Bedah Historiografi Hubungan Indonesia-Palestina: Fajar Sadikov Tekankan Makna ‘Ukhuwah’, JIB Jelaskan Pentingnya Narasi Inklusif

BEKASI (jurnalislam.com)— Diskusi kritis mengenai pembacaan sejarah hubungan Indonesia dan Palestina mengemuka dalam acara Empower Youth Book Talk yang berlangsung di Typica Coffee, Bekasi pada Sabtu, (12/9/2026).

Forum yang dipadati peserta dari berbagai elemen pemuda ini membedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” dengan pendekatan kritisisme sejarah.

Pengulas buku, Fajar Sadikov, menggunakan metode kritik sejarah (Annaqadd at-Tarikh) ala Ibnu Khaldun untuk menguji terminologi yang digunakan dalam narasi sejarah hubungan Indonesia-Palestina, khususnya perbedaan antara konsep ‘solidaritas’ dan ‘ukhuwah’.

“Dalam perspektif aritas merupakan salah satu manifestasi eksternal dari satu relasi yang lebih mendasar, yaitu ukhuwah. Kalau solidaritas itu relationship of support, tetapi kalau ukhuwah relationship of brotherhood. Ketika ukhuwah, kamu adalah saudaraku, penderitaanmu bukanlah hal eksternal bagiku,” papar Fajar Sadikov.

Fajar juga mengkritisi penggunaan istilah ‘pan-Islamisme’ yang sering dirujuk dari kacamata sejarawan kolonial Barat.
“Istilah pan-Islamisme itu kebanyakan datang dari para sejarawan kolonial… Istilah-istilah yang dibawa oleh para penulis dan para pemikir Islam pada saat itu sebenarnya al-wahdah al-islamiyah, al-islah, tajdid, atau ittihadul ummah,” tambah Fajar.

Merespons catatan kritis tersebut, penulis buku Beggy Rizkiansyah menuturkan alasan sosiologis di balik pemilihan istilah ‘solidaritas’ dalam karyanya, yakni untuk merangkul spektrum pembaca yang lebih luas dari berbagai latar belakang.

“Kita pakai kata solidaritas untuk mencakup pembaca yang lebih luas, karena di sini tidak hanya berbicara tentang tokoh Islam, tapi juga tokoh-tokoh di luar Islam atau dengan ideologi bukan Islam… Untuk merangkul pembaca audiens lebih luas,” jelas Beggy Rizkiansyah.

Melalui diskusi historiografi ini, para pembicara berharap publik tidak terjebak pada narasi permukaan, melainkan mampu memahami kedalaman ikatan historis antara kedua bangsa.

Acara Booktalk ini membedah buku berjudul Akar Sejarah Solidaritas Indonesia Palestina, hasil kolaborasi dengan komunitas sejarah Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Kelompok Kerja Strategis Ummatica dan PC Pemuda Muhammadiyah Jatiasih dan PC Nasyiatul Aisyiah Jatiasih Kota Bekasi.

Melacak Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina: PCPM Jatiasih dan JIB Ungkap Peran Vital Tokoh Muhammadiyah Sejak Era Pra-Kemerdekaan

BEKASI (jurnalislam.com)— Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina bukanlah fenomena baru yang muncul akibat algoritma media sosial, melainkan ikatan sejarah mendalam yang diwariskan oleh ulama Nusantara hingga founding fathers Indonesia.

Hal tersebut terungkap dalam acara Empower Youth Book Talk bertajuk bedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” yang diselenggarakan pada Sabtu, (12/9/2026) di Typica Coffee, Bekasi, serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Ummatica.

Acara diskusi kolaboratif yang diinisiasi oleh Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Ummatica, PC Pemuda Muhammadiyah Jati Asih, dan PC Nasyiatul Aisyiyah ini menghadirkan penulis buku Beggy Rizkiansyah serta pegiat literasi Fajar Sadikov sebagai pengulas.

Dalam pemaparannya, Beggy Rizkiansyah menjelaskan bahwa jejak kecintaan terhadap Palestina bahkan sudah tertanam sejak era Wali Songo melalui pendirian Kota Kudus dan Masjid Al-Aqsa (Menara Kudus) di Jawa Tengah.

