Pengrajin Alkohol Bekonang Ikrar Hentikan Produksi Ciu, Fokus ke Industri dan Medis

SUKOHARJO (jurnalislam.com)— Puluhan pengrajin alkohol dari wilayah Bekonang dan sekitarnya mengikuti sarasehan di Kantor Kecamatan Mojolaban, Rabu (29/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, para pengrajin menyatakan komitmen bersama untuk tidak lagi memproduksi minuman keras (miras) jenis ciu.

Kegiatan yang dihadiri unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta menghadirkan Ustadz Sholeh Ahmad ini menjadi momentum penting dalam upaya menekan peredaran miras di wilayah Sukoharjo.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan ikrar oleh perwakilan pengrajin. Mereka sepakat mengalihkan produksi alkohol hanya untuk kebutuhan medis dan industri, serta tidak lagi mengolahnya menjadi minuman keras.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Sholeh Ahmad menekankan pentingnya menjalankan usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga membawa keberkahan dan tidak melanggar aturan.

“Kita semua saudara, harus saling bersinergi. Meski profesi kita berbeda-beda, tujuannya satu: membangun Sukoharjo yang lebih maju dan bermartabat. Ikrar hari ini adalah bukti komitmen kita bersama,” ujar Ustadz Sholeh Ahmad saat ditemui usai acara.

Ia juga menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menyadarkan para produsen agar tidak lagi memproduksi ciu yang selama ini menjadi persoalan sosial di masyarakat.

“Kedepan kita juga akan menggandeng pemerintah kabupaten Sukoharjo dalam hal pengawasan dan pembinaan. Sehingga para perajin bisa fokus dalam bekerja sesuai izin yang ada yaitu memproduksi alkohol dan etanol,” pungkasnya.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Para pengrajin berharap adanya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah, khususnya dalam pengembangan produk turunan alkohol non-konsumsi, sehingga kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa melanggar hukum.

Daycare Tak Aman, Jalan Pulang Mengancam: Dilema Working Mom

Oleh: Rika Arlianti DM

Setiap pagi, ada jutaan ibu di Indonesia yang melakukan satu hal yang sama, yakni menelan rasa bersalah.

Mereka meninggalkan anaknya di rumah, di tangan pengasuh, atau di daycare dengan satu doa yang berulang, “Ya Allah, jaga anakku saat aku tidak ada”.

Namun pertanyaannya hari ini menjadi jauh lebih menakutkan. Apakah doa itu sedang menggantikan fungsi sistem yang seharusnya bekerja?

Kasus kekerasan di daycare yang kembali viral bukanlah kejadian tunggal. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menegaskan bahwa kekerasan di daycare terjadi berulang dan membutuhkan evaluasi nasional menyeluruh.

Sepanjang tahun 2024 saja, KPAI menerima 2.057 pengaduan kasus terkait anak, angka yang menunjukkan bahwa ancaman terhadap anak bukan sesuatu yang sporadis, tapi sistemik. Bahkan pada 2025, tercatat sekitar 2.031 kasus kekerasan terhadap anak, dengan lebih dari 51% korban adalah anak perempuan.

Artinya, setiap hari ada anak yang terluka, dan sebagian dari mereka adalah anak-anak yang dititipkan karena orang tuanya bekerja.

Sebagai ibu bekerja, saya membaca angka-angka ini bukan sebagai statistik, tapi sebagai kemungkinan. Kemungkinan bahwa anak saya bisa menjadi salah satu dari angka itu.

Lalu kita beralih ke sisi lain dari realitas, di mana ibu-ibu yang berangkat bekerja. Data Kementerian PPPA menunjukkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia pada 2024 mencapai 56,42%.

Di kota-kota besar, bahkan angkanya bisa lebih tinggi sekitar 55% perempuan terlibat dalam aktivitas ekonomi. Dengan kata lain, lebih dari separuh perempuan dewasa di negeri ini hidup dalam ritme yang sama. Pergi pagi, pulang sore, meninggalkan anak demi bertahan hidup.

Namun ironinya, semakin banyak ibu bekerja, semakin besar pula ruang risiko yang mereka hadapi, dan sistem belum bergerak secepat itu untuk melindungi mereka.

Kecelakaan kereta di Bekasi menjadi pukulan kedua. Gerbong wanita bukan sekadar ruang transportasi. Ia adalah ruang harapan. Di dalamnya ada ibu-ibu yang sedang menghitung waktu untuk pulang. Ada yang membawa janji, “Mama sebentar lagi sampai”.

