Ramai Namun Kesepian, Potret Kelam Generasi Di Sistem Kapitalisme Sekuler

Oleh: Amila

Beberapa waktu belakangan ini ramai pemberitaan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh anak muda. Di sebuah universitas negeri di Malang, seorang mahasiswa melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari gedung lantai enam kampusnya. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit karena terluka cukup parah. Di Jakarta, seorang pemuda laki-laki mengunggah kisah pilu pertemanannya yang kemudian diketahui menjadi motif dari aksi bunuh diri yang dilakukannya.

Dua kejadian ini menambah sederet kejadian yang kian waktu rasanya terus bertambah. Motifnya macam-macam, stres, depresi, hingga gangguan mental karena tekanan ekonomi, pekerjaan, perundungan, kekerasan seksual dan lainnya yang berujung pada keputusasaan.

Hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat, klien didominasi kelompok usia 21–30 tahun, yang menunjukkan krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda.

Masa muda, masa yang berapi-api. Pada masa inilah umumnya seseorang menjalani kegiatan-kegiatan penuh karya, kreasi, dan prestasi. Namun sayangnya, akhir-akhir ini kita diperlihatkan oleh maraknya kasus bunuh diri pada kalangan generasi muda. Jika suatu peristiwa sudah menjelma menjadi fenomena yang masif terjadi, tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai masalah gangguan psikologis individu semata. Sebab yang terjadi merupakan hasil dari problematiknya sistem yang berakar pada nilai-nilai sekuler kapitalisme di berbagai lini kehidupan.

Pada hakikatnya, sekulerisme adalah ide di mana agama harus dipisahkan dari kehidupan. Hal ini berimplikasi pada tatanan kehidupan yang pengaturannya diserahkan pada akal manusia. Sekulerisme membuat penghayatan manusia atas misi penciptaannya menjadi tereduksi menjadi keduniawian semata. Standar kebahagiaan diukur melalui pencapaian materi.

Tidak heran jika akhirnya standar ini membuat manusia mudah berputus asa saat upayanya gagal dan hasilnya tidak sesuai harapan. Merasa hidup hancur dan selesai jika cita-cita gagal diraih. Mudah pula terpengaruh oleh apa yang didapatkan oleh orang lain, hingga akhirnya tumbuh dalam dirinya sifat kurang bersyukur. Jauh dari nilai agama, membuat akidah pun menjadi lemah.

Tanpa pilar akidah yang kokoh, generasi muda tumbuh dengan rapuhnya ketahanan mental dan ketiadaan sikap tawakal yang benar kepada Allah. Akibatnya, saat menghadapi dinamika persoalan hidup, mereka mudah tertekan, berputus asa, dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Kapitalisme sekuler juga menghasilkan pribadi-pribadi yang individualis. Masing-masing sibuk memikirkan dirinya sendiri dalam mencapai keinginan dan harapannya. Cenderung enggan memikirkan orang lain dan melakukan intervensi karena itu berarti mengganggu privasi. Kepentingan pribadi dan kelompok lebih diperhatikan dibandingkan kepentingan khalayak ramai. Ujungnya, tidak terhimpun sikap saling tolong menolong antar sesama. Hal ini juga bisa menyebabkan seseorang yang sedang mengalami kesulitan hidup menjadi amat berat dan payah dalam menjalaninya, sebab tidak mendapatkan support system yang baik.

Aksi bunuh diri juga kerap terjadi dengan motif stres sebab sistem pendidikan yang tidak memanusiakan. Sekulerisme tidak hanya tertanam pada diri tiap individu, tapi juga dalam sistem pendidikan saat ini. Pendidikan dalam sistem sekuler tidak dirancang untuk membentuk kepribadian beriman dan berakhlak mulia, melainkan sekadar mengejar capaian akademik dan menghasilkan tenaga kerja bagi industri. Beban akademik yang berat, ambisi untuk melampaui target-target pribadi, serta tingginya biaya pendidikan yang juga pasti membebani pikiran dan mampu memicu stres. Belum lagi jika kita bicara fenomena perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Negara sebagai pelindung rakyatnya juga punya andil dalam maraknya kasus bunuh diri. Negara telah abai dalam melakukan penjagaan jiwa. Pembangunan oleh negara dalam sistem sekuler-kapitalis berfokus pada materi dan ekonomi, sementara pembinaan mental serta ketahanan jiwa generasi terabaikan. Bagaikan cincin, satu sistem akan memengaruhi sistem lainnya. Saat negara tidak mampu memberikan pelayanan terbaik bagi rakyatnya, malah justru dibiarkan mengurus dirinya sendiri, kepenatan dan kesempitan hidup lah yang dirasa akhirnya.

Setelah ditelaah bahwa sebab utama maraknya kasus bunuh diri adalah sistem, maka solusinya pun harus bersifat sistemik dan paripurna, bukan sekadar penanganan gejala di permukaan. Islam memberikan panduan komprehensif yang melibatkan berbagai pihak, baik individu, keluarga, pendidikan, masyarakat, hingga negara.

Bunuh diri dilarang secara tegas dalam Islam dan termasuk kategori dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang manusia membunuh dirinya sendiri, seperti yang telah difirmankan dalam QS An-Nisa ayat 29, “….Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga menegaskan bahwa pelaku bunuh diri diancam dengan azab neraka yang setimpal dengan cara ia mengakhiri hidupnya.

Bagi individu yang beriman, apa yang dinyatakan dalam dalil Qur’an dan hadits akan selalu dijadikan pertimbangan sebelum perbuatan ia lakukan. Selain itu, ia juga memahami dengan benar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Generasi muda harus terbina agar memiliki pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiah) yang berlandaskan akidah Islam sejak dini.

Dengan begitu akan terbentuk pemahaman bahwa tujuan seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah, bukan hal yang lain. Kemudian, konsep tawakal dan takdir (qada) juga harus dipahami dengan benar. Seseorang akan menilai ujian hidup sebagai suatu hal yang mampu mendewasakan bahkan dapat menggugurkan dosa, disertai keyakinan bahwa Allah pasti memberikan jalan keluar bagi hamba yang bertakwa.