“Kalau dibilang Palestina itu baru-baru aja, enggak juga sih sebetulnya. Ada warisan ulama yang sudah lama banget yang tentang Palestina tuh ada di Indonesia, dan itu menariknya sebuah kota namanya Kudus. Kudus itu dari asal kata Al-Quds, makanya masjidnya nama masjidnya Masjid Al-Aqsa sebetulnya, dan itu didirikan oleh Sunan Kudus waktu itu di abad ke-16,” ujar Beggy Rizkiansyah.

Lebih lanjut, Beggy menyoroti peran kunci tokoh pemuda Muhammadiyah, K.H. Abdul Kahar Muzakir, yang pada tahun 1931 menjadi orang Indonesia pertama yang memegang posisi strategis dalam diplomasi Islam internasional untuk Palestina.

“Kia Haji Abdul Kahar Muzakir… inilah orang pertama yang kenapa dia bisa terlibat dalam solidaritas itu. Tahun 30-an dia kuliah di Darul Ulum Mesir… K.H. Abdul Kahar Muzakir ini bukan cuma penggembira, tapi dia menjadi sekretaris kongres [Kongres Muslim Sedunia 1931 di Yerusalem]. Peran dia penting banget, orang Muhammadiyah jadi sekretaris kongres,” tegas Beggy.

Sementara itu, Fajar Sadikov memberikan apresiasi tinggi terhadap pembuktian sejarah dalam buku ini. Menurutnya, karya ini memberikan landasan riset ilmiah yang kokoh bagi para aktivis dan generasi muda.

“Buku ini jelas punya uniqueness dan novelty, ada kebaruan penelitian atau kebaruan temuan… betul-betul berasal dari riset. Buku ini meletakkan pondasi sejarah… sangat mengakar. Selain radikal, juga fundamentalis sekali karena berbicara secara funden, secara akar, secara filosofis,” ungkap Fajar Sadikov.

Menembus Jarak, MeDAN dan Aliansi Muslim Bali Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

BALI (jurnalislam.com)— Di tengah penanganan dampak gempa bumi yang masih berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT), Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (MeDAN) bersama Aliansi Muslim Bali bergerak mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Tim berangkat dari Bali menuju NTT pada Kamis (10/9/2026) pukul 22.00 WITA, membawa sejumlah kebutuhan pokok dan perlengkapan untuk membantu masyarakat terdampak bencana.

Berdasarkan data BNPB per 10 September 2026 pukul 07.00 WIB, gempa yang melanda wilayah Flores, NTT, sejak 15 Agustus 2026 telah menyebabkan 136 orang meninggal dunia dan 1.776 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 56.577 warga juga masih mengungsi, sementara kerusakan rumah tercatat mencapai 102.384 unit.

Gempa utama tersebut memiliki magnitudo 7,7. Aktivitas kegempaan di wilayah Flores juga masih berlanjut. BMKG mencatat hingga 9 September 2026 pukul 05.00 WIB telah terjadi 13.863 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sebanyak 183 gempa susulan di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

Dalam situasi tersebut, MeDAN dan Aliansi Muslim Bali membawa sejumlah bantuan yang dihimpun dari para donatur. Bantuan tersebut antara lain abon, biskuit untuk anak-anak, perlengkapan mandi dan cuci (MCK), terpal, roti, serta berbagai kebutuhan lainnya.

Beras secara khusus akan dibeli langsung di wilayah NTT. Selain untuk mengurangi beban muatan selama perjalanan dari Bali, langkah tersebut sekaligus menjadi upaya mendukung aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa logistik yang dibawa dari Bali, tetapi juga melibatkan pemenuhan kebutuhan di daerah terdampak.

Menembus Jarak Bali-NTT

Bagi MeDAN dan Aliansi Muslim Bali, keberangkatan menuju NTT merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat yang tengah menghadapi musibah.

Jarak antara Bali dan NTT yang cukup jauh tidak menjadi penghalang untuk mengantarkan amanah para donatur secara langsung.

“Kami ingin memastikan amanah dari para donatur dapat sampai kepada saudara-saudara kita di NTT yang sedang membutuhkan. Jarak bukan alasan bagi kita untuk tidak peduli. Semoga bantuan yang kami bawa dapat memberikan manfaat dan sedikit meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Suherman, perwakilan tim.

Ia mengatakan, aksi kemanusiaan tersebut tidak dapat berjalan tanpa dukungan berbagai pihak, baik melalui donasi, tenaga, maupun dukungan lainnya.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, komunitas, dan masyarakat yang telah mendukung aksi kemanusiaan ini. Setiap bantuan yang diberikan sangat berarti bagi saudara-saudara kita di NTT. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan yang diberikan dengan keberkahan dan pahala yang berlipat,” tuturnya.

