Pesan Rais Aam PBNU di Muktamar ke-35: Ulama Harus Kokoh Pegang Syariat dan Peka Kondisi Umat

JOMBANG (jurnalislam.com)— Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Miftachul Akhyar menegaskan pentingnya kriteria dasar yang harus dimiliki oleh seorang ulama di tengah dinamika zaman. Menjunjung tinggi dedikasi terhadap agama serta kepekaan terhadap realitas sosial umat menjadi fondasi utama yang mutlak dijaga oleh para pemuka agama.

Poin penting tersebut disampaikan Kiai Miftach saat menyampaikan Khutbah Iftitah dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dihelat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).

Mengutip pandangan agung Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini menjelaskan bahwa seorang ulama agama (al-‘alim ad-dini) sejati sekurang-kurangnya harus memenuhi dua sifat esensial, yakni al-‘akif ‘ala dinih (berdedikasi penuh pada ajaran agama) dan al-‘arif bihali qaumih (memahami kondisi serta realitas masyarakatnya).

Mengenai kriteria pertama, Kiai Miftach menguraikannya sebagai wujud ketundukan total seorang alim terhadap hukum dan syariat Allah Ta’ala, mengingat aturan Allah adalah petunjuk yang paling lurus bagi manusia. Ia lantas mengingatkan agar umat Islam senantiasa waspada terhadap hukum atau aturan di luar syariat yang kerap kali hanya mengekor pada hawa nafsu.

“Dan selain dari syariat Allah, pemutus hukumnya adalah hawa nafsu, yang mana Al-Qur’an telah memperingatkan agar tidak mengikutinya di banyak ayat,” tegas Kiai Miftach di hadapan ribuan peserta muktamar.

Sementara itu, untuk kriteria kedua yakni al-‘arif bihali qaumih, Kiai Miftach menekankan bahwa pemahaman terhadap kondisi umat harus diwujudkan secara nyata melalui dua prinsip utama: kafful adza (menahan diri dari berbuat mudarat) dan badzlun nada (gemar menyebar kebaikan).

Ia mendefinisikan kafful adza sebagai komitmen moral seorang alim untuk tidak menyakiti, merugikan, atau mendatangkan keburukan bagi sesama manusia, baik menyangkut jiwa, kehormatan, maupun harta benda mereka. Sedangkan badzlun nada dimaknai sebagai dorongan untuk senantiasa dermawan, murah hati, serta mengalirkan kemanfaatan yang luas bagi masyarakat luas.

Di tengah maraknya berbagai fitnah, ketidakpastian, serta krisis keteladanan di akhir zaman, Kiai Miftach menilai penegakan prinsip-prinsip tersebut menjadi sangat mendesak. Kehadiran ulama yang memegang teguh nilai kafful adza dan badzlun nada diyakini mampu menjadi mercusuar penerang di tengah kaburnya batas antara kebenaran dan kebatilan.

“Ketika amanah berkurang, maka sosok alim yang memiliki kafful adza dan badzlun nada ini akan menjadi penerang,” imbuhnya.

Menutup khutbahnya, Kiai Miftach berpesan agar para ulama dan tokoh agama tidak pernah merasa putus asa dalam menyebarkan dakwah serta membimbing umat sesuai kapasitas masing-masing, seraya meyakini pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas tegaknya kebenaran.

Sumber: NU Online 

Presiden Prabowo Buka Muktamar ke-35 NU di Jombang: Tegaskan Peran Besar Ulama untuk Bangsa

JOMBANG (jurnalislam.com)— Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi membuka perhelatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Acara yang menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi Islam terbesar di tanah air ini digelar di Lapangan Untung Surapati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026).

Muktamar yang mengusung tema besar “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” ini berlangsung khidmat dan dihadiri oleh puluhan ribu nahdliyin dari berbagai penjuru negeri.

Kehadiran Kepala Negara di lokasi acara disambut langsung oleh jajaran pengurus pusat Nahdlatul Ulama serta para kiai dan masyaikh pesantren. Rangkaian pembukaan diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, gema Selawat Badar, serta doa yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, K.H. Hasib Wahab Chasbullah, usai sebelumnya menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon.

Dalam sambutannya di hadapan para peserta dan kader NU, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi serta rasa hormat atas undangan untuk hadir dalam forum tertinggi kaum nahdliyin tersebut. Ia menegaskan bahwa kontribusi Nahdlatul Ulama bagi Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan bangsa.

“Ini kehormatan besar bagi saya. Nahdlatul Ulama adalah institusi yang bersejarah yang sangat besar jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkap Presiden Prabowo dalam pidatonya.

Sementara itu, Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Syaifullah Yusuf, dalam laporan pengantarnya memaparkan bahwa muktamar kali ini diikuti oleh perwakilan struktur organisasi dari berbagai tingkatan. Peserta resmi yang hadir mencakup jajaran pengurus dari 38 pengurus wilayah, lebih dari 550 pengurus cabang, serta 33 pengurus cabang istimewa NU baik dari dalam maupun luar negeri.

Selain peserta resmi, antusiasme tinggi juga ditunjukkan oleh puluhan ribu warga nahdliyin yang hadir secara mandiri untuk menyemarakkan muktamar.

“Kami memperkirakan muktamar ini juga akan dimeriahkan sekitar lebih dari 50 ribu ‘romlah’ rombongan lilahi ta’ala yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air. Ada yang datang berombongan, ada pula yang datang seorang diri, menggunakan berbagai moda transportasi mulai dari pesawat, kereta, bus, hingga kendaraan pribadi,” tutur Syaifullah.

Pembukaan Muktamar ke-35 NU ini ditandai secara resmi dengan penabuhan bedug oleh Presiden Prabowo Subianto, didampingi jajaran pimpinan NU. Pemukulan bedug tersebut sekaligus menandai dimulainya rangkaian sidang-sidang komisi dan pleno yang akan merumuskan arah kebijakan strategis organisasi, program kerja, serta rekomendasi keumatan dan kebangsaan untuk beberapa tahun ke depan.

