudara kita di NTT. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan yang diberikan dengan keberkahan dan pahala yang berlipat,” tuturnya.

Tim berharap perjalanan menuju NTT hingga proses penyaluran bantuan dapat berlangsung lancar dan aman. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan dukungan moral kepada warga yang masih menghadapi dampak bencana.

Pengiriman bantuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MeDAN dan Aliansi Muslim Bali untuk menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

Dari Bali menuju NTT, bantuan yang dibawa bukan sekadar logistik, tetapi juga pesan solidaritas bahwa masyarakat terdampak gempa tidak menghadapi musibah seorang diri.

Kontributor: Hedy

Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Terlihat dalam Kehidupan

SOLO (jurnalislam.com)- Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ungkapan yang terucap di lisan. Ia adalah cinta yang semestinya hadir dalam pilihan, sikap, akhlak, dan seluruh kehidupan seorang muslim. Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ berarti bersedia mengikuti jalan yang beliau ajarkan dan menjadikan kehidupan beliau sebagai teladan.

Pesan tersebut menjadi inti khutbah Jumat yang disampaikan H. Heri Sucitro, S.Pd., Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta, di Masjid Al Mukarrom, Sogaten, Pajang, Laweyan, Surakarta, Jumat Wage, (4/9/2026), bertepatan dengan 22 Rabi’ul Awwal 1448 H. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, beliau mengangkat tema “Membuktikan Cinta kepada Rasulullah ﷺ.”

Dalam khutbahnya, H. Heri mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan agar kecintaan kepada keluarga, harta, perdagangan, dan kehidupan dunia tidak sampai mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu merupakan salah satu sebab seorang mukmin dapat merasakan manisnya iman.

Sejarah kehidupan para sahabat memberikan teladan bagaimana cinta tersebut diwujudkan secara nyata. Bilal bin Rabah, misalnya, memiliki kerinduan yang begitu mendalam kepada Rasulullah ﷺ. Demikian pula Tsauban, yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ hingga khawatir tidak dapat berkumpul bersama beliau di akhirat. Sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan kecintaannya melalui pengorbanan ketika mendampingi dan melindungi Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah.

Dari keteladanan tersebut, cinta kepada Rasulullah ﷺ setidaknya dapat diwujudkan melalui beberapa hal.

Pertama, menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai cermin kehidupan. Mencintai Nabi bukan hanya dengan mengagumi sosok dan sejarah beliau, tetapi berusaha meneladani akhlaknya. Rasulullah ﷺ dikenal lembut dalam berbicara, penuh kasih sayang, mudah memaafkan, sekaligus tegas dalam membela kebenaran. Karena itu, dalam mengambil keputusan, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya, “Apakah cara yang saya tempuh ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?”

Kedua, menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ. Sunnah tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi harus menjadi jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama. Di tengah lingkungan yang semakin jauh dari nilai agama, menghidupkan sunnah memang membutuhkan kesungguhan. Namun, di situlah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ diuji.

Ketiga, memperbanyak shalawat. Shalawat merupakan salah satu bentuk cinta dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Membiasakan lisan bershalawat dapat menjadi pengingat agar hati senantiasa dekat dengan beliau. Namun, shalawat hendaknya tidak berhenti pada kebiasaan lisan, melainkan mendorong kita untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.

Keempat, menjaga nama baik agama melalui akhlak. Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa perilakunya dapat menjadi cerminan bagaimana orang lain memandang Islam. Perkataan kasar, ketidakjujuran, maupun akhlak buruk dapat membuat orang lain memiliki pandangan negatif terhadap agama. Sebaliknya, seorang muslim seharusnya menghadirkan keindahan Islam melalui sikap santun, amanah, jujur, penuh kasih sayang, dan bermanfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup dibuktikan dengan rasa rindu, pujian, ataupun shalawat yang terucap. Cinta membutuhkan bukti. Ia harus tampak dalam cara kita berbicara, bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, serta menjalani kehidupan sehari-hari.

Ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan semata-mata seberapa sering kita mengatakan mencintai beliau, tetapi seberapa jauh kehidupan kita mencerminkan ajaran dan akhlak beliau.

Sebab, cinta yang sejati tidak berhenti di hati dan lisan. Ia harus terlihat dalam akhlak, sunnah, pengorbanan, dan kehidupan sehari-hari.