Tim berharap perjalanan menuju NTT hingga proses penyaluran bantuan dapat berlangsung lancar dan aman. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan dukungan moral kepada warga yang masih menghadapi dampak bencana.

Pengiriman bantuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MeDAN dan Aliansi Muslim Bali untuk menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

Dari Bali menuju NTT, bantuan yang dibawa bukan sekadar logistik, tetapi juga pesan solidaritas bahwa masyarakat terdampak gempa tidak menghadapi musibah seorang diri.

Kontributor: Hedy

Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Terlihat dalam Kehidupan

SOLO (jurnalislam.com)- Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ungkapan yang terucap di lisan. Ia adalah cinta yang semestinya hadir dalam pilihan, sikap, akhlak, dan seluruh kehidupan seorang muslim. Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ berarti bersedia mengikuti jalan yang beliau ajarkan dan menjadikan kehidupan beliau sebagai teladan.

Pesan tersebut menjadi inti khutbah Jumat yang disampaikan H. Heri Sucitro, S.Pd., Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta, di Masjid Al Mukarrom, Sogaten, Pajang, Laweyan, Surakarta, Jumat Wage, (4/9/2026), bertepatan dengan 22 Rabi’ul Awwal 1448 H. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, beliau mengangkat tema “Membuktikan Cinta kepada Rasulullah ﷺ.”

Dalam khutbahnya, H. Heri mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan agar kecintaan kepada keluarga, harta, perdagangan, dan kehidupan dunia tidak sampai mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu merupakan salah satu sebab seorang mukmin dapat merasakan manisnya iman.

Sejarah kehidupan para sahabat memberikan teladan bagaimana cinta tersebut diwujudkan secara nyata. Bilal bin Rabah, misalnya, memiliki kerinduan yang begitu mendalam kepada Rasulullah ﷺ. Demikian pula Tsauban, yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ hingga khawatir tidak dapat berkumpul bersama beliau di akhirat. Sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan kecintaannya melalui pengorbanan ketika mendampingi dan melindungi Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah.

Dari keteladanan tersebut, cinta kepada Rasulullah ﷺ setidaknya dapat diwujudkan melalui beberapa hal.

Pertama, menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai cermin kehidupan. Mencintai Nabi bukan hanya dengan mengagumi sosok dan sejarah beliau, tetapi berusaha meneladani akhlaknya. Rasulullah ﷺ dikenal lembut dalam berbicara, penuh kasih sayang, mudah memaafkan, sekaligus tegas dalam membela kebenaran. Karena itu, dalam mengambil keputusan, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya, “Apakah cara yang saya tempuh ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?”

Kedua, menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ. Sunnah tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi harus menjadi jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama. Di tengah lingkungan yang semakin jauh dari nilai agama, menghidupkan sunnah memang membutuhkan kesungguhan. Namun, di situlah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ diuji.

Ketiga, memperbanyak shalawat. Shalawat merupakan salah satu bentuk cinta dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Membiasakan lisan bershalawat dapat menjadi pengingat agar hati senantiasa dekat dengan beliau. Namun, shalawat hendaknya tidak berhenti pada kebiasaan lisan, melainkan mendorong kita untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.

Keempat, menjaga nama baik agama melalui akhlak. Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa perilakunya dapat menjadi cerminan bagaimana orang lain memandang Islam. Perkataan kasar, ketidakjujuran, maupun akhlak buruk dapat membuat orang lain memiliki pandangan negatif terhadap agama. Sebaliknya, seorang muslim seharusnya menghadirkan keindahan Islam melalui sikap santun, amanah, jujur, penuh kasih sayang, dan bermanfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup dibuktikan dengan rasa rindu, pujian, ataupun shalawat yang terucap. Cinta membutuhkan bukti. Ia harus tampak dalam cara kita berbicara, bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, serta menjalani kehidupan sehari-hari.

Ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan semata-mata seberapa sering kita mengatakan mencintai beliau, tetapi seberapa jauh kehidupan kita mencerminkan ajaran dan akhlak beliau.

Sebab, cinta yang sejati tidak berhenti di hati dan lisan. Ia harus terlihat dalam akhlak, sunnah, pengorbanan, dan kehidupan sehari-hari.