Namun realitas berkata lain, perjalanan pulang tidak selalu berujung pelukan.

Di titik ini, menjadi ibu bekerja di Indonesia terasa seperti hidup di antara dua ketidakpastian.
1. Saat pergi, kita cemas meninggalkan anak di sistem yang belum sepenuhnya aman;
2. Saat pulang, kita menghadapi risiko di perjalanan yang juga tidak sepenuhnya terjamin.

Ini bukan sekadar beban emosional. Ini adalah beban struktural yang dipikul oleh perempuan sendirian.

Negara sering merayakan “perempuan tangguh”. Tapi jarang bertanya, mengapa mereka harus setangguh itu untuk sekadar hidup normal?

Dalam Islam, menjaga anak bukan hanya urusan keluarga, ia adalah amanah sosial.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ

Terjemahnya: “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Maka ketika sistem gagal melindungi dan gagal memastikan keselamatan di transportasi publik, ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan kelalaian amanah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan dalam Quran Surah Al-Maidah ayat 32 bahwa menjaga satu kehidupan sama seperti menjaga seluruh manusia.

Namun hari ini, kita seperti terbiasa dengan berita kehilangan. Kita berduka. Kita marah. Lalu kita lupa.

Benar, takdir tidak pernah salah alamat. Jika sesuatu memang harus terjadi, ia akan menemukan jalannya. Karenanya, kita sering berlindung di balik kata takdir, seolah itu alasan untuk berhenti berbenah. Padahal takdir tidak pernah memerintahkan kita untuk abai.

Jika kecelakaan terjadi karena sistem yang lalai, jika anak terluka karena pengawasan yang lemah, maka itu bukan semata takdir, tapi hasil dari sesuatu yang dibiarkan.

Kita tidak bisa menghindari semua kemungkinan buruk, tapi kita bisa memastikan untuk tidak ikut membuka jalannya. Karena yang dipertanyakan kelak bukan hanya apa yang terjadi, tapi apa yang sudah kita lakukan untuk mencegahnya.

Sejatinya, kita tidak kekurangan ibu yang kuat. Kita sedang kekurangan sistem yang serius.

Jika lebih dari setengah perempuan Indonesia bekerja, maka daycare bukan lagi pilihan tambahan, tapi kebutuhan utama, dan transportasi publik bukan lagi fasilitas, melainkan tulang punggung kehidupan. Keduanya harus aman, tanpa kompromi.

Sebagai ibu bekerja, saya tidak meminta kemewahan. Saya hanya meminta sesuatu yang seharusnya menjadi hak paling dasar. Tempat yang aman untuk anak saat saya bekerja, dan jalan yang aman agar bisa pulang memeluknya.

Karena bagi seorang ibu, dunia ini sederhana: Pergi dengan doa, dan pulang dengan selamat.

Jika itu saja belum bisa dijamin, maka yang perlu dipertanyakan bukan ketangguhan ibu, melainkan keseriusan kita dalam menjaga kehidupan. Wallahu a’lam bisshawab.

Komitmen Menjaga Moral Masyarakat, Aktivis Islam Tasik Selatan Musnahkan Minuman Keras

TASIKMALAYA (jurnalislam.com)- Dalam upaya menjaga ketertiban masyarakat serta melindungi generasi dari dampak negatif minuman keras, sejumlah aktivis Islam yang tergabung dalam Aktivis Islam Tasik Selatan melaksanakan kegiatan pemusnahan minuman keras (miras) hasil razia gabungan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya pada Senin, (27/4/2026).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari operasi lapangan yang dilakukan secara terpadu di beberapa titik wilayah Tasik Selatan yang diduga menjadi lokasi peredaran miras ilegal. Dari hasil razia tersebut, petugas berhasil mengamankan berbagai jenis minuman keras yang tidak memiliki izin edar dan berpotensi merusak moral masyarakat.

Pemusnahan dilakukan secara terbuka sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat, sekaligus menunjukkan komitmen bersama antara pemerintah, kepolisian, dan seluruh elemen masyarakat dalam memberantas peredaran miras. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi simbol keseriusan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan kondusif.