Guru dan Siswa dari Johor Bahru Malaysia Study Tour ke Sekolah Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta

SURAKARTA (jurnalislam.com)— Suasana hangat dan penuh persaudaraan mewarnai kunjungan rombongan Sekolah Menengah Islam Hidayah Johor Bahru, Malaysia ke Yayasan Nur Hidayah Surakarta, Rabu (2/9/2026). Tiga orang guru bersama 19 siswa hadir dalam rangkaian kunjungan selama lima hari, Senin 31 Agustus hingga Jum’at, 4 September 2026, untuk melakukan study tour sekaligus mengenal lebih dekat pengelolaan pendidikan di lingkungan Yayasan Nur Hidayah.

Dalam perbincangan bersama jajaran Yayasan Nur Hidayah, diskusi berlangsung hangat dan mengerucut pada tema pembinaan siswa dan guru. Berbagai pengalaman dan praktik pendidikan saling dibagikan, menjadi ruang belajar bersama antara kedua lembaga. Mereka juga diajak berkeliling untuk melihat secara langsung proses pembelajaran di PAUD IT dan SDIT Nur Hidayah.

Di SMAIT Nur Hidayah mereka mengikuti kegiatan ISC yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil. Merasakan langsung serunya kegiatan yang tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan membangun ukhuwah. Di sisi lain, guru mereka sharing dan berbagi pengalaman dengan jajaran pimpinan dan para Pembina.

“Nur Hidayah ini kami dengar salah satu sekolah top di Indonesia. Terutama unggul di pembinaan siswa. Alhamdulillah terlaksana juga, sejak 2024 kami ingin berkunjung ke sini,” ucap Ustadz Taufiq, Penyelaras Program Sekolah Menengah Islam Hidayah Johor Bahru.

Sementara itu di SMPIT Nur Hidayah, para tamu berinteraksi langsung dengan pengurus OSIS. Mereka saling bertukar pikiran bagaimana kegiatan keorganisasian siswa. Di antara kesan yang mereka rasakan, organisasinya sangat terstruktur, kegiatannya terbuka untuk menyalurkan bakat; sekolahnya bersih dan banyak program yang langsung menyentuh masyarakat.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda study tour yang mencakup SMAIT Nur Hidayah, SMPIT Nur Hidayah, serta Yayasan Nur Hidayah. Selain agenda pendidikan, rombongan juga menikmati wisata sejarah dan religi di Kota Solo, antara lain mengunjungi Pura Mangkunegaran dan Masjid Raya Sheikh Zayed. Rangkaian perjalanan kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi ke Ustadz Cahyadi Takariawan di Yogyakarta.

Kunjungan ini tidak sekadar menjadi ajang bertukar pengalaman pendidikan, tetapi juga mempererat hubungan persaudaraan antara lembaga pendidikan di Indonesia dan Malaysia. Kehangatan interaksi, semangat berbagi, dan keterbukaan untuk saling belajar menjadi warna yang begitu kental sepanjang rangkaian kunjungan.

Melalui kunjungan ini, Yayasan Nur Hidayah Surakarta terus menguatkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang menjadi rujukan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Yayasan Nur Hidayah senantiasa terbuka untuk menjalin silaturahmi, berbagi praktik baik, dan membangun kolaborasi strategis dalam menghadirkan pendidikan generasi muda yang berkarakter, berdaya saing global, serta siap memimpin dan memberi arti bagi masa depan.

Ma’had Baitul Hikmah Sukoharjo Cetak 221 Alumni, Kembangkan Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan Sains

SUKOHARJO (jurnalislam.com)— Di tengah mahalnya biaya pendidikan hari ini, konsistensi dalam mencetak generasi Islam yang berilmu dan berakhlak tanpa membebankan biaya kepada umat menjadi sebuah oase. Inilah yang konsisten dirintis oleh Ma’had Tahfidzul Qur’an Baitul Hikmah di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Berdiri sejak tahun 2008, lembaga pendidikan ini telah menjelma menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan sosial, khususnya di wilayah Solo Raya hingga kancah nasional. Direktur Pendidikan Ma’had Baitul Hikmah, Dr. Budi Harjo, M.Pd., mengungkapkan bahwa lembaganya berkomitmen menghadirkan akses pendidikan berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Alhamdulillah, sejak tahun 2008 Baitul Hikmah mempunyai Ma’had Aly yang sampai dengan tahun 2026 ini sudah meluluskan 221 alumni yang tersebar kepada seluruh masjid, ma’had, sekolah, pendidikan Islam untuk membantu dan berkhidmat di dalam dakwah pendidikan dan sosial,” ujar Dr. Budi saat ditemui di kompleks ma’had pada Selasa, (1/9/2026).

Para alumni tersebut, lanjut Dr. Budi, tidak hanya mengabdi di dalam negeri, melainkan banyak yang menimba ilmu lanjutan ke berbagai institusi terkemuka baik di dalam maupun luar negeri, seperti Madinah, Mesir (Kairo), Suriah, hingga Yaman.