Sumber: BPMI Setpres

Gen Z dan Otak yang Tidak Pernah Benar-Benar Istirahat

Penulis: Haritsah Mujahid
Mahasiswa Universitas Siber Asia

Apakah kalian pernah membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan, lalu beberapa menit kemudian sudah berpindah ke Instagram, lanjut ke TikTok, dan tanpa sadar kembali membuka aplikasi yang sebelumnya sudah ditutup? Atau ketika sedang mengerjakan tugas, fokus hanya bertahan beberapa menit, setelah itu kita refleks mengambil ponsel untuk mengecek notifikasi yang sebenarnya tidak terlalu penting?

Hal ini memang terdengar sederhana, bahkan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak anak muda saat ini. Gen Z tumbuh bersama internet dan media sosial. Hampir setiap saat ada sesuatu yang bisa dilihat, dibaca, ditonton, atau sekadar di-scroll.

Dari bangun tidur hingga tidur lagi, ponsel hampir selalu berada di samping kita. Saat baru bangun, kita mengecek notifikasi, makan sambil menonton video, lalu mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik dan sesekali membuka media sosial. Bahkan menjelang tidur, kita masih menyempatkan diri untuk scrolling. Tubuh memang tidak banyak bergerak, tetapi pikiran terus menerima berbagai informasi tanpa henti.

Hidup di Tengah Informasi yang Tidak Ada Habisnya

Kehidupan Gen Z hari ini memang sulit dipisahkan dari dunia digital. DataReportal mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia (Kemp, 2025). Angka tersebut memperlihatkan betapa besarnya ruang yang ditempati internet dan media sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

Tentu saja, teknologi bukan sesuatu yang harus selalu dilihat dari sisi negatif. Kehadiran internet justru memberikan banyak kemudahan. Kita bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik, berkomunikasi dengan orang yang berada jauh dari kita, mencari materi pembelajaran, bekerja, sampai membangun relasi melalui dunia digital.

Namun, kemudahan tersebut juga datang bersama tantangan baru. Informasi yang kita terima semakin banyak, sementara perhatian kita juga semakin mudah terbagi. Ketika sedang mengerjakan satu hal, sebuah notifikasi muncul dan membuat fokus kita berpindah.

Ketika membuka media sosial hanya untuk melihat satu unggahan, tanpa sadar kita bisa
menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan. Kondisi seperti ini berkaitan dengan information overload, yaitu ketika seseorang menerima informasi dalam jumlah yang sangat banyak sehingga semakin sulit untuk memilah dan mengelolanya. Penelitian Sihombing dan Juliana (2026) terhadap Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa perceived information overload memiliki hubungan dengan niat untuk melakukan digital detox.

Hal ini menunjukkan bahwa di tengah banyaknya kemudahan dunia digital, sebagian Gen Z juga mulai memiliki keinginan untuk mengambil jarak sejenak dari derasnya informasi yang diterima setiap hari.

Ketika Fokus Menjadi Semakin Sulit

Masalah lainnya muncul ketika kebiasaan berpindah perhatian tersebut terbawa ke aktivitas yang sebenarnya membutuhkan fokus. Kita mungkin pernah berniat belajar selama satu jam, tetapi dalam waktu tersebut beberapa kali membuka WhatsApp, Instagram, TikTok, atau aplikasi lainnya.

Pada akhirnya, waktu yang digunakan memang satu jam, tetapi perhatian kita tidak benar-benar berada pada satu aktivitas selama satu jam penuh. Persoalan mengenai perhatian ini juga terlihat dalam kehidupan mahasiswa. Penelitian Mazid et al. (2025) terhadap 482 mahasiswa membahas hubungan antara deep work, kontrol perhatian, mindfulness, distraksi smartphone, dan keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas akademik.

Penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya kemampuan mengontrol perhatian ketika seseorang ingin terlibat secara mendalam dalam aktivitas yang sedang dikerjakan.

Gen Z sebenarnya memiliki akses terhadap berbagai teknologi yang membuat banyak hal menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, pada saat yang sama, kita juga hidup di tengah berbagai hal yang terus berebut mendapatkan perhatian. Notifikasi, pesan, video pendek, hingga berbagai informasi baru dapat muncul kapan saja dan dengan mudah mengalihkan perhatian tanpa kita sadari.

Mindfulness Bukan Berarti Harus Meninggalkan Media Sosial

Di tengah kondisi tersebut, mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu kita kembali mengelola perhatian. Secara sederhana, mindfulness dapat dipahami sebagai kemampuan untuk memberikan perhatian secara sadar terhadap apa yang sedang kita lakukan dan apa yang sedang terjadi pada saat ini.

Menjadi mindful bukan berarti kita harus menghapus semua media sosial, mematikan ponsel sepanjang hari, atau sepenuhnya menjauh dari teknologi. Hal tersebut tentu kurang realistis dilakukan di tengah kehidupan sekarang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menyadari kapan teknologi memang digunakan karena dibutuhkan dan kapan kita menggunakannya hanya karena sudah menjadi kebiasaan.

Contoh sederhananya adalah ketika membuka TikTok. Ada perbedaan antara membuka TikTok karena memang ingin mencari hiburan selama beberapa menit dengan membukanya secara refleks setiap kali merasa bosan. Aktivitasnya mungkin sama, tetapi kesadaran ketika melakukannya berbeda. Pada kondisi pertama, kita tahu mengapa kita membuka aplikasi tersebut. Sedangkan pada kondisi kedua, kita membukanya hanya karena sudah menjadi kebiasaan.

Mindfulness bukan hanya sekadar konsep. Liu et al. (2024) menemukan bahwa pelatihan mindfulness singkat pada mahasiswa dapat membantu menurunkan kecenderungan kecanduan ponsel pada kelompok yang diteliti. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan untuk menyadari perilaku diri sendiri dapat menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.

Belajar Mengambil Kembali Perhatian Kita

Jika dilihat dari perspektif Human Literacy, mengelola perhatian menjadi hal yang semakin penting di era digital. Kita tidak hanya dituntut untuk mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami diri sendiri ketika menggunakannya. Dalam hal ini, kesadaran terhadap kebiasaan, emosi, dan cara kita memberikan perhatian menjadi bagian penting dalam memahami diri sendiri di tengah perkembangan teknologi.