Perwakilan Aktivis Islam Tasik Selatan, Evan Abu Jibril, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar penertiban, melainkan juga bagian dari dakwah sosial untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya miras, baik dari sisi kesehatan, keamanan, maupun nilai-nilai agama.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga diri dan lingkungan dari pengaruh negatif miras. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Kedepan, Aktivis Islam Tasik Selatan berkomitmen untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik, serta mendukung upaya-upaya preventif dan edukatif di tengah masyarakat.

Memahami Dunia Anak Usia Dini Kunci Penting dalam Psikologi Perkembangan dan Pertumbuhan

Oleh: Siska Afrianti
Mahasiswi PIAUD Semester 2 STAI Putra Galuh Ciamis

Anak usia dini sering disebut sebagai golden age atau masa emas dalam kehidupan manusia. Pada periode ini, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, baik secara fisik, kognitif, sosial-emosional, maupun bahasa. Oleh karena itu, memahami psikologi perkembangan anak usia dini menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi pendidik dan orang tua.

Secara umum, pertumbuhan merujuk pada perubahan fisik yang dapat diukur, seperti tinggi badan, berat badan, dan perkembangan organ tubuh. Sementara itu, perkembangan mencakup perubahan kemampuan dan fungsi yang lebih kompleks, seperti kemampuan berpikir, berbicara, serta berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam perspektif psikologi, anak usia dini berada pada tahap eksplorasi aktif. Mereka belajar melalui pengalaman langsung, bermain, serta interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Misalnya, seorang anak yang bermain balok tidak hanya sekadar menyusun, tetapi juga sedang mengembangkan kemampuan motorik halus, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Salah satu aspek penting dalam perkembangan anak adalah perkembangan kognitif. Pada tahap ini, anak mulai mengenal simbol, bahasa, dan konsep sederhana. Mereka juga mulai memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sering bertanya “mengapa” terhadap berbagai hal. Ini menunjukkan bahwa proses berpikir mereka sedang berkembang dengan pesat.

Selain itu, perkembangan sosial-emosional juga tidak kalah penting. Anak belajar mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, serta mulai membangun hubungan sosial. Lingkungan yang hangat dan responsif akan membantu anak merasa aman, sehingga mereka lebih percaya diri dalam bereksplorasi.

Peran orang tua dan pendidik sangat besar dalam mendukung proses ini. Stimulasi yang tepat, seperti memberikan kesempatan bermain yang edukatif, komunikasi yang positif, serta kasih sayang yang konsisten, akan membantu mengoptimalkan perkembangan anak. Sebaliknya, kurangnya perhatian atau stimulasi dapat menghambat potensi perkembangan mereka.

Dalam konteks pendidikan anak usia dini (PIAUD), pemahaman tentang psikologi perkembangan menjadi landasan utama dalam merancang pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang memahami kebutuhan dan karakteristik setiap anak.

Kesimpulannya, memahami psikologi perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini bukan hanya penting bagi akademisi, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibatnya dalam kehidupan anak. Dengan pemahaman yang baik, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehingga mereka dapat berkembang menjadi individu yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Rayakan Milad ke-29, FLP Luncurkan Gerakan Nasional Literasi Berdaya

PEKANBARU (jurnalislam.com)- Momentum bersejarah kembali tercipta di dunia literasi Indonesia. Merayakan hari jadinya yang ke-29, Forum Lingkar Pena (FLP) resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk ‘Gerakan Nasional Literasi Berdaya’. Sebagai bentuk apresiasi terhadap geliat budaya di Bumi Lancang Kuning, Kota Pekanbaru secara resmi terpilih menjadi tuan rumah perayaan nasional tahun 2026.

Acara yang diselenggarakan selama tiga hari ini, Jumat-Ahad (24-26 April 2026) ini menjadi aksi serentak yang melibatkan seluruh simpul organisasi di tingkat wilayah hingga ranting sepanjang bulan April, guna memperkuat fondasi literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Inovasi Literasi Melalui Aksi Sosial

Milad kali ini tidak hanya dirayakan dengan seremoni, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan. FLP membuka peluang kepada para penulis dari seluruh daerah di Indonesia mengikuti kegiatan Residensi Penulis dengan latar Bumi melayu Pekanbaru. FLP juga memperkenalkan program Donasi Buku ke Ojol dan Kafe sebagai upaya mendekatkan buku kepada masyarakat di ruang-ruang publik.

Donasi Buku ke Ojol dilaksanakan di Kawasan Purna MTQ Pekanbaru, program ini menyasar pengemudi ojek online agar tetap bisa mengakses bacaan berkualitas di sela waktu kerja mereka. Proses donasi dibantu oleh para penulis residensi FLP yang lolos dari berbagai daerah di Indonesia.

