SOLO (Jurnalislam.com)- Film pendek berjudul My Flag Merah Putih vs Radikalisme yang diunggah dan distreming akun youtube NU Chanel pada kamis, (22/10/2020) pukul 19.00 Wib terus menulai kontroversi.
Film berdurasi 7 menit 29 detik tersebut menampilkan adegan duel antara wanita berjilbab dengan wanita bercadar di sebuah lembah yang akhirnya dimenangkan oleh wanita berjilbab.
Kontroversi film tersebut muncul di menit 3 lebih 26 detik saat wanita berjilbab melepaskan cadar yang dikenakan dua wanita yang menjadi lawan bertarungnya di film My Flag Merah Putih vs Radikalisme.
Sekjen The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono pun ikut memberikan kritik untuk film yang mendapatkan 15 ribu komentar pada Senin, (26/10/2020).
Endro menyoroti soal pengguna cadar yang menjadi peran antagonis dalam film tersebut, padahal menurutnya, sebagian madzab khususnya madzab Syafi’i menyunahkan penggunaan cadar.
“Mengapa video tersebut ada kesan adu domba diantara umat Islam ?, ada madhorot dalam vidio tersebut dan prasangka terkait duit dan video tersebut,” katanya kepada jurnalislam.com pada senin, (26/10/2020).
Endro menyarankan bahwa sebaiknya video tersebut dievaluasi dan ditinjau ulang, jika bertujuan menumbuhkan cinta tanah air, hilangkan adegan cadar dan bendera hitam dan putih.
“Lebih tepat jika peran antagonis adalah bendera palu arit atau PKI yang lebih punya legalitas pelarangannya maupun validitas kejahatannya baik secaral empiris maupun historis di Indonesia,” ungkapnya.
“Sebagai penceramah, saya usulkan potongan video pilihan KH. Hasyim Muzadi yang lebih berbobot, teruji dan diakui dalam memimpin NU dan Nasionalisme tidak diragukan,” imbuhnya.
Endro melanjutkan bahwa komentar untuk film pendek tersebut mayoritas mengapresiasi secara sinis dan negatif.
“Dimana komentar tersebut cenderung kurang simpati terhadap dampak ke umat,” ujarnya.
“Untuk itu kepada pemimpin NU baik di Tanfidziah maupun yang di Syuriyah untuk menarik video tersebut, untuk dievaluasi. Semestinya umat islam lebih mengutamakan manfaat dari pada madhorot, apalagi ada unsur namimah, atau adu domba,” pungkasnya.