Kita perlu sadar kapan mulai kehilangan fokus, kapan tubuh membutuhkan istirahat, dan kapan kita membuka ponsel hanya karena sudah menjadi kebiasaan. Sebab, tidak semua waktu kosong harus selalu diisi dengan melihat layar.

Hal ini sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Misalnya, menyelesaikan satu pekerjaan tanpa membuka media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, meletakkan ponsel ketika sedang berbicara dengan orang lain, atau sekadar memberikan waktu bagi diri sendiri untuk diam sejenak.

Pada akhirnya, teknologi dan media sosial akan tetap menjadi bagian dari kehidupan Gen Z. Meninggalkannya sepenuhnya tentu bukan solusi yang realistis. Tantangannya justru terletak pada bagaimana kita tetap menggunakan teknologi tanpa membiarkannya mengambil terlalu banyak waktu dan perhatian kita.

Di tengah video, notifikasi, tren, dan informasi yang terus datang, kita perlu belajar untuk berhenti sejenak. Terkadang pikiran tidak membutuhkan informasi atau hiburan baru, tetapi hanya membutuhkan waktu untuk benar-benar beristirahat.

Mungkin, di era ketika begitu banyak hal berebut perhatian kita, kemampuan untuk memilih apa yang benar-benar layak mendapatkan perhatian justru menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki Gen Z.

GenZ dan Tantangan Hidupnya, Kokoh Dengan Islam

Oleh: Amila

Generasi yang melek teknologi, kreatif, adaptif, dan berani, berpotensi sebagai motor penggerak perubahan. Begitulah generasi Z (genZ) dikenal. Namun, di balik kehidupan yang tampak dinamis ini, terpendam persoalan yang cukup serius. Ketika biaya hidup, kualitas masa depan yang masih samar, dan tuntutan kemandirian berhadapan dengan kemampuan finansial dan kesempatan-kesempatan yang terbatas, generasi muda tidak hanya menghadapi persoalan ekonomi.

Mereka juga menghadapi tekanan psikologis dan sosial. Bagaikan di persimpangan jalan yang rumit, begitulah sekiranya yang tergambar saat ini. Deloitte Global Survey 2026 mendata sekitar 48% Gen Z secara global merasa tidak aman secara finansial dan hidup dari gaji ke gaji (paycheck-to-paycheck). Berbeda pula dengan generasi sebelumnya yang mengejar pertumbuhan karir, Gen Z tahun 2026 lebih memprioritaskan stabilitas, kesehatan mental, dan keseimbangan beban kerja sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup.

Menariknya, di tengah kecemasan akan kestabilan finansial, generasi muda justru hidup di tengah budaya yang mendorong tingkah laku konsumtif. Self-reward, healing, nongkrong, traveling, membeli barang yang sedang tren, sering diposisikan sebagai kebutuhan agar mental tetap sehat. Para pakar menjelaskan bahwa inilah bentuk mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang sangat relevan saat ini.

Berbelanja bukan lagi soal gengsi, melainkan cara instan untuk mendapatkan kebahagiaan (instant gratification) di tengah dunia yang serba tak pasti. Ditambah beragam tren yang muncul di algoritma media sosial sangat kuat mendikte untuk belanja terus menerus.

Bersantai dan menikmati hasil kerja, tentu bukan sesuatu yang keliru. Persoalan utamanya adalah ketika aktivitas ‘belanja’ menjadi sumber kebahagiaan dan dijadikan pelarian dari tekanan hidup yang ada. Slogan persuasif seperti “work hard play hard”, “you only live once”, akhirnya membuat kebutuhan dan keinginan akan semakin sulit dibedakan.

Kita harus menyadari dan memahami bahwa kapitalisme lah sebab utama kehidupan sempit yang terjadi hari ini. Berputarnya roda ekonomi berbasis non riil, upah yang tak sebanding dengan kebutuhan, harga bahan baku melambung tinggi, akhirnya membuat kita merasa tak punya kuasa atas masa depan.

Kapitalisme menempatkan aktivitas ekonomi pada mekanisme pasar dan kebebasan atas kepemilikan yang memungkinkan akumulasi kekayaan berkumpul di pihak tertentu saja. Di lain sisi, kebutuhan manusia diposisikan sebagai komoditas dagang. Pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan ragam kebutuhan primer lainnya membutuhkan biaya yang tidak murah. Bahkan hiburan dan ketenangan psikologis pun ada ongkosnya.

Selain merusak tatanan ekonomi, kapitalisme juga merusak cara pikir kita dengan ide-ide turunannya, seperti sekulerisme dan liberalisme. Sekulerisme membuat kita keliru dalam memandang masalah beserta solusinya. Pemisahan agama dari kehidupan, membuat religiusitas jauh meninggalkan kita. Ujian-ujian dalam hidup mudah mengguncang diri, healing menjadi solusi. Sekulerisme yang disandingkan dengan liberalisme membuat kita merubah haluan hidup menjadi keduniawian.

Kebahagiaan digeser maknanya menjadi kesenangan hidup semata seperti keberlimpahan harta, ketenaran, dll. Di balik itu semua ada krisis yang lebih dalam, yakni ketika Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga segala sesuatunya tidak diukur berdasarkan ridha Allah dan kemuliaan Islam melainkan disetir oleh tren, algoritma, pencapaian duniawi yang sebenarnya semu.

Untuk memperbaiki hidup generasi muda, tidak hanya dengan pengetahuan soal literasi dan manajemen keuangan. Tapi sistem kehidupan juga harus berganti melalui penerapan nilai dan aturan-aturan. Sistem Islam menegaskan bahwa negara semestinya hadir sebagai pengurus rakyatnya, bukan hanya menjadi regulator yang mengawasi pasar.

Negara wajib memastikan kebutuhan dasar tiap individu terpenuhi dengan baik, tiap warga negara berkemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi dirinya dan keluarganya. Hal ini dapat diawali dengan melakukan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) secara mandiri, tidak diprivatisasi, dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat.

Negara juga berkewajiban menciptakan lapangan kerja yang layak, sehingga rakyat khususnya generasi muda tidak lagi merasa berjuang sendirian dalam jeratan kapitalisme. Sebab kapitalisme membuat gap yang nyata soal siapa yang akhirnya mampu bertahan. Bagi yang memiliki modal dan akses akan lebih mudah bertahan, sementara yang tidak memiliki keduanya harus berjuang lebih keras.

