Din Syamsuddin Tegaskan MUI Netral Dalam Pemilu 2019

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin menegaskan netralitas ormas MUI dalam Pemilu 2019.

“Kami tidak dalam posisi dukung-mendukung. Kami tausiyah amar maruf nahi munkar,” kata Din usai Pleno ke-34 Dewan Pertimbangan MUI di Jakarta, Rabu (30/1/2019) dilansir Antara.

Dia menegaskan, MUI akan tetap dalam jati dirinya berkhidmat untuk melayani umat sekaligus mitra strategis pemerintah. Dengan begitu, tidak akan memberikan dukungan kepada calon atau pertai tertentu dalam kontestasi Pemilu dan Pilpres 2019.

Dalam hal itu, kata dia, MUI tetap akan menyampaikan kritik kepada pemerintah jika kebijakannya merugikan umat Islam.

Meski netral, Din mengajak umat Islam untuk menggunakan hak pilihnya atau tidak menjadi golongan putih (golput). “Umat Islam memiliki tanggung jawab mengawal demokrasi,” kata mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Wantim MUI Didin Hafidhuddin mengatakan umat Islam agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan meski memiliki perbedaan pilihan politik.

Pemilu, kata dia, tidak boleh merusak ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan ke-Islaman. Jangan sampai harmoni yang ada rusak karena pemilu karena itu hanya bagian dari proses demokrasi.  

Sumber: Antara

Perpustakaan Inggris Kembalikan 75 Naskah Kerajaan Islam Mataram ke Kraton Yogyakarta

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – British Library akan mengembalikan 75 naskah milik Kerajaan Islam Mataram ke Kraton Yogyakarta. Pengelola Harian Koleksi Filologi Museum Sonobudoyo, Fajar Wijanarko mengatakan, 75 naskah itu akan dikembalikan dalam bentuk digital.

“Tahun ini akan ada 75 naskah dari British Library yang akan dikembalikan ke Kraton dalam bentuk digital,” kata Fajar dilansir Republika.co.id, Rabu (30/1/2019).

Pengembalian naskah itu akan diberikan Annabel Teh Gallop, Lead Curator of Southeast Asian Material di British Library.

Fajar mengatakan, Annabel sendiri memang menjadi orang yang menjembatani langsung Kraton Yogyakarta dan British Library untuk pengembalian naskah. Pengembalian akan direspons masyarakat dan Kraton melalui gelaran besar.

Pengembalian, kata Fajar, sekaligus akan dilaksanakan dalam rangkaian peringatan 30 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bertahta. 

“Masyarakat seharusnya merespon dengan tindakan positif seperti berlomba-lomba membaca, membuka, mengkaji, menyebarluaskan isi-isi yang kemudian bisa menajdi wacana baru terhadap pembangunan dan macam-macam,” ujar Fajar.

Sebanyak 75 naskah itu memang beragam, tapi tentu saja isinya terkait arsip Yogyakarta. Mulai era pemerintahan kedua pada 1811, sejarah manuskrip Jaya Lengkara Wulan tentang pendidikan budi pekerti kala itu dan lain-lain.

Ada pula dua serat ambiya tentang cerita para nabi, dari Adam sampai Sultan bertahta, dan teks-teks wayang. Menurut Fajar, kehadiran naskah-naskah semakin menegaskan posisi Kerajaan Mataram Islam dan konsepsi Islam di Kraton.

“Ada kekayaan intelektual yang sempat terbawa ketika penyerbuan Inggris ke Yogyakarta yang tahun ini dikembalikan, ada sejarah yang berserakan yang kemudian akan dirangkai kembali mozaik-mozaiknya,” kata Fajar.

Terkait peristiwa itu, Fajar menjelaskan, pada 19-20 Juni 1812 memang Kraton mengalami kekalahan atas penyerbuan Inggris di Yogya. Peristiwa itu dinamai Geger Sepehi yang mengakibatkan Hamengku Buwono II dibuang ke Pulau Penang.