Kehidupan seorang manusia dalam perjalanannya pasti akan menghadapi jalan yang berliku dan berbatu. Namun, jika kondisinya masyarakat terhimpun sebab ikatan akidah, akan saling tolong menolong karena begitulah yang Allah perintahkan. Ketika Islam dipahami dengan benar, keluarga serta kerabat akan berfungsi sebagaimana syari’at menetapkan soal perwalian dan pengasuhan yang di dalamnya juga terdapat kewajiban pemenuhan nafkah. Kepedulian yang terbentuk dari rasa ukhuwah dan persaudaraan ini tentu akhirnya akan amat membantu seseorang dalam menghadapi persoalannya dan tidak merasa sendiri.

Terakhir, negara harus berfungsi sebagai pelindung jiwa (raa’in) melalui berbagai kebijakan yang dilahirkan. Misalnya, sistem pendidikan yang saat ini dirasa harus juga dibenahi, utamanya dari sisi landasan dimana sistem pendidikan itu berdiri. Kurikulum pendidikan berlandaskan Islam disusun dalam rangka menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah (abdullah) dan pengelola bumi (khalifah).

Bukan sekadar mengejar standar capaian materi dan prestasi akademik duniawi saja. Sehingga ketika kemungkinan mengalami kegagalan dalam target akademik, seseorang tetap akan semangat menjalani proses pendidikannya, karena kegemilangan pencapaian bukan tujuan utamanya. Di sisi lainnya dari segi pembiayaan pendidikan, negara menjamin pembiayaan pendidikan yang terjangkau bagi seluruh peserta didik.

Pos penopang pembiayaan pendidikan dalam sistem ekonomi Islam bisa bersumber dari misalnya, fai, kharaj, dan pengelolaan sumber daya alam. Adanya pos pemasukan negara yang sudah ditetapkan oleh syariat ini mengeliminasi beban finansial pada tiap individu, seperti biaya UKT yang terlampau mahal. Fakta berbicara, tidak sedikit pelajar atau mahasiswa yang mengalami stres hingga depresi disebabkan oleh sulitnya pemenuhan biaya pendidikan.

Kapitalisme sekuler sebagai sebuah sistem kehidupan telah gagal menjamin kesejahteraan, keselamatan, dan terjaganya jiwa manusia. Saatnya berganti pada sistem Islam yang lahir dari akidah Islam, tata aturannya bersumber dari quran dan sunnah, yang Allah jamin dalam penerapannya akan memberikan banyak maslahat bagi kehidupan manusia. Wallahua’lam bishshawab.

Jangan Hidup seperti Lebah

Oleh: Arni Susanti Salmi

Lebah adalah salah satu makhluk yang paling istimewa, terlebih lebah yang menghasilkan madu. Kita mengetahui bahwa lebah bahkan disebutkan dalam Al-Quran dan memiliki satu surah khusus yang diberi nama An-Nahl, yang berarti lebah.

Allah berfirman:

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Terjemahan: “Kemudian makanlah dari segala buah-buahan, lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perutnya keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 69).

Namun, dalam kehidupan sehari-hari di dalam koloni lebah, ada kehidupan yang justru tidak layak untuk ditiru oleh kalangan manusia.

Dalam koloni lebah, yang memiliki peran aktif untuk bekerja adalah lebah betina. Lebah betina menjalankan berbagai pekerjaan di dalam maupun di luar sarang, sementara dalam koloni terdapat seekor ratu sebagai pusat reproduksi koloni.

Sementara itu, lebah jantan memiliki peran yang berbeda. Ia tidak bekerja seperti lebah pekerja, tidak mencari makanan untuk koloni, dan hidup dengan mengandalkan persediaan makanan yang tersedia di dalam sarang. Peran utamanya adalah membuahi ratu.

Namun, dalam sebuah koloni, jumlah ratu sangat terbatas. Setelah ratu berhasil dibuahi, lebah jantan tidak lagi memiliki peran reproduksi yang sama dalam kehidupan koloni. Pada kondisi tertentu, terutama ketika sumber makanan terbatas, lebah jantan bahkan dapat dikeluarkan dari sarang.

Di sinilah kita bisa mengambil sebuah pelajaran sebagai perumpamaan bagi kehidupan manusia.

Kembali kepada kehidupan kita sebagai manusia, sebagaimana judul di atas, “Jangan hidup seperti lebah”.

Apa jadinya jika kehidupan manusia seperti kehidupan lebah, di mana yang bekerja dan menjalankan sebagian besar tugas justru perempuan, sementara laki-laki hanya tinggal menikmati hasil dan tidak mau mengambil tanggung jawab?

Maka muncullah istilah yang sering kita dengar pada zaman sekarang, yaitu “mokondo” laki-laki yang hidup dengan mengandalkan perempuan, tetapi tidak menjalankan tanggung jawab sebagaimana mestinya.

Namun kenyataannya, di zaman ini justru kita melihat sebagian laki-laki yang mulai bergeser dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Mereka semakin kurang menjalankan peran qowwam dalam keluarga. Bahkan dalam sebagian rumah tangga, yang seharusnya menjadi tulang rusuk justru harus mengambil peran sebagai tulang punggung.

Padahal, dalam tatanan kehidupan keluarga, laki-laki memiliki tanggung jawab sebagai qowwam dalam keluarganya memimpin, membimbing, melindungi, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.

Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

Terjemahnya: “Laki-laki adalah qowwam atas perempuan…” (QS. An-Nisa: 34)

Ayat ini menunjukkan adanya tanggung jawab kepemimpinan laki-laki dalam keluarga. Menjadi qowwam bukan sekadar sebuah kedudukan, tetapi merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Realita ini seharusnya menjadi sorotan bagi para orang tua: bagaimana mendidik seorang anak laki-laki yang kelak dipersiapkan menjadi seorang pemimpin.

Bagaimana mendidiknya menjadi sosok yang kuat dan bertanggung jawab.

Bagaimana mengajarkannya untuk bekerja keras, memiliki rasa tanggung jawab, mampu melindungi, dan tidak menjadikan orang lain sebagai tempat untuk menggantungkan seluruh kehidupannya.