Di sisi lainnya, media harus diatur oleh negara agar menampilkan konten yang bermanfaat. Islam tidak membiarkan masyarakat dibentuk oleh arus informasi tanpa batas. Konten yang memuat hal-hal yang sifatnya menjauhkan diri dari ketaatan pada Allah dan malah menghamba pada dunia akan dilarang untuk beredar luas.

Di saat yang sama, negara merancang sistem pendidikan berbasis Islam yang bertujuan membentuk manusia dengan akidah yang kokoh, memahami halal-haram, bertujuan hidup yang jelas sesuai arahan Pencipta, serta menyadari bahwa dunia bukanlah tujuan akhir.

Hasilnya, seorang pemuda Muslim hanya akan melakukan sesuatu yang bermanfaat, sesuai dengan panduan Quran dan Sunnah. Tidak lagi mementingkan pandangan mata dan pengakuan dari manusia. Keberhargaan diri tidak diukur melalui barang bermerek, liburan mahal, atau validasi warganet di media sosial.

Generasi muda dalam menjalani kehidupan harus bervisi besar dan benar dengan ideologi Islam. Ia belajar, bekerja, mengaktualisasikan dirinya agar menjadi manusia yang memberi manfaat, sebagai bagian dari amal. Hingga akhirnya lahir generasi pemuda yang tangguh, bukan generasi stroberi yang mudah hancur oleh himpitan kehidupan. Melainkan sebagai pembangun peradaban Islam yang mulia.

DSKS Dukung Pemberantasan Korupsi dan Penegakan Hukum, Ustaz Abdul Rochim Baasyir Imbau Aspirasi Disampaikan Damai

SOLO (jurnalislam.com)— Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menyatakan dukungannya terhadap upaya pemberantasan korupsi, penegakan keadilan, dan penguatan supremasi hukum. Namun, masyarakat juga diimbau agar menyampaikan aspirasi secara damai, tertib, dan bertanggung jawab.

Pernyataan tersebut disampaikan Rois Tanfidzi DSKS, Ustaz Abdul Rochim Baasyir, menyikapi perkembangan kehidupan kebangsaan serta meningkatnya aspirasi masyarakat terkait pemberantasan korupsi, penegakan hukum, dan tuntutan agar penyelenggaraan negara berjalan secara adil dan amanah.

DSKS berpandangan bahwa pemberantasan korupsi, penegakan keadilan, serta pencegahan penyalahgunaan kekuasaan merupakan hal yang perlu didukung karena bertentangan dengan prinsip syariat Islam dan kemaslahatan masyarakat.

Dalam pernyataan sikapnya, DSKS mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. An-Nahl ayat 90:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat kebajikan.”

Meski mendukung pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, Ustaz Abdul Rochim Baasyir mengingatkan bahwa tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

DSKS juga menegaskan bahwa penyampaian aspirasi merupakan hak masyarakat. Namun, hak tersebut hendaknya dijalankan melalui cara-cara yang damai, tertib, bertanggung jawab, serta sesuai dengan ketentuan hukum.

Dalam pernyataan tersebut, DSKS mengimbau umat Islam agar tidak mudah terprovokasi dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Masyarakat juga diminta tidak terlibat dalam tindakan anarkis, kekerasan, perusakan fasilitas umum, provokasi, fitnah, maupun tindakan lain yang dapat menimbulkan kerusakan dan keresahan.

Selain itu, DSKS mengajak para tokoh agama, ulama, pemerintah, aparat keamanan, serta seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menyikapi berbagai persoalan.

“DSKS mengajak para tokoh agama, ulama, pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan dialog dan musyawarah, serta menjaga persatuan dan keamanan masyarakat,” demikian salah satu poin dalam pernyataan sikap tersebut.

DSKS juga menyerukan kepada pemerintah dan lembaga negara agar mendengar aspirasi rakyat dengan sungguh-sungguh serta memberikan ruang yang sehat bagi kritik dan pengawasan masyarakat.

Pemerintah dan lembaga negara juga didorong mengambil langkah nyata dalam pemberantasan korupsi dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Di sisi lain, DSKS menegaskan bahwa lembaga tersebut tidak berada pada posisi sebagai pendukung ataupun penolak kelompok atau aksi tertentu.

“DSKS tidak berada pada posisi sebagai pendukung ataupun penolak kelompok atau aksi tertentu, tetapi mengambil posisi untuk mendukung kebenaran, keadilan, kemaslahatan umat dan bangsa, serta menolak segala bentuk kezaliman, korupsi, provokasi dan kerusakan,” pungkas Ustadz Abdul Rochim.

Melalui pernyataan tersebut, DSKS berharap aspirasi masyarakat terkait pemberantasan korupsi dan penegakan hukum dapat disampaikan secara konstruktif. Pada saat yang sama, pemerintah diharapkan merespons kritik dan aspirasi masyarakat dengan langkah nyata dalam mewujudkan keadilan, penegakan hukum, dan kemaslahatan bersama.

Pesantren DQS Al Azhar Internasional Hadir di Karanganyar, Padukan Standar Al-Azhar Kairo dan MAN Insan Cendekia

KARANGANYAR (jurnalislam.com)– Pesantren DQS Al Azhar Internasional yang berlokasi di Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, disiapkan sebagai lembaga pendidikan Islam berstandar internasional yang memadukan sistem pendidikan Al-Azhar Kairo, Mesur dengan standar pendidikan nasional melalui model Madrasah Aliyah (MA) Insan Cendekia.

Salah satu pendiri Pesantren DQS Al Azhar Internasional, Drs. HM Adib Ajiputra, MM, mengatakan gagasan pendirian pesantren tersebut telah dirintis sejak sekitar tiga tahun lalu. Gagasan itu lahir dari kerja sama Pesantren Darul Quran Surakarta dan Yayasan Alif Tsalatsah Istiqomah.

“Jadi, ide awal latar belakang pendirian Pesantren DQS Al-Azhar Internasional dan Madrasah Aliyah DQS Al-Azhar Insan Cendekia. Ini idenya 3 tahun yang lalu, kami dari Pesantren Darul Quran Surakarta bersama dengan Yayasan Alif Tsalatsah Istiqomah punya keinginan, punya cita-cita untuk mendirikan pesantren yang punya standar internasional, yang mana yang bisa langsung kerja sama dengan Al-Azhar Kairo,” katanya kepada wartawan saat menggelar jumpa pers di Kotabarat, Surakarta pada Rabu, (26/8/2026).