Guru dan Siswa dari Johor Bahru Malaysia Study Tour ke Sekolah Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta

SURAKARTA (jurnalislam.com)— Suasana hangat dan penuh persaudaraan mewarnai kunjungan rombongan Sekolah Menengah Islam Hidayah Johor Bahru, Malaysia ke Yayasan Nur Hidayah Surakarta, Rabu (2/9/2026). Tiga orang guru bersama 19 siswa hadir dalam rangkaian kunjungan selama lima hari, Senin 31 Agustus hingga Jum’at, 4 September 2026, untuk melakukan study tour sekaligus mengenal lebih dekat pengelolaan pendidikan di lingkungan Yayasan Nur Hidayah.

Dalam perbincangan bersama jajaran Yayasan Nur Hidayah, diskusi berlangsung hangat dan mengerucut pada tema pembinaan siswa dan guru. Berbagai pengalaman dan praktik pendidikan saling dibagikan, menjadi ruang belajar bersama antara kedua lembaga. Mereka juga diajak berkeliling untuk melihat secara langsung proses pembelajaran di PAUD IT dan SDIT Nur Hidayah.

Di SMAIT Nur Hidayah mereka mengikuti kegiatan ISC yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil. Merasakan langsung serunya kegiatan yang tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan membangun ukhuwah. Di sisi lain, guru mereka sharing dan berbagi pengalaman dengan jajaran pimpinan dan para Pembina.

“Nur Hidayah ini kami dengar salah satu sekolah top di Indonesia. Terutama unggul di pembinaan siswa. Alhamdulillah terlaksana juga, sejak 2024 kami ingin berkunjung ke sini,” ucap Ustadz Taufiq, Penyelaras Program Sekolah Menengah Islam Hidayah Johor Bahru.

Sementara itu di SMPIT Nur Hidayah, para tamu berinteraksi langsung dengan pengurus OSIS. Mereka saling bertukar pikiran bagaimana kegiatan keorganisasian siswa. Di antara kesan yang mereka rasakan, organisasinya sangat terstruktur, kegiatannya terbuka untuk menyalurkan bakat; sekolahnya bersih dan banyak program yang langsung menyentuh masyarakat.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda study tour yang mencakup SMAIT Nur Hidayah, SMPIT Nur Hidayah, serta Yayasan Nur Hidayah. Selain agenda pendidikan, rombongan juga menikmati wisata sejarah dan religi di Kota Solo, antara lain mengunjungi Pura Mangkunegaran dan Masjid Raya Sheikh Zayed. Rangkaian perjalanan kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi ke Ustadz Cahyadi Takariawan di Yogyakarta.

Kunjungan ini tidak sekadar menjadi ajang bertukar pengalaman pendidikan, tetapi juga mempererat hubungan persaudaraan antara lembaga pendidikan di Indonesia dan Malaysia. Kehangatan interaksi, semangat berbagi, dan keterbukaan untuk saling belajar menjadi warna yang begitu kental sepanjang rangkaian kunjungan.

Melalui kunjungan ini, Yayasan Nur Hidayah Surakarta terus menguatkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang menjadi rujukan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Yayasan Nur Hidayah senantiasa terbuka untuk menjalin silaturahmi, berbagi praktik baik, dan membangun kolaborasi strategis dalam menghadirkan pendidikan generasi muda yang berkarakter, berdaya saing global, serta siap memimpin dan memberi arti bagi masa depan.

Ma’had Baitul Hikmah Sukoharjo Cetak 221 Alumni, Kembangkan Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan Sains

SUKOHARJO (jurnalislam.com)— Di tengah mahalnya biaya pendidikan hari ini, konsistensi dalam mencetak generasi Islam yang berilmu dan berakhlak tanpa membebankan biaya kepada umat menjadi sebuah oase. Inilah yang konsisten dirintis oleh Ma’had Tahfidzul Qur’an Baitul Hikmah di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Berdiri sejak tahun 2008, lembaga pendidikan ini telah menjelma menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan sosial, khususnya di wilayah Solo Raya hingga kancah nasional. Direktur Pendidikan Ma’had Baitul Hikmah, Dr. Budi Harjo, M.Pd., mengungkapkan bahwa lembaganya berkomitmen menghadirkan akses pendidikan berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Alhamdulillah, sejak tahun 2008 Baitul Hikmah mempunyai Ma’had Aly yang sampai dengan tahun 2026 ini sudah meluluskan 221 alumni yang tersebar kepada seluruh masjid, ma’had, sekolah, pendidikan Islam untuk membantu dan berkhidmat di dalam dakwah pendidikan dan sosial,” ujar Dr. Budi saat ditemui di kompleks ma’had pada Selasa, (1/9/2026).