Dalam agama Islam, laki-laki diberikan amanah kepemimpinan dalam keluarga dengan tanggung jawab yang besar. Allah memberikan kepada manusia kemampuan dan kelebihan yang berbeda-beda, dan laki-laki dibebani tanggung jawab untuk menjadi qowwam dalam keluarganya.

Namun, kepemimpinan bukan berarti kesewenang-wenangan. Kekuatan bukanlah alasan untuk menindas. Dan menjadi qowwam bukan berarti bebas memperlakukan orang yang dipimpinnya sesuka hati.

Di lain kisah, kita pun sering disuguhi dengan berita tentang laki-laki yang melakukan KDRT, baik secara fisik maupun verbal. Tentu, kekuatan yang Allah berikan kepada laki-laki bukanlah untuk menyiksa orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya.

Kekuatan seharusnya menjadi pelindung, bukan alat untuk menyakiti.

Laki-laki yang kuat bukanlah laki-laki yang mampu membuat keluarganya takut.

Laki-laki yang kuat adalah laki-laki yang mampu menjadi tempat berlindung bagi keluarganya.

Karena itu, wahai para orang tua, persiapkanlah anak laki-laki kalian untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.

Dan wahai para pemuda, jadilah laki-laki sejati sebagaimana tanggung jawab yang Allah amanahkan kepadamu.

Jangan menjadi laki-laki yang hanya ingin mendapatkan hak, tetapi melupakan kewajiban. Jangan menjadi laki-laki yang ingin dihormati sebagai pemimpin, tetapi enggan memikul tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

Jadilah laki-laki yang mau bekerja, mau berusaha, mau belajar, mau bertanggung jawab, dan siap menjadi pelindung bagi keluarganya.

Jangan meniru jalan hidup lebah jantan. Karena jika engkau memilih hidup hanya dengan menikmati hasil kerja orang lain tanpa mau memikul tanggung jawab, maka pada akhirnya engkau bisa kehilangan tempat dan kepercayaan dalam kehidupanmu sendiri.

Wahai pemuda, jadilah laki-laki yang kuat, bertanggung jawab, dan amanah.

Bukan laki-laki yang hanya ingin dilayani, tetapi laki-laki yang siap melayani dan melindungi.

Bukan laki-laki yang hanya menuntut untuk dihormati, tetapi laki-laki yang menunjukkan kelayakan untuk dihormati melalui akhlak dan tanggung jawabnya.

Aceh Akhiri Penantian 45 Tahun, Sumsel Rebut Emas Fahmil Qur’an MTQ Nasional 2026

SEMARANG (jurnalislam.com)– Penantian panjang Aceh di cabang Fahmil Qur’an putri akhirnya berakhir di Semarang. Tiga santriwati yang memperkuat Kafilah Aceh tampil sebagai juara pertama Fahmil Qur’an putri pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026. Bagi Aceh, kemenangan itu istimewa. Sejak Fahmil Qur’an masuk dalam cabang resmi MTQ Nasional pada 1981, regu putri Aceh belum pernah meraih posisi tertinggi.

Di sektor putra, sejarah lain juga tercipta. Kafilah Sumatera Selatan berhasil merebut medali emas setelah pada dua MTQ Nasional sebelumnya harus puas sebagai runner-up.

Dua kemenangan itu lahir dari pola pembinaan yang berbeda. Aceh mengandalkan kekompakan tiga santriwati yang bertahun-tahun tumbuh dalam satu pesantren. Sumatera Selatan menghimpun talenta dari sejumlah lembaga pendidikan, kemudian menempa mereka melalui pemusatan latihan panjang.

Tiga Santriwati dari Satu Dayah

Regu putri Aceh diperkuat Azka Dara Maulidya, Kayyisa Farras, dan Izza Mushviya. Ketiganya berasal dari Dayah Insan Qurani, Aneuk Batee, Aceh Besar.

Mereka bukan tim yang baru dipertemukan menjelang MTQ Nasional. Ketiganya telah belajar dan tinggal di lingkungan pendidikan yang sama sejak jenjang Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah.

Kebersamaan itu terlihat saat mereka tampil di arena Fahmil Qur’an di Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Pembagian peran berjalan cair. Ketika salah seorang belum menemukan jawaban, anggota lain segera melengkapi.

Di bawah arahan pelatih Muhammad Riza Nurdin, mereka mempersiapkan beragam materi, mulai hafalan dan sambung ayat, terjemahan tematik, asbabun nuzul, fikih mawaris, hingga wawasan keislaman dan kebangsaan.

Persiapan menuju MTQ Nasional dilakukan sejak Mei 2026. Dalam setiap bulan, tim menjalani sekitar delapan hingga sepuluh hari latihan khusus untuk memperdalam materi dan melakukan simulasi pertandingan.

Ujian berat datang pada semifinal. Aceh berhadapan dengan Jawa Tengah, yang tampil di depan publik sendiri. Kedua tim mengakhiri babak tersebut dengan nilai sama, 1.400 poin. Aceh dan Jawa Tengah kemudian sama-sama berhak melaju ke final bersama Kalimantan Timur dan Jawa Timur.

Pada final, Jumat, 18 September 2026, Aceh menempati Meja A.

Regu Aceh tampil stabil sejak soal paket hingga sesi rebutan. Mereka akhirnya mengumpulkan 1.505 poin, unggul 215 poin atas Kalimantan Timur yang berada di posisi kedua dengan 1.290 poin.

Jawa Tengah menempati posisi ketiga dengan 1.170 poin, sedangkan Jawa Timur berada di posisi harapan pertama dengan 835 poin.
Kemenangan tersebut menutup penantian panjang Aceh sekaligus menjadi momen emosional bagi ketiga peserta.

Bagi Azka Dara Maulidya, MTQ Nasional 2026 bahkan menjadi penampilan pertama sekaligus terakhirnya pada ajang tersebut karena faktor batas usia peserta. Kesempatan yang hanya datang sekali itu berakhir dengan gelar juara nasional.

Di Aceh Besar, keberhasilan mereka juga mendapat dukungan dari keluarga besar Dayah Insan Qurani. Para santri mengikuti perjuangan senior mereka dan memberikan dukungan dari pesantren.