Menurut Drs. Adib yang juga Ketua Yayasan DQS tersebut, pendidikan formal yang dikembangkan juga diarahkan memiliki standar nasional yang kuat dengan menjadikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia sebagai salah satu rujukan.

“Lalu yang kedua, untuk pendidikan formalnya, juga yang punya standar nasional yang cukup baik, yang terbaik di Indonesia. Dalam hal ini adalah MAN Insan Cendekia. Dan alhamdulillah, dengan berbagai perjuangan, alhamdulillah bisa terlaksana, kita bisa kerja sama dengan Al-Azhar Kairo dan juga dengan sesama dengan MAN Insan Cendekia,” ungkapnya.

Didukung Kementerian Agama

Drs. Adib mengatakan pengembangan lembaga pendidikan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Agama. Hal itu ditandai dengan kehadiran Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama dalam peletakan batu pertama pembangunan pesantren.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Pendidikan Islam turut didampingi Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah Dr. H. Saiful Mujab, M.A. dan Kepala MAN Insan Cendekia Pekalongan.

Pada peletakan batu pertama yang berlangsung 14 Juni 2026, pihak pengelola juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan MAN Insan Cendekia Pekalongan yang diketahui oleh Dirjen Pendidikan Islam.

“Dan pada saat peletakan batu pertama, tanggal 14 Juni yang lalu, itu kita langsung tanda tangan MoU, dan MoU dengan MAN Insan Cendekia Pekalongan dan diketahui oleh Bapak Dirjen. Sejak itu, maka kita langsung mengadakan rapat kerja selama 3 hari untuk menyusun rencana kerja dan juga mengadakan workshop di Pekalongan, MAN Insan Cendekia Pekalongan, untuk menyusun materi kurikulum yang nanti akan dilaksanakan,” katanya.

Bangun Kampus di Lahan 8.000 Meter Persegi

Pembangunan pesantren telah dimulai sejak 14 Juni 2026. Pada tahap pertama, pembangunan dilakukan di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi. Ke depan, pengelola menargetkan pengembangan lahan hingga sekitar tiga hektare.

“Lalu yang ketiga, alhamdulillah, untuk pembangunan sudah kita mulai sejak tanggal 14 Juni yang lalu. Di atas lahan tahap pertama ini memang kurang lebih ada 8.000 meter. Nanti menyusul tahap berikutnya. Total nanti memang kita punya keinginan memiliki lahan kurang lebih 3 hektar. Dengan fasilitas sarana prasarana yang sesuai dengan standar dari MAN Insan Cendekia Pekalongan dan Al-Azhar,” ujarnya.

Pada tahap awal, Pesantren DQS Al Azhar Internasional akan menerima 100 santri setiap angkatan, terdiri dari 50 santri putra dan 50 santri putri. Dengan masa pendidikan tiga tahun, kampus pertama ditargetkan menampung hingga 300 santri.

Drs. Adib menjelaskan penerimaan santri akan dilakukan melalui tiga jalur, yakni jalur prestasi, jalur Insan Cendekia, dan jalur mandiri.

Jalur prestasi diperuntukkan bagi siswa yang memiliki prestasi tingkat nasional, termasuk olimpiade dan kejuaraan nasional. Siswa yang memenuhi kriteria tersebut berkesempatan memperoleh beasiswa.

Jalur kedua mengikuti seleksi nasional Insan Cendekia. Sementara jalur mandiri diperuntukkan bagi calon santri dari SMP negeri maupun SMP Islam di seluruh Indonesia yang tidak mengikuti jalur Seleksi Nasional Insan Cendekia.

Gunakan Nama AZHARIKA International Islamic College

Pesantren DQS Al Azhar Internasional ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2027/2028. Penerimaan calon santri direncanakan dibuka pada Oktober 2026, dengan proses seleksi pada awal Januari dan penutupan seluruh proses penerimaan pada 30 Januari.

“Lalu kapan akan dimulai? Tahun ajaran baru 2728, secara resmi nanti akan dimulai, sekaligus peresmian dari Pesantren DQS Al Azhar internasional, sekaligus Madrasah Aliyah Al-Azhar Insan Cendekia. Dan ini untuk namanya kita namakan dengan AZHARIKA. International Islamic College. jadi biar namanya itu menancap kepada seluruh masyarakat,” jelasnya.

Menurut Drs. Adib, nama AZHARIKA merupakan singkatan dari Al-Azhar Insan Cendekia dan dirancang agar mudah dikenal, khususnya oleh generasi muda.

“Wabil khusus bagi Gen Z dan Gen Alpha ya. Maka kita namakan AZHARIKA itu singkatan dari Al-Azhar Insan Cendekia. International Islamic College karena ini sekolah atau boarding atau pesantren yang punya standar internasional,” ungkapnya.

Guru Dipersiapkan melalui Pelatihan

Selain menyiapkan kurikulum dan sarana pendidikan, pengelola juga mempersiapkan sumber daya manusia. Rekrutmen guru dan asatidz dijadwalkan dilakukan pada September 2026.

Para pengajar nantinya akan mengikuti program magang di MAN Insan Cendekia Pekalongan dan mendapatkan pembinaan dari Syaikh yang berasal dari Al-Azhar Kairo.

“Jadi bulan September sudah semua datang dan itu akan mengajar kepada seluruh ustadz-ustadz, asatidz kita untuk mempersiapkan diri, sehingga begitu tahun ajaran baru mereka semua sudah siap untuk menjalankan materi kurikulum yang punya standar yang sangat tinggi. Istilahnya itu istilah Dirjen ini menggabungkan dua kutub yaitu kutub Mesir sama kutub Indonesia,” paparnya.

Drs. Adib berharap perpaduan dua sistem pendidikan tersebut dapat melahirkan generasi yang memiliki kualitas akademik dan keislaman yang kuat.