Para alumni tersebut, lanjut Dr. Budi, tidak hanya mengabdi di dalam negeri, melainkan banyak yang menimba ilmu lanjutan ke berbagai institusi terkemuka baik di dalam maupun luar negeri, seperti Madinah, Mesir (Kairo), Suriah, hingga Yaman.

Perluasan Jenjang dan Beasiswa Penuh

Dalam perkembangannya, Ma’had Baitul Hikmah tidak hanya berfokus pada jenjang perguruan tinggi melalui Ma’had Aly, tetapi juga memperluas sayap pendidikan formal dari tingkat dasar hingga menengah. Saat ini, yayasan menaungi beberapa unit pendidikan mulai dari PAUD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Ma’had Aly.

Untuk jenjang Ma’had Aly, pihak ma’had memberlakukan kebijakan beasiswa penuh (full scholarship) yang mencakup biaya pendidikan hingga akomodasi makan bagi para mahasiswanya. Sementara untuk unit PAUD, MI, dan MTS, ma’had juga menyediakan kuota khusus pembebasan biaya bagi keluarga yang membutuhkan melalui program “Orang Tua Asuh Penghafal Al-Qur’an”.

“Ini tentu tidak hanya dari keluarga Dr Harun, tetapi kami mengajak semua pihak di Sukoharjo khususnya untuk bergabung bersama dengan kami memberikan beasiswa melalui program orang tua asuh menghafal Al-Qur’an,” jelasnya.

Berdasarkan data terbaru, jumlah santri yang saat ini menempuh pendidikan di berbagai jenjang di bawah naungan Baitul Hikmah meliputi 51 anak di PAUD, 260 anak di MI, 40 santri di MTS, serta 43 mahasiswa di Ma’had Aly. Para santri ini datang dari berbagai penjuru nusantara, mulai dari Aceh, NTB, NTT, hingga Ambon.

Integrasi Sains dan Teknologi

Respon positif dari masyarakat serta para wakif membuat jaringan pengelolaan Baitul Hikmah terus meluas. Beberapa lembaga pendidikan di luar kompleks utama kini turut bergabung di bawah naungan pengelolaannya, seperti Ma’had Tarbiyatul Ummah di Sukoharjo, serta lembaga pendidikan putri di daerah Nglawu, Telukan, Sukoharjo yang didukung penuh dengan sistem beasiswa. Selain itu, aset wakaf dari masyarakat juga dioptimalkan menjadi Rumah Al-Qur’an, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), hingga pesantren lansia.

Menanggapi persaingan lembaga pendidikan Islam yang kian ketat, Dr. Budi menegaskan bahwa Baitul Hikmah di bawah dukungan para dewan kiai di antaranya Ustaz Ihsan Saifuddin, Ustaz Zuhal, dan Ustaz Setiyadi memegang teguh visi integratif dalam mencetak kader umat.

“Kami berkomitmen untuk mewujudkan sebuah pendidikan yang Qur’ani, beradab, dan sains teknologi. Jadi dengan Qur’ani, beradab ini adalah sebuah bekal dalam anak-anak kita, dan dengan penguasaan sains dan teknologi akan mampu untuk hadir di dunia yang global. Jadi kami berkomitmen untuk menciptakan dan mewujudkan sebuah pendidikan yang berbasis Al-Qur’an, kemudian beradab, dan menguasai ilmu pengetahuan sains dan teknologi,” pungkasnya.

Mengenal Program ORTASQU

Dalam rangka memperluas akses pendidikan bagi seluruh santri mengingat tidak semua wali santri memiliki kemampuan finansial yang memadai Ma’had Baitul Hikmah menghadirkan program ORTASQU (Orang Tua Asuh Qur’an).

Program yang dikelola langsung di bawah unit Baitul Hikmah Peduli ini berorientasi pada kegiatan sosial, dakwah, dan fundraising. Tujuan utamanya meliputi:

  • Membantu pembiayaan pendidikan santri secara menyeluruh.
  • Menjamin kesinambungan program dakwah dan pendidikan di lingkungan ma’had.
  • Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kaum muslimin untuk meraih pahala jariyah melalui investasi jangka panjang di bidang pendidikan umat.