Di Semarang, tangis haru pecah setelah kemenangan dipastikan. Tiga santriwati itu bersujud dan berpelukan setelah perjalanan latihan berbulan-bulan berakhir dengan gelar yang selama puluhan tahun belum pernah diraih Aceh di sektor putri.

Sumsel Akhiri Dua Kali Runner-up

Beberapa jam setelah kemenangan Aceh, final Fahmil Qur’an putra menghadirkan persaingan yang lebih ketat.

Sumatera Selatan berhadapan dengan Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Selisih angka di antara tiga tim teratas sangat tipis hingga akhir pertandingan.
Bagi Sumsel, final di Semarang membawa beban tersendiri.

Pada MTQ Nasional XXIX tahun 2022 di Kalimantan Selatan, regu putra Sumsel menempati posisi kedua. Dua tahun kemudian pada MTQ Nasional XXX tahun 2024 di Kalimantan Timur, mereka kembali pulang dengan medali perak.

Semarang menjadi kesempatan ketiga untuk memutus rentetan tersebut. Persiapan dilakukan dalam waktu panjang. LPTQ Sumatera Selatan menjalankan pembinaan hampir setahun setelah MTQ tingkat provinsi. Latihan dilakukan secara daring dan dilanjutkan dengan karantina intensif menjelang keberangkatan ke Semarang.

Selama karantina, disiplin peserta dijaga ketat.
Ponsel peserta diserahkan kepada ofisial setiap pukul 21.00 WIB agar waktu istirahat tidak terganggu. Disiplin ibadah juga menjadi bagian dari keseharian mereka, termasuk salat Subuh berjamaah.

Namun persiapan panjang itu tidak membuat perjalanan di final berlangsung mulus.
Pada sesi rebutan, regu Sumsel beberapa kali kehilangan poin akibat jawaban yang dinyatakan keliru. Posisi mereka sempat tertinggal dari Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.

Di tengah tekanan itu, para peserta berusaha mengubah cara bermain. Mereka tidak lagi tergesa-gesa memberikan jawaban setelah menekan bel. Beberapa detik digunakan untuk memastikan jawaban di antara anggota tim sebelum disampaikan kepada dewan hakim.
Perlahan Sumsel mengejar.

Saat pertandingan berakhir, Sumatera Selatan mengumpulkan 1.335 poin dan keluar sebagai juara. Kalimantan Timur menyusul dengan 1.270 poin, sementara Jawa Tengah berada sangat dekat di posisi ketiga dengan 1.265 poin.

Sumatera Utara menempati posisi harapan pertama. Setelah dua kali menjadi runner-up, medali emas Fahmil Qur’an putra akhirnya dibawa pulang ke Sumatera Selatan.

Dua Cara Membentuk Tim Juara

Keberhasilan Aceh dan Sumatera Selatan memperlihatkan dua cara pembinaan yang berbeda.

Aceh membangun kekuatan dari satu lingkungan pendidikan. Tiga anggotanya tumbuh bersama di Dayah Insan Qurani sejak usia sekolah, tinggal dalam lingkungan yang sama, belajar bersama, kemudian berkompetisi sebagai satu regu.

Sumatera Selatan menempuh jalur berbeda. Peserta terbaik dari sejumlah lembaga dan pesantren dipertemukan, lalu dibentuk menjadi satu tim melalui pembinaan dan pemusatan latihan yang panjang.

Perbedaan itu tidak menghapus satu kesamaan penting, kedua tim tidak dibentuk secara instan menjelang pertandingan.

Fahmil Qur’an menuntut peserta menguasai bahan yang luas sekaligus mampu mengambil keputusan dalam hitungan detik. Hafalan saja tidak cukup. Peserta harus memahami soal, berkomunikasi dengan anggota tim, menjaga konsentrasi, dan menentukan kapan harus mengambil risiko menekan bel. Final di Semarang memperlihatkan itu dengan jelas.

Aceh datang dengan kekompakan tiga santriwati yang tumbuh dalam satu pesantren dan akhirnya mengakhiri penantian 45 tahun.
Sumatera Selatan datang membawa pengalaman dua kali menjadi runner-up, lalu menebusnya dengan emas pada kesempatan berikutnya.

Dari Auditorium UIN Walisongo Semarang, Aceh pulang membawa gelar Fahmil Qur’an putri pertamanya. Sumatera Selatan pulang dengan medali emas yang gagal mereka raih dalam dua MTQ Nasional sebelumnya.
Bagi para santri yang berdiri di balik dua kemenangan itu, catatan sejarah tersebut lahir dari perjalanan yang jauh lebih panjang daripada beberapa jam pertandingan di atas panggung.

Perkuat Sinergi Pendidikan dan Dakwah, Al Mukmin Ngruki Silaturahmi ke PP Muhammadiyah

YOGYAKARTA (jurnalislam.com)— Pada hari Rabu, (16/9/2026) Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki melakukan kunjungan silaturahmi ke Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Yogyakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat ukhuwah, membangun jejaring kelembagaan, serta membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, dakwah, dan pengembangan sumber daya manusia.

Rombongan Al Mukmin Ngruki yang berjumlah 18 orang dipimpin langsung oleh Mudir Ma’had, KH. Munir, S.Pd., M.E. Turut dalam rombongan Pudir I Ust. Shofa Sudaryanto, M.Pd.I., Pudir II Ust. Muchson, serta jajaran asatidz Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki.

Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Ust. Dr. Jamaludin Prawiro Negoro, Ust. Sumadi, dan Ust. Abdurahman dari PP Muhammadiyah. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan mengenai perkembangan pendidikan Islam dan dakwah di tengah berbagai tantangan zaman.

Membuka Ruang Kolaborasi Pendidikan dan Dakwah

Dalam pertemuan tersebut, Al Mukmin Ngruki dan PP Muhammadiyah membahas sejumlah peluang kerja sama, terutama dalam bidang pendidikan, dakwah, pengembangan SDM, serta berbagai program lain yang dapat disinergikan.

Pihak PP Muhammadiyah menyambut baik kunjungan Al Mukmin Ngruki dan membuka ruang komunikasi untuk pengembangan kerja sama ke depan. Sambutan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara dua lembaga yang sama-sama memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan dakwah Islam.