Konsekuensinya, ada tempat-tempat yang mengalami penjarahan, dikerdilkan sistem militernya dan macam-macam konsekuensi lain. Selain harta benda, naskah-naskah menjadi barang yang dirampas.

“Yang merampas itu ternyata tidak cuma orang Inggris, ada orang India (Sepoy), itu juga merampas,” ujar Fajar.

Fajar sendiri sempat melakukan pelacakan atas keberadaan naskah-naskah itu. Ternyata, naskah-naskah ditempatkan di perpustakaan khusus koleksi Raffles, di Mackenzie Private Museum dan di beberapa tempat.

Karena mereka sudah meninggal, naskah-naskah itu dikumpulkan dijual atau dibeli British Library. Sekarang, naskah-naskah itu didigitalisasi dan dikembalikan ke Kraton Yogyakarta.

Sumber: Republika

Sebuah Masjid di Pilipina Selatan Digranat, Dua Guru Ngaji Tewas

PILIPINA (Jurnalislam.com) – Sebuah Masjid di Kota Zamboanga, Pilipina Selatan dilempari granat oleh orang tak dikenal, Rabu (30/1/2019). Akibatnya, dua orang guru ngaji yang sedang tidur tewas seketika dan melukai empat orang lainnya. Para korban tersebut dilaporkan sedang tidur di dalam masjid pada saat serangan.

“Sebuah granat dilemparkan ke dalam sebuah masjid yang menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya,” kata juru bicara militer regional Letnan Kolonel Gerry Besana kepada kantor berita AFP.

Kepala Kepolisian setempat, Emmanuel Luis D. Licup mengatakan, para korban yang berasal dari Provinsi Basilan itu adalah para guru ngaji yang tinggal di masjid tersebut untuk mengajar anak-anak di daerah tersebut.  Licup menyampaikan, saat ini pihaknya sedang menyelidiki motif dan identitas tersangka.

“Ini adalah bentuk pengecut dan kecabulan tertinggi untuk menyerang orang-orang yang berdoa,” kata tokoh setempat, Mujiv Hataman.

“Kami menyerukan orang-orang dari semua agama untuk bersama-sama berdoa untuk perdamaian,” sambungnya.

Petugas medis memeriksa korban ledakan granat. Foto: Reuters

Sementara itu, Dewan Ulama Semenanjung Zamboanga mengutuk serangan tersebut. Dewan menyebutnya sebagai “tindakan jahat, tidak rasional, dan tidak manusiawi” dan mendesak orang untuk waspada.

Ini adalah ledakan kedua dalam satu pekan ini yang menargetkan di tempat ibadah di Filipina Selatan. Belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas serangan ini.

Namun, Kolonel Leonel M. Nicolas membantah bahwa ledakan granat tersebut adalah serangan balasan atas pemboman sebuah katedral Katolik di Jolo pada Ahad (25/1/2019). Dia mengatakan serangan granat itu masih dalam penyelidikan.

Sebelumnya, 20 orang tewas dan 111 lainnya terluka akibat ledakan dua bom di sebuah gereja di Pilipina Selatan.

Sumber: AFP, Aljazeera

Seorang tentara di depan Masjid TKP. Foto: AFP

Laporan Amnesty International: 4 Perusahaan Jasa Pariwisata Dukung Pendudukan Zionis di Palestina

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Amnesty International (AI) pada hari ini, Rabu (30/1/2019) merilis laporan mengenai dukungan empat perusahaan raksasa penyedia jasa pariwisata terhadap penjajahan Zionis di tanah Palestina.

Dalam laporan berjudul “Destination: Occupation” (Destinasi: Penjajahan) yang dirilis serentak secara global tersebut, AI secara eksplisit menyebut bahwa empat perusahaan tersebut adalah Booking.com, Airbnb, Trip Advisor, dan Expedia.

Tiga perusahaan, yakni Airbnb, Trip Advisor, dan Expedia merupakan penyedia jasa layanan tourism dan pemesanan tiket asal Amerika Serikat, sementara Booking.com berasal dari Belanda.