Perluasan Jenjang dan Beasiswa Penuh

Dalam perkembangannya, Ma’had Baitul Hikmah tidak hanya berfokus pada jenjang perguruan tinggi melalui Ma’had Aly, tetapi juga memperluas sayap pendidikan formal dari tingkat dasar hingga menengah. Saat ini, yayasan menaungi beberapa unit pendidikan mulai dari PAUD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Ma’had Aly.

Untuk jenjang Ma’had Aly, pihak ma’had memberlakukan kebijakan beasiswa penuh (full scholarship) yang mencakup biaya pendidikan hingga akomodasi makan bagi para mahasiswanya. Sementara untuk unit PAUD, MI, dan MTS, ma’had juga menyediakan kuota khusus pembebasan biaya bagi keluarga yang membutuhkan melalui program “Orang Tua Asuh Penghafal Al-Qur’an”.

“Ini tentu tidak hanya dari keluarga Dr Harun, tetapi kami mengajak semua pihak di Sukoharjo khususnya untuk bergabung bersama dengan kami memberikan beasiswa melalui program orang tua asuh menghafal Al-Qur’an,” jelasnya.

Berdasarkan data terbaru, jumlah santri yang saat ini menempuh pendidikan di berbagai jenjang di bawah naungan Baitul Hikmah meliputi 51 anak di PAUD, 260 anak di MI, 40 santri di MTS, serta 43 mahasiswa di Ma’had Aly. Para santri ini datang dari berbagai penjuru nusantara, mulai dari Aceh, NTB, NTT, hingga Ambon.

Integrasi Sains dan Teknologi

Respon positif dari masyarakat serta para wakif membuat jaringan pengelolaan Baitul Hikmah terus meluas. Beberapa lembaga pendidikan di luar kompleks utama kini turut bergabung di bawah naungan pengelolaannya, seperti Ma’had Tarbiyatul Ummah di Sukoharjo, serta lembaga pendidikan putri di daerah Nglawu, Telukan, Sukoharjo yang didukung penuh dengan sistem beasiswa. Selain itu, aset wakaf dari masyarakat juga dioptimalkan menjadi Rumah Al-Qur’an, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), hingga pesantren lansia.

Menanggapi persaingan lembaga pendidikan Islam yang kian ketat, Dr. Budi menegaskan bahwa Baitul Hikmah di bawah dukungan para dewan kiai di antaranya Ustaz Ihsan Saifuddin, Ustaz Zuhal, dan Ustaz Setiyadi memegang teguh visi integratif dalam mencetak kader umat.

“Kami berkomitmen untuk mewujudkan sebuah pendidikan yang Qur’ani, beradab, dan sains teknologi. Jadi dengan Qur’ani, beradab ini adalah sebuah bekal dalam anak-anak kita, dan dengan penguasaan sains dan teknologi akan mampu untuk hadir di dunia yang global. Jadi kami berkomitmen untuk menciptakan dan mewujudkan sebuah pendidikan yang berbasis Al-Qur’an, kemudian beradab, dan menguasai ilmu pengetahuan sains dan teknologi,” pungkasnya.

Mengenal Program ORTASQU

Dalam rangka memperluas akses pendidikan bagi seluruh santri mengingat tidak semua wali santri memiliki kemampuan finansial yang memadai Ma’had Baitul Hikmah menghadirkan program ORTASQU (Orang Tua Asuh Qur’an).

Program yang dikelola langsung di bawah unit Baitul Hikmah Peduli ini berorientasi pada kegiatan sosial, dakwah, dan fundraising. Tujuan utamanya meliputi:

  • Membantu pembiayaan pendidikan santri secara menyeluruh.
  • Menjamin kesinambungan program dakwah dan pendidikan di lingkungan ma’had.
  • Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kaum muslimin untuk meraih pahala jariyah melalui investasi jangka panjang di bidang pendidikan umat.