Mudir Al Mukmin Ngruki, KH. Munir, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan yang diberikan PP Muhammadiyah. Silaturahmi ini diharapkan dapat menjadi awal dari berbagai bentuk kolaborasi yang lebih konkret dan memberikan manfaat yang luas bagi umat.

Jejaring Alumni yang Terus Berkarya

Pertemuan ini juga memiliki makna tersendiri bagi Al Mukmin Ngruki karena hubungan dengan Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui kelembagaan, tetapi juga melalui kiprah para alumni Al Mukmin yang berkontribusi di berbagai bidang.

Di antara alumni yang berkarya di lingkungan dan jaringan Muhammadiyah adalah Dr. Iman Sastra, yang disebut sebagai CEO Bank Syariah Matahari milik Muhammadiyah, serta Dr. Hakimuddin Salim, yang menjadi salah satu Mudir Ma’had ‘Ali Muhammadiyah.

Kiprah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang alumni Al Mukmin Ngruki dalam mengambil peran di tengah masyarakat. Para alumni tersebar di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, dakwah, ekonomi, hingga pengembangan lembaga Islam.

Jejaring alumni tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses pendidikan di pesantren tidak berhenti ketika seorang santri menyelesaikan masa belajarnya. Nilai-nilai, ilmu, dan pengalaman yang diperoleh selama di pesantren diharapkan terus dibawa untuk memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

Dari Silaturahmi Menuju Sinergi

Kunjungan ke PP Muhammadiyah menjadi salah satu langkah Al Mukmin Ngruki dalam memperluas jejaring dan membangun sinergi dengan berbagai lembaga Islam. Komunikasi antarlembaga diharapkan dapat melahirkan program-program bersama yang lebih konkret, khususnya dalam menjawab kebutuhan pendidikan dan dakwah umat.

Dengan semangat ukhuwah dan kolaborasi, Al Mukmin Ngruki berharap silaturahmi ini dapat terus terjaga dan berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi pesantren, Muhammadiyah, para alumni, serta masyarakat secara lebih luas.

Silaturahmi terjalin, jejaring diperkuat, sinergi pendidikan dan dakwah terus dilanjutkan.

Karhutla Berulang, Rakyat Jadi Korban, Hutan Dikuasai untuk Kepentingan Bisnis

Oleh: Guspiyanti
Aktivis Muslimah

Setiap tahun, asap pekat kembali menyelimuti langit Indonesia. Pada 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memicu kabut asap lintas negara dan menurunkan kualitas udara secara drastis. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di Sumatera dan Kalimantan tercatat sekitar 48.889,69 hektar. Warga di Pekanbaru dan beberapa daerah lain terpaksa beraktivitas dengan masker karena udara tidak sehat. Di Papua Tengah, api membakar 396 hektar dan belum padam.

Pemerintah merespon dengan mengerahkan satgas darat sebagai ujung tombak, dibantu helicopter water bombing untuk memadamkan titik api. Presiden bahkan memerintahkan pencabutan izin korporasi yang terbukti terlibat. Namun fakta di lapangan menunjukkan hal lain. Petugas menemukan indikasi bahwa pembakaran sengaja dilakukan untuk membuka lahan perkebunan. Di Kalimantan Timur, 1.260 hektar lahan terbakar dan kebanyakan milik perusahaan.

Pola ini berulang. Api padam, asap hilang, lalu tahun depan muncul lagi.

Akar Masalah Bukan Sekadar Api

Karhutla tidak bisa dilepaskan dari logika kapitalisme yang menempatkan hutan dan lahan sebagai komoditas. Hutan dinilai dari seberapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan. Lewat skema konsesi dan izin usaha, korporasi diberi akses luas untuk mengelola hutan. Ketika harga komoditas naik, pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi “jalan pintas” yang murah dan cepat.

Negara hadir secara reaktif. Fokus penanganan ada pada aspek teknis: menambah satgas, menyewa helikopter, membuat kanal. BMKG menyebut iklim kering efek El Nino sebagai pemicu. Namun sedikit sekali pembenahan terhadap struktur penguasaan lahan yang menjadi sumber masalah. Negara abai terhadap keselamatan rakyatnya.

Akibatnya, publik yang menanggung kerugian. Kabut asap lintas negara, gangguan kesehatan pernapasan, gagal panen, dan terganggunya aktivitas masyarakat menjadi beban rakyat. Sementara pelaku pembakaran, demi keuntungan, jarang mendapat hukuman setimpal. Kejahatan ini disebut “luar biasa”, tapi penindakan tegas masih sporadis.

Kondisi ini niscaya terjadi karena sistem kepemimpinan yang tegak hari ini bersifat sekuler. Jabatan dipahami sebagai alat meraih kekuasaan dan keuntungan material, bukan amanah. Konsep ri’ayah mengurus urusan rakyat dan junnah perisai pelindung rakyat hilang. Akibatnya negara tidak hadir melindungi, melainkan hanya memadamkan setelah bencana terjadi.

Hutan Milik Umum, Negara Penjamin

Islam memiliki pandangan berbeda terhadap hutan dan tanggung jawab negara.

Pertama, dalam Islam hutan termasuk milkiyah ammah atau kepemilikan umum. Sumber daya alam yang secara tabiatnya tidak bisa dikuasai individu seperti hutan, air, dan tambang, dikelola langsung oleh negara untuk kepentingan seluruh rakyat. Negara tidak boleh menyerahkannya lewat konsesi kepada korporasi untuk dikapling dan dieksploitasi.

Kedua, rakyat diberi hak memanfaatkan hutan secara langsung sesuai kemampuannya, selama tidak merusak dan tidak menghalangi hak orang lain. Pada kawasan lindung atau hima yang ditetapkan negara untuk kemaslahatan umum, tidak boleh ada aktivitas yang merusak.

Ketiga, negara wajib memberi sanksi tegas bagi pelaku pembakaran hutan yang disengaja. Merusak harta milik umum adalah kejahatan besar karena dampaknya mengenai seluruh umat.