“Ini Bobot materi ini memang cukup tinggi. Sehingga memang kita harapkan nanti menghasilkan generasi-generasi penerus pemimpin masa depan yang berkualitas,” katanya.

Kerja Sama dengan Al-Azhar Kairo

Drs. Adib juga menyampaikan bahwa proses kerja sama dengan Al-Azhar Kairo telah memasuki tahap persetujuan prinsip. Selanjutnya, perwakilan dari Kedutaan Besar dijadwalkan datang pada September sebelum proses MoU dilanjutkan di Kairo.

“Al-Azhar Kairo ini surat persetujuan prinsip sudah turun. Lalu bulan September dari kedutaan akan datang. Lalu nanti disusul MoU-nya nanti di Kairo,” terangnya.

Ia menegaskan Pesantren DQS Al Azhar Internasional membawa tagline “Quranic, Berprestasi, Mendunia”. Tagline tersebut menjadi gambaran visi lembaga dalam menyiapkan generasi Qurani yang memiliki prestasi dan wawasan internasional.

“Otomatis memang kita branding kita, tagline kita adalah quranic, berprestasi, mendunia. Jadi, menghasilkan generasi-generasi qurani yang punya prestasi, yang mencetak ulama-ulama tidak hanya untuk ulama Indonesia, tapi untuk dakwah kita ke seluruh dunia,” pungkasnya.

Dengan konsep tersebut, Pesantren DQS Al Azhar Internasional di Matesih, Karanganyar, diharapkan menjadi lembaga pendidikan yang memadukan pendidikan Al-Qur’an, prestasi akademik, dan wawasan internasional untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas.

 

Bekali Orang Tua, Mahasiswa KKN UMTAS Desa Binangun B Gelar Seminar Parenting

BANJAR (jurnalislam.com)— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) Desa Binangun B menggelar Seminar Parenting di Pesantren Darul Istiqomah, Banjar, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Mendampingi Tumbuh Kembang Anak dengan Cinta, Keteladanan dan Kesabaran” tersebut diikuti oleh orang tua siswa dan siswi SDN 2 Binangun serta MI Binangun.

Seminar berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai dengan menghadirkan Ibu Isnaeni Khairul Bariyyah, M.Pd., Konsultan Pendidikan INSIGHTA Consulting Bandung, sebagai pemateri.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN UMTAS Desa Binangun B dalam menghadirkan program edukatif yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penguatan peran orang tua dalam proses pendidikan dan tumbuh kembang anak.

Di hadapan para peserta, Ibu Isnaeni selaku pemateri mengajak para orang tua untuk memahami bahwa pengasuhan bukan sekadar upaya mendisiplinkan anak, tetapi merupakan proses panjang dalam membentuk karakter dan kepribadian anak melalui kasih sayang, komunikasi yang baik, keteladanan, serta kesabaran.

“Anak adalah amanah. Untuk mendidiknya, kita membutuhkan ilmu, kesabaran, kasih sayang, dan kelemahlembutan. Karena membentuk karakter anak bukanlah proses yang instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan keteladanan dari orang tua,” tegasnya.

Seminar tersebut juga menjadi ruang dialog antara orang tua dan pemateri. Peserta mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan maupun berbagi pengalaman seputar pola asuh dan tantangan yang dihadapi dalam mendampingi anak di lingkungan keluarga.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Ikhwan Asyidiki, mengatakan bahwa seminar parenting dipilih karena keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Ikhwan Asyidiki, mengatakan bahwa seminar parenting dipilih karena keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan bekal kepada para orang tua dalam menjalankan peran pengasuhan secara tepat, sehingga dapat mendukung tumbuh kembang anak sekaligus membentuk karakter dan kebiasaan yang baik sejak dini,” ucapnya.

Menurut Ikhwan, kegiatan tersebut juga merupakan bentuk kontribusi mahasiswa KKN kepada masyarakat Desa Binangun melalui program yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diharapkan memberikan manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehadiran orang tua siswa dan siswi dari SDN 2 Binangun dan MI Binangun menunjukkan adanya perhatian masyarakat terhadap pentingnya pola pengasuhan dan pendidikan anak. Antusiasme peserta turut mewarnai jalannya kegiatan hingga sesi diskusi berakhir.

Melalui Seminar Parenting ini, mahasiswa KKN UMTAS Desa Binangun B berharap terbangun kesadaran bersama bahwa proses mendidik anak merupakan tanggung jawab yang membutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi salah satu rangkaian pengabdian mahasiswa KKN UMTAS Desa Binangun B selama berada di tengah masyarakat, dengan membawa semangat untuk menghadirkan program yang edukatif, relevan dan memberikan dampak positif bagi warga.

81 Tahun Merdeka: Sudahkah Rakyat Benar-Benar Merasakan Kemerdekaan?

Oleh: Rika Arlianti DM

17 Agustus 2026, Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaannya. Bendera merah putih berkibar di berbagai penjuru negeri, lagu kebangsaan menggema, dan berbagai perayaan digelar untuk memperingati hari bersejarah tersebut.

Namun, di tengah semarak perayaan, ada pertanyaan yang layak diajukan: “Setelah 81 tahun merdeka, sudahkah seluruh rakyat Indonesia benar-benar merasakan kemerdekaan?”

81 tahun, tentu bukan lagi usia sebuah negara yang sedang belajar berdiri. Delapan puluh satu tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menilai apakah cita-cita kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945—melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan keadilan sosial—benar-benar dijalankan.

Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap kemajuan Indonesia. Banyak pembangunan telah dilakukan dan berbagai sektor mengalami perkembangan. Tetapi pemerintah juga tidak boleh menjadikan pembangunan sebagai alasan untuk berhenti mendengar suara rakyat.

Sebab, pembangunan yang megah kehilangan makna ketika masih ada rakyat yang merasa tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Jalan dan gedung boleh berdiri, teknologi boleh berkembang, tetapi pertanyaan paling mendasar tetap harus dijawab: “Apakah kehidupan rakyat semakin layak atau sebaliknya?”

Kemerdekaan seharusnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau banyaknya proyek yang berhasil dibangun. Namun, ukuran keberhasilan pemerintah yang paling penting adalah seberapa jauh kebijakan negara mampu meningkatkan kualitas hidup rakyat.