Kolaborasi dan Sinergi Nasional

Selain aksi donasi, Gerakan Nasional ini juga mendorong seluruh struktur pengurus FLP untuk aktif melakukan kunjungan silaturahmi dan kolaborasi dengan berbagai tokoh serta instansi terkait. Hal ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem literasi yang lebih profesional dan berkelanjutan di tingkat pusat maupun daerah.

“Khusus untuk wilayah Pekanbaru, sebelumnya kami sudah melakukan kunjungan ke beberapa tokoh. Silaturrahim ke Balai Bahasa, Dinas Perpustakaan Wilayah, Bunda Literasi dan silaturrahim kepada petinggi pemerintah kota Pekanbaru,” papar Nafi’ah Al-Ma’rab, Ketua Umum FLP di sela-sela kesibukannya.

Estafet kebermanfaatan berlanjut. Usai menyukseskan aksi donasi buku kepada para pengemudi ojol, FLP kembali menggebrak dengan menggelar Seminar Nasional bertajuk ‘Bahasa Melayu sebagai Cikal Bakal Bahasa Indonesia’. Forum ilmiah ini menghadirkan jajaran pakar dan tokoh terkemuka yang mengupas tuntas peran krusial Bahasa Melayu Riau sebagai fondasi pemersatu bangsa.

Tak berhenti di situ, semarak Milad ke-29 ini ditutup dengan agenda City Tour yang mempertemukan para penulis residensi terpilih dari berbagai penjuru nusantara mulai dari Makassar, Probolinggo, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sumatera Utara, hingga Padang untuk menyelami kekayaan sejarah di Bumi Lancang Kuning.

Harapan untuk Indonesia Cerdas

Dalam pesannya, Ketua Umum FLP, Nafi’ah Alma’rab menyampaikan bahwa gerakan ini adalah bentuk komitmen organisasi untuk terus berkontribusi bagi bangsa.

“Melalui gerakan ini, Forum Lingkar Pena berharap Indonesia semakin cerdas dan semakin dekat dengan budaya baca yang baik. Selamat melaksanakan Gerakan Nasional untuk seluruh anggota FLP di mana pun Anda berada,” ujarnya.

Dengan semangat Milad ke-29, FLP terus berupaya membuktikan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas menulis dan membaca, melainkan sebuah gerakan pemberdayaan yang mampu menjangkau seluruh segmen dan kalangan masyarakat.

Mediasi Warung Mie Babi di Parangjoro Sukoharjo Belum Temui Titik Temu

SUKOHARJO (jurnalislam.com)— Proses mediasi antara warga Desa Parangjoro dan pengelola warung mi babi masih belum menghasilkan kesepakatan. Dialog yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Sukoharjo tersebut berlangsung guna meredam keresahan masyarakat terkait keberadaan usaha yang menjual menu nonhalal di lingkungan setempat.

Warga RW 10 Desa Parangjoro yang mayoritas beragama Islam menyampaikan keberatan atas penjualan makanan nonhalal secara terbuka. Namun, mereka menegaskan tidak bermaksud menghalangi aktivitas usaha, melainkan meminta adanya penyesuaian dengan norma lingkungan.

Ketua RW 10, Bandowi, menyampaikan bahwa warga mengedepankan pendekatan persuasif dalam menyampaikan aspirasi.

“Pada prinsipnya, kami warga yang mayoritas muslim tidak ingin mengganggu orang lain yang sedang berusaha. Prinsipnya sederhana, silakan berbisnis, tetapi yang penting halal saja. Makanan yang halal masih banyak,” ujarnya usai melakukan audensi, Senin, (21/4/2026).

Ia menambahkan, apabila permintaan tersebut tidak direspons dan tetap menimbulkan ketidaknyamanan, warga akan meminta pemerintah daerah untuk meninjau ulang perizinan usaha tersebut.

“Kalau memang hal itu dirasa memberatkan dan tetap mengganggu, kami memohon agar izinnya dicabut. Kami meminta pemerintah untuk mengkaji ulang perizinan tersebut karena selama ini telah menimbulkan keresahan di kalangan warga muslim,” tambahnya.

Warga berharap pihak pengelola warung dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka menjalankan usaha. Mengutip peribahasa, Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung, warga meminta pengelola agar bersikap tenggang rasa.