Keempat, pemimpin dalam Islam adalah raa’in_ dan junnah. Rasulullah bersabda: “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya”. Penguasa muslim terdahulu selalu terdepan dalam melindungi rakyat dari bahaya. Dalam konteks bencana, negara akan hadir sejak awal: mencegah, menyiapkan mitigasi, dan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.

Penutup

Karhutla yang berulang adalah cermin gagalnya tata kelola. Selama hutan masih dipandang sebagai ladang bisnis dan negara hanya hadir sebagai pemadam kebakaran, maka asap akan terus datang setiap tahun.

Sudah saatnya kita berani mengubah paradigma. Kembalikan hutan sebagai milik umum. Tegakkan fungsi negara sebagai pengurus dan pelindung rakyat. Tanpa itu, rakyat akan terus menjadi korban dari api yang dinyalakan demi keuntungan segelintir orang. Wallahu a’lam bisshawab

Ilusi Kesejahteraan ala Desil

Oleh: Herliana Tri, M. S.P

Belakangan ini, ruang publik di Indonesia dihebohkan oleh polemik klasifikasi desil mulai dari desil 1 sampai desil 10 melalui pemutakhiran data registrasi sosial-ekonomi. Skema desil dijadikan tolak ukur penentu apakah sebuah keluarga berhak menerima jatah bantuan sosial (bansos), kepesertaan jaminan kesehatan (PBI), beasiswa pendidikan, subsidi bahan bakar. Hingga akhirnya rakyat dibuat resah, cemas, dan saling curiga. Warga yang sebelumnya menerima bantuan, secara tiba-tiba dicoret karena dianggap naik ke desil 5 atau 6, padahal beban dapur, sewa rumah, dan tagihan listrik semakin hari terasa berat.

Fakta Seputar Desil

Desil adalah pengelompokan keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi. Dalam DTSEN, keluarga dikelompokkan ke dalam 10 desil, mulai dari Desil 1 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.detik.com (23/8/2026). Setiap desil menggambarkan posisi relatif keluarga dibandingkan keluarga lainnya dalam data sosial ekonomi. Karena itu, desil tidak dapat diartikan sebagai besaran penghasilan tertentu. Sehingga dengan Gambaran ini, standart kesejahteraan atau garis kemiskinan menjadi relatif tergantung wilayah Dimana iya berada.

Gambaran klasifikasi desil diantaranya adalah, desil 1 sangat miskin, desil 2 miskin, desil3 hampir miskin dan desil 4 menjadi kelompok masyarakat yang bisa mendapatkan berbagai program bantuan masyarakat.

Sedangkan desil 5-10 menjadi kelompok masyarakat yang akan sangat kesulitan untuk mendapatkan bantuan karena mereka tidak berkategori masyarakat miskin atau hidup layak/mampu.

Berlandaskan penjabaran desil, kita mengetahui bagaimana negara mengurus rakyatnya. Mengelompokkan masyarakat untuk mengetahui mana yang layak mendapatkan bantuan pemerintah dan mana yang harus mandiri mengurus kebutuhannya. Memang betul bahwa data dibutuhkan oleh negara, bahkan sangat penting untuk dimiliki. Tanpa data, pemerintah akan kesulitan mengetahui kondisi masyarakat serta menentukan kebijakan.

Namun dari sini juga letak persoalan besar muncul. Pada saat paradigma kapitalis menjadi acuannya, basis data, klasifikasi ekonomi berubah menjadi ‘pintu penghakiman’. Seseorang berada pada kelompok tertentu kemudian dianggap layak atau tidak menerima bantuan. Padahal kehidupan tidak pernah statis. Pendapatan dapat naik, turun. Harga pangan fluktuatif, kesehatan keluarga juga tidak pernah sama dari hari ke hari.

Peluangnya kebutuhan justru membengkak dan pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Bahkan mungkin terjadi kepala rumahtangga sebagai tulang punggung ekonomi keluarga tidak mampu menjalankan tugasnya karena sakit atau meninggal dunia.

Di sinilah letak ironi terbesar. Negara yang semestinya bertindak sebagai raa’in (pengurus urusan umat) justru bertransformasi menjadi kalkulator raksasa dengan tugas utamanya adalah menyeleksi, menyortir, dan menyingkirkan warganya sendiri dari hak-hak dasar.

Padahal secara kasat mata, kemiskinan adalah kondisi pada saat individu tak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan dan papan. Oleh karena itu, tak selayaknya prosentase desil hadir untuk menilai kesejahterakan warga negaranya dan menjadi acuan untuk mendapatkan atau dicabutnya bantuan pemerintah.

Karena hadirnya prosentase seperti yang digambarkan desil menjadikan kemiskinan relatif. Miskin disuatu tempat bisa dipandang tidak untuk wilayah lain. Akhirnya seseorang individu warga yang seharusnya dapat memperoleh bantuan, tercoret datanya karena dianggap mampu meskipun pada kondisi sebenarnya ia masih membutuhkan uluran tangan.

Sudah saatnya negara mengurusi rakyat sebagai pelindung dan perisai yang sejati. Menghalangi rakyat dari kemudaratan tanpa pandang bulu. Acuan desil bukan harga mati untuk membantu warganya sendiri. Jangan sampai peribahasa “ayam mati di lumbung padi” menjadi fakta karena salah dalam menempatkan posisi rakyatnya sendiri dalam memandang kemakmuran.

Bedah Historiografi Hubungan Indonesia-Palestina: Fajar Sadikov Tekankan Makna ‘Ukhuwah’, JIB Jelaskan Pentingnya Narasi Inklusif

BEKASI (jurnalislam.com)— Diskusi kritis mengenai pembacaan sejarah hubungan Indonesia dan Palestina mengemuka dalam acara Empower Youth Book Talk yang berlangsung di Typica Coffee, Bekasi pada Sabtu, (12/9/2026).

Forum yang dipadati peserta dari berbagai elemen pemuda ini membedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” dengan pendekatan kritisisme sejarah.

Pengulas buku, Fajar Sadikov, menggunakan metode kritik sejarah (Annaqadd at-Tarikh) ala Ibnu Khaldun untuk menguji terminologi yang digunakan dalam narasi sejarah hubungan Indonesia-Palestina, khususnya perbedaan antara konsep ‘solidaritas’ dan ‘ukhuwah’.