Menurut AI, keempatnya terbukti telah mendukung penjajahan Zionis atas Palestina dengan mempromosikan ratusan penginapan dan kegiatan wisata di wilayah pendudukan ilegal seperti di Khan al-Ahmar dan Baitul Maqdis (Yerusalem).

“Amnesty International mendokumentasikan bagaimana sejumlah perusahaan itu mendorong pariwisata ke wilayah pendudukan ilegal ‘Israel’ dan berkontribusi atas keberlangsungan dan ekspansinya (pendudukan),” tulis AI dalam rilis yang diterima INA News Agency.

Lembaga internasional dunia seperti Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyatakan bahwa pendudukan Zionis di tanah Palestina merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan bentuk kejahatan perang.

Meski demikian, perusahaan-perusahaan tersebut tetap mempromosikan wisata ke wilayah pendudukan tanpa memberi keterangan mengenai statusnya.

Meraup Keuntungan

Direktur Isu Global Tematik AI Seema Joshi menjelaskan, organisasinya telah menyusun temuan-temuan di lapangan yang menunjukkan saling keterkaitan antara perusahaan-perusahaan tersebut dengan ‘Israel’.

“Pemerintah ’Israel’ menggunakan industri pariwisata yang berkembang di wilayah pendudukan sebagai cara untuk melegitimasi keberadaan dan ekspansi mereka, dan sejumlah perusahaan jasa travel online itu berkontribusi memuluskan agenda tersebut,” jelas Joshi.

Sebagai contoh, Mahkamah Agung ‘Israel’ bahkan telah memberi lampu hijau untuk pemusnahan total sebuah desa penduduk Palestina bernama Kfar Adunim yang terletak tak jauh dari wilayah Khan al-Ahmar.

Wilayah ini masuk ke dalam area perluasan pendudukan ‘Israel’ dan diproyeksikan menjadi pusat pariwisata alam yang bisa menjadi nilai promosi tinggi bagi penyedia jasa pariwisata.

“Ini (perluasan pendudukan) telah menimbulkan penderitaan yang sangat besar, memaksa warga Palestina keluar dari rumah mereka sendiri, menghancurkan mata pencaharian mereka dan merampas hak-hak mereka atas kebutuhan dasar seperti air minum,” lanjut Joshi.

Menurut AI, para pemain besar dalam bisnis pariwisata tersebut tidak hanya melegitimasi penjajahan yang dilakukan Zionis, tetapi juga menyesatkan pelanggan mereka dengan tidak memberi keterangan bahwa lokasi-lokasi yang ditawarkan merupakan tanah Palestina yang terjajah.

Dari keempat perusahaan itu, hanya Trip Advisor yang memberi keterangan dengan tujuan “Wilayah Palestina Terjajah”.

Berdasarkan catatan AI, ada sekitar 324 tempat wisata yang dipromosikan keempat perusahaan tersebut. Ada yang menawarkan wisata alam, penginapan, kafe, yang semuanya berdiri di atas Wilayah Pendudukan Palestina (WPP).

-Airbnb memiliki lebih dari 300 daftar properti di wilayah permukiman di WPP.
-TripAdvisor mendaftarkan lebih dari 70 objek wisata, tur, restoran, kafe, hotel, dan apartemen sewaan di permukiman di WPP.
-Booking.com mencantumkan 45 hotel dan penyewaan di permukiman di WPP.
-Expedia mempromosikan sembilan penyedia akomodasi, termasuk empat hotel besar di permukiman di WPP

Juru Bicara AI Indonesia Haeril Halim mengatakan, lembaganya telah menyurati keempat perusahaan tersebut. Namun, hanya Booking.com dan Expedia yang merespons.

Haeril juga menegaskan, keempat perusahaan itu telah mengambil keuntungan dari bisnis yang beroperasi di Wilayah Palestina Terjajah. Menurutnya, itu sama saja dengan mendukung pendudukan ilegal ‘Israel’ dan melanggar hukum internasional.