Deretan Prestasi Santri

Deretan prestasi membanggakan berhasil ditorehkan oleh para santri di bawah naungan Ma’had Tahfidzul Qur’an Baitul Hikmah pada berbagai ajang kompetisi tingkat kabupaten, karesidenan, provinsi, hingga nasional:

  1. Muhammad Zenorabel Rafisqy — Juara 1 Olimpiade Bahasa Inggris (Tingkat Nasional, 2026)
  2. Talita Yesfir Samiayah — Juara 3 Turnamen Bola Voli Putri Antar Club U-15 (Tingkat GOR Wijaya Gunung Kidul / Nasional, 2026)
  3. Rayya Mazaya Azyyati — Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Inggris (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  4. Fatiya Zea Maheswari — Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Indonesia (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  5. Damario Fahri Wijaya — Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Indonesia (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  6. Arsyilah Nur Hasanah — Juara 7 Lomba Pidato Bahasa Arab (Tingkat YQBS 1 Pati se-Nasional, 2026)
  7. Arsyila Zanatti Elshanum — Juara 2 Olimpiade Bahasa Inggris (Tingkat Student Challenge 7 DIY & Jateng, 2025)
  8. Sadaka Adi Perdana — Juara 2 Olimpiade Bahasa Matematika (Tingkat Student Challenge 7 DIY & Jateng, 2025)
  9. Bilqis Shakeela Pratama — Juara 3 Pidato Bahasa Inggris (Tingkat PORSENI Provinsi, 2025)
  10. Akhira Qurrota Monali — Juara 3 Renang (Tingkat Karesidenan Surakarta, 2024)
  11. Nadiyah Syahidah — Juara 2 Lomba Memanah (Tingkat Kuttab Al Faruq Tanjung Anom / Se-Solo Raya, 2024)
  12. Salman Shakeel — Juara 1 Lomba Memanah (Tingkat Se-Solo Raya, 2024)

Capaian gemilang ini membuktikan bahwa sistem pembinaan terpadu di Ma’had Baitul Hikmah sukses melahirkan para penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga kompetitif di bidang akademik dan keterampilan umum.

 

Headquarters APCQP Beroperasi di Jakarta, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Palestina

JAKARTA (jurnalislam.com)— Headquarters Asia-Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP) mulai beroperasi di Jakarta sebagai ruang bersama untuk memperkuat koordinasi berbagai elemen dalam mendukung perjuangan Palestina dan pembebasan Al-Quds.

Presiden APCQP Prof. Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan keberadaan Headquarters tersebut diarahkan menjadi penggerak kolaborasi lintas sektor, mulai dari lembaga filantropi, jaringan kampus, gerakan pemuda hingga diplomasi parlemen.

Hal itu disampaikan Sudarnoto dalam kegiatan SIMATINA 2026 bertajuk “Melawan Penistaan Masjidil Aqsa dan Penjajahan Palestina” yang digelar Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut terlaksana dengan dukungan Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Pimpinan MPR RI, dan Pimpinan DPR RI.

“Menjadi motor penggerak kolaborasi lintas sektor, menyinergikan kekuatan lembaga filantropi, jaringan kampus, gerakan pemuda, dan diplomasi parlemen untuk satu tujuan, kemerdekaan penuh bagi Palestina dan pembebasan Al-Quds,” ujarnya.

Menurut Sudarnoto, persatuan berbagai elemen masyarakat diperlukan untuk memperkuat gerakan solidaritas Palestina. Ia mengajak parlemen, ulama, akademisi, pemuda, perempuan, serta kalangan profesional untuk menyatukan langkah sesuai peran masing-masing.

“Marilah parlemen bersatu, marilah ulama bersatu, marilah akademisi bersatu, marilah pemuda bersatu, marilah kaum perempuan bersatu, dan semua kaum profesional bersatu mengepung Israel,” serunya.

Ia menegaskan Headquarters APCQP di Jakarta tidak sekadar menjadi tempat kerja organisasi, tetapi juga diharapkan menjadi wadah bersama bagi anggota koalisi dan mitra lembaga kemanusiaan untuk memperkuat koordinasi gerakan solidaritas Palestina di kawasan Asia Pasifik.

“Headquarters ini adalah milik Anda semua. Ini adalah ruang kerja bersama kita. Ini adalah markas besar perjuangan kita,” tegasnya.

Sudarnoto juga mendorong gerakan tersebut diwujudkan melalui kerja nyata, antara lain penyaluran bantuan kemanusiaan serta penyebarluasan narasi keadilan kepada masyarakat internasional.