“Dalam perspektif aritas merupakan salah satu manifestasi eksternal dari satu relasi yang lebih mendasar, yaitu ukhuwah. Kalau solidaritas itu relationship of support, tetapi kalau ukhuwah relationship of brotherhood. Ketika ukhuwah, kamu adalah saudaraku, penderitaanmu bukanlah hal eksternal bagiku,” papar Fajar Sadikov.

Fajar juga mengkritisi penggunaan istilah ‘pan-Islamisme’ yang sering dirujuk dari kacamata sejarawan kolonial Barat.
“Istilah pan-Islamisme itu kebanyakan datang dari para sejarawan kolonial… Istilah-istilah yang dibawa oleh para penulis dan para pemikir Islam pada saat itu sebenarnya al-wahdah al-islamiyah, al-islah, tajdid, atau ittihadul ummah,” tambah Fajar.

Merespons catatan kritis tersebut, penulis buku Beggy Rizkiansyah menuturkan alasan sosiologis di balik pemilihan istilah ‘solidaritas’ dalam karyanya, yakni untuk merangkul spektrum pembaca yang lebih luas dari berbagai latar belakang.

“Kita pakai kata solidaritas untuk mencakup pembaca yang lebih luas, karena di sini tidak hanya berbicara tentang tokoh Islam, tapi juga tokoh-tokoh di luar Islam atau dengan ideologi bukan Islam… Untuk merangkul pembaca audiens lebih luas,” jelas Beggy Rizkiansyah.

Melalui diskusi historiografi ini, para pembicara berharap publik tidak terjebak pada narasi permukaan, melainkan mampu memahami kedalaman ikatan historis antara kedua bangsa.

Acara Booktalk ini membedah buku berjudul Akar Sejarah Solidaritas Indonesia Palestina, hasil kolaborasi dengan komunitas sejarah Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Kelompok Kerja Strategis Ummatica dan PC Pemuda Muhammadiyah Jatiasih dan PC Nasyiatul Aisyiah Jatiasih Kota Bekasi.

Melacak Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina: PCPM Jatiasih dan JIB Ungkap Peran Vital Tokoh Muhammadiyah Sejak Era Pra-Kemerdekaan

BEKASI (jurnalislam.com)— Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina bukanlah fenomena baru yang muncul akibat algoritma media sosial, melainkan ikatan sejarah mendalam yang diwariskan oleh ulama Nusantara hingga founding fathers Indonesia.

Hal tersebut terungkap dalam acara Empower Youth Book Talk bertajuk bedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” yang diselenggarakan pada Sabtu, (12/9/2026) di Typica Coffee, Bekasi, serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Ummatica.

Acara diskusi kolaboratif yang diinisiasi oleh Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Ummatica, PC Pemuda Muhammadiyah Jati Asih, dan PC Nasyiatul Aisyiyah ini menghadirkan penulis buku Beggy Rizkiansyah serta pegiat literasi Fajar Sadikov sebagai pengulas.

Dalam pemaparannya, Beggy Rizkiansyah menjelaskan bahwa jejak kecintaan terhadap Palestina bahkan sudah tertanam sejak era Wali Songo melalui pendirian Kota Kudus dan Masjid Al-Aqsa (Menara Kudus) di Jawa Tengah.

“Kalau dibilang Palestina itu baru-baru aja, enggak juga sih sebetulnya. Ada warisan ulama yang sudah lama banget yang tentang Palestina tuh ada di Indonesia, dan itu menariknya sebuah kota namanya Kudus. Kudus itu dari asal kata Al-Quds, makanya masjidnya nama masjidnya Masjid Al-Aqsa sebetulnya, dan itu didirikan oleh Sunan Kudus waktu itu di abad ke-16,” ujar Beggy Rizkiansyah.

Lebih lanjut, Beggy menyoroti peran kunci tokoh pemuda Muhammadiyah, K.H. Abdul Kahar Muzakir, yang pada tahun 1931 menjadi orang Indonesia pertama yang memegang posisi strategis dalam diplomasi Islam internasional untuk Palestina.

“Kia Haji Abdul Kahar Muzakir… inilah orang pertama yang kenapa dia bisa terlibat dalam solidaritas itu. Tahun 30-an dia kuliah di Darul Ulum Mesir… K.H. Abdul Kahar Muzakir ini bukan cuma penggembira, tapi dia menjadi sekretaris kongres [Kongres Muslim Sedunia 1931 di Yerusalem]. Peran dia penting banget, orang Muhammadiyah jadi sekretaris kongres,” tegas Beggy.

Sementara itu, Fajar Sadikov memberikan apresiasi tinggi terhadap pembuktian sejarah dalam buku ini. Menurutnya, karya ini memberikan landasan riset ilmiah yang kokoh bagi para aktivis dan generasi muda.

“Buku ini jelas punya uniqueness dan novelty, ada kebaruan penelitian atau kebaruan temuan… betul-betul berasal dari riset. Buku ini meletakkan pondasi sejarah… sangat mengakar. Selain radikal, juga fundamentalis sekali karena berbicara secara funden, secara akar, secara filosofis,” ungkap Fajar Sadikov.

Menembus Jarak, MeDAN dan Aliansi Muslim Bali Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

BALI (jurnalislam.com)— Di tengah penanganan dampak gempa bumi yang masih berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT), Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (MeDAN) bersama Aliansi Muslim Bali bergerak mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Tim berangkat dari Bali menuju NTT pada Kamis (10/9/2026) pukul 22.00 WITA, membawa sejumlah kebutuhan pokok dan perlengkapan untuk membantu masyarakat terdampak bencana.

Berdasarkan data BNPB per 10 September 2026 pukul 07.00 WIB, gempa yang melanda wilayah Flores, NTT, sejak 15 Agustus 2026 telah menyebabkan 136 orang meninggal dunia dan 1.776 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 56.577 warga juga masih mengungsi, sementara kerusakan rumah tercatat mencapai 102.384 unit.