“AI meminta keempat perusahaan tersebut menghapus akomodasi di wilayah pendudukan dari website mereka. Kami juga meminta negara asalnya agar membuat aturan yang melarang perusahan-perusahaan dari wilayah mereka beroperasi di wilayah pendudukan,” kata Haeril dalam pesan tertulisnya kepada INA News Agency.

DSKS Minta Polisi Tindak Tegas Kendaraan Knalpot Blombongan

SOLO (Jurnalislam.com) – Guna mengantisipasi maraknya simpatisan kampanye yang konvoi dengan knalpot blombongan di wilayah Soloraya, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) beraudiensi dengan Kapolresta Surakarta, Rabu (30/1/2019).

Perwakilan DSKS, Ustaz Surowijoyo menyampaikan, simpatisan kampanye dengan knalpot blombongan sangat meresahkan masyarakat dan berpotensi memicu benturan.

“Dengan itu kami meminta Solo kondusif dan tidak terjadi benturan antar massa, kita juga memberi masukan salah satunya tentang kampanye yang akan datang untuk bisa lebih santun dan beradab,” kata Divisi Advokasi DSKS itu kepada Jurniscom usai audensi.

Menanggapi hal itu, Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo mengapresiasi masukan dari DSKS tersebut. Pihaknya berjanji akan menindak tegas apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh simpatisan kampanye di kota Solo.

“Aturan main sudah ada, ya kalau ada yang melanggar ya tetap diproses. Kita profesional, kita netral tidak ikut berpolitik,” katanya.

Sebelumnya, ratusan simpatisan kampanye yang konvoi dengan knalpot blombongan terlibat bentrok dengan warga Umbulharjo, Jogokariyan, Yogyakarta, Ahad (27/1/2019).

Haedar Nasir Menilai Pernyataan Said Aqil Menjurus Ke Arah Radikalisme

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menilai pernyataan Ketua Umum PBNU merupakan bentuk fanatisme dan menjurus ke radikalisme. Sebagaimana diketahui, dalam acara Harlah 73 Muslimat NU di GBK hari Ahad (27/1/2019) Said Aqil mengatakan, Imam, khatib jumat, menteri agama, dan KUA harus dari kalangan NU, jika tidak dari NU salah semua.

“Hal itu merupakan bentuk dari fatanisme dan menjurus ke radikalisme.  Mau dikemanakan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika?” kata Haedar dilansir laman resmi Muhammadiyah, Senin (28/1/2019). 

Ia menjelaskan, negara dan instansi pemerintah harus milik bersama sebagaimana amanat konstitusi. Menurutnya, pemerintah harus berasaskan meritokrasi dan jangan di atas kriteria primordialisme atau sektarianisme.

“Jika Indonesia ingin menjadi negara modern yang maju, maka bangun good governance dan profesionalisme, termasuk di Kementerian Agama,” tegasnya.

Pernyataan Said Aqil juga, lanjut Haedar, akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi Indonesia, bahkan dapat memicu konflik atau perebutan antargolongan.

Oleh sebab itu, ia mengimbau semua tokoh umat dan bangsa untuk mengedepankan ukhuwah secara otentik guna merajut kebersamaan, terlebih di tahun politik ini.

“Mari ciptakan suasana damai dan keadaban mulia dalam berbangsa,” ajak Haedar. 

Kendati demikian, Haedar mengimbau umat Islam untuk tidak menangapi pernyataan Said Aqil tersebut secara berlebihan. 

“Semua pihak diharapkan bijak dan tidak memperpanjang masalah ini. Kita lebih baik mengedepankan ukhuwah dan mengerjakan agenda-agenda yang positif bagi kemajuan umat dan bangsa,” pungkasnya.

Sumber: Muhammadiyah.or.id

 

Erdogan: Zona Aman di Suriah Memungkinkan Pengungsi Pulang

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Presiden Turki, Recep Tayyif Erdogan mengatakan, zona aman yang akan didirikan di Suriah Utara akan memungkinkan lebih banyak pengungsi untuk kembali ke negara itu.

