SURIAH (Jurnalislam.com) – Iring-iringan konvoi bantuan kemanusiaan ke kota Aleppo yang terkepung tertahan lagi, saat pertempuran antara pasukan rezim Suriah Assad dan pejuang Suriah di luar Damaskus masih bergolak dan meningkatkan kekhawatiran apakah gencatan senjata yang rapuh akan mampu bertahan, Aljazeera melaporkan, Jumat (16/09/2016).
Pertempuran Jumat kemarin digambarkan sebagai yang paling serius sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada hari Senin, dimana pihak rezim melalukan lebih dari 28 pelanggaran dalam waktu 2 hari dan pejuang oposisi membalas atas serangan rezim di wilayahnya.
Melihat tanda-tanda meningkatnya ketegangan semakin berlanjut, Washington mengatakan kepada Moskow pada hari Jumat bahwa kerjasama militer potensial di Suriah tidak akan terjadi kecuali menekan rezim Suriah untuk memungkinkan pengiriman bantuan ke wilayah yang terkepung.
Washington dan Moskow pekan lalu sepakat untuk membentuk sebuah komite yang akan bersama-sama menargetkan Jabhat Fath al-Syam dan kelompok Islamic State (IS) di Suriah, jika gencatan senjata bertahan selama tujuh hari dan bantuan kemanusiaan diizinkan mengalir ke negara itu.
Namun bantuan untuk Aleppo terjebak di perbatasan Turki selama lima hari hingga sekarang, sehingga PBB menyerukan pemerintah Suriah untuk “segera” memungkinkan pasokan menyelamatkan penduduk di daerah yang dikuasai pejuang Suriah di kota itu, di mana sekitar 300.000 orang hidup di bawah pengepungan.
Dalam panggilan telepon pada hari Jumat untuk rekan Rusia-nya Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengecam “penundaan bantuan kemanusiaan yang terus berulang dan tidak dapat diterima,” menurut juru bicara Departemen Luar Negeri.
Kerry mengatakan kepada Lavrov bahwa Washington “berharap Rusia menggunakan pengaruhnya terhadap rezim Assad untuk memungkinkan konvoi kemanusiaan PBB mencapai Aleppo dan daerah lain yang membutuhkan,” John Kirby mengatakan.
Kedua negara mendukung sisi yang berlawanan dalam konflik, dimana Moskow mendukung rezim Bashar al-Assad sedangkan AS berada di balik koalisi kelompok oposisi moderat.
Jabhat Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, dikecualikan dari gencatan senjata.
AS dan Rusia sepakat akan pentingnya memperpanjang penghentian pertempuran, meskipun beberapa kekerasan terus berlanjut, kata Kirby.
Rusia pada Jumat mengatakan bahwa hanya sekutunya, rezim Assad, yang menghormati gencatan senjata, namun menyarankan bahwa gencatan senjata diperpanjang lebih dari 72 jam.
Kremlin juga mengatakan telah menggunakan pengaruhnya untuk mencoba memastikan tentara rezim Suriah sepenuhnya melaksanakan perjanjian gencatan senjata dan bahwa pihaknya berharap AS juga menggunakan pengaruhnya terhadap kelompok pejuang oposisi moderat.