Deretan Prestasi Santri

Deretan prestasi membanggakan berhasil ditorehkan oleh para santri di bawah naungan Ma’had Tahfidzul Qur’an Baitul Hikmah pada berbagai ajang kompetisi tingkat kabupaten, karesidenan, provinsi, hingga nasional:

  1. Muhammad Zenorabel Rafisqy — Juara 1 Olimpiade Bahasa Inggris (Tingkat Nasional, 2026)
  2. Talita Yesfir Samiayah — Juara 3 Turnamen Bola Voli Putri Antar Club U-15 (Tingkat GOR Wijaya Gunung Kidul / Nasional, 2026)
  3. Rayya Mazaya Azyyati — Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Inggris (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  4. Fatiya Zea Maheswari — Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Indonesia (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  5. Damario Fahri Wijaya — Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Indonesia (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  6. Arsyilah Nur Hasanah — Juara 7 Lomba Pidato Bahasa Arab (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  7. Arsyila Zanatti Elshanum — Juara 2 Olimpiade Bahasa Inggris (Tingkat Student Challenge 7 DIY & Jateng, 2025)
  8. Sadaka Adi Perdana — Juara 2 Olimpiade Bahasa Matematika (Tingkat Student Challenge 7 DIY & Jateng, 2025)
  9. Bilqis Shakeela Pratama — Juara 3 Pidato Bahasa Inggris (Tingkat PORSENI Provinsi, 2025)
  10. Akhira Qurrota Monali — Juara 3 Renang (Tingkat Karesidenan Surakarta, 2024)
  11. Nadiyah Syahidah — Juara 2 Lomba Memanah (Tingkat Kuttab Al Faruq Tanjung Anom / Se-Solo Raya, 2024)
  12. Salman Shakeel — Juara 1 Lomba Memanah (Tingkat Se-Solo Raya, 2024)

Capaian gemilang ini membuktikan bahwa sistem pembinaan terpadu di Ma’had Baitul Hikmah sukses melahirkan para penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga kompetitif di bidang akademik dan keterampilan umum.

 

Headquarters APCQP Beroperasi di Jakarta, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Palestina

JAKARTA (jurnalislam.com)— Headquarters Asia-Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP) mulai beroperasi di Jakarta sebagai ruang bersama untuk memperkuat koordinasi berbagai elemen dalam mendukung perjuangan Palestina dan pembebasan Al-Quds.

Presiden APCQP Prof. Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan keberadaan Headquarters tersebut diarahkan menjadi penggerak kolaborasi lintas sektor, mulai dari lembaga filantropi, jaringan kampus, gerakan pemuda hingga diplomasi parlemen.

Hal itu disampaikan Sudarnoto dalam kegiatan SIMATINA 2026 bertajuk “Melawan Penistaan Masjidil Aqsa dan Penjajahan Palestina” yang digelar Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut terlaksana dengan dukungan Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Pimpinan MPR RI, dan Pimpinan DPR RI.

“Menjadi motor penggerak kolaborasi lintas sektor, menyinergikan kekuatan lembaga filantropi, jaringan kampus, gerakan pemuda, dan diplomasi parlemen untuk satu tujuan, kemerdekaan penuh bagi Palestina dan pembebasan Al-Quds,” ujarnya.

Menurut Sudarnoto, persatuan berbagai elemen masyarakat diperlukan untuk memperkuat gerakan solidaritas Palestina. Ia mengajak parlemen, ulama, akademisi, pemuda, perempuan, serta kalangan profesional untuk menyatukan langkah sesuai peran masing-masing.

“Marilah parlemen bersatu, marilah ulama bersatu, marilah akademisi bersatu, marilah pemuda bersatu, marilah kaum perempuan bersatu, dan semua kaum profesional bersatu mengepung Israel,” serunya.

Ia menegaskan Headquarters APCQP di Jakarta tidak sekadar menjadi tempat kerja organisasi, tetapi juga diharapkan menjadi wadah bersama bagi anggota koalisi dan mitra lembaga kemanusiaan untuk memperkuat koordinasi gerakan solidaritas Palestina di kawasan Asia Pasifik.

“Headquarters ini adalah milik Anda semua. Ini adalah ruang kerja bersama kita. Ini adalah markas besar perjuangan kita,” tegasnya.

Sudarnoto juga mendorong gerakan tersebut diwujudkan melalui kerja nyata, antara lain penyaluran bantuan kemanusiaan serta penyebarluasan narasi keadilan kepada masyarakat internasional.

“Mari kita rapatkan barisan, kita salurkan bantuan terbaik, kita gaungkan narasi keadilan dalam bahasa global, dan kita pastikan dunia tahu bahwa Asia Pasifik berdiri tegak di sisi Palestina sampai titik darah penghabisan.”

Dengan beroperasinya Headquarters APCQP di Jakarta, Sudarnoto berharap berbagai elemen di kawasan Asia Pasifik dapat semakin terhubung dan memperkuat kerja sama dalam mendukung Palestina.

Kolaborasi antara lembaga filantropi, perguruan tinggi, pemuda, parlemen, ulama, perempuan, dan kalangan profesional disebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat solidaritas bagi kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Quds.