“Turki bertujuan untuk membentuk zona aman di Suriah Utara sehingga pengungsi Suriah yang berada Turki dapat kembali ke negara asalnya,” kata Erdogan dilansir Aljazeera, Senin (28/1/2019)

Erdogan juga mengatakan, hampir 300.000 warga Suriah telah kembali ke daerah-daerah yang dikuasai pemberontak yang didukung Turki di Suriah Utara. Ia berharap jutaan warga Suriah segera kembali ke zona aman yang diusulkan.

Turki menampung sekitar empat juta pengungsi Suriah.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan pada bulan Desember lalu penarikan 2.000 tentara AS dari Suriah dan Erdogan kemudian mengatakan mereka telah membahas pengaturan zona aman seluas 32 km di Suriah sepanjang perbatasan dengan Turki.

Sebelumnya, pada hari Jumat (25/1/2019) Erdogan mengatakan bahwa Turki mengharapkan zona aman akan dibentuk dalam beberapa bulan, jika tidak, ia akan membangun zona penyangga tanpa bantuan negara lain.

Ankara ingin zona itu menampung para pejuang the Kurdish People’s Protection Units (YPG) yang telah dipersenjatai dan dilatih Amerika Serikat untuk berperang melawan Islamic State (IS).
YPG dipandang sebagai pasukan darat yang efektif oleh AS dalam perang melawan IS, tetapi Turki mengatakan pihaknya terkait dengan Kurdistan Workers’ Party (PKK) yang dilarang, yang oleh Ankara dan Washington tercantum sebagai kelompok teroris.

Menteri Luar Negeri Turki mengatakan pada Kamis (24/1/2019) bahwa Turki memiliki kapasitas untuk menciptakan zona aman di Suriah, tetapi tidak akan mengabaikan AS, Rusia, atau lainnya jika mereka ingin bekerja sama.

“Turki tidak memaksa pengungsi untuk kembali selama bertahun-tahun. Namun, sekitar 300.000 pengungsi kembali ke daerah-daerah yang dikuasai Turki dan pemberontak yang didukung Turki di Suriah utara, seperti Jarablus dan Al-Bab,” kata reporter AlJazeera, Osama Bin Javid melaporkan dari Gaziantep, perbatasan Turki-Suriah.

“Dan kemungkinan pemulangan para pengungsi, menurut Erdogan, jika Turki dapat memiliki semacam kontrol dari sisi barat Sungai Eufrat hingga perbatasan Irak.”

Ancaman Turki

Selama berbulan-bulan, Ankara mengancam akan melancarkan serangan baru di Suriah Utara untuk mengusir para pejuang Kurdi yang didukung AS, menyusul dua pertempuran lain dalam tiga tahun terakhir.

Pasukan Turki menembaki posisi YPG di wilayah utara Suriah Tal Rifaat pekan lalu, media pemerintah melaporkan pada hari Jumat. YPG masih mengendalikan wilayah kecil Tal Rifaat, terjepit di antara wilayah di bawah kendali Turki di utara dan daerah yang dikendalikan oleh pemerintah Suriah dan pemberontak pemerintah anti-Suriah di selatan.

YPG telah menolak gagasan “zona keamanan” yang didirikan oleh Ankara, mereka takut serangan Turki terhadap wilayah di bawah kendali mereka. Erdogan dan Trump telah melakukan beberapa percakapan telepon untuk membahas zona keamanan yang diusulkan, serta penarikan pasukan AS dari Suriah.

Sumber: Al Jazeera

Gubernur: Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh Mendekati Kaffah

BANDA ACEH (Jurnalislam.com) –  Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyatakan pelaksanaan Syariat Islam di provinsi Serambi Mekah telah mendekati kaffah. Pelaksanaan Syariat Islam yang berlangsung saat ini terus diupayakan kepada subtansi sehingga upaya mewujudkan Syariat Islam secara kaffah dapat terwujud.