“Harapan kami, Jodi mau mengerti perasaan warga. Seperti pepatah, Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung. Mohon bisa menyesuaikan diri dengan kami. Kami tidak akan menuntut yang macam-macam, permintaan kami cuma satu, menu nonhalalnya dihilangkan,” tegas perwakilan warga.

Sebagai solusi, warga menyatakan siap mendukung usaha tersebut apabila pengelola bersedia mengubah konsep menjadi sepenuhnya halal.

“Silakan berjualan di sini, akan kami bantu. Kalau menjual makanan halal seperti mi ayam atau bakso, kami justru akan membeli dan meramaikan,” ungkap perwakilan warga.

Warga juga berharap penyelesaian dapat dilakukan dalam waktu dekat, meski tetap menunggu arahan dari pemerintah daerah.
Di sisi lain, kuasa hukum pemilik usaha, Cucuk Kustiyawan, menyatakan pihaknya menghargai proses mediasi, namun belum dapat langsung memenuhi permintaan warga.

“Kami masih membutuhkan waktu untuk mengkalkulasi berbagai aspek, terutama terkait perubahan jenis usaha yang tidak bisa dilakukan secara instan,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Sukoharjo, Teguh Pramono, menyampaikan bahwa pemerintah berupaya memfasilitasi komunikasi antara kedua pihak.

“Kami memberikan waktu kepada kedua pihak. Warga mengusulkan penghapusan menu non-halal, sementara pemilik usaha meminta waktu untuk mempertimbangkan. Harapannya ada titik temu,” jelasnya.

Mediasi lanjutan direncanakan akan dilakukan setelah pihak pemilik usaha menyampaikan keputusan resmi. Hingga saat ini, belum ada kepastian waktu terkait penyelesaian persoalan tersebut.

Demiliterisasi Gaza Atas Nama Investasi

Oleh: Herliana Tri, M.S.P

Derita rakyat Gaza belumlah usai. Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat telah diberlakukan sejak Oktober tahun lalu, namun tak merubah fakta genosida dan kekerasan masih terus terjadi. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 749 orang tewas, lebih dari 2.000 lainnya terluka sejak kesepakatan diberlakukan.

Anehnya, ketidakadilan yang terus dipertontonkan tak merubah Amerika Serikat yang menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza. Antaranews.com ( 7/4/2026).

Fakta keterlibatan Amerika Serikat dalam pendudukan Israel atas Palestina termasuk Gaza menjelaskan secara terang benderang akan adanya keberpihakan yang nyata. Adanya dua puluh satu poin proposal Donald Trump untuk Gaza sesungguhnya merupakan pola untuk melumpuhkan perlawanan terhadap Israel.

Point pentingnya adalah demiliterisasi, deradikalisasi, sekulerisasi politik dan jeratan bantuan ekonomi. Hal yang dilakukan oleh Donald Trump dengan apa yang sebut sebagai perdamaian. Inti proposal ini adalah melumpuhkan perlawanan yang dilakukan oleh pejuang Palestina dengan imbalan politik berupa sebuah negara lemah sekuler yang dikendalikan oleh Barat.

Artinya demiliterisasi merupakan upaya untuk melumpuhkan kekuatan perlawanan Palestina secara militer (fisik). Hal itu tampak dari poin 13 proposal Trump: yakni berupa Hamas dan faksi-faksi lainnya sepakat untuk tidak berperan dalam pemerintahan Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau dalam bentuk apa pun.

Semua infrastruktur militer, teror dan ofensif, termasuk terowongan dan fasilitas produksi senjata, akan dihancurkan dan tidak akan dibangun kembali.

Inilah langkah proses demiliterisasi Gaza. Point yang sangat jelas akan menghancurkan kekuatan perlawanan. Sebaliknya, hal yang sama tidak dituntut kepada entitas penjajah Yahudi yang justru pelaku genosida. Adilkah? tentu tidak.

Pendudukan justru leluasa duduk berdampingan dalam BoP, sedangkan Gaza sebagai obyek sasaran tembak untuk dihancurkan sesuai proyek investasi yang digembar gemborkan Trump dalam bentuk Visi “Trump Riviera”. Rencana tersebut melibatkan pembangunan kembali Gaza menjadi kawasan pesisir yang modern sebagai pusat bisnis dan resor, dan sering disebut dalam diskusi sebagai “Trump Riviera”.