Gempa utama tersebut memiliki magnitudo 7,7. Aktivitas kegempaan di wilayah Flores juga masih berlanjut. BMKG mencatat hingga 9 September 2026 pukul 05.00 WIB telah terjadi 13.863 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sebanyak 183 gempa susulan di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

Dalam situasi tersebut, MeDAN dan Aliansi Muslim Bali membawa sejumlah bantuan yang dihimpun dari para donatur. Bantuan tersebut antara lain abon, biskuit untuk anak-anak, perlengkapan mandi dan cuci (MCK), terpal, roti, serta berbagai kebutuhan lainnya.

Beras secara khusus akan dibeli langsung di wilayah NTT. Selain untuk mengurangi beban muatan selama perjalanan dari Bali, langkah tersebut sekaligus menjadi upaya mendukung aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa logistik yang dibawa dari Bali, tetapi juga melibatkan pemenuhan kebutuhan di daerah terdampak.

Menembus Jarak Bali-NTT

Bagi MeDAN dan Aliansi Muslim Bali, keberangkatan menuju NTT merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat yang tengah menghadapi musibah.

Jarak antara Bali dan NTT yang cukup jauh tidak menjadi penghalang untuk mengantarkan amanah para donatur secara langsung.

“Kami ingin memastikan amanah dari para donatur dapat sampai kepada saudara-saudara kita di NTT yang sedang membutuhkan. Jarak bukan alasan bagi kita untuk tidak peduli. Semoga bantuan yang kami bawa dapat memberikan manfaat dan sedikit meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Suherman, perwakilan tim.

Ia mengatakan, aksi kemanusiaan tersebut tidak dapat berjalan tanpa dukungan berbagai pihak, baik melalui donasi, tenaga, maupun dukungan lainnya.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, komunitas, dan masyarakat yang telah mendukung aksi kemanusiaan ini. Setiap bantuan yang diberikan sangat berarti bagi saudara-saudara kita di NTT. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan yang diberikan dengan keberkahan dan pahala yang berlipat,” tuturnya.

Tim berharap perjalanan menuju NTT hingga proses penyaluran bantuan dapat berlangsung lancar dan aman. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan dukungan moral kepada warga yang masih menghadapi dampak bencana.

Pengiriman bantuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MeDAN dan Aliansi Muslim Bali untuk menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

Dari Bali menuju NTT, bantuan yang dibawa bukan sekadar logistik, tetapi juga pesan solidaritas bahwa masyarakat terdampak gempa tidak menghadapi musibah seorang diri.

Kontributor: Hedy

Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Terlihat dalam Kehidupan

SOLO (jurnalislam.com)- Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ungkapan yang terucap di lisan. Ia adalah cinta yang semestinya hadir dalam pilihan, sikap, akhlak, dan seluruh kehidupan seorang muslim. Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ berarti bersedia mengikuti jalan yang beliau ajarkan dan menjadikan kehidupan beliau sebagai teladan.

Pesan tersebut menjadi inti khutbah Jumat yang disampaikan H. Heri Sucitro, S.Pd., Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta, di Masjid Al Mukarrom, Sogaten, Pajang, Laweyan, Surakarta, Jumat Wage, (4/9/2026), bertepatan dengan 22 Rabi’ul Awwal 1448 H. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, beliau mengangkat tema “Membuktikan Cinta kepada Rasulullah ﷺ.”

Dalam khutbahnya, H. Heri mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan agar kecintaan kepada keluarga, harta, perdagangan, dan kehidupan dunia tidak sampai mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu merupakan salah satu sebab seorang mukmin dapat merasakan manisnya iman.

Sejarah kehidupan para sahabat memberikan teladan bagaimana cinta tersebut diwujudkan secara nyata. Bilal bin Rabah, misalnya, memiliki kerinduan yang begitu mendalam kepada Rasulullah ﷺ. Demikian pula Tsauban, yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ hingga khawatir tidak dapat berkumpul bersama beliau di akhirat. Sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan kecintaannya melalui pengorbanan ketika mendampingi dan melindungi Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah.

Dari keteladanan tersebut, cinta kepada Rasulullah ﷺ setidaknya dapat diwujudkan melalui beberapa hal.

Pertama, menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai cermin kehidupan. Mencintai Nabi bukan hanya dengan mengagumi sosok dan sejarah beliau, tetapi berusaha meneladani akhlaknya. Rasulullah ﷺ dikenal lembut dalam berbicara, penuh kasih sayang, mudah memaafkan, sekaligus tegas dalam membela kebenaran. Karena itu, dalam mengambil keputusan, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya, “Apakah cara yang saya tempuh ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?”

Kedua, menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ. Sunnah tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi harus menjadi jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama. Di tengah lingkungan yang semakin jauh dari nilai agama, menghidupkan sunnah memang membutuhkan kesungguhan. Namun, di situlah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ diuji.

Ketiga, memperbanyak shalawat. Shalawat merupakan salah satu bentuk cinta dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Membiasakan lisan bershalawat dapat menjadi pengingat agar hati senantiasa dekat dengan beliau. Namun, shalawat hendaknya tidak berhenti pada kebiasaan lisan, melainkan mendorong kita untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.

Keempat, menjaga nama baik agama melalui akhlak. Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa perilakunya dapat menjadi cerminan bagaimana orang lain memandang Islam. Perkataan kasar, ketidakjujuran, maupun akhlak buruk dapat membuat orang lain memiliki pandangan negatif terhadap agama. Sebaliknya, seorang muslim seharusnya menghadirkan keindahan Islam melalui sikap santun, amanah, jujur, penuh kasih sayang, dan bermanfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup dibuktikan dengan rasa rindu, pujian, ataupun shalawat yang terucap. Cinta membutuhkan bukti. Ia harus tampak dalam cara kita berbicara, bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, serta menjalani kehidupan sehari-hari.

Ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan semata-mata seberapa sering kita mengatakan mencintai beliau, tetapi seberapa jauh kehidupan kita mencerminkan ajaran dan akhlak beliau.

Sebab, cinta yang sejati tidak berhenti di hati dan lisan. Ia harus terlihat dalam akhlak, sunnah, pengorbanan, dan kehidupan sehari-hari.