“Saya yakin Syariat Islam di Aceh sudah mendekati kaffah. Generasi muda pun sudah mulai bangga dan berani menyatakan bahwa Aceh Negeri Syariah,” kata Nova Iriansyah di sela-sela meresmikan Masjid H Keuchik Leumiek di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata Kota, Banda Aceh, sebagaimana dilansir Antara, Senin (28/1/2019).

Ia menjelaskan pelaksanaan Syariat Islam yang berlangsung saat ini terus diupayakan kepada subtansi sehingga upaya mewujudkan Syariat Islam secara kaffah dapat terwujud.

“Sebagai daerah yang melaksanakan Syariat Islam memakmurkan masjid harus menjadi lambang syiar agama Islam di Bumi Serambi Mekkah,” kata Nova.

Menurut dia berjalannya berbagai aktivitas keagamaan di sebuah masjid menjadi indikator telah membaiknya kehidupan berlandaskan Syariah dan menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tapi juga menjadi aktivitas keagamaan dan sosial lainnya yang merupakan bagian dari syiar agama. 

“Salah satu upaya mengoptimalkan itu adalah, orientasi fungsi harus lebih menonjol dan dominan dibandingkan orientasi fisik bangunannya,” katanya.

Ia menambahkan agar masjid menjadi pusat permberdayaan dan pembinaan umat dapat dilakukan dalam tiga aspek yakni titik fokus pada bidang manajemen mulai dari sumber daya manusia sampai kepada mekanisme pengelolaan keuangan secara transparan dan akuntabel.

Kedua berada pada bidang pemakmuran masjid berupa kegiatan-kegiatan pelayanan umat atau jamaah, baik yang berkaitan dengan ibadah khusus atau ibadah umum dan Ketiga aspek yang menyangkut dengan legalitas bangunan, arsitektur, kebersihan, keindahan dan segala macam yang berkaitan dengan pembangunan dan perawatan. 

Sumber: Antara

Tolak Israel, Malaysia Batal Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Renang Dunia

MALAYSIA (Jurnalislam.com) – Komite Paralimpik Internasional (IPC) membatalkan Malaysia sebagai tuan tuan rumah Kejuaraan Renang Dunia 2019 yang dijadwalkan mulai 29 Juli hingga 4 Agustus di Kuching, lansir Bernama.

Menurut IPC, keputusan itu diambil karena Malaysia menolak keikusertan atlet Israel dalam kejuaraan yang akan berlangsung di Kuching pada 29 Juli-4 Agustus itu.

Presiden Andrew Parsons menyampaikan lembaganya harus mencari tuan rumah yang baru karena Malaysia menyoret keikutsertaan atlet Israel karena alasan politik.

“Semua Kejuaraan Dunia harus terbuka untuk semua atlet dan bangsa yang memenuhi syarat untuk bertanding dengan aman dan bebas dari diskriminasi,” ujar Parsons.

Juru bicara kementerian luar negeri Israel Emmanuel Nahshon mengapresiasi keputusan IPC ini.

Dalam akun twitternya, Nahshon menyatakan keputusan IPC adalah kemenangan atas kebencian dan kefanatikan.

“Terima kasih @Paralympics atas keputusan berani Anda,” cuit dia.

Malaysia sebelumnya melarang atlet Israel berkompetisi sebagai dukungan terhadap kemerdekaan bangsa Palestina

Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan jika tim Israel bersikeras berpartisipasi dalam kejuaraan, itu sama dengan melanggar aturan.

“Kami mempertahankan pendirian kami atas larangan tersebut. Jika mereka datang, itu adalah pelanggaran. Jika mereka ingin menarik hak Malaysia untuk menjadi tuan rumah kejuaraan, mereka dapat melakukannya,” ujar Mahathir.

Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Steven Sim Chee Keong mengatakan Malaysia tidak akan mengizinkan perenang Paralimpik Israel memasuki negaranya karena kebijakan luar negeri Malaysia terkait Israel “sangat jelas”.