Kemerdekaan harus terlihat dari kemampuan seorang anak untuk memperoleh pendidikan yang baik tanpa dibatasi tempat lahirnya, kemampuan seorang kepala keluarga mendapatkan pekerjaan yang layak, kemampuan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang manusiawi, serta adanya kepastian bahwa hukum berlaku secara adil.

Pemerintah Harus Berani Bercermin

Pada usia 81 tahun, pemerintah harus berani melakukan evaluasi, bukan sekadar menyampaikan klaim keberhasilan.

Masih adanya ketimpangan, kemiskinan, pengangguran, korupsi, buruknya pelayanan publik, dan kesenjangan pembangunan menunjukkan bahwa pekerjaan rumah negara masih sangat besar. Pemerintah tidak boleh hanya sibuk membangun citra keberhasilan, sementara kritik dari masyarakat dianggap sebagai gangguan.

Rakyat tidak membutuhkan pemerintah yang hanya pandai berbicara tentang keberhasilan. Rakyat butuh pemerintah yang mampu membuktikan keberhasilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ada beberapa hal yang layak disuarakan pada momentum kemerdekaan ini.

Pertama, pemerintah harus memperkuat pemerataan pendidikan. Jangan biarkan kualitas pendidikan ditentukan oleh alamat tempat seseorang dilahirkan atau kemampuan ekonomi keluarganya. Negara memiliki kewajiban memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama.

Kedua, pemerintah harus menciptakan lapangan kerja yang nyata dan layak. Rakyat tidak cukup diberi slogan tentang pertumbuhan ekonomi. Mereka membutuhkan pekerjaan dengan penghasilan yang mampu menopang kehidupan keluarga dan memberikan masa depan yang lebih baik.

Ketiga, pemberantasan korupsi harus menjadi komitmen yang serius. Jangan sampai korupsi hanya keras dibicarakan ketika menjadi berita, tetapi lemah ketika berhadapan dengan kepentingan politik dan kekuasaan.

Uang negara adalah uang rakyat. Setiap rupiah yang disalahgunakan berarti mengambil sesuatu yang seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat. Karena itu, pemberantasan korupsi harus dilakukan secara serius, transparan, dan tanpa pandang bulu.

Keempat, pemerintah harus berhenti menganggap kritik sebagai ancaman. Sejatinya, kritik bukan berarti membenci pemerintah. Sebaliknya, dalam negara demokrasi, kritik adalah bentuk kontrol masyarakat terhadap kekuasaan. Pemerintah justru harus membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat, pers, akademisi, mahasiswa, dan kelompok sipil untuk menyampaikan kritik tanpa rasa takut.

Sebab pemerintah yang kuat bukanlah pemerintah yang tidak pernah dikritik, melainkan pemerintah yang mampu mendengarkan kritik, mengevaluasi kebijakan, dan memperbaiki kesalahan.

Kelima, pembangunan harus berpihak kepada rakyat, bukan hanya mengejar angka dan pencitraan. Setiap proyek pemerintah harus dapat dipertanggungjawabkan manfaatnya. Pertanyaan yang harus selalu diajukan bukan hanya berapa besar anggaran yang dihabiskan, tetapi siapa yang mendapatkan manfaat dan apakah rakyat benar-benar membutuhkannya.

Selain itu, pembangunan harus merata. Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan hanya Pulau Jawa, dan bukan hanya kota-kota besar. Masyarakat di daerah juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, konektivitas digital, serta kesempatan ekonomi.

Jangan Hanya Menuntut Rakyat untuk Bersabar

Ada kecenderungan dalam setiap persoalan: rakyat diminta bersabar, memahami keadaan, dan ikut berkorban demi pembangunan. Tentu masyarakat memiliki tanggung jawab terhadap negara. Tetapi pemerintah juga harus ingat bahwa kekuasaan bukanlah hak istimewa.

Kekuasaan adalah amanah.

Ketika rakyat membayar pajak, pemerintah menerima tanggung jawab. Ketika rakyat memberikan suara dalam pemilu, pemerintah mendapatkan mandat. Maka, sudah sewajarnya rakyat meminta pertanggungjawaban atas kebijakan yang dibuat atas nama mereka.

Jangan sampai nasionalisme hanya dituntut dari rakyat ketika pemerintah membutuhkan dukungan. Nasionalisme juga harus ditunjukkan oleh penyelenggara negara melalui kejujuran, keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan umum, dan kesediaan mengoreksi kebijakan yang terbukti merugikan masyarakat.

Merdeka Bukan Berarti Negara Bebas dari Kritik

Justru karena Indonesia telah merdeka, rakyat harus memiliki keberanian untuk berbicara.

Mengkritik pemerintah bukan berarti tidak mencintai Indonesia. Menuntut keadilan bukan berarti anti-pemerintah. Mempertanyakan penggunaan anggaran bukan berarti menghambat pembangunan.

Cinta kepada negara tidak boleh diukur dari seberapa sering seseorang memuji pemerintah. Cinta kepada negara juga dapat diwujudkan dengan keberanian mengingatkan ketika kekuasaan mulai menjauh dari kepentingan rakyat.

Pada akhirnya, HUT RI ke-81 seharusnya tidak berhenti pada seremonial semata. Bendera merah putih memang harus dikibarkan setinggi-tingginya, tetapi cita-cita kemerdekaan juga harus ditegakkan setinggi-tingginya.

Indonesia tidak kekurangan slogan. Indonesia membutuhkan keberanian untuk melakukan pembenahan.

Pemerintah harus berani mengevaluasi diri. Pejabat harus berani mempertanggungjawabkan kebijakannya. Masyarakat harus berani mengawasi. Dan seluruh elemen bangsa harus berani mengatakan bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya selesai selama masih ada rakyat yang merasa tidak mendapatkan keadilan.

81 tahun Indonesia merdeka seharusnya bukan sekadar alasan untuk berkata “kita sudah maju”. Ini adalah momentum untuk bertanya lebih keras: maju untuk siapa, pembangunan untuk siapa, dan kemerdekaan sebenarnya dirasakan oleh siapa?

Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa meriah ia merayakan kemerdekaan, tetapi oleh seberapa adil negara memperlakukan rakyatnya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka untuk rakyat, bukan sekadar untuk seremoni.