Kepada Siapa Mengadu

Sungguh berat sekali kehidupan rakyat Gaza. Meski penjajahan terlihat nyata, namun keadilan tak kunjung berpihak. Justru menjadi bagian paling menyedihkan adalah pengkhianatan para pemimpin Muslim yang ditekan Netanyahu untuk memaksa Hamas tunduk. Merekalah penyebab Gaza ditelantarkan. Mereka bahkan berebut bertemu Trump untuk sekadar mendapatkan legitimasi.

Negara-negara seperti Turki, Qatar, Yordania, Pakistan, Saudi Arabia dan Indonesia kini bekerja keras memaksa mujahidin meletakkan senjata demi menjaga keamanan Israel sang penjajah, bukan menjaga umat Islam. Bahkan sebagian dari mereka akan mengirim pasukan ke Gaza, bukan untuk melindungi rakyat Palestina, melainkan melindungi tentara Zionis dari rakyat Gaza sendiri.

Sudah saatnya, penduduk dunia ini sadar kepada siapa berpihak dan memberikan dukungan. Karena pada saat ketidakadilan yang dipertontonkan, HAM hanyalah kata tanpa makna. Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan hanya indah diatas kertas tanpa bukti nyata.

Pentas Seni EKSI 2026, Panggung Ceria Anak PAUD IT Nur Hidayah Surakarta Jelajah Dunia

SUKOHARJO (jurnalislam.com)— Keceriaan anak-anak memenuhi ruang di Multazam Hotel, Sabtu (18/4/2026), saat PAUD IT Nur Hidayah Surakarta menggelar Pentas Seni EKSI (eNHa Kids Seni Islami) 2026. Suasana hangat dan penuh semangat tampak dari setiap penampilan yang disuguhkan para siswa.

Mengusung tema “Around the World with the Light of Knowledge”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi panggung hiburan, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak untuk mengekspresikan diri, belajar percaya diri, serta mengenal dunia dengan cara yang menyenangkan.

Dengan pendekatan ramah anak, setiap penampilan dikemas dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Cara ini menjadi upaya mengenalkan komunikasi global sejak dini tanpa tekanan, namun tetap menyenangkan bagi anak-anak.

Yang menarik, dalam kesempatan tersebut sekolah juga meluncurkan maskot baru bernama Galih (Gatotkaca Sholih). Maskot ini menjadi simbol karakter anak yang kuat, berani, sholih, dan berakhlak mulia sejalan dengan semangat pendidikan yang diusung sekolah.

Beragam penampilan ditampilkan dalam balutan cerita perjalanan keliling dunia. Mulai dari public speaking, tahfidz, seni musik seperti perkusi dan jimbe, gerak lagu, bela diri, hingga aktivitas ekstrakurikuler seperti renang, semuanya disajikan dengan penuh keceriaan.

Kepala PAUD IT Nur Hidayah Surakarta, Parwanti, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendampingi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

“EKSI bukan sekadar pentas, tetapi ruang bagi anak-anak untuk menemukan minat dan bakatnya, sekaligus mengasahnya dalam suasana yang menyenangkan dan penuh cinta,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak sekolah ingin menghadirkan lingkungan belajar yang membuat setiap anak merasa dihargai, didukung, dan bahagia.

Antusiasme juga terlihat dari para orang tua yang hadir. Mereka tidak hanya menyaksikan penampilan, tetapi juga merasakan proses tumbuh anak-anak yang penuh keberanian dan rasa percaya diri.

Melalui kegiatan ini, PAUD IT Nur Hidayah Surakarta terus memperkuat sinergi dengan orang tua dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepedulian, dan akhlak mulia.

FH UI dan Hilangnya Mahkota Laki-laki: Self Control yang Tumbang

Oleh: Rika Arlianti DM

“Laki-laki mahkotanya di self control. Perempuan mahkotanya di rasa malu.”

Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan normatif. Tapi hari ini, realitas sosial justru menampar keras nilai itu dan memperlihatkan siapa yang benar-benar gagal menjaganya.

Kasus yang mencuat dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) menjadi bukti telanjang. Bukan satu dua orang, tetapi belasan mahasiswa terlibat dalam grup percakapan yang berisi candaan cabul, objektifikasi tubuh perempuan, hingga narasi berbahaya seperti “diam berarti consent”.

Lebih parah lagi, korban bukan hanya mahasiswi, tetapi juga dosen perempuan.