Sumber : Anadolu Agency

Salah Semua!

Oleh: M Rizal Fadillah
Ketua Maung Institute

JURNIS – Pernyataan Ketum PBNU, Said Aqil Siradj mengenai jabatan-jabatan di berbagai lembaga dari Menteri sampai Imam Khatib harus semua NU telah menimbulkan kegelisahan dan tanggapan. Dari MUI Pusat pun menyayangkan pernyataan tersebut. Bahwa perjuangan atau motivasi kepada kader NU untuk menguasai jabatan-jabatan bisa saja dianggap wajar. Akan tetapi dengan kalimat jika bukan NU “salah semua” maka tentu dinilai tak wajar bila diungkap oleh seorang pejabat puncak organisasi kemasyaratan Islam.

Meskipun sudah sering Said Aqil melempar ungkapan kontroversial, namun saat ini menyodok semua elemen umat Islam non NU dengan menyatakan “salah semua” seolah kebenaran itu milik NU dan satu satunya organisasi kebenaran hanya NU. Sikap ini sebenarnya adalah ‘arogansi’ dalam klaim kebenaran. Sebagai muslim apalagi tokoh seharusnya tingkat pengendalian emosi cukup tinggi. Meski diucapkan pada acara organ NU sendiri yakni peringatan Harlah Muslimat NU tapi terdengar dan tersebar luas. Banyak kelompok umat yang merasa “tertampar” oleh ucapan sang kyai ini. Melihat karakternya, jika ditegur pun maka nampaknya teguran dari manapun akan diabaikan.

Biasanya yang dijadikan isu dan diangkat oleh Kyai Said Aqil terhadap kelompok yang diwaspadai adalah kelompok intoleran, anti kebhinekaan, atau radikal. Nah saat ini terbukti sebenarnya Said Aqil lah yang intoleran, anti kebhinekaan dan radikal itu. Menafikan eksistensi kekuatan atau organisasi lain apalagi sesama organisasi da’wah bukan saja tidak etis tapi juga tidak berdiri di kaki realitasnya. Sangat kontra produktif. Pemahaman Islam di bumi Nusantara ini sangat beragam dan tidaklah seragam. Inilah kekayaan bangsa. Karenanya harus toleran (tasamuh). Kecuali faham keagamaan yang sesat atau masuk kategori penodaan agama yang tidak boleh ditoleransi. Fakta yang ada adalah banyaknya ormas Islam dengan perbedaan pemahaman keagamaan. Meski nuansa perbedaan itu sebenarnya bersifat furu’iyah atau metodologi istimbath hukum atau pada strategi pengembangan da’wah.

Dalam banyak kesempatan Said Aqil ketika membahas kemajemukan agama, sering mengungkapkan bahwa semua agama itu sama dalam mencari kebenaran dan semua agama itu menginginkan kebaikan. Ber “misan” satu dengan yang lain. Menurutnya semua agama memiliki nilai nilai universal. Bagi Said Agil tidak perlu merasa fanatik pada kebenaran agama sendiri. Disinilah ironi dari pandangannya itu ketika konteksnya adalah agama agama maka “semua benar” tapi ketika internal sesama umat beragama Islam menjadi “salah semua” kecuali NU.

Egosentrisme organisasi atau faham dalam beragama mesti dihindari. Sifat ananiyah dicela dalam agama. Bila sifat negatif ini dipelihara nanti seperti Fir’aun yang mengatakan “Ana robbukumul ‘ala” atau seperti Louis XlV yang berujar “L’etat cest moi”. Semua bermula dari “Aku” dan berujung pada akhir kehidupan yang buruk.
Sesama muslim harus saling mengingatkan, agar ia tidak terperosok dalam kezaliman yang membawa kerugian di dunia dan akherat.

Moga ucapan ini hanya “Slip of the tounge”. Namun jika “tounge” kita sering “slip” maka perlulah rasanya kita memperbanyak istighfar.
Astaghfirullah al adhim.