Mahasiswa KKN UMTAS Gelar Deklarasi Anti-Perundungan di SDN 2 Binangun

BANJAR (jurnalislam.com)— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) Desa Binangun B menggelar kegiatan Deklarasi Anti-Perundungan di SDN 2 Binangun, Senin (10/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh siswa kelas IV hingga VI sebagai bagian dari program utama KKN UMTAS Desa Binangun B.

Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, ramah anak, serta bebas dari segala bentuk perundungan atau bullying.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memberikan edukasi mengenai pengertian perundungan, berbagai bentuk perundungan, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Para siswa juga diajak memahami pentingnya saling menghargai, membangun empati, dan berani menolak segala bentuk tindakan perundungan.

Selain materi tentang anti-perundungan, mahasiswa KKN juga menghadirkan tayangan edukatif mengenai pentingnya berbakti kepada orang tua dan tetap memiliki semangat untuk menempuh pendidikan meskipun menghadapi berbagai keterbatasan dan kesulitan.

Melalui tayangan tersebut, siswa diajak melakukan refleksi dan mendapatkan afirmasi positif. Suasana haru pun mewarnai kegiatan. Sejumlah siswa terlihat menangis setelah teringat perjuangan mereka dalam menempuh pendidikan, pengorbanan orang tua, serta merefleksikan berbagai kesalahan atau perbuatan kurang baik yang pernah dilakukan.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, para siswa kemudian menandatangani banner deklarasi sebagai bentuk komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Komitmen tersebut tidak hanya ditujukan untuk lingkungan sekolah, tetapi juga diterapkan di rumah dan lingkungan sekitar.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Ikhwan Asyidiki, mengatakan bahwa deklarasi tersebut merupakan langkah preventif untuk membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan.

“Pelaksanaan deklarasi anti-perundungan bagi siswa SDN 2 Binangun merupakan langkah preventif untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan. Deklarasi ini diharapkan menjadi komitmen bersama dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak serta mendukung setiap siswa untuk belajar, berkembang, dan berprestasi tanpa rasa takut,” ujar Ikhwan Asyidiki.

Menurut Ikhwan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada deklarasi dan penandatanganan banner, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan siswa, guru, dan orang tua dinilai penting untuk menumbuhkan sikap saling menghargai, empati, serta keberanian untuk menolak dan mencegah segala bentuk perundungan.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari pihak SDN 2 Binangun. Kepala SDN 2 Binangun, Jani Rusdiana, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan program yang digagas mahasiswa KKN UMTAS tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat mendukung dan menyambut baik kegiatan Deklarasi Anti-Perundungan di SDN 2 Binangun yang diadakan oleh mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, sekolah dapat terbebas dari segala bentuk bullying dan tercipta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman,” ujar Jani Rusdiana.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UMTAS Desa Binangun B berharap semangat anti-perundungan dapat terus tumbuh di lingkungan SDN 2 Binangun. Deklarasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak, menjunjung tinggi rasa saling menghormati, serta memberikan ruang yang aman bagi setiap siswa untuk belajar, berkembang, dan meraih prestasi tanpa rasa takut.

Reporter: Muhammad Rifqi

Semangat Kemerdekaan dan Ruhul Jihad Warnai Upacara HUT RI ke-81 di Pondok Ngruki

SUKOHARJO (jurnalislam.com)– Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Pondok Pesantren Islam Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, berlangsung khidmat dan tertib pada Senin (17/8/2026).

Upacara tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar pondok untuk mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus menanamkan semangat pengabdian, kedisiplinan, dan tanggung jawab kepada para santri.

Rangkaian upacara berlangsung dengan tertib sejak awal. Para santri yang bertugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) menjalankan tugasnya dengan disiplin dan penuh tanggung jawab. Barisan santri juga mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat.

Dalam amanatnya sebagai inspektur upacara, Ustadz Muzayin mengajak para santri untuk melanjutkan semangat perjuangan para pahlawan dan syuhada. Menurutnya, perjuangan generasi saat ini tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui ilmu, pengabdian, dan kontribusi kepada masyarakat.

Semangat patriotisme dan ruhul jihad, kata dia, perlu diwujudkan dalam upaya menjaga nilai-nilai kebenaran, menuntut ilmu, membangun umat, menjaga persatuan, serta memberikan kontribusi terbaik bagi agama, bangsa, dan negara.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui proses panjang yang diwarnai perjuangan dan pengorbanan. Karena itu, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan melalui ilmu, amal, akhlak, kedisiplinan, dan pengabdian.

Peringatan HUT RI ke-81 tersebut turut dihadiri sejumlah pimpinan dan keluarga besar Pondok Pesantren Islam Al Mukmin. Di antaranya Muassis Pondok, Kiai Abu Bakar Baasyir; Ketua Pembina Yayasan Ustadz Drs. H. Taufiq Usman beserta anggota pembina Ustadz Abdurrahim Baasyir; Pengawas Yayasan Ustadz H. Muhammad Sholeh Ibrahim dan Ustadz Dr. Drs. Isfihani Markazi; Ketua Yayasan Ustadz Yahya Abdurrahman beserta jajaran; serta Mudir Pondok Ustadz H. Munir, S.Ag., M.E. beserta jajarannya, Ustadz Shofa Hidayat dan Ustadz Muchson.

Turut hadir pula para asatidzah yang mengikuti rangkaian upacara bersama para santri.

Kehadiran pimpinan dan para asatidzah tersebut menjadi bagian dari kebersamaan keluarga besar Pondok Pesantren Islam Al Mukmin dalam memperingati momentum kemerdekaan sekaligus menguatkan komitmen bersama dalam mendidik generasi.

Usai upacara, kebersamaan dilanjutkan dengan sarapan bersama para asatidzah. Hidangan soto menjadi menu yang menemani suasana keakraban setelah seluruh rangkaian upacara selesai.

Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai perjuangan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengabdian diharapkan terus tumbuh dalam diri para santri sebagai generasi penerus.

Dengan semangat kemerdekaan, keluarga besar Pondok Pesantren Islam Al Mukmin berharap para santri dapat terus menuntut ilmu, memperbaiki diri, berkhidmat kepada umat, serta memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan negara.