Ini bukan sekadar “candaan”. Ini adalah budaya. Dan budaya itu lahir dari kegagalan paling mendasar, yakni laki-laki yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Self Control Itu Mahkota, bukan Aksesori

Dalam banyak ceramah, perempuan selalu diingatkan soal aurat, rasa malu, dan cara berpakaian. Seolah-olah kehormatan perempuan hanya ditentukan oleh seberapa tertutup tubuhnya. Namun, kasus di FH UI membongkar kemunafikan itu.

Para perempuan yang menjadi objek pelecehan dalam grup tersebut tidak sedang “mengundang”. Mereka tidak hadir. Mereka bahkan tidak tahu. Tapi tubuh mereka dibicarakan. Martabat mereka direndahkan. Nama mereka dijadikan bahan konsumsi.

Artinya jelas, bahwa inti masalahnya bukan pada perempuan yang tidak menjaga diri. Melainkan pada laki-laki yang tidak mampu menjaga pandangannya, bahkan dalam ruang digital sekalipun.

Dari Chat Cabul ke Kekerasan yang Nyata

Sebagian orang mungkin meremehkan, “Itu kan cuma chat”. Tapi para ahli menegaskan, pelecehan verbal dan digital memiliki dampak psikologis yang serius. Korban bisa mengalami trauma, kehilangan rasa aman, hingga gangguan seperti PTSD (detiknews).

Lebih mengerikannya lagi, budaya seperti ini adalah pintu masuk menuju kekerasan yang lebih nyata. Ketika perempuan terbiasa dijadikan objek dalam percakapan, maka batas antara “candaan” dan “tindakan” menjadi kabur. Hari ini mereka bercanda, besok mereka merasa berhak.

Perempuan Diminta Menjaga Rasa Malu, Laki-laki Dibiarkan Liar?

Di sinilah ketimpangan itu terasa sangat tajam. Perempuan dibebani rasa malu, bahkan sering kali ketika menjadi korban. Sementara laki-laki jarang diajarkan rasa tanggung jawab atas pandangan dan pikirannya sendiri.

Padahal dalam Islam, perintah pertama justru ditujukan kepada laki-laki: menundukkan pandangan (QS. An-Nur ayat 30). Bukan perempuan yang pertama kali disuruh menutup, melainkan laki-laki yang pertama kali disuruh mengendalikan.

Sayangnya, dalam praktik sosial hari ini, urutannya dibalik. Perempuan terus diawasi, sedangkan laki-laki terus dimaafkan.

Kampus, Tempat Ilmu atau Tempat Normalisasi?

Yang membuat kasus ini semakin menyakitkan adalah lokasinya; kampus hukum. Tempat yang seharusnya melahirkan penegak keadilan, justru menjadi ruang subur bagi normalisasi pelecehan.

Jika mahasiswa hukum saja bisa dengan ringan melontarkan narasi seperti “asas perkosa” dalam candaan, maka kita tidak sedang menghadapi masalah individu. Kita sedang menghadapi krisis moral kolektif.

Menjaga Itu Tanggung Jawab Bersama, Tapi Dimulai dari Diri

Benar, menjaga adalah tanggung jawab bersama. Perempuan menjaga auratnya, laki-laki menjaga pandangannya.

Jangan dibalik. Jangan dijadikan alasan untuk menyalahkan korban. Karena ketika laki-laki gagal menjaga dirinya, perempuan tidak boleh dipaksa menanggung akibatnya.

Penutup: Siapa yang Sebenarnya Kehilangan Mahkota?

Jika benar laki-laki mahkotanya adalah self control, maka dalam kasus ini, yang kehilangan mahkota bukan perempuan. Tapi laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai bahan tertawaan.

Selama masyarakat masih lebih sibuk mengatur cara perempuan berpakaian, daripada mendidik laki-laki untuk mengendalikan dirinya, maka kasus seperti di FH UI tidak akan berhenti. Ia hanya akan berganti grup, berganti pelaku, dan menunggu korban berikutnya.

Pelecehan di FH UI: Saat Perintah Menundukkan Pandangan Diabaikan

Oleh: Rika Arlianti DM

Ini bukan lagi soal oknum. Ini soal budaya. Kasus yang mencuat dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia seharusnya menghentak kesadaran kita. Belasan mahasiswa calon penegak hukum terlibat dalam percakapan yang merendahkan perempuan, menormalisasi pelecehan, bahkan mempermainkan konsep persetujuan.