“Mari kita rapatkan barisan, kita salurkan bantuan terbaik, kita gaungkan narasi keadilan dalam bahasa global, dan kita pastikan dunia tahu bahwa Asia Pasifik berdiri tegak di sisi Palestina sampai titik darah penghabisan.”

Dengan beroperasinya Headquarters APCQP di Jakarta, Sudarnoto berharap berbagai elemen di kawasan Asia Pasifik dapat semakin terhubung dan memperkuat kerja sama dalam mendukung Palestina.

Kolaborasi antara lembaga filantropi, perguruan tinggi, pemuda, parlemen, ulama, perempuan, dan kalangan profesional disebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat solidaritas bagi kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Quds.

Gus Kikin Teken Kontrak Jam’iyyah, Siap Terima Sanksi Jika Melanggar

JOMBANG (jurnalislam.com)— KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menandatangani Kontrak Jam’iyyah setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Kontrak tersebut memuat sejumlah komitmen yang harus dijalankan Gus Kikin selama memimpin PBNU. Ia juga menyatakan kesediaannya menerima sanksi organisasi apabila melanggar ketentuan yang telah disepakati.

Gus Kikin menandatangani sekaligus membacakan isi Kontrak Jam’iyyah di hadapan para muktamirin di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026) pagi.

“Pagi ini saya telah menandatangani Kontrak Jam’iyyah. Untuk lebih jelasnya akan saya bacakan supaya jelas isinya dan maksud yang ada di dalam kontrak ini,” ujar Gus Kikin.

Dokumen tersebut memuat lima poin utama yang berkaitan dengan rekam jejak kepengurusan, ketentuan terkait jabatan politik, kepatuhan terhadap aturan organisasi, pelaksanaan tugas sebagai Ketua Umum PBNU, serta hubungan kepemimpinan dengan Rais ‘Aam dan Pengurus Besar Syuriyah.

Lima Komitmen dalam Kontrak Jam’iyyah

Pertama, Gus Kikin mengonfirmasi rekam jejak kepengurusannya di lingkungan Nahdlatul Ulama serta kelulusan jenjang kaderisasi PMKNU yang dibuktikan secara sah.

Kedua, ia menyatakan tidak sedang menduduki jabatan politik sesuai dengan ART NU Pasal 52 ayat 5. Ia juga menyatakan tidak menjabat sebagai pengurus partai politik maupun organisasi yang berafiliasi dengan partai politik dalam satu tahun terakhir.

Ketiga, Gus Kikin menyatakan tidak pernah memperoleh sanksi jam’iyyah berupa pembekuan kepengurusan.

Keempat, ia menyatakan kesediaannya menjalankan tugas sebagai Ketua Umum PBNU sesuai ART NU Pasal 65 ayat 2 dan Pasal 72. Komitmen tersebut mencakup menjaga amanat organisasi, menjaga keutuhan jam’iyyah, baik internal maupun eksternal, serta menyampaikan laporan pertanggungjawaban secara tertulis.

Kelima, Gus Kikin menyatakan kesediaannya mematuhi seluruh kebijakan dan keputusan Rais ‘Aam bersama Pengurus Besar Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama.

Siap Menerima Sanksi Organisasi

Tidak hanya memuat sejumlah komitmen, Kontrak Jam’iyyah juga mencantumkan kesediaan Gus Kikin menerima sanksi apabila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan yang telah disepakati.

“Apabila saya melanggar hal-hal yang saya menyatakan dalam Kontrak Jam’iyyah ini, saya bersedia dikenakan sanksi sesuai Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama, Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama, dan Peraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” tegas Gus Kikin.

Penandatanganan Kontrak Jam’iyyah tersebut menjadi salah satu mekanisme baru yang ditekankan AHWA dalam Muktamar ke-35 NU. Mekanisme ini diarahkan untuk memperkuat akuntabilitas kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 serta memastikan pelaksanaan amanah organisasi tetap mengacu pada ketentuan jam’iyyah.

Sebelumnya, AHWA menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 melalui musyawarah mufakat pada Senin (31/8/2026).

Penetapan berlangsung di Dalem KH Wahab Hasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, bertepatan dengan 18 Rabiul Awal 1448 Hijriah.

Anggota AHWA KH Anwar Iskandar mengatakan mekanisme tersebut merupakan hal baru dalam proses pemilihan kepengurusan PBNU.