Ini Bukan Skandal, Ini Potret Cara Berpikir

Jangan tertipu. Ini bukan sekadar “kasus viral”. Ini adalah jendela yang memperlihatkan bagaimana sebagian laki-laki berpikir ketika mereka merasa aman, ketika tidak ada kamera, tidak ada publik, tidak ada konsekuensi.

Di ruang privat itulah, topeng runtuh. Yang tersisa adalah cara pandang yang menjadikan perempuan bukan sebagai manusia, tetapi sebagai objek.

Jika di ruang chat saja mereka berani seperti itu, lalu kita masih mau percaya bahwa ini hanya “candaan”?

Dakwah yang Salah Sasaran

Yang lebih menyakitkan di tengah realitas seperti ini, arah dakwah kita justru sering melenceng. Perempuan terus dikejar dengan standar tutup ini, jaga itu, jangan begini, jangan begitu.

Sementara laki-laki? Sering kali hanya diingatkan sekilas tanpa tekanan, tanpa penekanan, tanpa keseriusan.

Padahal dalam ajaran Islam, urutannya jelas, laki-laki diperintahkan lebih dulu untuk menundukkan pandangan (ghadhul bashar) dalam QS. An-Nur ayat 30, sebelum perintah serupa untuk wanita di ayat 31.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Terjemahan: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24]: 30)

Menurut tafsir Ibnu Katsir(6:41), ayat ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.

Menundukkan pandangan mata merupakan dasar dan sarana untuk menjaga kemaluan, sebab ia adalah pintu masuk syahwat. Oleh karena itu, dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala terlebih dulu menyebutkan perintah untuk menahan pandangan mata daripada perintah untuk menjaga kemaluan.

Ini bukan detail kecil. Ini fondasi. Karena Islam tahu, bahwa kerusakan besar sering dimulai dari mata yang tidak dijaga dan hati yang tidak dikendalikan.

Kampus Hebat, Tapi Gagal Mendidik Rasa Takut kepada Allah

Kasus di Universitas Indonesia bukan sekadar mencoreng nama institusi, tapi membuka luka yang lebih dalam bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis melahirkan manusia yang beradab.

IPK bisa tinggi. Logika bisa tajam. Tapi kalau rasa takut kepada Allah tidak ditanamkan, maka ilmu hanya akan melahirkan manusia cerdas yang berbahaya. Kenapa? Sebab ia tahu cara membenarkan kesalahan, tapi tidak punya nurani untuk menolaknya.

Perempuan Tidak Butuh Disalahkan. Laki-laki Butuh Dididik

Ketika perempuan dilecehkan, perempuan disuruh introspeksi. Namun, ketika laki-laki salah, seringkali dianggap khilaf. Ini bukan keadilan, tapi pembiaran.

Perempuan tidak butuh ceramah tambahan tentang cara berpakaian, ketika yang mereka hadapi adalah laki-laki yang gagal mengendalikan pikirannya sendiri.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui bahwa masalahnya bukan pada perempuan yang kurang tertutup, melainkan pada laki-laki yang terlalu bebas (tidak tahu batas).

Mahkota Itu Sudah Jatuh, tapi Kita Pura-pura Tidak Melihat

Kita sering bangga mengulang kalimat ini, “Laki-laki mahkotanya di self control”. Tapi hari ini, kita harus berani bertanya: “Di mana mahkota itu sekarang?”

Karena laki-laki yang benar-benar menjaga diri tidak akan menunggu perempuan untuk “rapat” agar ia bisa “aman”. Dia menjaga dirinya bahkan saat sendirian. Bahkan saat tidak ada yang mengawasi. Bahkan saat godaan hanya berupa teks di layar.

Jika itu tidak terjadi, maka yang hilang bukan sekadar adab, tapi kehormatan itu sendiri.

Penutup: Saatnya Meluruskan Arah

Jika kita serius ingin menghentikan pelecehan, maka kita harus berhenti bersikap setengah-setengah.

Ajarkan perempuan menjaga diri itu penting. Tapi wajib hukumnya mendidik laki-laki untuk mengendalikan diri.

Bukan sekadar tahu. Tapi takut. Bukan sekadar paham. Tapi menahan. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak akan rusak karena perempuan yang kurang tertutup. Melainkan, masyarakat rusak ketika laki-laki tidak lagi merasa bersalah saat merendahkan perempuan.

Jika hal itu terus dibiarkan, maka kasus seperti di Fakultas Hukum Universitas Indonesia bukan akhir dari cerita. Ia baru permulaan.