“Ini mekanisme yang pertama kita lakukan di dalam pengurusan atau pemilihan kepengurusan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini,” ujar Ketua Umum MUI itu saat membacakan berita acara penetapan.

Gus Kikin Terpilih sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031

JOMBANG (jurnalislam.com)— Sidang Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031.

Keputusan tersebut diambil melalui musyawarah sembilan anggota AHWA yang berlangsung di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026) pagi.

Hasil musyawarah dibacakan oleh salah satu anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, di hadapan peserta Muktamar ke-35 NU.

“Setelah melakukan musyawarah dari lima nama calon yang diajukan, maka anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat memutuskan untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031,” kata KH Anwar saat membacakan berita acara rapat AHWA.

Menurut KH Anwar, musyawarah berlangsung selama sekitar 40 menit, mulai pukul 06.20 hingga 07.00 WIB.

“Telah dilaksanakan musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi untuk memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031 mulai pukul 06.20 sampai dengan pukul 07.00 waktu Indonesia bagian Barat,” ujarnya.

Berita acara penetapan tersebut disebut telah disepakati dan ditandatangani oleh seluruh sembilan anggota AHWA, yakni KH Nurul Huda Jazuli, Tgk KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu), KH Baharuddin HS, KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Abun Bunyamin, KH Anwar Manshur, dan Prof. KH Said Aqil Siroj.

Namun, berdasarkan pantauan NU Online, tujuh anggota AHWA hadir secara langsung dalam musyawarah tersebut. Mereka adalah KH Miftachul Akhyar, Tgk KH Nuruzzahri Yahya, KH Afifuddin Muhadjir, KH Anwar Iskandar, KH Baharuddin HS, KH Abun Bunyamin, dan KH Anwar Manshur.

Sementara itu, KH Nurul Huda Jazuli dan Prof. KH Said Aqil Siroj tidak hadir secara langsung dan diwakili delegasi berdasarkan surat pernyataan yang telah ditandatangani.

Penetapan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU. Setelah keputusan tersebut diumumkan, tahapan persidangan dilanjutkan dengan agenda pembentukan formatur dan penutupan Muktamar.

sumber: NU Online

9 Ulama Terpilih sebagai AHWA Muktamar ke-35 NU, Ada Ketum MUI KH Anwar Iskandar

JOMBANG (jurnalislam.com)— Sembilan ulama terpilih sebagai anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Dua di antaranya merupakan pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), yakni Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Afifuddin Muhajir.

Penetapan sembilan anggota AHWA tersebut berdasarkan hasil rekapitulasi tabulasi nasional perolehan suara yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Ahad (30/8/2026) malam.

Dalam pemungutan suara tersebut, KH Afifuddin Muhajir memperoleh 339 suara, sedangkan KH Anwar Iskandar mendapatkan 326 suara.

Rekapitulasi dilakukan secara terbuka melalui enam bilik penghitungan suara dengan total 4.703 suara yang masuk dari berbagai tingkatan kepengurusan NU.

Penentuan anggota AHWA merupakan hasil usulan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara.

Dari 34 nama ulama yang masuk dalam tabulasi nasional, KH Nurul Huda Djazuli memperoleh suara terbanyak dengan 485 suara. Posisi kedua ditempati Rais Syuriah PWNU Aceh KH Nuruzzahri Yahya dengan 477 suara.

Berikut sembilan ulama yang terpilih sebagai anggota AHWA Muktamar ke-35 NU:

KH Nurul Huda Djazuli — 485 suara

KH Nuruzzahri Yahya — 477 suara

KH Baharuddin HS — 392 suara

KH Miftachul Akhyar — 350 suara

KH Afifuddin Muhajir — 339 suara

KH Anwar Iskandar — 326 suara

KH Anwar Manshur — 303 suara

KH Said Aqil Sirodj — 273 suara

KH Abun Bunyamin — 268 suara

Adapun perolehan suara dalam proses rekapitulasi tersebar di enam panel. Bilik 1 mencatat 642 suara, Bilik 2 sebanyak 864 suara, Bilik 3 sebanyak 855 suara, Bilik 4 sebanyak 936 suara, Bilik 5 sebanyak 718 suara, dan Bilik 6 sebanyak 688 suara.

Sejumlah ulama lainnya juga masuk dalam bursa pencalonan AHWA, di antaranya KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, dan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim.

Sumber: MUI Digital